Kisah Pilu Kanis Be’i; Dipukuli Istri, Ditelanjangi Anak


SERGAP NTT -> Hati siapa yang tak panas ketika mendengar istri selingkuh? Begitupun dengan Kanis Be’i (32). Pria yang sehari-hari bertani ini tak kuasa menahan amarah kala kupingnya mendapat kabar kalau Martina Anu, istri tercintanya punya hubungan gelap dengan lelaki idaman lain. Ia pun berusaha menanyakan secara baik-baik kepada istrinya. Tapi sayang, keingintahuannya itu justru dibalas dengan pukulan dan makian. Koq bisa?
Jumat (25/3/11) lalu, Kampung Bejo di Desa Ubedolumolo, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada mendadak heboh. Itu karena Kanis Be’i tiba-tiba dikeroyok dan ditelanjangi oleh istri dan anaknya sendiri,  bernama Ansel Toy.
Saat ditemui B7 di RSUD Bajawa, Kanis menuturkan, pagi itu, istrinya terlebih dahulu marah-marah karena kesal mendapati dirinya telat bangun pagi, lantaran semalaman nonton televisi di rumah tetangga. Ia pun berusaha minta maaf. Tapi istrinya tak gubris. Bahkan langsung memukuli dirinya.
Tapi, bangun telat itu hanya alasan. Sebab menurut Kanis, masalah utama adalah masalah selingkuh istrinya. Sejak isue ini merebak, keluarga Kanis terus dilanda cekcok. Apalagi para tetangga, keluarga dan kenalan terus memberi informasi kalau mereka sering memergoki Martina Anu punya hubungan gelap dengan pria lain.  Tak kuasa menahan amarah, sempat beberapa kali Kanis mendamprat istrinya. Tak jarang tangan pun ikut bicara. Tapi kelakuan istrinya tak pernah berubah.
“Selama ini hanya dia yang pegang HP. Apabila ada panggilan atau sms, maka dia akan sembunyi-sembunyi menerima panggilan atau membaca SMS. Setelah itu pasti dia akan pergi berjam-jam. Kalau saya tanya, dia selalu memberi alasan yang tidak jelas. Sudah begitu dia pakai marah-marah untuk menutupi kesalahannya,” papar Kanis.
Entah karena tak cinta lagi atau hanya ingin membalas perlakuan kasar Kanis, Martina Anu pun mengajak anaknya untuk menghajar kanis.
“Harga diri saya benar-benar sudah hilang pak. Selain dipukuli istri, koq tega anak saya sendiri menelanjangi saya di depan umum. Celana saya ditarik kebawah sampai ke kaki. Semua orang lihat itu. Dasar anak durhaka. Bahkan telinga saya ini robek dipotong pakai parang oleh anak saya sendiri. Pengeroyokan ini bukan baru pertama, tapi ini yang ketiga kalinya. Pertama, itu hanya gara-gara saya tanya apakah kamu punya hubungan dengan laki-laki lain. Eh,,, bukannya jawab, istri dan anak saya justru langsung keroyok saya. Masalah ini sempat urus sampai di Kantor Desa. Yang kedua juga sama. Tapi saya mengalah saja. Nah,,, yang ketiga ini,  beginilah kondisi saya. Saya terpaksa harus nginap di rumah sakit,” ujar Kanis, lirih.
Tingkah laku miris Martina dibenarkan juga oleh sejumlah warga Bejo yang ditemui B7. Menurut mereka, sudah menjadi rahasia umum kalau Martina doyan selingkuh.
“Dia itu tukang selingkuh pak. Kasihan dia punya suami. Sudah begitu, dia punya anak selalu bela mamanya yang nyata-nyata sala. Kami mau omong, tapi tidak enak karena itu orang punya urusan rumah tangga. Kami hanya bisa lihat saja. Sudah berulang kali dia kedapatan berselingkuh. Tapi selalu saja dimaafkan suaminya. Suaminya itu orang Soa pak. Di kampung ini tidak ada keluarganya. Sehingga dia tidak ada yang bela. Selalu saja dia yang salah, dan sengsara kalau ada masalah dalam rumahnya. Ini sudah ulang-ulang. Kalau dia punya istri selingkuh, dia tidak boleh tanya. Kalau tanya pasti ribut dan ujung-ujungnya dia pasti kena keroyok. Kasihan benar Kanis itu,” papar warga Bejo.
Kini kasus tersebut sedang ditangani aparat Polres Ngada. Martina Anu dan Ansel Toy sudah ditahan dan terus menjalani pemeriksaan. (by. jawa)

Anggota Pol PP Babak Belur Dikeroyok “Gank WAJU”


SERGAP NTT -> Badan tegap dibalut selimut negara ternyata tak membuat anak SMA ciut terhadap Polisi Pamong Praja (Pol PP). Buktinya, Kamis (24/3/11) lalu, Andris Parera (38), Anggota Pol PP Pemkab Ngada babak belur dikeroyok sekelompok anak SMA yang tergabung dalam kelompok Gank “Waju”.
Kehadiran Gank Waju di Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada akhir-akhir ini sangat meresahkan warga. Selain doyan berantam, kelompok ini juga suka melakukan balapan liar di ruas jalan utama Kota Bajawa. Ujungnya, Kamis (24/3/11) malam lalu, Gank Waju yang terdiri dari anak-anak Sekolah Menengah Atas (SMA) itu mengeroyok Andris Parera hingga babak belur.
Kejadian ini bermula ketika sekitar pukul 22.00 Wita, Andris yang sedang bertugas di Rumah Jabatan (Rujab) Bupati, oleh teman–temannya, ia diminta untuk memantau Kantor Bupati Ngada yang jaraknya kurang lebih 2 KM dari Rujab Bupati. Dalam perjalanan, persis di ruas jalan Soekarno Hatta, Andris bertemu sekelompok Gank Waju (Waju dalam bahasa Bajawa artinya tumbuk) yang akan melakukan balapan motor liar.
Takut terjadi apa-apa, Adris pun mendatangi para anak muda yang berjumlah 7-8 orang itu. Ia pun meminta agar balapan dihentikan. Namun bukan tanggapan positif yang diterima, justru bogem mentah bertubi-tubi menghujam wajah dan tubuhnya. Andris tak bisa berbuat banyak. Saat itu ia masih duduk diatas motornya. Aksi brutal itu sempat terhenti sesaat. Peluang ini dimanfaatkan Andris untuk memarkirkan sepeda motornya. Tapi setelah itu, lagi-lagi Andris dihajar. Melihat Andris telah sempoyongan, kelompok Gank Waju itu pun serempak lari menjauh. 
Tak puas diperlakukan seperti sansak, Andris pun mengejar Gank Waju. Maksudnya ingin menanyakan kenapa dirinya dipukuli. Tapi apes. Tidak jauh dati TKP pertama, Andris kembali diganyang bak para Jenderal dihabisi PKI di Lubang Buaya.  Disini, ayah dua anak itu dilumpukan Gank Waju dengan menggunakan kayu, balok dan roti kalong (gir sepeda motor yang dibentuk menyerupai sabit terbalik yang dapat digenggam dan dipakai sebagai senjata). Akibatnya, Andris terkapar tak berdaya. Darah segar membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya tak terlihat normal lagi. Setelah puas, gerombolan Gank Waju pun kabur. 
Beruntung! Ketika Andris bersimbah darah tak berdaya, seorang ibu yang sedang melintas melihatnya. Si ibu itu pun berteriak minta tolong. Sontak warga sekitar terbangun dan keluar rumah menolong Andris. Pol PP asal Sikka itu akhirnya dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bajawa. Akibat ulah Gank Waju, Andris mengalami luka robek pada dahi kanan, mata kiri lebam, dan kaki serta tangannya lebam hitam terkena hantaman benda tumpul.
Beberapa hari kemudian saat ditemui B7, kondisi Andris tampak mulai berangsur pulih. Ia sudah berkumpul lagi dengan istri dan anaknya. Namun luka lebam masih nampak. Di dahinya tertancap balutan luka. Menurut Andris dahinya dijahit sebanyak 5 kali.
Kasus tersebut kini ditangani Polres Ngada. Sebanyak 5 anggota Gank Waju telah ditangkap dan ditahan polisi.
Sudah Berulang-Ulang
Kekerasan terhadap Andris bukan yang pertama kali dilakukan kelompok Gank Waju. Aksi yang sama sudah berulang-ulang  kali. Korbannya, ada yang patah hidung, bahkan gigi rontok. Kelompok Gank Waju sering nongkrong di ruas jalan Soekarno – Hatta Bajawa dan di beberapa tempat tongkrongan strategis di dalam Kota Bajawa.
Suatu waktu seorang pemuda, sebut saja namanya Hendrik, melintas di depan kerumunan Gank Waju di bilangan jalan Soekarno – Hatta. Tiba-tiba Hendrik dihadang dan dipalak. Karena tak menuruti perintah, Hendrik pun dihajar.
Keresahan warga Bajawa semakin lengkap seiring ulah Gank Waju yang gemar melakukan balapan motor liar. Selain rentan terhadap kecelakaan, balapan ini juga sangat mengganggu rutinitas para pekerja malam. Sebut saja Noken Wea. Pegawai Telkom ini   merasa risih dengan aksi balapan Gank Waju.    
“Sudah berulang kali polisi razia. Tapi anak-anak itu belum kapok juga. Kami juga sudah berusaha untuk menyadarkan mereka, tapi semua sia-sia. Untuk itu polisi mesti bersikap tegas. Tangkap dan bina. Bila belum kapok juga, penjarakan saja. Karena ini sangat mengganggu kenyamanan orang banyak,” pinta Wea.
Sejumlah orang tua yang anaknya menjadi anggota Gank Waju dan telah ditetapkan polisi sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan Andris, mengaku pasrah. Mereka tak tahu lagi harus  berbuat apa. Sebab, nasehat mereka sebagai orang tua sudah tak didengar lagi.
Sebut saja Romeo. Ayah salah satu anggota Gank Waju itu mengaku sudah kehabisan akal mengatasi tingkah laku anaknya. Terlalu banyak perkara yang dibuat anaknya. Satu belum selesai, muncul satu lagi. Hampir setiap hari kehidupan keluarga Romeo selalu dirundung masalah anaknya. Semua cara telah ditempuh. Termasuk sedikit keras mendidik. Tapi yang didapat justru si anak makin liar. Bahkan si anak berani balik menyerang sang ayah dengan sebilah parang terhunus. Astaga! (by. sherif goa)

Riung Dirias, Para Pelancong “Dijerat”


SERGAP NTT -> Kecamatan Riung mulai mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada. Miliaran rupiah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Ngada serta dana pusat yang menjadi jatah Kabupaten Ngada dialirkan ke Riung untuk membangun sarana jalan dan jembatan.
Semangat menjadikan Riung sebagai barometer pariwisata Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai ditunjukan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ngada, Marianus Sae dan Drs. Paulus Soliwoa. Pelan tapi pasti Riung mulai dirias. Jalan-jalan lingkungan yang ada dalam kota Riung di hotmix, sejumlah jembatan diperbaiki, gerakan kebersihan lingkungan dihidupkan, hewan piaraan ditertibkan, pasokan air bersih disiagakan 1×24 jam.
Pihak swasta pun tak mau ketinggalan berinvestasi. Sejumlah hotel, restorant dan cafe dibangun.  Ini semata-mata agar bisa menjerat para pelancong dari dalam negeri maupun luar negeri yang berbuah tambahan pendapatan bagi masyarakat Riung dan Ngada umumnya.
Pantauan Berita 7 pada Minggu (13/2/11) menyebutkan, jalan-jalan lingkungan dalam kota Riung telah selesai di hotmix. Yang tersisa hanya tinggal ruas jalan lingkar luar kota Riung.
Menurut Erik Kila (Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU Kabupaten Ngada), peningkatan jalan dalam kota Riung menggunakan Dana  Penguatan Desentralisasi Fiskal dan Percepatan Pembangunan Daerah (DPDF-PPD) Tahun Anggaran (TA). 2010 sebesar Rp. 4.500.246.000.  Proyek ini dikerjakan oleh PT. Pesona Permai Indah.
Selesainya pengerjaan jalan lingkungan di Riung diakui juga oleh Direktur Utama (Dirut) PT. Pesona Indah Permai, Iwan Cendawan alias Ho’i.
“Jalan lingkungan sudah selesai semua. Sekarang tinggal jalan lingkar luarnya saja,” ucapnya.
Selain DPDF – PPD, pengerjaan jalan di Riung juga mengggunakan Dana Penguatan Infrastruktur dan Pembangunan Daerah (DPIPD) TA 2010, yakni jalan Pore – Boaende Rp. 1.708.706.000 dikerjakan oleh PT. Pesona Permai Indah, jalan Soronggalung – Ranging – Alorongga – Alokolong Rp. 3.022.196.000 dikerjakan PT. Selera, Jembatan Tombok Rabeng I Rp. 1.158.466.000 dikerjakan PT. Sumber Griya Permai, Jembatan Tombok Rabeng II Rp. 1.546.982.000 dikerjakan PT. Bumi Cakra Persada dan jembatan Alolonggo Rp. 2.339.557.000 dikerjakan PT. Pesona Permai Indah KSO PT. Pesona Karya Bersama.
Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PU Kabupaten Ngada, Carles Wago, ST mengatakan, untuk lima tahun kedepan, Riung akan tetap menjadi sasaran prioritas pembangunan. Sebab Riung mempunyai potensi pariwisata yang layak untuk “dijual” guna mendatangkan untung bagi masyarakat Ngada.
Selain memiliki taman laut seluas 11 ribu hektar dengan kedalaman 4 meter, Riung juga memiliki Mbou (hewan sejenis komodo, hanya ukuranya lebih kecil), budaya dan tarian adat yang mampu menggugah para pelacong alias wisatawan asing maupun lokal.
“Karena itulah kita akan fokus bangun Riung. Bukan berarti kita lupa daerah yang lain. Selain di Riung, kita juga akan melakukan  peningkatan jalan Soa – Boawae sepanjang 1,5 KM dan So’a – Rowa 1,5 KM. Dua ruas jalan ini akan tuntas pada tahun 2012 nanti,” paparnya.
Toh begitu, Camat Riung, Alfian S.Sos mengaku, pembangunan yang terjadi di Riung masih menyisahkan masalah. Antara lain masyarakat pesisir terutama yang tinggal di sekitar dermaga pariwisata Riung belum semua memiliki WC, kesadaran masyarakat tentang kebersihan masih rendah dan masih banyak ternak piaraan yang berkeliaran bebas karena sengaja dilepas oleh yang empunya.  
“Karena itu, sekarang ini kami sedang gencar kordinasi dengan semua desa dan kelurahan agar bersama-sama menyelesaikan masalah ini dalam waktu dekat. Karena ini akan sangat mengganggu posisi Riung sebagai kota wisata,” ujarnya.
Selain itu, Alfian juga tengah berkoordinasi dengan PT. PLN untuk segera menyalakan lampu jalan dan lampu dermaga pariwisata. Sebab menurut pengakuan warga, sudah dua tahun ini lampu-lampu tersebut tidak menyala.
“Kalau lampu sudah menyala, saya berencana akan buka pasar wisata di sepanjang jalan masuk dermaga. Untuk awalnya pasar akan digelar pada setiap malam minggu. Biar lokasi pasar ini bisa dijadikan juga sebagai tempat tongkrongan muda-mudi,” imbuhnya.
Tapi secara keseluruhan, lanjut Alfian, Riung telah siap menjadi daerah tujuan wisata yang menjanjiikan kenikmatan berwisata. Selain taman laut yang penuh dengan biota laut, pengunjung juga bisa menikmati dan menyinggahi pulau-pulau yang terdapat di dalam kawasan taman laut seperti pulau kelelawar, pasir putih dan lain sebagainya. Jika ingin menginap maka di Riung tersedia penginapan dan rumah makan yang memadai.
Di Riung terdapat delapan buah tempat penginapan, yakni Hotel Nur Ikhlas, Hotel Tamrin, Hotel Riung Pesona, Hotel Madona, Hotel Nirwana, Hotel Bintang Wisata, Hotel Florida, Hotel Liberty dan satu buah Liquieen Cafe/ Resto serta tiga rumah makan, yakni, rumah makan “Murah Meriah”, rumah makan “Ujung Pandang”, dan rumah makan “Slamet Riyadi”.  
Jika ingin mengelilingi taman laut, di Riung telah tersedia kapal laut sewaan. Salah satunya disediakan oleh Feri Lasar. Kapal dengan nama “KM Grasela”  yang dinahkodai Ramdan Lima (42) itu punya bobot 10 ton.
“Khusus mengelilingi taman laut Riung terhitung sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 16.00 sore kami kasi harga Rp. 300 ribu. Di dalam kapal tersedia juga Mini Bar. Selain disini (Riung-Red), kapal bisa juga dicarter ke Labuan Bajo atau Maumere. Kapal ini sudah sering dipakai oleh wisatawan asing maupun lokal,” paparnya. (by. chris parera)

Siswi Kelas 4 SD Diperkosa Kakak, Dicabuli Paman


SERGAP NTT -> Hati Bartholomeus Nggai (60) dan Antonia (45) bagai diiris sembilu ketika tahu anak perempuan mereka sebut saja Melati (12) menjadi korban pemerkosaan dan pencabulan. Sepasang suami istri ini tak habis pikir kenapa petaka ini menimpa mereka. Apalagi pelaku kekerasan seks terhadap anak dibawah umur itu ternyata masih saudara dan ponakan mereka sendiri. Rasanya mereka ingin membunuh si pelaku. Tapi keduanya sadar republik ini berlandaskan hukum. Kasus ini pun diadukan ke polisi. Kontan saja pelaku pun diciduk dan langsung ditahan aparat Polsek So’a.
Rabu (9/2/11) pagi, perkampungan Rogamewu di Desa Waepana, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada tiba-tiba diselimuti awan tebal. Suasana hening terasa sampai ke sudut-sudut perkampungan. Sesekali terdengar burung berkicau miris seakan ikut bersedih mendengar Melati dizolimi paman dan kakak sepupunya bernama Agus Wake (40) dan Semlaus No (19).
Tragedi asusila ini berawal ketika Melati dan temen-teman sebayanya yang ditemani pelaku ingin menjaring ikan di sungai yang jaraknya sekitar 2 KM dari perkampungan Rogamewu. Setibanya di pinggir sungai, No mengajak Melati cs mengupas kulit kayu untuk meracuni ikan. Tanpa berpikir yang aneh-aneh, Melati cs pun menuruti. Setelah kulit kayu yang dikupas dari pohonnya terkumpul banyak, No meminta teman-teman Melati untuk membawa terlebih dahulu ke sungai. Sedangkan Melati diminta untuk tetap tinggal dengan alasan masih mengumpulkan kulit kayu yang tersisa. Ternyata ini hanya dalih. Melihat teman-teman Melati sudah jauh, No pun beraksi. Dibawah ancaman sebilah parang, pakaian Melati pun dicopot. Singkat kata siswi kelas 4 SD itu lalu diperkosa tanpa ampun.
Teman-teman Melati tak punya firasat buruk. Sudah hampir sejam Melati dan No tak nongol-nongol. Karena itulah, salah satu dari mereka mengajak teman yang lain untuk kembali menemui Melati dan No. Pikir mereka jangan-jangan Melati dan No butuh bantuan untuk mengangkut kulit kayu yang tersisa.
Tapi bukan main kagetnya mereka ketika melihat Melati sedang ditindih oleh No. Karena takut dan bingung, spontan teman-teman Melati langsung berbalik arah. Mereka buat seolah-olah tidak melihat. Tapi No sadar kalau perbuatannya telah diketahui teman-teman Melati. Akhirnya No memanggil semua teman-teman Melati dan mengancam untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun termasuk orang tua masing-masing. Karena takut, kejadian ini pun didiamkan begitu saja.
Tapi dasar sudah pernah rasa enaknya, perbuatan yang sama diulangi lagi oleh No. Itu terjadi sebulan setelah kejadian pertama. Kala itu sepulang sekolah Melati berangkat ke ladang ayahnya untuk memberi minum kambing piaraan mereka. Pekerjaan ini rutin dilakukan Melati tatkala ayah dan ibunya sedang bepergian. Tanpa disadari ternyata kepergiannya itu diikuti oleh No. Ketika sedang meminumkan kambing, tiba-tiba Melati dihampiri No. Tanpa ba-bi-bu, No langsung memeluk Melati. Sejurus kilat Melati dibanting dan diperkosa. Melati sempat meronta dan berteriak. Tapi apa daya, tenaganya tak sebanding dengan lelaki biadap itu.
Perkara ini pun diam. Sebab usai melampiaskan hajatnya, No mewanti-wanti Melati agar tidak melaporkan ke orang tuanya.  Jika tidak, maka lehernya akan ditebas.
Setelah kejadian beruntun itu, Melati mulai mengalami sakit. Badannya berangsur kurus. Kulitnya menjadi kuning pucat. Toh begitu, Agus Wake yang juga ayah kandung No tak mau ketinggalan. Disaat rumah lagi sepi, Agus mengajak Melati ke rumahnya. Disana tangan Melati diikat. Pakaian gadis cilik itu dilucuti. Setelah itu tangan jahil sang paman mulai menggeranyangi  sekujur tubuh Melati. Jari tangannya berulangkali dimasukan ke vagina Melati. Kejadian ini terus berulang disetiap ada kesempatan.
Tak lama berselang Melati jatuh sakit. Kondisinya fisiknya menurun drastis. Cara berjalannya tak normal lagi. Langkah kakinya sedikit mengangkang. Karena itu, dengan penuh kasih sayang ayah dan ibunya bertanya; Melati sakit apa? Rasa sakit sebelah mana? Tapi Melati diam membisu. Tak sekata pun terlontar dari mulutnya setiap kali orang tuanya ajak bicara. Melihat kondisi ini, ayah dan ibunya kemudian membawa Melati ke Puskesmas Waepana. Disana, setelah diperiksa baru Melati mengaku kalau ia telah dua kali diperkosa oleh No dan dicabuli berulang-ulang oleh Agus, pamannya.
Mendengar itu, orang tua Melati kaget minta ampun. Awalnya mereka tak percaya. Sebab, selain masih saudara, perilaku pelaku juga dikenal baik dan santun. Namun setelah Melati ditanya berulang-ulang, akhirnya orang Tua Melati yakin kalau Melati telah diperkosa dan dicabuli. Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polsek So’a. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, kedua pelaku akhirnya berhasil diringkus polisi. Dari hasil pemeriksaan polisi, Agus dan No mengakui semua perbuatan mereka.  
Kapolres Ngada, AKBP. Slamet D.A melalui Kapolsek So’a, Ipda. Yoseph Setu mengatakan, pelaku akan dijerat dengan Pasal 1 ayat 1 dan Pasal 82 Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman kurungan penjara selama 15 tahun.
“Akibat kasus ini, korban tidak bersekolah lagi. Dia malu. Kasihan dia,” ujar Yoseph Setu, prihatin.

Kepada Berita 7, Setu mengaku pelaku sudah ditahan dan untuk sementara sedang dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bajawa menunggu sidang dan putusan Pengadilan Negeri (PN) Bajawa. (by. chris parera)

Panti Alma Bajawa Butuh Bantuan Pemerintah


SERGAP NTT -> Panti Susteran Alma yang terletak di Kota Bajawa, Kabupaten Ngada kini benar-benar sedang membutuhkan bantuan pemerintah. Sebab daya tampung panti anak cacat yang berdiri sejak tahun 1998 itu sudah tidak memadai lagi.
“Sekarang ini kami memiliki 40 anak cacat yang terdiri dari tuna wicara, tuna netra, tuna grafita (mental) dan tuna ganda. Jumlah anak ini tidak sebanding dengan fasilitas kamar yang tersedia. Kami hanya memiliki 11 kamar. Satu kamar dihuni oleh 6 – 7 anak. Ini kami siasati pakai tempat tidur tingkat. Oleh karena itu melalui media ini kami minta bantuan pemerintah. Karena kami sangat membutuhkan perluasan lahan dan peningkatan sarana tidur dan sarana bermain bagi anak-anak,” ujar Kepala Panti Susteran Alma, Suster Cory Karya. 
Menurut Suster Cory, luas lahan Panti Alma hanya 615 meter persegi. Kondisi ini menyulitkan pengurus panti untuk memperluas bangunan.
“Jangankan untuk tempat bermain, bangun tambah kamar tidur saja sudah tidak bisa. Karena itu kalau bisa pemerintah membantu memperluas lokasi panti ini. Karena anak-anak cacat ini akan kami damping hingga mereka berumur 25 tahun. Setidaknya sampai mereka mandiri,” pintanya. (by. chris parera)