Perjuangan Hidup Seorang penderita HIV


sergapntt.com, TIMORense – Bermula dari cita-citanya ingin menjadi seorang pelayan jemaat gereja,  membuat Tia-sebut saja begitu, setelah lulus dari SMA, ingin melanjutkan studinya pada Perguruan Tinggi yaitu di Fakultas  Theologi. Tepatnya pada 12 tahun silam, bermodalkan informasi yang diperoleh dari teman dan atas restu kedua orang tua maka Tia beranikan diri merantau untuk mengejar impian sebagai seorang pendeta disalah satu Universitas di Bandung-Jawa barat. Semua yang dijalani Tia semasa kuliah penuh dengan optimis dan tanpa hambatan. Malah, berharap setelah selesai pendidikan, keinginan utamanya kembali mengabdikan diri pada daerah asalnya Soe-TTS.
Tia yang dikenal gampang bergaul dengan siapa saja, membuat dirinya banyak teman. Sehingga suatu ketika dirinya berkenalan dengan Heru dan mereka berpacaran. Hubungan asmara tersebut bertahan hingga Tia dan Heru menyelesaikan pendidikan dan diwisuda. Ternyata selesai menjalani pendidikan, Tia tidak langsung pulang kampung halamannya karena lebih memilih hidup bersama sang kekasih, terbukti dirinya menerima pinangan Heru untuk dinikahi.
Setelah menikah, Heru membawa Tia tinggal bersama orang tuanya yang berdomisili di Jakarta. Heru yang diketahui merupakan anak tunggal, dengan kehidupan orang tuanya yang berada dan mapan secara materi, tentu sanggup memenuhi segala kebutuhan dari keluarga baru yang dibangun anaknya. Maklum, keduanya belum bekerja karena baru selesaikan studi.
Perjalanan biduk rumah tangga Tia bersama Heru berjalan wajar dan terasa indah karena Tia bukan saja mendapat kasih sayang dari sang suami namun dirinya juga mendapat perhatian dari kedua mertua serta keluarga besar Heru. Kebahagiaan mereka semakin bertambah setelah diketahui Tia mengandung anak pertama, sekaligus adalah cucu pertama bagi mertuanya.
Tapi kebahagiaan itu sirna, saat Tia melahirkan bayi perempuan hanya berselang dua hari dirawat di Rumah Sakit, bayi tersebut sakit dan meninggal tanpa ada penjelasan secara medis kepada Tia, sehingga  Kejadian tersebut dianggapnya sebagai suatu takdir. Tapi keinginan Tia sangat besar untuk kembali menghadirkan seorang anak dalam rumah tangganya bersama Heru. Akhirnya doa Tia terkabul, setelah diketahui dirinya mengandung anak kedua. Kabar tersebut sontak membuat perhatian mertua semakin berlipat ganda, bak seperti putri raja yang selalu dipantau gerak-geriknya selama 24 jam untuk mencegah terjadi hal serupa pada kelahira anaknya yang pertama.
Saat hamil tujuh bulan, Tia mendapat kesempatan berkunjung menemui orang tuanya yang berada di Soe-TTS, maklum saja sejak menikah bersama Heru, belum sekalipun dirinya mengunjungi keluarga besarnya. Tanpa disangka saat liburan bersama orang tua itulah, Tia melahirkan secara normal anak keduanya. Namun bayi yang baru dilahirkan langsung mendapat perawatan intensif selama hampir sebulan karena kondisinya memprihatinkan, tapi kondisinya semakin memburuk. Sehingga Tia memutuskan untuk rujuk perawatan anaknya dilakukan ke Jakarta. Setelah beberapa hari disalah satu Rumah Sakit di Jakarta, bayi laki-laki yang baru berumur satu bulan tersebut harus merenggang nyawa karena menderita penyakit yang sama seperti anak pertamanya yang juga telah meninggal dunia.
Setelah enam bulan kematian anak keduanya, Kondisi kesehatan Tia pun ikut menurun drastis, dan sering sakit-sakitan, karena pikiran akan kedua anaknya yang harus meninggal dengan penyakit yang sama… ditambah perlakuan sang suami yang tidak lagi memberi perhatian, juga hal sama tunjukan mertunya, dimana Tia seperti diasingkan dalam keluarga besar mertua. Ditahun 2007 Karena tidak tahan akan situasi seperti itu, maka Tia memilih pulang NTT bersama orang tuanya di Soe. Namun penyakit yang diderita bukannya membaik malah bertambah parah, semakin hari berat badannya menurun sehingga nampak hanya kulit membungkus tulang. Tak hanya itu, Tia juga mulai mendapat gunjingan dari para tetangganya yang mengatakan dirinya terjangkit penyakit aneh.
Sesungguhnya secara medis Tia belum mengetahui penyakit yang diderita. Karena selama pengobatan di Jakarta, baik dari hasil pemeriksaan dan biaya pengobatan seluruhnya ditangani sang mertua dan suami sehingga dirinya tidak tahu-menahu sebenarnya penyakit apa yang dideritanya. Belum genap enam bulan dirinya berada di Kota Soe, Tia mendengar kabar sang suami terjaring operasi kepolisian karena terbukti menggunakan narkoba. Sehingga Tia memutuskan kembali ke rumah mertuanya di Jakarta, sebagai bentuk kewajiban istri mengurus suami dalam suka maupun duka, selain itu juga, keputusan kembali juga hanya untuk menjaga nama baik keluarga besarnya di Soe yang mulai membicarakan kondisinya.
Perbuatannya Heru harus dibayarnya dengan mendekam dibalik jeruji besi, dan Tia selalu menemaninya dengan sering berkunjung ke Lembaga Permasyarakatan (LP) tempat Heru di Bui. Ternyata perhatian dari sang istri tidak membuat Heru bahagia. Malah dirinya mengancam Tia akan dibunuh setelah dirinya keluar penjara, dan mendapati istrinya masih berada dirumah orang tuanya. “Saya selalu menemuinya dipenjara membawakan makanan, tapi dia (Heru,red) terus meminta saya segera pulang Kupang saja, kalau tidak dituruti maka dia mau bunuh saya, tanpa ada alasan yang jelas”, cerita Tia saat itu.
Dengan tekanan hidup yang semakin berat karena penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh, ditambah perlakukan suami dan keluarganya yang tidak memberikan perhatian lagi. Membawa Tia untuk berani memeriksakan kondisinya di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Saat itu juga, sontak membuat Tia seperti disambar petir disiang bolong setelah membaca hasil pemeriksaan laboratorium, yang selama ini dikuatirkan dan menjadi gunjingan tetangganya dikampung ternyata semuanya itu betul adanya karena dirinya terbukti positif tertular HIV.
Dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit dengan hasil laboratorium yang masih digenggamannya, tersirat keinginan untuk mengakhiri hidup dengan menabrakkan tubuhnya pada kereta api yang sedang melaju kencang. Tapi ternyata pada saat itu juga dirinya langsung disadarkan Tuhan untuk menghargai hidupnya. “Saya tidak percaya apa yang baru saja saya alami saat itu, sebab saya hanya berhubungan dengan suami, kok jadinya begini. Apa salah saya?”, ungkap Tia yang belum bisa menerima kenyataan.
Ternyata setelah ditelusuri, Heru lebih dulu positif HIV karena keseringan menggunakan narkoba. Dan yang lebih menyakitkan Tia lagi, kondisi Heru yang tertular HIV karena narkoba sudah diketahui orang tuanya jauh sebelum dirinya menjadi istri Heru. Setelah semuanya dibeberkan pada mertuanya, mereka (orang tua Heru,red) hanya pasrah dan memohon maaf, dengan alasan menutupi semua keadaan Heru hanya untuk kebahagiaan anak semata wayangnya.
Akhirnya dari informasi tempat Tia diperiksa, bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan tapi bisa dicegah penyebarannya karena baru tertular HIV. Maka Tia selalu konsisten melakukan pemeriksaan dan mengkonsumsi obata secara teratur. Selain itu, Tia juga selalu aktif bergabung dengan komunitas pencegahan dan penanggulangan HIV/Aids sebagai upaya mendapat bimbingan konseling serta berbagi pengalaman sesama terinfeksi dalam mencegah penyebaran virus tersebut. Keputusan Tia kembali Kupang ternyata tepat, dengan dukungan dari kakak perempuannya, dan juga Yayasan Tampa batas (YTB) Kupang serta Komisi Peduli Aids (KPA) Kota Kupang, setia memberikan bantuan obat serta bimbingan konseling. Kondisi Tia yang mulai berangsur pulih karena mengkonsumsi obat serta berjalani pemeriksaan secara teratur. Dan dengan titel sarjana theologi yang diperoleh membawa Tia menjadi seorang Pendeta dan saat ini telah mengabdikan diri didaerah TTS.
Ternyata keberanian Tia bangkit dari keterpurukan… telah memotivasi dirinya untuk tetap hidup. Terbukti terpaan hidup yang berat, penderitaan dan kesengsaraan harus dijalani seorang diri,  akhirnya penderitaan bisa diatasi dengan penuh kesabaran dan ketabahan, serta tidak lupa selalu memohon pertolongan Tuhan Maha Pencipta. (*)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • YOU LIKE NTT?