Dinas Budpar Rote Ndao Gelar Festival Sasando Gong


sergapntt.com [BA’A] – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Kabupaten Rote Ndao menggelar festival sasando gong tingkat Kabupaten Rote Ndao di panggung kesenian Ba’a Kecamatan Lobalain, Senin (28/11) malam dengan peserta dari utusan delapan kecamatan.
Dijadwalkan, kegiatan itu akan berlangsung selama tiga hari dan program gelar festival sasando gong tersebut akan menjadi agenda tahunan dari dinas terkait.
Dalam sambutan Bupati Rote Ndao, Leonard Haning yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda), Agustinus Orageru mengatakan, pembukaan festival sasando gong merupakan kegiatan yang bermakna strategis karena memberikan kontribusi yang besar terhadap pengembangan dan pelestarian seni budaya daerah dan merupakan penunjang pariwisata  yang sangat berdampak pada masyarakat Rote Ndao.
Alat musik instrumen petik yang berasal dari daerah Rote tersebut ibarat mahakarya maestro yang penuh daya tarik dan unik, namun sayangnya, sasando kurang dinikmati pada saat sekarang. Seniman berbakat di bidang tersebut kian menurut dan di sayangkan telah terbatas pada generasi tua.
Dijelaskan, generasi muda yang ada di Rote seharusnnya menyelamatkan budaya petik sasando yang berada di ambang kepunahan. Karena itu, kegiatan festival sasando merupakan wadah yang tepat melestarikan dan mengembangkan hal tersebut.
“Penyelenggaraan festival sasando tingkat Kabupaten Rote Ndao yang telah menjadi program tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata merupakan suatu dukungan terhadap pemerintah daerah untuk pengembangan dan promosi alat musik kebanggaan masyarakat Rote,” ujarnya.
Diharapkan, festival sasando tingkat Kabupaten Rote Ndao tahun 2011 mempunyai dampak serius pada pelestarian dan pengembangan seni musik alat tradisional serta pariwisata Rote Ndao dan semoga memberi dampak dalam membangkitkan minat dan kecintaan terhadap musik sasando terutama di kalangan generasi muda.
By. ROT

Status RSUD SoE Siap Diakreditasi


sergapntt.com [SOE] – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) SoE akan ditingkatkan statusnya menjadi rumah sakit terakreditasi. RSU dengan tipe D itu telah melalu proses pendampingan oleh tim evaluasi untuk meningkatkan statusnya. Sejak 30 November-2 Desember mendatang, tim tersebut melakukan evaluasi untuk menentukan hasil pendampingan yang dimulai sejak April 2011.
Ketua tim evaluasi, Sugeng Ristanto dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan evaluasi mengaku, akreditasi merupakan suatu keharusan. Sehingga, setiap rumah sakit harus melalui proses tersebut.
“Ini merupakan tuntutan undang-undang sehingga mau tidak mau harus diakreditasi. Karena Januari 2012 mendatang, sudah ada sistem baru yang akan diterapkan,” kata Sugeng.
Bupati TTS, Paulus VR Mella yang hadir pada kesempatan itu mengaku, keberadaan RSUD sangat membantu. Pasalnya, TTS baru memiliki satu RS rujukan bagi 28 puskesmas di kabupaten tersebut. Sehingga dengan adanya peningkatan status, diharapkan dapat memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat.
Ketua DPRD TTS, Eldat Nenabu pada kesempatan itu memberikan suport atas upaya tersebut. Menurut Eldat, peningkatan status RS menjadi salah satu faktor untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Kesehatan kata dia, merupakan hal mutlak yang harus mendapat perhatian.
“Pendidikan juga penting, tapi kalau tidak sehat, maka pendidikan itu tidak berguna,” kata Eldat.
Sementara itu, Direktur RSUD SoE, Musa Salurante menjelaskan, rumah sakit tersebut telah berdiri sejak tahun 1928 dan terus berkembang hingga sekarang dengan tipe D.
Disebutkan, terdapat 259 tenaga yang didalamnya terdapat 12 dokter ahli maupun dokter umum. Belum lagi dengan keterbatasan yang ada, harus melayani rujukan dari 28 puskesmas di daerah tersebut.
Untuk diketahui, beberapa standar pelayanan yang dipersiapkan untuk diakreditasi yakni standar pelayanan administrasi manajemen, standar pelayanan rekam medik, pelayanan medis, pelayanan gawat darurat dan standar pelayanan keperawatan.
By. SOS

Guru dan Pengawas dapat Penghargaan


sergapontt.com [SOE] – Peran guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa memang perlu dihargai. Sehingga melalui peringatan hari jadinya yang ke-66, guru diberikan penghormatan sebagai peletak dasar kemampuan generasi muda. Sebagai bentuk penghargaan yang nyata, pemerintah memberikan tanda penghargaan kepada guru dan pengawas berpretasi di wilayah Kabupaten TTS.
Pemberian penghargaan kepada guru dan pengawas itu dilaksanakan pada upacara HUT PGRI dan HUT Korpri yang berlangsung di lapangan Puspenmas SoE, Selasa (29/11/11).
Dalam upacara tersebut, Bupati TTS, Paulus VR Mella menyerahkan penghargaan kepada satu pengawas dan empat guru perprestasi. Penyerahan tersebut disaksikan Muspida TTS serta ribuan peserta upacara.
Kadis PPO Kabupaten TTS, Aba L Anie yang diwawancara Timor Express menjelaskan, para guru dan pengawas tersebut telah melalui proses seleksi dan ujian. Menurut Aba, satu pengawas dan empat guru yang berprestasi itu bahkan berprestasi di tingkat provinsi dan juga nasional. Hal ini kata dia, sebagai bukti kualitas tenaga pendidik di daerah ini.
“Pengawas yang dapat penghargaan itu, Debora Daniel yang mendapat peringkat satu tingkat Kabupaten TTS dan juga NTT. Bahkan Debora masuk peringkat delapan nasional mewakili NTT. Untuk guru tingkat SMA, Jemy Pele dari SMAN 1 Mollo Selatan yang mendapat peringkat satu TTS dan peringkat tiga NTT. Sementara untuk tingkat SMP, Benyamin Sole dari SMP Kristen Kesetnana. Benyamin sedang mendalami bahasa Inggris karena mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 setelah mendapat sponsor,” terang Aba.
Dia menambahkan, untuk tingkat SD terdapat dua orang. Salah satunya adalah Isak Beukliu dari SD Inpres Ajotomas Mollo Utara. Isak kata dia, meraih peringkat satu tingkat Kabupaten TTS dan berhasil meraih peringkat pertama lagi di tingkat Provinsi NTT.
Dia menguraikan, proses seleksi yang dilakukan yakni seleksi administrasi, akademik, wawancara dan presentasi tulisan. Salah satu syaratnya adalah masa pengabdian minimal delapan tahun.
“Kita harapkan mereka-mereka ini akan menjadi guru yang diteladani baik dari segi disiplin dan juga dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran. Karena mereka ini terpilih dari 3.983 orang guru PNS di Kabupaten TTS,” bebernya.
By. SOS

Di TTS, Bibit Jagung Bantuan Rusak


sergapntt.com [SOE] – Upaya pemerintah untuk menghindari bencana rawan pangan di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mulai terbentur. Jika tahun sebelumnya masyarakat mengalami gagal tanam dan gagal panen, kali ini berbeda.
Di Desa Tetaf Kecamatan Kuatnana misalnya, masyarakat yang mendapat bantuan bibit jagung dari pemerintah desa diduga rusak sebelum ditanam. Pasalnya, selain kondisi bibit yang sebagian menghitam, masyarakat mengeluh karena sesudah ditanam hingga empat sampai lima hari tak kunjung tumbuh.
Beberapa warga yang ditemui wartawan, Rabu (30/11/11) mengisahkan, telah menerima bibit tersebut pertengahan November lalu. Namun setelah ditanam, hampir tidak ada yang tumbuh. Sehingga mereka menggantikan bibit yang mereka miliki.
“Kami dibagi setiap KK dapat satu kilogram. Jadi kami tanam tapi tidak ada yang tumbuh sampai sekarang. Jadi kami tanam ganti pakai kami punya bibit dan sudah tumbuh,” ujar salah satu warga, Yohana Neonali.
Hal yang sama diungkapkan Anderias Taniu yang juga adalah Kaur Pem Desa Tetaf. Anderias mengisahkan, setelah mendapat bagian, dia mencoba menanam jagung tersebut. Namun karena tidak tumbuh setelah menunggu hingga lima hari, dia mencoba menggali kembali untuk melihat bibit yang telah ditanamnya. Namun ternyata bibit tersebut telah mengembang dan hancur saat disentuh.
Kepala Desa Tetaf, Marthen Kause yang dikonfirmasi mengaku, bibit jagung tersebut dibagi secara gratis kepada seluruh masyarakat desa tersebut.
Menurut Marthen, bibit tersebut diadakan menggunakan dana ADD sebesar Rp 15,6 juta untuk 1.200 kilogram. Bukan diadakan oleh aparat desa, namun oleh pemerintah kecamatan. Dia mengungkapkan sistem pengadaan seperti itu telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Namun untuk tahun 2011 menuai masalah.
“Memang uangnya dari desa, namun ada staf di kecamatana, namanya Agustinus Neonane yang proses ini semua. Jadi bukan hanya desa kami yang dapat tapi ada tujuh desa di Kecamatan Kuatnana yang prosesnya sama begini. Jadi kami hanya menunggu untuk terima di tempat. Ini sistem yang sudah diatur dari tingkat atas, kalau tidak saya sebagai kepala desa tidak setuju. Karena kalau mau beli, mendingan saya langsung ke toko dan beli sesuai kebutuhan,” ujar Marthen kesal.
Dia menambahkan, setelah dibagikan, banyak masyarakat yang mengaku karena bibit jagung yang ditanam tidak tumbuh. Sehingga pihaknya telah melaporkan kepada pihak kecamatan melalui Agustinus Neonane. “Saya sudah kasih tahu dan mereka siap ganti. Kalau dugaan kami, jagung ini baru dipanen sehingga belum sempat dijemur dengan baik, sehingga rusak. Apalagi jagung juga tidak ada kemasan dan hanya diisi di dalam kantong plastik dan karung,” imbuhnya.
Sementara, Agustinus Neonane yang dikonfirmasi per telepon mengakui hal tersebut. Agustinus menjelaskan, bibit jagung tersebut dibelinya dari salah satu penangkar bibit binaan Dinas Pertanian di Kecamatan Batuputih.
Disebutkan, dirinya membeli bibit sebanyak tujuh ton dari penangkar tersebut dengan harga Rp 13 ribu per kilogram. Terkait bibit yang rusak, Agustinus mengaku akan mengganti sesuai kerusakan. Namun dia mengatakan akan membeli dari penangkar yang sama.
“Kami sudah dapat laporan dan untuk sementara baru dari Desa Tetaf. Itu jagung jenis Lamuru dari penangkar di Batuputih dan kami akan ganti 50 persen dari penangkar itu juga. Nanti hari Jumat kami akan antar,” janji Agustinus.
By. SOS

Pemerintah Bangun Fisik, Gereja Bangun Rohani


sergapntt.com [SOE] – Bupati TTS, Paulus VR Mella meminta pemimpin umat beragama untuk menggumuli berbagai persoalan yang dihadapi daerah. Baik masalah sosial, pendidikan dan juga masalah ketenagakerjaan dan bencana kelaparan.
Hal ini disampaikan Paulus Mella saat memberikan sambutan dalam acara perayaan ekaristi pemberkatan gedung Kapela Santo Leonardus Nunusunu Kecamatan Kualin, Sabtu (26/11). Sesuai berita yang dihimpun dari Humas dan Protokol Setda TTS, dalam acara tersebut hadir pula Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, Pr serta beberapa pejabat lainnya.
Paulus mengatakan, pemerintah daerah dalam melaksanakan kegiatan pembangunan selalu bermitra dengan pemimpin umat beragama untuk membangun masyarakat. Sehingga peran serta umat beragama dalam pembangunan di daerah sangat dibutuhkan.
Dikatakan, dalam kemitraan pemerintah dan gereja, pemerintah membangun masyarakat dari sisi fisik dan gereja membangun masyarakat dari sisi rohani. Sehingga menurut dia, akan ada keseimbangan antara jasmani dan rohani karena ada berbagai hal yang menjadi pergumulan pemerintah.
Paulus menyebutkan beberapa hal yakni adanya kekurangan pangan karena gagal tanama dan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri secara ilegal. Ada pula banyaknya anak-anak yang putus sekolah.
Sementara itu, Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang, Pr meminta masyarakat untuk tidak selalu mengeluh dengan keadaan yang dialami. Menurut Petrus, dengan anugerah yang diberikan Tuhan, masyarakat harus mampu mengelola alam yang Tuhan berikan dengan tetap menjaga kerukunan dan kedamaian sebagai manusia yang bermartabat.
By. MG