Baru 58 Persen Memiliki Jamban Sehat


sergapntt.com [OELAMASI] – Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) tingkat Kabupaten Kupang dipusatkan di Puskesmas Camplong, Senin (28/11/11) lalu. Peringatan kali ini ditandai dengan serangkaian kegiatan pencanangan open defecation  free (ODF), simulasi cuci tangan pakai sabun yang diperankan oleh siswa/i SD Inpres Lili, bincang–bincang tentang desa siaga dan pemanfaatan papan persalinan sebagai manjemen pengendalian persalinan di desa  (MP2D) yang diperankan pasangan suami istri, kader, dukun dan kepala desa dari Kecamatan Fatuleu.
Selain itu, simulasi sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) yang diperankan oleh siswa/i dari SD GMIT  Camplong 1, penanaman anakan secara simbolis dan pembacaan sambutan tertulis Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Endang Rahayu Sedyaningsih oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kupang, Hendrik Paut.
Demikian dijelaskan Plt Kabag Humas Setda Kabupaten Kupang, Stefanus Baha, Minggu (4/12/11) di Kupang. Ia menjelaskan, dalam sambutannya, Menteri Kesehatan RI, Endang Rahayu Sedyaningsih menegaskan, memperingati HKN setiap tahun merupakan tonggak peringatan akan pentingnya kesehatan dalam berbangsa dan bernegara. Kesehatan merupakan salah satu pilar pembangunan sumber daya manusia untuk mewujudkan manusia Indonesia yang tangguh, kuat, pandai, beradab, mampu bersaing dengan bangsa lain dan unggul dalam bidang ekonomi, teknologi dan sosial budaya.
Untuk itu, memerlukan manusia Indonesia yang sehat, cerdas, aktif dan produktif. Disamping itu, berbagai program terobosan untuk meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan yang bermutu juga telah dilancarkan antara lain dengan ditingkatkannya program jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), dilancarkannya jaminan persalinan (Jampersal) dan dilaksanakannya program bantuan operasional untuk puskesmas.
Dalam peringatan HKN ke-47 Menteri Kesehatan mengharapkan agar upaya itu terus ditingkatkan, dijaga dan dipertahankan kesinambungannya agar masyarakat Kabupaten Kupang makin mencintai kesehatan dan terwujud kemandirian dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka.
Stefanus Baha menjelaskan, tema HKN ke-47 yakni Indonesia Cinta Sehat dimaksudkan untuk mengajak seluruh komponen bangsa melakukan gerakan dan tindakan nyata dalam mencapai hidup bersih dan sehat.
Dibeberkan, data tahun 2010 di Kabupaten Kupang menunjukkan belum semua masyarakat memiliki kesadaran dalam berperilaku Hidup Bersih dan sehat (PHBS). Hal ini dapat dilihat dari pemanfaatan sarana kesehatan oleh masyarakat khususnya untuk persalinan, di mana masih ada persalinan berlangsung di rumah yang mana persalinan tersebut dilakukan oleh dukun atau keluarga. Sementara di semua puskesmas saat ini sudah tersedia ruangan untuk menolong persalinan.
Sedangkan, ketersediaan jamban di lingkungan keluarga yang memenuhi syarat kesehatan dari 69.339 KK yang ada di Kabupaten Kupang, KK yang memiliki jamban sehat baru mencapai 58 persen. Penyakit berbasis lingkungan masih termasuk dalam 10 besar penyakit di Kabupaten Kupang.
Untuk Kecamatan Fatuleu dengan jumlah 5.528 KK, jamban sehat yang memenuhi syarat 50,9 persen. Hal ini menandakan bahwa masih ada KK yang belum memiliki jamban. Khusus Desa Camplong 1, jamban yang memenuhi syarat 75 persen. Karena itu, perlu suatu gebrakan untuk meningkatkan aksi nyata masyarakat tentang pentingnya jamban dan cuci tangan pakai sabun melalui kegiatan di tingkat kabupaten/kecamatan dengan melibatkan masyarakat secara keseluruhan yang dilakukan pada acara HKN ke-47 tahun 2011.
Stefanus menjelaskan, tujuan khusus penyelenggaraan HKN adalah meningkatkan peran aktif organisasi kemasyarakatan dalam pemberdayaan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sehat, khususnya di Kabupaten Kupang, meningkatkan peran aktif dan aksi nyata sektor swasta dalam pemberdayaan masyarakat dan penyelenggaraan program–program kesehatan di Kabupaten Kupang serta meningkatkan pengetahuan masyarakat luas akan informasi kesehatan tentang pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan dan lingkungan dan pengetahuan tentang kesehatan lainnya.
Dijelaskan, HKN dilakukan melalui kegiatan pra HKN dan kegiatan penilaian sanitasi sekolah pada lima sekolah dasar yang berada di Kecamatan Fatuleu yaitu SD Inpres Lili, SD GMIT 2 Camplong, SD Inpres Oebola dan SD Inpres Oelamasi.
By. LITA

Tender DAK 2010 Syarat KKN, Tiga Paket Tanpa Pemenang


sergapntt.com [KEFA] – Tender proyek DAK di Dinas PPO Kabupaten TTU berupa pengadaan buku dan alat peraga diduga syarat KKN. Sebab, dari tujuh paket proyek yang ditenderkan, tiga paket proyek senilai Rp 3,2 miliar tanpa pemenang. Padahal, panitia sudah melewati tahapan seleksi dokumen, bahkan sudah melakukan tahapan verifikasi  dokumen pabrik dan peninjauan pabrik milik salah satu rekanan peserta tender.
Informasi yang dihimpun, Sabtu (3/12) di Kefamenanu menyebutkan, jumlah paket proyek DAK Dinas PPO yang ditenderkan sebanyak tujuh paket. Empat paket telah ditetapkan pemenangnya sedangkan tiga paket berakhir tanpa pemenang tender.
Gagalnya penetapan pemenang tender tiga paket proyek itu dipicu oleh persaingan anggota panitia untuk memenangkan rekanan tertentu  yang telah dijagokan saat proses tender. Ironisnya, salah satu rekanan peserta tender telah memfasilitasi panitia tender mulai dari biaya tiket pesawat pulang pergi Jakarta, akomodasi bahkan biaya rekreasi selama di Jakarta untuk melakukan peninjauan pabrik.
Tidak hanya itu, dari dua paket proyek pengadaan buku dan alat peraga yang dananya bersumber dari DAK tahun 2008 senilai Rp 4 miliar juga diduga syarat KKN. Sebab, rekanan pemenang tender  sudah diseting oleh panitia jauh hari sebelumnya untuk memenangkan dua paket proyek tersebut.
Buku-buku maupun alat peraga yang dibutuhkan sudah tiba dua bulan lalu di gudang rekanan pemenang tender sebelum pengumuman hasil tender dua paket proyek itu.
Ketua panitia, Marsel Boli yang dikonfirmasi wartawan, Sabtu (3/12) petang membantah adanya praktek KKN dalam proses tender tiga paket proyek pengadaan buku. Menurut Marsel, kepentingan panitia tender dalam tujuh paket proyek pengadaan buku dan alat peraga di Dinas PPO adalah mengamankan aturan dan menjamin mutu bahan-bahan yang akan digunakan siswa-siswi di Kabupaten TTU.
“Panitia kerja sesuai aturan. Kami tidak punya kepentingan untuk memenangkan rekanan peserta tertentu. Kalau toh ada rekanan yang menang tender, itu karena memang memenuhi syarat tender,” jelas Marsel.
Dijelaskan, dari dua paket proyek DAK yang ditenderkan panitia senilai Rp,2,1 mliar lebih berakhir tanpa pemenang dan satu paket senilai Rp 800 juta lebih tanpa rekanan yang memasukan penawaran.
Mengenai dua paket proyek yang ditenderkan namun berakhir tanpa pemenang tender, Marsel menjelaskan, hal itu terjadi karena tidak ada satu rekanan peserta tender yang memenuhi syarat setelah dilakukan seleksi dokumen maupun  penelitian lapangan.
“Memang ada salah satu rekanan yang secara administrasi memenuhi syarat untuk memenangkan dua paket proyek tersebut, tapi setelah peninjauan pabrik maupun kunjungan ke lokasi pabrik rekanan yang bersangkutan ternyata buku dan alat peraga yang disiapkan tidak sesuai kebutuhan sehingga rekanan yang bersangkutan juga dinyatakan gugur. Demikian memang ada dua paket proyek pengadaan buku dan alat peraga yang tidak ada pemenang tendernya,” jelas Marsel Boli.
By. ED

Perda Penertiban Ternak Di Sabu Raijua Segera Dilaksanakan


sergapntt.com [MENIA] – Memasuki musim tanam (MT) 2011-2012 peraturan daerah (perda) tentang penertiban ternak di Kabupaten Sabu Raijua harus dilaksakan, sehingga tidak lagi menjadi masalah bagi masyarakat. Permintaan ini disampaikan Camat Hawu Mehara, Agust M Mangi Radja belum lama ini di Mehara.
Dikatakan, kebiasaan masyarakat dengan melepas ternak dan peliharaan mereka tanpa dijaga dengan baik akan merusak tanaman yang ditanam tidak boleh lagi terjadi. Selain itu, keamanan lalulintas di jalan raya menjadi tidak aman akibat berkeliarannya hewan di jalan-jalan.
“Kebiasaan masyarakat kita di Sabu ini kan adalah melepas ternak mereka setelah panen selesai. Dengan telah ditetapkannya regulasi berupa perda yang mengatur tentang penertiban ternak, maka itu harus segera dilaksanakan secara baik dan bersama-sama. Kenapa kita lakukan, sebab akan menjadi percuma kita menanam atau melakukan penghijauan kalau ternak dibiarkan saja begitu merusak tanaman,” ujar Agust.
Dirinya mengaku, regulasi berupa peraturan daerah tentang penertiban ternak yang telah ditetapkan sudah disosialisasikan kepada masyarakat. Namun hingga saat ini masih banyak ternak yang dilepas, sehingga diperlukan tindakan tegas melalui operasi yang melibatkan banyak unsur.
Dikatakan, setelah melakukan penertiban terhadap ternak masyarakat, maka pemerintah Sabu Raijua akan menindaklanjutinya dengan menyiapkan pakan yang cukup bagi ternak. Cara tersebut tidak lain yakni ketika program penghijauan telah berjalan dengan baik.
“Pemerintah Sabu Raijua telah menyikapinya dengan bagaimana menyiapkan pakan yang cukup yaitu dengan menggalakkan hijauan makan ternak. Kita tahu bahwa ternak di Sabu sangat kesulitan pakan jika sudah musim kemarau, sehingga tanaman apa saja yang ada mereka makan. Batang jagung dan batang kacang yang kita tanam bisa menjadi pakan buat ternak, sehingga kita tidak membiarkan ternak yang ada mati begitu saja,” katanya.
Dirinya yakin bahwa dengan ditertibkannya ternak masyarakat, maka tumbuhan akan tumbuh di mana-mana dengan baik dan dengan sendirinya, pakan bagi ternak juga akan tersedia di Sabu Raijua.
By. SBR

Dana Kecil, Harus Dimanfaatkan dengan Baik


sergapntt.com [BA’A] – Dalam rangka pelaksanaan standar isi dan standar kompetensi lulusan pada tingkat SMP, maka SMP Negeri 3 Rote Barat Daya sebagai salah satu SMP dari empat SMP yang mendapat bantuan dana bimtek dari provinsi, melakukan workshop bimtek KTSP selama tiga hari yang berlangsung sejak 1-3 Desember 2011.
Hal ini dikatakan kepala SMP Negeri 3 Rote Barat Daya, Paulus Nggadas disela-sela workshop di SMP N 3 Oelasin, Jumat (2/12). 
Menurutnya, kegiatan worskhop dilakukan agar para guru dapat mereview kembali perangkap pembelajaran yang ada sehingga bisa masuk unsur-unsur pembinaan karakter. “Kita tahu bahwa anak-anak disini karakternya berbeda dengan karakter anak lain. Sehingga dengan adanya pembinaan karakter ini, anak-anak bisa berubah. Bukan saja faktor intelektual yang berubah, tetapi sikap, perilaku dan tingkah laku bisa berubah,” kata Paulus.
Dikatakan, walau dana bantuan sangat minim, namun bagaimana dari sedikit dana itu dapat dimanfaatkan dengan baik dan apabila laporan hasil dari kegiatan adalah positif dalam artian bahwa mampu memberikan pemahaman dan pengetahuan yang lebih mendalam kepada para guru, maka dirinya yakin kelak mutu pendidikan akan semakin bagus.
Sementara, Kabid Pendidikan dan Pengajaran Dinas PPO Kabupaten Rote Ndao, Jhon Pandie mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik kegiatan warkshop yang dilakukan SMP Negeri 3 Oelasin karena selama ini dana bantuan seperti itu ke sekolah-sekolah kebanyakan hanya membuat laporan pertanggung jawaban, sementara kegiatan tidak dilakukan.
“Kami dari dinas menyambut baik kegiatan itu, karena selama ini sekolah-sekolah yang mendapat dana bantuan tapi tidak melakukan kegiatan. Hanya membuat laporan pertanggungjawaban dan selesai. Namun kepala sekolah disini mampu membuat kegiatan ini dan saya pikir ini sangat luar biasa,” tandas Jhon.
Kegiatan diikuti 14 guru SMP Negeri 3 Oelasin termasuk tenaga honor dan mahasiswa PPL Unstar sebanyak enam orang. Bertindak sebagai narasumber kepala SMP Satap Batulai Kecamatan Lobalain, Elsijon Thine dengan materi, pengembangan media pembelajaran, menyusun dokumen II KTSP dan mengembangkan bahan ajar.
Sedangkan kepala SMP Negeri 3 Oelasin, Paulus Nggadas membawakan materi, delapan standar nasional pendidikan, integrasi pendidikan karakter kedalam mata pelajaran, pembelajaran aktif (pakem), penilaian pendidikan dan pembelajaran IPA terpadu dan IPS terpadu.
By. RN

Enam Kelompok Nelayan Di Sabu Dapat Perahu Lampara


sergapntt.com [MENIA] – Dalam rangka membantu nelayan dalam meningkatkan hasil produksi ikan di wilayah perairan pulau Sabu, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua kembali memberikan bantuan berupa enam unit perahu lampara yang dilengkapi dengan peralatan penangkapan ikan. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Sabu Raijua, Marthen Luther Dira tome bersama anggota DPRD, bertempat di kantor Dinas Pertanian Kehutanan Kelautan dan Perikanan, Sabtu (3/12/11).
Dari enam kelompok yang mendapatkan bantuan, ada dua kecamatan yang tidak dijatahi perahu lampara yakni Kecamatan Hawu Mehara dan Kecamatan Sabu Timur. Sementara, Kecamatan Sabu Barat dan Kecamatan Sabu Tengah masing-masing mendapatkan dua unit perahu lampara. Sementara, Kecamatan Liae dan Raijua mendapat jatah masing-masing satu unit.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome mengatakan, ada puluhan proposal yang dimasukkan kelompok nelayan untuk mendapatkan bantuan perahu lampara dari pemerintah. Namun karena bantuan yang ada terbatas, maka dinas teknis melakukan verifikasi serta memberikan pembobotan bagi kelompok nelayan sehingga bagi yang mendapat bantuan memang sudah dipilih sesuai dengan penilaian dari dinas.
“Pasti banyak kelompok yang kecewa, tapi bantuan yang ada sangat terbatas sesuai dengan anggaran yang ada. Kelompok yang mendapat bantuan ini sudah diseleksi secara ketat,” ujarnya.
Dikatakan, untuk menunjang nelayan dalam pengawetan ikan hasil tangkapan, maka pemerintah sudah membangun pabrik es mini sehingga nelayan tidak sulit mencari es untuk pengawetan. Selain itu, pemerintah juga lewat Dinas Perindustrian sudah melakukan pelatihan-pelatihan kepada kelompok masyarakat bagaimana mengawetkan ikan secara baik serta membuat berbagai macam makanan dari bahan baku ikan seperti bagaimana mengolah ikan menjadi abon.
Khusus untuk potensi laut ujarnya, harus diakui bahwa kekayaan yang terkandung di laut Sabu belum bisa dioptimalkan kerena berbagai keterbatasan sarana dan teknologi sehingga orang Sabu Raijua hanya bisa menonton orang luar mengeruk kekayaan yang ada di laut.
“Nelayan Sabu kan katanya hebat-hebat, jadi dengan adanya bantuan ini harus bisa menunjukan kehebatannya. Kita jangan hanya bangga memiliki laut Sabu yang kaya raya, sementara kita kalah bersaing dengan nelayan yang datang dari luar daerah ini,” tantang Marthen.
Untuk itu, melalui bantuan peralatan modern yang sudah diberikan pemerintah kepada nelayan, maka pemerintah juga sudah siap melakukan program pengembangan potensi kelautan.
Selain itu, Marthen juga menyinggung bahwa ada berbagai potensi selain penangkapan ikan yang juga sementara dilakukan seperti budidaya rumput laut di air dalam dengan sistem long line, membuat tambak ikan maupun udang serta membuat tambak garam dengan lahan yang memadai untuk diproduksi dan bisa dijual ke luar daerah.
“Kita sudah bertekad akan jadikan Sabu Raijua sebagai destinasi kelautan, sehingga semua potensi yang ada kita harus mampu kelola dengan baik. Kita bisa buat tambak ikan yang laris dipasar lokal maupun nasional. Untuk mengoptimalkan semua potensi kelautan disini, maka pemerintah sudah bertekad untuk membuat PD Kelautan, sehingga semua produksi kelautan bisa diatur dengan baik. Kita jangan lagi melihat dan menonton orang luar membagi bagi uang di atas laut Sabu dengan cara mengeruk hasil laut kita. Dengan teknologi penangkapan ikan dan pengawetan, maka bukan hal yang mustahil Sabu Raijua menjadi pemasok ikan bagi NTT dan daerah lain di Indonesia bahkan kalau bisa kita pasok ke luar negeri,” tegas Marthen.
By. SBR