Sabu Raijua Diserang Anthrax


sergapntt.com -> Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi NTT kini sedang digerogori wabah anthrax. Bahkan virus mematikan itu telah memakan korban sekitar 16.000 ternak yang terdiri dari sapi, kerbau, kuda, babi, dan domba, serta 8 orang warga asal Kecamatan Sabu Timur dan 3 orang asal Sabu Mesara.
Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sabu Raijua kewalahan menghadapi anthrax. Selain minimnya jumlah dokter, upaya faksinasi terhadap ternak juga sulit dilakukan lantaran kebanyakan hewan dilepas pemiliknya di padang ilalang.
“Kami hanya memiliki satu orang dokter hewan dan empat tenaga kesehatan hewan. Sementara jumlah ternak yang diduga telah terserang bakteri anthrax diperkirakan mencapai 16.000 ekor,” ujar Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sabu Raijua, Johan Alex Doko.

Menurut Doko, Dinas Peternakan Provinsi NTT telah mengirim bantuan 20.000 liter vaksin dan antibiotika untuk melakukan vaksinasi bagi ternak yang masih sehat
“Kami lakukan isolasi sedikitnya tiga kecamatan, namun karena sapi, kerbau, kuda, babi, dan domba milik warga dilepas di padang sehingga petugas sulit mengendalikan dan mengidentifikasi untuk pengobatan dan vaksinasi,” lanjutnya.
Kata Doko, awalnya anthrax  hanya ditemukan di Sabu Timur, kemudian menyebar ke Sabu Tengah dan saat ini meluas ke Kecamatan Hawu Mehara.
“Ada temuan kasus baru, lima warga Desa Wadumeddi terkena anthrax kulit. Sebelumnya ada enam warga yang dilaporkan menderita penyakit yang sama setelah mengonsumsi bangkai sapi mati,” katanya.

Untuk mencegah meluasnya anthrax, pihaknya melakukan tindakan karantina serta menutup lalulintas dan pengantarpulauan ternak dari dan ke wilayah itu.

Warga NTT Dilarang Menjual Kuda


SERGAP NTT -> Semangat mengembalikan NTT sebagai gudang ternak terus digelorakan Wakil Gubernur Provinsi NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si. Dalam kunjungannya ke Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada Minggu (28/8/11), Esthon Foenay meminta masyarakat NTT untuk terus meningkatkan populasi ternak, khususnya kuda, serta tidak memperdagangkannya keluar dari NTT.
Para pemilik kuda tidak boleh menjual kuda keluar dari NTT. Juallah kepada para pecandu kuda yang ada di NTT,” tegas Esthon Foenay.
Sehubungan dengan itu, orang ke 2 di NTT yang juga politisi Partai Gerindra tersebut menugaskan para kepala dinas serta para pejabat karantina untuk memperketat penjagaan terhadap perdagangan ternak yang sering keluar masuh lewat pelabuhan laut. Maklum larangan Wagub itu terkain terus menurunnya populasi kuda di NTT.
Di NTT, setiap tahun rutin digelar pacuan kuda. Kegiatan ini sering pula diramaikan dengan permainan judi, seperti taruahan kuda pacu, bola guling, catur, kartu dan dadu (orang NTT sering sebut dengan nama Kuru-Kuru).
NTT yang sudah sulit secara ekonomis, jangan lagi dipersulit dengan kebiasaan judi,” pinta Esthon Foenay.
Toh begitu Esthon Foenay merasa gembira. Sebab lomba pacuan kuda tahun 2012, baik di TTU maupun di Kabupaten Belu, Kupang, Rote Ndao dan Ngada semua berjalan sesuai rencana.
“Ini semua menunjukan bahwa para peminat untuk memelihara kuda dan mengikuti lomba pacuan kuda sangat besar di NTT,” imbuhnya.
Menurut Esthon, peristiwa lomba pacuan kuda merupakan satu mata rantai dari upaya dan usaha untuk lebih menghayati dan meningkatkan nilai persaudaraan dan persahabatan, serta meningkatkan prestasi olah raga berkuda bagi joki-joki maupun kuda pacu itu sendiri.

NTT kaya akan potensi. Itu sebabnya orang asing sering sebut NTT ini sebagai tempat yang sangat strategis, seksi dan nyentrik,” paparnya. (by. ferry guru)

Suami Sakit-Sakitan, Istri Selingkuh Dengan Tukang Ojek


SERGAP NTT -> Sungguh asyik peruntungan Engky, 39 tahun, sebagai tukang ojek. Memasuki bulan baru Agustus ke September 2012 dapat pula selingkuhan baru. Cuma sial seribu sial, baru sekali merapat ke kamar Tila, 25 tahun, dia langsung kepergok oleh anak si wanita itu sendiri. “Pencuri,,,,,,” teriak anak itu dan Engky pun jadi urusan polisi.
Ini kisah prahara rumahtangga dari Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Padahal jika ditilik dari profesinya, ini sama saja pembunuhan karakter tak terhingga. Bayangkan, pekerjaan sehari-hari Engky adalah ojek, mestinya kan dia konsen pada kenyamanan penumpang. Lha koq yang terjadi malah kebablasan. Saking begitu perhatiannya pada persoalan kenyamanan, bini tetangga sendiri pun “diamankan” untuk diajak bersetubuh kayak istri sendiri.
Tetapi kembali persoalannya pada mental umumnya kaum lelaki. Sebagai makhluk homo sapiens, kaum lelaki kadang-kadang kelakuannya seperti sapi juga. Mana kala ketemu sapi betina berpaha mulus, tak pernah tenang di kandang, berontak tidak karuan. Ekor dikibaskan ke sana kemari, sementara nafsu birahinya memuncak. Andaikan tali tak melingkar di lehernya, pastilah si sapi betina itu dikejarnya lalu dipaksa gontok-gontokan.
Itu pula kelakuan Engky dari Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Setiap melihat Ny. Tila melintas depan rumahnya, matanya melotot bagaikan kucing melihat jemuran ikan kering. Padahal wanita itu tinggalnya disebelah rumahnya, praktis hampir setiap hari bisa ketemu. Hm,,, tapi mata Engky seperti tak puas alias sedang terkena penyakit glukoma.
“Andaikan bukan bini orang, sudah beta makan sampai tulang-tulangnya,” gumam Engky dalam hati.
Awalnya Engky memang masih punya rem etika. Tapi karena Tila selalu menebar pesona sepanjang waktu, dia jadi lupa akan norma etika dan agama. Iman sih sebetulnya masih kuat, tapi “si imin” ini yang susah diatur. Dia selalu berontak butuh penyaluran. Maka dengan mengatasnamakan setan, Engky nekad mendekati Hana, 30 tahun, sahabat Ny. Tila. Dasar sudah kandung nafsu, status Ny. Tila justru dijadikannya tantangan. Lewat Ny. Hana itulah singkat kata Engky dan Tila mulai intens berkomunikasi. Jika kemaren biasa ngobrol hanya saat berpapasan, kini sudah mulai lewat HP alias telpon genggam. Awalnya hanya seihelo. Mat mlm,,,! Pa kabar,,! Eh lama-lama mulai curhat-curhatan.
Teori lama mengatakan bahwa wanita yang sering ‘ditinggal’ suami berlama-lama bisa terkena pendinginan global alias kesepian. Nah, teori inilah yang hendak diaplikasikan Engky dalam karya nyatanya. Sejauh mana kesetiaan Tila pada Hendra, suaminya? Sejauh mana pula peluang Engky bisa menggeser cinta wanita tetangga itu, sehingga berpindah padanya?
“Ah, Tila,,, Tila,,, kau memang wanita yang enak dikeloni dan perlu,” begitu Engky suka meratap-ratap sendiri.
Ilmu dan teori nyasar itu pun lalu diterapkan, lewat rayuan gombal. Memang tak meleset-meleset amat. Tila yang sudah lama tak bermesum ria dengan suaminya ternyata sangat butuh kehangatan dari luar. Buktinya setiap kali diajak bercerita hal-hal berbau parno, Tila sangat antusias menanggapi. Bahkan ketika tangan oknum Tukang Ojek itu ramah alias rajin menjamah, dia tak menunjukkan aksi perlawanan. Paling hanya mengingatkan: ssst,,,,,, nanti istri kamu marah!
Kalau lampu sudah nyala hijau, bagaimana tidak harus masuk gigi satu dan injak gas? Itu pula yang dilakukan Engky. Sewaktu situasi di rumah Tila demikian mantap terkendali, Engky pun mulai menyelinap masuk ke kamar Tila. Jika dua makhluk berlainan jenis sudah dibelit rindu dan kangen, apa lagi acaranya dalam kamar? Begitulah yang terjadi, Tila –Engky berbagi cinta dengan penuh nafsu. Ironisnya pada saat yang sama Hendra, suami Tila sedang bergumul dengan penyakit struknya. Eh,,,,, Tila justru “bergumul-gumulan” dengan lelaki lain. Dasar,,,,,!
Tapi apa kata orang bijak jadi benar adanya. Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu akan jatuh juga. Sepandai-pandainya kita menyimpan borok, sekali waktu akan terbongkar juga. Begitu juga dengan nasib Engky dan Tila. Gebyar Selingkuh mereka itu ternyata terdengar oleh anak Tila sendiri, yakni Andy, 18 tahun. Andy curiga ketika mendengar desah-desah nikmat dari kamar mamanya. Padahal ia tahu bapaknya sedang sakit dan tak bisa berjalan karena terbelit penyakit struk. Apalagi sudah lima tahun terakhir ini bapaknya nyepi di kamar adiknya yang letaknya persis di sebelah kamarnya.
Saat diintip, ya ampun,,,! Dengan mata kepala sendiri dia melihat ibunya tengah meradang ditindih Engky, si pengojek, tetangganya. Langsung saja Andy berteriak: pencuriiiiiiii…! Warga yang mendengar segera berdatangan dan menggerebek pasangan mesum itu. Tapi uniknya, meski ketangkap basah, Engky tak juga gentar.
“Jangankan Polsek, Polda pun saya hadapi,” tantangnya sambil berkacak pinggang.
Eheh,,, belagu amat,,,! Sontak saja Andy kesal. Sejurus pukulan pun melayang. Begitu kena,,,, bruk,,, Engky langsung terkapar bersimbah darah. Begitu bangun,,,, dua orang polisi yang kebetulan tinggal di kompleks itu sudah ada di depan mata. Engky pun digiring ke kantor polisi. Plus Hingga kini Engky masih di tahan.
“Sial,,,,,sial,,,,,”, mungkin itu umpatan Engky di dalam sel. Sementara Tila jarang terlihat keluar rumah. Malu kali ya,,,,? Coba kalau tidak ketahuan? Hm,,, pasti kayak sapi kelenjingan. Tak peduli di padang atau di dalam kandang. Pokoknya sikat. Ckckckckckc,,,,! (by. chris parera)

Timnas Dihantui Cuaca Dingin


SERGAP NTT (Taheran) – Timnas Indonesia masih terus beradaptasi dengan cuaca dingin di Taheran jelang lawatannya di kualifikasi piala dunia 2014 Grup E melawan Iran pada Jumat (2/9/11) besok di Azadi Stadium, Iran.
Media officer timnas Desy Christina melaporkan, selama berada di Teheran, timnas benar-benar harus menaklukkan dinginnya cuaca Ibukota Iran. Saat ini, suhu pada malam hari mencapai 10 hingga 16 derajat celcius. 
“Ini jadi tantangan para pemain saat pertandingan. Tapi mereka selama ini latihannyakan sore, jadi belum terlalu dingin, sekitar 20-an derajat,” ujarnya.
Timnas sudah berada di Iran sejak Senin sore (29/8/11). Namun, mereka tidak langsung berlatih pada hari itu. Bambang Pamungkas dkk baru berlatih keesokan harinya (30/811). Sebab, mereka diberikan waktu untuk merayakan Idul Fitri.
Untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang memang berbeda dengan Indonesia itu, rencananya saat pertandingan timnas bakal memakai sarung tangan. Desy menjelaskan bahwa perlengkapan tersebut, saat ini sedang disediakan oleh manajemen agar bisa meminimalisir dampak cuaca yang terus menghantui para pemain Timnas Indonesia.
Kondisi cuaca saat ini masih belum se-ekstrem saat pertandingan di Azadi Stadium, Jumat nanti. Suhu pada saat kick off nanti diperkirakan bakal berada dibawah 10 derajat celcius. Sayang, dia tidak menjelaskan apa yang melatarbelakangi perbedaaan cuaca antara latihan dan pertandingan.
Selain berusaha menyesuaikan dengan kondisi cuaca, timnas juga mengantisipasi masalah makanan dengan melibatkan Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) Iran di kota Teheran.
“Untuk makanan kami dihandle langsung oleh Kedubes di Iran. Agar pemain tidak ada masalah karena menu pasti disesuaikan dengan selera pemain,” paparnya.
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olah Raga, Andi Mallarangeng menargetkan Firman Utina Cs bisa membawa satu angka dari Teheran. Ini sekaligus kado buat masyarakat Indonesia yang haus akan kemenangan tim merah putih di kancah internasional.
“Untuk pertandingan tanggal 2 September nanti, kita yakin dapat satu angka di Teheran,” kata Andi kepada wartawan di Widya Channdra, Jakarta Selatan, Rabu (31/8/2011).
Setelah pulang dari negeri Ahmadinejad nanti, timnas akan menjamu Bahrain di Senayan pada 6 September 2011. Lagi-lagi, Andi yakin bahwa skuad merah putih akan mengantongi angka penuh untuk bisa masuk ke kualifikasi selanjutnya.
“Untuk tanggal 6 September melawan Bahrain, saya yakin kita bisa menang,” imbuhnya. (by. edo wijaya)

Jesica Andre: Omku, Motivasiku


SERGAP NTT -> Aku sedang duduk tenang menyelesaikan tugas yang harus dikumpulkan besok, tiba-tiba saja si Oom memulai percakapan yang gak diduga-duga. Oom meminta pas foto aku, lalu dia bilang sudah punya pas foto adik-adik aku dan mama aku. Katanya buat disimpan di dompet, untuk kenang-kenangan. ”Ini mamanya waktu muda, ini anak-anaknya.”
Entah mengapa, rasanya aku jadi ingin memeluk beliau tapi semuanya gak aku lakukan karena Oom termasuk orang yang kaku, jadi aku merasa segan. Akhirnya aku hanya menyerahkan pas fotoku yang terbaik sambil tertawa. Oom menunjukkan foto-fotonya di masa lalu. Aku mengamati sesuatu, dia hanya menginginkan foto hitam-putih. Entah kenapa aku jadi ingin menangis. Aku buru-buru lari ke kamar, pura-pura membereskan kamar tapi sebenarnya aku menangis sejadi-jadinya.
Usia Oom hampir sama dengan umur Indonesia. Dari Oom, aku belajar banyak hal. Politik adalah topik yang paling disukai Oom, tetapi dia juga asyik diajak bicara tentang lingkungan hidup, seni, budaya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kuliner. Oomku jago memasak, aku paling suka kacang kecap dan kulit singkong tumis oncom buatannya. Tidak ada yang bisa mengalahkan, bahkan restoran seperti Nasi Bancakan sekalipun.
Meskipun orangnya kaku, galak, dan kadang-kadang suka kasar tetapi kasih sayang yang dimilikinya luar biasa besar. Oom sudah seperti ayah buatku, bukan ayah kedua, bukan ayah pertama, aku tidak ingin meranking dan membanding-bandingkan dengan ayah kandungku sendiri. Dua-duanya orang yang hebat buatku dan rasa sayangku kepada mereka sama besarnya meskipun kadang-kadang sulit aku menunjukkan rasa sayangku kepada beliau. Rasa segan yang menjadi penghalangnya.
Oom telah menjadi bagian dari keluarga kami sejak aku baru lahir. Beliau memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan memilih menemani mamaku yang kala itu sedang hamil aku dan sering ditinggal papa yang hampir setiap hari mengurusi pekerjaannya di luar daerah. Pengorbanannya sangat besar, karir yang sedang menanjak di tempatnya bekerja, dia tinggalkan. Pertimbangannya karena kasihan sama mamaku (bungsu, satu-satunya anak perempuan dari 7 bersaudara, nenek dan kakek meninggal ketika mama masih usia sekolah). Beliau tidak percaya kalau pekerjaan rumah diurus pembantu. Jadi si Oom-lah yang akhirnya turun tangan sendiri membantu mama mengurus rumah tangga.
Oom selalu ada buat aku. Pengalaman yang tak mungkin terlupakan adalah ketika aku kelas 2 SD. Usaha papaku bangkrut karena ditipu orang, aku masuk rumah sakit karena tipes, adikku masih kecil, kemudian rumah, mobil, harta kami semua disita bank. Ketika saudara-saudara yang lain seolah-olah menuduh, menyalahkan atau bahkan tidak peduli sama sekali, Oom tetap ada bersama keluarga kami. Menghadapi semua masalah yang seharusnya bukan menjadi tanggungannya. Masih segar di ingatan, bagaimana setiap hari dia menemaniku di rumah sakit, menangis untuk aku, berdoa untuk aku. Oom jugalah yang mengajariku untuk tegar menghadapi kehidupan.
Oom ada ketika mamaku melahirkan aku maupun kedua adikku. Semua dari kami telah merasakan kasih sayangnya, didikannya, dan belajar banyak nilai-nilai dari beliau. Darinya, aku belajar untuk mencintai NTT, meskipun kami bukan orang asli NTT. Darinya, aku belajar untuk selalu berusaha menimba pengetahuan sebanyak-banyaknya. Darinya, aku belajar untuk membiasakan diri membaca koran. Sesuatu yang dulunya menurutku membosankan. Darinya, aku belajar untuk berpikir kritis. Darinya, aku belajar bahwa kita harus menempatkan Tuhan sebagai yang nomor satu di dalam hidup kita. Darinya aku belajar bahwa perempuan harus menghargai diri sendiri dengan salah satu cara yaitu berpakaian sopan. Darinya aku belajar bahwa menyayangi berarti bersedia berkorban.
Meskipun, kadangkala kata-katanya kasar dan agak menyakitkan hati tetapi aku tahu semuanya itu hanyalah ekspresi dari rasa sayang. Perwujudan dari rasa peduli dan khawatir kepada kami, keponakan-keponakannya.
Aku benar-benar tidak sanggup menuliskan semua kebaikannya satu per satu, terlalu banyak. Setiap hari selalu ada saja pengorbanannya buat keluarga kami. Sekarang usia Oom sudah lanjut. Wajahnya sudah jauh berbeda bila dibandingkan dengan wajahnya ketika aku masih SD, ketika Oom-lah yang setia menjemput aku dari sekolah yang jaraknya cukup jauh dari rumah, ketika Oom yang memperkenalkanku kepada enak dan lezatnya masakan Padang, ketika Oom mengajari aku untuk tidak sungkan-sungkan berinteraksi dan berbincang-bincang dengan sopir angkot. Sekarang Oom sudah tidak lagi mengantar-jemput aku. Oom lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, membaca Alkitab dan masih membantu pekerjaan rumah tangga.
Aku memperhatikan, kaki beliau yang dulu sangat kuat berjalan (dulu, aku sering diajaknya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan setapak di Kupang, sambil diceritakannya sejarah tentang Kupang di masa lalu) sekarang sering bengkak dan tidak kuat berjalan. Wajahnya yang selalu segar, kini seringkali kudapati bengkak. Badannya juga sudah tidak kuat mengajariku push up. Sorot matanya juga telah berubah, aku seringkali melihat beliau tampak kelelahan. Beliau juga jadi sering mengeluh tentang kondisi badannya, tetapi selalu menolak diajak ke dokter. Beliau tidak suka dokter.

Entah mengapa aku tiba-tiba mengingat masa lalu seperti ini. Dan samar-samar, aku ingat, suatu hari beliau pernah berkata, ”Ingin melihat aku lulus sarjana, pakai toga lalu difoto bersama.” Kata-kata beliau itulah yang mulai kini akan menjadi penyemangatku. Meskipun aku merasa salah jurusan dan lain sebagainya, tetapi aku bertekad untuk menyelesaikan kuliahku dengan segera. Mulai sekarang tidak ada lagi kata-kata menyerah ataupun pindah jurusan. Cita-cita aku satu, aku ingin keinginan sederhana Oom tercapai. (by. jevi)