Menjadi “Manusia” ?


Oleh : Verry Guru

Menjadi manusia, mungkin untuk sementara orang bukanlah satu masalah yang harus dipersoalkan. Karena ternyata kita semua telah dilahirkan sebagai “manusia”. Setidak-tidaknya sebagai makhluk yang berakal budi dan berbudaya, yang secara tegas membedakannya dari makhluk-makhluk yang lain yang bukan manusia.
            Tetapi benarkah semua manusia telah menjadi sunguh manusia ? Dan seandainya kita mengatakan ‘benar”, tidakkah dengan itu kita lalu menyangkal sejarah ? Karena ternyata sejarah mencatat bahwa sejak dahulu sampai sekarang selalu saja ada orang yang baik dan yang kurang baik. Ada yang sungguh-sungguh manusiawi dan ada pula yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, itu berarti ada orang yang sudah berhasil ‘menjadi manusia” dan ada yang lain tidak atau belum berhasil mencapai taraf itu.
            Selanjutnya dalam tingkatan martabat sebagai manusia, sejarah bercerita tentang orang-orang yang telah mencapai martabat kemanusiaan yang rada sempurna. Misalnya, karena sudah bisa hidup layak sebagai manusia, sehingga berhasil menjadi orang yang berguna bagi orang lain dalam berbagai bidang. Saya teringat dengan Filsafat Scholastik yang mengatakan, “kalau anda ingin menjadi manusia, anda harus menjadi lebih daripada sekadar menjadi manusia.”
            Ya, menjadi manusia itu nampaknya seperti satu misteri. Ketika kita dilahirkan kita memang diperlengkapi dengan peralatan dan serba kemampuan yang diperlukan oleh seorang manusia yang normal. Dan itu persis seperti yang Tuhan buat ketika menciptakan leluhur kita di awal sejarah. Tetapi segala peralatan dan kemampuan yang kita peroleh dari kelahiran itu tidak otomatis menjamin lancarnya jalan kita ke arah “menjadi manusia”. Kemanusiaan yang kita peroleh dari kelahiran dan keberadaan kita di dunia sesungguhnya hanyalah semacam bahan baku yang belum jadi, sekurang-kurangnya belum sempurna menurut wujud yang sebenarnya.
Apa artinya menjadi manusia ? Agak sulit untuk kita merumuskannya di dalam kata-kata yang sederhana. Menjadi manusia punya nuansa yang sangat luas. Tetapi secara konkrit-praktis kita bisa katakan, menjadi manusia berarti menjadi orang yang sadar diri. Menjadi orang yang tahu posisi di mana ia berada, dan juga tahu menempatkan diri pada posisi dan proporsi yang sebenarnya. Dan tidak cuma sebatas itu. Menjadi manusia juga berarti menjadi orang yang tahu membaca situasinya. Dan sesudah membaca, lalu mempelajari dan menghayatinya guna membentuk diri menjadi orang yang berarti untuk diri sendiri dan berguna untuk orang lain.
            Menjadi manusia juga kita membutuhkan satu keberanian hidup. Keberanian untuk tidak menerima saja nasib atau kenyataan sosial yang ada. Keberanian juga untuk mengambil inisiatif memperbaiki situasi yang ada. Dan sejalan dengan itu, tentu saja dibutuhkan keberanian mengambil risiko yang bakal dihadapi sebagai konsekuensi-konsekuensi logis dari langkah-langkah yang telah diambil.
            Menjadi manusia, mungkin di sini kita harus berbicara tentang satu kemungkinan yang lain. Kita harus berani keluar dari diri kita sendiri. Dan dari satu aspek yang lain, kita lalu coba membuat potret atas diri kita sendiri. Itu berarti bahwa tanpa keberanian melewati batas-batas kemanusiaan kita yang biasa, dalam arti tanpa keberanian mengatasi dan memperbaiki situasi kehidupan kita yang biasa, kita sebenarnya tidak pernah berhasil menjadi manusia yang sungguh-sungguh manusiawi.
            Kita harus menjadi orang lain, yang berani berdiri di luar kenyataan yang dianggap ‘biasa” untuk membuat kritik dan perbaikan atasnya. Dan itu berarti kita harus mengambil jalan simpang bukan jalan pintas. Nah, di sinilah kita harus berani berisiko. Kita harus menjadi lain dari yang biasa. Seorang revolusioner adalah seorang yang berani keluar dari situasi masyarakatnya dan coba memberikan kritik dan perbaikan atas situasi tersebut.
            Umumnya kita memang belum berani membuat kritik atas diri sendiri. Kita memang sering mengeluh dan juga (mungkin) menyesalkan keadaan dan nasib kita. Tetapi bahwa sesudah itu kita coba menyusun rencana untuk memperbaiki situasi itu. Nampaknya proses menjadi manusia itu sendiri adalah satu proses yang tak kan kunjung usai. Karena itu, nampaknya kita masih perlu belajar menjadi manusia. Ini memang perlu. Kita harus terus belajar bagaimana “hidup sebagai manusia” dan bukan sekadar menjadi “manusia hidup”. Tetapi untuk itu kita harus mulai dengan keberanian berbuat. Dan kita jangan tunggu sampai orang lain yang mulai untuk kita. Kita mulai memanusiakan diri kita sendiri. Nanti pada gilirannya kita akan sanggup memanusiakan orang lain. (*)
*) Penulis : Pranata Humas Biro Umum Setda Provinsi NTT

Gubernur NTT Dari Masa Ke Masa


Alm. W.J Lalamentik
Periode 1958 – 1968
Alm. El Tari
Periode 1968-1978
Alm. Wang Suwandi
Periode April 1978 – Juni 1978

dr. Ben Boi
Periode 1978 – 1988

dr. Hendrikus Fernandez
Periode 1988 – 1993

Herman Musakabe
Periode 1993 – 1998

Alm. Piet  A. Tallo, SH
Periode 1998-2008

Drs. Frans Leburaya
Periode 2008 – 2013

Demokrat Tunda Umumkan Calon Walikota Kupang


sergapntt.com [JAKARTA] – Partai Demokrat kembali menunda mengumumkan nama Calon Walikota dan Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017 yang bakal bertarung di Pemilukada Kota Kupang 1 Mei 2012 mendatang.
“Menurut rencana hari ini, Selasa (31/1/12). Tapi tidak jadi. Keputusan baru akan di ambil pada hari Kamis (2/2/12),” ujar salah seorang pengurus DPP Partai Demokrat kepada SERGAP NTT di Jakarta, Selasa (31/1/12) petang.
Toh begitu, kabarnya, DPP Demokrat telah menyetujui salah satu paket calon walikota dan wakil walikota yang direkomendasikan oleh DPD Partai Demokrat NTT. Bahkan Surat Keputusan (SK) tentang Penetapan Calon Walikota dan Wakil Walikota Kupang Periode 2012-2017 telah dibuat dan tinggal ditanda-tangani oleh Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Demokrat,  Eddy Baskoro Yudhoyono.  
“Oh,,, sudah. Paketnya sudah ada. Hanya SK-nya belum ditanda tangan aja. Cuma ngga etislah kalau saya sampaikan sekarang. Kita tunggu aja hari Kamis. Kan nanti diumumkan sekalian setelah SK-nya ditanda tangani,” ujar pengurus yang meminta namanya tidak disebutkan itu.
Hasil kupingan SERGAP NTT menyebutkan, Anas Urbaningrum dan Eddy Baskoro Yudhoyono telah menyetujui paket Rikardus Wowo dan Melkisedek L. MA.
“Koq tau? Tapi bukan aku yang ngomong loh,,,” tandas si pengurus itu.
Selain Demokrat, partai politik (parpol) lain yang disebut-sebut akan mengalihkan dukungan terhadap pasangan muda dengan sandi PRIMA itu adalah Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN).
“Ya,,, PRIMA, JERIKO, Stanis Say, dan lain sebagainya sudah ada komunikasi dengan kita. Ya,,, kita tergantung ada partai lain yang siap berkoalisi atau tidak. Nah kalau ditanya soal PRIMA, ya,,, sekarang tergantung Demokrat. Sikap mereka seperti apa. Kalau PRIMA, ya kita ke PRIMA. Prinsipnya, siapa yang punya rekomendasi dari parpol lain, dan yang duluan untuk bangun kesepakatan dengan PPRN, ya,,, kita amankan,” ujar Ketua DPW NTT yang juga DEPERPU PPRN, Dr. Thomas Ola Langoday, SE. M.Si saat bincang-bincang dengan SERGAP NTT di Kupang, Senin (30/1/12).
by. SANTI POE

Gubernur Surati Mendiknas Agar Pertimbangkan Guru Asal Luar NTT


sergapntt.com [KUPANG] – Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengaku, telah mengambil sikap dan langkah konkrit dengan menyurati Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI di Jakarta terkait kebijakan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) yang mengirim 703 guru kontrak asal dari luar NTT melalui program “sarjana mengajar di daerah tertinggal “ ke NTT.
“Saya telah menyurati Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mempertimbangkan potensi para guru yang ada di daerah,” tegas Gubernur saat menerima ratusan demonstran yang berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dari berbagai universitas yang ada di Kota Kupang dan sekitarnya di depan pelataran Kantor Gubernur, Selasa (31/1/12).
Gubernur sempat menegur para demonstran untuk menurunkan spanduk yang bertuliskan ‘Jangan menjual kemiskinan dan kebodohan di NTT.”
Sejumlah guru kontrak asal Undiksa Bali saat tiba di bandara El Tari
Kupang beberapa waktu lalu
“Turunkan tulisan itu. Siapa yang menjual kemiskinan dan kebodohan di NTT?” ucap Gubernur balik bertanya kepada para demonstran.
Menurut Gubernur, tidak ada seorangpun yang menjual kemiskinan dan kebodohan di Provinsi NTT.
Gubernur menjelaskan, kebijakan penempatan tenaga guru kontrak yang ada di Provinsi NTT merupakan kebijakan nasional.
“Ini bukan kebijakan Gubernur. Ini kebijakan nasional. Karena itu, saya sudah jelaskan tadi bahwa saya telah menyatakan sikap melalui surat kepada Pak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Mari kita berjuang bersama agar Pak Menteri bisa mengakomudir kepentingan kita di daerah,” jelas Gubernur.
Ratusan mahasiswa FKIP dari berbagai Perguruan Tinggi yang ada di Kota Kupang dan sekitarnya itu sebelumnya juga menggelar aksi unjuk rasa di gedung DPRD NTT. Usai menggelar aksi di Gedung DPRD NTT mereka ‘merangsek” menuju Kantor Gubernur NTT.
Mereka sempat berorasi dan membuat kegaduhan di sekitar Kantor Gubernur. Tak lama berselang Gubernur Lebu Raya keluar dari ruang kerja dan menemui para demonstran didampingi penanggungjawab aksi salah seorang mahasiswa yang berasal dari Universitas PGRI Kupang yang menggunakan jaket berwarna hijau.
Sementara itu, Gubernur didampingi Asisten Administrasi Umum Sekda Provinsi NTT, Ir. Eddy Ismail, MM, Kasat Pol Pamong Praja, Drs. Frans Lasa dan Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga (PPO) Provinsi NTT, Yohanes Mau, S.Sos, MM.
Usai menjelaskan sikap Pemerintah Provinsi NTT terhadap kebijakan nasional yang menempatkan para guru di Provinsi NTT, Gubernur Lebu Raya meninggalkan para demonstran dan kembali ke ruang kerjanya.
By. VERRY GURU

Ratausan Guru Kiriman Mendiknas Ditolak di NTT


sergapntt.com [KUPANG] – Sebanyak 703 guru yang dikirim Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ditolak oleh ribuan mahasiswa Ilmu Keguruan dan Pendidikan dari berbagai universitas di NTT. Penolakan tersebut disampaikan kepada DPRD dan Gubernur NTT melalui demontrasi mahasiswa di Kantor DPRD NTT dan Gubernur NTT, hari ini, Selasa (31/1/12).
Para pendemo menuntut Mendiknas mencabut kembali keputusan terkait penempatan 703 guru dari luar NTT ke NTT. Dalam aksinya, mahasiswa mendapat pengawalan ketat aparat keamanan Kepolisian Resor (Polres) Kota Kupang.

Mahasiswa menilai, Mendiknas menganggap NTT adalah salah satu provinsi terdepan, terluar, dan tertinggal, sehingga dihadiahi program ‘sarjana mengajar di daerah tertinggal’ dari wilayah luar NTT sebanyak 703 orang.

“Kami tolak penempatan tenaga guru dari luar NTT,” kata koordinator unjuk rasa, Yakobus Nias, saat menggelar orasi di depan kantor DPRD NTT, Selasa, 31 Januari 2012.

Mereka juga mendesak Mendagri menarik kembali tenaga guru kontrak yang ditempatkan di 10 kabupaten di NTT dan mengganti tenaga guru kontrak asal daerah ini. “Kami menduga ada konspirasi politik, sehingga pemerintah daerah terkesan diam,” katanya.

Mereka juga mengancam akan menggerakkan mosi tidak percaya kepada pemerintah daerah dan pusat jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. “Kami akan gelar aksi yang lebih besar jika tuntutan ini tidak terpenuhi,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD NTT Ibrahim Agustinus Medah mengatakan akan mengajukan surat protes ke Kemendiknas terkait penempatan guru kontrak dari luar NTT. “Saya tidak setuju dengan program pemerintah pusat,” katanya.

Dia juga mengajak enam perwakilan dari perguruan tinggi di NTT untuk bersama-sama menemui Mendiknas untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Kami sama-sama ke Jakarta untuk menemui Mendiknas,” katanya.

by. JOSE