Pengakuan Calon Kalah di Pemilukada


sergapntt.com – Jabatan politik selalu menggiurkan. Banyak orang yang tergiur dan berebut untuk memperoleh kursi kekuasaan. Karena memang, kekuasaan itu enak. Asli enak tapi kadang tidak nyaman. Enak karena, kemana-mana disambut dan diterima. Enak karena ada prestise walau minim prestasi. Enak karena ada uang…ada wanita…dan ada tahta. Tapi kalau kalah dalam perebutan kekuasaan? Silahkan simak pengakuan salah seorang calon yang kalah dalam ajang Pemilukada. Diambil hikmahnya dibuang rasa pahitnya.
Untuk menjadi pemimpin di Negara demokrasi khususnya di Indonesia, harus mengeluarkan cost politic yang cukup tinggi. Tak sedikit calon pemimpin berkualitas otak dan kinerjanya, harus mengakui keunggulan kompetitor di ajang pemilihan umum kepala daerah atau Pemilukada.
Saya adalah salah satu contoh calon kepala daerah yang gagal di ajang pilkada Manado tahun 2010 lalu. Tapi, di tulisan ini saya bukan ingin curhat atau berkeluh kesah tentang Pilkada yang saya alami. Bagi saya, yang lalu biarlah berlalu karena hari esok penuh dengan misteri.
Kembali ke topik di atas. Benarkah rakyat mendambakan pemimpin yang dermawan? Menurut saya, berdasarkan pengalaman kawan-kawan anak muda yang pernah (atau sedang) bergelut di dunia politik, jawabannya adalah ya. Tapi persoalannya adalah, sulit menemukan calon pemimpin atau pemimpin yang gemar berbagi ke rakyatnya. Jika pun itu ada, “masa waktu” berbagi sangat terbatas dan ada kadaluarsanya.
Harta kekayaan pemimpin dermawan itu terbatas. Jumlahnya bisa merosot tajam, seiring dengan intensitas kinerja pemimpin tersebut bertemu dengan masyarakat. Semakin banyak acara yang digelar, maka semakin banyak uang yang dikeluarkan sebagai cost politic. Belum lagi, jika pemimpin dikelilingi sejumlah penjilat dan penipu yang ingin mencari kesempatan “proyek kecil-kecilan”.
Adalah sangat sulit berpijak pada prinsip anti-korupsi, tapi di saat yang sama ada tuntuan cost politic. Bagaimana mungkin pemimpin harus mengaudit keuangannya agar tak bocor, sedangkan di saat yang sama harus “membayar uang siluman”? Jika tak dibayar, maka dikhawatirkan akan mengganggu hubungan dengan konstituen. Sementara jika dibayar, maka akan didekati oleh aparat, termasuk petugas KPK.
Muncullah pertanyaan saya. Apakah jika baik hati ke masyarakat, lantas boleh korup? Pertanyaan ini tak mampu dijawabnya. Saya jadi teringat kasus yang dialami Walikota Manado Jimmy Imba Rogi dan Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin, yang kini mendekam di penjara lantaran kasus korupsi. Mungkin, sebagian warga kota Medan atau Kabupaten Langkat Sumatera Utara sangat mengenal betul dengan sosok bersahaja Pak Syamsul. Pun demikian dengan sebagian warga kota Manado yang “terkejut” dengan penahanan Pak Imba.
Lain lagi dengan Bupati Boven Digoel Propinsi Papua, Yusak Yaluwo, yang justru memenangkan Pemilukada, saat yang bersangkutan ditangkap dan masuk penjara. Bisa jadi, ini menandakan kecintaan rakyat terhadap pemimpin dermawan meski korup. Semoga, kisah dan pengalaman para pemimpin ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang berniat masuk bursa calon di ajang Pemilukada atau Pemilu. Setiap calon pemimpin harus “memancing uang” demi kemenangan Pemilukada, sedangkan jika terpilih masih melakukan hal yang sama. Sama dengan warga pesisir Barat Melayu yang ditanya jika harus memilih buah simalakama, jawabannya kira-kira begini, ”Buah itu akan dijual ke orang lain, karena akan lebih menguntungkan”.
By. Jackson Kumaat

Birokrasi, Remunerasi dan Kinerja


sergapntt.com – Masuk kerja harus jam 07.30 dan pulang jam 16.00 sore. Begitulah rutinitas seorang pegawai negeri sipil. Dengan gaji di atas UMR, dan tunjangan lainnya cukuplah untuk memberi makan anak dan istri, kalau disyukuri.
Mendengar reformasi birokrasi tentunya tak asing lagi, tetapi kemudian yang terasa adalah perubahan apa sih yang terjadi? Penciptaan nilai-nilai yang hanya sebatas jargon yang terus menerus diagungkan tanpa ada pengaruh pada perilaku dan budaya. Perombakan struktur, mutasi dan sebagainya hanya sebagai kamuflase perbanyakan setoran buat pejabat tinggi.
Distorsi gaji menjadikan harapan baru datangnya reformasi birokrasi. Ingat, remunerasi memberikan harapan yang tinggi akan banjirnya fulus ke kantong. Namun, sedikit melupakan akan perubahan yang menjadikan alasan utama datangnya reformasi. Remunerasi seakan hanya perubahan gaji, naik tanpa adanya perubahan prestasi dan perilaku atau budaya birokrasi.
Kinerja hanya menjadi ukuran relatif yang bisa di isi dengan sangat baik, baik, cukup baik dan kurang baik. Atau juga memungkinkan perasaan atasan yang tidak sejalan dengan bawahannya menjadi penilaian kinerja like atau dislike. Kinerja diukur berdasarkan penafsiran sendiri-sendiri atasan masing-masing yang kemudian dilaporkan untuk diberikan tunjangan selain gaji.
Reformasi birokrasi hadir ditengah-tengah tuntutan clean government dan good government. Penerapan tata kelola pemerintahan yang bersih menjadi jargon para elit yang mau menduduki kursi, baik eksekutif, yudikatif dan legislatif. Namun yang menjadi catatan harapan masyarakat, ..”Ya cukup sampai disini…”.
Kalau dilihat banyak instansi atau lembaga pemerintahan ini banyak sekalai pegawai tetapi kerjanya satu bulan sekali atau bahkan tiga bulan sekali. Kerja yang tiada tetapi setiap tahunnya penerimaan tenaga baru. Yang terpikir adalah penyerapan angkatan kerja, karena dunia luar (swasta) sepertinya tak mampu lagi menyerap lulusan baru sehingga kalau ada survei penggangguran angkanya akan mengecil dan sukseslah.
Tiap tahun anggaran untuk belanja rutin naik berkali-kali. Menurut beberapa catatan 25 persen tiap tahunnya tetapi perubahan yang diharapkan sangat jauh sekali. Satu sisi, kesejahteraan pegawai memang menjadi distorsi atas hadirnya reformasi birokrasi, yang menjanjikan remunerasi tetapi tak ada hasil sama sekali.
By. Masmoe

Pragmatis Atau Rasional?


Mendengar kata PEMILU (Pemilihan Umum), mungkin yang terfikir di benak kita adalah terciptanya pertarungan atau persaingan antar elit Politik dalam pencapaian kekuasaan. Persaingan dalam menarik simpati serta suara terbanyak dari Rakyat (selaku pemilih) merupakan suatu jalan untuk memenangkan pertarungan tersebut. Sehingga Rakyat dalam hal ini merupakan pemegang kunci atau tokoh utama yang diperebutkan hak suaranya.
Segala cara dilakukan oleh para calon untuk merebut hati Rakyat, perang program kerja dan Janji-janji politik merupakan salah satu caranya. Namun itu semua sudah terdengar tidak menarik lagi di telinga para rakyat. Mereka merasa bahwa program serta janji tersebut hanyalah harapan palsu atau omong kosong semata.
Pandangan tersebut merupakan sebuah refleksi dari kekecewaan yang sekian lama telah mereka alami. Mereka menggunakan tolak ukur pada PEMILU-PEMILU yang sebelumnya pernah mereka jalani, yang dimana selalu tidak pernah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Bagaimana program-program serta janji-janji yang disuarakan dengan lantang oleh para colan saat berkampanye dengan begitu menjanjikan, namun setelah terpilih, sekali lagi tetap tidak ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang dulunya miskin masih tetap menjadi rakyat miskin, yang dulunya pengangguran masih tetap tidak dapat pekerjaan, yang dulunya tidak sekolah masih tetap tidak bersekolah, dll.
Melihat kondisi yang demikian, berimplikasi terhadap pemikiran masyarakat dalam menentukan pilihan dalam PEMILU. Bagaimana masyarakat tidak lagi berfikir secara rasional tetapi lebih berfikir secara pragmatis, yang mana mereka menentukan pilihan tidak lagi berdasarkan kompetensi, program, visi-misi, serta aspek historis dari seorang calon. Tetapi lebih berdasarkan atas apa yang telah diberikan seorang calon kepadanya. Artinya mereka mengharapkan sesuatu yang berwujud nyata, bukan hanya sekedar janji-janji palsu semata.
Pergeseran pemikiran tersebut secara tidak langsung telah menumbuh suburkan praktek-praktek negatif dalam proses PEMILU. “Sogokan berkedok amal/bantuan” dan “Serangan Fajar” merupakan suatu hal berwujud nyata, yang paling ditunggu-tunggu oleh para rakyat selain pentas-pentas hiburan saat proses pemilihan akan berlangsung. Kondisi yang demikian merupakan gambaran dari sikap pragmatis serta sikap apatis masyarakat yang ditunjukan kepada para calon pemimpin tersebut.
Berkembangnya sikap pragmatis dan apatis dalam diri masyarakat juga telah merubah cara pandang serta pola pikir masyarakat dalam menentukan suaranya. Yang dimana membuat masyarakat cenderung berfikir secara sempit. Mereka tidak berfikir akan dampak serta akibat yang akan terjadi apabila mereka salah dalam memilih calon Pemimpin. Artinya kesalahan memilih sekali saja dapat berdampak selama 5 tahun ke depan dalam dinamika kehidupannya, yang lebih ekstrim lagi dampak kesalahan tersebut juga akan dirasakan oleh Anak cucu mereka.
Suatu pengambilan keputusan yang tidak pro rakyat ataupun proses pengambilan kebijakan yang tidak menyentuh dalam sendi-sendi kehidupan masyrakat merupakan dampak yang akan timbul akibat kesalahan dalam memilih sosok seorang calon tersebut. Dengan demikian yang terjadi bukan akan memperbaiki kehidupan mereka, tetapi malahan akan memperburuk kehidupan dari masyarakat itu sendiri.
Sehingga dengan adanya keadaan tersebut membuat masyarakat menjadi terjerembak dalam Lingkaran Setan PEMILU. Bagaimana sikap pragmatis dan apatis dari masyarakat yang muncul sebagai bentuk kekecewaan akan hasil yang selama ini mereka rasakan yang tak pernah merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik, disisi lain apabila mereka berfikir secara pragmatis dan apatis dalam melakukan pilihan akan berdampak lebih buruk lagi dalam kehidupannya. Sehingga dengan demikian membuat masyarakat menjadi serba salah dalam menentukan pilihannya.
Melihat dinamika yang muncul dalam masyarakat tersebut, menimbulkan suatu kekhawatiran serta rasa takut tersendiri dalam masyarakat. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat dituntut untuk lebih berfikir kritis, untuk bagaimana melihat aspek akuntabilitas, kompetensi, program, serta aspek historis perjalanan seorang calon dalam menetukan pilihan. Selain itu juga diperlukan kepercayaan terhadap seorang calon, bahwa ia mampu untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk kedepannya.
Dengan terpenuhinya semua itu, impian untuk mendapatkan seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat, mengerti akan kebutuhan rakyat, serta pemimpin yang dapat merubah kehidupan rakyat menjadi lebih baik, akan menjadi suatu kenyataan. Semoga anda tidak salah dalam memberikan suara untuk PEMILU.
By. Ambolas

Cinta Kandas Karena Agama


sergapntt.com, KUPANG – Berbekal ijazah SMA, dan restu dari kedua orangtuanya saat itu, Lusy (26), memberanikan diri melanjutkan studinya di Pulau Dewata, Bali. Seiring berjalannya waktu, ia mulai menjalani perkuliahan, mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru. Semuanya berjalan dengan baik, bahkan ia berhasil memperoleh prestasi dan nilai yang baik di semester awal.
Dalam pergaulan, ia mengaku tak mengalami kendala yang begitu berarti, namun sebagai gadis muda dan normal, tak dipungkirinya ada beberapa teman lelakinya yang mencoba mendekatinya untuk menjalin hubungan sebagai kekasih, tapi selalu ia tolak, dengan alasan ingin lebih fokus pada studinya. Ternyata, saat memasuki semester keempat, bertemulah ia dengan laki-laki yang bisa membuat hatinya bergetar, sebut saja Rynal.
Singkat kata, akhirnya ia dan Rynal pun menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Hubungan ini, menurutnya berjalan dengan indah dan sangat menyenangkan, namun hubungan yang terjalin hampir tiga tahun ini terhambat oleh perbedaan keyakinan kami. Lusy mengisahkan, akhirnya lewat sms dari Nokia 3315 bututnya, terpaksa harus mengatakan atau lebih tepatnya memberitahukan tanpa bersuara kepada Rynal, “Bahwa ada seseorang khusus diciptakan untukmu. Kita akan menemukan teman sejati kita, tapi untuk mencintai dan bersamanya adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya. Bang maaf kita bubaran saja. Kita tak mungkin mewujudkan apa-apa, lebih baik begini saja”
Begitulah kira-kira bunyi sms yang  Lusy kirimkan pada Rynal, lelaki yang 15 menit sebelumnya masih dipanggil “sayang, aku memikirkanmu…”
Tak lewat semenit hand phone kembali mengeluarkan suara kodok pertanda ada sms baru. “kok jd tiba2 gni sih???” ini balasan yang kudapat. Ia mengaku, dengan sisa kekuatan logika yang masih berdiri sempoyongan, coba membalasnya : “Maaf bang sebenarnya mikirnya udah dari kemaren cuma baru bisa ngomong saat ini. Sekali lagi maaf ya, gak bisa ngomong langsung ke abang.” Dan begitulah kontak terakhirnya dan Bang Rynal. Tak ada balasan lagi darinya. Lusy pun cukup tahu diri untuk menjaga pikiran positif atas tindakan negatif yang sudah ia lancarkan. Secara etika, harusnya bukan begini cara yang baik.
“Aku dan Bang Rynal sadar sekali atas resiko hubungan yang kami jalin. Tak bertujuan, hanya ingin menikmati atas dasar suka sama suka pada awalnya. Ada kebahagiaan yang merayapi kami. Sesuatu yang fresh yang sudah lama tidak aku kecap. Sebelum kehadirannya sempat berfikir bahwa hatiku sudah mati. Tapi dia beda. Dia adalah nuansa sayang yang benar menyentuh perasaanku. Ah indah sekali saat kami bersama. Bawel vs Ndut, begitulah panggilan kami berdua”, ujarnya sambil tersenyum kecut.
Lusy dan Rynal, usia mereka terpaut 9 tahun berbeda, ditambah dengan perbedaan budaya dan keyakinan yang tentunya semakin sulit menyatukan mereka. Meski begitu, mereka tetap saling mendukung dalam aktivitas baik kerja maupun religi.
Menurut Lusy, tak penting memikirkan perbedaan itu asalkan tetap satu hati dan saling mensupport maka kami akan terus bahagia. Tapi di titik tertentu ia terpaksa harus menepis anggapan itu. Usia yang semakin bertambah otomatis mengarahkannya pada pilihan dan keputusan. “Ya.. kami tak bisa mewujudkan apa-apa dari jalinan ini jadi sebaiknya kuakhiri saja”, tutur Lusy.
Saat mengalami masa kegalauan itu, seorang temannya pernah berkata padanya, “…Lus…ada paradigma berpikir yang sedikit keliru tentang perbedaan. Sering kita mengatasnamakan agama dan lainnya sebagai hambatan. Bukan itu poinnya, Dari awal kau menjalani hubungan itu bukan tidak tahu kalau kalian memang berbeda. Dan akhirnya kalian tetap membukukannya. Setelah itu baru muncul uneg-uneg seperti ini. Saat kita bicara perbedaan dan hubungan asmara, mari bicara dari perspektif yang terbuka.”
“Katakanlah aku naïf, pesimis bahkan pecundang. Jangan pula tanyakan perasaanku saat sekarang. Tipis sekali aku memandang iklas dan terpaksa. Saat ini logikaku yang diunggulkan, walau tak sanggup menutupi perihnya rasa ini tapi aku bisa apa. Menyesal tidak kupedulikan lagi. Asalkan jangan lebih sakit nanti, karena belum tentu aku kuat” tutur Lusy mengakhiri kisahnya.
By. Wesly Jacob

Siswi Kelas 2 SMA Jadi Cewek Bispak


sergapntt.com, KUPANG – Malang benar nasib Nana (16). Untuk membayar uang sekolah dan biaya kehidupannya sehari-hari, siswi kelas 2 sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Kupang ini terpaksa menjadi cewek bispak alias bisa dipakai oleh pria hidung belang. Harga yang dipatok pun terbilang murah. Sekali tarung Nana hanya menghargai kemolekan tubuhnya Rp500 ribu.
Nana,,,, Nana,,,,! Nasibmu benar-benar malang! Sebenarnya masih banyak jalan yang bisa dijadikan solusi untuk mengatasi masalahmu. Tapi kenapa ruang gelap yang kau pilih? Hm,,,, sedihnya!
Tapi,,,, persoalan yang Nana hadapi ini, semuanya bermula dari kemiskinan dan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme yang mendera NTT. Berasal dari keluarga miskin yang tinggal di kampung, Nana mencoba mengadu nasib di tengah hiruk pikuknya kehidupan Kota Kupang.
Awal Nana tinggal bersama tantenya yang masih single. Namun sepeningal tantenya akibat kecelakaan maut, mau tidak mau Nana harus mengarungi hidup sendirian. Jangankan ongkos angkot menuju sekolah, untuk makan sehari-hari saja pasca kematian tantenya, Nana harus ngemis sana, ngemis sini. Beruntung Nana tinggal bertetangga dengan kos-kosan para bidadari malam yang sering mondar-mandir dari satu bar ke bar yang lain. Dari mereka inilah Nana bisa dapat makan dan uang. Imbalannya, setiap hari Nana harus mencuci pakaian dan siap disuruh kesana kemari usai pulang sekolah.
Suatu ketika Nana bete juga. Putus asa berkecamuk dalam pikirannya. Keinginan untuk hidup berkecukupan terus mendera lubuh hatinya. Tibalah ia mengambil keputusan. Difasilitasi salah seorang kenalannya yang sudah malang melintang di dunia malam, akhirnya ia jual keperawanannya seharga Rp3 juta kepada salah seorang pejabat birokrat di Kota Kupang.
“Kak, pertama kali itu pedih sekali. Rasanya mau kencing saja. Apalay itu om punya tu,,, besar mo mati,,, hihihihihi,,,” ujar Nana tertawa geli disela-sela makan malam bersama SERGAP NTT di sebuah resto di bilangan pasir panjang, Kota Kupang, Kamis (15/3/12).
Itu pengalaman pertama yang Nana alami. Selanjutnya Nana mulai keranjingan. Hampir setiap malam ia tak pernah alpa diboking om-om. Namun tarifnya tak semahal dulu lagi. Kini hanya dengan Rp500 ribu, Nana sudah bisa diajak ber-apa saja. Soal tempat, tergantung pemilik uang. Mau di motel, di rumah, di kos-kosan, terserah,,! “Asal jangan di hutan atau dipadang rumputlah, hihihihi,,,,” ucapnya.
Sembari bertukar nomor handphone, Nana bercerita, satu setengah tahun sudah ia berjibaku dengan dunia maksiat. Jumlah pelanggannya sudah tak terhitung. Puluhan? Ratusan? Entahlah! Nana pun lupa,,! Namun dari profesinya ini, Nana sudah bisa hidup lebih layak seperti Anak Baru Gede (ABG) kebanyakan. Bisa memiliki handphone, pakaian modis, dan lain sebagainya yang menyangkut dengan life style.
Hingga kini Nana belum berpikir kapan ia akan berhenti. Ia mengaku akan terus menjalani profesi ini bagai air mengalir. Soal sekolah?
“Ow,,,, itu sonde mungkin beta sepelehkan. Karena pingin sekolah, makanya beta rela kerja beginian,” bebernya.
Di lingkungan sekolah, Nana cukup apik menyembunyikan pekerjaannya. Itu sebabnya hingga kini tak ada satu pun teman-temanya yang tahu seluk beluk kehidupannya di luar sekolah, termasuk guru-guru. “Di sekolah sonde ada yang tau,,,” paparnya.
Nana mengaku sepulang sekolah ia selalu stand by menunggu panggilan. Itu dilakukan sambil baring. Jika terlelap, dering Hpnya selalu siap membangunkan tidurnya. Dalam sehari ia hanya mau melayani satu pelanggan saja. Begitu Rp500 ribu sudah dikantongi, maka ia pun akan kembali ke kosnya untuk istirahat dan belajar. “Satu tamu paling lama beta temani, yaaaa,,,, 2 jam-lah,” imbuhnya.
Soal kepuasan pembeli, Nana jamin 100 persen gokil abis. Soal fisik, jangan ragu! Tubuhnya yang proporsional dihiasi wajah yang imut-imut, yakin bahwa laki-laki pemburu gadis belia yang datang dari kalangan mana saja ketika bertemu Nana, libidonya pasti langsung berontak. Ibarat mobil mewah yang baru dipakai selama setahun, kondisinya masih mulus mengkilat. Tak ada masalah pada suspensinya. Tinggal star langsung kebut. Begitulah penampilan Nana sehar-hari.
Soal harga tak bisa ditawar-tawar. Ini harga pabrik. Dijual oleh distributor resmi. Kecuali belanja borongan, atau sudah menjadi pelanggan tetap. Itu mungkin bisa dapat diskon. Tapi ya,,,, paling 5 persenlah. Hehehe,,, sudah kayak toko pakaian saja.
Tak hanya di ranjang, Nana pun siap diajak untuk menemani minum sambil karoke di tempat hiburan. Kalau yang ini biayanya Rp50 ribu per jam. Namun maksimal jam kerjanya hanya sampai jam 12 malam.  “Soalnya besok beta harus sekolah,” tandasnya.
Jika temani minum dan karoke, plus adu kuat diatas ranjang, maka biayanya tetap dihitung normal. Tak ada tawar menawar. Setuju, oke! Tidak pun, no problem. Loe ke kanan, gue ke kiri. Hahay,,,! Tapi kebanyakan pria yang memboking Nana jarang meminta diskon. Rata-rata langsung tancap gas. Ohoooooo!
Kedepan, Nana bercita-cita menjadi dokter. Walau cita-cita ini sulit diraih, namun tekad sudah mendarah daging. Apa pun caranya, titel dokter harus disabet. Malu? Oh jauh dari pikiran Nana. Bagi Nana, lebih mulia ia menjual tubuh membiayai sekolah mengejar cita-cita, ketimbang mencuri uang rakyat untuk menghidupi istri anak atau sebaliknya.
“Beta sonde pernah punya cita-cita seperti sekarang ini. Ini hanya karena masalah ekonomi. Andaikan beta pung orang tua mapan, amit-amit beta mau kerja beginian,” timpalnya.
Untuk menggaet pria hidung belang, setiap hari, biasanya Nana mangkal di Mall Flobamora Kupang atau di tempat-tempat belanja yang biasa didatangi kaum pria berkantong tebal. Jika ada mangsa, perangkap pun mulai ia pasang. Namanya juga laki-laki. Prilakunya tak jauh dari kucing. Ketika melihat tikus montok nyasar di arena terbuka, trik dan strategi langsung disiagakan. Dalam benak terpatri, jangan sia-siakan menu lezat hari ini. Hahay,,,! Dasar,,!
“Owww tapi sonde setiap hari beta pi mall. Itu kecuali beta sonde ada tamu,” ungkapnya, berterus terang.
Namun sudah tidak terhitung jumlah pria yang berhasil ia jerat dari tempat-tempat itu. Kebanyakan laki-laki yang terjaring adalah mereka yang tak puas dengan pelayanan istri sendiri, atau laki-laki yang iseng mencari sensasi adu otot dengan wanita lain.
Mulanya biasa didahului tegur sapa, hay,,,! Nana pun membalas Hay,, juga! Kalau pria yang ada maunya, biasanya si pria lanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan klasik layaknya orang lagi kasmaran. Belanjakah? Sendiriankah? Dan lain sebagainya. Ujungnya minta nomor HP. Kalau sudah begini, urusan jadi panjang bro,,!
“Kadang dong kontak beta, kadang juga langsung deal,” kata Nana.
Kalau si pemburu dan target sudah sepakat kayak begini, apalagi urusan selanjutnya? Hehehehe,,! Yang pasti, pria yang telah beristri akan jalan sembunyi-sembunyi takut ketahuan istri dan keluarga atau kenalannya. Lalu Nana? Ikut saja! Mau dibawa kemana, terserah! Asal,,,, habis ritual ukur badan, ongkos jangan dibayar kurang. Itu aturan yang tidak boleh dilanggar. Ibarat bawa sepeda motor di jalan protokol, polisi wajibkan pakai helm. Jika tidak, you kena tilang coy,,!
“Tapi beta sonde pernah ketemu laki-laki yang bayar kurang. Justru di antara mereka ada yang kasih tambah sebagai tip,” akunya.
Dalam sebulan Nana mengaku penghasilannya tak menentu. Kadang sedikit, kadang banyak. Tergantung rame atau sepinya pengunjung. Woiiiiiii sudah kayak toko sepatu saja! Hahay,,,! Ya, penghasilan Nana sangat tergantung berapa jumlah laki-laki yang membokingnya. Jika lagi sepi, rata-rata setiap bulan ia hanya melayani 10 tamu. Tapi jika memasuki musim ramai, terutama disaat proyek-proyek pemerintah sedang ditenderkan, rata-rata ia mampu menggaet 20 tamu hingga 25 tamu. Itu artinya, waktu sepi ia berhasil meraup Rp5 juta, dan waktu ramai berkisar Rp10 juta hingga Rp12,5 juta per bulan.
“Sebagian uang beta tabung, sebagian lagi beta pakai untuk bayar sekolah, makan minum, pakaian dan kebutuhan lain,” paparnya.
Hm,,, kalau punya penghasilan kayak gini, kayaknya cita-cita kamu bakal tercapai! Semoga keinginanmu terwujud.
By. Chris Parera