Labu (16), Gadis Belia Yang Sering Jadi “Santapan” Anak Jalanan


TUBUHNYA lusuh, jalannya gontai, sesekali ia menengadah menatap langit yang kosong. Derap langkahnya terdengar lelah menapaki hidup yang keras. Dia berjalan tanpa arah. Entah mau kemana. Sementara disekitarnya, semua orang sibuk dengan ego hidup masing-masing. Pemerintah dengan kursi empuk dibentengi tembok kantor yang kokoh, orang kaya meninggalkan mesiu kenalpot yang mengotori udara, pebisnis sibuk dengan untung rugi, sementara dia, ya,,, dia,,, sebut saja Labu, gadis berumur 16 tahun itu bak anak ayam yang sedang diraung kucing garong.
Semalam, Jumat (4/11/11), saya mengitari Pasar Inpres Naikoten I Kupang. Maksudnya ingin mencari sesuatu yang agak sulit didapat. Tapi akhirnya ketemu juga. Syukur,,! Saat hendak pulang, saya sempat menyinggahi sebuah warung kecil dipojok pasar. Di dinding warung itu tergantung sebuah jam kusut yang menunjuk pukul 19.00 WITENG.
Selesai urusan, saya pun langsung cabut dari warung itu. Tapi belum jauh sepeda motor saya kebut, mata kiri saya memergoki seorang gadis belia sedang menangis. Spontan motor saya stop. Setelah mendekat, ya Alah,,,! Kamu kenapa? Tapi tak ada jawaban. Saya pun menungguh. Selang 15 menit kemudian suara tangis itu surut. Barulah si Labu mau berbagi kisahnya. Saya dipukul om,,! Siapa yang pukul? Itu anak-anak!!! Jarinya menunjuk sekelompok anak jalanan yang belakangan diketahui berprofesi sebagai penjual koran, penjual jasa gerobak belanjaan dan penjual tas kresek.
“Dong mau maen beta, tapi be sonde mau. Beta bilang beta ini belom makan, tapi mereka sonde mau tau. Akhirnya dong pukul beta,” papar Labu, terbata-bata kental logat Kupang Timor Dawan.
Saya akhirnya mengajak Labu makan ala kadarnya di sebuah warung di ujung pasar. Sambil makan, Labu bercerita kalau ia adalah anak sebantang kara. Ayah ibunya telah meninggal dalam sebuah tabrakan maut atara bus dan angkot di wilayah So’e, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia lalu diasuh oleh tantenya. Tapi karena tak kuasa menerima perlakukan kasar tantenya, ia akhirnya kabur dari rumah dan langsung menuju Kota Kupang.
Ironisnya, kedatangannya di Kupang langsung disambut bekapan anak-anak jalanan. Waktu itu Labu tiba di Kupang pada malam hari. Dari terminal bus, gadis hitam manis ini jalan kaki, maksudnya mau mencari sepupunya yang sempat ia dengar tinggal di daerah Koenanio. “Waktu itu beta sonde ada uang. Jadi beta jalan kaki sa,,,”.
Naas,,,! Dalam perjalanan itulah ia bertemu dengan Rony, pemuda lajang yang berprofesi sebagai kondektur. Setelah basa-basi, singkat kata Rony pun menawarkan diri untuk mengantarnya. Berpikir polos, Labu pun mau. Dengan berjalan kaki, keduanya menuju Koenanio. Hampir semua lorong mereka masuki. Setiap orang yang ditemui mereka tanyakan keberadaan sepupunya itu. Tapi sayang tidak ada yang tahu. Karena sudah larut, plus capek, Rony lalu mengajak Labu untuk pulang. Rony menawarkan Labu untuk menginap ditempatnya. Tak ada pilihan! Labu akhirnya nurut.
Sesampai di kost milik Rony, Labu dipersilakan tidur di tempat tidur. Sedangkan Rony merebahkan diri di lantai. Namun tengah malam, Rony tiba-tiba merangsek naik ke tempat tidur. Labu dipeluk. Labu diraba-raba. Setengah berbisik, Rony berkata, “Jangan berteriak, atau kau saya bunuh”. Labu pun pasrah. Malam itu mahkota kembangnya pecah. Ketika usai babak perdana, sejurus gombal pun dilantunkan Rony. Sukses,,,! Labu terbuai. Labu termakan. Alhasil menjelang datangnya mentari pagi, Rony dan Labu melakukan tanding ulang. Kali ini tanpa paksaan.
Hubungan keduanya terus berlanjut. Tapi belum genap enam bulan, datang kabar mengejutkan. Rony meninggal. Ia jatuh diserempet sepeda motor yang menyalip angkotnya. Kabar ini membuat Labu sedih. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apalagi hubungan mereka sama sekali tidak diketahui oleh orang tua Rony.
Dua bulan kemudian Labu jatuh ke pelukan Ande, si penjual koran. Dari Ande, Labu berpindah lagi ke laki-laki lain. Begitu seterusnya. Itu sebabnya, ia dipandang rendah dimata laki-laki, apalagi anak-anak jalanan yang sering menggilirnya. Bagi oknum-oknum anak jalanan, Labu ibarat santapan lezat dikala raga sedang lapar. Labu dianggap artis dimalam gelap yang sanggup memenuhi kebutuhan seks. Labu ingin lari dari keadaan ini. Tapi mau kemana?  Sementara di luar sana tak ada yang mau peduli dengan kehidupannya. Itu sebabnya, ia pasrah menjadi santapan anak-anak jalanan. Entah sampai kapan duka ini berlanjut. Ia pun tak tahu.
By. CHRIS PARERA

Mat Ikhsan (76), Pria Yang Sudah Dikubur Tiba-Tiba Muncul Lagi Setelah 40 Hari


sergapntt.com – Aneh tapi nyata. Begitulah kejadiannya. Awalnya Mat Ikhsan (76) diketahui mati gantung diri di sebuah pohon di belakang rumahnya. Saat ditemukan anaknya, pria uzur itu sudah tak bernyawa lagi. Karena itu, sehari setelah kejadian naas tersebut, Mat Ikhsan lalu dikuburkan oleh keluarganya di Tempat Pemakaman Umum (TPU). Tapi bukan main kagetnya warga setempat ketika beberapa warga mendapati Mat Ikhsan masih hidup, dan berjalan tegap menuju rumahnya. Padahal,,,, setahu warga ia sudah mati dan dikuburkan 43 hari yang lalu. Bahkan di malam ke 40 kematiannya, warga dan keluarganya menggelar tahlilan di rumahnya.
Kepulangan Mat Ikhsan ditanggapi beragam. Ada yang ketakutan, ada yang terheran-heran, ada yang merasa dirinya sedang mengigau di siang bolong, ada pula yang senang minta ampun. Begitulah suasan pada hari Rabu (20/4/2011) lalu saat Mat Ikhsan pulang ke rumahnya di lingkungan Boto Lengket, Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur. 
Sukemi, sepupu Mat Ikhsan, menuturkan, kepulangan kerabatnya tersebut bermula dari kedatangan Kliwon, teman Mat Ihsan, ke rumah dan mengabarkan jika baru saja bertemu dengan Mat Ikhsan.
Sukemi yang awalnya sempat tidak percaya menjadi menurut karena Kliwon meyakinkan dengan berbagai cara. “Dia sampai mempertaruhkan sepeda motornya jika salah,” ujar Sukemi yang ditemui di rumah Mat Ikhsan.
Kliwon bertemu dengan Mat Ikhsan ketika sama-sama melintas di Jalan Yos Sudarso wilayah Pocanan, Kecamatan Kota. Saat berpapasan tersebut, Kliwon yang tahu bahwa rekan kerja semasa mudanya itu telah meninggal sempat tidak percaya ketika melihat Ikhsan.
Akhirnya, Kliwon memutuskan balik arah dan menemui temannya yang sedang jalan kaki itu. “Sama Kliwon diajak ke warung dan tidak boleh ke mana-mana, lalu di tinggal ke sini,” kata Sukemi.
Keluarga yang datang ke warung di Pocanan juga yakin bahwa itu Mat Ikhsan. Akhirnya Mat Ikhsan dibawa pulang ke rumah. Para tetangga yang mengetahui cerita itu menjadi berbondong-bondong datang untuk melihatnya.
Mukini (51), anak Mat Ihksan yang pulang lebih awal dari tempatnya bekerja karena mendapat kabar ini, langsung menangis serta memeluk dan menciumi tubuh bapaknya yang selama ini sudah dianggap meninggal. “Bapak…, bapak,,,,,” tangisnya.
Sementara Mat Ikhsan mengatakan, selama ini dirinya sengaja pergi dari rumah karena merasa tidak kuat dengan beban hidup yang ia hadapi. “Saya bingung, anak-anak saya sakit,” ujarnya dengan suara lirih.
Karena tidak percaya, warga dan keluraga pun menggali kembali kubur tempat jasad Mat Ikhsan disemayamkan. Hasilnya? Mereka hanya menemukan sebatang pohon pisang yang dibalut kain kafan. Warga pun kembali terheran-heran. Lalau siapa yang dikuburkan saat itu? Orang pintar di kampung setempat berkeyakinan itu adalah tipu muslihat jin yang menyerupai Mat Ikhsan. Sesungguhnya Mat Ikhsan masih hidup. Namun demikian tidak serta merta masyarakat sekitar percaya. Hingga hari ini sejumlah pertanyaan masih berkecamuk di kepala warga.
“Sampai hari ini belum ada jawaban mas. Bingung aku! Lah koq bisa begitu ya,,,! Aneh! Tapi ini nyata loh! Mau ga percaya, tapi nyatanya ada. Mau percaya, ah,,,,,,,,,,,,, pusinglah mas. Masak sih orang yang udah dikubur 40 hari yang lalu, kok tiba-tiba muncul lagi. Begitu kuburnya digali, koq hanya batang pisang. Padahal waktu itu kami kubur jasad, bukan batang pisang, lah saya sendiri yang masukin jasadnya ke kubur. Kog bisa ya begini akhirnya,,,” ujar Murtopo (29), tak henti-hentinya geleng-geleng kepala.
Kepada wartawan Jumat (4/11/11), Murtopo mengaku tak habis pikir. “Ini Mujisat mas,” imbuhnya setengah tak percaya.
By. MAT MOHDAR

Kisah Cinta Bung Karno dan Ratna Sari Dewi (1)


KISAH cinta Naoko Nemoto dengan Sukarno yang populer dipanggil Bung Karno adalah peristiwa besar yang layak untuk disimak.  Kala itu, para pejabat penting Indonesia acap kali melakukan kunjungan resmi ke Jepang. Begitu juga sebaliknya. Para birokrat Jepang juga rajin menyambangi Indonesia. Kedekatan kedua negara mencapai puncaknya tahun 1957. Pada tahun tersebut, kesepakatan tentang nilai pampasan perang disepakati.
Kisah kasih antara Sukarno dengan Naoko adalah titik kisar penting untuk memahami masuknya Naoko ke dalam kehidupan sang presiden. Haru-biru cinta mereka tidak seperti kasmaran anak muda yang selalu berpikir tentang dua yang dimiliki berdua. Ini adalah sebuah episode bersambung yang kompleks, yang dipenuhi olah tragedi, intrik, dan persoalan-persoalan yang menyangkut banyak orang, bahkan negara. Bisa dikatakan, jalannya sejarah Indonesia dipengaruhi olah peristiwa ini.
Semuanya bermula pada awal tahun 1959, kala Presiden Sukarno sendiri yang bertandang langsung ke Jepang untuk urusan harta pampasan perang. Ia tidak sendirian, tapi membawa rombongan yang untuk ukuran masa itu tergolong banyak bagi sebuah kunjungan kenegaraan, yakni 29 orang. Sebagian besar diantara mereka adalah para menteri anggota kabinet. Sukarno sendiri sangat senang berada di Jepang. Ada beberapa alasan untuk itu.
Pertama, Jepang adalah salah satu kota transit paling strategis di dunia. Kedua, berkaitan dengan kesukaan pribadinya, yakni ketertarikannya pada dunia malam Tokyo, yang dalam kunjungan berikutnya mempertemukannya dengan Naoko Nemoto. Sukarno sendiri mengakui kegemarannya akan kerlap-kerlip dunia hiburan malam Tokyo, khususnya klub malam yang menyediakan jasa geisha, perempuan penghibur ala Jepang. Ia bahkan menganggap wajar-wajar saja kalau ia mengunjungi geisha. Kata Sukarno, “Tiada sesuatu yang melanggar susila mengenai Rumah Geisha. Orang sekedar duduk, makan-makan, bercakap-cakap, dan mendengarkan musik. Hanya itu.”
Sukarno mengunjungi Jepang beberapa kali. Pada tanggal 6 Juni 1959, Sukarno kembali menginjakkan kakinya di Tokyo. Untuk menunjukkan penghargaannya kepada para tamu, tuan rumah menjamu rombongan Sukarno dengan pelayanan yang terbaik. Setelah menghabiskan pikiran di siang hari untuk berunding, para anggota rombongan tentu akan kelelahan. Maka, mereka membutuhkan refreshing. Lagipula, para pejabat Jepang tahu benar bahwa tidaklah sulit untuk memuaskan hati administratur dari Indonesia itu. Sudah menjadi rahasia umum kalau mereka sangat suka menghabiskan waktu di klub malam klub malam yang ada di Tokyo, khususnya daerah elite Akasaka. Untuk pelayanan terbaik, dipilihlah Akasaka’s Copacabana yang terkenal itu. Sepanjang malam anggota rombongan bakal menghabiskan waktu bersuka ria ditemani wanita-wanita cantik.
Mereka bisa mengobrol sepuasnya. Pun kalau mau berdansa, para geisha itu sudah tentu telah terlatih. Bahkan, kalau berdansa sudah tidak cukup lagi sementara hasrat juga meminta untuk segera dipenuhi, maka para tamu bisa saja menyewa gadis-gadis itu untuk one night stand. Tentu, keprofesionalan mereka harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi. Haji G. Malikmass juga menyatakan banyak pejabat Indonesia yang suka bertandang ke klub malam-klub malam yang ada di Tokyo. Salah satu di antaranya adalah Ibnu Sutowo, yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Pertamina. Ibnu dikabarkan sering mengunjungi klub Latin Quarter di Akasaka. Di klub malam ini ia menyenangi seorang pramuria bernama Ryokosan.
Di Akasaka’s Copacabana itulah Sukarno bertemu untuk pertama kalinya dengan Naoko Nemoto. Yang berjasa dalam mempertemukan mereka adalah Kubo Masao, seorang pengusaha Jepang dari Perusahaan Dagang Tonichi yang tertarik menanamkan modalnya di Indonesia. Suatu malam, ” imbuh Naoko, ” sehabis nonton film dengan Kubo, aku diajaknya mampir ke Hotel Imperial, ia hanya berkata singkat, ” Ada orang penting yang akan dikenalkan kepadamu “, aku menerut saja. Malam itu, 16 Juni 1959, untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Sukarno, presiden pertama RI. Ada rasa senang campur bangga, bisa berkenalan dan makan malam dengan orang nomor satu di Indonesia kala itu.
Untuk seterusnya biarlah kupanggil dia ” Bapak “. Sukarno jatuh hati dengan pramuria ayu itu, apalagi karena pada pertemuan pertama yang berkesan itu sang geisha dengan piawai menyanyikan lagu Indonesia yang sangat populer, Bengawan Solo. Tampaknya Sukarno jatuh hati bukan saja disebabkan oleh paras Naoko, tapi juga karena kepandaian Naoko dalam menari dan menyanyi. Dalam urusan ini, antara Sukarno dan Naoko memiliki satu kesesuaian yang membuat mereka bisa dekat dan nyambung : kecintaan yang dalam akan seni. Dari latar belakangnya, kita tahu bahwa Naoko semenjak kecil memiliki cita-cita berkecimpung dalam dunia kesenian. Sementara itu, Sukarno sendiri mewaarisi darah seni dari ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, seorang keponakan Raja Singaraja, Bali.
Selama pergaulan hidupnya dengan budaya Bali, sang ibu tentu menyerap dan menyimpan pengalaman estetik yang kemudian diturunkannya kepada putranya,Sukarno. Dalam beberapa contoh lainnya, Sukarno menunjukkan perhatian yang mengesankan pada karya seni bermutu tinggi. Hal ini bisa dilihat dari koleksi patung dan lukisan yang dimilikinya. Untuk yang terakhir, ia bahkan rela menghabiskan waktu dan uangnya supaya bisa mendapatkan lukisan-lukisan karya para maestro dunia seperti Diego Rivera, Ito Sinshui, dan William Russel Flynt.
Begitu juga Naoko, ia tertarik dengan Sukarno yang ganteng dan penuh kharisma. Pertemuan itu segera meninggalkan kesan di benak masing-masing.Naoko juga bilang, ” Begitulah, sejak pertemuan itu, Bapak banyak menulis surat kepadaku. Bahasanya romantis, dan ia tak segan-segan mengungkapkan rasa cintanya yang beribu-ribu kali kepadaku. Dan pada akhir suratnya, ia selalu menulis : ” I am constantly thinking of you. You know how I love you, 1000 kisses, Sukarno”. Bahkan, berdasarkan catatan hariannya yang belakangan diplublikasikan, Naoko menyebutkan bahwa ia sempat bertemu dua kali dengan Presiden Sukarno di Hotel Imperial Tokyo sebelum keberangkatan Sukarno ke Jakarta. Dalam sebuah keterangan yang belum bisa dikonfirmasikan tahun terjadinya, namun diperkirakan pada saat yang sama dengan peristiwa di atas, yakni Juni 1959, didapat informasi yang lebih jelas seputar kisah kasih dua anak manusia beda bangsa ini.
Beberapa menteri ikut merayakan hari ulang tahun Presiden Sukarno yang jatuh pada tanggal 6 Juni di Hotel Imperial, Tokyo. Bukannya senang, mereka malah gelisah. Mereka sedang membawa misi penting dari Tanah Air, dan sekaranglah detik-detik menentukan berhasil tidaknya misi itu. Gadis bar Naoko Nemoto dan Sang Pemimpin Besar Revolusi adalah objek misi itu. Menteri-menterinya kawatir kalau-kalau hubungannya dengan Naoko tentu bisa merugikan dan kontraproduktif. Musuh-musuh Presiden Sukarno merasa mendapat kesempatan sempurna untuk kembali menyerang moral Sang Presiden. Guna mengingatkan Presiden Sukarno atas api yang baru saja ia hidupkan dan bisa membakar dirinya-sendiri, maka diusulkan oleh Kolonel Soenarso agar Sukarno jangan ketemu lagi dengan Naoko. ” Lha, cara untuk memutuskannya bagaimana?’. Kolonel Soenarso, yang jelas senang, berpikir taktis. ” Gampang, Pak. Sekarang saja Bapak kembali ke Jakarta, tanpa memberitahu siapa pun, kecuali protokol pemerintah Jepang.”  (Bersambung)
Karya CHARLIE CHEN yang disarikan CHRIS PARERA

Kisah Cinta Bung Karno dan Ratna Sari Dewi (2)


PRESIDEN sepakat. Sorenya, ia dan rombongan segera check out dari hotel dan terbang ke Jakarta. Malamnya, di hotel yang baru saja mereka tinggalkan, berdiri kaku seorang gadis muda. Naoko Nemoto, pelayan night club yang baru saja merasakan nikmatnya panah cinta, sangat terkejut karena seluruh kamar tempat presiden dan rombongannya menginap telah sepi penghuninya. Ia merasa sangat terhina dan disia-siakan. Ini pasti membuktikan betapa besarnya kekecewaannya : diambilnya pisau, dan ia melakukan bunuh diri. Untunglah, harakiri itu tidak mengambil nyawanya. Petugas hotel menemukannya, dan segera membawa gadis malang ini untuk mendapatkan pertolongan medis.
Jakarta tampaknya menjadi kota yang terlalu terbuka untuk kabar apapun, termasuk apa yang terjadi di seberang lautan. Berita tentang percobaan bunuh diri yang dilakukan gadis bar Naoko dengan cepat menjalar ke Indonesia, dan tinggal menunggu waktu saja untuk hinggap ke telinga Presiden Sukarno yang supersensitif untuk urusan wanita. Benar saja, entah dari mana asalnya, Presiden tahu tragedi itu. Ia, yang merasa bertanggung jawab karena dicintai wanita yang sampai mencoba bunuh diri, tiba-tiba merasa sangat egois. Tanpa ada yang berani menghalangi sang presiden, ia langsung terbang ke Jepang.
Sekembalinya ke Jakarta, Sukarno rupanya tidak bisa menghilangkan wajah cantik gadis kabaret berusia 19 tahun itu dari pikirannya. Ia pun sempat mengirimkan surat-surat ” bernada mesra ” kepada Naoko melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia yang ada di Tokyo. Naoko juga sempat beberapa kali mengirimkan surat balasan. Sukarno jelas pemikat hati yang ulung. Surat-suratnya memperlihatkan bahwa ia sama berapi-apinya untuk urusan pidato politik dan surat cinta. Naoko tidak malu-malu mengakuinya. Katanya, ” Sebagai wanita biasa, perasaanku jadi berbunga-bunga setiap kali membaca surat-suratnya. Dan aku meski saat itu masih begitu belia, berusaha membalas ungkapan hati Bapak dengan bahasa seadanya, bahasa cinta pula.
Sampai pada 18 Agustus tahun itu juga, datang surat Bapak untuk ke sekian kalinya. Tapi kali ini isinya berupa undangan agar aku mau berkunjung ke negaranya, Indonesia. Tanpa pikir panjang, ajakan itu kuterima. Apalagi aku tak seorang diri pergi ke sana. Kubo, yang mengenalkan aku dengan Bapak, ternyata diundangnya pula. Pada 14 September kami berdua terbang ke Jakarta, dan baru tiba keesokan harinya. Puncak dari hubungan jarak jauh itu, sebagaimana diungkapkan di atas, adalah sebuah surat tertanggal 18 Agustus 1959. Dalam surat yang sekali lagi membuktikan kekerasan kepala Sukarno dalam mendapatkan wanita yang disukainya, Sukarno mengundang Naoko untuk berkunjung ke Indonesia selama dua minggu. Selain mengajak Naoko, Sukarno juga memberitahukan rencananya ini kepada Kubo Masao.
Tak lebih satu bulan sesudah itu, tepatnya tanggal 14 September, Naoko berangkat ke Indonesia. Untuk menghindarkan kecurigaan, ia menyamar sebagai seorang karyawati Perusahaan Dagang Tonichi cabang Jakarta. Bersama Naoko turut pula Kubo Masao. Sehari kemudian mereka sampai di Jakarta. Pada waktu inilah Naoko menyadari bahwa ia telah dimanfaatkan oleh Kubo Masao untuk memperlancar usaha bisnisnya di Indonesia.
Belakangan, tepatnya tahun 1966, Kubo Masao mengelak tuduhan tersebut, meski ia mengakui peran penting Naoko dalam kontrak-kontrak ekonomi yang dia dapatkan sesudah memperkenalkan Naoko dengan Sukarno. Sebagai contoh, antara tahun 1960 dan 1963 Kubo Masao mendapatkan empat kontrak besar di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah pembangunan Samudera Beach Hotel di Jawa Barat dan Hotel Ambarukmo di Yogyakarta. Sejumlah orang mencurigai keberhasilannya ini sebagai hasil dari usahanya mendekatkan Presiden Sukarno dengan Naoko.
Selama di Jakarta, Naoko tinggal menyendiri di asrama Tonichi di Jakarta. Barangkali hal inilah yang kemudian memudahkan Sukarno sewaktu menemuinya. Bahkan, Sukarno dengan nekad mengajak Naoko dalam setiap kunjungannya ke luar negeri. Sewaktu diperkenalkan kepada koleganya, Sukarno menyebut Naoko sebagai salah seorang sekretarisnya. Dalam kesempatan lain, ia menyebut Naoko sebagai istri dari rekannya, Kirishima. Kirishima sendiri adalah seorang pegawai di Perusahaan Dagang Tonichi cabang Jakarta.
Sekitar tahun 1962, hubungan Naoko dengan Kubo Masao memburuk. Naoko tidak senang dikendalikan sedemikian rupa oleh Kubo Masao. Naoko juga punya kepentingannya sendiri, dan dia merasa Kubo Masao tidak berhak mengatur-ngaturnya. Karena itu, Naoko memutuskan untuk melepaskan diri dari pengaruh Masao. Ia lalu mulai mendekat kepada Toyoshima, saingan bisnis Kubo Masao. Keputusannya pas dengan ketidaksukaan Presiden Sukarno atas bisnis-bisnis yang dijalankan Kubo Masao di Indonesia. Bahkan, Sukarno sampai memaksa Kubo Masao untuk menutup kantornya yang ada di Jakarta.
Lewat Toyoshima, Naoko berkenalan dengan Duta Besar Jepang di Indonesia, Oda Takio. Naoko tidak hanya dekat dengan Toyoshima, tetapi juga akrab dengan Perusahaan Dagang Kinoshita. Persahabatannya dengan orang-orang Jepang dari kalangan politik dan bisnis ini semakin memantapkan posisi Naoko di mata orang-orang Jepang yang ada di Indonesia. Dalam tahap selanjutnya, Naoko menjelma sebagai pintu utama yang harus dilewati sebelum  masuk ke lobi-lobi penting dan pihak-pihak yang berkuasa di Indonesia. Tidak hanya itu. Nama Naoko juga semakin santer di kalangan petinggi-petinggi di Negeri Matahari Terbit. Pada bulan Juni 1961, Naoko mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan calon ketua Partai Demokrat, Kawashima Shojiro. Bahkan, dalam sebuah kunjungan ke Jepang setahun berikutnya, Naoko bertemu dengan Takemi Taro, ketua Asosiasi Medis Jepang. Ia juga bersobok dengan direktur utama Perusahaan Konstruksi Kajima, Kaima Morinosuke. Dengan orang yang disebut terakhir ini Naoko mendiskusikan keinginannya untuk mendirikan sebuah rumah sakit di Jakarta.
Sementara itu, setelah menjalani percintaan backstreet sedemikian lama, Presiden Sukarno dan Naoko bosan juga. Menurut pengakuan Naoko, “ Selama tinggal di Jakarta, aku tak boleh tampil terang-terangan. Sedikit banyak, aku harus menyamar. Kubo lantas mengakui kalau aku adalah karyawatinya. Maka selama di Jakarta, aku tinggal di kantor perwakilan Tonichi. Hubungan kami bisa bebas, jika Bapak mengadakan kunjungan ke luar negeri. Selama kunjungan, aku biasanya dikenalkan sebagai staf sekretarisnya. Aku tak keberatan sama sekali. Aku tahu benar resiko yang harus ditanggung Bapak sebagai Presiden RI jika sampai ada yang tahu affair di anatara kami.” Diimbuhkan Naoko, “Tapi, hidup dalam penyamaran dan tak bebas menampilkan jati diri, sungguh membuat batin tersiksa. Apalagi diam-diam Kubo ternyata memanfaatkan diriku untuk meminta banyak fasilitas kepada Bapak. Dan akhirnya, Kubo memang mendapat sejumlah kontrak pekerjaan, di antaranya yang masih kuingat adalah pembangunan Monas, yang saat itu dianggap sebagai projek mercusuar.
Tapi aku tak mau terus dijadikan alatnya. Aku ingin melepaskan diri dengannya. Pada suatu saat Bapak rupanya tak berkenan dengan hasil pekerjaan Kubo. Sejak itu semua projek untuk Kubo dihentikan, sementara kantor perwakilannya ditutup. Dari pada membiarkan telinga menjadi panas karena mendengar isu-isu miring seputar hubungan mereka, Sukarno dan Naoko akhirnya memutuskan menikah secara resmi. “ Hubunganku dengan Bapak,” terang Naoko, “ mencapai puncaknya, ketika suatu hari lewat kurir kepresidenan ia menulis dalam secarik kertas: “Sudilah menjadi sumber kegembiraan saya, kebahagiaan saya, sumber kekuatan saya, sumber ilham saya….” (Bersambung)
Karya CHARLIE CHEN yang disarikan CHRIS PARERA

Berburu Makluk Aneh Di Pulau Flores


sergapntt.com [KUPANG] – Sejumlah peneliti lokal dan asing terus memburu keberadaan makluk-makluk aneh di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dua diantara yang dicari tentang keberadaannya adalah Ahool dan Ebu Gogo. Ahool adalah hewan bringas yang mirip kelelawar yang disebut-sebut tinggal di Pulau Kelelawar, salah satu pulau yang dihuni jutaan kelelawar berukuran besar (paling besar bisa mencapai berat 2 KG) di Taman Laut 17 Pulau Riung, Kabupaten Ngada, NTT.   
Ahool sendiri merupakan monster terbang mirip kelelawar raksasa. Beberapa sumber di Pulau Flores menyebutkan pernah melihat Ahool. Hanya saja, hewan tersebut sangat pemalu. Itu sebabnya ketika bertemu penduduk, ia langsung menghilang. Makluk ini pertama kali dilihat oleh Van Borcht, seorang misionaris asal Belanda tahun 1943.
Sedangkan Ebu Gogo adalah makhluk mirip manusia yang muncul pada mitologi penduduk Pulau Flores,  yang memiliki bentuk mirip leprechaun atau peri. “Orang kecil” yang memiliki tinggi satu meter kotor ini katanya memiliki telinga menjulur ditutupi rambut, periuk-berperut. Mereka berjalan agak kikuk dan sering “berbisik” menggunakan bahasa mereka.
Versi lain menyebutkan Ebu Gogo adalah kurcaci. Selain memiliki badan kecil berotot dan punya ilmu gaib tinggi, Ebu Gogo juga sering bikin ulah. Jika mereka sedang marah, mereka doyan melampiaskan amarah mereka kepada hewan atau manusia. Umumnya, warga Flores sering menyebutnya dengan sebutan Noa. Faktanya, 10 tahun terakhir sejumlah hewan dan beberapa nyawa manusia melayang.
“Ya,,, disini sering sekali Noa pukul manusia. Jika terlambat panggil dukun, nyawanya pasti habis,” ujar Alosius Yenris (72), warga Flores yang berpapasan dengan SERGAPNTT.com di Maumere, Kabupaten Sikka, awal pekan lalu.
Sejumlah peneliti lokal dan asing pun terlihat di Pulau Flores. Rasa penasaran terus menghantui mereka. Dari kampung ke kampung, masuk hutan keluar hutan hampir dilakukan setiap hari. Sayang sejauh ini perburuan mereka belum menemui hasil seperti yang diharapkan. Mereka hanya menemukan kerangka kedua makluk itu. Kerangka Ebu Gogo ditemukan di Kabupaten Manggarai, sedangkan kerangka Ahool ditemukan di kawasan hutan lindung di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada.
By. ETHOS