Gemerlap Dancing Hall Bangkitkan Gairah Laki-laki


Sekelompok warga Kota Kupang tampak duduk enjoi dipojok lantai disko Dancing Hall (DH), Flobamor Mall Kupang. Lengkingan house music terdengar keras membisingkan teling, minuman keras seakan menjadi teman setia sembari mata terpana menatap tarian seronok yang disuguhkan sejumlah penari yang hanya mengenakan pakaian bikini ala kadarnya.  Tubuh yang meliuk-liuk terus beraksi seakan ingin membangkitkan gairah biologis kaum laki-laki.
Keglamoran hidup para pencinta hiburan malam di Kota Kupang boleh dibilang semakin gila. Kelompok sosial yang satu ini berasal dari semua strata, tidak terkecuali para pejabat eksekutif maupun legislatif.
Suatu malam di akhir pekan lalu, penulis mencoba menelusuri aktivitas DH. Alamak…! Dengan modal “saribu sah” pengunjung sudah bisa berdekat-dekatan dengan si penari. Asalkan uang itu disisipkan dibalik BH atau celana yang dipakai si penari.
Bagi pengunjung baru, andrenalinnya pasti terpacu saat penari menyajikan gerakan hotnya. Belum lagi jika turut tergoda melahap minuman keras yang on line dijual. Diantara dentuman musik, sesekali terdengar gemerincing minuman keras yang sedang diramu para bar tender. Alhasil goyangan hot yang dipadu pengaruh alkohol terkadang membuat sebagian pengunjung DH menjadi nekad. Namun dari sekian banyak, ada juga pengunjung yang datang ke DH hanya sekedar untuk melototi paras dan tubuh mulus para penari. Perasaan malu dan dosa seakan tak pernah ada dalam benak mereka. 
Oh yang pembaca, penulis juga sempat kesulitan menemukan lokasi DH. Ceritanya begini! Awalnya penulis hanya mendengar cerita teman-teman kalau lokasi DH berada di areal Flobamor Mall. Bermodalkan informasi ini, penulis lantas mendatangi Flobamor Mall. Usut punya usut, ternyata arena disko DH berada persis dibagian belakang Flobamor Mall.
Dari kejauhan, tampak di depan pintu masuk diskotik berdiri beberapa petugas keamanan berseragam biru-biru.  Sesekali terlihat mereka menyodorkan secarik kertas kepada para pengunjung yang ingin masuk. Ternyata itu adalah karcis atau tiket masuk ke lantai disko. Hal yang sama berlaku juga bagi penulis. Kepada penulis sang pengaman meminta Rp. 20 ribu. Sebagai bonusnya penulis diberi sebotol minuman penyegar. Singkat kata penulis pun langgeng memasuki  arena pertunjukan hot.
Saat pertama kali memasuki lantai danca, penulis langsung disambut lantunan musik disko. Dibagian barat, diatas panggung, tampak sekelompok perempuan cantik dan seksi sedang meliuk-liukan tubuh mereka sambil mengikuti irama musik. Dibagian timur kaum pria duduk secara berkelompok sembari menikmati minuman alkohol. Sesekali terlihat wanita-wanita cantik mondar-mandir menebar pesona agar menarik minat para lelaki hidung belang.
Dibagian lain tampak disc joky (dJ) memainkan piringan hitam. Lampu ruangan yang sengaja dibuat remang-remang nyaris membuat pengunjung tak saling kenal. Hiruk pikuk diskotik terasa memacu jantung. Belum lagi sejumlah perempuan lokal yang ikut nimbrung di arena danca sesekali terlihat melekatkan tubuh mereka dibelahan dada teman kencannya. Intrik-intrik vulgar dilakoni tanpa rasa malu. Adegan demi adegan yang membangkitkan birahi diperagakan tanpa peduli dengan orang sekitar.
Sejumlah pria mengaku, tiap malam, jumlah pengunjung DH berkisar antara 50 sampai 200 orang. 40 persen diantaranya adalah kaum wanita lokal. Namun tidak sedikit juga ABG-ABG Kota Kupang yang datang secara berpasangan.
Tepat pukul 23.30 Wita, dari balik pintu arena disko, tampak keluar sejumlah penari yang hanya mengenakan BH dan celana yang digunting menyerupai celana dalam. Lekukan tubuh mereka terlihat jelas. Indah memang. Tapi tidak sedeikit juga kaum pria yang tergoda ingin merekuh kenikmatan tubuh mulus para penari.
Sesaat kemudian para penari mulai menyuguhkan tarian erotis. Sesekali mereka rebahkan tubuh ke panggung, kedua kakinya dibuka lebar hingga bagian selangkangan terlihat memikat. Terkadang bokong sengaja di tonjolkan sembari melempar senyum seakan mengundang pengunjung untuk menerawang imajinasi seks. Lebih edan lagi, para pengunjung diperbolehkan menyentuh bagian-bagian terlarang asalkan sembari memasukan uang, berapa pun jumlahnya. “Seribu sa ju bisa bu…”, ujar salah seorang pengunjung.  Untungan-untungan jika penari menerima “sumbangan” sebesar Rp. 5 ribu hingga Rp.50 ribu. Sementara kaum wanita lokal terlihat bersungut-sungut ketika melihat pria lokal menghamburkan uang hanya sekedar untuk menyentuh bagian vital si penari. Astaga! (Catatan : Ruddy Tokan)

Kades Nonokbatan Aniaya Warganya Hingga Pingsan


sergapntt.com [Kefa] – Kepala Desa Nonokbatan, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Ferdinandus Kiik Usboko tega menganiaya Yoseph Kebo, warganya sendiri, hingga pingsan tak sadarkan diri.
Persitiwa ini bermula ketika anak Yoseb Kebo bernama Yohanes Jemi Kebo secara tak sengaja menyentuh buah dada puteri sang Kades bernama Doly Usboko. Menurut, Jemi Kebo, ketidaksengajaanya itu terjadi ketika ia dan teman-teman sekelasnya, termasuk Doly secara beramai-ramai berebutan minum air usai mengikuti pelajaran praktek olah raga di sekolah mereka, yakni SMP Bian, Biboki Anleu pada Selasa, 15 Mei 2007 lalu. Jemi juga tak menyangka jika sepulang sekolah, Doly mengadukan peristiwa itu ke orang tuanya. Buntutnya, orang tua Doly menuntut orang tua Jemy membayar denda sebesar Rp10 juta. Karena tak disanggupi, keesokan harinya Kades Usboko lantas mencari dan memukuli Jemy di sekolahnya. Setelah itu, si kades memaksa Jemy agar segera memberitahukan kepada orang tuanya agar secepatnya membayar denda yang diminta. Sepulang sekolah, Jemy pun mengadukan perbuatan dan permintaan sang kades kepada orang tuanya. Namun belum sempat Jemy menyampaikan derita yang ia alami, sang kades justru meminta petugas Hansip untuk memanggil ayahnya di rumah. Singkat cerita, ayah Jemy pun dijemput paksa, digiring ke rumah kades lalu dikeroyok beramai-ramai hingga babak belur. Buntutnya, ayah Jemy terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena menderita luka lebam yang cukup parah.
“Saya tidak sanggup bayar denda sebesar itu pak, saya ini petani. Apalagi kasus itu terjadi secara tidak sengaja. Saya dan keluarga sudah minta maaf. Tapi, kami dipaksa harus bayar denda sebesar Rp 10 juta. Saya hanya sanggup bayar Rp. 2 juta. Karena itu, pak Kades dan keluarganya ramai-ramai keroyok saya sampai saya tidak sadarkan diri. Awalnya, saya dijemput oleh hansip, katanya mau selesaikan masalah di rumah pak kades, tetapi sampai disana ternyata saya langsung dikeroyok secara beramai-ramai”, papar ayah Jemy saat ditemui Sergap NTT di RSUD Kefamenanu belum  lama ini.
Ditemui ditempat terpisah, Jemy Kebo mengaku, insiden yang dialami Doly Usboko itu terjadi secara tak sengaja.
“Saat itu saya tidak sengaja. Begitu selesai olahraga, kami berebutan minum air, entah bagaimana, saat itu sikut tangan saya menyenggol buah dada Doly” ucap Jemy, singkat.
Kapolsek Biboki Anleu, Cornelis Leto menjelaskan, kasus penganiayaan tersebut kini sedang diproses.
Kami sudah mendapatkan pengaduan dari korban. Sejumlah saksi juga sudah kami mintai keterangan. Untuk sementara, tiga orang sudah kami tetapkan sebagai tersangka, antara lain Kepala Desa Nonokbatan, Ferdy Kiik Usboko, Manek Ropi dan Maksi Elu. Kami akan proses kasus ini hingga tuntas,” tegasnya.
Kades Jual Beras Raskin
Sementara itu, Kades Naob, Kecamatan Noemuti, TTU, Ayub Metkono nekad menjual besar Raskin (Rakyat Miskin) jatah untuk warga Desa Naob demi kepentingan dirinya sendiri. Aksi Ayub itu dipergoki oleh warganya sendiri. Buntutnya, ratusan warga Desa Naob yang dipimpin Gaspar Taneo dan Agus Sonbay melakukan protes ke DPRD TTU.
Selain melakukan protes, warga juga membawa barang bukti berupa tiga karung beras raskin yang disita dari tangan Sekretaris Desa (Sekdes) Naob, Frans Nitjano, dan dua anggota keluarganya, Helena Nitjano dan Martinus Nitjano. Kedatangan mereka diterima oleh Ketua dan Anggota Komisi B DPRD TTU, Yoseph Hani dan Aloysius Taolin. Kepada warga, Hani berjanji akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan dan meminta pertanggungjawaban sang Kades. Saat itu, Hani juga memanggil dan meminta staf Bagian Ekonomi Setda TTU untuk menjelaskan kepada warga berapa jumlah beras yang dialokasikan ke Desa Naob dan berapa jumlah warga Desa Naob yang berhak menerima beras itu.
“Kasus ini kita sudah dengar dan kami akan turun ke desa bapak ibu sekalian untuk menyelesaikan masalah ini. Kami minta sebuah surat aduan dari warga ke dewan. Kita akan turun dalam waktu dekat ini”, ucap Taolin sembari meyakinkan warga.
Gaspar Taneo dan Agus Sonbay mengaku, awal tahun 2007 lalu, sebanyak 337 Kepala Keluarga (KK) di Desa Naob telah mengumpulkan uang Rp 65.000 per KK. Uang itu untuk membeli beras OPK dan telah diserahkan ke Kades.
“Kami ini warga yang mau ikut aturan, kita sudah ikut aturan tetapi kita dipermainkan oleh Kepala Desa. Dia sudah jelas tertangkap basah sedang menyuruh ojek untuk membawa beras 3 karung ke sekertarisnya Frans Nitjano. Ketika kami tanya dan mendesak untuk segera membagikan beras 4 tahap itu, malah dia balik mengancam dengan mau mempolisikan kami. Karena itu kami datang ke dewan untuk mengadu”, papar Sonbay. (by. judith taolin) 

Wartawan Gadungan Dihajar Massa Hingga Babak Belur


sergapntt.com [Kefa] – Ngaku sebagai wartawan dan Pengurus Uyelindo NTT, Johanis Kefi, ST. MM diduga beberapa kali melakukan penipuan, menghamili gadis, sebut saja Maria dan menjalin kasih dengan istri orang di Desa Sunsea, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Buntutnya, pria asal Kefamananu, ibu kota TTU, yang selalu menenteng secarik surat berlogo Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI) itu babak belur dihajar massa di Perbatasan Negara Republica Demokratica de Timor Leste (RDTL) dan Republik Indonesia (RI).
Aksi penipuan juga dilakukan Kefi di Desa Napan, Miomafo Timur, TTU. Dengan modal selembar surat dari HIPSI atas nama Dewan Pengurus Pusat HIPSI dengan motto Mengemban Aspirasi Bangsa berdasarkan Surat Keputusan (SK) Dirjen Sospol Depdagri Nomor: 72 1998 yang beralamat di Jl. Berlian Raya Kav. 664 Sumur Batu-Jakarta, Telp (021) 4201167 Fax (021) 0223179  itu,  Kefi meminta sejumlah uang kepada masyarakat Miomafo Timur sebagai imbalan peliputan jurnalistiknya. Bahkan, berdalih mencari ongkos pesawat untuk pulang ke Jakarta, Kefi nekad “menodong” sejumlah aparat TNI dan Polisi yang bertugas di Pos Perbatasan RDTL-RI.
Sejumlah warga yang ngaku turut menganiaya Kefi mengatakan, selain mengaku sebagai wartawan, Kefi juga mengaku sebagai salah satu pengurus Uyelindo NTT. Merasa aksinya aman dan sering berjalan mulus, Kefi mulai merambah kejahatan lain, yakni memacari dan menghamili anak gadis orang. Tak puas dengan itu, Kefi pun “menjamah” istri orang. Karena tak tahan dengan ulah Kefi, puluhan warga perbatasan RDTL-RI dari Desa Napan beramai-ramai mencari dan mengeroyok Kefi hingga babak belur.  
“Kami tidak puas pak, karena dikecewakan berulang-ulang oleh Kefi. Dia mengaku sebagai wartawan dari Jakarta dan pengurus Yayasan Uyelindo. Dia tipu kami sejak Januari lalu,” ujar salah seorang tokoh masyarakat Desa Napan, Martinus Taeki saat ditemui Mingguan Berita Rakyat  dikediamannya pada Minggu, 1 Juli 2007 lalu.
Hal senada juga diungkapkan Shuhali, Komandan TNI Perbatasan RI-RDTL Wilayah Desa Napan, Miomafo.
“Sejak awal, saya sudah curiga dia itu wartawan gadungan. Karena waktu saya tanya identitasnya, dia hanya menyodorkan sebuah surat kosong yang berkop HIPSI. Saya tetap tidak percaya, lalu dia tidak bisa jawab beberapa pertanyaannya yang saya ajukan, “ papar Shuhali sembari menyodorkan sebuah surat berlogo HIPSI yang disita dari Kefi.
Sejumlah wartawan yang bertugas di TTU mengaku sangat menyesal dengan tindakan dan perbuatan Kefi.
“Kita sangat sesalkan sikap Kefi yang mengaku sebagai wartawan lalu melakukan tindakan penipuan kepada warga dan amoral kepada beberapa gadis desa. Saya meminta kepada warga untuk selalu kritis karena wartawan, terutama wartawan yang tidak memiliki identitas yang jelas dan dalam melakukan tugas jurnalis. Kita berharap polisi segera meringkus oknum-oknum yang ngaku sebagai wartawan, tapi tidak beridentitas yang jelas”, pinta Yan Meko, pria yang ngaku sebagai Kontributor RCTI dari TTU. (by. judith taolin)

Ny, J. Ati, Si Pendoa Yang Tega Menipu Para Pencari Kerja


sergapntt.com [KUPANG] – Terkadang orang menghalalkan segala cara demi menggapai kenikmatan duniawi. Tidak terkecuali dengan Ny. J. Ati. Hanya karena ingin memiliki uang dalam jumlah banyak, warga Jl. Nangka, Kota Kupang yang mengaku sehari-hari berprofesi sebagai pendoa itu  tega menipu puluhan pencari kerja asal Kabupaten Ngada dan Nagekeo yang berdomisili di Kupang. Para pencari kerja ini dijanjikan akan dipekerjakan di Bank NTT atau Pertamina Cabang Kupang. Hanya saja tiap orang diharuskan terlebih dahulu membayar uang pelicin sebesar Rp 8 juta. Hasilnya, dalam seminggu Ny. J. Ati berhasil meraup uang ratusan juta rupiah.
Aksi penipuan tersebut terungkap tatkala 29 Mei 2007 lalu, sekitar pukul 16.00 WITA, Tim WRC Sergap NTT memergoki Ny. J. Ati sedang bertransasksi dengan puluhan pencari kerja asal Ngada dan Nagekeo di kediaman Sipri Radho —salah seorang dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang asal Nagekeo— di Kampung Nasipanaf, Kecamatan Penfui Timur, Kabupaten Kupang. 
Kepada Sergap NTT, Ny. J. Ati mengatakan, para jebolan SMA dan Sarjana yang telah membayar uang pelicin sebesar Rp 8 juta itu akan dipekerjakan di Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang. 
“Mereka akan saya kasi masuk di Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang. Saya jamin itu. Setiap orang bayar Rp 8 juta. Itu untuk uang pelicin. Saya tidak mencari untung dari ini semua. Saya hanya mau membantu mereka yang belum punya pekerjaan. Untuk yang ke Bank NTT, mereka akan dipanggil tanggl 16 Juni 2007. Sedangkan yang ke Pertamina mereka akan dipanggil awal Juli 2007 ini,” ujar Ny. J. Ati
Menurut dia, aksi penipuan ini bukan yang pertama. Kegiatan tersebut sudah sering ia lakukan atas persetujuan Direktur Utama (Dirut) Bank NTT dan Kepala Pertamina Cabang Kupang. 
“Kami buat ini karena ada persetujuan dari pak Direktur Bank NTT, pak Amos Corputy dan pak Kepala Pertamina Cabang Kupang. Uang yang saya kumpul ini akan saya setor ke Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang,” tegasnya.
Ny. J. Ati mengaku, perbuatan ini ia lakukan berawal dari kedekatan dirinya dengan Dirut Bank NTT dan Kepala Pertamina Cabang Kupang.
“Saya biasa layani doa di rumah mereka. Kami sudah biasa kerjasama,” ucap Ny. J Ati yang dibenarkan Sipri Radho dan istrinya.
Sementara itu, Sipri Radho meminta Sergap NTT untuk tidak mempublikasikan sepak terjang Ny. J. Ati. Semua itu, kata Radho, demi kebaikan para calon karyawan Bank NTT dan Pertamina Cabang Kupang asal Ngada dan Nagekeo yang telah direkrut Ny. J. Ati.
“Jangan dimuat dulu Chris. Kami malu. Kami tidak dapat apa-apa dari ini semua. Tolong adik-adik kita ini, supaya mereka bisa kerja di Bank NTT dan Pertamina. Selama ini kan susah orang kita bisa kerja disana, mungkin dengan cara ini kita punya anak-anak bisa masuk ke sana,” pintanya. 
Sayangnya, janji-janji yang pernah diucapkan Ny. J.Ati tidak pernah terbukti. Ketika dihubungi lagi via hand phonenya bernomor: 085239364753, Ny. J. Ati hanya meminta agar para calon karyaran bersabar, bersabar, bersabar dan bersabar terus.
“Sekarang saya lagi layani doa di rumah pak Direktur Bank NTT. Saya sedang usaha ni pak, bersabar saja. Sesuatu akan indah pada saatnya,” pinta NY. J. Ati.
Rupanya aksi kelompok J. Ati itu sudah banyak diketahui oleh tokoh masyarakat asal Ngada di Kupang. Hanya saja kejahatan terselubung ini dirahasiakan. Buktinya, Senin, 11 Juni 2007 lalu, sekitar pukul 10.00 Wita, ketika melintas di belakang Kantor DPRD NTT, tiba-tiba Sergap NTT distop oleh Sekertaris Badan Ketahanan Pangan NTT, Martinus Jawa. Tokoh asal Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada yang ketika itu baru saja keluar dari Kantor DPRD NTT meminta Sergap NTT untuk mendiami ulah kelompok J Ati.
“Baru-baru, katanya ade dong ada pi gerebek rumahnya pak Sipri Radho ko? Tidak usaha tulis ade. Jangan potong orang punya nasib,” timpal Jawa seraya berlalu pergi. 
Ironisnya, pengakuan Ny. J. Ati dan harapan Martinus Djawa itu dibantah oleh Kepala Pertamina Cabang Kupang, Viktor Lumbangaol.
“Saya nggak kenal tu, itu ibu. Lagian kita di Pertamina belum ada penerimaan karyawan. Kalau pun ada, itu wewenang pusat, bukan kita. Kita disini justru sedang berusaha mengurangi jumlah pegawai. Sekarang kita lagi macet pak. Lalu siapa yang terima karyawan? Itu nipu pak. Nggak benar tu. Tangkap aja tuh,” tegas Lumbangaol saat ditemui Sergap NTT di kantornya pada Kamis, 28 Juni 2007 lalu.
Kata Lumbangaol, kini Pertamina Kupang maupun Pertamina Cabang lainnya yang tersebar di NTT, tidak lagi menerima karyawan. Itu sudah menjadi keputusan Pertamina Pusat demi penghematan anggaran Pertamina.
“Kemarin-kemarin banyak yang tipu begitu pak. Bahkan ada yang pake nama kami untuk peras orang. Minta uang pake transfer lewat rekening lah, dan lain sebagainya. Itu kerja yang nggak benar. Polisi sebaiknya tangkap aja orang kayak gitu. Bikin susah orang aja,” tegasnya.
Permintaan agar polisi segera membekuk kelompok J. Ati disampaikan juga oleh Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH saat ditemui Sergap NTT di ruang kerjanya belum lama ini. Menurut Mantan Bupati Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dua periode itu, aksi penipuan tersebut harus segera dihentikan agar tidak menambah jumlah korban.
“Sekarang ini orang cenderung berlindung dibalik Agama. Legitimasi politik, legitimasi ekonomi berlindung dibawah legitimasi rohani. Orang kayak begitu sebaiknya ditangkap saja. Polisi harus tangkap pelakunya. Ini untuk menjaga agar korban tidak bertambah banyak,” ujar Gubernur Tallo.
Sementara itu, Direskrim Polda NTT, Kombes Pol. Ricky H.P Sitohang mengatakan aksi Ny. J. Ati ini murni penipuan.
“Ya, sudah jelas pasti bermuara pada penipuan. Jika ada bukti faktual maka semua yang terlibat dalam rangkaian masalah ini akan kena termasuk pak Amos Corputy. Cuma si korban berikan uang itu, kapasitas dia apa? Contohnya begini, ada yang mau test polisi dengan memberikan sejumlah uang sebagai pelicin ke oknum polisi. Ternyata hasilnya si penyuap tidak lulus, lalu dia tuntut, otomatis dua-duanya kena. Penyuap juga diproses, yang disuap juga diproses. Kan korban sudah baca ketentuan bahwa test polisi itu tidak dipungut apapun. Jika anda bisa memberikan bukti ke polisi, maka kita akan mencari korbannya walau dia tidak melapor. Sehingga kita bisa tindak lanjuti kasus ini. Ini yang dinamakan hukum sebab akibat,” tegas Ricky.
Sejumlah karyawan Bank NTT mengaku kenal dan pernah mendengar aksi “gerylia” kelompok J. Ati. Hanya saja mereka tak percaya, jika Direktur Bank NTT, Amos Corputy terlibat seperti yang diutarakan Ny. J. Ati.
“Kami pernah dengar itu. Tapi tidak mungkinlah Bank NTT kerja kayak gitu,” ujar salah seorang karyawan Bank NTT.
Anehnya Direktur Bank NTT, Amos Corputy terkesan menghindar saat akan ditemui pada Jumat, 6 Juli 2007 lalu. Padahal sebelumnya, Corputy melalui sekretarisnya telah berjanji akan menerima Sergap NTT pukul 14.00 Wita.
Sejumlah sumber di Bank NTT mengaku, Corputy cukup kenal dekat dengan Ny. J. Ati.
“Kayaknya pak Amos kenal itu ibu. Kami sudah dengar lama, tapi betul atau tidak, kami kurang tahu,” papar karyawan Bank NTT lainnya. (by. cis/rud)

Kita Tidak Akan Buka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda!


sergapntt.com [KUPANG] – Desakan Wiliam Bram dan Koordinator Penanggulangan TKW Bermasalah asal NTT di Bandara Juanda, Oktovianus Pekaata agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT segera membuka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda ternyata ditanggapi dingin oleh Kepala Dinas Nakertrans NTT, Drs. I.N Conterius. Bahkan Conterius membantah pengakuan Bram bahwa ada 16 TKW asal NTT yang mati dibunuh di Surabaya.
“Kita tidak akan buka Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda. Karena dasar hukumnya tidak ada. Sebab, itu ada biayanya. Sebagai dinas teknis, kami sudah sampaikan permintaan warga NTT di Surabaya itu kepada Gubernur NTT, tapi karena dasar hukumnya, seperti Perda (Peraturan Daerah) belum ada, ya… tidak bisa,” ujar Conterius.
Menurut Conterius, desakan Bram dan Pekaata itu terkesan mengada-ada. Sebab, tindak kekerasan  dan jumlah korban yang mati dibunuh oleh kelompok Yudi tidak seperti yang dipaparkan Bram dan Pekaata.
“Yang kami tahu, pada 2005 lalu itu, TKW asal NTT yang mati dibunuh hanya satu, dan itu sudah kami urus semua. 16 orang itu dari mana? Masa ada orang NTT yang mati begitu banyak koq kami tidak respon? Karena selama ini, setiap TKI asal NTT yang terlibat masalah, kami selalu terlibat menyelesaikan masalah yang dihadapi para TKI itu. Masa yang ini kami tidak tahu, yang benar saja,” tandasnya.
Khusus untuk mengatasi kepulangan TKW yang menjadi korban perampokan di Surabaya, kata Conterius, ada mekanismenya.
“Selama ini kita sudah bangun kerjasama dengan Pemerintah Daerah Jawa Timur, kalau ada orang kita yang kena masalah di Surabaya, maka itu akan diurus oleh pemerintah setempat.  Dan, PJTKI penyalur para TKW itu harus bertanggung jawab, termasuk mengurus kepulangan TKI sampai ke kampung halamannya,” tegas mantan Kepala Biro Kepegawaian Setda NTT itu.
Conterius meminta, jika Bram dan Pekaata mengetahui ada TKW NTT lainnya yang mati dibunuh, sebaiknya segera melapor ke polisi setempat.
“Perimintaan mereka (Bram dan Pekaata-red) sudah kami jawab. Kita tidak bisa bentuk perwakilan disana. Itu harus ada dasar hukumnya. Tapi kami perlu sampaikan terima kasih kepada warga NTT yang ada di Surabaya yang selama ini sudah membantu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi para TKW. Nah kalau mereka tahu bahwa ada TKW asal NTT lain yang mati dibunuh, sebaiknya segera lapor polisi,” pintanya.
Ironisnya, sejumlah sumber di Kota Kupang mengaku, sesungguhnya desakan dan data korban TKW yang disampaikan Bram dan Pekaata tersebut dibuat-buat. Sebab, data korban itu sengaja diciptakan agar mampu mengsukseskan desakan pembentukan Kantor Perwakilan NTT di Bandara Juanda yang pada gilirannya akan dinikmati Bram dan Pekaata.
“Ini kerja mafia pak. Jangan percaya. Data itu tidak benar. Itu versi mereka saja. Bahkan Kantor Perwakilan NTT belum dibentuk saja, mereka sudah berani buat surat pakai kop Kantor Perwakilan NTT. Bermodalkan surat itu mereka lalu meminta-minta uang kesana-kemari. Kerja kayak apa itu,” papar berbagai sumber.
Kegiatan Bram dan Pekaata yang masuk kategori Pungutan Liar (Pungli) itu dibenarkan juga oleh Conterius, Kasubdin Huban Saker Dinas Nakertrans NTT, I.G.L Ardika dan Kasubdin PPTK Dinas Nakertrans NTT, Abraham Djamin.
“Menurut laporan, ya…seperti itu. Tapi secara resmi melalui surat, kami sudah ucapkan terima kasih kepada mereka, karena selama ini mereka sudah peduli terhadap TKW asal NTT,” ucap Conterius yang diamini Ardika dan Djamin. (by. cis)