Melkisedek L. Madi, “Bangkit” Setelah Temukan Rp 500 Di Dalam Alkitab


sergapntt.com – Kesuksesan tidak datang sendiri. Keberhasilan harus diusahakan. Rasa optimis dan jujur harus menjadi dasar setiap usaha yang digeluti. Begitulah prinsip dagang yang dijalani pemilik Pusat PLATINA Computer Kupang, Melkisedek L. Madi.
Tak ada yang menyangka jika sekali kelak, Eki ——–begitulah Melkisedek L. Madi biasa disapa—- akan menjadi orang sukses. Jangankan teman-teman, orang tuanya pun tak yakin jika Eki mampu hidup mandiri seperti pria dewasa kebanyakan. Maklum pria kelahiran Sumba, 22 Mei 1969 ini, sejak kecil dikenal sebagai anak yang manja. Rasa pesimis itu berubah tatkala melihat Eki berubah 180 derajat. Eki yang dulu manja, kini jadi seorang pekerja keras. Eki yang dulu tergantung pada pemberian orang tua dan sanak saudara, kini bergelimangan rupiah.  
Pria jebolan Universitas Widya Karya Malang itu mengaku, semasa kuliah dirinya sempat menjadi loper koran dan pedagang bakso. “Tapi, saya baru sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan, ketika suatu waktu saat liburan, saya kunjungi kakak saya yang nomor empat di Surabaya. Belum lama tinggal di rumah kakak, tiba-tiba kakak berangkat ke Jakarta. Sedihnya, ketika kakak berangkat, dia lupa memberi saya uang. Padahal waktu itu saya sama sekali tak punya uang. Praktis selama beberapa hari setelah kakak berangkat, saya kelaparan. Karena lapar itulah, saya lalu bongkar bangkir seisi rumah. Mulai dari lemari, laci bufet, sofa, pokoknya saya bongkar semua. Saya cari kalau-kalau ada uang yang kakak lupa. Tapi ternyata tidak ada,” paparnya.
Dalam kepanikan dan lemas karena perut kosong, tiba-tiba mata Eki tertuju pada sebuah Alkitab yang terletak di atas lemari. Seketika itu juga Eki langsung mengambilnya.
“Saya lalu buka lembar per lembar. Lama juga saya bolak balik itu Alkitab. Saya mulai putus asa. Saya harus makan apa. Saya mau minta ke mana. Sementara hidup di Jawa tahu sendiri kan. Tapi Tuhan Maha Tahu. Dalam kepanikan, tiba-tiba saya temukan uang Rp 500 di dalam Alkitab itu. Tanpa pikir panjang lagi, uang itu saya langsung beli ubi kayu. Ya…waktu itu saya hanya makan ubi kayu. Dari situ saya akhirnya sadar bahwa saya harus bekerja jika tidak kelaparan untuk kedua kalinya. Saat itu juga saya bangkit dari kegampangan hidup yang saya alami sejak kecil,” ujarnya.
Bersama sang kakak, tahun 1997 Eki mulai merintis bisnis Komputer di Kupang. Usaha yang digeluti ini maju pesat. Keuntungannya pun luar biasa. Karena itulah maka tahun 1999, Eki memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Hasilnya, Eki sukses menapaki bisnis komputer hingga sekarang. Namun hanya sedikit orang yang tahu bagaimana Eki sukses.
“Paling pertama harus jujur. Kita harus jaga kepercayaan orang. Yang kedua harus optimis dengan apa yang dikerjakan. Jika punya rasa optimis, maka segala sesuatu pasti berhasil. Yang berikut harus berani terima kegagalan,” tegasnya.    
Selain sukses menggeluti bisnis, suami dari Ny. Reni Marlina Un dan ayah dari Riky Putra Madi (Siswa kelas III SDK Asumpta, Kupang), Abraham Rikson Ady Medi dan Nisa Ariela Madi itu ternyata mahir menjaga keutuhan rumah tangga. Menurut dia, saling pengertian harus bisa mewarnai kehidupan berkeluarga.
“Saya ini orangnya optimis. Dalam berumah tangga, hal-hal penting harus kita ingat. Misalnya hari ulang tahun pernikahan, hari ulang tahun anak dan lain sebagainya. Itu salah satu contoh jika kita menghargai kehidupan berumah tangga. Kita juga harus mencintai keluarga seutuhnya, apapun resikonya,” tandasnya.  (by. cis)

Translok Papu’u Rusak, Potret Buruk Kinerja Disnakertrans dan Kontraktor


sergapntt.com – Bangunan proyek di lokasi Tranmigrasi Lokal (translok) Papu’u, Kabupaten Sumba Timur dalam kondisi memprihatinkan. Kinerja Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Disnakertras) pimpinan Yohanes Ola Samon, SH bersama rekanan kontraktor perlaksananya dipertanyakan.
Sejumlah penghuni translok Pupuu di Kelurahan Watumbaka, Kabupaten Sumba Timur disinyalir sudah meninggalkan lokasi translok. Pasalnya, mereka tidak puas dengan kondisi bangunan yang sudah mulai rusak.
Pantauan Mingguan beritas Rakyat di lokasi translok, bangunan yang dikerjakan sebanyak 75 unit rumah tinggal. Sebagian besar bangunan rumah dalam kondisi yang memiriskan hati. Betapa tidak? Ada rumah yang sejumlah tiang utamanya sudah dimakan rayap, sengnya bocor, lantainya pecah-pecah, bahkan ada yang temboknya bisa menjadi arena ‘ciluuk-baa’ karena jebol.
Sejumlah penghuni yang berhasil ditemui di tempat itu, mensinyalir jenis kayu yang dipakai sangat tidak layak. Ada yang menduga kontraktor menggunakan kayu mangga dan kapok hutan.
Sejumlah bangunan MCK tidak bisa dipakai lagi. Selain atapnya bocor, juga ditemui sejumlah WC yang dindingnya jebol. Tidak heran jika kondisi ini melahirkan sinisme bernada ironis dari sejumlah rekan kuli disket. “WC ini adalah WC jengkys, bebas hambatan muka belakang. Beratapkan langit dan berdindingkan angin sepoi-sepoi,” tukas seorang rekan wartawan mengomentari kondisi salah satu WC yang tidak lagi beratap.
Bernadus (30), warga RT 12/RW 24 yang ditemui di lokasi translok mengaku rumahnya sudah tidak layak lagi ditempati setelah seminggu dihuni. “Ketika masuk dulu, kami sudah disibukkan dengan membersihkan debu bubuk kayu yang dimakan rayap. Selain itu jika hujan turun air masuk kedalam rumah. Dinding  juga basah kena rembesan air, ” keluhnya, didampingi isteri dan anaknya yang masih balita.
“Kalau hujan kasihan kami, apalagi anak saya. Juga di WC, lubang closetnya tersumbat, ” imbuh isteri Bernardus.
Yacobus Djami dan  Benyamin Maramba Awang pun senada. Ketua RT 12/24, Mutu Pabundung pun mengamini keluhan warga. “Benar itu semua. Ketika kami baru tempati rumah, lantai rumah sudah pecah-pecah. Hal yang sama juga terjadi pada kayu bangunan. Intinya, rumah di translok itu belum ditempati saja sudah hancur. Saya lihat, ini akibat dari pemborong yang tidak teliti dan bekerja kurang tanggungjawab. Petugas Nakertrans juga sudah turun lokasi, namun setelah itu tidak ada langkah lanjutannya,” tukas Mutu.
Yacobus mengeluhkan tidak respeknya Disnakertrans terhadap berbagai keluhan warga. “Kami sudah sampaikan keluhan ini dalam Musrenbangdes namun hingga kini tidak ada tanggapan berarti dari dinas,” timpalnya dengan bahasa Indonesia dicampur bahasa daerah Sabu.
Kadis Nakertrans Sumtim, Yohanes Ola Samon, SH dalam bebebrapa kali kesempatan ditemui nampak mengeluarkan statemen yang berubah-ubah. Terkesan, Ola Samon menutupi-nutupi kondisi riil dengan mencari berbagi argumen pembenaran. Wartawan juga dipersulit untuk mendapatkan data berupa Skep dan RAB terkait pembangunan Translok  yang didanai dari DAU 2006 senilai dari Rp 1,3 miliar itu. Sebelumnya, ia menyanggupi untuk menunjukan data/dokumen proyek kepada wartawan. Namun, setelah realita translok Papuu diungkapkan Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus  Adoe ketika memberikan sambutan dalam Raker Adkasi akhir Mei lalu, Ola Samon justru menolak menunjukkan data/dokumen ketika diminta wartawan. “Sebenarnya apalagi yang mau dilihat. Semuanya sudah dikerjakan sebagaimana mestinya. Lagipula, kerusakan yang ditemui sudah dan akan diperbaiki oleh kontraktor. Juga, setelah saya konsultasikan dengan kawan-kawan, disepakati tidak boleh kami tunjukkan, karena itu adalah dokumen negara, ” tandasnya berkelit dengan nada tinggi.  
Di tempat terpisah, Kabag Pembangunan Setda Sumtim, Gerald Haling Palakehelu, SH, MSi menjelaskan bahwa pihaknya akan segera menyikapi  persoalan translok ini dengan menurunkan tim ke lokasi. Ya, “Kami akan turun cek lokasi. Jika memang bermasalah maka sudah barang tentu menjadi tanggungjawab kontraktor dan dinas terkait,” tukas Gerald.
Hal serupa ditegaskan Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Ir. Yuspan Pasande, MSi ketika ditemui di ruang kerjanya pekan lalu. Dia berjanji akan melihat langsung lokasi tersebut dan sesegera mungkin berkoordinasi dengan Nakertrans sebagai pengguna anggaran. “Kami akan tinjau lapangan dan mencek apakah rumah disana dikerjakan sesuai bestek atau tidak. Namun, terima kasih, ini info bagus untuk kami. Keluhan warga memang harus segera disikapi dengan turun langsung ke lapangan. Tentunya, kondisi di lapangan nantinya bisa menjadi catatan tersendiri bagi kami untuk lebih jeli melakukan pengawasan dan bila perlu dalam menentukan kontraktor harus lebih berhati-hati. Kontraktor juga harus bertanggungjawab jika memang keluhan warga itu realistis,” jelasnya.
Siap Perbaiki
Sementara itu, Direktur PT Tunas Berdikari, Ridwan Oentono yang menjadi kontraktor pelaksana pembangunan Translok Papu’u berjanji akan segera memperbaiki berbagai kerusakan yang dikeluhkan warga. “Kami akan perbaiki kerusakan yang ada. Kami tinggal menunggu koordinasi dengan Disnakertrans,” ujarnya, kepada Mingguan Berita Rakyat.
Dia menampik sinyalemen yang menyebutkan bahwa pihaknya bekerja tidak sesuai bestek. “Kami rasa telah bekerja sesuai bestek, sebelumnya kami kerjakan ada pengawas dan konsultan. Kenapa baru sekarang dipersoalkan? Memang kami akui, dari ribuan batang kayu yang digunakan untuk pembangunan rumah di lokasi tersebut, bisa saja tersisip kayu basah. Tapi terus terang kami tidak sengaja melakukannya,” tandas Ridwan yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Sumtim ini.
Tidak hanya itu, Ridwan juga berkelit, dengan menyatakan kerusakan yang terjadi bukan karena dikerjakan tidak sesuai bestek namun karena lamanya tenggat waktu rumah ditempati warga. Juga, karena ulah ternak yang dilepas berkeliaran. “Setelah selesai dibangun, tidak langsung ditempati warga. Ada tenggat waktu cukup lama. Saya juga curiga ada yang sengaja bikin rusak dan bisa juga karena diterjang ternak yang dilepas berkeliaran,” kilahnya.
Ridwan malah mensinyalir adanya permainan sejumlah oknum pengusaha lainnya untuk menjegalnya terkait pelaksanaan tender proyek translok di Yubu Wai. “Jujur, saya curiga  keadaan ini justru dimainkan oleh oknum-oknum lain yang ingin jegal saya. Apalagi dalam waktu dekat akan ada tender proyek Translok Yubuwai. BPK dan Banwas dalam laporan pemeriksaan sebelum proyek itu diserahterimakan tidak menemukan kesalahan dalam pelaksanaan proyek ini. Tapi tetap akan kami perbaiki, jika memang ada kerusakan. Jangankan dalam masa pemeliharaan, lewat masa pemeliharaan pun akan tetap kami perbaiki. Ini untungnya, jika proyek dikerjakan kontraktor lokal. Kami tidak bisa lari kemana-mana,” ungkap dia.
Rupanya Ridwan tak sekedar membual. Pantauan Mingguan Berita Rakyat di lokasi translok, nampak sejumlah rumah dan ragam kerusakannnya sudah diperbaiki. Namun demikian, masih ada warga yang merasa diperlakukan sebagai ‘anak tiri’, dikarenakan rumah mereka belum juga terjamah perbaikan.
Meski sempat nampak ragu dan takut untuk memberi keterangan, namun mereka akhirnya mau bercerita. Diduga mereka tak mau memberi penjelasan kepada pers karena telah diintimidasi oknum-oknum tertentu. Warga mengaku salut dengan kontraktor pelaksana yang mau memperbaiki kerusakan bangunan. “Tanggungjawab itu diwujudkan sejak dari awal mengerjakan pekerjaan proyek, bukan hanya setelah muncul masalah baru katakan bersedia bertanggungjawab,” tandas senada sejumlah pihak. (by. saw)

Tujuh Anggota DPRD Flotim plesir ke Surabaya


Perjalanan dinas  para wakil rakyat di tingkat pusat maupun daerah sejauh ini telah banyak menguras uang rakyat. Selalu saja ada alasan pembenaran untuk kegiatan-kegiatan yang tidak perlu. Misalnya yang dilakukan tujuh anggota DPRD Kabupaten Flores Timur (Flotim), yakni Mikael Betawi Tokan, Markus Suban Betan, Theodorus Wungubelen, Bactiar Lamawuran, M. Ibrahim Dasi, Batholomeus Dores dan Rofin Geroda Helan. Berdalih membela kepentingan rakyat, tujuh orang wakil rakyat itu plesir ke Surabaya. 
Ratusan juta rupiah yang dianggarkan dalam APBD Flores Timur untuk urusan Turba, Bimtek, Sosialisai dan lain sebagainya seakan tidak memuaskan tujuh wakil rakyat Flotim. Berdalih mendampingi Pemkab Flores Timur melakukan gugatan banding terhadap kelompok Andreas Ratu Kedang, cs ke Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya, DPRD Flotim merekomendasikan tujuh orang wakilnya ke Surabaya. Kini perjalanan dinas tujuh anggota DPRD itu menuai protes Drs. Azab Raya Buang. Dia menilai, keberangkatan tujuh DPRD ke Surabaya itu merupakan bentuk penggunaan keuangan yang tidak efisien.  ”Sidang gugatan itu kan urusan Eksekutif, tidak ada kaitan dengan DPRD. Karena DPRD bukan yang tergugat. Seharusnya DPRD mendesak Pemkab dan PNS yang menggugat  itu untuk segera menyelesaakan persoalan dan bukan gugat menggugat ke Surabaya. Itu urusan eksekutif murni, ada urusannya DPRD dengan perkara banding itu?”tandas Raya Buang
Mekanisme perjalanan memang kewenangan pimpinan dewan. Toh begitu, lanjut Raya Buang, penentuan dan penugasan untuk perjalanan dinas DPRD seharusnya melalui rapat pleno dewan. ”Tapi yang terjadi di lembaga ini justru yang pintar cari muka dengan Ketua DPRD, maka dialah yang akan terus melakukan perjalanan dinas. Pimpinan DPRD itu kan sifatnya kolektif kolegial, ko ketua merasa diri lebih berwenang”, tohoknya.
Protes Raya Buang bisa benar. Sebab perjalanan dinas yang dilakukan tujuh anggota DPRD tersebut sama sekali tidak memiliki makna ataupun manfaat. DPRD bermitra dengan Pemerintah, bukan berarti DPRD melakukan perjalanan dinas semaunya.  Hal itu yang perlu dicermati. Itu adalah kecerobohan DPRD Flotim. Apalagi keikutsertaan Rofin Geroda Helan dan Bartholomeus Dores yang keberangkatannya mewakili Fraksi masih dipertanyakan. Diduga, keikutsertaan Bartolomeus Dores dari Fraksi Partai Pelopor ini merupakan taktik pimpinan DPRD Flotim untuk membungkam Dores lantaran ia dikenal vocal mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah maupun DPRD yang salah.
Sementara itu, pantauan wartawan Mingguan Berita Rakyat menyebutkan, kegiatan di DPRD Flotim pasca penutupan masa sidang I Tahun 2007 nampak sepi. Ada sinyalemen yang berkembang di “Bale Gelekat”——–julukan gedung DPRD Flotim—–, para anggota DPRD yang tidak ikut ke Suarabaya sedang mempersiapkan pernyataan mosi tidak percaya terhadap pimpinan DPRD. Karena mereka menilai, keberangkatan tujuh anggota DPRD Flotim bersama Pemerintah itu merupakan bentuk konspirasi untuk menghabiskan uang rakyat.
Kekesalan soal perjalanan dinas ke Surabaya itu disampaikan juga Wakil Ketua DPRD Flotim, Drs. Silvester Demon Sabon. Menurut dia, ”refresing” ke Surabaya itu sangat tidak relevan dengan tugas dan kewajiban lembaga DPRD. 
”Jika perjalanan  dinas itu menjadi keharusan bagi lembaga DPRD atas undangan Pemerintah maka yang berkewajiban adalah  Komisi yang membidangi urusan pemerintahan, yakni Komisi A, bukan utusan Fraksi yang jelas-jelas bukan sebagai alat kelengkapan Dewan. Saya kira Ketua Dewan harusnya lebih tahu soal ini dan bukannya mengambil keputusan yang justru bertentangan dengan aturan,” kritiknya. (by. hans)

Lembata Terkontaminasi HIV/AIDS, Dua Pasien Dirawat di RSUD Lewoleba


sergapntt.com [LEWOLEBA] – Di gedung putih RSUD Lewoleba-Lembata, Tim DPRD NTT bertemu pasien kronis ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Mulanya, Tim berencana meninjau proyek pembangunan gedung Rumah Sakit yang dibiayai oleh dana Tugas Pembantuan dari APBN. Namun konsentrasi Tim sempat beralih ketika laporan dari dr. Maryono, Kepala RSUD Lewoleba bahwa ada pasien ODHA sedang dirawat. Pasien itu adalah seorang ibu berumur 47 tahun dan seorang lagi anak berumur 7 tahun.
dr. Maryono menerangkan bahwa Ibu 47 tahun berinisial FK memiliki 2 suami dan 4 orang anak. Sewaktu menikah dengan suami pertamanya, mereka pergi merantau ke Malaysia dan dikaruniai 1 anak. Sekembalinya mereka dari Malaysia, suaminya meninggal dunia dan FK pun memilih untuk kawin lagi dengan laki-laki lain. Dari suami keduanya itu, FK dikaruniai tiga orang anak. Sampai saat ini, semuanya masih hidup dengan dugaan terjangkit HIV/AIDS.
Setelah mendapat keterangan tersebut, Tim DPRD akhirnya memutuskan untuk menemui dua pasien ODHA di ruang ICU RSUD Lewoleba. Dari petugas medis yang merawat kedua pasien ini, FK dikabarkan sampai saat ini belum mengetahui penyakit apa yang sedang dideritanya. Hal ini disengaja, agar yang bersangkutan tidak shok ketika mendengar bahwa penyakit yang dideritanya adalah HIV/AIDS. Ketika menemui FK, Expo Lamaholot memperoleh informasi yang membenarkan keterangan petugas medis tersebut. Secara terbuka FK mengakui, jika penyakit yang sedang dideritanya itu sama dengan yang dialami oleh suami pertamanya. Lebih parah lagi, ketika anak-anak FK hendak datang dengan maksud menjenguk mamanya, mereka diperiksa dan ternyata semuanya menjurus keindikasi kuat terjangkit HIV/AIDS. Sementara anaknya yang berumur 12 tahun yang masih duduk dibangku SMP belum bisa diperiksa karena masih mengikuti ujian sekolah.
Ada lagi bocah berumur 7 tahun terlihat begitu ketakutan saat Tim DPRD menemuinya. Bocah yang tak tercelah inipun masuk sebagai tersangka ODHA. Bukan salah Maria Dolorosa, tetapi akibat perkawinan sedarah orang tuanya, ia menjadi korban penyakit ganas itu. Sejak lahir, Maria Dolorosa seolah-olah hadir membawa aib bagi keluarganya. Lalu dengan ketabahan neneknya, ia akhirnya dipelihara sampai genap umur 7 tahun. Namun dimasa ia ingin dimanja, ternyata nasibnya tidak berubah. Ia kini menjadi tumbal. Menurut medis, jika orang tua telah mengidap maka sangat mungkin anaknya akan teridap pula, sebab air susu yang dialirkan ketubuh anak pasti mengandung virus HIV/AIDS.
Pihak Rumah sakitpun tidak bisa berbuat banyak. Peralatan dan kelengkapan yang dimiliki hanya bisa memberikan pertolongan sementara. Selama ini, RSUD. Lewoleba mengirim pasiennya ke RS. Hiler Maumere. Karena RSUD Hiler Maumere memiliki peralatan yang cukup memadai berupa VCT, tempat bimbingan dan konseling. Sementara sampel darah harus dikirim ke Kupang untuk diperiksa di Laboratorium RSU Kupang.
Keluhan beberapa masyarakat yang ditemui terpisah mengatakan bahwa, saat ini Lembata cukup rawan dengan persoalan-persoalan sosial. Menjamurnya tempat-tempat hiburan malam memicu munculnya masalah sosial antara lain penyakit HIV/AIDS. Banyak sekali penjaja seks komersial yang berdatangan dari berbagai tempat untuk menjajakan tubuhnya di Lembata. Tempat-tempat karoke yang mendapat ijin dari pemerintah setempat dalam perjalanan berubah jadi tempat esek-esek, namun tidak pernah digubris oleh Pemda.
Kasus HIV/AIDS datang pertama dari para perantau Malaysia. Seperti FK, diduga kuat ia bersama suaminya pertama kali terjangkit di Malaysia. Sehingga setelah kembali dari sana, suami pertamanya meninggal dunia. Akibatnya, suami kedua berserta tiga anaknya dipastikan ikut terjangkit, dan yang pasti sumbernya dari istri dan ibu mereka sendiri. Jika demikian maka rasio penyebarannya semakin bertambah besar dari waktu ke waktu. 
Bayangkan saja, menurut Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi (KPAP) NTT bahwa rasio penyebaran 1:1000. Maka tidak heran jika suatu saat ada 8.000 penderita HIV/AIDS di Lembata. Karena menurut data sementara yang dikeluarkan pihak Rumah Sakit Daerah Lewoleba sudah ada 8 pasien sejak tahun 2004, belum termasuk yang tidak sempat teridentifikasi.
Kasus yang saat ini mencuat adalah, mereka yang sekedar datang dan memeriksakan diri ke Rumah Sakit. Setelah pemeriksaan baru diketahui kalau terjangkit HIV/AIDS. Jika demikian, maka masih ada FK-FK lain di Lembata yang masih berkeliaran dengan virus HIV/AIDS di tubuhnya.
Kasubdin Pemberantasan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata, dr. Arnold Marbun saat ditemui di ruang kerjanya membenarkan informasi tersebut. Hanya saja, menurut Marbun, data yang disampaikan pihak RSUD Lewoleba adalah data awal yang belum diuji kebenarannya. Karena selama ini, pihak rumah sakit hanya menggunakan satu jenis reagen untuk pemeriksaan. Seharusnya untuk kasus HIV/AIDS harus menggunakan tiga reagen. Ia mencontohkan, tahun 2004 pihak Rumah Sakit menampung 6 pasien yang telah ditetapkan sebagai tersangka pengidap HIV/AIDS. Namun setelah sampel darahnya dikirim ke Kupang untuk diperiksa ternyata hanya 2 orang yang positip HIV/AIDS. Di Lembata sendiri belum memiliki laboratorium pemeriksaan HIV/AIDS.
Oleh karena itu, sebaiknya jangan terlalu dibesar-besarkan masalah ini karena sangat sensitif dan berpengaruh besar pada penderita. Namun dari hasil analisa data yang dikumpulkan Expo lamaholot, ternyata data resmi yang dikeluarkan oleh pihak RSUD. Lewoleba berbeda dengan data yang ada pada dinas Kesehatan. Berarti masih ada kesimpangsiuran dalam penanganan masalah data HIV/AIDS. Seperti tahun 2005, didalam data RSUD. Ada 4 kasus HIV/AIDS, namun pihak dinas mengakui tidak ada kasus sama sekali. Ditahun 2007 ini, dua pasien yang lagi dirawat di RSUD. Lewoleba yakni FK dan Mater Dolorosa sampel darahnya sudah diambil oleh pihak dinas kesehatan dan selanjutnya akan dikirim kepusat laboratorium di Kupang untuk diperiksa. Darah penderita itu saat ini diamankan dalam sebuah box steril dengan suhu yang tetap dijaga guna menghindari kerusakan. Marbun juga mengakui, bahwa kebanyakan pasien adalah warga yang pernah merantau ke Malaysia.
Sementara itu Wakil Bupati Lembata, Drs. Andreas Nula Liliweri saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan kasus HIV/AIDS akan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa sehingga penanganannya lebih serius lagi. Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Daerah Lembata selama ini telah bekerjasama dengan semua tokoh masyarakat dan semua stakeholder guna melakukan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS.
Ande Liliweri juga mengimbau para orang tua agar selalu menyerukan dan mengingatkan seluruh anggota keluarganya tentang penyakit ini. Karena menurut Liliweri, keluarga adalah benteng pertahanan pertama yang harus dibangun untuk menangkis sergapan bahaya HIV/AIDS.
Kepada masyarakat Lembata ia mengharapkan agar selalu menjauhkan diri dari praktek-praktek hidup yang menyimpang  yang menimbulkan masalah-masalah sosial yang mengganggu kehidupan banyak orang. Karena Lembata cukup terbuka dengan masuknya parantau-perantau dari luar maka langkah-langkah antisipatif perlu diambil, seperti memproteksi daerah ini dari bahaya laten lainnya. Contoh kasus HIV/AIDS ini merupakan penyakit yang bibitnya dibawa dari luar oleh perantau, ujar Liliweri. Kedepannya, pemerintah akan berusaha mengeliminir dengan memberdayakan tokoh-tokoh masyarakat terlebih untuk orang tua dan keluarga untuk turut serta memerangi HIV/AIDS. (by. Ruddy)

“Dan-Dan harus bersahabat dengan lawan politik”


Paket Drs. Daniel Adoe-Drs. Daniel Hurek alias Dan-Dan yang sebelumnya terseok-seok menjejaki litani pilkada Kota Kupang, akhirnya terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kupang. Deretan harapan pun mulai digantungkan ke pundak paket blasteran Rote-Flores ini. Namun yang paling utama Dan-Dan diminta harus bisa berlaku sebagai seorang negarawan. Paling tidak bisa bersahabat dengan lawan politiknya. Haruskah? Berikut komentar Pengamat Politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Drs. Yusuf Kuahaty, M.Si saat Ditemui Edy Diaz belum lama ini di Kupang.
APA komentar Anda terhadap proses Pilkada Kota Kupang?
Proses Pilkada di Kota Kupang secara umum telah berjalan secara demokratis. Indikatornya antara lain, pertama para calon yang diusung masing-masing partai politik kelihatannya sudah merupakan hasil dari proses organisasi, kecuali beberapa partai politik yang mengusung calonnya itu kelihatannya diwarnai ‘pergulatan’, tapi toh hasilnya bisa diterima juga, dan tanpa disangka paket itu justru yang akhirnya berhasil.
Kedua, rakyat Kota Kupang telah menggunakan haknya untuk menentukan siapa pemimpin terbaik, dan kita tidak mendengar adanya intervensi atau tekanan-tekanan dari pihak lain terhadap pemilih dalam memberikan hak suaranya.
Ketiga, KPUD, Panwas maupun masyarakat kelihatannya sudah melaksanakan fungsinya dengan baik sehingga dapat kita katakan Pilkada di Kota Kupang telah berhasil. Dan lebih dari itu, Pilkada yang sudah dimenangkan Dandan itu pada akhirnya semua unsur berkecenderungan menerimanya dengan baik, sehingga kita lihat sebetulnya ada satu nilai lebih dari masyarakat bahwa mulai muncul kesadaran berdemokrasi, terutama pada kalangan elite yang tidak mau mempolitisasi pilkada menjadi lebih ruwet.
Menurut Anda dimana letak keunggulan Dandan?
Keunggulan Dandan ini tidak lepas dari budaya demokrasi yang sekarang sedang bertumbuh di kalangan masyarakat Indonesia umumnya dan sampai masyarakat Kota Kupang. Budaya yang tumbuh itu adalah demokrasi yang solider dengan orang yang katakanlah memperoleh perlakukan, penekanan yang kurang baik—tentu didalam perjalanan karier politik dan tugas-tugasnya. Saya kira selama ini hampir sebagian besar masyarakat Kota Kupang mendapat suguhan berita-berita dari media masa tentang bagaimana seorang yang namanya Pa Dan itu mendapat perlakukan-perlakuan yang kurang pantas begitu. Tentu dengan tugas-tugas seperti itu masyarakat paling cepat jatuh hati, ibah dan empati. Itu yang meningkatkan popularitas Pa Dan.
Selain itu,  saya lihat dinamika Pa Dan sendiri sebagai seorang figur cukup keras dalam memperjuangkan diri dan pasangannya. Maksudnya, sekalipun masyarakat itu memberikan rasa ibah pada paket ini, tapi kalau paket ini sendiri tidak menunjukkan kemauan atau konsistensi sikap yang sungguh-sungguh didalam program-program maupun didalam upaya lebih mensosialisasikan dirinya, maka keraguan orang terhadap figur itu tetap saja ada. Pa Dan dengan paketnya itu terus bangun kepercayaan masyarakat pada dirinya secara terstruktur, sistematis secara baik. Saya lihat dukungan terhadap dia di situ, semakin hari semakin tinggi melebihi paket-paket lainnya. Jadi, kemenangan Dandan itu lebih pada itu, mereka berdua mampu membangun dirinya sesuai apa yang diharapan masyarakat. Jadi, saya kira walaupun masyarakat ibah tapi kalau kita sendiri tidak membangun diri, kepercayaan orang terhadap kita kecil. Saya kira sama dengan apa yang terjadi pada SBY. Keutungan Pa Dan ada pada kemampuannya membangun komunikasi yang sangat bagus dengan masyarakat. Saya kira keunggulannya disitu, bukan pada kelebihan materi. Dan hal lain yang saya lihat, dia mampu membaca psikologi masyarakat. Itu hebatnya Pa Dan sehingga setiap pernyataan-pernyataannya yang dia kemukaan langsung mengena hati masyarakat.
Berarti faktor figuritas lebih kuat dari pengaruh partai sebesar apapun seperti Golkar dan PDIP yang menjagokan Jonas Salean dan Djidon de Haan?
Sangat-sangat betul. Faktor figuritas itu sangat penting. Itu yang selalu saya bilang faktor kualitas figur; kemampuan manajerial, kemampuan intelektual, kemampuan konseptual. Itu harus betul-betul nampak di sini, dan ini ditunjukkan oleh paket Dandan. Dan lebih dari itu dia punya keunggulan membaca psikologi dan merebut hati masyarakat. Dia tidak andalkan uang dan segala macam, tapi dia mencoba mencuri hati masyarakat. Kita bisa lihat kelebihan pada Pa Dan, dia memang politisi yang punya jam terbang panjang dan saya kira itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya kualitas, tanpa itu tidak bisa. Pa Dan punya kualitas dan didukung pengalaman politik yang panjang yang membuat dua selalu memposisikan diri sebagai orang yang lemah, orang yang teraniaya/tersiksa. Itu yang langsung kena hati masyarakat, apalagi masyarakat kita masyarakat religius yang selalu jatuh hati pada orang-orang yang teraniaya.
Apa sebenarnya yang menjadi harapan masyarakat untuk Dandan setelah dilantik nanti?
Pertama, Dandan harus tunjukkan sikap kenegarawan sebagai seorang pemimpin. Sikap ini sangat diperlukan untuk bisa menetralisasi luka-luka yang timbul selama Pilkada. Sebab bagaimanapun juga paku yang sudah tertanam kalau dicabut pasti ada bekasnya. Karena itu ditutntut jiwa kenegarawan yang tinggi dari Pa Dan untuk segera melakukan (semacam rujukan). Mungkin saja selaku manusia pasti paku yang ditanam kemudian dicabut ada bekasnya, tapi sebagai seorang negarawan pasti dia akan berusaha sedapat mungkin untuk tidak terlalu memperlihatkan sikap-sikap bersahabat dengan lawan-lawan politiknya, karena bagaimanapun juga ketika dia sudah jadi pemimpin, dia toh akan membutuhkan dukungan/bantuan/kerjasama dengan semua pihak, termasuk lawan politik.
Dua, seperti yang sudah dikemukakan selama kampanye, barangkali itu juga menjadi sesuatu yang melandasi dia menjalankan kepemimpinannya ke depan. Sikap konsistensi dengan apa yang dia kemukakan saat kampanye mestinya harus sungguh-sungguh diperbaiki selama memimpin.
Tiga, diharapkan dia mempercepat perbaikan, perubahan, peningkatan tentang pembangunan di Kota Kupang, apa itu yang berkaitan dengan yang mendasar, air, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Keempat, membangun konsep pemahaman atau kemitraan dengan legislatif. Itu harus terus dijaga karena tanpa legislatif, Pa Dan juga akan alami kesulitan dalam kepemimpinan. (*)