Muktar (30) dan Sumiyati (25), Suami Istri Yang Dipaksa Bercerai


sergapntt.com [KUPANG] – BAK hidup di jaman Siti Nurbaya. Sungguh dramatis kisah cinta Muktar Male dan Sumiyati Binti Burhan. Kendati telah menikah dan disahkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, namun ternyata akad nikah mereka itu tidak diakui oleh orang tua Sumiyati dan Pengadilan Tinggi (PT) Agama Kupang.
Ruang sidang Pengadilan Tinggi Agama Kupang yang terletak di bilangan Kota Baru, Kota Kupang, pada Kamis (31/5) lalu tampak ramai dikerubuti warga yang ingin menyaksikan jalannya persidangan cerai antara Muktar dan Sumiyati.
Namun persidangan yang dipimpin Drs. Khamidmudin, MH, Dra. Wija Astuti dan Drs. Syamsul Hadi itu terkesan aneh dan dipertanyakan Muktar dan Sumiyati. Sebab Muktar dan Sumiyati mengaku mereka tidak pernah berniat atau ingin bercerai. Apalagi sampai gugat menggugat di pengadilan.
“Saya dan Sumiyati sudah menikah. Kami bahagia dengan pernikahan kami ini. Kami sudah tinggal serumah. Tapi yang ribut justru bapaknya Sumiyati. Beliaulah yang gugat kami agar kami cerai. Alasannya hanya karena dia ingin Sumiyati jadi PNS dulu baru boleh menikah,” papar Muktar.
Ironisnya, Majelis Hakim justru meluluskan permintaan Burhan Harun, ayah kandung Sumiyati. Palu hakim memutuskan, pernikahan Muktar dan Sumiati yang telah disahkan KUA Amanuban Selatan tanggal 13 Maret 2007 lalu dibatalkan demi hukum. Toh begitu, Majelis Hakim memberi waktu 14 hari agar Burhan menimbang ulang gugatan yang ia ajukan. Majelis Hakim berharap Burhan mau berubah dan bersedia menjadi Wali Nasab (orang tua wali nikah), sekalian merelakan Muktar dan  Sumiyati menikah ulang. Sayang, permintaan Majelis Hakim ini tidak digubris oleh Burhan. Burhan tetap pada pendiriannya bahwa Muktar dan Sumiyati harus dipisahkan. 
Putusan Majelis Hakim tentu saja membuat Muktar radang. Sebab menurut dia, dalam ajaran Islam ada Hadits Nabi yang menyebutkan tiga perkara yang tidak bisa ditunda, yakni pertama; orang yang meninggal harus segera dikubur, kedua; orang yang punya utang harus segera dibayar, dan ketiga; orang yang sudah punya kemauan nikah segera dinikahkan.
“Itu artinya, secara Syariah Islam sudah sah, hanya secara hukum negara saja yang dibatalkan. Syariah Islam itu kan kata Tuhan, apa kita manusia bisa melebihi Tuhan. Mestinya, selain keputusan pembatalan nikah, harus ada item putusan lain yakni segera menunjuk KUA Kecamatan untuk ulang menikahkan kami. Tidak perlu tunggu Wali Adhol,” tandasnya.  
Menurut Muktar, sebelum menikah ia dan Sumiyati sempat berpacaran selama enam tahun. Itu dimulai sekitar awal tahun 2001.
“Selama pacaran saya biasa keluar masuk di rumah orang tua istri saya. Bahkan waktu saya sampaikan niat saya dan Sumiyati untuk menikah, orang tua Sumiyati tidak keberatan. Hanya waktu itu mereka minta agar saya bersabar hingga Sumiyati selesai kuliah. Ya…saya setuju. Anehnya setelah Sumiyati selesai kuliah dan saya menyampaikan lagi niat untuk menikahi Sumiyati, orang tuanya mulai onar. Alasan mereka bahwa Sumiyati baru selesai kuliahlah, belum punya pekerjaanlah, belum punya SK CPNS-lah. Sangat tidak realistis. Kenapa? Lain halnya kalau Sumiyati sudah pernah ikut test CPNS dan dinyatakan lulus tinggal tunggu SK, itu berangkali saya bisa terima, tapi ini kan test saja belum. Sementara saya dan Sumiyati sudah sepakat untuk segera menikah. Tapi, walaupun begitu waktu itu saya dan Sumiyati tetap berusaha sabar. Apalagi waktu itu saya juga belum punya pekerjaan tetap,” tandasnya.
Ditengah kepanikan dan keinginan untuk naik pelamin pernikahan, Muktar dan Sumiyati mulai berusaha kesana kemari untuk mendapat pekerjaan. Muktar berpikir, mungkin dengan cara ini orang tua Sumiyati mau menerimanya sebagai menantu. Hasilnya, Muktar diterima sebagai guru honorer di SMA Muhamadyah Kupang.
 
“Setelah dapat kerja, saya pendekatan lagi. Dengan begini barangkali bapanya Sumiyati bisa berubah pikiran dan mau menikahkan kami. Ternyata apa yang saya perkirakan itu benar. Saya diterima. Bahkan lamaran keluarga saya diterima secara adat oleh pak Hasan Kikong mewakili keluarga Sumiyati pada tanggal 27 Mei 2006. Tapi karena terjadi salah paham soal jumlah orang saat omong adat, urusan selanjutnya jadi berantakan. Waktu itu bapaknya Sumiyati minta utusan keluarga saya untuk bicarakan adat cukup tiga orang. Tapi yang datang waktu itu delapan orang. Itu yang membuat bapaknya Sumiyati tersinggung. Ketersinggungan itu juga yang dibawa terus oleh Bapaknya Sumiyati hingga sekarang,” paparnya.
XXX
 “Seharusnya orang tua itu tidak egois”
SIKAP besar kepala yang ditunjukan Burhan Rahman ternyata membuat Sumiyati kecewa berat. Srikandi jebolan FAPERTA Undana Kupang itu mengaku tak tahu motivasi apa hingga orang tuanya terus berusaha menghalang-halangi niat dan tekadnya untuk sehidup semati dengan Muktar Male, pria idamannya. Berikut penuturan Sumiyati;
Bapak masih berprasangka bahwa semua yang terjadi ini adalah rekayasa bapak pung kakak, Hasan Kikong. Padahal ini terjadi murni karena kita tidak mau terjatuh dalam lembah yang seperti bapak bilang zinah di pengadilan itu.
Terus terang saya sangat kecewa dengan Bapak.  Karena sikap bapak itu, saya sempat lari ke Larantuka dan tinggal di rumah teman. Beberapa hari disana, lewat HP (hand phone), saya disuruh pulang, katanya mereka mau urus saya nikah. Tapi ternyata tidak juga.Saya benar-benar kecewa. Karena itulah makanya pada hari Sabtu, 24 Februari 2007, saya memutuskan minggat dan pergi ke rumah keluarganya kak Muktar.
Sudah berulang kali saya dan kak Muktar melakukan pendekatan dengan orang tua saya, tapi selalu tidak berhasil. Ya…karena bapak saya tetap pada pendiriannya. Saya capek. Oleh karena itu saya dan kak Muktar akhirnya nekad ambil jalan pintas mendaftar diri dan nikah di KUA Amanuban Selatan.
Ketika bapak tahu bahwa saya dan kak Muktar sudah menikah, bukannya senang, malah bapak lapor polisi untuk tangkap kami. Waktu itu kami hampir diciduk polisi. Syukurnya kami bawa bukti buku nikah, sehingga polisi tidak jadi tangkap kami. Tapi waktu itu saya dan kak Muktar sempat tidur di sel polisi. Waktu itu juga bapak dan mama rayu saya untuk pulang rumah, tetapi saya tetap tidak mau. Saya bilang ke mereka, saya mau pulang asalkan pulang sama-sama dengan kak Muktar.
Kepada Majelis Hakim yang menyidangkan perkara kami ini saya perlu nyatakan sikap, pertama;saya tidak bisa menghadiri persidangan karena akan mengalami beban psikologi yang cukup berat bila Majelis Hakim memutuskan membatalkan pernikahan kami. Toh demikian, saya tetap menghormati dan menaati keputusan tersebut. Kedua; bila pernikahannya dibatalkan karena kelemahan prosedur hukum, maka demi hukum pula saya memohon Majelis Hakim agar pernikahannya diperbaharui berdasarkan aturan yang berlaku. Ketiga; memohon kepada ayah saya selaku Wali Nasab yang sah untuk menikahkan saya kembali dengan suami saya di hadapan Majelis Hakim setelah persidangan.  Keempat; apabila ayah kandung saya menolak, maka saya mengajukan permohonan Wali Hakim kepada Pengadilan Agama Kupang selama rentang waktu empat belas hari (berlakunya keputusan berkekuatan hukum tetap) untuk menikahkan kembali saya dengan suami saya berdasarkan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Kelima; selama saya mengajukan permohonan Wali Hakim untuk menikah, saya mohon ayah dan siapapun yang pernah mengganggu saya, untuk tidak lagi menghalangi saya menuju nikah pembaharuan, karena sesuai aturan perempuan dewasa (21 tahun) mempunyai hak asasi untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk menikah. Usia saya saat ini sudah 25 tahun. Keenam; selama menunggu proses persidangan penetapan Wali Hakim untuk pernikahan, saya memohon perlindungan pada Polresta Kupang dari segala gangguan yang dapat membatalkan pernikahan saya dengan kak Muktar.
Saya dan kak Muktar pada prinsipnya mau berdamai dengan orang tua, tapi orang tua saya yang tidak mau. Yah mau bilang apa lagi. (by. rdy)

Dandan HarusTunjukkan Sikap Kenegarawan


Paket Drs. Daniel Adoe-Drs. Daniel Hurek alias Dan-Dan yang sebelumnya terseok-seok menjejaki litani pilkada Kota Kupang, akhirnya terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kupang. Deretan harapan pun mulai digantungkan ke pundak paket blasteran Rote-Flores ini. Namun yang paling utama Dan-Dan diminta harus bisa berlaku sebagai seorang negarawan. Paling tidak bisa bersahabat dengan lawan politiknya. Haruskah? Berikut komentar Pengamat Politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Drs. Yusuf Kuahaty, M.Si saat Ditemui Edy Diaz belum lama ini di Kupang.

APA komentar Anda terhadap proses Pilkada Kota Kupang?
Proses Pilkada di Kota Kupang secara umum telah berjalan secara demokratis. Indikatornya antara lain, pertama para calon yang diusung masing-masing partai politik kelihatannya sudah merupakan hasil dari proses organisasi, kecuali beberapa partai politik yang mengusung calonnya itu kelihatannya diwarnai ‘pergulatan’, tapi toh hasilnya bisa diterima juga, dan tanpa disangka paket itu justru yang akhirnya berhasil.
Kedua, rakyat Kota Kupang telah menggunakan haknya untuk menentukan siapa pemimpin terbaik, dan kita tidak mendengar adanya intervensi atau tekanan-tekanan dari pihak lain terhadap pemilih dalam memberikan hak suaranya.
Ketiga, KPUD, Panwas maupun masyarakat kelihatannya sudah melaksanakan fungsinya dengan baik sehingga dapat kita katakan Pilkada di Kota Kupang telah berhasil. Dan lebih dari itu, Pilkada yang sudah dimenangkan Dandan itu pada akhirnya semua unsur berkecenderungan menerimanya dengan baik, sehingga kita lihat sebetulnya ada satu nilai lebih dari masyarakat bahwa mulai muncul kesadaran berdemokrasi, terutama pada kalangan elite yang tidak mau mempolitisasi pilkada menjadi lebih ruwet.
Menurut Anda dimana letak keunggulan Dandan?
Keunggulan Dandan ini tidak lepas dari budaya demokrasi yang sekarang sedang bertumbuh di kalangan masyarakat Indonesia umumnya dan sampai masyarakat Kota Kupang. Budaya yang tumbuh itu adalah demokrasi yang solider dengan orang yang katakanlah memperoleh perlakukan, penekanan yang kurang baik—tentu didalam perjalanan karier politik dan tugas-tugasnya. Saya kira selama ini hampir sebagian besar masyarakat Kota Kupang mendapat suguhan berita-berita dari media masa tentang bagaimana seorang yang namanya Pa Dan itu mendapat perlakukan-perlakuan yang kurang pantas begitu. Tentu dengan tugas-tugas seperti itu masyarakat paling cepat jatuh hati, ibah dan empati. Itu yang meningkatkan popularitas Pa Dan.
Selain itu,  saya lihat dinamika Pa Dan sendiri sebagai seorang figur cukup keras dalam memperjuangkan diri dan pasangannya. Maksudnya, sekalipun masyarakat itu memberikan rasa ibah pada paket ini, tapi kalau paket ini sendiri tidak menunjukkan kemauan atau konsistensi sikap yang sungguh-sungguh didalam program-program maupun didalam upaya lebih mensosialisasikan dirinya, maka keraguan orang terhadap figur itu tetap saja ada. Pa Dan dengan paketnya itu terus bangun kepercayaan masyarakat pada dirinya secara terstruktur, sistematis secara baik. Saya lihat dukungan terhadap dia di situ, semakin hari semakin tinggi melebihi paket-paket lainnya. Jadi, kemenangan Dandan itu lebih pada itu, mereka berdua mampu membangun dirinya sesuai apa yang diharapan masyarakat. Jadi, saya kira walaupun masyarakat ibah tapi kalau kita sendiri tidak membangun diri, kepercayaan orang terhadap kita kecil. Saya kira sama dengan apa yang terjadi pada SBY. Keutungan Pa Dan ada pada kemampuannya membangun komunikasi yang sangat bagus dengan masyarakat. Saya kira keunggulannya disitu, bukan pada kelebihan materi. Dan hal lain yang saya lihat, dia mampu membaca psikologi masyarakat. Itu hebatnya Pa Dan sehingga setiap pernyataan-pernyataannya yang dia kemukaan langsung mengena hati masyarakat.
Berarti faktor figuritas lebih kuat dari pengaruh partai sebesar apapun seperti Golkar dan PDIP yang menjagokan Jonas Salean dan Djidon de Haan?
Sangat-sangat betul. Faktor figuritas itu sangat penting. Itu yang selalu saya bilang faktor kualitas figur; kemampuan manajerial, kemampuan intelektual, kemampuan konseptual. Itu harus betul-betul nampak di sini, dan ini ditunjukkan oleh paket Dandan. Dan lebih dari itu dia punya keunggulan membaca psikologi dan merebut hati masyarakat. Dia tidak andalkan uang dan segala macam, tapi dia mencoba mencuri hati masyarakat. Kita bisa lihat kelebihan pada Pa Dan, dia memang politisi yang punya jam terbang panjang dan saya kira itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya kualitas, tanpa itu tidak bisa. Pa Dan punya kualitas dan didukung pengalaman politik yang panjang yang membuat dua selalu memposisikan diri sebagai orang yang lemah, orang yang teraniaya/tersiksa. Itu yang langsung kena hati masyarakat, apalagi masyarakat kita masyarakat religius yang selalu jatuh hati pada orang-orang yang teraniaya.
Apa sebenarnya yang menjadi harapan masyarakat untuk Dandan setelah dilantik nanti?
Pertama, Dandan harus tunjukkan sikap kenegarawan sebagai seorang pemimpin. Sikap ini sangat diperlukan untuk bisa menetralisasi luka-luka yang timbul selama Pilkada. Sebab bagaimanapun juga paku yang sudah tertanam kalau dicabut pasti ada bekasnya. Karena itu ditutntut jiwa kenegarawan yang tinggi dari Pa Dan untuk segera melakukan (semacam rujukan). Mungkin saja selaku manusia pasti paku yang ditanam kemudian dicabut ada bekasnya, tapi sebagai seorang negarawan pasti dia akan berusaha sedapat mungkin untuk tidak terlalu memperlihatkan sikap-sikap bersahabat dengan lawan-lawan politiknya, karena bagaimanapun juga ketika dia sudah jadi pemimpin, dia toh akan membutuhkan dukungan/bantuan/kerjasama dengan semua pihak, termasuk lawan politik.
Dua, seperti yang sudah dikemukakan selama kampanye, barangkali itu juga menjadi sesuatu yang melandasi dia menjalankan kepemimpinannya ke depan. Sikap konsistensi dengan apa yang dia kemukakan saat kampanye mestinya harus sungguh-sungguh diperbaiki selama memimpin.
Tiga, diharapkan dia mempercepat perbaikan, perubahan, peningkatan tentang pembangunan di Kota Kupang, apa itu yang berkaitan dengan yang mendasar, air, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Keempat, membangun konsep pemahaman atau kemitraan dengan legislatif. Itu harus terus dijaga karena tanpa legislatif, Pa Dan juga akan alami kesulitan dalam kepemimpinan. (*)

Djemi Lassa, ST, Mantan Penjual Kue Yang Sukses Kelola Usaha Jual Beli Komputer


sergapntt.com – Sambil menjunjung sekeranjang aneka kue buatan ibunya, Djemi Lassa berjalan menyusuri lorong-lorong di Kota SoE. Sesekali langkahnya berhenti, pandangannya diarahkan ke deretan rumah-rumah yang dilewati, berharap ada yang mau membeli dagangannya. Aktivitas ini menjadi rutinitas kegiatannya sepulang sekolah atau saat liburan. Dingin Kota SoE tak membuat pria kelahiran SoE 13 Juni 1977 itu menyerah. Kakinya terus melangkah terbang demi meraih cita-cita yang diidam-idamkan.
Itu hanyalah sekelumit cerita masa kecil yang terus dikenang Djemi —begitulah Djemi Lassa biasa disapa— hingga sekarang. Kini putra kedua dari Alexander Lassa dan Ny. Domina Juliana Ang itu telah beralih profesi sebagai pebisnis jual beli komputer. Bahkan pemilik Timoresse Komputer dan Petra Gemilang itu, kini mulai diperhitungkan kalangan pengusaha jual beli komputer di Kota Kupang.
Kisah keberhasilan seseorang pasti beda-beda. Banyak suka duka yang dialami sebelum meraih nasib yang lebih baik. Begitulah yang dialami Djemi. Bermodalkan semangat ingin maju seperti orang sukses kebanyakan,  sejak kecil Djemi tidak malu melatih diri untuk mandiri, walaupun harus memulai dengan hanya sebagai penjual kue keliling. Toh dari sinilah ia mendapat ilmu dagang yang sesungguhnya. Bahkan profesi ini pula yang mendorong Djemi berhasil meraih gelar sarjana di Universitas Kristen Petra Surabaya.
Disiplin ilmu yang didapat memang S1 Teknik Sipil. Namun semasa kuliah Djemi lebih banyak bergelut dengan dunia usaha kontraktor. Belakangan usaha kontraktor ini mengilhami dirinya untuk menjadi seorang pengusaha.
“Saya bersyukur karena semasa kuliah saya banyak mendapat pengalaman yang membangun, mendidik dan membentuk pribadi saya menjadi seorang yang berani, analitis, creative dan tidak putus asa,” ujarnya.
Bermodal uang pinjaman dari sang kakak, usai mengenyam pendidikan di bangku kuliah, Djemi memutuskan untuk mulai berbisnis jual beli computer second. Alhasil karena kelihaiannya mengelolah bisnis komputer,  enam bulan kemudian ia mampu mendirikan sebuah perusahaan yang ia beri nama Timorese Gemilang. Perusahaan ini bergerak dibidang penjualan alat-alat computer dan digital.
“Saya bukan orang yang pintar computer. Apalagi semasa kuliah saya tidak pernah punya computer. Tapi saya punya semangat untuk belajar tentang komputer. Saya tidak pernah malu untuk belajar, walaupun saya harus belajar dari komputer milik orang lain. Saya mengerti tentang computer itu secara autodidak,” ucapnya.
Kendati terbilang sukses dengan usahanya, suami dari Eliyana Wirawan itu tidak lupa diri. Rendah diri dan ramah dalam bertutur kata menjadi ciri khas kepribadian pria tampan yang satu ini. Ia tahu bahwa apa yang dimilikinya sekarang ini adalah anugerah Tuhan. “Praise the Lord, usaha yang saya bangun berkembang pesat,” tandasnya.
Alhasil, sejak tahun 2005 Timorese Komputer mendapat kepercayaan sebagai  Authorized Service Canon (ASC) atau Servis Resmi Canon untuk semua produk jenis Printer Canon dan Scanner Canon. Bahkan  merk-merk produk terkenal seperti IT ternama seperti Intel, Tohiba, Acer, HP, Samsung, Kingston, Logitec, Sony, MSI, Visipro, Gygabite dan lain sebagainya juga dilimpahkan kepada Djemi.
Kepercayaan kepada Djemi tidah hanya berhenti disitu. Setahun setelah bergumul dengan bisnis komputer, Djemi dipercayakan oleh sebuah perusahaan Swis sebagai Distributor SKF (bearing sepeda motor) di NTT. Bahkan di tahun yang sama ia diminta menjadi distributor DENSO (Sparepart seperti Busi Motor, mobil dan electrical part). Rejeki datang silih berganti. Djemi kerja dengan penuh tanggung jawab. Karena itulah ia kembali mendapat kepercayaan sebagai distributor MTR (Spare part sepeda motor) dan diawal tahun 2007 resmi menjadi distributor Ban Mizzle untuk area NTT.
Walaupun begitu Djemi tidak mau terlena dengan kesuksesan dan kepercayaan yang telah diraih. Ia terus mengembangkan usaha komputernya. Di awal tahun 2007, Djemi melakukan expansi dengan membuka perusahaan baru bernama Petra Gemilang.
“Perusahaan ini adalah perusahaan penjualan peralatan computer dengan focus pada computer build up, accesoris dan  notebook. Saat ini Timorese Komputer sudah Mempunyai cabang dibeberapa tempat, antara lain di  Kabupaten TTS, TTU dan Rote Ndao. Akhir tahun 2007 ini kami akan melakukan axpansi usaha ke Atambua. Prinsip saya dalam berbisnis adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, profesional serta penuh kejujuran. Namun yang utama dalam berbisnis adalah kreatif. Jangan pernah berhenti kreatif kalau kita ingin menjadi seorang pengusaha yang tangguh. Jangan pernah berhenti berjuang sebelum kita memperoleh kesuksesasan,” paparnya.
Menurut Djemi, jiwa enterpreuner atau jiwa bisnis bukan karena factor genetic atau keturunan. Siapapun bisa melakukannya. Sebab yang sulit adalah bagaimana seseorang memiliki karakter enterpreuner seperti tidak pernah putus asa, berani rugi, berani memulai, kreatif, jujur, rendah hati serta  bertanggungjawab.
“Karakter-karakter seperti ini, mudah dibaca, tapi tidak mudah untuk dimiliki. Karena memerlukan perjuangan dan doa yang sungguh-sungguh,” timpalnya.
Bagi Djemi, aktivitas bisnis merupkan kegiatan yang mengasyikan. Namun harus dipahami bahwa bisnis bukan sekedar jualan produk. Bukan hanya soal harga!
“Kalau berbisnis hanya berpikir tentang harga semurah mungkin, semua orang bisa. Tapi itu bukan bisnis namanya. Banyak aspek dalam berbisnis yang perlu diperhatiakan secara seksama, termasuk marketing. Modal bukan penentu bagi seseorang berhasil menjalani usaha atau tidak. Itu paradigma yang salah. Sebab kesuksesan menjadi enterpreuner hanya membutuhkan seseorang yang memiliki karakter enterpreuner,” tegasnya.
Oleh karena itu Djemi sangat mengharapkan agar kedepan di NTT muncul figur-figur pemimpin daerah yang berjiwa atau paling tidak memiliki kepedulian soal enterprenur.
“Saya memimpikan di Kupang ini muncul pemimpin-pemimpin yang punya visi agar di NTT muncul generasi-generasi muda yang bertanggung jawab, berjiwa dan berkarakter enterprenur. Karena hal ini akan berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi suatu daerah. Generasi ini hanya bisa ada jika pemimpin kita punya kepedulian soal enterprenur. Jangan ada lagi mental untuk selalu ingin menjadi PNS. Di daerah kita ini, masih banyak butuh enterpreuner-enterpreuner muda yang kedepan bisa turut memajukan daerah yang kita tinggal sekarang ini,” tambahnya.
Seandainya harapan Djemi ini bisa terwujud, seandainya generasi muda NTT memiliki jiwa juang seperti Djemi, kedepan NTT pasti lebih maju dari hari ini. Selamat berjuang Djemi!  (by. cep)

Muktar (30) dan Sumiyati (25), Suami Istri Yang Dipaksa Bercerai


sergapntt.com [KUPANG] – BAK hidup di jaman Siti Nurbaya. Sungguh dramatis kisah cinta Muktar Male dan Sumiyati Binti Burhan. Kendati telah menikah dan disahkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, namun ternyata akad nikah mereka itu tidak diakui oleh orang tua Sumiyati dan Pengadilan Tinggi (PT) Agama Kupang.
Ruang sidang Pengadilan Tinggi Agama Kupang yang terletak di bilangan Kota Baru, Kota Kupang, pada Kamis (31/5) lalu tampak ramai dikerubuti warga yang ingin menyaksikan jalannya persidangan cerai antara Muktar dan Sumiyati.
Namun persidangan yang dipimpin Drs. Khamidmudin, MH, Dra. Wija Astuti dan Drs. Syamsul Hadi itu terkesan aneh dan dipertanyakan Muktar dan Sumiyati. Sebab Muktar dan Sumiyati mengaku mereka tidak pernah berniat atau ingin bercerai. Apalagi sampai gugat menggugat di pengadilan.
“Saya dan Sumiyati sudah menikah. Kami bahagia dengan pernikahan kami ini. Kami sudah tinggal serumah. Tapi yang ribut justru bapaknya Sumiyati. Beliaulah yang gugat kami agar kami cerai. Alasannya hanya karena dia ingin Sumiyati jadi PNS dulu baru boleh menikah,” papar Muktar.
Ironisnya, Majelis Hakim justru meluluskan permintaan Burhan Harun, ayah kandung Sumiyati. Palu hakim memutuskan, pernikahan Muktar dan Sumiati yang telah disahkan KUA Amanuban Selatan tanggal 13 Maret 2007 lalu dibatalkan demi hukum. Toh begitu, Majelis Hakim memberi waktu 14 hari agar Burhan menimbang ulang gugatan yang ia ajukan. Majelis Hakim berharap Burhan mau berubah dan bersedia menjadi Wali Nasab (orang tua wali nikah), sekalian merelakan Muktar dan  Sumiyati menikah ulang. Sayang, permintaan Majelis Hakim ini tidak digubris oleh Burhan. Burhan tetap pada pendiriannya bahwa Muktar dan Sumiyati harus dipisahkan. 
Putusan Majelis Hakim tentu saja membuat Muktar radang. Sebab menurut dia, dalam ajaran Islam ada Hadits Nabi yang menyebutkan tiga perkara yang tidak bisa ditunda, yakni pertama; orang yang meninggal harus segera dikubur, kedua; orang yang punya utang harus segera dibayar, dan ketiga; orang yang sudah punya kemauan nikah segera dinikahkan.
“Itu artinya, secara Syariah Islam sudah sah, hanya secara hukum negara saja yang dibatalkan. Syariah Islam itu kan kata Tuhan, apa kita manusia bisa melebihi Tuhan. Mestinya, selain keputusan pembatalan nikah, harus ada item putusan lain yakni segera menunjuk KUA Kecamatan untuk ulang menikahkan kami. Tidak perlu tunggu Wali Adhol,” tandasnya.  
Menurut Muktar, sebelum menikah ia dan Sumiyati sempat berpacaran selama enam tahun. Itu dimulai sekitar awal tahun 2001.
“Selama pacaran saya biasa keluar masuk di rumah orang tua istri saya. Bahkan waktu saya sampaikan niat saya dan Sumiyati untuk menikah, orang tua Sumiyati tidak keberatan. Hanya waktu itu mereka minta agar saya bersabar hingga Sumiyati selesai kuliah. Ya…saya setuju. Anehnya setelah Sumiyati selesai kuliah dan saya menyampaikan lagi niat untuk menikahi Sumiyati, orang tuanya mulai onar. Alasan mereka bahwa Sumiyati baru selesai kuliahlah, belum punya pekerjaanlah, belum punya SK CPNS-lah. Sangat tidak realistis. Kenapa? Lain halnya kalau Sumiyati sudah pernah ikut test CPNS dan dinyatakan lulus tinggal tunggu SK, itu berangkali saya bisa terima, tapi ini kan test saja belum. Sementara saya dan Sumiyati sudah sepakat untuk segera menikah. Tapi, walaupun begitu waktu itu saya dan Sumiyati tetap berusaha sabar. Apalagi waktu itu saya juga belum punya pekerjaan tetap,” tandasnya.
Ditengah kepanikan dan keinginan untuk naik pelamin pernikahan, Muktar dan Sumiyati mulai berusaha kesana kemari untuk mendapat pekerjaan. Muktar berpikir, mungkin dengan cara ini orang tua Sumiyati mau menerimanya sebagai menantu. Hasilnya, Muktar diterima sebagai guru honorer di SMA Muhamadyah Kupang.
 
“Setelah dapat kerja, saya pendekatan lagi. Dengan begini barangkali bapanya Sumiyati bisa berubah pikiran dan mau menikahkan kami. Ternyata apa yang saya perkirakan itu benar. Saya diterima. Bahkan lamaran keluarga saya diterima secara adat oleh pak Hasan Kikong mewakili keluarga Sumiyati pada tanggal 27 Mei 2006. Tapi karena terjadi salah paham soal jumlah orang saat omong adat, urusan selanjutnya jadi berantakan. Waktu itu bapaknya Sumiyati minta utusan keluarga saya untuk bicarakan adat cukup tiga orang. Tapi yang datang waktu itu delapan orang. Itu yang membuat bapaknya Sumiyati tersinggung. Ketersinggungan itu juga yang dibawa terus oleh Bapaknya Sumiyati hingga sekarang,” paparnya.
XXX
 “Seharusnya orang tua itu tidak egois”
SIKAP besar kepala yang ditunjukan Burhan Rahman ternyata membuat Sumiyati kecewa berat. Srikandi jebolan FAPERTA Undana Kupang itu mengaku tak tahu motivasi apa hingga orang tuanya terus berusaha menghalang-halangi niat dan tekadnya untuk sehidup semati dengan Muktar Male, pria idamannya. Berikut penuturan Sumiyati;
Bapak masih berprasangka bahwa semua yang terjadi ini adalah rekayasa bapak pung kakak, Hasan Kikong. Padahal ini terjadi murni karena kita tidak mau terjatuh dalam lembah yang seperti bapak bilang zinah di pengadilan itu.
Terus terang saya sangat kecewa dengan Bapak.  Karena sikap bapak itu, saya sempat lari ke Larantuka dan tinggal di rumah teman. Beberapa hari disana, lewat HP (hand phone), saya disuruh pulang, katanya mereka mau urus saya nikah. Tapi ternyata tidak juga.Saya benar-benar kecewa. Karena itulah makanya pada hari Sabtu, 24 Februari 2007, saya memutuskan minggat dan pergi ke rumah keluarganya kak Muktar.
Sudah berulang kali saya dan kak Muktar melakukan pendekatan dengan orang tua saya, tapi selalu tidak berhasil. Ya…karena bapak saya tetap pada pendiriannya. Saya capek. Oleh karena itu saya dan kak Muktar akhirnya nekad ambil jalan pintas mendaftar diri dan nikah di KUA Amanuban Selatan.
Ketika bapak tahu bahwa saya dan kak Muktar sudah menikah, bukannya senang, malah bapak lapor polisi untuk tangkap kami. Waktu itu kami hampir diciduk polisi. Syukurnya kami bawa bukti buku nikah, sehingga polisi tidak jadi tangkap kami. Tapi waktu itu saya dan kak Muktar sempat tidur di sel polisi. Waktu itu juga bapak dan mama rayu saya untuk pulang rumah, tetapi saya tetap tidak mau. Saya bilang ke mereka, saya mau pulang asalkan pulang sama-sama dengan kak Muktar.
Kepada Majelis Hakim yang menyidangkan perkara kami ini saya perlu nyatakan sikap, pertama;saya tidak bisa menghadiri persidangan karena akan mengalami beban psikologi yang cukup berat bila Majelis Hakim memutuskan membatalkan pernikahan kami. Toh demikian, saya tetap menghormati dan menaati keputusan tersebut. Kedua; bila pernikahannya dibatalkan karena kelemahan prosedur hukum, maka demi hukum pula saya memohon Majelis Hakim agar pernikahannya diperbaharui berdasarkan aturan yang berlaku. Ketiga; memohon kepada ayah saya selaku Wali Nasab yang sah untuk menikahkan saya kembali dengan suami saya di hadapan Majelis Hakim setelah persidangan.  Keempat; apabila ayah kandung saya menolak, maka saya mengajukan permohonan Wali Hakim kepada Pengadilan Agama Kupang selama rentang waktu empat belas hari (berlakunya keputusan berkekuatan hukum tetap) untuk menikahkan kembali saya dengan suami saya berdasarkan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Kelima; selama saya mengajukan permohonan Wali Hakim untuk menikah, saya mohon ayah dan siapapun yang pernah mengganggu saya, untuk tidak lagi menghalangi saya menuju nikah pembaharuan, karena sesuai aturan perempuan dewasa (21 tahun) mempunyai hak asasi untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk menikah. Usia saya saat ini sudah 25 tahun. Keenam; selama menunggu proses persidangan penetapan Wali Hakim untuk pernikahan, saya memohon perlindungan pada Polresta Kupang dari segala gangguan yang dapat membatalkan pernikahan saya dengan kak Muktar.
Saya dan kak Muktar pada prinsipnya mau berdamai dengan orang tua, tapi orang tua saya yang tidak mau. Yah mau bilang apa lagi. (by. rdy)

Kisah Pilu TKW asal NTT; Dirampok lalu Dibunuh


sergapntt.com – Sekelompok katak mulai kebingungan ketika lingkungan sekitarnya mulai mengering. Melihat mangsa yang tengah dirundung masalah, seekor burung bangau berusaha mencari siasat. Kepada komunitas ini, dijanjikanlah lingkungan yang lebih baik. Sang bangau pasang badan. Siap membantu mengangkut katak ke lokasi yang dijanjikan.
Setiap hari, seekor katak diangkut ke puncak bukit. Bukan ke lokasi gemah ripah seperti dijanjikan, tapi justru dibunuh untuk dimakan bersama keluarga bangau. Sementara di belahan lain, komunitas katak yang tak tahu tabiat keji itu tetap sabar menunggu. Mereka antre menunggu giliran, diangkut ke meja makan sang bangau.
Cerita itulah yang mengilhami tindakan keji kelompok Yudi Dariansyah (33) cs. Komplotan sadis ini, seperti dituturkan salah seorang tersangka, sengaja memilih para Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang baru pulang berburu ringgit di negeri jiran sebagai katak. Tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Seorang korbannya Esther Baniwine asal Nusa Tenggara Timur (NTT) lolos dari maut dan mengadukan kasus ini ke polisi.
Bermula dari informasi awal inilah, polisi akhirnya menemukan sederet nama korban TKW yang tak pernah tiba di rumahnya. Selain Esther yang bernasib mujur karena tetap hidup meski telah dijerat dengan seutas tali dan dibuang di kebun tebu Desa Wonoplintahan Prambon Sidoarjo, ada juga beberapa korban yang tinggal menyisakan nama.
Esther menuturkan, begitu menginjakkan kaki di Bandara Juanda, pembantu rumah tangga sebuah keluarga di Jl Murni 11 No 37 Bandar Malaka Malaysia itu sudah disongsong 4 pria dan satu wanita. Mereka yang mengaku biasa membantu para TKW asal NTT pulang kampung. Singkat cerita, Esther kemudian diboyong ke sebuah rumah di Perumahan Candra Mas Jl Wijaya Kusuma Blok FB/23C Sedati Sidoarjo. Lokasi perumahan yang berada di tengah persawahan berhadapan dengan perumahan Dinas TNI AL Pulungan Sedati itu, sebetulnya tak layak untuk lokasi penyekapan. Rumah berpagar setinggi orang dewasa itu, lokasinya berhimpitan di kawasan yang sudah dipadati penduduk. Tak ada yang keluar ketika rumah pintu pagar diketuk. Sejumlah tetangga yang ditemui mengaku tak terlalu banyak mengenal penghuni rumah.
Hingga kemarin, tak ada police line seperti layaknya tempat kejadian peristiwa (TKP) yang harus diamankan karena terjerat kasus. “Mungkin penghuninya sedang keluar,” ujar seorang pekerja yang tengah merenovasi rumah di sebelahnya.
Menurut Esther, dirinya bersama sejumlah TKW yang ditampung di lokasi itu memang tak pernah merasa dalam penyekapan. Mereka mengaku diperlakukan baik oleh para pelaku. Awalnya dia curiga karena paspor dan cek senila Rp 16 juta sempat diminta pelaku. Tapi karena alasan untuk memudahkan kepulangannya ke kampung halaman, kecurigaan itu pun pudar dengan sendirinya.
Puncak musibah terjadi pada Minggu (21/8) lalu. Esther yang tiba di Bandara Juanda 27 Juli itu diajak pulang lewat Bali. Minggu dini hari itu, Esther yang tak paham peta Sidoarjo sengaja dibawa keliling Sidoarjo hingga Surabaya. Di tengah jalan yang sepi, Esther yang duduk di samping pengemudi, dijerat dengan tali dari belakang oleh dua pelaku.
Tubuh gadis yang dianggap sudah meninggal itu, kemudian dibuang ke perkebunan tebu. Esther yang dalam kondisi sekarat itu kemudian ditemukan warga dan dirawat di RSUD Sidoarjo, keesokan harinya. Karena lukanya yang terlalu parah terutama di bagian leher, Esther baru mulai pulih dan bisa bicara selang 2 pekan kemudian.
Dari keterangan mulut mungil itulah polisi akhirnya meringkus Husainul Hamdi alias Andik (23) dan Sulianton alias Boy. Andik yang ditangkap di rumah kontrakan, tak pernah mengira rahasianya telah terbongkar. Karena itulah, warga Lombok Barat NTB ini, balik ke rumah yang sudah beberapa hari disanggong polisi.
Jajaran Polwiltabes Surabaya dan Polda Jatim yang geram melihat kesadisan sindikat ini ikut turun tangan. Sebuah sedan Timor milik Yudi yang juga pimpinan komplotan sudah disita polisi. Yang lebih mengejutkan lagi, eksekutor yang hanya dibayar Rp 600 ribu untuk aksinya itu, justru cenderung lebih memilih korbannya yang sama-sama satu daerah.
Belakangan, ketika Esther masih dalam perawatan, komplotan ini juga mengeksekusi Masri (33) pada Minggu 18 September 2006 lalu. Mayat Masri ditemukan warga Desa Praya Lombok Tengah NTB di sebuah parit Desa Tambaksumur Waru Sidoarjo. Selang 3 hari kemudian mereka juga mengeksekusi Sisilia (20) dan jazadnya dibuang di sebuah kawasan sepi di Kecamatan Bangil Pasuruan. Nasib yang sama juga dialami Deby, jenazahnya ditemukan di Ngoro Jombang.
Sulit Percaya
Kisah “kebaikan” komplotan sadis pada para calon korbannya juga dituturkan Margareta. Korban yang sebetulnya juga tengah menunggu giliran diantar ke ‘akherat’ itu mengaku heran karena langsung akrab dengan Yudi yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir taksi gelap di Bandara Juanda. Bahkan karena kebaikan yang selalu ditunjukkan, Margareta masih sulit percaya bahwa teman-temannya sesama TKW yang diantar komplotan itu, tak pernah sampai ke rumah seperti yang dijanjikan.
Ungkapan senada juga dilontarkan Any, Rika dan Sonbai yang juga menginap di rumah yang sama. Bulu kuduk Margareta berdiri ketika menuturkan pengalaman dirinya yang sempat dibawa jalan-jalan oleh anggota komplotan ini. “Untung saya tidak diapa-apakan,’ ujarnya.
Belakangan kabar santer pembunuhan para TKW asal NTT ini mulai mengusik perhatian warga setempat di Surabaya. Apalagi saat polisi menggeledah rumah itu, ditemukan sedikitnya 15 paspor di kamar Yudi. Sejumlah anggota masyarakat mulai berdatangan ke Mapolsek Waru. Salah seorang diantaranya Oktavianus yang menyebutkan 13 TKW asal daerahnya yang sudah pulang dari negeri asing, tapi tak pernah sampai ke rumah.
Dampak ‘musibah’ itu, para TKW yang hendak pulang ke kampung halamannya nyaris tak punya apa-apa. Semua hasil jerih payah memeras keringat di negeri orang, lenyap digondol sindikat. Untuk sementara kehidupan mereka menjadi tanggungan bersama warga RT 08/11 perumahan itu. Termasuk juga bantuan warga Surabaya asal NTT yang ikut trenyuh mendengar buruknya nasib para korban.
Warga NTT amat berharap jaringan ini bisa segera digulung. Polwiltabes Surabaya seperti ditegaskan Kapolwil Kombes Pol Sutarman pun tak main-main.
“Kami sudah turunkan tim khusus untuk memburu komplotan Yudi,” tegasnya. Semuanya berharap tak ada lagi ‘bangau-bangau’ lain yang begitu tega menipu komunitas ‘katak’ seperti itu.  (by. fortun)