Haru Biru Natal di Kota Roma


Gereja Tempat Aku Bertugas

sergapntt.com [ROMA] – Angin dingin bulan Desember berhembus lembut menerpa wajahku yang tampak sudah hampir membeku. Pagi-pagi buta aku sudah berdiri menggigil di halte bus yang terletak di depan asramaku untuk menunggu bus yang akan mengantarku ke stasiun kereta api di pusat kota Roma. Meski dinginnya menusuk tulang, tapi mataku dihibur oleh hiasan-hiasan indah bertema Natal yang tersusun rapi di sepanjang jalan. Lagu-lagu natal yang diputar di toko-toko juga kerap sayup-sayup terdengar dengan riangnya.
Setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya bis yang aku kehendaki datang juga. Di dalam bus keadaanya mulai sedikit hangat. Jalan-jalan masih lengang di pagi hari, terlebih karena hari ini kota Roma sudah memasuki musim liburan, 3 hari sebelum Natal. Bis yang aku tumpangi melewati Basilika Santo Petrus yang selalu ramai disinggahi oleh para turis dari berbagai pelosok dunia bahkan di pagi buta seperti saat ini. Basilika yang menjulang tinggi dan kokoh kini semakin cantik dengan pohon cemara raksasa dan Gua Natal berukuran raksasa yang dipamerkan di pelatarannya. Tampak Bunda Maria, Bapa Yosep, palungan dan tidak lupa juga para gembala dengan hewan ternak mereka, seolah sungguh hidup, karena patung tersebut berukuran seperti manusia pada umumnya. Setiap tahun pakaian mereka diganti-ganti dengan pakaian tradisional dari negara tertentu yang dipilih. Batinku berbisik : Natal… oh natal yang indah…. tapi jauh di dalam lubuk hatiku aku masa ada yang hilang, entah apa itu…aku tak tahu jawabnya.

Sebagaimana kebiasaan para pastor yang belajar di kota abadi Roma, setiap Natal dan Paskah , kami pergi ke paroki-paroki di luar kota Roma untuk berasistensi, Natal tahun ini aku bersama 7 teman Indonesia lainnya diminta oleh salah satu dekenat di kota Pisa (Italia Tengah) Kota Pisa terkenal dengan menara miringnya yang dibangun berabad-abad yang lalu. Posisinya yang ganjil justru menjadi daya tarik setiap orang yang datang ke kota Pisa. Jarak kota Roma dan Pisa bisa ditempuh dengan 5 jam naik kereta api kelas ekonomi.

Di dalam kereta api yang mengantar kami, kami melatih ritus-ritus liturgi untuk Perayaan Ekaristi pada malam Natal dan Hari Natal dalam bahasa Italia. Juga tidak ketinggalan menghafalkan kotbah dan kalimat absolusi untuk Sakramen Pengakuan dosa yang juga dalam bahasa Italia. Maklum karena ini adalah pengalaman pertama bagi para pastor yang baru datang di Italia.

Setelah 5 jam perjalanan, kami akhirnya sampai di stasiun Pisa-Centrale. Dari sana kami sudah ditunggu oleh beberapa pegawai paroki tempat kami akan ditempatkan di dekenat tersebut. Kami disebar di 8 paroki yang jaraknya cukup berdekatan, tetapi ada juga teman kami yang ditempatkan di paroki yang berada jauh di atas bukit, di mana pemandangan putihnya salju sudah menunggu mereka.

Aku dijemput oleh seorang bapak tengah baya, Giovanni namanya. Orang yang ramah dan suka sekali humor. Dia berkata bahwa aku sudah ditunggu makan siang oleh Don Ettore (baca. Romo Ettore) berserta kedua orang tuanya. “Orang tuanya???”, aku bertanya dalam hati.
Paroki tempat ku ditugaskan terletak di sebuah desa kecil di pinggir sungai. Jaraknya 20 menit dari stasiun pusat kota Pisa kalau ditempuh dengan mobil pribadi. Mobil Giovvani berhenti di pinggir jalan yang cukup besar. Kulihat Gereja kecil sederhana yang terletak di pelataran balai kota. Kecil, sederhana namun sangat indah. Suasana pedesaan sangat terasa di paroki ini. Rumah-rumah tertata rapi, kios-kios kecil yang menjual perlengkapan rumah tangga mengisi ruang kosong di pelataran Gereja ini.

Giovvani menuntunku ke dapur pastoran. Di sana tampak seorang perempuan tua yang masih cantik di usianya. Dia menyambutku hangat dengan pelukan dan ciuman. Nampak uap menyembul dari panci panci yang berada di atas kompor. Mmmhhhhh baunya sedap sekali… sontak rasa lapar di perutku kembali minta diisi. Tak lama kemudian, seseorang turun dari lantai dua gedung pastoran, seorang bapak tua, pertama kuberpikir: “oohhh ini yang namanya Don Ettore”. Tetapi perkiraanku salah, ternyata beliau adalah ayah dari Don Ettore. Mereka berdua, pasangan suami istri ini, adalah orangtua Don Ettore yang memang tinggal di pastoran dan bertugas untuk mengatur rumah tangga pastoran dan gereja. Ada kebiasaan di Italia dan Eropa pada umumnya di mana orang tua para pastor kalau masih mampu bekerja, mereka tinggal di pastoran untuk membantu anak mereka mengurus rumah tangga pastoran.

Tidak lama setelah itu kamipun mengisi kursi-kursi di sekeliling meja makan, dan tiba-tiba seorang pria tinggi besar datang, dia mengenakan pakaian jubah hitam, lengkap dengan jas anti dingin yang tebal. Dialah Don Ettore, pastor paroki yang baru saja pulang dari pemakaman. Orangnya ramah dan tampak hawa suci mengalir dari senyumnya yang ramah dan riang. Kami pun makan bersama… mmmm makanan terenak yang pernah kumakan di Italia berupa spaggheti asli bikinan orang italia asli. (di asramaku, meski setiap hari makan makanan Italia tetapi yang memasak adalah para suster dari India).

Ini adalah Natal pertamaku di Italy, Natal pertama jauh dari keluarga, teman-teman dan orang-orang yang aku kenal. Hari-hari kulalui dengan duduk menggigil di kamar pengakuan, duduk menunggu umat yang mengaku dosa. Tidak jarang, sambil menunggu, aku membuka-buka buku pelajaranku. Maklum, setelah Natal, masa ujian akan segera datang. Cukup banyak umat yang mengaku dosa di paroki ini. Mula-mula aku mengalami kesulitan menangkap “dialeg” mereka, tapi lama kelamaan aku terbiasa juga. Nasihat pengakuan dosa yang tadinya kaku karena hafalan belaka, mulai mencair seiring bertambahkan “ketrampilan”ku berbahasa Italia. Tidak bisa dipungkiri oleh kami para pastor Indonesia, liburan di paroki selain menambah sedikit uang saku, juga meningkatkan kemampuan berbahasa Italia.

Di siang hari setelah lelah mendengarkan pengakuan, kopi hangat buatan mama don Ettore telah menungguku. Makan siang pun kami lalui bersama, aku merasakan suatu kehangatan keluarga di paroki ini. Mama dan papa Don Ettore tidak henti-hentinya menceritakan bagaimana bangganya mereka ketika anak mereka ditahbiskan menjadi seorang imam. Mata mereka juga menjadi nanar ketika menceritakan kesulitan-kesulitan yang pernah dialami oleh putra mereka selama menjalani tugasnya sebagai imam. Oh… orang tua yang sungguh mulia… pikirku.

Malam Natal pun tiba, banyak sekali umat yang datang ke gereja, bangku gereja sampai tidak mampu menampung mereka. Selama misa malam Natal, aku pun masih duduk mendengarkan pengakuan dosa, bahkan sampai sebelum komuni kudus, karena umat di sini banyak yang beranggapan, lebih baik mengaku dosa menjelang lagu Anak Domba Allah dikumandangankan, supaya mereka menerima Tubuh Tuhan dengan hati yang sungguh bersih.

Di malam Natal yang dingin, ketika umat sudah mulai kembali ke keluarga mereka masing-masing untuk merayakan lahirnya Sang Juru Selamat, aku duduk sendiri di dalam Gereja yang kembali menjadi sunyi. Kuhayati hadirNya Sang Penebusku di dalam hidupku. Kubuka pintu Gereja, lalu kuberanikan kakiku melangkah di jalan yang dingin sekali. Angin dinginpun menggelitik tubuhku sampai menggigil. Kuberjalan sendiri, sepi dan sunyi. Kulalui rumah-rumah umat, kulewati perkarangan rumah mereka. Dari luar jendela yang masih bernyala, kudengar gelak tawa mereka sambil makan bersama. Kakek, nenek, papa, mama, anak-anak serta cucu-cucu berkumpul bersama, sungguh indah kebersamaan di malam Natal yang kudus. Kuingat bahwa Allah Putra pun hadir di dunia di tengah hangatnya keluarga kudus Nasaret di tengah malam yang dingin, sunyi dan sepi. Kusenandungkan lagu Malam Kudus di dalam hatiku untuk mengiringi langkahku… tak terasa air mataku menetes di pipiku yang membeku…. aku ingat keluargaku di Indonesia juga teman-temanku. Mendadak aku jadi kangen mereka. Memang keindahan sebuah keluarga baru terasa ketika kita jauh dari mereka.

Setelah hampir 1 jam aku berkeliling di jalan sepi nan sunyi, aku kembali ke pastotran. Ternyata sejak tadi aku sudah ditunggu oleh Don Ettore dan kedua orang tuanya. Kamipun berkumpul bersama di ruang makan, sambil menyantap sup hangat yang sungguh lezat. Mama Don Ettore tiba tiba mengeluarkan suatu bungkusan, ohh ternyata …. kado natal special untukku. Malam Natal kami lewati bersama dalam kebersamaan keluarga yang sungguh hangat dan berkesan. Terima kasih Tuhan, meski keluarga serta sahabat-sahabatku jauh, malam ini aku masih boleh merasakan sedikit kebersamaan di tengah keluarga seperti ini. Terima kasih ya Yesusku, Engkau hadir secara baru dalam hidupku. Tepat pukul 12 malam, lonceng gereja berbunyi meriah, sayup sayup keceriaan dan kebahagiaan Hari Natal berkumandang di hati setiap orang yang sungguh mendamba hadirnya SANG JURU SELAMAT DUNIA, YESUS KRISTUS TUHAN KITA. SANG EMANUEL, TUHAN BESERTA KITA SELAMANYA.

(Kisah ini adalah pengalaman NATAL ku tahun lalu di Italy, semoga berkenan)

By. Romo Joseph Susanto

Mat Cato, Pengemis Paling Kaya Di Indonesia


sergapntt.com [SURABAYA] – Mat Cato, begitu dia biasa dipanggil. Besar di keluarga pengemis, berkarir sebagai pengemis, dan sekarang jadi bos puluhan pengemis di Surabaya. Dari jalur minta-minta itu, dia sekarang punya dua sepeda motor, sebuah mobil mewah, dan empat buah rumah. 

Sory,,,! Mat Cato tak mau nama aslinya dipublikasikan. Dia juga tak mau wajahnya terlihat ketika difoto untuk tulisan ini. Tapi, big bos bagi 54 pengemis di Kota Surabaya ini mau bercerita panjang lebar tentang hidup dan ”karir”-nya.
Setelah puluhan tahun mengemis di jalanan, kini Cato sudah bisa menikmati hidupnya. Praktis, sejak tahun 2000, dia tidak lagi meminta-minta di jalanan atau perumahan. Kini,,,, setiap hari, dia mengaku mendapatkan pemasukan bersih Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Itu artinya, dalam sebulan, dia punya pendapatan sekitar Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Mat Cato sekarang sudah punya rumah di kawasan Surabaya Barat, yang didirikan di atas tanah seluas 400 meter persegi. Di kampung halamannya di Madura, dia juga punya dua rumah. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk emak dan bapaknya yang sudah renta. Selain itu, ada satu lagi rumah yang dia bangun di Kota Semarang.

Jika ingin bepergian, kini Mat Cato telah memiliki dua sepeda motor Honda Supra Fit dan sebuah mobil Honda CR-V kinclong keluaran 2004.

Mat Cato bercerita, hampir seluruh hidupnya dia jalani sebagai pengemis. Sulung di antara empat bersaudara itu menjalani dunia tersebut sejak sebelum usianya masuk sepuluh tahun, tidak lama setelah peristiwa pemberontakan G-30-S/PKI. Maklum, emak dan bapaknya dulu pengemis di Bangkalan. ”Dulu awalnya saya diajak Emak untuk meminta-minta di perempatan,” ungkapnya.
Karena mengemis di Bangkalan kurang ”menjanjikan”, awal 1970-an, Mat Cato diajak orang tua pindah ke Surabaya. Adik-adiknya tidak ikut, dititipkan di rumah nenek di sebuah desa di sekitar Bangkalan. Tempat tinggal mereka yang pertama di Surabaya ya,,, di emprean sebuah toko di kawasan Jembatan Merah.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjadi pengemis. Ketika remaja, ”bakat” Mat Cato untuk menjadi bos pengemis mulai terlihat. Waktu itu, uang yang mereka dapatkan dari meminta-minta sering dirampas preman. Apalagi saat itu ayahnya mulai sakit-sakitan, praktis si ayah tak kuasa membela keluarga. Karena itu, sebagai anak tertua, Mat Cato -lah yang melawan. ”Saya sering berkelahi untuk mempertahankan uang,” ungkapnya bangga.

Meski berperawakan kurus dan hanya bertinggi badan 155 cm, Mat Cato berani melawan siapa pun. Dia bahkan tak segan menyerang musuhnya menggunakan pisau jika uangnya dirampas. Karena keberaniannya itulah, pria berambut ikal tersebut lantas disegani di kalangan pengemis. ”Wis tak nampek. Mon la nyalla sebet (Kalau dia bikin gara-gara, langsung saya sabet, Red),” tegasnya.
Selain harus menghadapi preman, pengalaman tidak menyenangkan terjadi ketika dia atau keluarga lain terkena razia petugas Satpol PP. ”Kami berpencar kalau mengemis,” jelasnya.
Kalau ada keluarga yang terkena razia, mau tidak mau mereka harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu untuk membebaskan.

Cato tergolong pengemis yang mau belajar. Bertahun-tahun mengemis, berbagai ”ilmu” dia dapatkan untuk terus meningkatkan penghasilan. Mulai cara berdandan, cara berbicara, cara menghadapi aparat, dan sebagainya. Makin lama, cato menjadi makin senior, hingga menjadi mentor bagi pengemis yang lain. Penghasilannya pun terus meningkat. Pada pertengahan 1990, penghasilannya sudah mencapai Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu per hari. ”Pokoknya sudah enak,” katanya.

Dengan penghasilan yang terus meningkat, Cato mampu membeli sebuah rumah sederhana di kampungnya. Saat pulang kampung, dia sering membelikan oleh-oleh cukup mewah. ”Saya pernah beli oleh-oleh sebuah tape recorder dan TV 14 inci,” kenangnya.

Saat itulah, dia mulai meniti langkah menjadi seorang bos pengemis. Dia mulai mengumpulkan anak buah. Cerita tentang ”keberhasilan” Cato menyebar cepat di kampungnya. Empat teman seumuran mengikutinya ke Surabaya. ”Kasihan, panen mereka gagal. Ya sudah, saya ajak saja,” ujarnya enteng.

Sebelum ke Surabaya, Cato mengajari mereka cara menjadi pengemis yang baik. Pelajaran itu terus dia lanjutkan ketika mereka tinggal di rumah kontrakan di kawasan Surabaya Barat. ”Kali pertama, teman-teman mengaku malu. Tapi, saya meyakinkan bahwa dengan pekerjaan ini, mereka bisa membantu saudara di kampung,” tegasnya.

Karena sudah mengemis sebagai kelompok, mereka pun bagi-bagi wilayah kerja. Ada yang ke perumahan di kawasan Surabaya Selatan, ada yang ke Surabaya Timur. Agar tidak mencolok, ketika berangkat, mereka berpakaian rapi. Ketika sampai di ”pos khusus”, dia dan empat rekannya itu lantas mengganti penampilan. Tampil compang-camping untuk menarik iba dan uang recehan. Hanya setahun mengemis, kehidupan empat rekan tersebut menunjukkan perbaikan. Mereka tak lagi menumpang di rumah Cato. Sudah punya kontrakan sendiri-sendiri.

Pada 1996 itu pula, pada usia ke-36, Cato mengakhiri masa lajang. Dia menyunting seorang gadis di kampungnya. Sejak menikah, kehidupan Cato terus menunjukkan peningkatan…

Setiap tahun, jumlah anak buahnya terus bertambah. Semakin banyak anak buah, semakin banyak pula setoran yang ia terima. Makanya, sejak 2000, dia memutuskan untuk berhenti mengemis di jalanan. Sebenarnya, dia tak mau mengungkapkan jumlah setoran yang dia dapatkan setiap hari. Setelah didesak, dia akhirnya mau buka mulut juga. Yaitu, Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari, yang berarti Rp 6 juta hingga Rp 9 juta per bulan.
Menurut dia, dia tidak memasang target untuk anak buahnya. Dia hanya minta setoran sukarela. Ada yang setor setiap hari, seminggu sekali, atau sebulan sekali. ”Ya alhamdulillah, anak buah saya masih loyal kepada saya,” ucapnya.
Dari penghasilannya itu, Cato bahkan mampu memberikan sebagian nafkah kepada masjid dan musala di mana dia singgah. Dia juga tercatat sebagai donatur tetap di sebuah masjid di Gresik. ”Amal itu kan ibadah. Mumpung kita masih hidup, banyaklah beramal,” katanya.
Sekarang, dengan hidup yang sudah tergolong enak itu, Cato mengaku tinggal mengejar satu hal saja. ”Saya ingin naik haji,” ungkapnya. Bila segalanya lancar, dia akan mewujudkan itu pada tahun 2012 nanti.
Hasil survei sebuah lembaga independen menyebutkan, kini Mat Cato tercatat sebagai pengemis paling kaya di Indonesia. Anda berminat jadi pengemis? Hubungi segera Mat Cato di 911, hahahaha,,,,
By. COPAS

Kisah Pengemis Yang Dapat Pelayanan Ekslusif


sergapntt.com [NEW YORK] – Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer dari antara perayaan-perayaan Natal, semacam kisah Orang Samaria yang Baik Hati. Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah toko serba ada (Dept. Store) di New York, Amerika Serikat.
Pada suatu hari seorang pengemis wanita, yang dikenal dengan sebutan “Bag Lady” (karena segala harta-bendanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis), memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Semua lantainya dilapisi karpet yang baru dan indah. Meskipun bajunya kotor dan penuh lubang, pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu. Bau badan menyengat hidung.

Ketika itu, ada seorang hamba Tuhan mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan.

Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya, padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal. Di tengah toko itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Natal dengan gaun yang indah. Pengemis itu kelihatan sangat tidak cocok dengan suasana di toko itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan yang gemerlapan itu, tetapi sang ‘Bag Lady’ jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.

Rupanya pengemis itu mencari sesuatu di bagian gaun wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal ber-merek (branded items) dengan harga diatas 00 untuk satu gaun. Kalau dikonversi dengan kurs akhir-akhir ini, harganya dalam rupiah pasti lebih dari Rp. 20 juta untuk satu gaun.

Baju-baju yang mahal dan mewah! Apa yang dikerjakan pengemis ini? Sang pelayan bertanya, “Apa yang dapat saya bantu bagi anda?” “Saya ingin mencoba gaun merah muda itu!”

Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu.

Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu. “Berapa ukuran yang anda perlukan?” “Tidak tahu!” “Baiklah, mari saya ukur dulu.”

Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya.

“OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya! Cobalah yang ini!” Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas.

“Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?” “Oh, tentu!” Pelayan ini menghabiskan waktu kurang lebih dua jam lamanya untuk melayani sang “Bag Lady”.

Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya. Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Tapi hari itu, ada seorang pelayan toko yang melayaninya, menganggapnya seperti orang penting, dan yang mau mendengarkan permintaannya.

Tetapi mengapa pelayan toko itu mau repot-repot melayaninya? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan memakan biaya bagi toko itu karena harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry agar dicuci bersih supaya kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu.

Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu “istimewa”-nya. “Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini?” “Oh, sudah menjadi tugas saya untuk melayani dan berlaku ramah.”

“Tetapi, anda ‘kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?”

“Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik.”

Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain. Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada Hari Minggu berikutnya dengan thema “Injil Menurut Toko Serba Ada”. Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu. Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif itu.

Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa. Namun akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 %.

By. COPAS

Narkotika Merusak Masa Depan Bangsa


sergapntt.com [KUPANG] – Kejahatan narkotika sangat berbahaya, terbukti dapat merusak generasi muda dan masa depan bangsa di negara manapun, bahkan merusak karakter, merusak fisik dan mental masyarakat yang dapat mengganggu daya saing dan kemajuan daerah.  
Demikian disampaikan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir. Esthon L. Foenay,M.Si, dalam sambutan pada acara Rapat Kerja Pertukaran Informasi dan Kerjasama Penyidikan Antar Instansi Terkait Serta Tindak Lanjut Pemeriksaan Hasil Penyelidikan Bidang Narkoba Tingkat Provinsi NTT, di Hotel Silvia Kupang, Senin (05/12/11).
Lebih lanjut Wagub mengatakan, kejahatan narkotika ini juga berdampak pada masalah lain yaitu pencurian, perkelahian dam juga percepatan penularan HIV/AIDS dan penyakit menular berbahaya lainnya.
Kejahatan narkotika kata Wagub, memiliki jaringan global, regional bahkan nasional dan telah merambah sampai ke pedesaan.
“Bagi yang menjadi korban narkotika untuk melakukan pengobatan dan rehabilitasi, tidak semudah yang kita bayangkan, banyak anak-anak kita yang kembali mengkonsumsi narkotika yang tentunya akan menghancurkan masa depan mereka,“ ujarnya.
    
Semakin meningkatnya kasus tindak pidana narkotika di Provinsi NTT, Esthon Foenay berharap diperlukan penanganan yang terpadu dan juga dapat menimbulkan efek jera kepada pelaku, maka kerjasama dan tukar menukar informasi dalam penanganan kasus sangat diperlukan guna percepatan penyelesaian kasus tindak pidana narkotika.
“Mari kita tingkatkan kerjasama antar seluruh instansi pemerintah dan aparat penegak hukum dalam rangka menyamakan persepsi aparat penyidik untuk memperkuat langkah-langkah dalam memutuskan jaringan dan menghindari adanya permasalahan yang dapat menghambat hasil penyidikan kasus narkotika,“ pintanya.
By. FERRY GURU

Pelaku Penikaman Polisi Belum Ditemukan


sergapntt.com [KUPANG] – Tersangka pelaku penikaman terhadap anggota Buru Sergap (Buser) Polresta Kupang, alm. Brigadir Polisi (Brigpol) Obaja Obweld Nakmofa hingga kini belum ditemukan. Polisi masih terus memburu tersangka yang identitasnya sudah dikantongi polisi.
Walau begitu, polisi telah menahan oknum pegawai Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Provinsi NTT, fredi Boymau. Fredi diduga terkait kasus ini lantaran mengatahui persis siapa pelaku yang menikam Brigpol. Obaja.
Sedangkan Iwan Bili yang sebelumnya ditahan polisi, telah dipulangkan karena dalam pemeriksaan Iwan hanyalah seorang pemilik sepeda motor yang dipakai tersangka.
Imformasi yang dihimpun sergapntt.com di Mapolresta Kupang menyebutkan, pada malam kejadian Kamis (1/12/11) lalu, Fredi meminjam motor milik Iwan, lalu Fredi meminjamkan lagi motor tersebut kepada tersangka. Tersangka kemudian mengendarainya, dan di tengah jalan ia berpapasan dengan Brigpol. Obaja dan Robinson, rekan polisi Obaja.
Saat itu, Obaja dan tersangka terlibat pembicaraan mengenai status kepemilikan motor itu. Lalu,,, tersangka mengaku meminjam motor itu dari Fredi. Karena kurang yakin, Obaja lalu meminta tersangka untuk bersama-sama menemui Obaja.
Kecurigaan korban benar adanya. Sebab, saat ketiganya menemui Fredi, Fredi membantah kalau itu motor miliknya. Akhirnya, Fredi dan tersangka diajak untuk ke kantor polisi. Fredi dibonceng oleh korban, sedangkan tersangka diboceng oleh Robinson.
Tapi naasnya, dalam perjalanan menuju kantor polisi itu, tepatnya di jalan Frans Seda Kupang, di samping Gereja Menara Kesaksian, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang sekitar pukul 23.30 WITA, tersangka tiba-tiba mencabut pisau dan langsung menghujam ke arah pundak Robinson. Beruntung Robinson melihatnya. Spontan polisi yang juga teman karib Obaja itu mengelak. Tapi malang, laju motor yang dikemudinya oleng. Akibanya Robinson dan tersangka jatuh. Saat itulah, tersangka melarikan diri ke arah Bonie M.
Melihat itu kejadian itu, spontan korban menghentikan laju sepeda motornya lalu turun dan mengejar tersangka. Korban berhasil menangkap tersangka. Tapi sayang, di saat itulah tersangka menikam korban kemudian melarikan diri.
Fredi kemudian ditahan dan malam itu juga Iwan, sang pemilik sepeda motor langsung dijemput dan diperiksa polisi di Mapolresta Kota Kupang.
Kapolres Kupang Kota, AKBP. Drs. Bambang Sugiarto, M.Si yang dikonfirmasi melalui Kasubag Humas, Iptu. Simon Satu, S.Ip mengatakan, penyidik masih terus mengejar pelaku. Sedangkan  tersangka Fredi masih terus diperiksa secara intens guna pengembangnan penyidikan kasus ini.
Sementara  Brigpol Obaja dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Dharma Loka, Kota Kupang, Minggu (4/12/11) siang.

Acara pemakaman didahului ibadat pemakaman di rumah duka di RT 08/ RW 03, Kelurahan Fontein, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang. Dilanjutkan upacara pemakaman secara dinas di TMP Dharma Loka dimulai tepat pukul 11.00 Wita dengan inspektur upacara Kapolres Kupang Kota AKBP Bambang Sugiarto.

Turut hadir pada acara tersebut Kapolda NTT Brigjen Pol Ricky Sitohang bersama seluruh jajaran perwira Polda NTT dan perwira Polres Kupang Kota bersama seluruh anggota polisi.

Kapolres Kupang Kota AKBP Bambang Sugiarto dalam amanatnya mengajak keluarga besar Brigpol Obaja untuk tidak larut dalam kesedihan, namun tetap tegar dan kuat menghadapi cobaan berpulangnya Brigpol Obaja ke pangkuan Tuhan.

“Kepada keluarga yang ditinggalkan atas nama Pimpinan Polri saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi karena telah memberikan seorang putra terbaik menjadi anggota polisi yang mampu mengayomi masyarakat,” kata Bambang Sugiarto.

Ia menambahkan jajaran Kepolisian NTT merasa kehilangan seorang anggota polisi yang memiliki dedikasi tinggi untuk mempertahankan martabat kepolisian sebagai salah satu lembaga penegak hukum di Negara Indonesia.

Kapolda NTT Brigjen Polisi Ricky Sitohang melalui Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda NTT Kompol Antonia Pah mengatakan Brigpol Obaja seorang polisi yang baik dan bertanggungjawab melaksanakan tugas.

“Kami kehilangan seorang polisi yang memiliki dedikasi tinggi dan rela gugur di medan tugas,” kata Pah.

Antonia Pah menjelaskan Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo menganugerahkan kenaikan pangkat luar biasa anumerta kepada Nakmofa.

Almarhum meninggalkan istri tercintanya, Yuliana Kore Uly dan dua orang anak yang masih balita yakni Pranza Blessa Nakmofa berusia dua tahun dan Ryesta Yoanita Nakmofa yang baru berusia satu bulan.

By. EMP