Siswi Kelas 2 SMA Jadi Cewek Bispak


sergapntt.com, KUPANG – Malang benar nasib Nana (16). Untuk membayar uang sekolah dan biaya kehidupannya sehari-hari, siswi kelas 2 sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Kupang ini terpaksa menjadi cewek bispak alias bisa dipakai oleh pria hidung belang. Harga yang dipatok pun terbilang murah. Sekali tarung Nana hanya menghargai kemolekan tubuhnya Rp500 ribu.
Nana,,,, Nana,,,,! Nasibmu benar-benar malang! Sebenarnya masih banyak jalan yang bisa dijadikan solusi untuk mengatasi masalahmu. Tapi kenapa ruang gelap yang kau pilih? Hm,,,, sedihnya!
Tapi,,,, persoalan yang Nana hadapi ini, semuanya bermula dari kemiskinan dan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang mendera NTT. Berasal dari keluarga miskin yang tinggal di kampung, Nana mencoba mengadu nasib di tengah hiruk pikuknya kehidupan Kota Kupang.
Awal Nana tinggal bersama tantenya yang masih single. Namun sepeningal tantenya akibat kecelakaan maut, mau tidak mau Nana harus mengarungi hidup sendirian. Jangankan ongkos angkot menuju sekolah, untuk makan sehari-hari saja pasca kematian tantenya, Nana harus ngemis sana, ngemis sini. Beruntung Nana tinggal bertetangga dengan kos-kosan para bidadari malam yang sering mondar-mandir dari satu bar ke bar yang lain. Dari mereka inilah Nana bisa dapat makan dan uang. Imbalannya, setiap hari Nana harus mencuci pakaian dan siap disuruh kesana kemari usai pulang sekolah.
Suatu ketika Nana bete juga. Putus asa berkecamuk dalam pikirannya. Keinginan untuk hidup berkecukupan terus mendera lubuh hatinya. Tibalah ia mengambil keputusan. Difasilitasi salah seorang kenalannya yang sudah malang melintang di dunia malam, akhirnya ia jual keperawanannya seharga Rp3 juta kepada salah seorang pejabat birokrat di Kota Kupang.
“Kak, pertama kali itu pedih sekali. Rasanya mau kencing saja. Apalay itu om punya tu,,, besar mo mati,,, hihihihihi,,,” ujar Nana tertawa geli disela-sela makan malam bersama SERGAP NTT di sebuah resto di bilangan pasir panjang, Kota Kupang, Kamis (15/3/12).
Itu pengalaman pertama yang Nana alami. Selanjutnya Nana mulai keranjingan. Hampir setiap malam ia tak pernah alpa diboking om-om. Namun tarifnya tak semahal dulu lagi. Kini hanya dengan Rp500 ribu, Nana sudah bisa diajak ber-apa saja. Soal tempat, tergantung pemilik uang. Mau di motel, di rumah, di kos-kosan, terserah,,! “Asal jangan di hutan atau dipadang rumputlah, hihihihi,,,,” ucapnya.
Sembari bertukar nomor handphone, Nana bercerita, satu setengah tahun sudah ia berjibaku dengan dunia maksiat. Jumlah pelanggannya sudah tak terhitung. Puluhan? Ratusan? Entahlah! Nana pun lupa,,! Namun dari profesinya ini, Nana sudah bisa hidup lebih layak seperti Anak Baru Gede (ABG) kebanyakan. Bisa memiliki handphone, pakaian modis, dan lain sebagainya yang menyangkut dengan life style.
Hingga kini Nana belum berpikir kapan ia akan berhenti. Ia mengaku akan terus menjalani profesi ini bagai air mengalir. Soal sekolah?
“Ow,,,, itu sonde mungkin beta sepelehkan. Karena pingin sekolah, makanya beta rela kerja beginian,” bebernya.
Di lingkungan sekolah, Nana cukup apik menyembunyikan pekerjaannya. Itu sebabnya hingga kini tak ada satu pun teman-temanya yang tahu seluk beluk kehidupannya di luar sekolah, termasuk guru-guru. “Di sekolah sonde ada yang tau,,,” paparnya.
Nana mengaku sepulang sekolah ia selalu stand by menunggu panggilan. Itu dilakukan sambil baring. Jika terlelap, dering Hpnya selalu siap membangunkan tidurnya. Dalam sehari ia hanya mau melayani satu pelanggan saja. Begitu Rp500 ribu sudah dikantongi, maka ia pun akan kembali ke kosnya untuk istirahat dan belajar. “Satu tamu paling lama beta temani, yaaaa,,,, 2 jam-lah,” imbuhnya.
Soal kepuasan pembeli, Nana jamin 100 persen gokil abis. Soal fisik, jangan ragu! Tubuhnya yang proporsional dihiasi wajah yang imut-imut, yakin bahwa laki-laki pemburu gadis belia yang datang dari kalangan mana saja ketika bertemu Nana, libidonya pasti langsung berontak. Ibarat mobil mewah yang baru dipakai selama setahun, kondisinya masih mulus mengkilat. Tak ada masalah pada suspensinya. Tinggal star langsung kebut. Begitulah penampilan Nana sehar-hari.
Soal harga tak bisa ditawar-tawar. Ini harga pabrik. Dijual oleh distributor resmi. Kecuali belanja borongan, atau sudah menjadi pelanggan tetap. Itu mungkin bisa dapat diskon. Tapi ya,,,, paling 5 persenlah. Hehehe,,, sudah kayak toko pakaian saja.
Tak hanya di ranjang, Nana pun siap diajak untuk menemani minum sambil karoke di tempat hiburan. Kalau yang ini biayanya Rp50 ribu per jam. Namun maksimal jam kerjanya hanya sampai jam 12 malam.  “Soalnya besok beta harus sekolah,” tandasnya.
Jika temani minum dan karoke, plus adu kuat diatas ranjang, maka biayanya tetap dihitung normal. Tak ada tawar menawar. Setuju, oke! Tidak pun, no problem. Loe ke kanan, gue ke kiri. Hahay,,,! Tapi kebanyakan pria yang memboking Nana jarang meminta diskon. Rata-rata langsung tancap gas. Ohoooooo!
Kedepan, Nana bercita-cita menjadi dokter. Walau cita-cita ini sulit diraih, namun tekad sudah mendarah daging. Apa pun caranya, titel dokter harus disabet. Malu? Oh jauh dari pikiran Nana. Bagi Nana, lebih mulia ia menjual tubuh membiayai sekolah mengejar cita-cita, ketimbang mencuri uang rakyat untuk menghidupi istri anak atau sebaliknya.
“Beta sonde pernah punya cita-cita seperti sekarang ini. Ini hanya karena masalah ekonomi. Andaikan beta pung orang tua mapan, amit-amit beta mau kerja beginian,” timpalnya.
Untuk menggaet pria hidung belang, setiap hari, biasanya Nana mangkal di Mall Flobamora Kupang atau di tempat-tempat belanja yang biasa didatangi kaum pria berkantong tebal. Jika ada mangsa, perangkap pun mulai ia pasang. Namanya juga laki-laki. Prilakunya tak jauh dari kucing. Ketika melihat tikus montok nyasar di arena terbuka, trik dan strategi langsung disiagakan. Dalam benak terpatri, jangan sia-siakan menu lezat hari ini. Hahay,,,! Dasar,,!
“Owww tapi sonde setiap hari beta pi mall. Itu kecuali beta sonde ada tamu,” ungkapnya, berterus terang.
Namun sudah tidak terhitung jumlah pria yang berhasil ia jerat dari tempat-tempat itu. Kebanyakan laki-laki yang terjaring adalah mereka yang tak puas dengan pelayanan istri sendiri, atau laki-laki yang iseng mencari sensasi adu otot dengan wanita lain.
Mulanya biasa didahului tegur sapa, hay,,,! Nana pun membalas Hay,, juga! Kalau pria yang ada maunya, biasanya si pria lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik layaknya orang lagi kasmaran. Belanjakah? Sendiriankah? Dan lain sebagainya. Ujungnya minta nomor HP. Kalau sudah begini, urusan jadi panjang bro,,!
“Kadang dong kontak beta, kadang juga langsung deal,” kata Nana.
Kalau si pemburu dan target sudah sepakat kayak begini, apalagi urusan selanjutnya? Hehehehe,,! Yang pasti, pria yang telah beristri akan jalan sembunyi-sembunyi takut ketahuan istri dan keluarga atau kenalannya. Lalu Nana? Ikut saja! Mau dibawa kemana, terserah! Asal,,,, habis ritual ukur badan, ongkos jangan dibayar kurang. Itu aturan yang tidak boleh dilanggar. Ibarat bawa sepeda motor di jalan protokol, polisi wajibkan pakai helm. Jika tidak, you kena tilang coy,,!
“Tapi beta sonde pernah ketemu laki-laki yang bayar kurang. Justru di antara mereka ada yang kasih tambah sebagai tip,” akunya.
Dalam sebulan Nana mengaku penghasilannya tak menentu. Kadang sedikit, kadang banyak. Tergantung rame atau sepinya pengunjung. Woiiiiiii sudah kayak toko sepatu saja! Hahay,,,! Ya, penghasilan Nana sangat tergantung berapa jumlah laki-laki yang membokingnya. Jika lagi sepi, rata-rata setiap bulan ia hanya melayani 10 tamu. Tapi jika memasuki musim ramai, terutama disaat proyek-proyek pemerintah sedang ditenderkan, rata-rata ia mampu menggaet 20 tamu hingga 25 tamu. Itu artinya, waktu sepi ia berhasil meraup Rp5 juta, dan waktu ramai berkisar Rp10 juta hingga Rp12,5 juta per bulan.
“Sebagian uang beta tabung, sebagian lagi beta pakai untuk bayar sekolah, makan minum, pakaian dan kebutuhan lain,” paparnya.
Hm,,, kalau punya penghasilan kayak gini, kayaknya cita-cita kamu bakal tercapai! Semoga keinginanmu terwujud.
By. Chris Parera

DPRD Tuding Bupati Nagekeo Tipu Masyarakat


sergapntt.com, MBAY – Lelucon yang tak lucu mulai dipertontonkan DPRD dan Bupati Nagekeo. Saling ledek menjadi akhir dari perseteruan berdalih demi kepentingan rakyat. DPRD Nagekeo menuding Bupati Nagekeo, Drs. Yohanis S. Aoh alias Nani Aoh sebagai penipu. Tak mau kalah, Nani Aoh pun balik menyerang,  DPRD dianggap sebagai kumpulan orang-orang aneh yang sulit untuk dimengerti. Loh kog?
Mayoritas anggota DPRD Nagekeo benar-benar sudah tak suka dengan sosok Nani Aoh. Itu karena akumulasi persoalan pembangunan yang terjadi di Nagekeo, termasuk persoalan ganti rugi lahan jalan dua jalur yang tak kunjung selesai. Pemerintah dibawa kendali Nani Aoh berjanji akan membayar semua tanah yang dipakai untuk pelebaran jalan. Tapi hingga kini janji itu tak kunjung teralisasi. Akibatnya, warga pemilik lahan mendatangi dan berdialog dengan DPRD Nagekeo pada Senin (12/3/12).
Dalam pertemuan di ruang sidang DPRD yang dipandu oleh Wakil Ketua DPRD Nagekeo, Thomas Tiba Owa, S.Ag itu, masyarakat Kolibau, Kelurahan Danga, Mbay, ibukota Nagekeo yang dipimpin oleh mantan Ketua Komisi B DPRD Nagekeo, Silvester Lewa mengaku sudah tak tahan dengan sikap dan tindak tanduk pemerintah yang mengulur-ulur penyelesaian ganti rugi lahan. Karena itu mereka mendesak DPRD segera ‘menekan’ pemerintah agar persoalan tersebut secepatnya tuntas.
“Proyek jalan dua jalur itu dilaksanakan tanpa adanya perencanaan yang matang. Mengapa saya katakan tanpa perencanaan, karena dari awal masyarakat tidak pernah dilibatkan secara langsung. Ketika proyek ini sudah berjalan, baru Pemda Nagekeo mengadakan sosialisasi. Karena itu, saya sangat kecewa dengan cara-cara pemda ini. Padahal, sebuah proyek ketika berhubungan dengan tanah milik masyarakat, maka itu ada aturan mainnya. Ini diperkuat dengan keputusan DPR RI melalui paripurna  pada tanggal 16 desember  2011 yang isinya tentang pengadaan tanah. Saya menilai bahwa pemda sudah tau, tetapi seolah-olah tidak mau tau dengan hak-hak rakyat. Kesimpulan saya bahwa proyek ini direncanakan di warung kopi yang hasilnya juga menjadi amburadul. Karenanya, saya mengambil kesimpulan bahwa untuk proyek jalan dua jalur ini hanya ada dua kepentingan saja, yang pertama bupati hanya mau cari nama, dan yang kedua bupati hanya mau cari uang,” sergah Silvester Lewa
Sependapat dengan komentar Silvester Lewa, Anggota DPRD Nagekeo, Servatius Adha mengatakan dirinya pernah pertanyakan kepada pemerintah terkait penyelesaian sengketa jalan dua jalur yang akan dinamai Bay Pass Mbay itu. Namun kata pemerintah, pembangunan dan pelebaran jalan dua jalur tersebut tidak ada masalah. 
Tapi,”Saya kaget ketika masyarakat datang mengadu dan mempertanyakan tentang jalan dua jalur yang hingga kini masalahnya masih terkatung-katung. Dengan adanya ini, maka saya katakan bahwa pemerintah Nagekeo, dalam hal ini Bupati Nani Aoh telah menipu rakyat dan DPRD secara kelembagaan. Karena itu saya minta kepada bapak-bapak pimpinan DPRD, segera memanggil Bupati dan Wakil Bupati untuk  rapat kerja dengan DPRD,” tegasnya.
Pendapat Servatius Adha diamini juga oleh Hironimus Tonga, salah satu warga pemilik lahan. Sebab, kata dia, pemerintah telah mengabaikan hak-hak masyarakat.  Bahkan saat sosialisasi tentang pembangunan jalan dua jalur itu, pemerintah terkesan sangat-sangat tidak transparan.
Saya ingatkan, masalah ini kalau tidak cepat diselesaikan, maka akan menimbulkan gejolak di masyarakat, yang bisa bermuara pada anarkis. Untuk itu, saya minta kepada bapak-bapak DPRD agar menyampikan aspirasi kami ini kepada Pemerintah Nagekeo,” tohoknya.
Warga Kolibau lainnya, yakni Hironimus Mite juga mempertanyakan ulah Kabag Tatapem, Camat Aesesa dan Lurah Danga yang melakukan pendekatan kepada masyarakat pemilik lahan dengan cara masuk rumah keluar rumah sambil membawa Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).
“Pertanyaan saya, apakah memang prosedurnya seperti itu? Saya minta, untuk sementara, proyek ini di hentikan dulu. Kami sudah minta bupati untuk bertemu langsung dengan masyarakat, tetapi bupatinya tidak mau. Padahal dia (Nani Aoh-red) sampai menjadi bupati, itu karena kami yang pilih. Kenapa sekarang tidak mau ketemu dengan kami? Ada apa,” timpalnya.
PC Dami, Anggota DPRD Nagekeo besutan Partai Demokrat bahkan mengatakan, proyek jalan dua jalur itu menggunakan dana siluman. Tak ada laporan atau pemberitahuan resmi kepada DPRD. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Haaaaaaaaa?
“Saya sanga sesalkan cara pendekatan yang dilakukan Kepala Tatapem, Camat Aesesa dan Lurah Danga yang melakukan sosialisasi pada malam hari kepada masyrakat yang terkena dampak penggusuran dengan membawa serta SPPD, maksudnya apa? Apakah siang hari sudah tidak ada waktu lagi,” ucapnya, kritis.
Namun Ketua Komisi B DPRD Nagekeo, Safar SE mengaku,  selama ini masyarakat kurang mendapat suplai informasi yang benar. Itu sebabnya kenapa masyarakat berontak. “Sebagai ketua komisi saya tidak tahu bahwa di Mbay ada mega proyek jalan dua jalur dengan menggunakan dana multi years . Kalau memang ada, paling tidak ada MOU antara pemerintah dan DPRD Nagekeo. Tetapi,,, ini tidak ada samasekali. Apalagi yang masyarakat tuntut adalah soal ganti rugi, kalau bicara ganti rugi, mau pake uang yang mana, dan siapa yang menyetujui? Karena itu dalam waktu dekat kita harus melakukan rapat kerja dengan pemerintah,” ujar politisi PKB itu.
Frans Ave Lengga, Anggota DPRD Nagekeo asal PPD meminta pimpinan DPRD segera memanggil Nani Aoh untuk mengklarifikasi masalah dua jalur. “Saya beri waktu 3×24 jam untuk hadirkan pemerintah untuk kita lakukan rapar kerja, sekaligus mencari solusi terbaik untuk selesaikan masalah ini,” pintanya.
Kubu Partai Golkar yang diwakili Bene Baka pun tak mau diam. Bagi Golkar tak ada solusi lain selain pemerintah harus membayar lahan yang sudah dan akan terpakai menjadi badan jalan dua jalur. “Pemerintah harus ganti rugi tanah warga yang terkena dampak penggusuran itu,” katanya.
Dengan wajah marah, Anggota DPRD asal PDIP, Marsel Damara menegaskan bahwa Nani Aoh telah gagal menjalankan amanat rakyat. Sebagai bupati, lanjut Damara, seharusnya Nani Aoh bersikap lebih tegas terhadap masalah dan rileks dalam penyelesainnya. Bukan memperkeruh yang ujungnya rakyat dirugikan?
“Pemerintah terkesan lagi mengail ikan di air keruh. Pendekatan yang dilakukan pemerintah selama ini adalah pendekatan seporadis, dan ini akan berakibat buruk. Ini namanya pola politik dagang sapi,” ucap Damara dengan mimik sinis.
Sementara itu Marianus Wajah, SH, Anggota DPRD Nagekeo binaan PPI mengatakan, jika pemda Nagekeo transparan dalam melakukan segala hal terkait dengan kepentingan rakyat, maka aksi demo atau protes tak akan pernah terjadi di Nagekeo. “Ini semua karena tidak transparan,” bebernya.
Diakhir dialog, Thomas Tiba Owa berjanji akan segera memanggil Nani Aoh untuk membahasa masalah dua jalur. Thomas Tiba Owa juga berjanji akan segera meninjau lokasi sekaligus bertemu langsung dengan masyarakat yang tanahnya digusur untuk jalan dua jalur.
“Apa yang telah di sampaikan masyarakat melalui lembaga DPRD ini semua akan kami akomodir dan akan kami tindaklanjuti,” ujarnya.
Lalu apa tanggapan Nani Aoh? Saat ditemui SERGAP NTT di ruang kerjanya Senin(12/3/12), politisi gaek itu menilai pernyataan anggota dan pimpinan DPRD saat dialog dengan wagra Kolibali itu sangat berlebihan. Itu karena DPRD tidak mengerti terhadap persoalan pembangunan jalan dua jalur. 
“Kalau tidak mengerti  tanya dong, jangan asal widho-wadho (bolak-balik) sembarang,” tohoknya.
Menurut Nani Aoh, komentar para anggota dan pimpinan DPRD Nagekeo tersebut hanya untuk mencari popularitas.
Sudah tidak mengerti, harus tanya, bukan asal omong. Saya heran dengan anggota DPRD Nagekeo, jalan yang siang hari malam mereka lewat, tapi ko mereka tidak tau, yang benar saja. Yang penipu itu justru DPRD, bukan saya. Ini semua sudah kita bahas bersama saat sidang perubahan. Saya boleh lobi ini dana sampai dikucurkan, tapi dianggap siluman, memangnya saya bisa sulap dana sebesar itu. Dana untuk jalan dua jalur ini bersumber dari dana DPID (Dana Perscepatan Infrastruktur Daerah). Susah juga bicara dengan anggota DPRD yang tidak mengerti begini,” sergahnya.
Sementara itu, Kabag Tatapem Pemkab Nagekeo, Imanuel Ndoen menjelaskan sosialisasi proyek dua jalur bernilai Rp50 milyar yang dilakukan pemerintah selama ini selalu dalam koridor wajar. “Sebab, siang hari banyak masyrakat yang pergi ke sawah, makanya kami malam hari baru pergi ketemu mereka. Dan masalah ini sudah ada kesepakatan di rumahnya bapak Kons Nitu (almarhum) waktu itu. saat itu ada pak Silvestel Lewa, Lorens Pone dan beberapa tokoh masyrakat lainnya. Tapi kalau sudah seperti ini, kami pada dasarnya tetap melakukan pendekatan. Banyak keuntungan dari pelebaran jalan dua jalur ini, yang pertama adalah untuk mengurangi kecelakaan, apalagi  inikan radius ibukota yang jumlah kendaraan bermotor kian hari kian banyak,” paparnya. 
by. sherif goa

Elias Djo Diminati Felix Dando


sergapntt.com, MBAY – Jual mahal mulai berlaku di kalangan kandidat Calon Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo periode 2013-2018. Terutama para kandidat yang memiliki popularitas di atas rata-rata. Sebut saja mantan Bupati Ngada, Drs. Pit Nuwa Wea dan mantan Penjabat Bupati Nagekeo, Drs. Elias Djo.
Jika Pit Nuwa Wea hampir pasti akan berpasangan dengan Drs. Lorens Pone, Kadis Koperasi Nagekeo, maka tidak halnya dengan Elias Djo. Putra Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo  ini masih jaga jarak. Bisa dibilang masih ba’iu (bahasa Kupang bilang jual mahal) kendati diminati banyak figur calon wakil bupati seperti Paul Nuwa Veto (Anggota DPRD Nagekeo asal PPDI) dan Felix Dando, usahawan asal Nagekeo yang berkiprah di Kupang.
Itu pasalnya hingga kini ia belum mau menentukan sikap akan berpasangan dengan Paul Nuwa Veto atau Felix Dando. Padahal komunikasi diantara mereka telah lama terbangun.
Kabar terakhir menyebutkan, Elias Djo masih menjajaki keduanya. Sekaligus mera-raba partai politik (parpol) mana yang bisa dijadikan sebagai kendaraan politik menuju arena pemilukada.
Soal potensi, Paul tak beda jauh dengan Felix. Keduanya sama-sama masih muda, sama-sama dari pantai selatan Nagekeo, dan punya basis massa jelas. Soal kualitas tak perlu diragukan.
Elias Djo pahami betul, sebagai kader yang berasal dari pantai utara, maka wajib hukumnya ia berkolaborasi dengan kader pantai selatan atau dataran tengah Nagekeo yang diwakili Kecamatan Mauponggo, Keo Tengah, Nangaroro atau Boawae. Jika tidak, maka jangan harap bisa menang dalam pemilukada. Sebab, diatas kertas, paket yang memenuhi variabel utara-selatan, atau utara-tengah dipastikan bakal keluar sebagai pemenang. Sebab, mayoritas pemilih Nagekeo masih kental dengan semangat komunitas berdasarkan suku dan ras. 
Santer dibicarakan warga Nagekeo bahwa Paul bakal diback up oleh para politisi Nagekeo yang berada di Jakarta. Sedangkan Felix akan disuport oleh Marianus Sae, Bupati Ngada sekarang. Paul didengung-dengung punya komunikasi yang baik dengan orang Jakarta. Sedangkan Felix merupakan sobat karib Marianus Sae. Toh ini masih sebatas gosip yang kebenarannya belum tentu falid.
Namun jika Elias Djo berpasangan dengan Paul, maka kemungkinan besar PPDI cs bersedia menjadi kendaraan politik bagi keduanya. Tapi jika Elias Djo memilih Felix, maka hampir pasti PAN akan menjadi stater dalam laga pemilukada kali ini. Itu karena sebagai Ketua DPD PAN Kabupaten Ngada, Marianus cukup punya akses dan berpengaruh di jajaran PAN dari Nagekeo hingga Jakarta.
Banyak kalangan menilai, jika Elias Djo berpasangan dengan Paul atau Felix, peluang menangnya 50:50. Semua tergantung punya kendaraan politik atau tidak. Kolaisi ini hanya akan menghadapi satu lawan berat, yakni pasangan Pit Nuwa Wea dan Lorens Pone. Dengan basis pemilih terbesar di Nagekeo, paket blasteran Boawae-Mbay ini diprediksi mampu mengungguli lawan-lawannya. Benarkah? Oh sabar dulu. Politik itu syarat dengan kemungkinan. Yang diperkirakan menang, bisa saja kalah. Begitupun sebaliknya. Yang pasti hanyalah kalah atau menang!
Siap menerima konsekuensi ini,,,? Saat bincang-bincang dengan SERGAP NTT di Kupang, Kamis (15/3/12) malam, Felix Dando mengaku siap bergumul dengan resiko pertarungan politik lima tahunan di Nagekeo.
“Saya siap maju. Orang yang saya senang itu pak Elias Djo. Dia itu figur yang patut diteladani. Karena itu jika tak ada aral melintang, saya siap berpasang dengan dia,” imbuhnya.
Paul pun tak mau tinggal diam. Dalam suatu kesempatan di Kupang, politisi asal Nangaroro itu mengaku sudah sepakat akan maju bersama Elias Djo. Tak ada lagi figur alternatif. Kecuali Elias Djo tiba-tiba mundur dari balapan pemilukada.
“Komunikasi di antara kami sudah mantap. Sekarang tinggal merangkul partai-partai pendukung,” paparnya.
by. chris parera 

Taman Nostalgia Jadi Sarang Esek-Esek


sergapntt.com, KUPANG – Taman sedianya untuk orang berwisata jika kepenatan datang mengusik. Karena itulah Pemerintah Kota Kupang berinisiatif membangun Taman Nostalgia yang berlokasi di pinggir jalan El Tari II Kupang dan diresmikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono. Namun taman itu, kini berubah menjadi sarang esek-esek. Hampir setiap malam terlihat pasangan muda-mudi memadati pojok-pojok taman.
Jumat (17/3/12) lalu, seorang gadis belia berinisial IMP berusia 16 tahun terpaksa melaporkan RM (16) pacarnya ke Polresta Kupang lantaran dipaksa melakukan hubungan seks di Taman Nostalgia.
Mulanya, gadis manis yang tinggal di RT 38 RW 09 Kelurahan Oebobo, Kecamatan Oebobo itu bersama pacarnya janjian ketemu di Taman Nostalgia. Setelah bertemu, RM meminta IMP melayani napsu bejadnya. Sontak saja IMP menolak. Tapi RM terus memaksa. Karena jengkel, IMP langsung melaporkan RM ke polisi.

“Korban sudah melapor dan kasus itu sedang ditangani penyidik. Tersangka dijerat dengan undang-undangan tentang perlindungan anak,” ujar Kasubag Humas Polres Kupang Kota, AKP. Simon Satu.

by. maksi

Riung Kota Wisata Bawah Laut


TIMORense – Riung 17 Pulau laksana “Surga Bawah Laut” yang belum terjamah. Kelompok pulau ini terdiri dari pulau-pulau kecil dan pulau karang yang terbentang di depan Teluk Riung. Alam bawah laut dari pulau-pulau ini kaya dengan keanekaragaman hayati. Itu sebabnya, wisatawan asing sering menjuluki Riung sebagai kota wisata bawah laut yang layak untuk dikunjungi.
Disamping itu, daerah perbukitan sekitar Riung (Pulau Flores) dihuni oleh biawak raksasa spesifik Riung. Penduduk lokal menamakannya “Mbou”. Bila biawak komodo disebut varanus komodoensis, maka biawak Riung disebut juga sebagai Varanus Riungensis.
Kawasan Wisata Alam Laut Riung terhampar memanjang dari Toro Padang di sebelah barat sampai dengan Pulau Pangsar di sebelah timur. Mawar Laut merupakan salah satu obyek wisata yang ada di taman laut itu.
Riung dapat dicapai dengan bis selama tiga jam dari Bajawa, Ibukota Kabupaten Ngada atau satu jam dengan bus dari Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo. Perjalanan dengan pesawat dari Jawa dapat dilakukan melalui Jakarta/Surabaya-Denpasar-Maumere atau Jakarta/Surabaya-Denpasar-Ende dan dilanjutkan dengan bis ke Bajawa dan Riung. Mobil sewaan juga tersedia di Maumere dan Ende.
Kini Riung telah menjadi tujuan utama wisatawan. Kota Riung sendiri terlihat asrih. Jalan-jalan lingkungan yang ada dalam kota Riung semuanya hotmix. Setiap hari pemerintah dan masyarakat terus menggalakan gerakan kebersihan lingkungan, hewan piaraan ditertibkan, pasokan air bersih disiagakan 1×24 jam.
Swasta pun tak mau ketinggalan berinvestasi. Sejumlah hotel, restorant dan cafe dibangun.  Ini semata-mata agar bisa menjerat para pelancong dari dalam maupun luar negeri yang berbuah tambahan pendapatan bagi masyarakat.
Selain memiliki taman laut seluas 11 ribu hektar dengan kedalaman 4 meter, Riung juga memiliki budaya dan tarian adat yang mampu menggugah para wisatawan.
Menurut Camat Riung, Alfian S.Sos, sekarang Riung telah siap menjadi daerah tujuan wisata yang menjanjiikan kenikmatan berwisata. Selain taman laut yang penuh dengan biota laut, pengunjung juga bisa menikmati dan menyinggahi pulau-pulau yang terdapat di dalam kawasan taman laut seperti pulau kelelawar, pasir putih dan lain sebagainya. Jika ingin menginap, maka di Riung tersedia penginapan dan rumah makan yang memadai.
Ada delapan buah tempat penginapan di Riung, yakni Hotel Nur Ikhlas, Hotel Tamrin, Hotel Riung Pesona, Hotel Madona, Hotel Nirwana, Hotel Bintang Wisata, Hotel Florida, Hotel Liberty dan satu buah Liquieen Cafe/ Resto serta tiga rumah makan, yakni, rumah makan “Murah Meriah”, rumah makan “Ujung Pandang”, dan rumah makan “Slamet Riyadi”.  
Jika ingin mengelilingi taman laut, di Riung telah tersedia motor laut sewaan. Khusus mengelilingi taman laut terhitung sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 16.00 sore, penyewa perahu biasa memberi harga Rp. 300 ribu. Di dalam kapal tersedia juga Mini Bar. Selain disewa, perahu-perahu sewaan bisa juga dikemudiakan sendiri oleh penyewa. So, tunggu apa lagi.
by. chris parera