By Pass Mbay Dibangun


SERGAP NTT -> Jalan dua jalur dengan lebar 22 meter dan panjang 16 Kilo Meter (KM) mulai dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagekeo. Pengerjaan yang dilakukan oleh PT. SAK itu menggunakan Dana Desentralisasi Fiskal (DDF) sebesar Rp. 50 miliar.
“Jalan dua jalur itu akan dinamakan By Pass Mbay. Pengerjaannya akan dilakukan secara bertahap. Untuk tahap awal ini kita anggarkan Rp. 7 miliar untuk pekerjaan jalan sepanjang 2 KM dari Dadiwuwu (Kelurahan Penginanga) sampai civic centre (pusat perkantoran Pemkab Nagekeo),” ujar Kepala Dinas PU Kabupaten Nagekeo, Mikael Padi, ST.
Menurut Mikael, pengerjaan tahap berikut akan dilakukan mulai dari depan civic center hingga Alorongga. Sesuai rencana pembangunan bay pas Mbay akan selesai pada tahun 2012. (by. chris parera)

Jalan Rusak, Ekonomi Warga Flores Macet


SERGAP NTT -> Sejumlah ruas jalan propinsi di bagian Selatan maupun Utara Pulau Flores kini dalam kondisi memprihatinkan. Akibatnya roda ekonomi masyarakat Flores pun tersendat. Persoalan ini telah disampaikan kepada Pemerintah Propinsi (Pemprop) Nusa Tenggara Timur, tapi hingga kini solusinya belum juga turun. Apa sebab?      
Kamis (10/2/11) lalu sebuah truck yang dipenuhi muatan beras berjalan pelan menerobos lumpur, lubang dan bebatuan di ruas jalan propinsi Bajawa – Riung. Seorang ibu yang duduk persis disamping sopir tampak ngomel-ngomel, “Ini pemerintah mata sudah buta barangkali. Jalan seperti ini koq belum juga diperbaiki”. Ungkapan spontan si ibu tersebut menggugah awak Berita 7 untuk mengitari Kabupaten Ngada dan Nagekeo. Hasilnya? Selain jalan Bajawa – Riung, kondisi jalan rusak juga terdapat di ruas jalan yang menghubungkan Riung – Mbay dan Mbay – Wolowae – Maukaro (Kabupaten Ende). Kondisi ini tentu saja berpengaruh pada kelancaran roda perekonomian masyarakat setempat. Sebut saja Wolowae. Wolowae adalah  sebuah kecamatan di kabupaten Nagekeo yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ende. Secara topografi wilayah ini berada di ketinggian 2500 meter diatas permukaan laut. Potensi alam cukup menjanjikan. Sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani ternak dan petani garam. Sayangnya untuk  sampai ke Wolowae, pembeli ternak atau garam harus siap ‘patah pinggang’. Hal ini karena kondisi jalan yang berlubang dan berbatu.
“Kami disini sengsara pak. Mau jual ternak susah. Mau jual garam susah. Habis… jalannya model begini. Karena  kondisi jalan rusak seperti ini, tarif angkutan jadi naik 100 persen. Karena itu, yah… terpaksa kami tunggu pembeli disini. Harga ternak atau garam kami terpaksa sesuaikan dengan harga pembeli. Biasanya satu sokal garam kalau kami jual sendiri ke pasar Mbay, atau Bajawa, atau ke Ende harganya berkisar Rp. 3000 – 5000 per sokal. Tapi karena ongkos transportasi naik, ya… terpaksa kami jual saja disini dengan harga Rp. 1000 per sokal,” ujar Markus, salah seorang petani garam di Wolowae. 
Keluhan yang sama juga disampaikan para petani ternak. Hewan seperti kerbau, sapi, kuda dan kambing terpaksa dijual dengan harga murah karena mereka tak mampu membiayai ongkos transportasi.
“Gara-gara jalan rusak, semua harga hewan dan komoditi lain seperti kopi, kakao, kemiri, kopra dan cengkeh ikut melorot. Untuk itu kami minta pemerintah segera perbaiki jalan ini,” pinta Manager UD Bina Tani, Mansur Ratang.
Kepada Berita 7, Mansur mengatakan, selain jalan propinsi, banyak juga jalan kabupaten yang belum diperbaiki seperti yang terlihat di ruas jalan Boawae – So’a. Untuk itu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) juga diharapkan proaktif menanggulangi kondisi jalan yang rusak.
Komentar Mansur diamini Abdul Asis. Pembeli hewan asal Jeneponto (Sulawesi) ini mengaku sangat kerepotan bila ingin memberangkatkan hewan dari So’a atau dari Wolowae ke Mbay menggunakan mobil truck. Kondisi jalannya sangat tidak mendukung.
“Karena jalan rusak seperti ini, kita akhirnya tidak bisa kejar waktu. Sering saya tidak dapat kapal hanya karena kelamaan di jalan. Biasanya hewan saya beli dari So’a, Riung dan Kaburea (Wolowae). Sekali jalan biasanya saya dapat 50 sampai 100 ekor terdiri dari kerbau dan sapi. Ini kemudian diberangkatkan ke Jeneponto via dermaga Marpokot (Mbay). Kondisi jalan ini, sering membuat saya merugi,” papar Asis.
Kondisi jalan juga dikeluhkan Mias Puta (35). Pengemudi trevel yang biasa melayani wisatawan asing itu mengaku dirinya sangat kesulitan saat melintasi di ruas jalan Bajawa –Riung.
“Jalan Bajawa – Riung rusak berat pak. Mobil kecil seperti Avansa, Kijang atau Terano jangan harap bisa tembus. Selain kondisinya rusak, di ruas jalan itu banyak terdapat lubang-lubang besar seukuran kubangan kerbau. Bahkan di tempat-tempat tertentu ada bagian-bagian jalan yang tergerus air hingga kedalamannya mencapai setengah meter. Karena itu, sekarang ini kalau ada turis yang mau pake oto ke Riung, saya tidak mau lagi lewat jalan Bajawa – Riung. Kalau lewat Mbay saya masih mau. Tentu harganya sedikit lebih tinggi. Kalau si turis keberatan, yah… stop jalanlah…,” tandasnya.
Yang pasti, lanjut Puta, kondisi jalan ini membuat roda perekonomian keluarganya macet. Kalau dulu ia biasa melayani turis sebanyak empat kali dalam seminggu, kini paling banyak dua kali saja. Itu pun tidak setiap minggu. Karena banyak turis yang mengalihkan perjalanan wisatanya ke Pulau Komodo (Kabupaten Manggarai Barat).    
***
*Drs. Paulus Soliwoa: Kerusakan Sudah Disampaikan Ke Propinsi*
Wakil Bupati Kabupaten Ngada, Drs. Paulus Soliwoa mengaku, kerusakan jalan propinsi yang terjadi di ruas jalan Bajawa – Riung dan Riung – Mbay sudah disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngada ke Pemerintah Propinsi (Pemprop) Nusa Tenggara Timur melalui Subdin Bina Marga Dinas Kimpraswil Propinsi NTT. 

“Masalah jalan sudah kami sampaikan ke Pemerintah Propinsi. Itu bukan hanya jalan Bajawa – Riung, tapi jalan-jalan propinsi lain yang ada di Kabupaten Ngada juga sudah disampaikan ke propinsi. Terutama jalan-jalan yang kondisinya rusak berat. Kita harapkan tahun ini ada perbaikan. Paling tidak ada bantuan darurat untuk perbaiki face atau struktur jalan yang rusak. Setelah itu baru disusul dengan upaya peningkatan jalan,” ujar Soliwoa. (by. chris parera)

Proyek BBI dan Pengadaan Kapal Ikan Diduga Syarat KKN


SERGAP NTT -> Pengerjaan proyek pembangunan Balai Benih Ikan (BBI) senilai Rp. 1,7 miliar yang berlokasi di Kecamatan So’a dan pengadaan kapal ikan senilai Rp. 300 juta yang peruntukannya bagi kelompok nelayan di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada diduga syarat dengan praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Benarkah?  
Tahun 2009, Dinas Perikanan Kabupaten Ngada kebanjiran Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana bantuan Pemerintah Pusat (Pempus) ini sebagiannya digunakan untuk membangun BBI dan pengadaan kapal ikan bagi nelayan Riung. Ironisnya, perjalanan dana tersebut tak semulus seperti yang diidamkan. Lima (5) persen dari total dana diduga tersangkut di saku Kadis Perikanan Ngada, Eman Dopo.
“Itu hanya gosip. Tidak benar itu,” sergah Eman Dopo ketika ditanya via telepon seluler oleh kakak kandungnya yang juga Anggota Komisi C DPRD Ngada, Yashinta Dopo yang dibeberkan kepada Berita 7 dan sejumlah anggota DPRD Ngada saat bincang-bincang di ruangan  Wakil Ketua DPRD Ngada, Paulinus No pada Senin (21/2/11).    
Bantahan Eman Dopo bisa benar, bisa juga tidak. Tapi yang pasti fisik proyek BBI yang dikerjakan oleh CV. Rajawali dan CV. Jawa Indah dan Kapal Ikan yang diadakan oleh CV. Reba Dian itu kondisinya  sangat memperihatinkan. Pengerjaan kedua proyek ini diduga tidak sesuai dengan spesifikasi proyek. Akibatnya, kualitas proyek pun amburadul.
Minggu (20/2/11), Berita 7 mengunjungi lokasi proyek BBI. Tampak dua bangunan rumah setengah jadi berdiri menikam langit. Disampingnya terbentang saluran dan kolam benih ikan yang pengerjaannya juga belum selesai. Disampingnya lagi terlihat tembok penyokong roboh sekitar enam (6) meter.
Menurut Sekretaris Panita Proyek BBI, Fatima Puageno, pengerjaan yang dilakukan CV. Jawa Indah telah mencapai 30 persen. Sedangkan CV. Rajawali 50 persen. Hanya saja kedua perusahaan ini telah di PHK per 31 Desember 2009 lantaran tak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal. 
Selain kualitas bangunan proyek yang memprihatinkan, pengadaan lahan BBI seluas 2 hektar itu pun diduga syarat dengan rekayasa. Kabarnya, harga tanah di markup hingga  Rp. 900 juta. Padahal perkiraan harga lahan tersebut hanya 100 – 200 juta.
“Ade tidak usah ungkit-ungkit itu lagi ko. Kasihan dengan kami ko,” pinta Eman Dopo ketika ditemui Berita 7 di ruang kerjanya Kamis (17/2/11).
Kapal ikan
Kapal ikan yang menghabiskan dana Rp. 300 juta itu kini terdampar di pantai Riung, tepatnya disamping dermaga pariwisata Nangamese. Setengah bodinya tenggelam digenangi air.
“Kayu yang mereka pakai untuk kapal ini bukan kayu yang biasa dipakai untuk pembuatan kapal. Kayu ini kayu ketapang dan kayu kedondong hutan. Kayu ini tidak cocok untuk kapal. Kalau untuk perahu kecil masih bisa. Makanya begitu dihempas ombak kecil, kapalnya langsung pecah,” ujar Ahmad, salah seorang nelayan saat bincang-bincang dengan Berita 7 di dermaga pariwisata Nangamese, Riung padaJumat (18/2/11).  
Sejak mulai beroperasi di laut, kata Ahmad, kapal ini terus mengalami kebocoran. Tambal satu, bocor yang lain. Tambal yang ini, bocor yang itu.  Karena capek memompa air keluar dari kapal, akhirnya pengelola membiarkan kapal tersebut sandar terlantar di pelabuhan pariwisata Riung.
“Kalau mau kuat mestinya kapal ini mereka pakai kayu pampa atau kayu munting. Kalau pakai kayu begini, yah… hasilnya kayaq ginilah,” ujar Ahmad, kritis.
Pengakuan Ahmad dibenarkan juga oleh Mihaya (32). Pengelola kapal yang dipercayakan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Ngada ini mengaku, sejak mulai beroperasi kapal selalu mengalami kebocoran.
“Bagaimana kami mau tahu ini kayu bagus atau tidak pak? Waktu kami terima, kan ini kapal sudah di cat semua. Ini kapal bikin susah kami pak. Tambal ini, bocor itu. Tambal itu, bocor ini. Begitu terus. Kami stres,” papar Mihaya.
Toh begitu, Mihaya dan suaminya tetap konsisten mengelola kapal dengan bobot 10 ton itu. Sebab kapal tersebut sudah menjadi milik mereka. Kepemilikan ini ditandai dengan penandatangan kontrak sewa beli antara Mihaya dan Dinas Perikanan Kabupaten Ngada.
“Di kontrak itu kami harus menyetor uang sebesar Rp. 120 juta. Tapi karena kondisi kapal seperti ini, maka sampai hari ini belum satu rupiah pun yang kami setor. Apalagi kondisi kapal sekarang ini tidak bisa dipakai lagi. Sebab tanggal 22 Desember 2010 lalu, ketika kapal sedang dok, kapal dihempas ombak. Akibatnya papan bodi patah dan hampir semua dinding kapal jadi renggang. Karena itu, ya… air masuk. Makanya sekarang setengah kapal itu tenggelam. Tapi dia punya mesin kami sudah amankan. Untuk sementara ini, mesinnya kami pakai di kapal pribadi kami. Sedangkan yang lainnya, seperti pukat dan mesin derek jaring masih tertinggal di kapal. Kami mau angkat itu mesin, tapi berat sekali pak. Masalah ini sudah kami sampaikan ke dinas, tapi sampai hari ini belum ada tanggapan,” ucap Mihaya.
Lalu apa komentar Eman Dopo? Kepada Berita 7, Eman Dopo mengaku, jika berpedoman pada dokumen kontrak, maka semua urusan kapal menjadi tanggung jawab Mihaya.
“Karena sudah sewa beli, maka tanggung jawabnya ada di pengelola. Tapi karena ini musibah, maka kami sudah buat usulan anggaran ke Badan Penanggulangan Bencana Alam untuk membantu memperbaiki kapal itu,” tegasnya.
Eman Dopo juga membantah rumor yang mengatakan harga kapal di mark up dan spesifikasi kayu kapal diganti.
“Proses pengadaan kapal itu sudah sesuai aturan. Harga kapalnya segitu. Kayunya pun seperti itu. Tidak ada rekayasa. Kalau memang kayunya bermasalah, kenapa waktu penyerahan kapal, pengelola tidak protes. Koq sekarang baru protes. Jangan begitulah,” sergahnya. (by. chris parera)

Jane (10), Mati Kedinginan Hanya Karena Ingin Membahagiakan Ibunya


SERGAP NTT -> Di sebuah desa yang terpencil, jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota hiduplah seorang ibu dan seorang anaknya. Si anak sebenarnya tidak diinginkan oleh ibunya. Sebab, kelahiran si anak diluar harapan dan rencana sang ibu. Ia dikandung dan dilahirkan hanya karena pergaulan bebas sang ibu.
Memang kehidupan hedonis di masyarakat barat sudah menjadi kebiasaan yang lumrah. Perzinahan dan Kemaksiatan bukanlah suatu fenomena asing dan melanggar hukum, bahkan dilindungi oleh HAM alias Hak Asasi Manusia dan Liberalisme (Kebebasan), sehingga mereka bisa melakukannya di mana saja sekehendak hawa nafsu mereka, selama keduanya sepakat tanpa adanya rasa malu. Namun ternyata meskipun kehidupan serba bebas dan beranekaragam prilaku hedonis, satu hal yang mereka takutkan adalah mengandung anak “haram” dari aktivitasnya. Inilah awal dari dampak buruknya hedonisme dan prilaku dari kebebasan berekspresi.
Tingkat HIV/AIDS sangat tinggi. Meskipun selalu memakai “Kondom”, tetap saja Allah memudaratkan mereka akibat kehinaanya sebagai Manusia dan prilakunya yang menghancurkan tatanan kehidupan manusia di dunia.
Cathy (27), adalah salah satu wanita yang “kecolongan” akibat perbuat zinanya, sehingga ia tidak tahu siapa bapak dari anak yang dikandung dan dilahirkannya. Semakin tumbuhlah anak yang tidak diinginkannya itu, semakin murtat kebenciannya akibat kebebasan prilakunya sendiri. Akibatnya, ia curahkan kepada anaknya prilaku yang keras. Anaknya itu yang baru beranjak 10 Tahun, sebut saja namanya Jane.
Kehidupan ibu dan anak tersebut tidak pernah mengalami ketenangan. Karena selalu ada masalah yang ditimbulkan dan dipermasalahkan meskipun hanya sedikit. Namun Jane adalah seorang anak yang sangat penurut. Ia melakukan apa saja yang selalu diinginkan dan diperintahkan oleh ibunya. Setiap pagi Jane selalu berjualan makanan kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara ibunya hidup berfoya-foya bersama para lelaki hidung belang.
Jane Berangkat setiap pagi dan harus kembali siang hari, seandainya telat dan tidak mendapatkan uang, maka punggungnya dah siap untuk dipukuli dan tampar, bahkan dikurung digudang serta tidak dikasih makan, (Dah berzina menyiksa pula). Itulah hari-hari Jane yang selalu diliputi kemarahan, kesedihan, keterpurukan, kegelisahan dan penderitaan yang tidak pernah berujung.
Suatu ketika, Jane pergi berjualan seperti biasanya….bagi Jane, hari itu adalah hari istimewa buatnya,…bukan karena ia mendapat suatu rizki yang besar, namun ia menyadari bahwa hari itu adalah hari ulang tahun ibunya. Hari itu ia bertekad untuk menghabiskan jualannya agar uang yang didapat cukup untuk membelikan sebuah kado kecil untuk ibu terkasihnya, meskipun ia selalu menderita ketika berada di dekat ibunya.
Ibu yang baru pulang dari foya-foya dengan “teman kencannya”, serontak kaget melihat anak yang seharusnya menyiapkan makan siang, ternyata belum pulang… Spontan darahnya naik keubun-ubun dan panas 200 derajat, merah mukanya dibakar api amarah.. “Dasar nih anak Iblis, jam segini belum pulang. Pasti lagi main-main diluar sana…” gerutu si ibu sampai mulut berbusa.
Kemarahannya semakin memuncak ketika menjelang sore Jane belum pulang juga, sungguh tiada terkira marahnya si Ibu. Akhirnya ia punya cara yang paling efektif untuk menghukum Jane, “Biarkan dia tidur di jalanan” sahutnya sambil pergi untuk berfoya-foya dengan “teman kencannya” sampai besok pagi.
Salju terus turun, angin malam mulai menghampiri dan dinginpun mulai masuk ke dalam pori-pori. Jane Pulang dengan Riangnya, ia berharap ibunya akan membukakan pintu agar ia bisa masuk ke rumah dan menikmati hangatnya selimut. Namun, Harapan tetaplah harapan.. Ketika Jane sampai depan pintu, ia tidak mendapati ibunya. Rumah dalam kondisi sepi. Jane coba paksa membuka pintu. Ia juga caba mencari kunci rumahnya. Tapi semuanya sia-sia belaka. Justru dingin yang semakin memuncak dan sangat menyengat, suhu dilingkungan sekitar mencapai 0 derajat celcius.
“Mungkin ibu sedang pergi sebentar, saya tunggu aja ..ah..”. pikirnya sambil merebahkan diri kemudian tertidur di depan pintu.
Keesokan harinya… ibunya datang dengan cerianya… Maklum ia baru dapat kepuasan yang lebih habis “kerja keras” tadi malam. Ia mendapati Jane sedang tidur di depan pintu. “Rasakanlah sekarang anak iblis, kamu kedinginankan, rasakanlah…”, katanya sambil tertawa. Namun Jane, tidak bergerak sedikitpun. Akhirnya ibunya pun kesal dan membangunkan Jane dengan cara kasar…ditendang-tendangnya tubuh mungil tersebut sambil berkata,”Bangun anak iblis, bangun…” sergahnya penuh kesal. Namun, Jane masih belum bergerak juga. Kebingunganlah si Ibu untuk membangunkannya. Dengan perasaan kacau dan galau si ibu itu pun berusaha mencoba membangunkannya, namun semuanya sia-sia. Jane tinggal namanya…Ia meninggal karena kedinginan dengan air mata yang membentuk kristal dipipinya.
Ditangan yang membeku ia menggengam sebuah Liontin Perak dan sepucuk surat yang tertulis rapi, “Mama yang selalu dihati ini, maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakan mama, meskipun Jane selalu berusaha untuk itu, ternyata di mata mama hanya tampak kebencian dan kemarahan yang tak berujung, meskipun Jane tidak tahu dimanakah kesalahan Jane ini. Mama… yang tersayang, mama masih inget ga hari ini hari apa…??? Ya…benar hari ini adalah hari ulang tahun (Ulta) mama yang ke- 27. Mama, Jane mohon maaf kemarin agak pulang malem karena Jane ingin agar jualan Jane habis terjual dan mendapatkan uang yang cukup untuk membeli kado kecil ini buat mama. Mama yang terbaik, di dalam hidup ini Jane merasa sendiri meskipun ada mama, namun Jane tidak merasakan kehadiran mama dalam kehidupan Jane, Jane rindu seorang yang menyayangi Jane selayaknya seorang ibu. Namun Jane tidak mendapatkannya dari mama. Untuk itu Jane ingin memberikan hadiah ini untuk sekedar menaruh harapan agar Jane bisa melihat mama tersenyum, dan bahagia. Selama ini Jane selalu menganggap mama sebagai seorang terbaik dihati ini, karena Jane tidak punya siapa-siapa lagi. Mama selamat ulang tahun ya…, mudah-mudahan mama menyadari bahwa ada Jane yang selalu menyayangi mama dan merindukan mama… Sekian mama…”.
Sakit dan merananya hati ibu yang selalu menjadikan amarah dan hawa nafsu menjadi sumber dari segala tingkah lakunya. Hilang lenyap dunia yang ternyata malah menghinakannya. Penyesalan yang tiada akhir itulah akibat dari perbuatannya.. “Menyesalpun tiada gunanya”
Sahabatku…terkadang kita membenci seseorang yang didalam hatinya terdapat cinta yang tulus. Menghinakan orang lain padahal ia lebih mulia dari kita, memburukkan akhlak seseorang padahal lebih baik akhlaknya, ketulusan cinta ternyata hanya didapat dalam diri yang tidak perlu di umbar kemana-mana, Rasa Kasih sayang itu lahir dari hati yang tulus dan suci yang menginginkan orang yang kita sayangi itu bahagia dan selalu tersenyum dalam setiap hidupnya meskipun diri kita menderita.

“Kebagiaan yang hakiki adalah ketika kita melihat orang yang kita sayangi bahagia dan tersenyum”, maka sahabatku bahagiakanlah orang yang terkasih diantara kita dengan menjaga kehormatan dirinya. (by. joe)

Kisah Seorang Perempuan Kecil, Kedua Tangannya Dipotong Hanya Karena Mencoret Mobil Sang Ayah


SERGAP NTT -> Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan , tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.
Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah adem ketakutan, lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.
Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Dita yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.
Sedangkan Si ibu cuma berdiam diri, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan pada anaknya. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.
Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang telapak tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka-lukanya terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.
Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya, si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya sudah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap, dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi.
Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris.
“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita janji tidak akan mencoret-coret mobil lagi,” katanya berulang-ulang. Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang tua tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin sampai suatu saat Sang Ayah tak kuat lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yang tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
. (by. yon)