Sopir Tewas Ditembak Orang Tak Dikenal


sergapntt.com [JAKARTA] – Naas benar nasib Asep (27). Sopir mobil material toko bangunan itu tewas ditembak orang tak dikenal. Masalahnya, hanya gara-gara mobilnya menyenggol sepeda motor si pelaku di depan Kantor PT Sinde di Jalan Diponegoro, Tambun, Kabupaten Bekasi, Jumat (13/1/12) siang. Kini pelaku dalam pengejaran polisi.

“Korban (Asep) meninggal dunia setelah dibawa ke Rumah Graha Medika, karena darah banyak  keluar,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Rikwanto, saat jumpa pers, Jumat (13/1/12).

Rikwanto menjelaskan, kejadian tersebut bermula saat korban baru usai mengantar material dengan mobil Zebra bernopol 9878 U bersama kernetnya Saleh. Saat melintas di depan Minimarket Naga di Jalan Diponegoro, Tambun, Bekasi, mobil korban bersenggolan dengan sepeda motor pelaku.

“Saat itu jalan ramai dan macet, mobil korban  dan motor pelaku bersenggolan  terjadi adu mulut, adu argumen dan pertengkaran mulut tersebut sampai disitu saja,” ujarnya.

Namun, setelah 300 meter dari TKP tepatnya di depan PT Sinde, pelaku yang menggunakan sepeda motor bebek yang tidak diketahui nomor platnya tersebut mengejarnya dan memepet mobil pelaku, lalu melepaskan tembakan ke korban. Sehingga mengenai rusuk bagian kiri.

“Pelaku mengejar korban, yang dibonceng turun dari motornya. Dari sisi kiri kernet pelaku melepaskan tembakan dan mengenai sisi kiri korban. Kemudian setelah itu pelaku kabur. Korban dibantu oleh Satpam PT Sande dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit meninggal,” ujarnya.

Hingga saat ini, katanya, polisi sudah melakukan olah TKP dan memeriksa sejumlah saksi termasuk kernet, dan Satpam yang membawa korban ke rumah sakit. 

By. RF

Walau Telah Diperkosa, Gadis SD Itu Meminta Tuhan Memaafkan Para Pelaku


Kantor Polsek So’a

sergapntt.com [BAJAWA] – Dunia penuh misteri. Setidaknya tercermin dalam duka yang dialami Melati (13) —nama samaran— Bagimana tidak? Walau telah diperkosa secara bergantian oleh dua lelaki bejat yang juga tetangganya, ia justru berdoa meminta Tuhan untuk memaafkan para pelaku.

Hati Bartholomeus Nggai (60) dan Antonia (45) bagai diiris sembilu ketika tahu Melati, anak perempuan mereka menjadi korban pemerkosaan dan pencabulan. Sepasang suami istri ini tak habis pikir kenapa duka ini menimpa mereka. Apalagi pelaku kekerasan seks terhadap anak dibawah umur ini ternyata masih saudara dan ponakan mereka sendiri. Rasanya mereka ingin membunuh para pelaku. Tapi keduanya sadar republik ini berlandaskan hukum.
Rabu (9/2/11) pagi, perkampungan Rogamewu di Desa Waepana, Kecamatan So’a, Kabupaten Ngada tiba-tiba diselimuti awan tebal. Suasana hening terasa sampai ke sudut-sudut perkampungan. Sesekali terdengar burung berkicau miris seakan ikut bersedih mendengar Melati dizolimi paman dan kakak sepupunya bernama Agus Wake (40) dan Semlaus No (19).
Tragedi asusila ini berawal ketika Melati dan temen-teman sebayanya yang ditemani pelaku ingin menjaring ikan di sungai yang jaraknya sekitar 2 KM dari perkampungan Rogamewu. Setibanya di pinggir sungai, No mengajak Melati cs mengupas kulit kayu untuk meracuni ikan. Tanpa berpikir yang aneh-aneh, Melati cs pun menuruti.
Setelah kulit kayu yang dikupas dari pohonnya terkumpul banyak, No meminta teman-teman Melati untuk membawa terlebih dahulu ke sungai. Sedangkan Melati diminta untuk tetap tinggal dengan alasan untuk mengumpulkan kulit kayu yang tersisa. Ternyata ini hanya dalih. Melihat teman-teman Melati sudah jauh, No pun beraksi. Dibawah ancaman sebilah parang, pakaian Melati pun dicopot. Singkat kata siswi kelas 4 SD itu lalu diperkosa tanpa ampun.
Teman-teman Melati tak punya firasat buruk. Sudah hampir sejam Melati dan No tak nongol-nongol juga. Karena itulah, salah satu dari mereka mengajak teman yang lain untuk kembali menemui Melati dan No. Pikir mereka, jangan-jangan Melati dan No butuh bantuan untuk mengangkut kulit kayu yang tersisa.
Tapi bukan main kagetnya mereka ketika melihat Melati sedang ditindih No. Karena takut dan bingung, spontan teman-teman Melati langsung berbalik arah. Mereka buat seolah-olah tidak melihat. Tapi No sadar kalau perbuatannya telah diketahui teman-teman Melati. Akhirnya No memanggil satu persatu teman-teman Melati dan mengancam untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun, termasuk orang tua masing-masing. Karena takut, kejadian ini pun didiamkan begitu saja.
Tapi dasar sudah pernah rasa enaknya, perbuatan yang sama diulangi lagi oleh No. Itu terjadi sebulan setelah kejadian pertama. Kala itu sepulang sekolah Melati berangkat ke ladang ayahnya untuk memberi minum kambing piaraan mereka. Pekerjaan ini rutin dilakukan Melati tatkala ayah dan ibunya sedang bepergian. Tanpa disadari ternyata kepergiannya itu diikuti oleh No. Ketika sedang meminumkan kambing, tiba-tiba Melati dihampiri No. Tanpa ba-bi-bu, No langsung memeluk Melati. Sejurus kilat Melati dibanting dan diperkosa. Melati sempat meronta dan berteriak. Tapi apa daya, tenaganya tak sebanding dengan lelaki biadap itu.
Perkara ini pun diam. Sebab usai melampiaskan hajatnya, No mewanti-wanti Melati agar tidak melaporkan ke orang tuanya.  Jika tidak, maka lehernya akan ditebas.
Setelah kejadian beruntun itu, Melati mulai mengalami sakit. Badannya berangsur kurus. Kulitnya menjadi kuning pucat. Toh begitu, Agus Wake yang juga ayah kandung No tak mau ketinggalan. Disaat rumah lagi sepi, Agus mengajak Melati ke rumahnya. Disana tangan Melati diikat. Pakaian gadis cilik itu dilucuti. Setelah itu,,, tangan jahil sang paman mulai menggeranyangi  sekujur tubuh Melati. Jari tangannya berulangkali dimasukan ke vagina Melati. Kejadian ini terus berulang disetiap ada kesempatan.
Tak lama berselang Melati jatuh sakit. Kondisinya fisiknya menurun drastis. Cara berjalannya tak normal lagi. Langkah kakinya sedikit mengangkang. Karena itu, dengan penuh kasih sayang ayah dan ibunya bertanya; Melati sakit apa? Rasa sakit sebelah mana? Tapi Melati diam membisu. Tak sekata pun terlontar dari mulutnya setiap kali orang tuanya ajak bicara.
Melihat kondisi ini, ayah dan ibunya kemudian membawa Melati ke Puskesmas terdekat di Desa Waepana. Di sana, setelah diperiksa, baru Melati mengaku kalau ia telah dua kali diperkosa oleh No dan dicabuli berulang-ulang oleh Agus, pamannya.
Mendengar itu, orang tua Melati kaget minta ampun. Awalnya mereka tak percaya. Sebab, selain masih saudara, perilaku pelaku juga dikenal baik dan santun. Namun setelah Melati ditanya berulang-ulang, akhirnya orang Tua Melati yakin kalau Melati telah diperkosa dan dicabuli. Kasus ini kemudian dilaporkan ke Polsek So’a. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, kedua pelaku akhirnya berhasil diringkus polisi. Dari hasil pemeriksaan polisi, Agus dan No mengakui semua perbuatan mereka.  
Kapolres Ngada, AKBP. Slamet D.A kala itu melalui Kapolsek So’a, Ipda. Yoseph Setu mengatakan, pelaku dijerat dengan Pasal 1 ayat 1 dan Pasal 82 Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman kurungan penjara selama 15 tahun.
“Akibat kasus ini, korban tidak bersekolah lagi. Dia malu. Kasihan dia,” ujar Yoseph Setu, prihatin.
Proses hukum telah dijalankan. Para pelaku telah mendekam di penjara. Namun derita tetap dirasakan Melati. Karena itu, orang tua, keluarga dan warga tetangga yang lain terus berusaha memulihkan semangat hidupnya. Setidaknya mereka berharap, Melati mampu bangkit dan kembali menata masa depannya, walapun goresan hidup yang dialaminya bakal terbawa sampai mati.
“Saya hanya bisa berdoa om, semoga Tuhan mengampuni mereka,” ujar Melati, singkat, saat ditemui SERGAP NTT belum lama ini.
By. CHRIS PARERA

Misa 40 Hari Uskup Djagom Dilaksanakan di Jakarta


Suasana misa 40 hari almarhum uskup Donatus Djagom
di gereja St. Yoseph Matraman Jakarta

sergapntt.com [JAKARTA] – Umat Katolik yang didonimasi warga Flores se Jabodetabek  menggelar Misa Requem atau Misa Inkulturasi mengenang 40 Hari Wafatnya Uskup Emeritus Mgr. Donatus Djagom SVD, di gereja St. Yosep Matraman Jakarta, dipimpin langsung oleh Mgr. Vinsensius Sensi Poto Kota Pr, didampingi Uskup Emiritus Mgr. Isak Doera dan belasan imam lainnya, pada Jumat (13/1.12).

Dalam kotbanya, Uskup Sensi mengatakan, semasa hidup, almarhum memiliki motto hidup, yakni “Praedicamus Christum Crucifixum” yang artinya; kami mewartakan Kristus yang tersalib.
Ben Mboi saat memberi sambutan usai misa di gereja St.
Yoseph Matraman Jakarta
“Dia (Uskup Donatus Djagom) pun memberi dirinya secara total dalam pengabdian sebagai imam dan uskup selama 30 tahun lebih. Dia memberi dari kesejatian, memberi dari kedalaman, memberi sampai seseorang merasa sakit,” beber Uskup Sensi.

bagi umat Katolik, khususnya di Pulau Flores, almarhum Uskup Donatus Djagom telah membangun fondasi yang kuat bagi pembangunan gereja, antara lain dengan menabiskan imam projo dalam jumlah yang terbanyak di Indonesia. Walaupun almarhum sebenarnya adalah misionaris SVD.

Mantan Gubernur NTT, Ben Mboi dalam sambutannya usai misa, mengatakan, sesungguhnya ide membuka jalan lintas Flores sebagai urat nadi ekonomi Flores pertama kali dicetuskan oleh almarhum.


“Uskup Donatus adalah seseorang yang punya visi jauh melampaui zamannya,” kata Ben Boy yang juga didampingi istrinya ibu Nafsiah Mboy.
Dia menambahkan Uskup Donatus sangat menekankan kemandirian gereja, gereja yang berdikari, gereja yang tidak mengharapkan bantuan asing saja.

“Umat berswadaya dalam membangun gereja, tokoh-tokoh awam bermitra dengan pastor dalam membangun kemandirian gereja dengan menggelar musyawara pastoral (Muspas) pertama,” kata Ben Mboy.
 

By. SANTI POE

Dugaan KKN di Dinas Perikanan Ngada Tak Pernah Diusut Polisi atau Jaksa


Kondisi Proyek BBI yang diduga syarat KKN

sergapntt.com [BAJAWA] – Gugaan tindak Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) di Dinas Perikanan Kabupaten Ngada hingga kini tak pernah diusut polisi atau jaksa. Sebut saja, dugaan korupsi pada proyek Balai Benih Ikan (BBI) senilai Rp. 1,7 miliar yang berlokasi di Malahoba, Kecamatan So’a, dan pengadaan kapal ikan senilai Rp. 300 juta bagi kelompok nelayan di Kecamatan Riung. Padahal kedua proyek tersebut nyata-nyata bermasalah.

Proyek bermasalah ini dimulai ketika tahun 2009, Dinas Perikanan Kabupaten Ngada kebanjiran Dana Alokasi Khusus (DAK). Dana bantuan Pemerintah Pusat (Pempus) ini lalu digunakan untuk membangun BBI dan pengadaan kapal ikan bagi nelayan Riung. Ironisnya, perjalanan dana tersebut tak semulus seperti yang diidamkan. Lima (5) persen dari total dana diduga tersangkut di saku Eman Dopo, Kadis Perikanan Ngada kala itu.
“Itu hanya gosip. Tidak benar itu,” sergah Eman Dopo ketika ditanyai sergapntt.com via telepon selulernya.
Bantahan Eman Dopo bisa benar, bisa juga tidak. Tapi yang pasti, fisik proyek BBI yang dikerjakan oleh CV. Rajawali dan CV. Jawa Indah, serta Kapal Ikan yang diadakan oleh CV. Reba Dian itu kondisinya  sangat memperihatinkan. Pengerjaan kedua proyek ini diduga tidak sesuai dengan spesifikasi proyek. Akibatnya, kualitas proyek pun amburadul.
Di lokasi proyek BBI hanya tampak dua bangunan rumah setengah jadi berdiri menikam langit. Disampingnya terbentang saluran dan kolam benih ikan yang pengerjaannya belum selesai. Disampingnya lagi terlihat tembok penyokong roboh sekitar enam (6) meter.
Menurut Sekretaris Panita Proyek BBI, Fatima Puageno, pengerjaan yang dilakukan CV. Jawa Indah telah mencapai 30 persen. Sedangkan CV. Rajawali 50 persen. Hanya saja kedua perusahaan ini telah di PHK per 31 Desember 2009 lantaran tak mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal. 
Selain kualitas bangunan proyek yang memprihatinkan, pengadaan lahan BBI seluas 2 hektar itu pun diduga syarat dengan rekayasa. Kabarnya, harga tanah di markup hingga  Rp. 900 juta. Padahal perkiraan harga lahan tersebut hanya 100 – 200 juta.
“Ade tidak usah ungkit-ungkit itu lagi ko. Kasihan dengan kami ko,” pinta Eman Dopo, memelas.
Kapal Ikan Seharga Rp300 juta yang Mubazir
Morat-marit pengerjaan proyek terlihat juga pada pengadaan kapal ikan. Kini, kapal yang menelan Rp300 juta itu terdampar di pantai Riung, tepatnya disamping dermaga pariwisata Nangamese. Setengah bodinya tenggelam digenangi air.
“Kayu yang mereka pakai untuk kapal ini bukan kayu yang biasa dipakai untuk pembuatan kapal. Kayu ini kayu ketapang dan kayu kedondong hutan. Kayu ini tidak cocok untuk kapal. Kalau untuk perahu kecil masih bisa. Makanya begitu dihempas ombak kecil, kapalnya langsung pecah,” ujar Ahmad, salah seorang nelayan saat bincang-bincang dengan sergapntt.com di dermaga pariwisata Nangamese, Riung. 
Sejak mulai beroperasi di laut, kata Ahmad, kapal ini terus mengalami kebocoran. Tambal satu, bocor yang lain. Tambal yang ini, bocor yang itu.  Karena capek memompa air keluar dari kapal, akhirnya pengelola membiarkan kapal tersebut sandar terlantar di pelabuhan pariwisata Riung.
“Kalau mau kuat mestinya kapal ini mereka pakai kayu pampa atau kayu munting. Kalau pakai kayu begini, yah… hasilnya kayaq ginilah,” ujar Ahmad, kritis.
Pengakuan Ahmad dibenarkan juga oleh Mihaya (32). Pengelola kapal yang dipercayakan oleh Dinas Perikanan Kabupaten Ngada ini mengaku, sejak mulai beroperasi kapal selalu mengalami kebocoran.
“Bagaimana kami mau tahu ini kayu bagus atau tidak pak? Waktu kami terima, kan ini kapal sudah di cat semua. Ini kapal bikin susah kami pak. Tambal ini, bocor itu. Tambal itu, bocor ini. Begitu terus. Kami stres,” papar Mihaya.
Toh begitu, Mihaya dan suaminya tetap konsisten mengelola kapal dengan bobot 10 ton itu. Sebab kapal tersebut sudah menjadi milik mereka. Kepemilikan ini ditandai dengan penandatangan kontrak sewa beli antara Mihaya dan Dinas Perikanan Kabupaten Ngada.
“Di kontrak itu kami harus menyetor uang sebesar Rp. 120 juta. Tapi karena kondisi kapal seperti ini, maka sampai hari ini belum satu rupiah pun yang kami setor. Apalagi kondisi kapal sekarang ini tidak bisa dipakai lagi. Sebab tanggal 22 Desember 2010 lalu, ketika kapal sedang dok, kapal dihempas ombak. Akibatnya papan bodi patah dan hampir semua dinding kapal jadi renggang. Karena itu, ya… air masuk. Makanya sekarang setengah kapal itu tenggelam. Tapi dia punya mesin kami sudah amankan. Untuk sementara ini, mesinnya kami pakai di kapal pribadi kami. Sedangkan yang lainnya, seperti pukat dan mesin derek jaring masih tertinggal di kapal. Kami mau angkat itu mesin, tapi berat sekali pak. Masalah ini sudah kami sampaikan ke dinas, tapi sampai hari ini belum ada tanggapan,” ucap Mihaya.
Lalu apa komentar Eman Dopo? Kepada sergapntt.com ia mengaku, jika berpedoman pada dokumen kontrak, maka semua urusan kapal menjadi tanggung jawab Mihaya.
“Karena sudah sewa beli, maka tanggung jawabnya ada di pengelola. Tapi karena ini musibah, maka kami sudah buat usulan anggaran ke Badan Penanggulangan Bencana Alam untuk membantu memperbaiki kapal itu,” tegasnya.
Eman Dopo juga membantah rumor yang mengatakan harga kapal di mark up dan spesifikasi kayu kapal diganti.
“Proses pengadaan kapal itu sudah sesuai aturan. Harga kapalnya segitu. Kayunya pun seperti itu. Tidak ada rekayasa. Kalau memang kayunya bermasalah, kenapa waktu penyerahan kapal, pengelola tidak protes. Koq sekarang baru protes. Jangan begitulah,” sergahnya.
By. SHERIF GOA

Dukung Pariwisata, NTT Tingkatkan Kualitas Bandara


sergapntt.com [KUPANG] – Guna mendukung geliat pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT), Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT akan segera meningkatkan kualitas barada-bandara di NTT. Untuk tahun 2012 ini, pemerintah akan fokus mengembangkan tiga bandara, yakni Bandara El Tari Kupang, Bandara Tambolaka Sumba, dan Surabaya II di Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo.
“Kita akan fokus ke tiga bandara itu dulu. Yang lain akan menyusul. Ya,,, kita sesuaikan dengan kemampuan anggaran kita,” ujar Kepala Dinas (Kadis) Perhubungan NTT, Drs. Bruno Kupok, di Kupang, belum lama ini.

Upaya peningkatan kualitas bandara ini, lanjut Bruno, terkait kesiapan infrastruktur perhubungan udara dalam menghadapi lonjakan jumlah wisatawan ke NTT pasca penetapan Komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia.

“2012 ini kita targetkan selesai di tiga bandara itu. Ini untuk mendukung kemajuan pariwisata di NTT yang dari tahun ke tahun terus menunjukan peningkatan, baik kunjungan wisatawan manca negara, maupun lokal,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, Bandara Udara Tambolaka akan diperpanjang dari 2.000 meter menjadi 2.500 meter atau sama dengan Bandara El Tari Kupang. Tujuannya agar pesawat berbadan lebar sekelas Boeing B-737 bisa mendarat di Tambolaka tanpa harus melewati Bandara El Tari Kupang.

Begitupun bandara Surabaya II di Mbay, Nagekeo, akan dikembangkan secara bertahap hingga panjang landasan pacu menjadi 2.500 meter untuk melayani para pengguna transportasi udara dari dan ke Pulau Flores.

Khusus untuk Bandara El Tari Kupang, mulai 2012 ini akan dilakukan pengembangan pada beberapa bagian di antaranya, ruangan tunggu dan kedatangan serta perluasan tempat parkir pesawat (apron).

Dengan pengembangan pada tiga bandara udara ini, diharapkan para wisatawan mancanegara yang datang menggunakan pesawat khusus bisa langsung ke Kupang atau ke Sumba, tidak harus melalui Subaraya atau Bali.

Dengan begitu, para wisatawan yang berkunjung ke NTT bisa merasa nyaman dan memiliki masa tinggal bisa lebih lama dari biasanya karena tidak bermalam di Surabaya maupun Bali lagi.

By. BERTA MUDE