Mereka Yang Mendaftarkan Diri


sergapntt.com [ATAMBUA] — Kepala Sekolah SMA Kristen Atambua, Abraham Dakamuly, SM. pertengahan tahun 2007 lalu berhasil mengirimkan sebanyak 106 anak ke Jakarta dengan tujuan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, ada kabar menyebutkan sejumlah anak tersebut diterlantarkan disana. “Jadi kalau ada yang ditelantarkan, bagi saya ……Tuhan saja yang tahu,” kata Abraham Dakamuly, saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.
Bagaimana sampai anda mengumpulkan 106 anak untuk dikirim ke Jakarta?
Begini, disekolah kita banyak Universitas yang datang mensosialisasikan program mereka untuk anak-anak lulusan di SMA Kristen, kemarin kita punya lulusan cukup besar 423 yang lulus oleh karena itu mereka datang mensosialisasikan program mereka termasuk Universitas SETIA (Sekolah Tinggi Theologia) Jakarta. Awalnya dia mengirimkan brosur kepada sekolah-sekolah termasuk sekolah kami. Dan karena itu dari brosur yang anak-anak terima kemudian anak-anak menyampaikan pada teman-teman yang lain juga, lalu mereka berminat pada sekolah tersebut. Jadi mereka yang mendaftarkan diri waktu itu sampai 200 anak-anak yang ingin ikut kuliah di Universitas SETIA Jakarta. Sebab dari brosur itu yang ditawarkan oleh SETIA Jakarta adalah Pendidikan Guru SMP (PGSMP) pada jurusan FKIP untuk bidang studi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi Akuntansi, kemudian untuk PMP ditambah lagi dengan IPS dan IPA. Karena tawaran program itu sehingga anak-anak kita berminat untuk kuliah disana. Minat anak-anak kita itu dapat dilihat dari jumlah saat pendaftaran yang mencapai 200 lebih anak calon mahasiswa SETIA. Dan karena jumlahnya besar saya minta untuk mereka Universitas SETIA Jakarta datang untuk memberikan sosialisasi tentang kondisi Universitas itu disekolah kita, sosialisasinya bukan hanya satu kali tapi dua kali sosialisasi dan yang terakhir selama dua hari langsung dengan orang tua calon mahasiswa.
Bisa diceritakan bagaimana sampai anda berkenalan dengan lembaga pendidikan di Jakarta itu ?
Oh ….Iya. Rektornya sudah pernah datang disekolah ini (SMA Kristen) dua tahun lalu. Mereka mensosialisasikan hal yang sama, tapi ketika itu Program PGTK dan PGSD pada waktu yang sama, kita di Atambua juga ada PGSD sehingga tidak ada simpatisan kita yang berminat untuk kuliah ke sana. Sementara untuk tahun ini Universitas SETIA Jakarta datang mensosialisasikan PGSMP karena program itu sehingga anak-anak kita begitu banyak yang membaca itu dan berminat ingin kuliah kesana. Karena sebelumnya mereka merasa bahwa kalau kuliah ke Jakarta itu susah, biayanya mahal, tempat penginapanna bagaimana kemudian dengan makannya tentu sangat mahal. Sedangkan tawaran Universitas SETIA Jakarta dalam brosur dan sosialisasi itu biaya pendidikannya murah ditambah penginapannya mereka siap dan makan juga mereka siap……begitu.
Sehingga anak-anak kita begitu banyak yang berminat. Jadi sebenarnya kami hanya sebatas mempersiapkan sarana untuk setiap universitas yang mau mensosialisasikan program pendidikannya bagi anak-anak kita. Saya kira ini sama dengan sekolah-sekolah lain yang juga memberi tempat untuk setiap lembaga pendidikan memberikan sosialisasi, mungkin tidak hanya SMA Kristen saja. Karena kalau anak-anak kita tertarik dengan program  yang ditawarkan dari Universitras mana saja, mereka mungkin ada kemudahan dan mereka berhasil itu kan untuk keinginan diri mereka itu yang merupakan tujuan kita bersama. Karena anak-anak bukan tidak saja hanya berkualitas tapi diharapkan harus memiliki keinginan untuk mempersiapkan generasi ke depan yang memiliki kemampuan untuk menguasai IPTEK.
Apa saja komitmen diantara anda dan lembaga pendidikan itu sehingga anda dapat mengirim 106 anak ke Jakarta ?
Saya pikir ….. bukan kami berani mengirim. Jadi sebenarnya juga kami bukan punya komitmen untuk mengirim mereka. Ini kan sebenarnya dari pihak mereka (SETIA Jakarta) yang datang mensosialisasikan program ini yang kemudian diminati oleh anak-anak ini. Makanya mereka ikut dengan maksud mau kesana (Jakarta) itu begitu. Dan saya sendiri juga pergi tapi bukan antar mereka. Saya antar anak saya karena dia juga ikut makanya saya ikut untuk mau lihat langsung disana, betulkah seperti apa yang mereka sosialisasikan disini atau tidak. Sehingga anak saya bisa ikut studi disana bisa nyaman dan aman. Jadi setelah mereka sosialisasikan mengenai Kampus SETIA Jakarta, saya punya anak bilang bapak mesti ikut, jadi saya pergi bukan karena mengirim tapi karena anak saya juga pergi…..iya saya pasti ikut dong.
Mengapa anak-anak itu terlantar?
Pak, saya pikir itu….. mungkin yang bisa memberikan penjelasan pihak Universitas SETIA Jakarta dan penjelasan dari Universitas itu sudah dimuat di surat kabar bahwa sebenarnya tidak ada nak-anak diterlantarkan, yang ada itu mungkin anak-anak menterlantarkan diri. Maksudnya kalau dia paksa untuk keluar dari kampus SETIA Jakarta memang bukan tanggung jawab Universitas SETIA Jakarta lagi, jadi kalau bilang Universitas SETIA Jakarta terlantarkan anak-anak itu tidak ada dan itu kewenangan dari mereka untuk memberikan klarifikasi seperti apa yang sudah dimuat dikoran itu kan begitu …….. Kalau saya, saya beberapa hari ada disana dan bilang anak-anak itu diterlantarkan itu sama sekali tidak, malahan saya juga dialog langsung dengan rektornya sebelum saya pulang ke Atambua. Maksudnya mau tahu kepastian tentang pendidikan disana. Jadi kalau ada yang diterlantarkan itu bagi saya, iya…… Tuhan saja yang tahu.
Sebab beberapa hari ada disana menurut pengamatan saya, mereka sangat tidak mungkin untuk mentelantarkan. Ya …. saya tidak bisa berkomentar karena pengamatan saya ketika ada disana tidak seperti itu bahwa mereka janji punya tempat penginapan ya….mereka punya tempat penginapan bagus. Artinya asrama itu ada 5 unit rumah yang berlantai 3 dan 4 lantai semuanya dilengkapi dengan tempat tidur, begitu. Jadi 5 asrama itu tiga untuk putra dan dua untuk putri. Sehingga kalau bilang untuk ditelantarkan tidak mungkin. Jadi sebenarnya tidak perlu saya mengomentari itu toh. Kemudian sampai dengan yang terakhir saya mau pulang, saya masih tawarkan pada mereka kira-kira dari seluruh yang disosialisasikan kalo masih ada yang merasa tidak bisa, ya…. pulang dengan saya sehingga memang hari itu ada 42 anak yang minta pulang dengan saya. Dan 42 anak itu seluruh pengeluaran uang masing-masing mereka dikembalikan yakni uang kapal 495.000, biaya pendaftaran 200.000 untuk masuk Universitas Setia Jakarta, Biaya Ongkos bus Atambua Kupang 40.000, Uang Jaket Almamater dengan pakaian satu pasang 400.000 itu semua dikembalikan.
Sehingga kami pulang bisa menggunakan pesawat. Dari 42 orang yang membuat pernyataan pengunduran diri itu ada orang tua yang datang menawarkan kalo izinkan mereka yang sudah datang di Jakarta bisa diberi kesempatan untuk tetap tinggal di Jakarta. Sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikan di sekolah yang lain. Sehingga kesepakatan juga kami langsung buat dengan anak-anak yang mau melanjutkan kuliah disana bersama para orang tua dari Ikatan Keluarga Belu (IKB) yang ada di Jakarta (nama ketuanya saya lupa) bahwa mereka bertanggungjawab terhadap anak-anak yang mereka jemput di SETIA Jakarta. Sehingga saat itu saya hanya pulang dengan 9 orang anak karena ada permintaan beberapa orang tua dan wali yang disana.
Apa yang anda lakukan ketika mengetahui anak-anak itu ditelantarkan?
Ya…. jadi saya langsung bicarakan dengan pihak SETIA Jakarta bahwa saya dengar anak-anak ditelantarkan tetapi jawaban dari sana bahwa selama berada di Kampus SETIA tidak ada yang ditelantarkan seperti yang mereka sudah memberi klarifikasi berita yang ada di koran itu, dan saya sendiri juga ada disini sehingga saya tidak tahu secara pasti dan saya juga dipanggil Pak Wakil Bupati Belu. Alasan kenapa sampai tidak melaporkan pada pemerintah, akhirnya saya menyampaikan bahwa hal itu tidak bermaksud mengirim, tapi semua mereka menyatakan pilihan untuk kuliah ke Jakarta. Jadi saya berpikir semua orang kan boleh memilih untuk kuliah dimana saja kan tidak melapor ke pemerintah. Jadi pikiran kita begitu saja. Mungkin karena ini soal sehingga harus dilaporkan ke pemerintah, saya tidak tahu. Tapi itu sepengetahuan saya mereka yang mau studi dimana saja kan umumnya tidak melaporkan pada pemerintah. Jadi saat saya di Pak Wakil Bupati saya menyampaikan juga bahwa disini saya hanya memfasilitasi sehingga Pak Wakil bilang memang maksud itu baik tetapi bahwa itu pertimbangan kemanusiaan saya diminta untuk membantu sedikit dana untuk mereka bisa pulang.
Jadi, saya sudah kirim dana pada orang yang urus mereka disana Ikatan Keluarga Belu (IKB). Dana yang saya kirim itupun hanya karena pertimbangan kemanusiaan saja. Informasi yang saya peroleh dari Pak Wakil Bupati bahwa 10 orang yang belum pulang sehingga saya kirim 5 juta. Ada bukti pengiriman lengkap.
Betulkah anak-anak itu kabarnya dibujuk untuk pindah agama?
Jadi begini, pendidikan ini kan semua orang boleh masuk, dari Katolik, Protestan dan Islam juga masuk. Bahwa selama dia mengikuti pendidikan dia ikut pelajaran agama Protestan betul, tapi setelah dia tamat yang Katolik tetap Katolik dan yang Islam tetap Islam. Jadi isu seperti itu suatu hal yang luar biasa, oleh karena itu saya pikir juga SETIA Jakarta sudah lupa diri sebenarnya. Kalau mungkin Pak Bupati, Pak Wakil dan Dewan bisa melihat langsung kondisi yang dialami oleh anak-anak di SETIA Jakarta. Karena kalau macam begini susah untuk mengomentari, sebab saya bisa menyatakan bahwa tidak ada disana tapi kenyataannya lain lagi. Tapi saya yakin karena Rektor SETIA Jakarta saat itu saya menyatakan bahwa saya bawa ini ada anak-anak Katolik, dia bilang oh… tidak apa-apa, disini ini dia hanya belajar sebagai guru dan dia pulang. Dan kalau dia buat pernyataan untuk pindah misalnya masuk Protestan tetap kita tolak. Kita punya tujuan bukan itu. Tidak benar kalau kabar seperti itu, tapi sebaiknya lihat langsung. Pak Rektor juga meyakinkan saya begitu karena saya bawa anak-anak yang kurang mampu dan saya tanya langsung pada anak-anak apakah yang mereka sosialisasikan itu sesuai atau tidak ternyata sesuai dengan yang mereka sosialisasikan itu, ada penginapan, kemudian mereka diberikan kemudahan soal biaya. Malahan SETIA Jakarta mempunyai prinsip bahwa tidak akan mengeluarkan mahasiswa dari SETIA Jakarta hanya karena dia tidak bayar uang sekolah. (by. rudy tokan) 
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s