Temuan BPK RI di RSUD Prof. W.Z Yohanes Kupang


sergapntt.com [KUPANG] –  Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara dan UU No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa
Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) telah melaksanakan
Pemeriksaan atas Pendapatan dan Belanja Tahun Anggaran 2009 dan Tahun Anggaran 2010
pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang.
Hasil pemeriksaan BPK RI yang dipimpin oleh Rudi frranto H. Sinaga, S.E., Ak , M.B.A., C.F.E yang berakhir pada 31 Desember 2010 mengungkapkan ketidakpatuhan dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban atas Belanja Daerah, antara lain sebagai berikut:
Terdapat pendapatan dari klaim Jamkesmas Tahun Anggaran 2009 yang tidak dapat diklaim oleh RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang sebesar Rp2.146.050.443,37, Pendapatan Retribusi Pelayanan Kesehatan dari klaim Askes terlambat diklaim sebesar Rp15.333.007.050,00, terlambat disetor ke Kas Daerah sebesar Rp16.959.936.721,00, dan belum disetor sebesar Rp116.053.542,00, Pemberian keringanan dan atau pembebasan biaya pelayanan kesehatan Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp117.247.550,00 dan Semester I Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp46.347.500,00 tidak sesuai ketentuan, Pendapatan dari susulan klaim Jamkesda Tahun Anggaran 2009 belum dapat diterima oleh RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang sebesar Rp1.314.456.643,19, Pemakaian lahan dan ruangan RSUD Prof Dr W. Z. Johannes Kupang oleh pihak ketiga untuk Ruang Pelayanan Kas dan ATM Bank NTT, lahan parkir, apotik, dan kantin belum didukung perjanjian kerja sama,  Pembebasan biaya atas selisih tarif Ruang Utama dan Ruang Kelas bagi pasien pegawai dan keluarga pegawai RSUD yang menggunakan Askes tidak sesuai ketentuan, Pengguna Anggaran RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang tidak mengangkat Pejabat Pembuat Komitmen, Dokumen perencanaan sebagai bahan penyusunan Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) belum akurat, Perhitungan Harga Perkiraan Sendiri atas Pengadaan Alat-Alat Kesehatan Rumah Sakit tidak disusun sesuai ketentuan, Penyerahan hasil pengadaan barang/jasa Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp2.611.128.100,00 dan 2010 sebesar Rp2.880.554.435,00 belum didukung dengan dokumen Berita Acara Penyerahan, Perhitungan Harga Perkiraan Sendiri Pengadaan Belanja Cetak tidak sesuai ketentuan dan terdapat kekurangan volume sebesar Rp78.720.000,00 serta terdapat denda keterlambatan yang belum dikenakan minimal sebesar Rp50.865.478,44, Pengadaan genset dan kelengkapannya diterima oleh Pengguna Anggaran sebelum pekerjaan selesai 100% dan terdapat denda keterlambatan yang belum dikenakan sebesar Rp47.261.862,50, Pengadaan Software dan Hardware SIM RS Tahap II senilai Rp495.660.000,00 belum dapat dimanfaatkan sesuai perencanaan, Denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan Pengadaan Alat-alat Angkutan Darat Bermotor sebesar Rp12.030.040,00 belum ditetapkan, Penatausahaan Aset Tetap di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang tidak memadai , Terdapat alat kesehatan pada RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes belum dikalibrasi, Pelaporan Persediaan Obat, Bahan Habis Pakai, dan Alat Kesehatan Pakai Habis di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes tidak sesuai ketentuan.
By. CHRIS PARERA

Gabriel Bire Binna: Gerindra Tidak Caplok Kader Demokrat!


sergapntt.com [KUPANG] – Pro kontra masih mewarnai penetapan Jefri Riwu Kore sebagai Bakal Calon (Balon) Walikota Kupang yang diusulkan PDIP dan Gerindra untuk ditetapkan oleh DPP PDIP dan Gerindra sebagai Calon Walikota berpasangan dengan Kristo Blasin. Itu karena Jefri Riwu Kore masih tercatat sebagai anggoata partai Demokrat, dan kini sedang mewakili Demokrat di DPR RI.
 Itu sebabnya sejumlah pengurus DPC Demokrat Kota Kupang dan DPD Demokrat NTT melirik sinis sikap PDIP dan Gerindra. Mereka menilai PDIP dan Gerindra telah mencaplok kader Demokrat. Apakah ini wujud ketidakmampuan PDIP dan Gerindra melahirkan kader?
“Oh,,, kita tidak mencaplok. Penetapan pak Jefri Riwu Kore itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan partai gerindra sebanyak dua kali.  Sekali lagi,,, ini merupakan bagian dari survei tahap pertama dan tahap kedua. Dalam survei ini kami menemukan masyarakat menghendaki partai politik bisa menjalankan peran, tidak hanya sebagai dapur untuk menyiapkan  calon pemimpin, tapi juga menjalankan fungsi dan presentase. Dimana keputusan yang diambil oleh Gerindra mencerminkan keputusan dari masyarakat. Oleh karena itu kita tidak main caplok-caplokan. Ini murni hasil survei dan surat-surat dukungan yang kami terima dari masyarakat,” imbuh Sekretaris DPD Partai Gerindra Provinsi NTT, Gabriel Bire Binna saat ditanya sergapntt.com saat Partai Gerindra mengadakan jumpa wartawan di ruang kerja Wakil Gubernur NTT, Jumat (6/1/12) lalu.
Sedangkan soal Kristo Blasin, lanjut Bire Binna, itu pilihan dan keputusan Jefri Riwu Kore. “Dalam menentukan calon wakil walikota kupang, Gerindra berprinsip tidak mengintervensi keputusan para calon walikota dan wakil walikota dalam menentukan pasangannya. Karena apabila terpilih, mereka berdualah yang menjalankan suka duka pemerintahan selama lima tahun,” ujarnya.
By. CHRIS PARERA

“Main Mata” PDIP-Gerindra


sergapntt.com [KUPANG] – Teka-teki koalisi PDIP-Gerindra belum juga terjawab. Partai yang sedang dipimpin oleh Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon Foenay, M.Si ini masih merahasiakan siapa yang bakal diusung sebagai Calon Walikota dan Wakil Walikota dalam Pemilukada Kota Kupang periode 2012-2017.
Permainan politik menuju kursi 1 dan 2 di Kota Kupang selalu panas kendati masih dimainkan oleh para pemain lama.  Memasuki tahun baru ini, semangat merebut kekuasaan masih berkutat pada politik saling menyandera dan politik barter, serta gesekan antar parpol sebagai warming-up menuju gelanggang Pemilukada Gubernur-Wakil Gubernur NTT tahun 2013 dan Pemilihan Presiden 2014.
Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Apalagi PDIP NTT baru mengusulkan 3 paket calon ke DPP PDIP untuk ditetapkan sebagai calon walikota dan wakil walikota, yakni Jefri Riwu Kore-Kristo Blasin, Harry Theofilus-Epy Seran, dan Gustaf Oematan-Sely Tokan.
Begitupun dengan DPD Gerindra NTT yang mengusulkan paket Jefri Riwu Kore-Kristo Blasin, Lay Ndjarandjoera-Rodialek Pollo, Ny Jovita Mitak-Anthonius Nathun, Gustaf Oematan-Selly Tokan, dan Hendrik Benu-Yahidin Umar.
Itu sebabnya, soal siapa yang ditetapkan oleh DPP, baik Frans maupun Esthon masih menunggu keputusan DPP. Toh begitu komunikasi politik yang terjadi selama ini bisa saja mementahkan semua alasan yang dibeberkan keduanya.
PDIP dan Gerindra beralasan perengkingan penetapan calon yang diusulkan ke DPP berdasarkan hasil survei dan fit and proper test. Itu sebabnya, Jefri Riwu Kore-Kristo Blasin berada di nomor urut satu. Karena keduanya mendulang angka survei paling tinggi. Sayang, penetapan paket Jerfi Riwu Kore-Kristo Blasin ini tidak disenangi oleh semua pengurus dan simpatisan PDIP. Sebab, kata sejumlah pengurus PDIP, figur PDIP yang paling diminati rakyat Kota Kupang sesungguhnya adalah Epy Seran, bukan Kristo Blasin. Lagi pula Kristo Blasin sejak awal tidak berkeinginan maju sebagai calon walikota atau calon wakil walikota. Namun nasi sudah menjadi bubur. Suka tidak suka, rakyat, pengurus dan simpatisan PDIP, termasuk Kristo Blasin harus menerima keputusan DPP PDIP. 
“Kita hanya sebatas mengusulkan. Sedangkan yang menetapkan adalah DPP,” ujar Lebu Raya saat ditemui sergapntt.com di Kantornya, belum lama ini.
Namun gonjang-ganjing menyebutkan PDIP dan Gerindra sebenarnya telah menetapkan Jerfri Riwu Kore dan Kristo Blasin sebagai calon walikota dan wakil walikota. Jefri dijagokan oleh Gerindra dan Kristo mengemban amanat DPD PDIP. Itu sebabnya, sebagian pengamat menilai, pengusulan paket calon walikota dan wakil walikota ke DPP hanya formalitas. Karena koalisi ini merupakan titik start kebersamaan Frans dan Eston (FREN) menjajal dunia politik hingga FREN jilid II terwujud di Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2013-2018 mendatang. Bisa iya, bisa juga tidak. Sebab versi lain menyebutkan PDIP-Gerindra akan mendorong Gustaf Oematan dan Sely Tokan. Gustaf merupakan figur yang diminat kelompok Persatuan Orang Timor (POT) yang disokong partai Gerindra, sedangkan Selly adalah adik kandung Frans Lebu Raya yang juga memiliki kans menang di Pemilukada Kota Kupang.
“Kita usahakan minggu depan sudah ada kejelasan, paket mana yang akan kita usung, dan dengan partai mana saja kita berkoalisi,” ujar Esthon saat ditanyai sergapntt.com di ruang kerjanya, Jumat (6/01/12).
Menurut Eston, pengusulan paket Gerindra ke DPP merupakan hasil survei dan fit and proper test yang dilakukan Gerindra. “Soal paket mana yang ditetapkan, itu semua kewenangan pusat. Soal peluang, semua punya peluang. Nomor satu tidak menjamin bahwa nanti mereka yang ditetapkan. Gerindra akan menunjukan eksistensinya dalam kapasitas sebagai partai politik. Eksistensi itu menyangkut jati diri dan harga diri. Ya,,,kita harapkan, minggu depan semua sudah beres. Gerindra tetap bekerja sesuai mekanisme dan aturan,” imbuhnya.
Sesungguhnya, kata Eston, Gerindra dan PDIP sudah sepakat berkoalisi menghadapi pemilukada Kota kupang. Kala itu PDIP dan Gerindra berencana mengusung Ed Foenay dan Kristo Blasin. Namun karena Ed Foenay meninggal akibat sakit, maka koalisi ini kembali membuka ruang diskusi.  
“PDIP dan Gerindra sudah koalisi. Dan itu,,,, masih tetap sampai sekarang. Yang meninggal itu kan orangnya, partainya tidak kan? Karena itu, koalisi ini tetap.  Tidak ada yang berubah. Tapi siapa yang akan kami usung, sekarang masih dalam taraf negoisasi,” paparnya.
Koalisi PDIP-Gerindra diisyaratkan juga oleh Frans Lebu Raya. “PDIP selalu terbuka, termasuk berkoalisi dengan Gerindra,” ucap Lebu Raya.

By. CHRIS PARERA

Tindakan Terang-terangan Dalam kegelapan


sergapntt.com [KUPANG] – Salah satu bentuk ketakutan tertua di dunia adalah ‘takut gelap’. Tapi anehnya, salah satu kecenderungan manusia yang paling diminati dalam hidupnya adalah ‘kegelapan dan kuasanya’. Sekurang-kurangnya terdapat tiga bentuk kecenderungan, yakni perbuatan dalam gelap, menggelapkan sesuatu, dan penggunaan kuasa-kuasa kegelapan.  

“Jika kita terang-terangan bicara soal korupsi, nampaknya kita sedang berbicara sesuatu yang gelap. Untuk menguak korupsi supaya ia menjadi terang adalah salah satu perbuatan yang paling sulit, atau mungkin bisa dikategorikan sebagai perbuatan paling aneh. Mengapa paling aneh? Karena sejarah bangsa kita telah membuktikan bahwa fenomena korupsi di negeri ini adalah sebuah fenomena kegelapan yang terang-terangan. Maksudnya, korupsi telah menjadi jaringan yang kasat mata (terang), tapi yang tali temalinya sangat rumit diurai (gelap),” ujar Pdt. Dr. Nicolas J. Woly dalam acara diskusi terbatas masalah korupsi di NTT yang diselenggarakan Lembaga Bhakti Flobamora dengan tema “membedah korupsi  di NTT: suatu catatan kritis di awal tahun 2012, Jumat (6/1/12) di Kupang.

Menurut Woly, tidak sebuah agama pun, yang tidak mendefenisikan korupsi sebagai sebuah ‘dosa’. Kalau dosa dapat dipahami sebagai produk kuasa-kuasa kegelapan yang anti Allah sebagai Sang  Mahaterang, maka dapatkah kita sepakat untuk menegaskan bahwa korupsi adalah salah satu produk kuasa kegelapan yang anti Allah?

Mengapa korupsi bisa dikategorikan sebagai “dosa”? Saya menjawab pertanyaan ini dengan makna leksikal kata korupsi. Kita memperoleh kata korupsi dari bahasa Belanda (corruptie), bahasa Latin  “corruptio”. Kata kerja corrumpere berarti membusukan, merusakan, menggoyahkan, memperlemah, memutarbalikan, menyogok, menggoda, berjudi, memalsukan, mencemarkan, memperkosa. Orang yang melakukan semua hal itu disebut corruptor (corruptoris). Perempuan penggoda, dalam bahasa Latin disebut corruptrix (corruptrisis).

 Saya mengartikan korupsi sebagai pola tingkah laku yang merupakan produk sikap bathin yang menjadikan uang dan harta sebagai standart kebenaran dan kekuasaan. Nah, kalau uang dan harta adalah standart kebenaran dan kekuasaan, maka sudah barang pasti, untuk mencapai maksud itu, berlakulah pola tingkah laku ala Machiavelli “tujuan menghalalkan cara”.

Cara apa pun akan dilakukan untuk mendapatkan uang dan harta, yang pada gilirannya akan merugikan orang lain, dimana kerugian itu yang secara kwalitatif tidak bisa dipulihkan dalam waktu yang relatif singkat.

Terjadinya korupsi selalu berkaitan dengan kuasa. Hampir dapat dipastikan, dimana ada kuasa, disitu selalu ada kemungkinan terjadinya kecenderungan yang paling diminati manusia, yakni perbuatan gelap, menggelapkan sesuatu, dan penggunaan kuasa-kuasa kegelapan.

Dimana ada kuasa, disanalah selalu ada kemungkinan menyalahgunakan kekuasaan atau salah urus kekuasaan. Mengapa? Karena kekuasaan sangat mungkin dipakai untuk hal-hal yang berkaitan dengan “pembusukan, pengrusakan, pemutarbalikan, penyogokan, penggodaan, pemalsuan, pencemaran dan pemerkosaan”. Pada gilirannya kita dapat menegaskan bahwa korupsi merupakan sebuah model “abusive power” (kuasa yang merusak karena disalahgunakan). Dan, karena korupsi terjadi dalam lingkaran “orang-orang berkuasa”, maka korupsi merupakan sebuah “abusive leadership” (kepemimpinan yang merusak karena disalahgunakan). Kuasa dan kepemimpinan  pada dirinya tidaklah berkarakter merusak, walaupun dikatakan bahwa “power tends to corrupt”, tetapi nilai-nilai yang dianut dalam berkuasa dan memimpinlah yang menjadi keduanya berkarakter ‘abusive’.

Seorang etikus Amerika, Robert Fullinwinder mengatakan bahwa secara ideal hal berpolitik itu merupakan salah satu upaya ‘pembersihan penyakit-penyakit sosial’. Mengapa? Karena lewat kegiatan berpolitik kita bersama-sama berusaha untuk mengupayakan kesejahteraan yang memuaskan semua komponen masyarakat. Nah, untuk maksud itu, maka semua penghalang dalam mencapai tujuan itu haruslah disingkirkan. Dalam arti itulah sebuah partai politik harus memiliki ideologi yang berkarakter membersihkan atau meratakan jalan ke arah pencapaian kesejahteraan umum.

Karena itu, Fullinwider selanjutnya mengatakan, pada prinsipnya para politikus adalah “garbage collectors” (para pemulung). Sehingga suasana bermasyarakat ditandai oleh kebersihan metode dan model pengupayaan pencapaian kesejahteraan. Namun sayang, dalam prakteknya, apa yang ditegaskan Fullinwider tidak selamanya jadi kenyataan. Yang kita sering saksikan, para politikus justru menjadi “garbage creators” (pencipta sampah). Apakah kita berani menegaskan bahwa berduyun-duyunnya orang sibuk ke dalam dunia perpolitikan di Indonesia karena disana terdapat aroma korupsi yang menggiurkan?

Korupsi merupakan fenomena “tangan-tangan kotor”. Secara spiritual, korupsi juga “abusive spiritual”, roh yang merusak. Korupsi merupakan fenomena “kemerosotan ahklak”, karena di dalam dunia perkorupsian, tidak ada tempat untuk “pertimbangan moral”. Korupsi terjadi karena seseorang atau sekelompok orang mengalami kerusakan moral (morally corrupt). Menarik perhatian untuk mengaitkan hal ini dengan tesis Machiavelli yan g terkenal bahwa dalam suatu situasi khusu secara politis dapat dibenarkan untuk melanggar norma-norma moral tertentu jika memang tidak ada jalan lain. Sayangnya, banyak orang bertindak lebih dari Machiavelli, yaitu bahwa pelanggaran moral terjadi dalam setiap situasi, yang penting uang dan harta terkumpul, entah dengan cara apa pun. Ini bukan Machiavelli lagi, entah apa,,,!

Para koruptor adalah orang-orang pribadi keping rangkap. Satu keping kepribadiannya menunjuk pada fakta bahwa ia memang orang beragama, karena itu ia tetap rajin dan setia menyelenggarakan kewajiban-kewajiban keagamaannya. Ketika itu ia adalah orang yang ber-Tuhan, yang apakah ia takut Tuhan? Tidaklah jelas! Tetapi dalam kepingan kepribadian yang lain, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh pesan-pesan keagamaan yang didengarnya dalam ritual-ritual keagamaannya. Bisakah kegelapan dikawinkan dengan terang? Kalau bisa, maka benarlah kalau korupsi adalah fenomena yang paling aneh. Memang “orang beragama” bisa menjadi “koruptor”, tetapi “orang beriman” mustahil menjadi koruptor. Mengapa? Karena orang beragama adalah orang yang taat menjalankan kewajiban-kewajiban keagamaannya. Tetapi apakah kewajiban-kewajiban keagamaan itu berpengaruh pada pola tingkah lakunya, masih merupakan pertanyaan.

Sedangkan  orang beriman, adalah orang yang berjalan di dalam terang, karena ia bersahabat dengan Sang Mahaterang yang Agung. Orang beriman adalah orang yang memiliki hati nurani yang diterangi oleh terang Ilahi. Karena itu, pada dasarnya orang beriman sulit menjadi koruptor.

Sebagai seorang “pemimpi” saya sangat yakin bahwa masih ada banyak warga negara Indonesia, masih banyak putra-putri NTT yang beriman, yaitu orang-orang yang mengalami “persekutuan dengan Tuhan dalam terang”, yang berpendirian bahwa korupsi adalah produk pekerjaan setan si raja kegelapan!

By. CHRIS PARERA

Selingkuh Lewat Facebook


sergapntt.com [KUPANG] – Kisah mencari soulmate melewati berbagai cara dan jalan. Kecanggihan internet memungkinkan kedekatan emosi tak melulu mensyaratkan kedekatan fisik. Situs jejaring sosial yang belakangan sangat menarik minat adalah Facebook. Ya,,,, facebook tidak lagi sekedar menelusuri kawan yang selama ini tak tahu di mana rimbanya, tapi mulai digunakan sebagai jalan pintas untuk menemui pria idaman lain (PIL) atau wanita idaman lain (WIL) ketika kecewa memenuhi dada. Hm,,,,!
Pengaruh buruk facebook mulai dirasakan sebagian pasangan suami istri, termasuk mereka yang sedang menjalani masa pacaran. Konflik sering terjadi hanya karena facebook. Itu karena situs jejaring sosial tersebut menggoda penggunanya untuk selingkuh dengan saling mengirim pesan cinta dengan kenalan barunya. Ini terlihat dari wall post (dinding posting) yang semakin sering dikutip sebagai bukti aktivitas “selingan” di luar nikah.
Rasanya tak sebanding jika kesenangan berselancar di facebook sampai harus mengorbankan ikatan pernikahan. Nyatanya, terdapat banyak orang yang tidak memiliki kemampuan (atau keinginan) untuk memanfaatkan Facebook dengan penuh rasa tanggung jawab.
Facebook ibarat teknologi nuklir, sebuah alat yang bisa berperan sebagai “peri baik hati”, juga “setan jahat”.  Itu sebabnya, sejumlah pelaku esek-esek pun kian melirik Facebook sebagai lahan potensial untuk mempromosikan diri.
Gelagat ini tercium di Kota Kupang dalam penelusuran sergapntt.com. Ditemukan 5 sampai 6 orang anak baru gede (ABG) yang punya profesi ganda sebagai wanita panggilan memanfaatkan facebook sebagai ruang untuk menjerat pria hidung belang.
Tak hanya itu, sergapntt.com juga menemukan sejumlah pria dan wanita berstatus menikah terlibat selingkuh dengan PIL atau WIL yang dikenali melalui facebook. Edan,,,! Tapi itulah faktanya.
Seorang perempuan cantik paruh baya yang baru dikenal sergapntt.com via facebook belum lama ini mengaku, semua tindakan konyolnya itu dilakukannya lantaran sakit hati pada suami. Mulanya ia hanya bermaksud meluapkan emosi lewat facebook. Tapi bersamaan dengan itu, tanpa ia perkirakan sebelumnya, ia justru mendapat perhatian dari kaum pria. Benar saja, tak lama berselang ia menjadi akrab dengan seorang pria penuh perhatian. Kendati hanya lewat dunia maya, bathin wanita yang akrab disapa, sebut saja Mila (32), menjadi tenang kala berkominikasi via facebook. Ujungnya keduanya pun bertemu face to face melampiaskan rasa saling suka. Bahkan kini menjadi ketagihan yang mereka sendiri tak tahu akan berakhir kapan.
Hal yang sama diakui pula oleh Jemi (29) –nama disamarkan— Pria yang baru menikah 3 tahun itu mengaku terlibat selingkuh dengan WIL pilihannya lantaran si ‘perahannya’ itu lebih cantik dari istrinya. Brudakkkkkkkkkkk! Hari gini ngaku selingan lebih cantik, tapi saat pacaran dulu ngaku istri lebih cantik, bahkan jika disandingkan dengan Madona sekalipun. Wakakak,,,,,!
But,,,, ini masalah! Ini persoalan yang mesti diwaspadai. Facebook itu baik, jika digunakan sebagaimana mestinya. Tapi jika disalahgunakan, apalagi disalah artikan, maka yang terjadi hanyalah musibah yang mendera.
Entah kapan ada ungkapan berbunyi “kalau suami selingkuh, pertama-tama yang harus ditanya adalah si istri. Kenapa suami bisa selingkuh?” Nah lho! Padahal berdasarkan survey (entah siapa yang menyelenggarakan), kalau suami selingkuh, orang terakhir yang tahu perselingkuhan itu adalah istri. Karena selingkuh tidak pake laporan dulu, trus bagaimana menjawab kenapa suami bisa selingkuh?
Hebatnya lagi, kalau perselingkuhan terendus, reaksi dari suami bisa dua macam, bisa segera insaf (berarti masalah dianggap beres, ada kata maaf dan janji untuk memperbaiki diri, setidaknya aman untuk sementara). Sebaliknya, reaksi ekstrim bisa terjadi marah dan tersinggung kepada istri. Marah karena ketahuan aktivitas keenakan yang terganggu. Tersinggung karena gengsinya terusik ketahuan punya selingkuhan. Nyalahin istri, seolah-olah semua kejadian memalukan ini terjadi karena ulah istri yang kurang canggihlah, kurang servicelah, kurang nyambunglah, kurang-kurang-kurang ajar! Hahahay,,,,,! Mengaku salah? Gengsilah,,,,! Jika istri protes mempertanyakan kesetiaan pada komitmen hingga menitikkan airmata karena kecewa dan sedih, reaksi si suami bisa lebih arogan, yakni si istri yang harus meminta maaf (penyebab suami selingkuh) dan harus merubah diri agar si suami kembali ke jalan yang benar bak seorang pahlawan.
Duuuuuh nggak fair banget ya! Capek deh! Emang sih, seperti kata lagu: Tidak Semua Laki-laki. Tapi itulah jeritan derita para wanita korban selingkuh.
Sungguh tidak mudah menjalani dan mempertahankan, memupuk dan menyirami cinta agar bisa bertahan sekian lama dan seterusnya. Sudah pasti, bukan hanya tugas seorang istri, tetapi juga kewajiban bagi seorang suami untuk bersama berjuang kearah keselarasan!
Setiap perbedaan yang timbul, harus disertai niat, bukan untuk sebuah perpecahan, tetapi untuk menambah wawasan demi menyamakan persepsi. Maka setiap muncul perbedaan, ada gairah yakni tersedia sarana bahan diskusi yang saling menyemangati untuk menemukan kelebihan pasangan, bukan melebarkan jurang tak terjembatani. Sungguh ironis.

Pernikahan bukan akhir sebuah percintaan, tetapi awal perjalanan panjang. Bila komitmen telah ditancapkan, jangan mudah menyerah! Temukan keindahan perasaan saling berbagi, saling mengerti, saling belajar, saling memaafkan, saling mengalah, saling menyemangati dan tetap menjaga rasa cinta di dalam dada. Selingkuh? Amit-amit, No way lah! Hahayyyyy!
Jatuh cinta memang indah,bagaimana kalau putus cinta? Menyakitkan bukan. Ya itulah yang dirasakan banyak orang setelah putus cinta. Untuk itu, hindari facebook jika ingin abadi membina hubungan yang sudah ada. Toh jika masih ingin menggunakan facebook, manfaatkan sesuai fungsinya.
Jutaan orang saat ini terdeteksi menggunakan facebook untuk mencari pasangan selingkuh. Inilah yang harus diwaspadai. Awasi pasangan. Sebab, selingkuh melalui jejaring sosial sangat mungkin terjadi. Awalnya mungkin hanya sekedar kenalan terus beribincang-bincang melalui media chating. Tapi lama-lama bisa keterusan karena “nyambung rasa”. Ujung-ujungnya banyak yang saling bertukar nomor handphone dan terus melanjutkan hubungan hingga diatas ranjang. Mau?
by. CHRIS PARERA