Menteri Pariwisata Temui Uskup Larantuka


sergapntt.com, LARANTUKA – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, DR. Marie Elka Pangetsu menemui Uskup Larantuka, Mgr. Frans Kopong Kung, Pr di Istana Keuskupan Larantuka pada Kamis (5/4/12).
Dalam pertemuan tersebut, Pangestu membicarakan masa depan wisata religi “semana santa” Larantuka demi penguatan ekonomi umat, khususnya masyarakat Flores.
“Potensi wisata religi di Larantuka amat luar biasa. Karena itu, perlu dipikirkan model pengembangan dan bagaimana caranya agar wisata religi ini dapat dipertahankan sehingga makin banyak diminati oleh umat Kristiani termasuk yang datang dari belahan dunia lain,” ujar Pangetsu.
Sebelum menemui Uskup Larantuka, Pengetsu yang saat itu didampingi Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, Ny. Lusia Adinda Lebu Raya, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan NTT, Drs. Abraham Klakik, Kepala Biro Kesra Setda NTT, Drs. Alo Dando, MM, Wakil Bupati Flores Timur, Valentinus Sama Tukan, Sekda Flores Timur, Tonce Matutina, SH dan sejumlah pejabat lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur, berkesempatan mengikuti prosesi cium Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana (Patung Yesus Kristus) di kapela. Prosesi cium Tuan Ma dan Tuan Ana.
Menurut Pangetsu, wisata religi yang ada di Larantuka sangat unik dan menarik. “Ini wisata yang unik sekali. Karena memadukan unsur budaya dan unsur iman umat. Wah luar biasa,,,,” ucap Pangetsu.
Selain itu, Pangetsu juga menyinggung soal penguatan ekonomi umat. “Ekonomi umat juga harus diperhatikan. Ekonomi umat harus kuat; tentu dengan berbagai program yang dirancang bersama pemerintah dan pihak gereja,” imbuhnya.
Pangetsu juga secara simbolis menyerahkan bingkisan untuk Uskup Kopong Kung. “Saya sampaikan ucapan terima kasih atas kedatangan Ibu Menteri dalam mengikuti Prosesi Semana Santa di Larantuka,” ujar Uskup Kopong Kung.
Usai bertemu Uskup, Pangetsu bersama rombongan berziarah ke Pusat Kongregasi PRR (Putri Reinha Rosari) di Lebao. Di sana, Pangetsu berdoa di depan jenasah Mgr. Gabriel Manek, SVD.
By. Verry Guru

Calon Walikota Memaknai Paskah 2012


sergapntt.com, KUPANG – Kata kaum pakar, politik adalah ilmu dan seni tentang kemungkinan. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dimungkinkan. Mungkin inilah yang mengihlami para calon walikota dan wakil walikota kupang 2012-2017 bagaimana memanfaatkan moment paskah demi menggapai kekuasaan dengan label garuda di dada.
Beberapa diantara kandidat telihat begitu antusias mengikuti kebaktian dari gereja ke gereja. Setiap bertemu orang, bibirnya selalu menyajikan senyum sumringah. Memberi kesan seolah-olah dia adalah figur paling pantas untuk dipilih.  
Ada lagi yang kong kali kong dengan oknum-oknum pastor dan pendeta agar bisa menggunakan mimbar gereja sebagai podium kampanye. Akan ini, akan itu. Janji dipakai sebagai senjata untuk menjerat umat yang nota bene pemilih.
Namun ada yang kritis. Kelompok ini selalu realistis. Tak mudah terpengaruh. Apalagi terhadap janji-janji politisi. Lewat berbagai media, kaum realistis ini selalu berusaha untuk memberi pencerahan bagi para pemilih tradisionil yang masih terjebak dengan sentimen suku, agama, ras dan lain sebagainya yang tidak realistis.
Lazimnya orang ke gereja untuk beribadah, berkomunikasi dengan Tuhan. Bukan dengan politikus. Tapi itulah politikus, setiap ada kesempatan selalu dimanfaatkan. Tak peduli di gereja atau di gudang. Bagi mereka, yang penting bisa kenyang dan tidur pulas dikemudian hari.
Mirisnya, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya sebagai pembina poilitik di NTT ikut-ikutan bermanuver. Misi yang dibawa adalah bagaimana memenangkan Jeriko, kandidat yang diusung PDIP dan GERINDRA. Dari lorong ke lorong, komunitas ke komunitas, bahkan dari gereja ke gereja politisi PDIP asal Pulau Adonara itu datangi. Harapannya hanya satu, yakni pada 1 Mei 2012 nanti, masyarakat yang didatangi bisa memenangkan Jeriko.
Sontak saja membuat masyarakat menjadi terpecah-pecah. Ada yang bertanya gubernur ini gubernurnya orang NTT atau gubernurnya Jeriko dan simpatisan PDIP? Tapi para loyalis gubernur tetap kukuh. Pemilukada Kota Kupang sedang dijadikan sebagai ajang ujicoba untuk pilgub 2013.
Itu sebabnya keberpihakan gubernur terus menjadi topik diskusi di berbagai media, termasuk di dunia maya, melalui facebook dan twitter. Mayoritas tidak menyetujui sikap dan keperpihakan gubernur.
Sesungguhnya tak ada aturan yang melarang. Tapi etika mengharuskan sang pembina mesti bersikap netral. Apalagi dalam masa Paskah ini.
Namun calon walikota yang tidak didukung oleh gubernur tetap yakin, “Kita boleh berusaha, tapi sesungguhnya Tuhan telah menunjuk paket mana yang akan memimpin Kota Kupang selama 5 tahun kedepan”.
Itu sebabnya mereka tak peduli dengan keberpihakan gubernur. Toh rakyat Kota Kupang sudah matang dalam berpolitik. Semua akan terbukti pada hari H nanti.
By. Chris Parera

Melatih Kecerdasan Bayi


sergapntt.com – Setiap orang-tua menginginkan anaknya tumbuh cerdas. Karena itu para orang-tua melatih kecerdasan otak bayi dengan maksimal.
Beberapa yang diajarkan orang-tua kepada bayinya seperti mengajarkan bentuk pada bayi, mengenal warna pada bayi, dan interaksi anda dengan dia setiap harilah yang memberi kontribusi begitu besar bagi perkembangan otaknya.

Para pakar mengatakan pembelajaran pada program bayi cemerlang harus menekan pada AVM, yaitu Auditory, Visual, dan Memory.Pengenalan AVM sangat berpengaruh pada perkembangan intelektual anak. Pengetahuan yang kita miliki terdiri dari 74% dari kemampuan visual, 12% dari pendengaran, dan sisanya dari sumber pengetahuan lain.

Nah yang harus ditekankan oleh para orang-tua, mereka sebaiknya mengajarkan bentuk pada bayi sedini mungkin.

Mulai melatih kecerdasan otak bayi dalam mengenal bentuk-bentuk seperti lingkaran, segitiga, persegi panjang, bujur sangkar, dan sebagainya. Hal ini dapat anda lakukan dalam memilih mainan bayi yang besifat edukatif bagi bayi.

Selajutnya dengan menggambar dan mewarnai buku cerita yang lucu-lucu bisa memberikan efek pembelajaran yang baik.Dengan demikian saat anak masuk usia TK atau Sekolah Dasar mereka sudah pandai membuat rancang bangun sederhana dari berbagai bentuk dan bidang.

Serta kemampuan kreativitasnya pun semakin hidup. Selain itu dalam susunan IQ ada satu bagian yang namanya spacial ability atau pemahaman ruang. Mereka yang kemampuan spacialnya bagus, dengan melihat mereka bisa tahu, “segi panjangnya miring tidak imbang antara kanan dan kiri.”

Jika pengenalan semacam ini tidak distimulasi sejak dini, tidak akan sedemikian terasah saat anak besar, Dan apakah program bayi cemerlang anda akan berhasil..?

by. Miranda Kalila

Warga Non NTT Antusias Ikut Paskah di Larantuka


sergapntt.com, LARANTUKA – Warga dari luar NTT terus berdatangan ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur. Tujuannya hanya satu, yakni mengikuti sekaligus menyaksikan secara langsung perayaan pesta Paskah di kota kecil di ujung timur pulau Flores itu.
Perayaan Paskah di Larantuka memang unik. Di sana, peristiwa penderitaan Yesus diungkapkan secara utuh. Siapa saja boleh ikut. Karena perayaan ini merupakan paduan tradisi dan ritual agama Katolik. Itu sebabnya warga non NTT, termasuk turis manca negara sangat antusias mendatangi Larantuka.
Prosesi Semana Santa (Pekan Suci) ialah tradisi yang diwariskan pastor Portugis yang datang ke Larantuka pada abad XVI. Tahun ini, umur prosesi itu mencapai lima abad. Di Portugis, negara asal prosesi ini, sudah lama ditinggalkan. Selebihnya masih diadakan di Filipina dan Syanyol. Inilah yang mendorong umat dari berbagai daerah dan mancanegara datang ke Larantuka.
Prosesi diawali dengan Rabu Trewa (Rabu Abu). Berpusat di dua lokasi yakni Kapela Wure (Kapela Tuan Ma) di Desa Wure, Kecamatan Adonara Barat, Pulau Adonara, dan Kapela Pohon Sirih (Kapela Tuan Ana-Kapela Yesus Kristus) di Larantuka. Trewa artinya bunyi-bunyian. Warga boleh memasang musik atau bunyi-bunyian lain. Gereja masih boleh membunyikan lonceng hingga pukul 20.00. Namun setelah misa Rabu malam, bunyi-bunyian tak dibolehkan.
Esoknya, perayaan perjamuan terakhir, Kamis Putih pukul 10.00 Wita, suasana Larantuka sangat sepi seperti halnya Nyepi pada masyarakat Hindu di Bali. Saat itu, diadakan persiapan mengeluarkan Tuan Ma (patung Bunda Maria). Patung Bunda Maria di Kapel Maria Pante Kebis, akan dimandikan oleh lima suku besar di Larantuka.
Kegiatan memandikan Patung Bunda Maria ini tertutup untuk umum. Namun, setelah pemandian, warga akan mengambil air mandi di bak lalu dipindahkan ke botol untuk dibawa pulang. Air ini diyakini memiliki khasiat. Tuan Ma hanya dikeluarkan setahun sekali saat rangkaian Paskah
Tradisi Paskah di Larantuka pada Jumat Agung dilakukan di laut. Prosesi laut mulai pukul 12.00 WIB dari pantai Kota menuju pesisir, ke desa Pohon Sirih. Sebelum menuju kapel Tuan Ma dan Tuan Ana (patung Yesus Kristus anak Allah), warga lebih dahulu menyambut Tuan Meninu (Yesus Kanak-kanak) di pinggir pantai Desa Pohon Sirih.
Prosesi pengantaran Tuan Meninu diawali oleh satu orang terpilih dari suku khusus yang menjunjung patung Tuan Meninu dari atas kapel menuju sampan khusus. Pada sampan ini, Tuan Meninu diletakkan di bagian depan dan satu orang pembawanya di belakang. Prosesi pengantaran ini diiringi warga menuju ke armida (tempat penataan patung) di dalam Kota Larantuka.
Untuk membuka jalan, anak-anak suku khusus berada di barisan depan iringan prosesi laut dari seberang Larantuka ini. Satu sampan berisi dua anak suku yang disebut laskar kecil. Sebanyak 7-8 sampan laskar kecil ini mengawal Tuan Meninu.
Di belakangnya, warga mengikuti prosesi laut menuju ke pesisir. Perjalanan laut menuju Pohon Sirih berlangsung satu jam. Di pesisir pantai, warga dari dalam Kota Larantuka sudah menunggu. Setibanya di Pohon Sirih, Tuan Meninu diantar menuju armida Pohon Sirih. Selanjutnya, warga berjalan menuju kapel Tuan Ma, lalu menjemput Tuan Ana, dan bersama warga menuju Gereja Katedral Larantuka.
Ritual keagamaan dilakukan dengan mencium salib (bagian dari penghormatan salib) di Gereja Katedral Larantuka mulai pukul 15.00 Wita. Lalu pukul 18.00, umat kembali menjalani prosesi yang dibuka dengan ovos atau peratapan. Ovos atau nyanyian ratapan dilakukan di gereja selama 15 menit.
Lalu umat keluar dari gereja dan mengelilingi delapan armida di Larantuka. Tuan Ma dan Tuan Ana beserta iring-iringan menjenguk delapan armida ini hingga pukul 03.00 Wita, hingga kembali lagi ke gereja. Ini adalah puncak prosesi Semana Santa di Larantuka.
Tapi, ritual Paskah ini belum berakhir. Pada Sabtu pukul 07.00 Wita, Tuan Ma dan Tuan Ana diantar pulang ke kapel masing-masing.
Saat Tuan Ma dan Tuan Ana kembali ke kapel masing-masing, suku mengambil alih prosesi. Suku khusus mengemas kembali Tuan Ma dan Tuan Ana, lalu kapel pun ditutup untuk umum. Berbagai suku, umat, masyarakat Flores hingga tamu asing berbaur dalam rangkaian prosesi lebih dari 24 jam ini.
Sabtu sore, warga Larantuka melakukan Misa Sabtu Santo (Misa Malam Paskah), mulai pukul 18.00 Wita. Pada waktu inilah lonceng gereja boleh dibunyikan kembali. Selanjutnya, ritual Paskah ditutup dengan misa. Misa Minggu dilakukan tiga kali, pukul 06.00, 08.00, dan 16.00 Wita.
Warga kembali ke rumah dan melepas lelah. Selama mengikuti ritual suku dan agama, semua umat bersemangat dan kuat secara fisik. Memang setelahnya tubuh terasa lelah dan kebanyakan warga menikmati waktu istirahat seusai Misa Minggu. Saat ritual Paskah, semua rumah di Larantuka terbuka untuk siapa saja. Tamu asing boleh menumpang mandi atau merebah di setiap rumah. Biasanya gereja juga menyiapkan pemandu wisata bagi tamu asing yang ingin mengikuti prosesi.
Prosesi Paskah di Larantuka memang satu-satunya di Indonesia. Itulah yang membuat warga NTT di perantauan selalu berupaya ke Larantuka saat Paskah tiba.
“Saya selalu ambil cuti dan pulang kampung selama seminggu untuk Paskah ini,” kata Stanislaus Soda yang lahir dan besar di Larantuka dan telah 20 tahun tinggal di Jakarta.
By. Indah Winarso/Herman Kotan

Malaka Disetujui Jadi Kabupaten Sendiri


sergapntt.com, JAKARTA – Badan Legislasi (Baleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah menyetujui Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang diusulkan Komisi II DPR. Dalam RUU tersebut Baleg meloloskan Kabupaten Malaka menjadi kabupaten sendiri yang akan dimekarkan dari Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain Malaka, Baleg juga menyetujui 18 daerah lain yang akan dimekarkan, yakni Provinsi Kalimantan Utara, Kabupaten Mahakam Ulu (Provinsi Kalimantan Timur), Kabupaten Musi Rawas Utara (Provinsi Sumatera Selatan), Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Provinsi Sumatera Selatan), Kabupaten Pangandaran (Provinsi Jawa Barat), Kabupaten Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara), Kabupaten Pesisir Barat (Provinsi Lampung), Kabupaten Mamuju Tengah (Provinsi Sulawesi Barat), Kabupaten Banggai Laut (Provinsi Sulawesi Tengah), Kabupaten Morowali Utara (Provinsi Sulawesi Tengah), Kabupaten Konawe Kepulauan (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Kolaka Timur (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Buton Selatan (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Buton Tengah (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Muna Barat (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kota Raha (Provinsi Sulawesi Tenggara), Kabupaten Manokwari Selatan (Provinsi Papua Barat), dan  Kabupaten Pegunungan Arfak (Provinsi Papua Barat).
“RUU ini nanti akan dibahas pada paripurna 11 April mendatang,” kata anggota Baleg Nurul Arifin, Jumat 6 April 2012.
By. CHE/ANANDA PUTRI