Balon Walikota Kupang Diharuskan Lengkapi KTP Pendukung


sergapntt.com [KUPANG] – Juru bicara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kupang, Baharudin Hamzah mengatakan, paket bakal calon (balon) walikota –wakil walikota Kupang periode 2012-2017 yang akan melalui lajur independen atau perseorangan harus menyerahkan bukti foto copy kartu tanda penduduk (KTP) berjumlah lima persen dari jumlah pemilih yang ada di Kota Kupang.
“Jumlah lima persen dukungan KTP dihitung dari keseluruhan jumlah penduduk di Kota Kupang yang ditetapkan oleh pemerintah setempat,” kata Baharudin di kantornya, Kamis (5/01/12).
    
Dia menjelaskan, sesuai dengan keputusan Pemerintah Kota Kupang melalui Surat Keptusuan Walikota Kupang nomor 01, tentang Jumlah Penduduk Kota Kupang ditetapkan berjumlah 448.687 jiwa.
Dengan demikian, lanjut dia, sebagaimana sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku tentang lima persen dari jumlah penduduk yang ada tersebut, setiap paket balon perseorangan harus memenuhi 22.435 KTP penduduk untuk bisa mendaftar ke KPU yang merupakan tahap awal dari rangkaian tahapan pelaksanaan pilkada mendatang.    “Jadi saat mendaftar setiap paket balon perseorangan harus menyerahkan 22.435 foto copy KTP pendukung ke KPU,” kata Baharudin.
Dia menambahkan, 22.435 foto copy KTP pendukung itu pun masih dibatasi untuk tidak semua penduduk di wilayah ini, karena yang berstatus Pegawai negeri Sipil (PNS) sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor : 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil  (PNS) dilarang untuk memberikan dukungan.
Pascapenyerahan semua persyaratan termasuk dukungan KTP masyarakat untuk bakal calon perseorangan tersebut, KPU melalui Panitia Pemungutan Suara (PPS) melakukan verifikasi semua berkas administrasi juga termasuk verifikasi faktual ke tengah masyarakat. “Verifikasi faktual akan dilakukan di tengah masyarakat selama 14 hari dengan memeriksa pemilik KTP, data diri, alamat domisili serta keberadaan masyarakat itu,” kata Baharudin.
Menurut baharudin, pola verifikasi dapat dilakukan dengan berkoordinasi bersama-sama tim paket bakal calon agar bisa berjalan lancar, termasuk jika dengan cara mengumpulkan warga di satu lokasi.
Pascaverifikasi tahap pertama, dan ada paket balon yang belum memenuhi persyaratan, maka akan diberikan lagi kesempatan tahap kedua untuk melengkapi persyaratan yang belum terpenuhi, termasuk KTP dukungan.
Calon Walikota dan Wakil Walikota Kupang pasca kepemimpinan Daniel Adoe – Daniel Hurek (DAN-DAN) yang disebut-sebut akan melalui jalur independen antara lain, Jonas Salean – Herman Man, Ny. Mercy Pello – Korinus, dan Bernad Pelle dan Ally Nurawi.
By. AMA

Prabowo Lantik Pengurus DPD Gerindra NTT


sergapntt.com [KUPANG] – Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto dipastikan akan melantik para pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 7 Januari 2012.
Demikian dikatakan Sekretaris DPD Gerindra NTT, Gabriel Beri Binna kepada sergapntt.com di Kupang, Kamis (5/01/12). “Pelantikan akan dilaksanakan di aula El Tari Kupang,” ujarnya.
Selain melantik pengurus DPD Gerindra NTT, Prabowo juga akan melantik para pengurus Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) NTT. “Tanggal 7 pelantikan pengurus Gerindra NTT, tanggal 8 pak Prabowo juga akan melantik pengurus IPSI. Setelah itu, acara akan dilanjutkan dengan Natal bersama,” papar Beri Binna.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, kata Beri Binna, antara lain Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerindra, Prof. Dr. Ir. Suhardi, M.Sc,  dan Anggota DPR asal Daerah Pemilihan (Dapil) NTT.
By. CHRIS PARERA

Sandal Jepit, Simbol Ketidak Adilan Indonesia


sergapntt.com [Jakarta] – Indonesia memiliki simbol ketikdakadilan baru: sandal jepit. Begitulah berita-berita di media asing. Aksi pengumpulan sandal jepit, baru atau lawas, pun mendunia.

Aneka judul menghiasi media massa asing, mulai media Singapura hingga AS. Ada yang memberi judul “Indonesians Protest With Flip-Flops”, “Indonesians have new symbol for injustice: sandals”, “Indonesia’s Flip-Flop Revolution”, “Indonesians dump flip-flops at police station in symbol of frustration over uneven justice”, maupun “Indonesians fight injustice with sandals”.

Koran Indonesia edisi Rabu (4/1/2012) juga tak kalah garang. Sejumlah koran menjadikan tebaran sandal jepit bekas di atas meja, yang dijepret dari ketinggian, sebagai foto utama di halaman satu.

Sandal jepit mendunia gara-gara kasus penganiyaan yang menimpa AAL, pelajar SMK berusia 15 tahun pada November 2010. Briptun Ahmad Rusdi yang indekos di Jl Zebra, Palu, geram karena sandalnya berulang kali hilang. Saat “diinterogasi” pada Mei 2011, AAL mengaku dia dan teman-temannya sebagai pencuri sandal-sandal itu. Saat “interogasi”, AAL mengaku terjadi pemukulan.

Orang tua AAL tidak terima sehingga melaporkan Briptu Ahmad Rusdi ke Propam Polda Sulteng. Kasus ini juga bergulir ke pengadilan. Mabes Polri berdalih, orangtua AAL-lah yang justru ingin membawa kasus ini ke pengadilan sehingga mendudukkan AAL sebagai terdakwa.

Jaksa dalam dakwaannya menyatakan AAL melakukan tindak pidana sebagaimana pasal 362 KUHP tentang Pencurian dan diancam 5 tahun penjara. Sementara itu, Polda Sulteng telah menghukum polisi penyaniaya AAL. Briptu Ahmad Rusdi dikenai sanksi tahanan 7 hari dan Briptu Simson J Sipayang dihukum 21 hari.

Pemberitaan media tentang kasus ini menarik perhatian Budhi Kurniawan untuk membuka posko “seribu sandal jepit” sebagai solidaritas ketidakadilan yang menimpa AAL. Posko di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jl Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, ini saat ini telah menerima 600 pasang sandal jepit aneka ukuran.

Nenek Djubaidah yang berusia 60 tahun, bahkan rela menyewa Mikrolet untuk mengangkut 80 pasang sandal yang dikumpulkannya dari para tetangganya.

“Awalnya saya lihat kasus ini di televisi. Saya kasihan. Saya hanya minta keadilan bagi AAL karena sebagai polisi walau ada wewenang juga harus sadar diri. Kalau keluarga polisi yang seperti itu bagaimana? Apa dia tidak minta keadilan. Jadi jangan mentang-mentang orang kecil kan bisa panggil orang tuanya,” kata Djubaidah yang mengenakan baju kebaya warna biru, Selasa (3/1).

Gara-gara masalah sandal yang tak seberapa mahal ini, Mabes Polri dibuat sibuk. Mereka menggelar jumpa pers hari Selasa kemarin. Bahkan Kapolri juga harus melayani pertanyaan wartawan tentang sandal jepit ini.


By. CHE/Detik News

Gubernur NTT: Kemesraan FREN Bukan Hanya Dalam Urusan Politik


FREN

sergapntt.com [KUPANG] – Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengaku, kemesraan hubungan yang harmonis bersama Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M. Si yang dikenal dengan nama sandi FREN (Frans dan Esthon) bukan semata-mata hanya dalam urusan politik.
”Hubungan FREN tidak semata-mata hanya dalam urusan politik. Tetapi saya bersama Pak Esthon Foenay telah komit untuk membangun hubungan persaudaraan dan kemanusiaan dalam membangun daerah ini,” tandas Gubernur dalam sekapur sirihnya pada acara Natal Bersama dan Tahun Baru Bersama Ikatan Keluarga Asal Lamaholot (IKAL) Kupang, di GOR Oepoi, Selasa malam (3/1/2012).
Menurut Gubernur, kegiatan natal bersama dan tahun baru bersama merupakan kesempatan untuk merajut kebersamaan dan persaudaraan di antara sesama warga Lamaholot dan sesama anak bangsa yang ada di Provinsi NTT. ”Lamaholot itu satu. Karena itu, kebersamaan dan persaudaraan harus terus dirajut di antara sesama warga Flobamorata dan sesama anak bangsa yang ada di daerah ini,” ucap Gubernur dan menegaskan, ”Kita memang perlu bersatu agar kita memiliki kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang.”
Gubernur mengajak, seluruh komponen masyarakat yang ada di daerah ini untuk mengambil peran dalam mengisi pembangunan. ”Mari kita ambil peran untuk membangun daerah ini biar lebih baik dan cepat maju. Tidak ada kemajuan tanpa kerja keras. Mari kita berpikir besar, bercita-cita besar dan mimpi yang besar untuk melahirkan karya-karya yang besar dalam membangun daerah ini,” kata Gubernur, disambut tepuk tangan hadirin.
Sementara itu, Romo Kanis Pen, Pr dalam khotbah Natal mengingatkan warga Lamaholot untuk berbagi suka cita Natal bersama dengan sesama warga yang menghuni bumi Flobamorata. Bahkan dalam nada sentilan Romo Kanis yang juga Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang (KAK) menegaskan sembilan (9) hal untuk direnungkan bersama. Pertama, adakah damai di hati, ketika kemiskinan dijual hanya untuk mempererat tali pinggang sementara yang miskin kian terkulai di tengah harapan mengubah nasib ? Kedua, adakah damai di hati tatkala lonceng gereja berdentang, tapi jiwa masih berlumuran kemunafikan dan suara rakyat hanya dibayar dengan janji dan baliho ?
Ketiga, adakah damai di hati, saat anak-anak bergelut dalam cucuran peluh mencari sesuap nasi, sementara yang bongsor dan kumisan duduk goyang kaki menunggu disuap ? Keempat, adakah damai di hati tatkala istri yang budiman dan setia menunggu dalam kecemasan, sedangkan sang suami memilih membagi upah lembur dengan kekasih gelapnya di pantai kota ? Kelima, adakah damai di hati ketika suami yang baik hati dan penuh cinta menimang anaknya yang tertidur, sementara sang istri yang berpura-pura mencintainya senang bercengkrama dengan bujangan macho di penginapan melati ? Keenam, adakah damai di hati ketika buah cinta direnggut untuk menghapus aib, sementara banyak pasangan suami istri yang putus asa, karena ketaksanggupan menghadirkan janin di rahimnya ? Ketujuh, adakah damai di hati saat kita berunding untuk menjatuhkan seseorang yang kita benci, sementara akar kebencian yang melilit, hanya karena beda kepentingan ? Kedelapan, adakah damai di hati, ketika kelimpahan dan kenikmatan hidup sepenuhnya dimiliki dalam rumah tangga, tetapi tak ada nuansa kehangatan menaungi anggota keluarga ? Kesembilan, adakah damai di hati, ketika kita tak mampu mengekang lidah dan melukai perasaan orang lain dengan perkataan, bahkan kemudian melengkapinya dengan perbuatan ? Sedangkan hati kita sesungguhnya sanggup memaafkan ?
Ikut hadir dalam acara tersebut, Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si dan Ibu Whelmintje Foenay, Ibu Lusia Adinda Dua Nurak Lebu Raya, Sekda NTT, Frans Salem, SH, M.Si dan ibu Bertha Salem Ladju, SH, Bupati Lembata, Yantje Sunur dan Wabup Lembata, Viktor Mado Watun, SH, Wabup Flotim, Valentinus Tukan, S.Ap, anggota DPR RI, DR. Jefri Riwu Kore, anggota DPRD NTT, Drs. Kristo Blasin, Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek dan ribuan warga Lamaholot yang berada di Kota Kupang dan sekitarnya.
by. VERRY GURU

Wagub NTT Ajak Warga Lamaholot Ingat Kampung Halaman


sergapntt.com [KUPANG] – Wakil Gubernur NTT, Ir. Esthon L. Foenay, M.Si meminta warga Lamaholot yang berada di daerah rantuan untuk mengingat dan memperhatikan kampung halamannya.
”Saya bersama Pak Frans Lebu Raya telah bertekad dan mengajak kita semua termasuk warga Lamaholot yang ada di rantuan untuk ingak kampung halaman. Ingat asal usul dari mana kita datang. Kami namakan program itu, Gerakan Pulang Kampung atau GPK,” ucap Wagub dalam sambutannya pada acara Natal Bersama dan Tahun Baru Bersama Ikatan Keluarga Asal Lamaholot (IKAL) Kupang, di GOR Oepoi, Selasa malam (3/1/2012).
Selain itu, menurut Wagub, tekad kepemimpinan FREN (Frans dan Esthon) juga berusaha untuk mensejahterakan rakyat yang berada di desa-desa yang ada di wilayah Provinsi NTT. ”Fokus perhatian FREN juga untuk kesejahteraan rakyat. Kami berdua sepakat dana yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) diserahkan kembali kepada masyarakat melalui Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah. Program ini dimaksudkan untuk percepatan dan pemberdayaan masyarakat miskin yang berada di desa-desa. Karena melalui program ini ada investasi modal yang beredar di desa dan ada investasi sumber daya manusia melalui keberadaan PKM (Pendamping Kelompok Masyarakat) sebagai fasilitator,” tandas Wagub, disambut tepuk tangan para hadirin.
Wagub juga mengaku, hingga kini dirinya bersama Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya tetap harmonis dan kompak dalam memimpin masyarakat NTT. ”Saya dan Pak Frans tetap harmonis dan kompak. Keharmonisan dan kekompakan sebagai keteladanan yang terinspirasi dari kelahiran Yesus Kristus di Betlehem. Sebagai pemimpin kita harus tetap harmonis dan kompak dalam membangun daerah ini,” ujar Wagub.
Belajar dari kesederhanaan Yesus Kristus, lanjut Wagub, FREN juga hingga kini tetap sederhana dalam melayani dan memimpin daerah ini. ”Kesederhanaan itu juga nampak dalam ajakan kami kepada masyarakat untuk cintai dan bangga dengan mengkonsumsi pangan lokal yang ada di daerah ini sebagai konsumsi utama,” tandas Wagub sembari menambahkan, ”NTT yang sudah sulit secara ekonomis dan transportasi jangan lagi dipersulit dalam persahabatan dan persaudaraan.”
Ketua panitia penyelenggara, Drs. Aba Maulaka dalam laporannya mengatakan, acara Natal bersama dan Tahun Baru bersama warga IKAL Kupang merupakan momentum perarakan spiritualitas iman warga Lamaholot yang ada di Kota Kupang dan sekitarnya. ”Acara ini juga merupakan salah satu bentuk dalam menjaga komitmen dan spirit kekeluargaan dalam ikatan warga Lamaholot yang ada di rantuan sekaligus refleksi kita terhadap Lewotana tercinta,” tandas Aba yang juga mantan Wakil Bupati Alor.
Di sela-sela kegiatan tersebut, Gubernur dan Wagub berkenan menyerahkan bantuan uang senilai Rp 25 juta untuk TK Santa Mari Asumpta Walikota Baru yang beberapa waktu lalu gedungnya terbakar dan diterima Suster Kepala TK serta bantuan untuk Panti Asuhan Laes Manekat Lasinana Kota Kupang.
Ikut hadir dalam acara tersebut, Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dan Ibu Lusia Adinda Dua Nurak Lebu Raya, Ibu Whelmintje Foenay, Sekda NTT, Frans Salem, SH, M.Si dan ibu Bertha Salem Ladju, SH, Bupati Lembata, Yantje Sunur dan Wabup Lembata, Viktor Mado Watun, SH, Wabup Flotim, Valentinus Tukan, S.Ap, anggota DPR RI, DR. Jefri Riwu Kore, anggota DPRD NTT, Drs. Kristo Blasin, Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek dan ribuan warga Lamaholot yang berada di Kota Kupang dan sekitarnya.

By. VERRY GURU