CNRT vs FRETILIN, Siapa Menang?


sergapntt.com, DILI – Tinggal beberapa hari lagi Pemilu Presiden RDTL akan digelar. Banyak spekulasi mengarah pada pertarungan dua kandidat yang didukung oleh CNRT dan FRETILIN, yakni mantan Panglima F-FDTL, Taur Matan Ruak dan dedengkot FRETILIN, Fransico Guterres Lu Olo.
Dunia internasional menilai besar kemungkinan Taur Matan Ruak akan terpilih menjadi presiden RDTL untuk periode 5 tahun mendatang. Itu karena sang Jenderal mendapat dukungan dari Xanana Gusmao. Ini merujuk pada hasil pemilihan tahun 2007, dimana Ramos Horta berhasil mengalahkan kandidat-kandidat lain karena mendapat dukungan Xanana Gusmao.
Eitsssss, sabar dulu! Di pemilu lalu memang benar Xanana Gusmao memberikan dukungannya kepada Ramos Horta, termasuk partainya CNRT. Tapi, walaupun sudah mendapat dukungan penuh dari Xanana Gusmao, hasil pemilihan presiden putaran pertama mengecewakan, Ramos Horta kalah dengan Lu Olo, yakni Ramos Horta hanya mendapat 22.5% sementara Lu Olo 28.79% suara.
Ini jelas-jelas menunjukkan bahwa kandidat yang didukung oleh Xanana Gusmão tak selalu unggul dalam pentas politik. Yang menentukan kemenangan Ramos Horta pada pemilihan presiden putaran kedua bukan Xanana, tetapi La Sama dan PDnya serta Xavier do Amaral dengan ASDTnya.
La Sama dan Xavier do Amaral yang mengarahkan para pendukungnya untuk memilih Ramos Horta pada pemilihan presiden putaran kedua setelah mereka tidak berhasil lolos ke putaran kedua.
Andaikata pada saat itu La Sama dan Xavier do Amaral memberikan dukungannya kepada Lu Olo sudah otomatis Ramos Horta tidak jadi presiden RDTL, sebab suara yang diraih oleh Lu Olo pada pemilihan putaran kedua (31%) di tambah dengan suara La Sama (18.52%) dan suara Xavier do Amaral (12.82%) dari hasil pemilihan presiden putaran pertama sudah melampawi 60% suara.
Begitupun dalam pemilihan legislatif, Xanana yang begitu yakin mendirikan CNRT untuk mengalahkan FRETILIN justru kalah dari FRETILIN yang pada saat itu sedang terpuruk karena masalah internal partainya dan krisis 2006.
Xanana berhasil menjadi Perdana Menteri, sekali lagi, karena didukung oleh La Sama dan PDnya, dan partai-partai kecil lainnya yang tergabung dalam Aliansi Maioritas Parlamen (AMP). Andaikata PDnya La Sama dan ASDTnya Xavier do Amaral menolak membentuk pemerintahan koaliasi bersama CNRT dan memilih berkoalisi dengan FRETILIN maka Xanana pun tidak jadi Perdana Menteri. Jadi Xanana sendiri pun kesulitan untuk mencapai apa yang beliau inginkan, mau tidak mau beliau harus mencari dukungan dari partai lain untuk menjadi Perdana Menteri. Tidak sulit bagi Xanana untuk mendapkan dukungan dari partai lain, karena FRETILIN pada saat itu tidak mempunyai hubungan baik dengan partai-partai lain di Timor-Leste. Sekarang situasinya sudah berubah, hubungan FRETILIN dengan partai-partai lain sudah mulai mencair walaupun masih ada yang tidak setuju dengan kepemimpinan Alkatiri yang sangat otoriter.
Persoalan lain yang tidak menguntungkan Taur Matan Ruak adalah krisis politik dan militer tahun 2006. Tanpa menuduhnya sebagai pelaku utama krisis 2006, tetapi sebagai Panglima F-FDTL saat itu, secara langsung atau tidak langsung dia turut bertanggungjawab.
Lebih aneh lagi, pada saat itu, Xanana Gusmao sebagai Panglima Tertinggi F-FDTL, menyuruh kolonel Pedro Klamar Fuik untuk menemui Taur Matan Ruak di Aeroport Nicolau Lobato, mimintanya untuk membatalkan kunjungannya keluar negeri guna menyelesaikan masalah petisioner. Tetapi Matan Ruak menolak dan secara emosional menjawab: “Se mak hakarak funu ita funu”. Pernyataan ini dikutip oleh Xanana Gusmao dan diberitakan secara luas di berbagai media nasional dan internasional.
Seorang calon presiden tidak pantas mengeluarkan pernyataan seperti itu, apalagi mau berperang melawan rakyat dan saudara-saudaranya sendiri dari sektor barat. Seharusnya dia mengendalikan diri dan mengontrol emosinya. Seorang negarawan adalah seorang yang mampu merangkul rakyatnya, bukan mengancam dengan perang.
Sebagai reaksi atas persoalan rejionalisme yang ditiupkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, beberapa pemuda yang menamakan diri intelektual dari sektor barat pun ikut terpengaruh, secara langsung atau tidak langsung ikut memanasi api rejionalisme karena tersingung atas pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa saudara-saudara kita dari sektor barat tidak mempunyai banyak peranan dalam perjuangan pembebasan Timor-Leste dari pendudukan militer Indonesia.
Apakah para mantan anggota F-FDTL yang dipecat (memang pantas untuk di pecat karena tidak mengindahkan aturan dan disiplin militer) dan keluarganya serta intelektual-intelektual dari sektor barat dapat menerima Taur sebagai presiden RDTL? Hanya merekalah yang tahu, terima atau tidak diterimanya tergantung pada suara yang akan mereka berikan pada 17 Maret 2012.
Kita tidak meragukan kemampuan Taur Matan Ruak sebagai mantan komandan gerilya dan veteran perang. Kita menghormatinya sebagai seorang pejuang tulen dan dedikasinya sangat tinggi dalam perjuangan pembebasan Timor-Leste dari pendudukan Indonesia. Untuk menjadi presiden ini yang dipertanyakan, mampu atau tidak. Seorang presiden adalah seorang yang emosinya harus stabil dan tidak mudah mendeklarasikan perang, apalagi perang melawan rakyat dan saudara-saudaranya sendiri.
Mampu tidaknya seseorang, penilaiannya bukan datang dari diri sendiri, tetapi dari orang lain, sebab kebanyakan orang merasa diri mampu dan bisa, tetapi diragukan oleh orang lain. Kadang-kadang orang yang tidak ahli dalam penilaian, karena kurangnya pengetahuan, bisa saja menilai orang A atau B itu bisa atau mampu, tetapi setelah diberi kepercayaan ternyata orang itu tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Jawaban atas mampu atau tidaknya Taur ada dikantong para pemilih melalui suara emas mereka.
Betul bahwa Matan Ruak mempunyai kemampuan untuk menjadi presiden, sama seperti para kandidat yang lain, tetapi krisis 2006 sepertinya tidak begitu menguntungkannya. Inilah tantangan besar bagi Matan Ruak. Dan pernyataanya yang mengatakan “se mak hakarak funu ita funu” telah membuat banyak orang ragu antara memilih dan tidak memilihnya, sebab rakyat Timor-Leste yang sudah berabad-abad menderita dan hidup dalam perpecahan akibat perang tidak mau menderita lagi sehingga mereka akan menolak pemimpin yang tidak berjuang untuk persatuan dan perdamaian bagi Timor-Leste.
Kalau memilih di antara kedua kandidat tersebut, berdasarkan pengalaman, karena pernah menempati posisi-posisi tinggi dalam negara dan pemerintahan, maka pilihan dari kebanyakan orang mungkin tidak akan jatuh ke Matan Ruak, walaupun dia didukung oleh para veteran perang. Toh belum tentu semua veteran mendukungnya. Sebab, banyak veteran juga mencalonkan diri jadi presiden dan mendapat dukungan pula dari para veteran.
Bisa dikatakan, Lu Olo pun adalah veteran karena kontribusi mereka dalam perjuangan pembebasan Timor-Leste tidak kalah dengan kontribusinya Taur. Apalagi Lu Olo pernah menjadi Presiden Parlamen
Lu Olo dan Taur Matan Ruak pernah sama-sama berjuang di front bersenjata untuk mempertahankan api perjuangan di dalam negeri kala menghadapi pendudukan Indonesia, dan lebih-lebih memberikan semangat kepada front klandestin dan diplomatik untuk terus berjuang.
Di mata rakyat Timor-Leste, kedua kandidat itu sudah tidak asing lagi, karena mereka sama-sama berjuang disamping rakyat selama masa pendudukan Indonesia. Mereka sama-sama dekat dengan rakyat, mereka hidup berbaur dengan rakyat dan mengenal kebutuhan, keterbatasan dan kesulitan-kesulitan rakyat. Tapi, harus mengakui bahwa setelah Timor-Leste lepas dari Indonesia, bisa dikatakan Lu Olo yang lebih dekat dengan rakyat karena mereka bukan saja sebagai politikus tetapi posisi-posisi penting yang mereka tempati menuntut mereka untuk selalu berkomunikasi dengan rakyat.
Sementara Taur Matan Ruak sebagai Panglima F-FDTL tidak begitu dekat dengan rakyat karena tidak ada programa F-FDTL untuk berkomunikasi secara rutin dengan masyarakat seperti zaman Indonezia melalui program ABRI Masuk Desanya dan lain-lain.
Namun politik is politik. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Kita tunggu saja hasil pemilu 17 Maret 2012. CNRT atau FRETILIN yang menang!
by. el che/Joanico Morreira

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?