Diduga, Pekerjaan Jalan di Busalangga Asal-asalan


sergapntt.com [BA’A] – Pekerjaan jalan sirtu Ombok-Fatubebela-Sukuhun-Ndeuama oleh PNPM Kelurahan Busalangga Kecamatan Rote Barat Laut tahun 2011 sepanjang 3.400 meter dengan nilai kontrak PNPM Rp 297.126.000 dan nilai kontrak swadaya masyarakat sebesar Rp 243.756.000, masa kerja 60 hari kalender terhitung 19 Agustus 2011, diduga tidak sesuai RAB dan pekerjaan jalan tersebut tidak akan bertahan lama. Karena, hingga finishing jalan tersebut belum selesai dikerjakan.
Pantauan sergapntt.com di lokasi, belum lama ini, jalan tersebut tidak rata (bergelombang, red) dan nampak seperti tidak diratakan dan digilas.
Kristofel Mbau, kepala lingkungan Ndeuama yang didampingi salah seoarang tokoh masyarakat, Joi Ndun dikediaman Joi Ndun mengatakan, pekerjaan jalan sirtu sepanjang 3.400 meter sangat disesalkan. Pasalnya, jalan tersebut sebelum dikerjakan oleh PNPM lebih bagus dari sekarang.
“Saya sangat menyesal dengan pekerjaan jalan ini karena saya lihat jalan sebelumnya lebih bagus. Datang ini PNPM malah tambah bikin rusak,” kesal Kristofel.
Menurut Kristofel, sebentar lagi akan turun hujan dan pihaknya yakin saat hujan nanti, walau hanya beberapa jam turun hujan, jalan tersebut sudah tidak bisa dipakai alias rusak berat.
Dikatakan, batas akhir pekerjaan sesuai kalender kerja 60 hari. Jadi jelasnya pada 19 Oktober 2011 telah berakhir, namun pekerjaan empat deker hingga saat ini belum selesai dan masih terbengkalai.
Dia mengatakan, sebagaimana menurut pengakuan TPK, Veri Talo Manafe bahwa masa pemeliharaan jalan adalah oleh masyarakat. Tetapi pihaknya mempertanyakan kok pemeliharaannya diserahkan kepada masyarakat tetapi tidak ada dananya.
Ia tidak mempersoalkan keuangan, namun yang dipersoalkan dan yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah kualitas jalan. “Kami masyarakat tidak persoalkan uangnya, tapi yang kami butuhkan pekerjaan jalannya bagus,” katanya.
Pihaknya meminta kejelasan tim PNPM, karena setahunya, prinsip pekerjaan PNPM terbuka tapi yang terjadi adalah sebaliknya.
Sementara, Joi Ndun mengatakan, selama pekerjaan jalan sirtu menurut informasi yang didengar, lebar jalan empat meter, namun pada kenyataannya lebar jalan bervariasi yaitu ada sebagian yang empat meter dan sebagianya tiga meter.
Sedangkan ketebalannya sesuai yang didengarnya 20-30 centimeter, tetapi yang ada hanya 15 centimeter. Bahkan ada ruas jalan yang ketebalannya tidak mencapai 15 centimeter. Sehingga pihaknya sangat yakin ketika turun hujan jalan tersebut tidak bertahan.
Hal ini katanya karena yang dilihat dirinya walas yang dipakai untuk meratakan dan menggilas sertu tidak maksimal. Pasalnya, walas hanya dua hari turun ke lokasi untuk menggilas jalan sepanjang 3.400 meter. Sudah begitu pekerjaan fibro selama dua hari tidak full, sehingga disepanjang ruas jalan nampak seperti digilas asal-asalan.
Pihaknya merasa pekerjaan jalan tidak sesuai. Sebab, selama ini ia meminta petugas PNPM kecamatan untuk menunjukan RAB pekerjaan, namun petugas PNPM selalu memberikan alasan, sehingga dirinya menilai bahwa pekerjaannya tidak benar.
“Liat sendiri itu jalan saja. Jalannya bergelombang, sudah begitu proses gilasnya tidak benar sehingga sertu yang ditimbun paling bertahan satu dua bulan. Kita ungkit dengan jari saja batu yang ikut digilas keluar dengan sendirinya. Apalagi nanti kalu turun hujan, saya sangat yakin jalan ini tidak akan bertahan lama. Justru jalan yang dahulu lebih bagus dari sekarang yang dikerjakan PNPM,” katanya dengan nada kesal.
Ditambahkan, menurut pengakuan TPK, Veri Talo Manafe kepada dirinya, anggaran PNPM sebesar Rp 297.126.000, swadaya masyarakat sebesar Rp 243.756.000 dan pemenang tender Rp 207 juta lebih, maka ini berarti sisa anggaran Rp 90 juta lebih dan untuk hak orang kerja (HOK) sebesar Rp 60 juta, sisa Rp 30.126.000. Sisa itu menurut ketua TPK akan ditenderkan lagi untuk menyelesaikan sisa jalan yang belum dikerjakan yaitu jalan Ndiuama. Namun dirinya tidak tahu sudah dikerjakan atau belum.
By. TIM

Anak Kurang Gizi dapat MP-ASI


sergapntt.com [MENIA] – Puluhan anak di Kelurahan Limaggu Kecamatan Sabu Timur yang dideteksi mengalami kekurangan gizi mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian MP-ASI dilakukan bidan desa dan kader posyadu secara bergiliran sesuai dengan jadwal posyandu di masing-masing lingkungan.
Bidan yang melayani di Pustu Kelurahan Limaggu, Agustina A Uly kepada wartawan saat pemberian MPASI kepada anak-anak di Posyandu Raepuhana menjelaskan, tidak semua anak yang datang ke posyandu mendapatkan jatah MP-ASI, tapi lebih diutamakan bagi anak-anak yang didata mengalami kekurangan gizi atau gizi buruk.
“Tidak semua anak yang kami layani diposyandu mendapat makanan pendaping ASI, tapi kita lebih utamakan bagi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi dan gizi buruk,” jelasnya.
Dikatakan, khusus untuk Posyandu Raepuhana ada 27 anak yang mengalami kekurangan gizi, sementara tujuh orang lainnya mengalami gizi buruk.
“Kalau secara keseluruhan di Desa Limaggu, maka jumlahnya lebih banyak lagi yang kurang gizi dan gizi buruk. Untuk itu, maka kita lebih memprioritas mereka, tapi kalau ada yang sisa kami juga berikan bagi anak-anak lainnya yang dilayani oleh posyandu,” ujarnya.
Dijelaskan, sebelum mengenalkan MP-ASI, bayi terbiasa dengan pola menyusu yang teratur tanpa henti. Terkadang, akan sangat mengganggunya jika ia harus berhenti di sela-sela acara makannya sekarang. Untuk itu, berikanlah anak sedikit ASI atau susu formula sebelum memberikan MP-ASI. Sehingga, ia tidak terlalu kelaparan yang sangat mungkin membuatnya marah atau frustasi.
Di hari-hari pertama pemberian MP-ASI, bayi biasanya hanya memerlukan sedikit makanan padat. Misalnya, 2-3 sendok kecil penuh. Dimulai dari satu kali pemberian MP-ASI per hari. Misalkan saat makan siang. Kemudian dapat ditingkatkan menjadi tiga kali sehari (makan pagi, makan siang dan makan malam).
“Yang perlu diingat, ukurlah selalu suhu dari makanan sebelum diberikan kepada si kecil. Dudukkan bayi Anda di pangkuan atau di kursi makan bayi. Cobalah membuat acara makan menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Senyumlah selalu dan ekspresikan bagaimana senangnya acara makan. Jangan lupa ajaklah ia bicara saat Anda menyuapinya. Ingat makan bagi anak adalah lebih dari sekadar acara pemenuhan nutrisi. Tetapi masa pembelajaran yang baik dan menyenangkan,” ujarnya.
Ditambahkan, kesiapan setiap bayi untuk menerima makanan lain selain ASI ataupun susu formula berbeda-beda. Waktu pemberian makanan padat haruslah tepat, karena jika terlalu awal memberikan makanan pendamping ASI dapat membuat selera bayi mengkonsumsi ASI menjadi berkurang. Sebaliknya, jika terlalu lama dalam memberikan makanan pendamping ASI akan menyebabkan bayi sulit menerima, bahkan menolak sama sekali makanan yang diberikan.
Karena itu, maka orang tua harus mengetahui dengan tepat kapan waktu yang tepat untuk memberikan si kecil makanan pendamping ASI.
By. SBR

Pustu Lederaga Tidak Punya Tenaga Medis


sergapntt.com [MENIA] – Hampir semua desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Sabu Raijua telah memiliki gedung puskemas pembantu (pustu) yang dibangun baik dengan dana APBD maupun dengan dana lainnya seperti PNPM. Sayangnya, keberadaan pustu tidak dibarengi dengan ketersediaan tenaga medis yang akan melayani kesehatan masyarakat.
Pengeluhan mengenai pustu yang dibiarkan mubazir tanpa ada petugas medis sudah sering dilontarkan masyarakat. Seperti diungkapkan, Djadi Raga, Kepala Desa Lederaga Kecamatan Hawu Mehara belum lama ini.
Sebagai pemerintah desa, ia meminta agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua segera menugaskan petugas medis untuk melayani masyarakat di Desa Lederaga. Pasalnya, setiap ada masyarakat yang sakit dan membutuhkan pertolongan medis, maka harus berjalan kaki sejauh delapan kilometer menuju Puskesmas Tanajawa.
“Kasihan masyarakat yang tidak punya kendaraan, mereka harus berjalan cukup jauh ke puskesmas, sehingga kami minta supaya pak bupati segera menempatkan petugas medis di Lederaga. Paling tidak kalau ada masyarakat yang kena demam, maka mereka sudah bisa berobat ke pustu dan tidak lagi harus berjalan jauh ke Puskesmas Tanajawa,” ujarnya.
Dijelaskan, Pustu Tanajawa sudah dibangun sejak tahun 2007, namun dari sejak dibangunnya pustu hingga saat ini belum pernah ada petugas yang menempati pustu tersebut. Pengeluhan soal tidak ditempatkannya tenaga medis sudah disampaikan berkali-kali kepada pemerintah yang lebih atas baik sejak masih bergabung dengan Kabupaten Kupang hingga Sabu Raijua telah menjadi kabupaten otonom.
“Kita sudah berkali-kali mengeluhkan masalah ini kepada bapak-bapak yang diatas namun hingga sekarang permohonan kami belum terjawab. Kami berharap agar setelah kita jadi kabupaten, maka harapan masyarakat bisa cepat terwujud dalam waktu dekat,” harapnya.
Sementara, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sabu Raijua, U Wibowati yang dikonfirmasi mengenai permintaan masyarakat Lederaga kepada Timor Express menjelaskan, tenaga kesehatan yang ada di Sabu Raijua saat ini masih sangat kurang, sehingga dinas belum bisa menempatkan petugas medis pada setiap pustu yang ada di desa.
Walau demikian, dinas telah mengatur agar setiap pustu yang ada di masing-masing desa dan kelurahan tetap dilayani oleh petugas dengan cara membagi wilayah kerja dari para tenaga medis.
“Jadi untuk mengantisipasi kekurangan tenaga medis, maka kita sudah bagi wilayah kerja bagi para petugas di lapangan. Misalnya dalam satu kecamatan para bidan dan perawat yang ada harus melayani beberapa desa dan kelurahan dan mereka sudah menjadwalkannya. Misalnya di Kecamatan Hawu Mehara ada belasan desa, maka dengan tenaga medis yang ditugaskan disana, mereka sudah membagi wilayah pelayanan masing-masing,” jelasnya. 
Dikatakan, puskesmas pembantu berperan dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat pada penanganan dasar untuk penyakit yang sering terjadi pada masyarakat seperti demam, ISPA dan sebagainya.
“Peranan pusksmas pembantu sifatnya hanya penanganan pertama untuk penyakit dasar yang sering ada pada masyarakat. Umumnya pada penyakit yang sering berjangkit pada anak-anak misalnya penyakit demam, ISPA dan flu. Sedangkan untuk penyakit yang sifatnya berat itu harus di rujuk ke puskesmas induk atau rumah sakit,” paparnya.
By. SBR

Penyaluran Raskin 97 Persen


sergapntt.com [SOE] – Hingga awal Desember 2011, penyaluran beras miskin (raskin) di Kabupaten TTS belum rampung. Dari 32 kecamatan, masih tersisa delapan kecamatan yang belum tersalur hingga mencapai 100 persen. Bahkan, masih terdapat desa yang baru menyalurkan hingga tahap kedua.
Kedelapan kecamatan tersebut yakni Kecamatan Amanuban Timur, Kuatnana, Amanuban Selatan, Amanatun Selatan, Amanuban Barat, Kota SoE, Amanuban Tengah dan Kecamatan Kie.
Hal ini dijelaskan Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten TTS, Nelson Dilla di ruang kerjanya, Sabtu (3/12). Nelson yang dikonfirmasi terkait perkembangan penyaluran raskin mengatakan, hingga akhir November, jumlah raskin yang disalurkan telah mencapai 11.096.160 kilogram dari jumlah keseluruhan pagu sebanyak 11.330.280 kilogram. Sementara, total dana yang belum disetor Rp 374.592.000 dari Rp 18.128.448.000.
Menurut Nelson, jumlah yang tersalurkan termasuk tahap lima dan enam yang merupakan tambahan untuk tahun 2011. Namun masih ada pula beberapa desa yang belum mengambil tahap III sampai tahap VI. Desa yang masuk dalam pencapaian paling rendah yakni Desa Tublopo Kecamatan Amanuban Barat. Hal ini karena ulah kepada desa, Habel Selan yang menunggak penyetoran uang ke Bagian Perekonomian walau masyarakat mengaku telah menyetornya kepada aparat desa.
“Sebenarnya sudah selesai sampai tahap enam, namun masih ada beberapa desa yang bermasalah. Sehingga staf kami sedang turun ke desa untuk mengecek hambatannya. Memang dari data yang ada, desa dengan pencapaian paling rendah itu Desa Tublopo. Karena desa ini baru menyetor dan mengambil jatah tahap I dan II. Padahal, desa lain sudah selesai hingga tahap VI. Setelah dicek, masyarakat bilang sudah kumpul uang. Tapi kepala desa bilang belum. Sehingga kami akan turunkan tim, termasuk bersama pak asisten satu untuk penyelesaian,” jelas Nelson.
Dia menambahkan, keterlambatan penyaluran lebih didominasi pada desa-desa yang mengalami masa transisi kepemimpinan. Pasalnya, baik kepala desa baru maupun mantan kepala desa saling lempar tanggung jawab. Hal ini yang sedang diupayakan oleh stafnya untuk segera diselesaikan.
“Kebanyakan desa yang belum tersalur 100 persen ini adalah desa yang mengalami masa transisi. Misalnya di Desa Oe’Ekam dan Desa Nifukiu. Karena ketika ditanya, kepala desa yang baru bilang uangnya masih di mantan kepala desa. Sementara ditanya ke kepala desa lama, bilang sudah diserahkan. Jadi ini yang membuat prosesnya terhambat sampai saat ini,” beber Nelson.
Disebutkan, dari 32 kecamatan di Kabupaten TTS, terdapat 240 penerima dengan jumlah RTS-PM atau kepala keluarga, 62.946.
By. SOS

Hapuskan Stigma dan Diskriminasi Terhadap Penderita HIV/AIDS


sergapntt.com [OELAMASI]  –     Memperingati hari AIDS se-dunia, Kamis (1/12), Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Kupang bagi-bagi pita merah kepada semua pengendara dan menggelar konferensi pers bertempat di aula kantor  bupati di Oelamasi. Kegiatan tersebut dihadiri pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang, pemuda peduli AIDS yang tergabung dalam komunitas ojek peduli AIDS (kompas) Kupang Timur dan Kupang Tengah serta masyarakat peduli AIDS.
Bupati Kupang, Ayub Titu Eki selaku ketua Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Kupang mengatakan, memperingati hari AIDS  se-dunia perlu menyatukan tekad bersama untuk mencapai tujuan pembangunan menjadikan Kabupaten Kupang sebagai kabupaten yang nantinya pada tahun 2015 bebas dari virus HIV/AIDS dengan melakukan kegiatan yang bernilai positif dan untuk keluar dari persoalan itu perlu adanya kerja sama yang baik dari pemerintah pusat sampai pemerintah desa.
Yang menjadi sasaran/target utama adalah anak-anak usia muda yang berusia dibawah 30 tahun karena usia seperti itu rentan terhadap pergaulan bebas, sehingga perlu diberikan perhatian khusus, diberikan pengertian dan sosialisasi secara terus menerus dan bila perlu dibuat komunitas yang mendukung kepedulian terhadap penyakit yang memang belum ada obatnya.
Sedangkan yang sudah terinfeksi virus HIV/AIDS diberikan perhatian dan supor untuk tetap minum obat secara rutin dan tetap memperlakukan mereka seperti masyarakat biasa pada umumnya.
Sementara, sekretaris I KPA Kabupaten Kupang, WZ Johannes dalam laporannya mengungkapkan, data kumulatif dari klinik VCT Rumah Sakit Umum Prof Dr WZ Johannes dan RST Wira Sakti Kupang, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kupang dari tahun 2006 hingga bulan Februari 2011, terdapat 38 kasus yang terinveksi HIV/AIDS dengan rincian, 23 orang terinveksi HIV dan terinveksi AIDS sebanyak 15 orang dan yang meninggal 12 0rang.
Dari 38 kasus HIV/AIDS, berdasarkan jenis kelamin 66 persen kasus HIV/AIDS terjadi pada jenis kelamin laki-laki dan 34 persen kasus terjadi pada jenis kelamin perempuan. Sedangkan, kasus HIV/AIDS berdasarkan jenis pekerjaan dirincikan persentase tertinggi adalah ibu rumah tangga yaitu 29 persen. Sedangkan, proses tertularnya dari pelanggan penjaja seks dan pasangan seks tetapnya (istri/pacar), penjaja seks, populasi LSL dan WBP.
KPA Kabupaten Kupang dalam kepeduliannya terhadap HIV/AIDS telah melakukan kegiatan-kegiatan sejak bulan Februari hingga November 2011 antaranya, mengadakan pelatihan, diskusi dan pembentukan kelurahan peduli AIDS, sosialisasi HIV/AIDS serta pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
Sementara, dari jaringan orang terinveksi virus HIV/AIDS yang diwakili oleh Maxi mengharapkan agar orang-orang yang telah terinveksi virus dapat diterima sebagai masyarakat yang wajar. “Tidak perlu mendiskriminasi dan memperlakukan secara khusus karena kami bukan orang yang perlu ditakuti. Tapi membutuhkan kepedulian pemerintah dan masyarakat dengan memberikan layanan pengobatan ART (anti retroviral) melalui rumah sakit Naibonat Kabupaten Kupang serta pembentukan dan penguatan klinik VCT (valuntery conselling test), sehingga dapat mendeteksi lebih dini kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kupang.
By. LITA