Santi (23), Diusir Orang Tua Karena Terjebak Di Dunia malam


sergapntt.com [KUPANG] -> Sebagian orang tua ternyata punya kesabaran terbatas. Jika nasehat tak pernah dituruti, sikap ekstrim pun mereka tunjukan. Misal yang dilakukan sepasang suami istri di Kupang, sebut saja pa Markus (52) dan Ny. Mina (47). Karena tak kuasa menahan malu dari cibiran para tetangga, pa Markus dan ibu Mina mengusir Santi (23), anaknya dari rumah. Pak Markus dan ibu Mina kesal lantaran Santi tak pernah mau bertobat dari kebiasaanya menggauli kehidupan dunia malam.
Sejak kecil boleh dibilang Santi sangat dimanja. Apa saja yang diinginkan pasti dituruti oleh kedua orang tuannya. Maklum sang bokap dan nyokapnya berkelimpahan harta. Selain menggeluti bisnis, kedua orang tuanya punya kedudukan penting di pemerintahan. Namun setelah diusir, kini Meli hanya bisa menyesal, menangis seraya meratapi hari-harinya tanpa kasih sayang.
Santi mulai mengenal kehidupan malam ketika masih bersekolah di SMU di salah satu sekolah swasta di Kupang. Teman-teman pergaulannya adalah anak-anak borju, dari mulai anak pengusaha hingga anak pejabat. Santi cs begitu mendewakan kebebasan dan kesenangan. Kehidupan mereka bebas nyaris tanpa batas. Enjoy di lantai disko, menikmati seks bebas adalah gambaran dari perjalanan hidup Santi selama ini.
Ketika naik kelas dua SMU, Santi makin sulit terkendali. Ayah yang sibuk dengan pekerjaannya dan ibu yang lebih memperhatikan kerja, arisan dan pertemuan tak jelasnya dengan istri-istri pejabat, membuat segalanya berjalan tanpa kontrol. Sebenarnya, sebagai remaja Santi menyadari betapa yang ia jalani itu adalah sesuatu yang tak berguna sama sekali. Namun, ia tidak bisa lepas karena tak ada figur dalam keluarganya yang bisa dijadikan teladan untuk menyadarkannya. Akhirnya, tiga tahun di SMU, tiga tahun pula ia tak pernah disirami petuah-petuah agama.
Santi kemudian kuliah di salah satu universitas swasta di Kota Kupang. Setiap langkahnya hanya selalu teriring hiruk pikuk kehidupan malam. Bahkan di usia yang mulai beranjak dewasa, Santi tak mampu berpikir positif. Akhirnya ia berhenti kuliah. Saban hari praktis tak pernah di rumah. Apalagi malam? Hm,,, jangan tanya Santi ada dimana. Santi pasti di lantai disko atau di balik kerlap-kerlip lampu pub.
Suatu hari Santi pulang pagi. Seperti biasa ketika sang ayah dan ibu sudah berangkat ke kantor. Tapi hari itu naas baginya. Tanpa sepengetahuan Santi, ternyata ayah dan ibunya urung ke kantor lantaran ingin menunggunya pulang. Begitu masuk rumah, si ibu bertanya, lu dari mana San? Begitulah Santi biasa disapa di rumah. Belagak bego dan sedikit cuek, Santi pun membalas, “Dari beta pung kawan pung rumah ma,,”.  “Kok,,, lu pulang pagi terus. Jadi anak perempuan itu mesti tau malu, apa kata orang kalau lu setiap hari begini,” sergah sang ibu menasehati.
Bukannya diam, Santi justru ngoceh,“Ah,,, mama,,,, buat apa dengar orang,,,,,”. Rupanya jawaban Santi ini membuat ayahnya yang sedari tadi duduk di meja makan gerah. Tanpa ba-bi-bu, si ayah langsung menghampiri Santi, seketika terdengar prakkkkkkkkkk, bukkkkkkkkkkk, pakkkkkkkkk. Santi digampar. Disepak. Dari mulut si ayah spontan setengah berteriak, “Keluar lu dari sini. Dasar anak tidak tau diuntung. Berangkat lu,,,. Beta sonde suka liat lu pung muka lai,,,”. Santi diam dan hanya bisa menangis. Dia kemudian memeluk kaki sang ayah sembari menangis meminta maaf. “Bapa,,, beta salah, beta minta maaf. Mulai dari sekarang beta tobat. Beta sonde akan keluar dari rumah lai,,, tanpa seijin bapa deng mama”. Tapi,,,, rupanya hati dan pikiran pak Markus sudah terbakar emosi yang terpendam. Seloroh ia tak peduli dengan pelukan dan tangisan anaknya. Tekadnya sudah bulat. “Sonde,,,,,,! Sekarang  juga lu keluar dari ini rumah. Tiap kali beta marah, lu bilang tobat, setiap kali mama tegur, lu bilang tobat. Sekarang sonde lai,,,. Berangkat lu dari sini, sekarang juga,,,,,” perintah pak markus.
Sambil meringis kesakitan akibat dipukul sang ayah, Santi pun masuk ke kamarnya, mengambil dua pasang baju lalu dimasukan ke dalam tas kresek. Ketika keluar kamar, sekali lagi Santi berusaha meminta maaf kepada sang ayah. Namun ayahnya tak bergeming. Ibunya hanya bisa menatap dengan pandangan kosong dibayangi air mata yang meleleh deras. Suasana menjadi hening. Terdengar jelas derap langkah Santi saat melangkah keluar dari rumahnya. Tak lama berselang Santi hilang di belokan jalan sekitar 50 meter dari rumahnya.
“Setelah beta diusir, ya seperti sekarang yang ka lihat. Beta tinggal di kos ini. Beta disini sudah 2 tahun,” ujar Santi kepada Sergap NTT yang menemuinya pada Selasa (20/09/11).
Santi yang sekarang beda dengan Santi dua tahun lalu. Kesehariannya tidak lagi seperti dua tahun lalu. Kini Santi telah bekerja di salah satu perusahaan swasta. Setiap minggu ia tak pernah alpa ke gereja. Di tahun ajaran barun nanti, Santi berencana untuk kuliah kembali.
Natal dan tahun baru (2011) kemarin, Santi pernah pulang ke rumahnya untuk silahturahmi. Namun ternyata rasa sayang sang ayah benar-benar sudah mati. Ia tak mau menemui Santi. Dari balik kamar hanya terdengar suara, “Pergi lu dari sini. Beta sudah anggap lu mati”. Begitulah pak Markus menyambut Santi. Dengan hati yang teriris, pilu yang menahun, Santi akhirnya kembali ke kosnya.
“Beta sempat mau bunuh diri ka,,,,. Tapi akhirnya beta sadar,,, ah,,, itu dosa. Saat itu beta rasa sonde kuat hidup lai,,,. Tapi berkat beta pung baitua yang selalu setia mendampingi dan menasehati, akhirnya beta tabah jalani hidup ini. Beta hanya bisa berharap, sekali waktu beta pung bapa, mama dan kaka adik mau memaafkan beta,” papar Santi sambil sesekali mengeringkan air matanya dengan sapu tangan putih.
Santi sadar, apa yang ia lakukan dulu telah mencoreng nama baik keluarga. Namun sebagai manusia, Santi tentu punya akal sehat. Ia telah buktikan selama dua tahun ini. Ia sudah bertobat. Ia rajin ke gereja. Kesehariannya dihabiskan dengan bekerja dan bekerja. Walaupun penghasilannya hanya bisa untuk mengisi perutnya sendiri. Namun ia tak tahu, kapan orang tuanya mau membukanan pintu maaf. Lewat media ini, Santi hanya mau bilang, “Beta minta maaf pa,,, beta pingin pulang,,, beta pingin dekat dengan bapa deng mama lai,,,. Beta rindu bapa mama, deng kakak semua, beta rindu,,,,, semuanya. Maafkan beta pa,,,,”. (by. chris parera)

BKP2 Anjurkan Warga NTT Konsumsi Pakan Ternak


sergapntt.com [KUPANG] -> Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKP2) Provinsi NTT, Niko Nuhan menganjurkan warga NTT yang terkena musibah kelaparan untuk tidak malu mengkonsusi makanan yang kebanyakan warga NTT biasa jadikan sebagai pakan ternak, misalnya putak, biji asam dan buah bakau. Sebab, pakan ternak tersebut memiliki kandungan protein yang tinggi.
Niko Nuhan mengungkapkan, berdasarkan hasil analisa BKP2 NTT, Putak yang setiap hari dijadikan warga  Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) sebagai pakan babi itu mengandung karbohidrat dengan kadar kandungan gizi 84,63 gram, protein dengan kandungan gizi 2,95 gram, energi dengan kandungan gizi 351,55 kilo kalori dan lemak 1,18 gram.
Sedangkan biji asam mengandung protein 78,89 gram, protein 8,50 gram, energi 352,02 kilo kalori dan lemak 0,77 gram. Buah bakau memiliki energi (kkal) 371,0, karbohidrat (g) 85,1, protein (g) 4,2 dan lemak (g) 1,5.
“Putak dan biji asam bisa dikonsumsi, karena mengandung kadar kandungan gizi yang cukup,” kata Niko Nuhan kepada wartawan di Kupang, Selasa (20/09/11).
Dengan adanya hasil analisa itu, lanjut dia, maka pemerintah NTT menjadikan putak dan biji asam sebagai pangan lokal. Tanaman lainnya yang juga dijadikan pangan lokal yakni bunga gamal, daun kusambi, daun kelor, buah sirsak, buah bakau, gula lontar dan jagung.
Namun anjuran dan hasil analisa BKP2 NTT tersebut menyulut sinis Anggota DPRD NTT, Somie Pandie. Menurut pentolan Partai damai Sejahtera (PDS) yang kini duduk di Komisi B DPRD NTT itu, analisa BKP2 NTT tersebut perlu pembuktian. Sebab, orang NTT tidak pernah makan makanan yang biasa dijadikan pakan ternak.  
“Kalau manusia disuruh makan putak,  terus babi makan apa? Kalau biji bakau dimakan manusia, terus kera makan apa? Itu makanan ternak. Kalau anjurkan masyarakat makan jagung atau ubi-ubian, itu masuk akal. Saya mau tanya, dimana dibelahan NTT ini yang kesehariannya orang makan putak atau biji asam. Yang benar aja kalau kasi anjuran. Itu bukan solusi untuk membuat orang tidak lapar,” tegas Somy Pandie, kritis.
Somy Pandie cukup miris usai mendengar anjuran Niko Nuhan. Setengah guyon, kepada wartawan, Pandie mengaku sangat tidak masuk akal anjuran yang diberikan BKP2 NTT. Orang kena musibah lapar, koq disuruh konsumsi pakan ternak.
“Tidak masuk akal, koq pakan ternak dijadikan pangan lokal. Kalau sudah makan pakan ternak, artinya NTT ini sangat kelaparan sekali. Kalau sudah begini, babi dan sapi mau makan apa,,,,” katanya.
Kekeringan yang melanda NTT mengakibatkan 591.160 petani atau 144.966 keluarga yang tersebar di 15 kabupaten mengalami penurunan persediaan pangan, dan terancam mengalami rawan pangan. Bahkan, sejumlah warga dilaporkan telah mengkonsumsi putak dan biji asam, karena mengalami gagal tanam dan panen.
Semangat mengkonsumsi pangan lokal juga dilecutkan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya. Saat menghadiri pesta HUT Kapela Santo Andreas Kakan ke-50, di Desa Kakan, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada Sabtu (17/9/11) yang dihadiri Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Pr, Lebu Raya  menghimbau seluruh masyarakat NTT, terutama warga Desa Kakan untuk tetap mengkonsumsi  pangan lokal.
“Jangan bergantung pada Raskin, sementara masih banyak hasil pangan yang bisa dikonsumsi. Lahan kebun bisa dimanfaatkan untuk menanam berbagai macam komoditi. Tanam, tanam dan terus tanam. Sebagai petani, kebutuhan hidupnya dari kebun,” ujar Lebu Raya.
Lebu Raya mengaku NTT saat ini dalam kondisi rawan pangan. Namun Pemprov NTT dan Pemkab se-NTT telah melakukan rapat dan menyepakati untuk bersama-sama mengatasi rawan pangan dengan mendistribusikan beras ke daerah-daerah yang rawan pangan.

“Stok beras saat ini masih banyak, tapi bukan berarti masyarakat tidak bekerja. Jangan malu makan pangan lokal,” tandas Lebu Raya. (by. chris parera)

Reformasi? Rakyat Tidak Percaya Dengan Elite Politik!


sergapntt.com [MAUMERE] -> Sejak lengsernya Soeharto, masa reformasi dijalankan jauh dari harapan. Reformasi yang kebablasan ini membuat orang rindu terhadap figur Soeharto. Era reformasi, partai politik tumbuh bak jamur di musim hujan. Kemudian hilang, lalu muncul, lalu hilang lagi. Kisruh pun sering mewarnai interen partai politik. Bahkan membuat situasi negara menjadi labil. Teror bom dimana-mana, aliran sesat bermunculan, bahkan organisasi yang doyan membuat kekacauan seperti FPI dibiarkan beraksi sesuai kehendaknya.
Sejumlah analis menyebut, reformasi tidak bedanya dengan keterpurukan yang membuat kemiskinan bertambah dan korupsi merajalela. Demokrasi berubah menjadi demokritis. Kaum kecil dibungkam dengan aturan. Sementara koruptor dilayani bak raja laki kesakitan. Mayoritas rakyat pun bertanya, apa manfaat reformasi? Partai politik yang diyakini bisa mengamankan kepentingan konstituennya justru lebih sering terlibat konflik interen. Gesek-gesekan di tubuh partai memicu rasa pesimis rakyat jelata. Kondisi inilah yang membuat rakyat tidak percaya lagi elit politik.
Bahkan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si menilai, pelaksanaan demokrasi di era reformasi menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap elite politik.
Dalam seminar bertopik Peran Pemerintah Dalam Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang diselenggarakan di Maumere, Sabtu (17/9/11), Esthon Foenay mengatakan, semenjak reformasi; demokrasi yang diusung mengarah pada demokrasi partisipatif atau langsung yang menyebabkan banyak pejabat politik yang tidak melakukan tanggungjawabnya dengan baik.
Karena itulah, politisi PDI Perjuangan yang juga Anggota DPR RI, Ganjar Pranowo menyarankan agar partai politik segera direformasi sehingga partai politik dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan menghindari praktek oligarki dalam internal partai. “Undang-undang perlu memaksa partai politik untuk mengatur mekanisme pengelolaan partai secara demokratis dan pengaturan mekanisme itu harus dituangkan dalam AD/ART partai,” kata Pranowo.
Bilamana terjadi konflik di internal partai, lanjut Pranowo, maka seharusnya penyelesaian konflik itu harus dilakukan oleh internal partai itu sendiri. “Sebisa mungkin konflik internal partai tidak dicampuri oleh pihak luar terutama pemerintah. Oleh karena itu, setiap partai politik harus memasukan mengenai mekanisme penyelesaian perselisihan internal partai politik dalam AD/ART-nya,” tegas dia seraya menyarankan agar perlu diatur secara spesifik mengenai materi pendidikan politik yang akan dilaksanakan partai politik. Agar ada standar yang baku mengenai kualitas kader partai politik serta nilai-nilai perjuangan berbangsa dan bernegara serta nilai-nilai perjuangan partai politik itu sendiri,” ucapnya.
Sementara itu, Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, I Gusti Putu Artha, SP, M.Si menilai penyelenggaraan Pemilu dan Pemilukada telah memunculkan sejumlah persoalan, ekses dan implikasi negaratif yang sungguh-sungguh menjadi keprihatinan bersama. “Pemilu baik Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden, lebih-lebih Pemilukada, telah memunculkan sebuah realitas bahwa untuk memperoleh posisi politik dalam Pemilu memerlukan biaya yang amat besar,” kata Putu.
Menurut Putu, saat ini berkembang varian wacana menyangkut penataan ulang sistem Pemilu di Indonesia. Wacana pertama, kata dia, tetap sistem Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden yang berlangsung sekarang. Penataan hanya dilakukan terhadap Pemilukada. “Ada tiga varian soal ini, pertama Pemilukada Gubernur dipilih oleh DPRD Provinsi dan Pemilukada Kabupaten / Kota tetap dilakukan secara langsung oleh DPRD kabupaten/kota. Varian kedua, baik Gubernur, Bupati dan Walikota dipilih oleh DPRD. Varian ketiga, dengan tetap melaksanakan Pemilukada langsung baik di itngkat provinsi/kabupaten/kota,” jelas dia.
Wacana kedua, kata Putu adalah Pemilu Nasional dan Pemilu Lokal. Dalam Pemilu Nasioanl jelas Putu, dilaksanakan Pemilihan Anggota DPR, DPD dan Pemilu Presiden dalam satu waktu yang sama. Selanjutnya satu atau dua tahun kemudian dilakukan Pemilu Lokal yakni memilih anggota DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota dan Gubernur/Bupati/Walikota, kata dia.
Selanjutnya wacana ketiga, papar Putu, adalah Pemilu Legislatif dan Pemilu Eksekutif. “Dalam Pemilu legislatif dilakukan pemilihan untuk memilih anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Sedangkan dalam Pemilu Eksekutif dilakukan Pemilihan Presiden, Pemilu Gubernur dan Pemilu Bupati/Walikota dalam hari yang sama,” ucap dia dan menambahkan, “Upaya mewujudkan pemerintahan yang demokratis seharusnya pemahamannya diletakan dalam perspektif pemerintahan tersebut dipilih melalui kualitas demokrasi substansial yang bermutu.” (by. chris parera/ferry guru)

NTT Masih Butuh Perawat, Bidan Dan Guru


sergapntt.com [KUPANG] -> Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si menegaskan, Provinsi NTT yang terdiri dari 1.192 pulau, dipisahkan oleh laut dengan jumlah penduduk kurang lebih 4,8 juta jiwa, rasio tenaga kesehatan (perawat dan bidan) serta guru tidak sebanding dengan kebutuhan ril. “Hal ini memberikan indikasi bahwa Provinsi NTT masih sangat membutuhkan tenaga perawat, bidan dan guru,” ujar Wagub saat meresmikan Laboratorium “Graha Husada” dan Peletakan Batu Pertama Gedung “Graha Utama” 5 lantai dari Yayasan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Citra Bina Insan Mandiri, Senin (19/9/11).
Wagub berharap, dengan peresmian gedung ini dapat memberikan motivasi dan semangat guna lebih meningkatkan prestasi secara institusi maupun dalam proses belajar mengajar. Wagub berpesan kepada civitas akademika CHMK dan CBN agar mempergunakan waktu dan peluang selama menjadi mahasiswa untuk menimba ilmu, agar kelak menjadi perawat, bidan dan guru yang handal dan profesional.
“Saya juga minta kepada para dosen agar dengan tulus memberikan pengetahuan yang anda miliki sehingga pada akhirnya akan memberikan makna dan nilai tersendiri bagi kemajuan bangsa dan daerah ini,” ujar Wagub.
Sedangkan bagi pengelola baik Yayasan Bina Insan Mandiri maupun Rektorat STIKes Citra Husada Mandiri serta Rektorat STKIP Citra Bina Mandiri agar dapat memberikan pelayanan yang baik dan optimal kepada mahasiswa, para dosen dan karyawan. “Karena merekalah merupakan pilar-pilar yang mendukung STIKes CHMK dan STKIP CBN ini secara utuh,” kata Wagub.

Di tempat yang sama Ketua Yayasan Citra Bina Insan Mandiri, Ir. Abraham Paul Liyanto melaporkan bangunan Laboratorium “Graha Husada” seluas 1.050m2 dan dibangun di atas lahan seluas 7.100m2 yang terdiri atas lantai 1 laboratorium kebidanan, lantai 2 keperawatan, lantai 3 mikrobiologi (fisika, kimia, dan biologi); dengan luas lantai masing-masing 350m2 yang dilengkapi dengan fasilitas AC, komputer, LCD dan internet. (by. ferry guru)

Keselamatan, Faktor Utama Jasa Transportasi


sergapntt.com [KUPANG] -> Menteri Perhubungan RI, Freddy Numberi mengatakan, keselamatan merupakan faktor yang paling utama dalam penyelenggaraan jasa transportasi yang berkualitas. “Karena itu, upaya sosialisasi yang dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, kesemuanya ditujukan untuk terwujudnya transportasi yang semakin tertib, selamat, aman dan nyaman,” tandas Menteri Perhubungan dalam sambutan tertulis yang dibacakan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya saat memimpin Apel Bendera memperingati Hari Perhubungan Nasional tahun 2011, Senin (19/9) di depan alun-alun Kantor Gubernur, Jalan Raya El Tari Kupang.
Menteri mengharapkan kepada semua pihak yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan transportasi, baik regulator maupun operator agar benar-benar memperhatikan dan menempatkan masalah keselamatan transportasi di atas segala-galanya. “Sebagai regulator, kita harus mampu mengawasi seluruh regulasi/aturan transportasi yang dijalankan oleh setiap operator. Memang ini tidak mudah tetapi dapat kita lakukan. Untuk itu, saya minta kepada jajaran perhubungan untuk meningkatkan pengawasan terhadap seluruh aparat pada unit-unit pelaksana teknis dalam pelaksanaan tugas pengawasan dan pengoperasian pelayanan transportasi, agar sepenuhnya mematuhi ketentuan yang berlaku,” katanya.

Menteri juga meminta kepada semua pihak untuk melihat dan menyikapi upaya peningkatan keselamatan dan keamanan transportasi secara utuh dan untuk kepentingan nasional bukan hanya untuk kepentingan kelompok-kelompok. “Melalui peringatan Hari Perhubungan Nasional saya mengharapkan rasa kebersamaan dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu di seluruh jajaran perhubungan. Mari kita tingkatkan prestasi serta pengabdian kita untuk meningkatkan kinerja sekaligus memperkokoh rasa persatuan dan persaudaraan di antara kita segenap keluarga besar perhubungan,” pintanya. (by. ferry guru)