“Aku Hanya Mau Ajak Papa,,,,”


SERGAP NTT -> Berto (30), baru pulang dari bekerja pukul 21.00 malam. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya di rumah, ia mendapati anaknya Irma yang berusia 8 tahun yang sedang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah. “Kok belum tidur?” sapa Berto pada anaknya.
Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja, dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di pagi hari. Saya menunggu Papa pulang, karena saya mau tanya berapa sih gaji Papa?”
“Lho,,, tumben, koq nanya gaji Papa segala? Kamu mau minta uang lagi ya?”
“Ah, nggak pa, saya sekedar,,, pengin tahu aja…”
“Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.400.000. Setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji Papa satu bulan berapa, hayo?!”
Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman. Ketika sang Ayah ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak mengikutinya.
Jadi kalau satu hari Papa dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp 40.000 dong!”
“Kamu pinter, sekarang tidur ya..sudah malam!” tapi sang anak tidak mau beranjak.
“Papa, aku boleh pinjam uang Rp 10.000 nggak?”
“Sudah malam nak, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah,,,! Besok pagi saja. Sekarang kamu tidur…”
“Tapi papa…” “Sudah, sekarang tidur…” suara sang Ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya. Sang Ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang-terisak-isak sambil memegang uang Rp 30.000.
Sambil mengelus kepala sang anak, Papanya berkata”Maafin Papa ya! kenapa kamu minta uang malam-malam begini..besok kan masih bisa. Jangankan Rp.10.000, lebih dari itu juga boleh. Kamu mau pakai buat beli mainan khan?….”
“Papa, saya ngga minta uang. Saya pinjam…, nanti saya kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan.”
“Iya..iya..tapi buat apa??” Tanya sang Papa.
Saya menunggu Papa pulang hari ini dari jam 8. Saya hanya mau ajak Papa main ular tangga. Satu jam saja pa, saya mohon. Mama sering bilang, kalau waktu Papa itu sangat berharga. Jadi saya mau beli waktu Papa. Saya buka tabungan, tapi cuma ada uang Rp 30.000. Tapi Papa bilang, untuk satu jam Papa dibayar Rp 40.000.. Karena uang tabungan saya hanya Rp.30.000,- dan itu tidak cukup, makanya saya mau pinjam Rp 10.000 dari Papa…”
Sang Papa cuma terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Ia pun memeluk erat anaknya sambil menangis.
Mendengar perkataan anaknya, sang Papa langsung terdiam, ia seketika terenyuh, kehilangan kata-kata dan menangis.. ia lalu segera merangkul sang anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta maaf pada sang anak..
“Maafkan Papa sayang…” ujar sang Papa.

“Papa telah khilaf, selama ini Papa lupa untuk apa Papa bekerja keras…maafkan Papa anakku…” kata sang Papa ditengah suara tangisnya. Si anak hanya diam membisu dalam dekapan sang Papa… (*)

Kisah Kakak Beradik Yang Saling Mengasihi


SERGAP NTT -> Namaku Shinta. Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan, aku mencuri lima puluh ribu dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Ayah menyuruh adikku dan aku berlutut di menghadap tembok. Di tangannya terhunus sebuah bilah bambu.
“Siapa yang mencuri uang itu,Ayah bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Ayah mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai kehabisan nafas. Sesudahnya, ayah duduk di atas ranjang batu bata dan memarahi adikku, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu”.
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis. Semuanya sudah terjadi”.
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya menggerutu, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…!” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
Tak ada yang menyangka,,,, keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.” Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
Dengan uang yang ayahku pinjam dari beberapa warga dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.”Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya.Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya. “Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
Ketika  masih SD, setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah atau pulang ke rumah. Suatu hari, saya lupa membawa jeket, Kakakku memberikan jeketnya untukku. Maklum daerah kami ini terkenal dingin minta ampun. Ketika kami tiba di rumah, tangannya gemetaran karena dingin. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.” Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Dalam hati kecilku spontan berkata; “Terima kasih adikku!”.  (by. shinta)

Gara-Gara Facebook, Anisah terperangkap Selingkuh


SERGAP NTT -> SIDIQ adalah pemuda soleh. Ia menikah dengan seorang wanita solehah, Anisah namanya. Mereka berdua berasal dari keluarga agamis, terpandang dan mulia. Keduanya merasa sangat bahagia dan bersyukur karena telah
dikaruniai pasangan yang sesuai di hati. Hari-hari mereka jalani penuh dengan keceriaan dan kemesraan.
Sidiq, kesehariannya bekerja diluar rumah. Ia berangkat pada pagi
hari dan pulang pada sore hari. Sementara Anisah sendirian tinggal dirumah. Untuk
menghibur hati sang istri dan teman dikala kesepian, Sidiq membelikan
Anisah sebuah komputer. Komputer tersebut diletakkan di dalam kamar dan
disambungkan internet.
Awalnya Anisah tidak tahu apa-apa tentang komputer. Sidiqlah yang mengajari cara menggunakan komputer. Hingga pada akhirnya Anisah bisa menggunakan komputer sendiri dengan baik. Sehabis menyelesaikan pekerjaan rumah, Anisah biasa memanfaatkan waktunya di depan komputer, mengakses berita dan mengikuti perkembangan dunia luar. Waktu terus berjalan. Kehidupan mereka selalu harmonis dan tentram.
Namun petaka mulai menghimpit tatkala suatu hari, Anisah masuk ruang chating Facebook dan Yahoo Messenger (YM). Disini ia mulai berkenalan dengan banyak orang. Awalnya hanya tanya jawab tentang nama, tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari. Tapi karena keasyikan, obrolan jadi panjang dan melebar. Hingga pada suatu waktu, Anisah berkenalan dengan seorang pemuda, namanya Fatih. Awalnya mereka chating biasa-biasa saja. Lama kelamaan mereka pun mulai menggunakan kamera. “Siaran langsung” pun terjadi. Timbulah rasa suka diaqntara mereka. Fatih pun mulai melancarkan argumen bermanis kata alias merayu. Pelan tapi pasti, kata-katanya menyentuh hati Anisah. Setan pun tak tinggal diam. Membisikkan ke dalam hati Anisah hal-hal yang tidak baik. Anisah berusaha untuk menolak dan melawannya. Namun karena mereka chating setiap hari, selalu berpandang-pandangan, akhirnya sedikit demi sedikit timbullah rasa suka dihati Anisah.
Sebenarnya Fatih menyukai Anisah hanya karena kecantikannya. Bisa dibilang rasa suka berlandaskan hasrat nafsu. Akhirnya Anisah terpedaya dengan kata-kata dan ketampanan Fatih.
Hari demi hari terus berlalu. Sidiq pun tidak menaruh curiga
pada Anisah sedikit pun. Karena ia sangat percaya pada Anisah. Tapi sesuatu yang busuk, bagaimanapun pintar menyimpan akan ketahuan juga baunya. Akhirnya Sidiq tersadar dengan gelagat Anisah yang mulai berubah. Bak intelejen dunia maya, Sidiq mulai selidik istrinya. Hasilnya, diluar dugaan. Sidiq terperangah kala tahu istrinya sedang menjalin kasih dengan orang lain. Sebagai suami, Sidik  marah besar. Komputer akhirnya dijual. Sidik lalu memperingatkan Anisah untuk segera bertobat. Setelah mengakui kesalahannya, Anisa pun berjanji tobat. Tapi dasar perasaan sudah kebelet setan dan hawa nafsu, Anisah masih sulit menghilangkan bayangan Fatih dari pikirannya. Hatinya telah terpaut pada Fatih. Suatu hari ketika Sidiq sedang berangkat kerja, Anisah menghubungi Fatih lewat telpon. Ia menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Ia lalu mengutarakan perasaannya pada Fatih.
Bagi Fatih, ini namanya rejeki tiba-tiba. Sebab, selain cantik, Anisa sangat seksi dan ranum. Kesepatan inipun dimanfaatkan oleh Fatih. Rayuan gombal mulai ia luncurkan.
“Kalau kamu menyukai dan mencintai saya, tinggalkanlah suamimu!
Minta cerailah darinya! Saya akan datang untuk melamarmu dan kamu akan
hidup tentram dan bahagia dengan saya,” imbuhnya.
Anisah yang telah goyah dan lemah imannya mulai terpedaya dengan
bujuk rayu dan janji-janji Fatih. Akhirnya, Anisah minta cerai pada Sidiq. Singkat kata, terjadilah perceraian. Anisah pulang kembali ke rumah orang tuanya.
Keluarganya sangat menyesalkan perceraian tersebut. Namun Anisa tak peduli. Dari rumahnya itulah Anisa mulai intens berhubungan dengan Fatih. Fatih sering datang ke rumahnya dan terkadang mengajaknya keluar rumah dengan mobil mewah. Hari dan minggu terus berganti, namun Fatih belum juga melamar
Anisah. Mereka masih menjalani pacaran. Sampai pada suatu malam, Fatih
mengajak Anisah menginap di sebuah hotel. Pada malam itu terjadilah
hubungan yang diharamkan. Mereka berzina. Mereka benar-benar dikuasai hasrat nafsu dan setan. Sejak saat itu mesum terus terjadi disetiap ada niat dan kesempatan.
Hari dan bulan terus berganti, tapi Fatih belum juga datang untuk
melamar Anisah. Anisah sangat gelisah. Setiap kali ia menagih janji, ia selalu
diberi janji yang tak pasti. 
Karena terus mendesak, Fatih akhirnya murka. Maklum Fatih tak punya niat sedikitpun untuk menikahi Anisah.
“Heh,,,, perempuan murahan, kau kira saya akan menikah dengan perempuan seperti kau? Oh,,, tidak mungkin! Saya tidak akan mau menikah dengan perempuan seperti kau. Kau itu perempuan yang tidak pantas untuk dinikahi oleh orang terpandang seperti saya. Saya yakin, kalau sekali sudah berkhianat, kelak kau akan berkhianat lagi. Kalaupun kau saya nikahi, kelak bila kau bertemu dengan pemuda yang lebih ganteng dan lebih kaya dari saya, pasti kau akan meninggalkan saya, sebagaimana kau meninggalkan suamimu yang baik-baik itu. Dan, saya tidak mau hal itu terjadi dalam hidup saya. Sekarang juga pergi kau,,,,! Jangan
temui saya lagi! Saya tidak mau lagi melihat mukamu. Saya sudah muak
dengan kau,” sergah Fatih penuh amarah.
Mendengar umpatan Fatih, Anisah hanya bisa menangis menyesali keputusannya. Dengan membawa luka kepedihan Anisa berlalu pergi dari hadapan Fatih. Hidupnya telah hancur. Masa depannya telah gelap. Ia telah salah selama
ini menilai Fatih. Ia telah tertipu dan terpedaya. Penyesalan tidak ada lagi
gunanya. Kembali pada suami, tak akan mungkin suaminya mau
menerima. Kembali pada keluarganya, ia merasa malu. Ia tidak tahu harus melangkah kemana dan mengadu pada siapa. Akhirnya hanya kepada Tuhan ia mencurahkan penyesalannya. Anisah akhirnya sadar, “Ah,,, ini semua gara-gara facebook dan YM, semuanya jadi hancur,,,”. Tapi, semua sudah terlambat. Penyesalan selalu dating dari belakang. Apakah anda korban berikutnya? (by. chris parera)

Wangge – Mochdar “Retak”


SERGAP NTT -> Hubungan Drs. Don Bosco M. Wangge alias Don Wangge dan Drs. Achmad Mochdar alias Mad Mochdar dikabarkan sedang renggang. Keretakan Bupati dan Wakil Bupati Ende periode 2009-2014 itu disebut-sebut dipengaruhi pembagian dan pengelolaan proyek yang didominasi Don Wangge. Sudah begitu, jabatan eselon II dan III pun lebih banyak ditempati kader-kader besutan Don Wangge. Bisa benar-bisa juga tidak. Tapi yang pasti, rumor beredar kencang kalau hubungan Don Wangge dan Mad Mochdar sedang retak alias kurang harmonis. Hmm…!!!
Kebersamaan dalam kekuasaan politik ternyata tak selalu langgeng. Tegur sapa saat lamar melamar jadi calon bupati dan wakil bupati seakan hanya intrik memuluskan langkah menuju gelanggang kekuasaan. Setelah kursi panas diduduki, teman pun disikut agar pergi menjauh. Perasaan jadi tipis. Ketersinggungan jadi yang terdepan tatkala pasangan berbuat kilaf. Kasih tak lagi punya madu. Racun siap merasuk sanubari yang serakah. Duh…! Kenapa kebanyakan pemimpin kita selalu bertengkar hanya karena barang yang tak dibawa mati. Syukur kalau mati dipangku keluarga. Tapi kalau mati dilaut lepas lalu disantap biota laut? Apa yang mau dibawa menghadap sang Khalik.
Minggu kemarin saya berkesempatan menyinggahi Ende. Disana saya bertemu dengan beberapa politisi, pejabat pemerintah dan pengusaha. Dari mulut mereka terbesit kabar kalau Don Wangge dan Mad Mochdar sudah seperti tak pernah saling kenal. Padahal kebersamaan mereka dulu sangat disenangi warga Ende. Terbukti paket Don Wangge-Mad Mochdar mampu mendulang suara 54.845 atau 41,96 persen dari total suara sah sebanyak 130.695.
Sebelum petaka komunikasi mendera, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya juga mengakui kekompakan Don Wangge dan Mad Mochdar. Karena itu, saat melantik keduanya sebagai Bupati dan Wakil Bupati, Lebu Raya sempat berpesan; pimpinlah warga Ende dengan cinta. Karena lewat pilihan politik, warga Ende telah menyatakan cinta mereka kepada yang dipilih. Jalani kebersamaan hidup dengan kasih. Karena hidup tanpa kasih bagaikan sayur tanpa garam.
Dari nasehat Lebu raya ini setidaknya tergores harapan agar dalam kebersamaan, Don Wangge dan Mad Mochdar mampu bekerjasama mengurus masyarakat Ende, yang mayoritas masih terperangkap dalam kerangkeng kemiskinan.  
Kata Lebu Raya, cinta itu tumbuh dalam nurani, dibingkai dalam kepercayaan yang kemudian diungkapkan melalui pilihan politik. Pilihan ini mengingatkan bahwa masyarakat sedang menunggu dan selalu menerima perhatian dari bupati dan wakil bupati.
Warga Ende tentu berharap, pemimpin yang mereka pilih mampu membawa perubahan yang lebih baik. Setidaknya akses masyarakat terhadap transportasi makin baik. Makin banyak jalan yang dirintis dan kualitasnya meningkat. Banyak sarana irigasi, sarana kesehatan, dan pendidikan dibangun lebih serius dan bermutu. Akses pasar makin terbuka dan harga komoditas lebih berdaya saing.
Nelayan di pesisir tidak pernah lagi gelisah soal ketersediaan dan keterjangkauan BBM untuk melaut. Pelaku bisnis mendapat perhatian, kepedulian dan kepastian pelayanan administratif. Proses tender dan lelang pengadaan barang dan jasa lebih transparan.
Bagi Lebu Raya, momentum pelantikan Don Wangge dan Mad Mochdar sebagai Bupati dan Wakil Bupati  terasa istimewa karena bertepatan dengan pekan suci menyambut perayaan Paska. Bagi umat Katholik, Paska adalah pesta kemenangan dan kegembiraan.
Suasana batin ini hendaknya jadi kekuatan moral untuk membimbing perjalanan kepemimpinan. Jabatan yang ditahtakan rakyat tidak untuk dibanggakan apalagi diselewengkan. Jabatan harus bermuara pada tugas perutusan. Jabatan harus tetap berbingkai kesederhanaan, kerendahan hati, pelayanan dan syukur, walau untuk itu dituntut pengorbanan sebagaimana misteri salib itu sendiri. Kegembiraan ini harus pula dirasakan oleh masyarakat dengan pertumbuhan ekonomi yang makin baik. Reformasi birokrasi untuk meningkatkan pelayanan birokrasi. Kelolalah perjalanan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan dengan cinta yang sama hangatnya. Cinta yang meneguhkan kebersamaan untuk sehati sesuara membangun Ende.
Untuk apa bertengkar? Untungnya apa? Apalagi masalah pokok belum terselesaikan. Kalau tak salah, ada tiga problem utama yang dihadapi warga Ende, yakni; kemiskinan yang meningkat dari tahun ke tahun, rendahnya mutu pendidikan, dan rendahnya derajat kesehatan masyarakat.  Penyebab tiga masalah ini adalah salah urus yang dilakukan birokrasi.
Dulu… dipenghujung Pilkada, anda berdua sepakat untuk membangun Ende dengan mulai menata pemerintahan yang baik (good governance), memberantas KKN, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan mendorong partispasi masyarakat dalam pembangunan.
Untuk menata pemerintahan, seharusnya secepat mungkin mereformasi birokrasi melalui perampingan organisasi agar lebih efisien serta meninjau kembali mutasi dan promosi jabatan aparatur. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, optimalkan unit pelayanan satu atap. Pada jalur kultural, kembangkan budaya pemerintahan saate atau sehati yang juga merupakan akronim dari selaras (dengan Tuhan, alam, sesama), akal budi luhur dan percaya diri, serta teladan dan keteladanan.
Sasarkan dari semua ini adalah perubahan etos birokrasi dari birokrasi yang dilayani menjadi birokrasi yang melayani dan mempunyai kinerja yang baik. Kepuasan Masyarkat adalah Kunci Keberhasilan Birokrasi.
Kerja sama, demi keluhuran maknanya, tidak boleh menjadi persekongkolan. Yang baik kita puji. Yang buruk kita kritik. Ini salah satu bentuk partisipasi dalam pembangunan. Lalu kenapa mesti retak? Semoga saja isu keretakan ini hanya isapan jempol belaka. (by. Chris Parera)

KPK Minta Jaksa Periksa Don Wangge


SERGAP NTT -> Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), M. Busyro Muqoddas, S.H, M. Hum meminta Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Ende segera menindaklanjuti temuan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Provinsi NTT tentang penyimpangan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp. 1.687.257.498,10 dari total Rp. 7,9 miliar yang diduga dilakukan Bupati Ende, Drs. Don Bosco M. Wangge kala masih menjabat sebagai Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (PPO) Kabupaten Ende pada tahun 2006 dan 2007.
Dalam surat bernomor: R-212/01-20/01/2011 tanggal 19 Januari 2011, KPK meminta Kajari Ende segera menindaklanjuti dugaan korupsi tersebut ke tahap penyidikan. Para saksi-saksi, termasuk Don Wangge diharapkan dapat segera diperiksa. Sehingga proses hukumnya bisa berjalan cepat sesuai harapan masyarakat Kabupaten Ende.
Permintaan yang sama juga datang dari Kejaksaan Tinggi (Kajati) Provinsi NTT. Bahkan melalui surat No. 82/P.3/fd.1/02/2011 tanggal 2 pebruari 2011, Kajati NTT meminta Kajari Ende sesegera mungkin melakukan penyidikan dan hasilnya rutin dilaporkan ke Kajati NTT.
Permintaan KPK dan Kajati NTT ini cukup beralasan. Sebab dalam berkas Laporan Hasil Audit dan Investigasi (LHAI) BPKP NTT tanggal 16 Maret 2009 menyebutkan, dugaan korupsi dana DAK disinyalir dilakukan Don Wangge secara bersama-sama dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan para Kepala Sekolah (Kepsek) penerima DAK.
Dalam LHAI, Kepala BPKP Perwakilan NTT, Justan R. Siahaan menjelaskan, dugaan penyimpangan dana DAK terdiri dari pengadaan buku referensi dan alat peraga tahun 2006 dan 2007 yang tidak sesuai ketentuan, Pengadaan meubeulair 2007 yang tidak sesuai ketentuan dan Rehabilitasi gedung sekolah 2007 yang juga tidak sesuai ketentuan.
Hasil audit menunjukkan bahwa beberapa materi pengaduan terbukti dengan kerugian negara sekurang-kurangnya sebesar Rp. 1.456.283.896,10 dan penerimaan pajak kurang dipungut sebesar Rp. 230.973.602,00 yang rinciannya sebagai berikut : (1) Terjadi kerugian keuangan negara sekurang-kurangnya sebesar Rp. 257.344.750,00 atas inisiatif/rabat/diskon yang diterima secara pribadi oleh Kepala Sekolah/Ketua dan Tim Rehabilitasi Ruang Kelas & Pengadaan Sarana Sekolah pada 36 SD/MI penerima DAK tahun 2006. (2) Terjadi kerugian keuangan negara sekurang-kurangnya Rp. 805.000.000,00 atas inisiatif/rabat/diskon yang diterima secara pribadi oleh para Koordinator dan Kepala Sekolah/Ketua dan Tim Rehabilitasi Ruang Kelas & Pengadaan Sarana Sekolah pada 62 SD/MI penerima DAK tahun 2007. (3) Terjadi kerugian keuangan negara sebesar Rp. 36.369.146,10 atas pemakaian bahan bekas pembangunan gedung sekolah SDI Onekore IV sebesar Rp18.921.574,66 dan tidak dikerjakannya sebagian pekerjaan rehabilitasi gedung sekolah SDI Ngaluroga sebesar Rp17.447.571,40. (4) Terjadi kerugian keuangan negara, atas mark up pembelian meubeulair sekurang-kurangnya pada 12 sekolah SD/MI sebesar Rp. 32.570.000,00. (5) Tidak dipungut dan disetornya penerimaan negara sebesar Rp. 106.756.364,00 terdiri dari PPN sebesar Rp. 70.036.364,00 dan PPh sebesar Rp. 36.720.000,00 atas pembelian sarana pendidikan dan perpustakaan kepada 3 rekaan pemasok, untuk SD/MI penerima DAK tahun 2006. (6) Tidak dipungut dan disetornya penerimaan negara sebesar Rp.124.217.238,00 terdiri dari PPn sebesar Rp.109.442.500,00 dan PPh sebesar Rp14.774.738,00 atas pembelian meubeulair kepada pihak ke tiga oleh sekolah SD/MI penerima DAK tahun 2007. (7) Gedung sekolah SDI Onekore IV yang dibangun belum dapat dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan mengajar siswa.
“Terjadi penyimpangan-penyimpangan tersebut disebabkan oleh adanya kebijakan tidak tertulis dari Kepala Dinas dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kepada sekolah – sekolah untuk melakukan pengadaan buku dengan metode pembelian langsung,” papar Kepala BPKP NTT dalam suratnya.
Desakan agar Kajari Ende segera menyidik kasus tersebut juga pernah dilontarkan Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Ende, HA. Djamal Humris.
“Jika ditemukan adanya penyimpangan keuangan yang merugikan negara, seharusnya segera di proses sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.
Sesuai petunjuk teknis (juknis), kata Humris, seharusnya DAK jatah Dinas PPO Ende dicairkan oleh bendahara umum Setda Kabupaten Ende secara langsung ke sekolah-sekolah penerima DAK. Tapi juknis ini tidak dipatuhi oleh Don Wangge cs. Buktinya, dana tersebut justru dicairkan oleh Don Wangge dan dibagi sendiri oleh Don Wangge cs ke sekolah-sekolah penerima DAK.
“Kita mendukung penuh langkah Kejari Ende untuk mengusut tuntas kasus ini,” imbuhnya.

APBD TA. 2009 Rp. 12,3 Miliar
Selain dana DAK 2006 dan 2007, DPRD Ende juga menemukan adanya penyimpangan APBD Kabupaten Ende TA. 2009 sebesar Rp12,3 miliar yang dihitung berdasarkan perbandingan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Ende dengan LHAI Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).
“Setelah kami mencermati LKPj Bupati Ende atas pelaksanaan APBD 2009 dengan laporan hasil pemeriksaan BPK, ditemukan adanya penyimpangan keuangan negara sebesar sekitar Rp. 12,3 miliar,” ucap Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Ende, H Pua Saleh.
Menurut Saleh, berdasarkan LKPj yang disampaikan Don Wangge, realisasi untuk pos pendapatan sebesar Rp. 451,1 miliar, namun berdasarkan laporan hasil pemeriksaan BPK, arus kas masuk pada tahun 2009 sebessar Rp. 454,3 miliar. Jika LKPj Bupati Ende disandingkan dengan hasil pemeriksaan BPK, maka memunculkan perbedaan angka sekitar Rp3 miliar lebih.
Perbedaan angka juga terjadi pada pos belanja daerah. Realisasi anggaran pada pos belanja daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK sebesar Rp. 447,7 miliar, namun dalam LKPj Bupati Ende hanya tertera Rp. 456,8 miliar atau selisih sekitar Rp. 9 miliar.

“Indikasi penyimpangan terjadi juga pada kas keluar, termasuk tunjangan fungsional guru sebesar Rp. 9,1 miliar, namun dalam LKPj Bupati realisasi belanja untuk tunjangan guru dilaporkan sudah dibayar pada Desember 2009, padahal realisasi pembayarannya baru dilakukan pada Maret 2010. Kenjanggalan lain yang ditemukan dalam LKPj Bupati Ende adalah realisasi anggaran mengalami surplus sekitar Rp. 6,6 miliar, namun dilaporkan terjadi defisit sebesar Rp. 5,6 miliar,” paparnya (by. chris parera)