HI Peringati Hari Penyandang Cacat Internasional


sergapntt.com [ATAMBUA] – NGO Handicap Internasional (HI), Jumat (2/12/11) menggelar sejumlah kegiatan bagi anak-anak dan anak-anak cacat atau anak berkebutuhan khusus jelang peringatan hari Penyandang Cacat Internasional yang jatuh pada 3 Desember.
HI menggelar sejumlah kegiatan diantaranya lomba estafet kesiapsiagaan bencana sekolah tingkat sekolah dasar, lomba cerdas-cermat pengurangan risiko bencana serta lomba pengurangan risiko (PRB) 2011.
Kegiatan dilaksanakan di GOR Rai Belu diikuti siswa-siswa dari 18 sekolah dasar (SD) dan sekolah dasar luar biasa (SDLB) di Kabupaten Belu.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Fredrik Andrada ketika membuka kegiatan tersebut mengatakan, anak-anak merupakan kelompok usia yang paling rentan dan bisa menjadi cacat ketika terjadi bencana alam. Karena itu, kegiatan yang digelar merupakan sebuah kegiatan yang baik bagi anak-anak untuk mengetahui apa itu bencana dan langkah yang diambil.
“Anak-anak sangat rentan menjadi korban dalam bencana. Karena itu, kegiatan dari Handicap Internasional ini sangat bagus,” paparnya.
Kabupaten Belu jelasnya, rawan dengan bencana yang terjadi ketika musim hujan diantaranya banjir, longsor, gempa maupun sejumlah jenis bencana lain.
Bencana yang terus-menerus terjadi setiap tahun dapat menyebabkan anak-anak menjadi korban bencana dan bisa menderita kecacatan semur hidup. Sebab, anak-anak dengan fisik yang lemah belum mampu menghadapi bencana.
Dia berharap, pengurangan risiko bencana (PRB) mampu membuat anak-anak siap siaga menghadapi bencana yang bisa saja terjadi setiap saat, apalagi musim penghujan. Anak-anak diharapkan mendapatkan pengetahuan menghadapi bencana yang terjadi pada masa yang akan datang.
Sementara itu, Project Manager PRB di sekolah se-NTT, Handicap Internasional, Marni Lusida Silalahi dalam laporannya mengatakan, kegiatan PRB dan sejumlah rangkaian kegiatan lainnya yang dilaksanakan bekerja sama dengan Tagana dan CIS Timor dalam rangka hari penyandang cacat internasional. Sebagai salah satu NGO yang fokus pada anak-anak cacat, melihat PRB sangat penting diberikan kepada anak-anak, tidak saja yang cacat, juga kepada anak-anak sekolah dasar yang normal.
Anak-anak sebutnya, ketika bencana selalu menjadi korban dan biasanya menimbulkan kecacatan fisik dan mental. Dengan kegiatan itu, anak-anak bisa menolong dan menyelamatkan diri sendiri semampunya, juga mampu menolong sesamanya.
Dia mengharapkan dilibatkan anak-anak dalam kegiatan PRB, sehingga anak-anak mengetahuinya secara utuh dan ketika terjadi bencana risiko dapat dikurangi.
By. ATB

12 PAC Pelopor PDI Perjuangan Di Kabupaten Kupang Terbentuk


sergapntt.com [OELAMASI] – Berlarutnya DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang sebagai DPC Pelopor dalam menyelenggarakan Musyawarah Rencana Kerja Cabang (Musrenjacab) bukan merupakan kesengajaan, tetapi ada beberapa alasan mendasar. Di mana, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang ingin mengkaji dan memaknai secara mendalam tentang apa yang dinamakan DPC Pelopor.
“Sebagai DPC Pelopor yang adalah program partai yang walaupun baru, namun perlu dipahami sebagai sebuah program partai yang sangat strategis bagi partai dan kader-kadernya kedepan. Karena itu, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang memahami, sebagai DPC Pelopor memiliki tugas yang mampu membumikan ideologi PDI Perjuangan di Kabupaten Kupang dengan menggerakkan tiga pilar partai yaitu pengurus partai, legislatif dan eksekutif sebagai upaya memberi keadilan dan kesejahteraan bagi massa rakyat di Kabupaten Kupang,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang, Johanis Mase pada Musyawarah Rencana Kerja Cabang I dan Pencanangan PAC Pelopor PDI Perjuangan Kabupaten Kupang yang dilaksanakan di aula Yayasan Alfa Omega Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang, Senin (5/12/11).
Dijelaskan, sebagai DPC Pelopor, pihaknya berupaya memaknai kata-kata ketua umum PDI Perjuangan yakni jalan ideologi yang dipilih adalah jalan yang keras. Dengan demikian, ia menyadari bahwa membumikan ideologi PDI Perjuangan di Kabupaten Kupang bukanlah jalan yang mudah. Karena itu, membutuhkan langkah yang taktis dan strategis. Semua kekuatan kader mesti digerakkan dan terus bergerak. Sebab, dalam menapaki perjalanan, mengimplemantasikan ideologi, mendapat lawan-lawan yang keras dan tangguh.
“Karena itu, kader tidak boleh menunggu, apalagi menunjukkan sikap diam di tempat. Potensi yang kita miliki saat ini, kita punya pengurus partai yang tangguh mulai dari DPC sampai di tingkat anak ranting. Kita punya kader di legislatif, kita punya kader yang memimpin daerah ini di pemerintahan. Harus terus bergerak dan terus digerakkan menjadi cabang pelopor dalam mengembangkan model pengelolaan partai harus menerapkan trias dinamika partai secara benar, konsisten dan berlanjut,” katanya.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kupang ini menegaskan, menjadi kader adalah menjadi suluh bagi massa rakyat. Karena itu, dalam upaya membumikan ideologi PDI Perjuangan di Kabupaten Kupang kader yang terhimpun dalam tiga pilar partai haruslah memberikan teladan yang baik atau menjadi pelopor keteladanan kepada massa rakyat di Kabupaten Kupang.
Ditegaskan, dalam upaya mengkaji dan memaknai tugas dan tanggung jawab sebagai DPC Pelopor, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang telah memilih jalan sebagai langkah taktis dan yang dianggap strategis dalam membumikan ideologi PDI Perjuangan di Kabupaten Kupang.
Langkah taktis yang dimaksudkan adalah dalam rangka mempermudah pengorganisasian di arus bawah, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang telah menetapkan 12 PAC dari 24 PAC menjadi PAC Pelopor. Diharapkan, dari 12 PAC Pelopor itu bisa memenangkan seluruh hajatan politik yaitu pemilu kepala daerah baik di Kabupaten Kupang maupun di tingkat provinsi, pemilihan presiden dan dapat menghasilkan atau 12 kursi di DPRD Kabupaten Kupang, dua kursi di DPRD Provinsi NTT dan satu kursi di DPR RI.
“Dapat membumikan program Pemerintah Kabupaten Kupang dan kebijakan-kebijakannya yang berpihak pada rakyat adalah merupakan program PDI Perjuangan terisitimewa program desa mandiri anggur merah dan lainnya yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Kupang. Salah satu hal yang tidak kalah menariknya dan karena itu DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang mengambilnya sebagai salah satu program skala prioritas adalah mengadakan satu unit kendaraan ambulans untuk melayani masyarakat Kabupaten Kupang secara gratis. Teristimewa melayani kesehatan ibu dan anak karena masalah yang sangat krusial di Kabupaten Kupang adalah angka kematian ibu dan anak sangat meningkat,” urainya.
Sementara itu, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT, Nelson Matara dalam sambutannya mengatakan, PDI Perjuangan boleh berbangga punya bupati dan wakil bupati, tapi dalam forum yang bermartabat itu mereka tidak ada. “Itu tidak boleh. Mereka harus menghargai bahwa mereka lahir dari PDI Perjuangan,” katanya.
Ditegaskan, kegiatan seperti itu suka atau tidak suka yang namanya orang partai tidak boleh tinggalkan forum. Karena itu, DPD PDI Perjuangan Provinsi NTT akan mengeluarkan surat peringatan kepada Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Kupang yang tidak hadir dalam acara tersebut.
“Itu harus diberikan peringatan tegas bahkan kalau boleh ibu ketua (Hereida Tambunan, red) yang ada disini memberikan mereka kepada kita untuk diberikan PAW. Itu menurut saya tidak ada-apa, karena kegiatan ini sudah dicanangkan cukup lama,” kata Nelson.
Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT ini menegaskan, kedepan harus dilakukan rapat dengan bupati dan wakil bupati dan tanya pada mereka, apakah mereka dari PDI Perjuangan atau bukan. “Kalau tidak, berikan kesepakatan dan mulai hari ini (kemarin, red) tarik dukungan itu agar kita tidak boleh memberikan respon yang cukup besar kepada Pemerintah Kabupaten Kupang. Bagaimana PDI Perjuangan yang mengangkat mereka, kegiatan yang bermartabat ini mereka tidak hadir. Itu membuat pelecehan bagi kader sendiri,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.
Sebanyak 12 PAC Pelopor yang dibentuk adalah, Kecamatan Taebenu, Kupang Tengah, Kupang Timur, Amarasi, Nekamese, Takari, Amarasi Selatan, Amfoang Utara, Amfoang Tengah, Fatuleu Tengah, Semau dan Amabi Oefeto Timur.
Hadir pada kesempatan itu, Korwil DPC Pelopor Wilayah Timur, Hereida Tambunan calon anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi NT yang akan dilantik, 8 Desember, Gusti, ketua Gema Perjuangan Sarina, Fenny, ketua Koperasi Gotong Royong DPD PDI Perjuangan NTT, Mathelda Malakamuri, bendahara DPD PDI Perjuangan NTT, Anthon, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang, Johanis Mase, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang, Soleman Dethan, ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sabu Raijua, Paulus Rabe Tuka bersama anggota serta pengurus DPC dan PAC PDI Perjuangan Kabupaten Kupang.
By. LITA

Foto-Foto Daniel Adoe dan Veki Lerik "Berpelukan"


Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe dan Ketua DPRD Kota Kupang, Viktor Lerik, SE akhirnya berdamai, setelah hampir dua tahun berseteru lantaran  ketua dewan yang akrab disapa Veki itu dinilai terlalu keras mengkritisi pemerintah. 
Berikut foto-foto mereka saat berpelukan, saling memafaafkan di ruang sidang utama DPRD KOta Kupang belum lama ini:
     
DAMAI ITU INDAH,,,,,,,,,,,,,,,!
by. CHRIS PARERA

Sara Carbonero, Reporter Yang Jadi Terkenal Gara-Gara Dicium Iker Casillas


sergapntt.com – Sara Carbonero, seorang reporter cantik asal Spanyol tiba-tiba menjadi terkenal setelah dirinya dicium Keeper kesebelasan Spanyol, Iker Casillas.
Ciuman itu dilakukan Casillas pada saat dirinya diwawancarai Sara Carbonero setelah pertandingan final piala dunia 2010 antara Belanda versus Spanyol.
Casillas mengaku mencium Sara karena tidak mampu membendung luapan kegembiraannya atas kemenangan mereka atas Belanda.
Sara Carbonero pun tidak marah atau menuntut Casillas, karena ternyata dirinya adalah pacar Iker Casillas sendiri. Hahahahaha,,,,,,,
Berikut Foto-Foto Seksi Sara Carbonero:

Si Pembantu wartawan Yang Bikin Ngiler


sergapntt.com [DENPASAR] – Dengan honor per hari hingga Rp 1 juta, pekerjaan sebagai fixer amatlah menggoda. Tak hanya imbalan, tantangan dan kesenangan pekerjaan ini juga amat tinggi. Seorang fixer bisa belajar banyak hal, terutama disiplin bekerja ala media dan jurnalis mancanegara.

Istilah fixer ini saya tahu pertama kali ketika bekerja salah satu koran harian di Australia. Saya membantu wartawan media ini yang sehari-hari berkantor di Jakarta pada 2005-2007. Tugas utama saya membantunya sebagai fixer di Bali. Liputan utama kami lebih banyak tentang dua isu penting bagi Australia, terorisme dan peredaran gelap narkoba di Bali.
Dalam bahasa Indonesia, fixer ini kurang lebih berarti pembantu jurnalis asing. Tugas utama dia memang membantu jurnalis media asing di daerah tertentu yang punya nilai jual tinggi bagi media tersebut. Tugas ini antara lain menerjemahkan, wawancara, memberi informasi latar belakang, bahkan kadang sampai urusan amat teknis lainnya.
Media asing ini bisa berupa harian, kantor berita, atau stasiun TV. Hampir semuanya media asing. Di Bali, misalnya, media-media besar di Australia, seperti Sydney Morning Herald, The Australian, Australian Broadcast Corporation (ABC), dan seterusnya punya fixer di Bali meski kantor mereka di Jakarta. Maklum, Bali rumah kedua bagi warga negeri Kanguru tersebut.
Beda dengan kontributor atau koresponden, fixer tak sampai membuat karya jurnalistik. Kalau kontributor atau koresponden menghasilkan berita baik teks, audio, ataupun video, maka fixer hanya membantu jurnalis asing mendapatkan semua bahan untuk membuat berita. Paling jauh, sih, fixer hanya menyediakan informasi mentah. Jurnalis asing itu yang akan mengolahnya jadi berita.
Pemandu
Seorang fixer tak harus dari latar belakang jurnalis. Salah satu fixer di Bali, setahu saya, malah semula pemandu wisata. Dia masih aktif sebagai fixer dan hasil liputannya bersama jurnalis tempat dia bekerja malah sering jadi acuan media asing lainnya.
Meski demikian, pengalaman sebagai jurnalis atau pernah berhubungan dengan media akan jauh lebih berguna dan membantu fixer.
Hal paling menyenangkan ketika bekerja sebagai fixer adalah gajinya. *Keliatan matrenya.. Hehehe.
Sistem kerja fixer ini harian. Dia akan dibayar per jumlah hari dia bekerja membantu jurnalis asing. Honornya antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per hari. Sebagai contoh, ketika bekerja untuk The Australian, saya mendapat honor Rp 700 ribu per hari.
Dengan nilai antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, menurutku, standar honor fixer sangatlah besar. Apalagi kalau dibanding wartawan media lokal. Rp 700 ribu itu setara dengan gaji tiap bulan wartawan baru di media lokal.
Meski demikian, honor fixer di Indonesia relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan honor fixer di luar negeri. Desy Ayu, wartawan TV nasional yang beberapa kali liputan ke luar negeri, bercerita kalau honor fixer di Yordania atau Eropa bisa sampai Rp 3,5 juta per hari!
Namun, besarnya honor fixer ini sepadan dengan tekanan dan tuntutan kerja media asing. Inilah tantangannya.
Generally, kerja media asing memang lebih disiplin. Contohnya, ketika aku membantu liputan bom Bali pada Oktober 2005. Ketika hampir semua wartawan mengandalkan informasi dari polisi, kami bersama fotografer harus ubek-ubek sendiri di lapangan. Kami menelusuri setiap informasi yang kami peroleh dari polisi ataupun media lain.
Kuncinya, kalau bisa dapat dari sumber primer, kenapa harus dari sumber skunder? Maka, saya merasa, waktu itu sudah bekerja layaknya penyidik itu sendiri. Ini salah satu pelajaran penting bagi saya.
Intelijen
Tantangan itu dibantu dengan kuatnya jaringan jurnalis asing itu sendiri. Bagian ini juga yang baru saya tahu. Jurnalis-jurnalis media asing ini memang cepat sekali tahu informasi terkini terkait terorisme. Mereka mendapatkan informasi itu langsung dari intelijen.
Ada di apa di baliknya? Saya tak tahu. Saya cuma tahu bahwa mudahnya asupan informasi dari intelijen itu berdasarkan hasil pendekatan mereka ke sumber-sumber informasi tersembunyi. Saya yakin sih karena uang juga di baliknya.
Oke, balik soal fixer.
Meski honor fixer ini amat tinggi, namun tak menjamin pekerjaan ini bisa jadi pegangan hidup. Salah satunya karena tak setiap waktu media asing butuh fixer ini. Mereka butuh fixer hanya ketika ada isu besar yang dianggap penting atau relevan bagi pembaca medianya. Dan, isu besar itu tak terjadi setiap waktu.
Pekerjaan sebagai fixer ini mungkin mirip nelayan, sekali panen bisa berlimpah ruah. Tapi begitu musim panen lewat langsung sepi. Kere. Beda dengan wartawan tetap di media lokal atau nasional yang mirip petani, pendapatan sudah bisa diprediksi meski jumlahnya kadang tak mencukupi.
Tak enaknya jadi fixer juga karena besarnya risiko. Kalau di Bali sih relatif aman. Tapi, beda soal kalau fixer itu di daerah konflik, seperti Aceh dan Papua. Di sana fixer bertaruhan nyawa. Sebab, fixerlah yang berada di garis depan saat liputan. Dia yang mencari informasi dan kadang jurnalis asing tinggal mengolah informasi tersebut darinya.
Menurut data Komisi Perlindungan Jurnalis (JPJ), tak sedikit fixer di negara-negara konflik ini yang harus dipenjara atau bahkan mati sementara jurnalis asing yang dibantunya bebas pergi meninggalkan lokasi liputan.
Maka, begitulah. Fixer, kadang-kadang, juga harus menjadi bumper atau bahkan martir.
By. CHRIS PARERA /sumber: mediaindependen.com