Guru Agama Yang Sadis


sergapntt.com (Wetabula) – Andreas alias Adi, menjadi korban sia-sia dari ulah kakaknya, Dominggus (29). Domi yang adalah Guru Agama ini tega menebas adiknya hingga tewas setelah sempat dirawat di rumah sakit Karitas Wetebula, Sumba Barat.
Dini hari pada tanggal 15 Januari 2008, sekitar pukul 01.00 Wita, Kampung Kelembu Podu, Kecamatan Tanah Righu, Lokoy, geger oleh pembunuhan yang tergolong sadis. Andreas alias Adi, tewas dibunuh kakak kandungnya, Dominikus. Istri korban (Adi), Lidia kepada Sergap NTT, pekan lalu, membeberkan peristiwa naas yang menimpa suaminya tersebut.
Ia mengatakan, motif pembunuhan suaminya tidak jelas. Ia bercerita, pada malam naas itu, suasana sekitar kampung sepih, semua penghuni kampung sudah tidur lelap. Tak ada yang tahu kalau di salah satu sudut kampung itu terjadi pembunuhan terhadap Adi, oleh saudara kandungnya.
Yang tahu, cuma istri korban, Lidia, yang malam itu menyaksikan kekejaman saudara kandung dari suaminya, yang dikenal masyarakat sebagai guru agama itu, membunuh suaminya.
Menurut Lidia, sebelum kejadian sadis itu, korban, pelaku dan Yakub (seorang rekan mereka) berboncengan dengan sepeda motor berbelanja di kiosnya Ama Tuti alias Tinus. Mereka membeli minuman keras dan langsung minum di kiosnya ama Tinus hingga larut malam. Karena sudah larut malam, korban dan saudara kandungnya dan seorang rekan mereka, pamit dari kiosnya ama Tinus ke Kelembu Podu. Tiba di Kelembu Podu pukul 01.00 Wita. Korban, Adi, langsung masuk kamar dan tidur.
Tidak lama berselang, istri korban tersadar dari tidurnya dan mendengar suara korban yang adalah suaminya, mengatakan, sumpah…….sumpah….., tanpa tahu apa sesungguhnya yang terjadi dengan suaminya. Saat itu, suara Domi, pelaku pembunuhan yang adalah kakak korban, terdengar semakin keras dan sangat kasar terhadap korban.
Lidia menduga, Domi (pelaku) dan rekannya Yakub, sudah merencanakan pembunuhan tersebut. Indikasinya, kata Lidia, mereka berusaha menjebak korban dan memang korban terperangkap jebakan mereka dengan bersama-sama menenggak minuman keras sebelum peristiwa naas itu terjadi. Akibatnya, nyawa Adi menjadi korban kekejaman kakak kandung sendiri. ”Malam itu, memang Domi tidak bisa kendalikan emosinya. Apalagi dia dalam keadaan mabuk sambil berteriak dengan suara kasar terhadap si korban. Keluar……..kau!,” kata Lidia, mengutip teriakan Domi, pelaku pembunuhan tersebut.
Karena korban tak juga keluar dari kamar tidurnya, pelaku (Domi) dengan paksa membuka pintu dan sambil membawa parang dan mengejar korban. Korban juga bangun dan sambil berteriak minta parang kepada istrinya. Namun, sang istri tidak memberi parang, malah menyembunyikan parang tersebut.  Akibatnya, pelaku semakin garang dan dengan mudah melumpuhkan korban dengan beberapa kali tebasan parang. Meski sempat dihadang  oleh Yakub dengan menangkap dan menahan Domi, namun saking emosinya, Domi langsung menebas korban dan mengenai tangan kiri korban. Korban bersimbah darah. ”Saat itu saya sempat berteriak-teriak melarang Domi untuk tidak membunuh Adi. Tapi, Domi sudah kalap dan tidak bisa dibendung,” tutur Lidia sembari mengurai air mata.
”Saya berulang kali teriak minta tolong tapi tidak ada yang dengar. Suami saya tidak bisa berdaya, akhirnya suami saya mati dibunuh oleh kakak kandung sendiri,” ujarnya. Dia mengaku menyaksikan suaminya tergeletak tak berdaya di emperan rumah bersimbah dara.
Menurutnya, setelah Domi menebas Adi, suaminya, pelaku masih sempat mendekati korban dengan lampu pelita sembari mengejek, ”E…. lu belum mati juga?
Malam itu juga, korban langsung dilarikan ke rumah sakit Malata. Sayangnya, tim medis yang menangani korban mengaku tidak bisa menyelamatkan nyawa korban.
Kakak korban lainnya, Yosafat, memutuskan untuk menghubungi mobil ambulans untuk membawa korban ke Rumah Sakit Karitas Wetebula. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, korban masih sempat mengatakan kepada Yosafat, kakaknya, agar ”Jangan pernah meninggalkan dirinya sampai di mana pun berobat. ”Bila saya tidak bisa diobati, saya harus pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Lidia mengutip kata-kata suaminya.  
Sesudah tiba di rumah sakit, korban minta air teh. Korban sempat ditangani secara medis, namun keadaanya bertambah parah. Dan, ketika kakaknya, Yosafat, kembali ke rumah untuk mengambil makanan (bubur), korban menghembuskan nafas terakhir. Korban meninggal dunia.
Pada malam naas itu juga, Domi dan rekannya, Yakub, langsung diamankan di Kapolsek Malata untuk dimintai  keterangan. Keesokan harinya, tanggal 16 Januari 2008, sekitar pukul 18.00 Wita, pelaku dipindahkan ke Polres Wetebula untuk menjalani proses hukum. +++ martinus pandang

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.