Ngapain Saya reaksi ?


sergapntt.com [KUPANG] – Kajati NTT, Oparis Siahaan, SH, nampak kaget ketika ditanya reaksinya atas surat GMNI Cabang Kupang yang meminta Jaksa Agung mencopotnya dari kursi Kejati NTT. ”Dari mana kau tahu. Mana bukti mereka kirim surat. Mana buktinya. Jangan karena ada berita di koran lalu dibahas,” paparnya menjawab Egi Jawa dan Rudy Tokan di lantai I Gedung Kejati NTT, pekan silam. Berikut nukilannya:
Pekan silam, GMNI menyurati jaksa Agung untuk mencopot anda. Apa reaksi anda?
(kali ini Kajati agak kaget setelah mendengar pertanyaan itu. Tatapannya agak beda saat wawancara soal masalah Sarkes). Dari mana kau tahu. Mana bukti mereka kirim surat. Mana buktinya. Jangan karena ada berita di koran lalu dibahas. Itu bukan pengamat. Pengamat itu mengamati yang ada bukti.
Jadi apa reaksi anda?
Saya nggak perlu reaksi. Ngapain saya reaksi. Saya anggap tidak punya data, untuk apa saya rekasi.
Apakah surat itu tak ada tembusanya ke anda?
Ndak ada itu. Cuman mereka hanya mengatakan sikapnya begitu. Jadi saya tak perlu reaksi. Karena menurut saya sikap mereka itu tak punya rasa. Makanya saya bilang jangan terpengaruh dengan berita lalu kita amati. Masalah yang mereka angkat itu kan masalah yang tidak pernah ditangani Kejati NTT. Jadi kami juga bingung ko tiba-tiba GMNI demo ke kita. Itu salah alamat dong. Kita kan tidak tangani masalah yang mereka demo itu.
Menurut anda, apakah Jaksa Agung bisa mencopot seorang Kajati hanya bermodalkan laoran dari publik?
Nda bisa. Jangankan itu, kita hari-hari dipantau ko dari Jakarta. Hari ini bagaimana Jakarta, bagaimana Kupang, bagaimana daerah lain. Tiap hari selalu dipantai. Apalagi ada laporan bulanan. Jadi tidak mungkin dong. Jangan dikira sudah bersurat begitu, lalu langsung didengar oleh Jaksa Agung. Kita kan selalu dipantau setiap hari.
Sudah berapa lama anda anda memegang job Kajati?
Kenapa, sudah nggak suka lagi ya. Ha..ha.. (sambil tertawa lepas). Baru di NTT saya menjabat Kajati, tepatnya sejak Mei 2006 saya disini.
GMNI menilai anda kurang serius tangani kasus korupsi di NTT. Betulkah?
Ya,… tapi yang jelas mereka tidak melihat angka. Jadi hanya mengatakan katanya orang-katanya orang. Itu bukan pengamat. Jadi harus mengamati sesuatu dengan data dan fakta. Serta juga mengungkapkan data dan fakta. Begitu. Jangan katanya si A misalnya, kamu buat begini, terus katanya di B kamu buat begini. Ngga bisa dong. Faktanya kayak apa baru omong, Jadi kalau tak ada data dan fakta ngga bisa dong omong.
Kasus korupsi apa yang paling berkesan di hati anda?
Kasus korupsi? Aduh…sudah ngggak ingat, udah lama itu. Kalau korupsi ini kan sudah sejak jaman dahulu kala saya tangani kasus korupsi. Saya lupa-lah.
Kalau di NTT sendiri kasus korupsi apa yang paling berkesan?
Ndak ada kalau saya kasus korupsi itu sama saja kesannya. Yang kesan dalam arti khusus ndak ada itu. Cuman cepatnya tidaknya itu tergantung dapat tidaknya memperoleh alat bukti. Jangan kalian lupa yang kita hadapi itu adalah pejabat pemerintah. Orang-orang pintar. Mencari satu lembar kertas saja penyidik setengah mati. Kalau dirobek atau dibuang, mau cari kemana. Makanya tidak segampang perkiraan orang menangani kasus korupsi. Kalau ada alat bukti itu gampang. Tapi sulitnya memperoleh alat bukti, kalau kita hadapi itu orang pintar.
Apakah anda sering diintervensi jika menangani kasus korupsi yang menangani politisi?
Kita dilarang untuk itu. Kita boleh kita campur-baurkan politik dengan hukum. Mau jadi apa orang itu, itu urusan politiklah. Kita tidak ada urusan. Kalau ada intervensi jelas kita tolak. Kita selalu berdiri pada aturan hukum.
Apa kesan anda terhadap masyarakat NTT?
Kesannya, masyarakat NTT cukup kritis dan dinamis. Itu bagusnya, sehingga selama saya bertugas di NTT tak ada satu kasus yang sampai pada tindakan hirarkis.
Publik NTT bertanya-tanya sejumlah kasus korupsi heboh seperti Sarkes  prosesnya terseok-seok. Analisis anda?
Terseok-seoknya itu karena penyidik sulit memperoleh alat bukti yang saya jelaskan tadi itu. Ndak ada dipengaruhi masalah politik misalnya atau masalah lainnya. Itu saja kendalanya. Aparatur hukum tidak pernah bernuansa ke politis dan lain sebagainya.
Hasil Penelitian UGM, kasus korupsi yang berlepotan dengan masalah politik di Indonesia, sulit diselesaikan oleh aparat hukum. Komentar anda?

Ya.. tanya saja penelitinya dong, kenapa dia ambil kesimpulan begitu. (by. rudy tokan)

Iklan

Tanya Polisi


sergapntt.com [KUPANG] – Kejaksaan Tinggi NTT tetap komit memproses semua kasus korupsi, termasuk dugaan korupsi proyek Sarkes tahun 2002. ”Jadi, kalau ditanya apa hambatan proses hukum kasus Sarkes, tanya polisi dong. Mereka yang tangani pertama kali kasus itu,” ungkapnya saat ditemui di lantai I Gedung Kejaksaan Tinggi NTT. Berikut nukilannya:
Dalam file anda, seberapa jauh dugaan kasus korupsi Sarkes diproses secara hukum?
Em,….. (sambil berpikir sejenak), itu sudah siap mau kita limpahkan ke pengadilan. Dakwaannya sudah bergelar, tinggal tunggu saja, supaya mantap persidangannya. Yang jelas kita upayakan agar dalam waktu dekat kita limpahkan ke Pengadilan.
Sampai saat ini, berapa tersangka yang BAP-nya sudah diserahkan kepada anda?
Yang terakhir ini yang diserahkan oleh polisi hanya satu orang yaitu, ”siapa namaya yang kontraktor itu”. Jadi untuk nama-namanya tanya Pak Kajari Kupang. (yang dimaksudkan dengan Kontraktornya adalah Direktur F.A Antares). Kalau yang Pimbagpronya, Benediktus Tuluk, kan sudah sidang dan sudah diputuskan. Tinggal yang satu orang itu tadi. Semuanya akan kami limpahkan dalam bulan Desember ini. Bukan hanya kasus Sarkes saja, ada banyak kasus nanti yang akan dilimpahkan ke Pengadilan pada bulan Desember.
Sampai saat ini, berapa tersangka yang BAP-nya sudah diserahkan kepada anda?
Itu nanti untuk detailnya bisa tanya di Kejari Kupang. Saya sudah tidak ingat lagi. Karena yang nangani itu kan dari Polisi langsung ke Kejaksaan Negeri Kupang. Kalau mau detail, tanya saja di Kajari Kupang. Jadi keputusan strategisnya, kita akan limpahkan dalam waktu yang singkat.
Menurut anda apa hambatan proses hukum kasus Sarkes ?
Kalau soal itu, jangan tanya kita dong. Tanya polisi karena mereka yang pertama tangani kasus ini. Bukan kita yang menyidik kasus itu. Yang menyidik itu polisi. Kita hanya menerima hasil sidik dari polisi. Kalau mau ditanya sebetulnya tanya penyidiknya dong. Kenapa penyidiknya lama menyerah berkasnya ke kejaksaan. Kan begitu.
Kira-kira targetnya kapan kasus Sarkes ini bisa tuntas?
Untuk selesai, belum tahu dong. Kita kan limpahkan kasus ini dalam bulan Desember ini. Kita limpahkan ke Pengadilan, berapa lama di sana, ya.. kita lihat nanti. Harapan saya kan, kapan BAP itu dilimpahkan ke sana (Pengadilan) ya,… jangan lama-lama. Sesegera mungkin disidangkan.
Banyak Kasus yang melibatkan pejabat sering mandek ditangan Kejaksaan. Komentar anda?
Siapa itu pejabatnya. Kalau Kejaksaan yang menangani pejabat di NTT  saat ini kan tidak ada lagi. Jadi siapa, antara lain yang anda duga itu siapa. Makanya harus diluruskan dong, misalnya kalau ada opini publik begitu, kasusnya bukan di kejaksaan. Yang tangani kan instansi penyidik. Dari awal tangani kasus Sarkes inikan pihak kepolisian. Kita hanya sebatas memberi petunjuk-petunjuk. Disini sering kali salah kaprah. Petunjuk kita sudah jelas. Mungkin sedikit ada kendala oleh penyidik (kepolisian). Nah disitu persoalanya. Jadi kalau ditanya, seharusnya tanya penyidiknya. Seperti kasus Sarkes, yang menyidik kan polisi. Kita hanya menerima hasil dari mereka. Kalau sudah lengkap menurut kita hasil penelitian kita di dalam berkas BAP, baru kita nyatakan P21 ke mereka. Dari situ baru kita proses ke persidangan. Kasus Sarkes saat inikan sudah dinyatakan P 21. Tinggal tunggu proses pelimpahan.
Apa kira-kira hambatan dalam menangani kasus korupsi di NTT?
Salah satu hambatan kita khusus di NTT ini karena kekurangan tenaga kita. Tenaga kita sedikit untuk tangani kasus yang demikian banyak ini. You.. belum lihat di beberapa kejaksaan negeri di NTT itu, berapa orang jaksanya itu. Seperti di Kejari Kupang, jaksanya hanya enam orang. Walaupun saya sering mengusulkan ke pusat, tapi kan rata-rata seluruh Indonesia, jumlah jaksanya sedikit.
Kemarin, waktu penerimaan pegawai di kejaksaan,  saya membela daerah kita. Salah satu persyaratannya saat itu bahwa akreditasi perguruan tinggi tempat kuliahnya harus B sementara untuk Undana C. Jadi lulusan Undana tidak bisa diterima jadi jaksa. Tapi saya mohon supaya ada jaksa putra daerah. Akhirnya pusat setuju dengan pertimbangan itu. Ya lumayan, dua orang yang jebolan Undana bisa lolos.
Jika dari awal kasus sarkes ditangani pihak kejaksaan, apakah anda optimis kasus ini bisa tuntas?

Kita belum tahu dong. Kadang kadang penyidik bilang kasus itu bisa begini, ternyata tidak bisa. Kenapa, seringkali kita memanggil orang itu, belum tentu tepat waktu. Tidak ada ditempatlah dan macam-macam halangan. Kita membuat saksi misalnya paksa harus datang, kan tidak mungkin. Padahal kita menindaklanjuti sebagai tersangka, tak bisa kalau saksinya belum kuat. (by. rudy tokan)

Dandan HarusTunjukkan Sikap Kenegarawan


Paket Drs. Daniel Adoe-Drs. Daniel Hurek alias Dan-Dan yang sebelumnya terseok-seok menjejaki litani pilkada Kota Kupang, akhirnya terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kupang. Deretan harapan pun mulai digantungkan ke pundak paket blasteran Rote-Flores ini. Namun yang paling utama Dan-Dan diminta harus bisa berlaku sebagai seorang negarawan. Paling tidak bisa bersahabat dengan lawan politiknya. Haruskah? Berikut komentar Pengamat Politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Drs. Yusuf Kuahaty, M.Si saat Ditemui Edy Diaz belum lama ini di Kupang.

APA komentar Anda terhadap proses Pilkada Kota Kupang?
Proses Pilkada di Kota Kupang secara umum telah berjalan secara demokratis. Indikatornya antara lain, pertama para calon yang diusung masing-masing partai politik kelihatannya sudah merupakan hasil dari proses organisasi, kecuali beberapa partai politik yang mengusung calonnya itu kelihatannya diwarnai ‘pergulatan’, tapi toh hasilnya bisa diterima juga, dan tanpa disangka paket itu justru yang akhirnya berhasil.
Kedua, rakyat Kota Kupang telah menggunakan haknya untuk menentukan siapa pemimpin terbaik, dan kita tidak mendengar adanya intervensi atau tekanan-tekanan dari pihak lain terhadap pemilih dalam memberikan hak suaranya.
Ketiga, KPUD, Panwas maupun masyarakat kelihatannya sudah melaksanakan fungsinya dengan baik sehingga dapat kita katakan Pilkada di Kota Kupang telah berhasil. Dan lebih dari itu, Pilkada yang sudah dimenangkan Dandan itu pada akhirnya semua unsur berkecenderungan menerimanya dengan baik, sehingga kita lihat sebetulnya ada satu nilai lebih dari masyarakat bahwa mulai muncul kesadaran berdemokrasi, terutama pada kalangan elite yang tidak mau mempolitisasi pilkada menjadi lebih ruwet.
Menurut Anda dimana letak keunggulan Dandan?
Keunggulan Dandan ini tidak lepas dari budaya demokrasi yang sekarang sedang bertumbuh di kalangan masyarakat Indonesia umumnya dan sampai masyarakat Kota Kupang. Budaya yang tumbuh itu adalah demokrasi yang solider dengan orang yang katakanlah memperoleh perlakukan, penekanan yang kurang baik—tentu didalam perjalanan karier politik dan tugas-tugasnya. Saya kira selama ini hampir sebagian besar masyarakat Kota Kupang mendapat suguhan berita-berita dari media masa tentang bagaimana seorang yang namanya Pa Dan itu mendapat perlakukan-perlakuan yang kurang pantas begitu. Tentu dengan tugas-tugas seperti itu masyarakat paling cepat jatuh hati, ibah dan empati. Itu yang meningkatkan popularitas Pa Dan.
Selain itu,  saya lihat dinamika Pa Dan sendiri sebagai seorang figur cukup keras dalam memperjuangkan diri dan pasangannya. Maksudnya, sekalipun masyarakat itu memberikan rasa ibah pada paket ini, tapi kalau paket ini sendiri tidak menunjukkan kemauan atau konsistensi sikap yang sungguh-sungguh didalam program-program maupun didalam upaya lebih mensosialisasikan dirinya, maka keraguan orang terhadap figur itu tetap saja ada. Pa Dan dengan paketnya itu terus bangun kepercayaan masyarakat pada dirinya secara terstruktur, sistematis secara baik. Saya lihat dukungan terhadap dia di situ, semakin hari semakin tinggi melebihi paket-paket lainnya. Jadi, kemenangan Dandan itu lebih pada itu, mereka berdua mampu membangun dirinya sesuai apa yang diharapan masyarakat. Jadi, saya kira walaupun masyarakat ibah tapi kalau kita sendiri tidak membangun diri, kepercayaan orang terhadap kita kecil. Saya kira sama dengan apa yang terjadi pada SBY. Keutungan Pa Dan ada pada kemampuannya membangun komunikasi yang sangat bagus dengan masyarakat. Saya kira keunggulannya disitu, bukan pada kelebihan materi. Dan hal lain yang saya lihat, dia mampu membaca psikologi masyarakat. Itu hebatnya Pa Dan sehingga setiap pernyataan-pernyataannya yang dia kemukaan langsung mengena hati masyarakat.
Berarti faktor figuritas lebih kuat dari pengaruh partai sebesar apapun seperti Golkar dan PDIP yang menjagokan Jonas Salean dan Djidon de Haan?
Sangat-sangat betul. Faktor figuritas itu sangat penting. Itu yang selalu saya bilang faktor kualitas figur; kemampuan manajerial, kemampuan intelektual, kemampuan konseptual. Itu harus betul-betul nampak di sini, dan ini ditunjukkan oleh paket Dandan. Dan lebih dari itu dia punya keunggulan membaca psikologi dan merebut hati masyarakat. Dia tidak andalkan uang dan segala macam, tapi dia mencoba mencuri hati masyarakat. Kita bisa lihat kelebihan pada Pa Dan, dia memang politisi yang punya jam terbang panjang dan saya kira itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya kualitas, tanpa itu tidak bisa. Pa Dan punya kualitas dan didukung pengalaman politik yang panjang yang membuat dua selalu memposisikan diri sebagai orang yang lemah, orang yang teraniaya/tersiksa. Itu yang langsung kena hati masyarakat, apalagi masyarakat kita masyarakat religius yang selalu jatuh hati pada orang-orang yang teraniaya.
Apa sebenarnya yang menjadi harapan masyarakat untuk Dandan setelah dilantik nanti?
Pertama, Dandan harus tunjukkan sikap kenegarawan sebagai seorang pemimpin. Sikap ini sangat diperlukan untuk bisa menetralisasi luka-luka yang timbul selama Pilkada. Sebab bagaimanapun juga paku yang sudah tertanam kalau dicabut pasti ada bekasnya. Karena itu ditutntut jiwa kenegarawan yang tinggi dari Pa Dan untuk segera melakukan (semacam rujukan). Mungkin saja selaku manusia pasti paku yang ditanam kemudian dicabut ada bekasnya, tapi sebagai seorang negarawan pasti dia akan berusaha sedapat mungkin untuk tidak terlalu memperlihatkan sikap-sikap bersahabat dengan lawan-lawan politiknya, karena bagaimanapun juga ketika dia sudah jadi pemimpin, dia toh akan membutuhkan dukungan/bantuan/kerjasama dengan semua pihak, termasuk lawan politik.
Dua, seperti yang sudah dikemukakan selama kampanye, barangkali itu juga menjadi sesuatu yang melandasi dia menjalankan kepemimpinannya ke depan. Sikap konsistensi dengan apa yang dia kemukakan saat kampanye mestinya harus sungguh-sungguh diperbaiki selama memimpin.
Tiga, diharapkan dia mempercepat perbaikan, perubahan, peningkatan tentang pembangunan di Kota Kupang, apa itu yang berkaitan dengan yang mendasar, air, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Keempat, membangun konsep pemahaman atau kemitraan dengan legislatif. Itu harus terus dijaga karena tanpa legislatif, Pa Dan juga akan alami kesulitan dalam kepemimpinan. (*)

“Dan-Dan harus bersahabat dengan lawan politik”


Paket Drs. Daniel Adoe-Drs. Daniel Hurek alias Dan-Dan yang sebelumnya terseok-seok menjejaki litani pilkada Kota Kupang, akhirnya terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kupang. Deretan harapan pun mulai digantungkan ke pundak paket blasteran Rote-Flores ini. Namun yang paling utama Dan-Dan diminta harus bisa berlaku sebagai seorang negarawan. Paling tidak bisa bersahabat dengan lawan politiknya. Haruskah? Berikut komentar Pengamat Politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Drs. Yusuf Kuahaty, M.Si saat Ditemui Edy Diaz belum lama ini di Kupang.
APA komentar Anda terhadap proses Pilkada Kota Kupang?
Proses Pilkada di Kota Kupang secara umum telah berjalan secara demokratis. Indikatornya antara lain, pertama para calon yang diusung masing-masing partai politik kelihatannya sudah merupakan hasil dari proses organisasi, kecuali beberapa partai politik yang mengusung calonnya itu kelihatannya diwarnai ‘pergulatan’, tapi toh hasilnya bisa diterima juga, dan tanpa disangka paket itu justru yang akhirnya berhasil.
Kedua, rakyat Kota Kupang telah menggunakan haknya untuk menentukan siapa pemimpin terbaik, dan kita tidak mendengar adanya intervensi atau tekanan-tekanan dari pihak lain terhadap pemilih dalam memberikan hak suaranya.
Ketiga, KPUD, Panwas maupun masyarakat kelihatannya sudah melaksanakan fungsinya dengan baik sehingga dapat kita katakan Pilkada di Kota Kupang telah berhasil. Dan lebih dari itu, Pilkada yang sudah dimenangkan Dandan itu pada akhirnya semua unsur berkecenderungan menerimanya dengan baik, sehingga kita lihat sebetulnya ada satu nilai lebih dari masyarakat bahwa mulai muncul kesadaran berdemokrasi, terutama pada kalangan elite yang tidak mau mempolitisasi pilkada menjadi lebih ruwet.
Menurut Anda dimana letak keunggulan Dandan?
Keunggulan Dandan ini tidak lepas dari budaya demokrasi yang sekarang sedang bertumbuh di kalangan masyarakat Indonesia umumnya dan sampai masyarakat Kota Kupang. Budaya yang tumbuh itu adalah demokrasi yang solider dengan orang yang katakanlah memperoleh perlakukan, penekanan yang kurang baik—tentu didalam perjalanan karier politik dan tugas-tugasnya. Saya kira selama ini hampir sebagian besar masyarakat Kota Kupang mendapat suguhan berita-berita dari media masa tentang bagaimana seorang yang namanya Pa Dan itu mendapat perlakukan-perlakuan yang kurang pantas begitu. Tentu dengan tugas-tugas seperti itu masyarakat paling cepat jatuh hati, ibah dan empati. Itu yang meningkatkan popularitas Pa Dan.
Selain itu,  saya lihat dinamika Pa Dan sendiri sebagai seorang figur cukup keras dalam memperjuangkan diri dan pasangannya. Maksudnya, sekalipun masyarakat itu memberikan rasa ibah pada paket ini, tapi kalau paket ini sendiri tidak menunjukkan kemauan atau konsistensi sikap yang sungguh-sungguh didalam program-program maupun didalam upaya lebih mensosialisasikan dirinya, maka keraguan orang terhadap figur itu tetap saja ada. Pa Dan dengan paketnya itu terus bangun kepercayaan masyarakat pada dirinya secara terstruktur, sistematis secara baik. Saya lihat dukungan terhadap dia di situ, semakin hari semakin tinggi melebihi paket-paket lainnya. Jadi, kemenangan Dandan itu lebih pada itu, mereka berdua mampu membangun dirinya sesuai apa yang diharapan masyarakat. Jadi, saya kira walaupun masyarakat ibah tapi kalau kita sendiri tidak membangun diri, kepercayaan orang terhadap kita kecil. Saya kira sama dengan apa yang terjadi pada SBY. Keutungan Pa Dan ada pada kemampuannya membangun komunikasi yang sangat bagus dengan masyarakat. Saya kira keunggulannya disitu, bukan pada kelebihan materi. Dan hal lain yang saya lihat, dia mampu membaca psikologi masyarakat. Itu hebatnya Pa Dan sehingga setiap pernyataan-pernyataannya yang dia kemukaan langsung mengena hati masyarakat.
Berarti faktor figuritas lebih kuat dari pengaruh partai sebesar apapun seperti Golkar dan PDIP yang menjagokan Jonas Salean dan Djidon de Haan?
Sangat-sangat betul. Faktor figuritas itu sangat penting. Itu yang selalu saya bilang faktor kualitas figur; kemampuan manajerial, kemampuan intelektual, kemampuan konseptual. Itu harus betul-betul nampak di sini, dan ini ditunjukkan oleh paket Dandan. Dan lebih dari itu dia punya keunggulan membaca psikologi dan merebut hati masyarakat. Dia tidak andalkan uang dan segala macam, tapi dia mencoba mencuri hati masyarakat. Kita bisa lihat kelebihan pada Pa Dan, dia memang politisi yang punya jam terbang panjang dan saya kira itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya kualitas, tanpa itu tidak bisa. Pa Dan punya kualitas dan didukung pengalaman politik yang panjang yang membuat dua selalu memposisikan diri sebagai orang yang lemah, orang yang teraniaya/tersiksa. Itu yang langsung kena hati masyarakat, apalagi masyarakat kita masyarakat religius yang selalu jatuh hati pada orang-orang yang teraniaya.
Apa sebenarnya yang menjadi harapan masyarakat untuk Dandan setelah dilantik nanti?
Pertama, Dandan harus tunjukkan sikap kenegarawan sebagai seorang pemimpin. Sikap ini sangat diperlukan untuk bisa menetralisasi luka-luka yang timbul selama Pilkada. Sebab bagaimanapun juga paku yang sudah tertanam kalau dicabut pasti ada bekasnya. Karena itu ditutntut jiwa kenegarawan yang tinggi dari Pa Dan untuk segera melakukan (semacam rujukan). Mungkin saja selaku manusia pasti paku yang ditanam kemudian dicabut ada bekasnya, tapi sebagai seorang negarawan pasti dia akan berusaha sedapat mungkin untuk tidak terlalu memperlihatkan sikap-sikap bersahabat dengan lawan-lawan politiknya, karena bagaimanapun juga ketika dia sudah jadi pemimpin, dia toh akan membutuhkan dukungan/bantuan/kerjasama dengan semua pihak, termasuk lawan politik.
Dua, seperti yang sudah dikemukakan selama kampanye, barangkali itu juga menjadi sesuatu yang melandasi dia menjalankan kepemimpinannya ke depan. Sikap konsistensi dengan apa yang dia kemukakan saat kampanye mestinya harus sungguh-sungguh diperbaiki selama memimpin.
Tiga, diharapkan dia mempercepat perbaikan, perubahan, peningkatan tentang pembangunan di Kota Kupang, apa itu yang berkaitan dengan yang mendasar, air, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Keempat, membangun konsep pemahaman atau kemitraan dengan legislatif. Itu harus terus dijaga karena tanpa legislatif, Pa Dan juga akan alami kesulitan dalam kepemimpinan. (*)

Otda Harus Diterjemahkan Sebagai Semangat Pengabdian


Terkadang masyarakat salah mempresepsikan arti Otonomi Daerah (Otda) yang sesungguhnya. Padahal semangat kedaerahan dalam era Otda sekarang ini harusnya diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam rangka membangun daerah. Berikut komentar Kepala Biro (Karo) Bina Mitra Polda NTT, Komisaris Besar (Kombes) Polisi, Alfons Loemau, M.Si. M.Bus saat ditemui wartawan Sergap NTT, Ruddy Tokan di ruang kerjanya pada Kamis, 5 Juli 2007 lalu.
Sebagai putra daerah, tugas polisi seperti apa yang akan anda terapkan di NTT 
Kalau saya menggunakan kata putra daerah itu kadang-kadang menyesatkan. Karena dulu ada istilah polisi the local boy to the local Job. Kalau kita sudah berpikir sebagai bangsa Indonesia, mengabdi dimana pun nilainya harus sama. Sebagai putra bangsa kita harus berbuat yang terbaik dalam pengabdian kita. Boleh-boleh saja membangun semangat seperti itu, tetapi dalam pengabdian kita harus memperlakukan semua sama. Sehingga jangan muncul rasa kecemburuan karena semangat kesukuannya tinggi, semangat agamanya fundamental. Ini konyol. Bangsa ini telah melahirkan sejarah tentang keberagaman. Kalau saya di Jakarta, ya saya layani orang Jakarta, masa saya layani orang Timor. Kan tidak begitu jadinya. Semangat kedaerahan dalam era otonomi daerah harus diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam membangun daerah. Dimanapun kamu berada harus membangun daerah itu, dengan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jadi semangat putra daerah itu harus ditunjukan dalam prestasi sehingga orang lihat. Disini kan beragam-ragam. Ada Kefa, Soe, Flores, Sabu dan lain sebagainya. Sebenarnya budaya beragam, tetapi ada nilai-nilai universal yang mereka sama-sama akui.
Lalu?
Paradigmanya harus dirubah. Mari kita jadikan Polisi sebagai alat penegak hukum semata dan dari pengusa menjadi pelayan. Kalau polisi dari terendah sampai tertinggi sudah memahami siapa dirinya, baru lebih gampang untuk atur masyarakat. Disini pemimpinnya saja tidak mengerti soal tugas pelayanan, apalagi stafnya. Sehingga masyarakat bilang, polisi jangan menuntut terlalu banyak dari masyarakat sepanjang belum memahami makna dari pelayan tersebut.
Sebagai orang NTT, anda tentu sangat tahu betul bagaimana membina orang NTT. Pendapat anda? 
Sebagai orang NTT saya tetap memahami budaya NTT dan sebagai akademisi, saya sudah belajar banyak soal antropologi budaya NTT. Jika anda baca riwayat saya mungkin anda bisa bilang pengetahuan anda terhadap NTT lebih kurang dari saya. Pertanyaan ini banyak kali orang omong, tetapi dasar bertanya pun tak ada ukuran. Contoh, kalau anda bilang saya tidak menguasai ini NTT, kamu mau tanya saya apa tentang NTT. Jumlah penduduk NTT lebih banyak perempuan di banding laki-laki, 50-an persen. Yang terdidik cuma empat sampai delapan persen yang S1 keatas. Selain SMA,  ke bawah, 48 persennya tidak berijasah. Kemudian tingkat kemiskinan. Pendapatan asli dan Product Regional Domestic Bruto NTT masuk dalam kategori 4 termiskin dari daerah-daerah miskin. Yang lebih spesifik, orang Sumba itu seperti apa, orang Ende seperti apa.
Apakah itu berarti pola pikir masyarakat harus dirubah? 
Bukan masyarakat punya pola pikir yang dirubah. Tapi, polisi punya pola pikir yang harus dirubah. Karena sebenarnya polisi sebagai pelindung dan pengayom, aparat penegak hukum, alat kamtibmas, dia harus memahami karakteristik budaya dan nilai-nilai yang tertanam di masyarakat. Karena prinsip penegakan hukum pada dasarnya menegakan nilai-nilai norma yang tumbuh di masyarakat, polisinya yang harus menyesuaikan nilai-nilai apa yang ada dimasyarakat. Bukan masyarakatnya yang merubah. Kalau memang biasanya yang seperti yang dikatakan Kapolda beberapa kebiasaan buruk seperti minum-mimuman keras, itu bukan budaya. Itu hanya segelintir orang yang memang dia punya kegiatan produktif yang bisa dibina dan diarahkan oleh polisi dalam kaitan dengan tugas Bina Mitra.  Dia bisa stop minum atau bisa diterangkan apa manfaat dia minum, bahayanya apa, nah ini kan tugas polisi. Mengkomunikasikan berbagai masalah itu kepada masyarakat dan menawarkan solusi yang positip. Dan itu akan menjadi tugas saya sekaligus membina kwalitas pemikiran orang NTT. Jadi bukan masyarakat yang harus berubah, tetapi polisi yang harus berubah. Dari mental penguasa ke mental pelayan. Pertanyaannya, apakah polisi yang berkerja di NTT menyadari dirinya adalah pelayan atau tidak? Tanya teman-teman seumuranmu yang polisi. Tanya kenapa mau jadi polisi. Meraka akan jawab, sonde karena beta mau melayani masyarakat atau karena beta terpanggil untuk mau melayani masyarakat, atau karena paling enak jadi polisi karena berkuasa, pegang pistol, bisa tangkap orang, coba tanya mereka? Kasihan masyarakat kita. Mereka kurang paham dengan hukum sehingga sering minum mabuk, dan lain sebagainya. Sebagai polisi saya harus bisa melayani mereka seperti ini. Adakah orang di NTT yang jadi Polisi berpikir ke arah itu. Nah, inilah cikal bakal polisi yang tidak berpikir seperti itu. Padahal doktirn dan pandangan hidup polisi adalah melindungi dan mengayomi. Coba tanya anak muda yang mau jadi bintara polisi atau akpol dan Sarjana polisi, adakah terbersit dikepalanya karena dia ingin melayani dan mengayomi, makanya dia mau menjadi polisi? Ataukah dia tidak ada kerja, hanya karena koneksi dan relasi sehingga dia jadi polisi, supaya ada kuasa? Kan begitu. Kalau itu merupakan kondisi aktual dalam masyarakat, dalam bahasa komputernya input, proses dan output. Inputnya begitu-begitu saja, prosesnya juga tidak karuan, outputnya jangan tanya? Apakah dia mau mengabdi dan mengayom? Banyak orang omong masyarakat harus begini, begitu dan lain sebagainya, tetapi pertanyaannya apakah polisi setia menampung keluhan masyarakat, atau yang paling gampang saja, gampang tidak masyarakat yang lihat orang mabuk-mabuk lalu mau lapor kemana? Mari kita tanya, kita mau pi lapor dimana bu? Mau masuk kantor polisi saja kaya kerajaan Majapahit. Jadi bangunan ini, tampilan ini menunjukan siapa dia sebenarnya. Apa begitu?
Menurut anda bagaimana caranya agar pilisi bisa lebih dekat dengan masyarakat?
Makanya saya bilang kalau mau dekat dengan masyarakat, buka pagar loe, buka seragam loe, bersosialisasi dengan masyarakat seperti masyarakat punya kehidupan. Jadi pertanyaan ini bukan kita merubah masyarakat, tetapi anda sebagai pelayan masyarakat datang menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kalau saya punya pandangan begitu tentang bina mitra dan polisi kedepan.
Anda kan pernah belajar ke Jepang dan Amerika, bagaimana kerja polisi disana?
Saya waktu ikut pendidikan di Jepang dan Amerika, sebenarnya apa yang kerjakan oleh polisi Jepang dan polisi Amerika dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, tidak beda-beda jauh dengan polisi kita. Persoalannya, manusia sebagai pelakunya juga tidak ingin. Coba lihat polisi disini, pernakah dia jalan ke sebuah kampung dengan tidak pakai pakaian dinas dan tegur sapa dengan para orang tua di kampung-kampung? Dia berpikir, jika ada perlu, baru dia datang. Tetapi kalau masyarakat ada perlu, ada tidak yang polisi urus secara baik. Itu kenyataan yang harus kita rubah, dengan perubahan cara pandang dan berperilaku. (#)

Mereka Yang Mendaftarkan Diri


sergapntt.com [ATAMBUA] — Kepala Sekolah SMA Kristen Atambua, Abraham Dakamuly, SM. pertengahan tahun 2007 lalu berhasil mengirimkan sebanyak 106 anak ke Jakarta dengan tujuan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, ada kabar menyebutkan sejumlah anak tersebut diterlantarkan disana. “Jadi kalau ada yang ditelantarkan, bagi saya ……Tuhan saja yang tahu,” kata Abraham Dakamuly, saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.
Bagaimana sampai anda mengumpulkan 106 anak untuk dikirim ke Jakarta?
Begini, disekolah kita banyak Universitas yang datang mensosialisasikan program mereka untuk anak-anak lulusan di SMA Kristen, kemarin kita punya lulusan cukup besar 423 yang lulus oleh karena itu mereka datang mensosialisasikan program mereka termasuk Universitas SETIA (Sekolah Tinggi Theologia) Jakarta. Awalnya dia mengirimkan brosur kepada sekolah-sekolah termasuk sekolah kami. Dan karena itu dari brosur yang anak-anak terima kemudian anak-anak menyampaikan pada teman-teman yang lain juga, lalu mereka berminat pada sekolah tersebut. Jadi mereka yang mendaftarkan diri waktu itu sampai 200 anak-anak yang ingin ikut kuliah di Universitas SETIA Jakarta. Sebab dari brosur itu yang ditawarkan oleh SETIA Jakarta adalah Pendidikan Guru SMP (PGSMP) pada jurusan FKIP untuk bidang studi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi Akuntansi, kemudian untuk PMP ditambah lagi dengan IPS dan IPA. Karena tawaran program itu sehingga anak-anak kita berminat untuk kuliah disana. Minat anak-anak kita itu dapat dilihat dari jumlah saat pendaftaran yang mencapai 200 lebih anak calon mahasiswa SETIA. Dan karena jumlahnya besar saya minta untuk mereka Universitas SETIA Jakarta datang untuk memberikan sosialisasi tentang kondisi Universitas itu disekolah kita, sosialisasinya bukan hanya satu kali tapi dua kali sosialisasi dan yang terakhir selama dua hari langsung dengan orang tua calon mahasiswa.
Bisa diceritakan bagaimana sampai anda berkenalan dengan lembaga pendidikan di Jakarta itu ?
Oh ….Iya. Rektornya sudah pernah datang disekolah ini (SMA Kristen) dua tahun lalu. Mereka mensosialisasikan hal yang sama, tapi ketika itu Program PGTK dan PGSD pada waktu yang sama, kita di Atambua juga ada PGSD sehingga tidak ada simpatisan kita yang berminat untuk kuliah ke sana. Sementara untuk tahun ini Universitas SETIA Jakarta datang mensosialisasikan PGSMP karena program itu sehingga anak-anak kita begitu banyak yang membaca itu dan berminat ingin kuliah kesana. Karena sebelumnya mereka merasa bahwa kalau kuliah ke Jakarta itu susah, biayanya mahal, tempat penginapanna bagaimana kemudian dengan makannya tentu sangat mahal. Sedangkan tawaran Universitas SETIA Jakarta dalam brosur dan sosialisasi itu biaya pendidikannya murah ditambah penginapannya mereka siap dan makan juga mereka siap……begitu.
Sehingga anak-anak kita begitu banyak yang berminat. Jadi sebenarnya kami hanya sebatas mempersiapkan sarana untuk setiap universitas yang mau mensosialisasikan program pendidikannya bagi anak-anak kita. Saya kira ini sama dengan sekolah-sekolah lain yang juga memberi tempat untuk setiap lembaga pendidikan memberikan sosialisasi, mungkin tidak hanya SMA Kristen saja. Karena kalau anak-anak kita tertarik dengan program  yang ditawarkan dari Universitras mana saja, mereka mungkin ada kemudahan dan mereka berhasil itu kan untuk keinginan diri mereka itu yang merupakan tujuan kita bersama. Karena anak-anak bukan tidak saja hanya berkualitas tapi diharapkan harus memiliki keinginan untuk mempersiapkan generasi ke depan yang memiliki kemampuan untuk menguasai IPTEK.
Apa saja komitmen diantara anda dan lembaga pendidikan itu sehingga anda dapat mengirim 106 anak ke Jakarta ?
Saya pikir ….. bukan kami berani mengirim. Jadi sebenarnya juga kami bukan punya komitmen untuk mengirim mereka. Ini kan sebenarnya dari pihak mereka (SETIA Jakarta) yang datang mensosialisasikan program ini yang kemudian diminati oleh anak-anak ini. Makanya mereka ikut dengan maksud mau kesana (Jakarta) itu begitu. Dan saya sendiri juga pergi tapi bukan antar mereka. Saya antar anak saya karena dia juga ikut makanya saya ikut untuk mau lihat langsung disana, betulkah seperti apa yang mereka sosialisasikan disini atau tidak. Sehingga anak saya bisa ikut studi disana bisa nyaman dan aman. Jadi setelah mereka sosialisasikan mengenai Kampus SETIA Jakarta, saya punya anak bilang bapak mesti ikut, jadi saya pergi bukan karena mengirim tapi karena anak saya juga pergi…..iya saya pasti ikut dong.
Mengapa anak-anak itu terlantar?
Pak, saya pikir itu….. mungkin yang bisa memberikan penjelasan pihak Universitas SETIA Jakarta dan penjelasan dari Universitas itu sudah dimuat di surat kabar bahwa sebenarnya tidak ada nak-anak diterlantarkan, yang ada itu mungkin anak-anak menterlantarkan diri. Maksudnya kalau dia paksa untuk keluar dari kampus SETIA Jakarta memang bukan tanggung jawab Universitas SETIA Jakarta lagi, jadi kalau bilang Universitas SETIA Jakarta terlantarkan anak-anak itu tidak ada dan itu kewenangan dari mereka untuk memberikan klarifikasi seperti apa yang sudah dimuat dikoran itu kan begitu …….. Kalau saya, saya beberapa hari ada disana dan bilang anak-anak itu diterlantarkan itu sama sekali tidak, malahan saya juga dialog langsung dengan rektornya sebelum saya pulang ke Atambua. Maksudnya mau tahu kepastian tentang pendidikan disana. Jadi kalau ada yang diterlantarkan itu bagi saya, iya…… Tuhan saja yang tahu.
Sebab beberapa hari ada disana menurut pengamatan saya, mereka sangat tidak mungkin untuk mentelantarkan. Ya …. saya tidak bisa berkomentar karena pengamatan saya ketika ada disana tidak seperti itu bahwa mereka janji punya tempat penginapan ya….mereka punya tempat penginapan bagus. Artinya asrama itu ada 5 unit rumah yang berlantai 3 dan 4 lantai semuanya dilengkapi dengan tempat tidur, begitu. Jadi 5 asrama itu tiga untuk putra dan dua untuk putri. Sehingga kalau bilang untuk ditelantarkan tidak mungkin. Jadi sebenarnya tidak perlu saya mengomentari itu toh. Kemudian sampai dengan yang terakhir saya mau pulang, saya masih tawarkan pada mereka kira-kira dari seluruh yang disosialisasikan kalo masih ada yang merasa tidak bisa, ya…. pulang dengan saya sehingga memang hari itu ada 42 anak yang minta pulang dengan saya. Dan 42 anak itu seluruh pengeluaran uang masing-masing mereka dikembalikan yakni uang kapal 495.000, biaya pendaftaran 200.000 untuk masuk Universitas Setia Jakarta, Biaya Ongkos bus Atambua Kupang 40.000, Uang Jaket Almamater dengan pakaian satu pasang 400.000 itu semua dikembalikan.
Sehingga kami pulang bisa menggunakan pesawat. Dari 42 orang yang membuat pernyataan pengunduran diri itu ada orang tua yang datang menawarkan kalo izinkan mereka yang sudah datang di Jakarta bisa diberi kesempatan untuk tetap tinggal di Jakarta. Sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikan di sekolah yang lain. Sehingga kesepakatan juga kami langsung buat dengan anak-anak yang mau melanjutkan kuliah disana bersama para orang tua dari Ikatan Keluarga Belu (IKB) yang ada di Jakarta (nama ketuanya saya lupa) bahwa mereka bertanggungjawab terhadap anak-anak yang mereka jemput di SETIA Jakarta. Sehingga saat itu saya hanya pulang dengan 9 orang anak karena ada permintaan beberapa orang tua dan wali yang disana.
Apa yang anda lakukan ketika mengetahui anak-anak itu ditelantarkan?
Ya…. jadi saya langsung bicarakan dengan pihak SETIA Jakarta bahwa saya dengar anak-anak ditelantarkan tetapi jawaban dari sana bahwa selama berada di Kampus SETIA tidak ada yang ditelantarkan seperti yang mereka sudah memberi klarifikasi berita yang ada di koran itu, dan saya sendiri juga ada disini sehingga saya tidak tahu secara pasti dan saya juga dipanggil Pak Wakil Bupati Belu. Alasan kenapa sampai tidak melaporkan pada pemerintah, akhirnya saya menyampaikan bahwa hal itu tidak bermaksud mengirim, tapi semua mereka menyatakan pilihan untuk kuliah ke Jakarta. Jadi saya berpikir semua orang kan boleh memilih untuk kuliah dimana saja kan tidak melapor ke pemerintah. Jadi pikiran kita begitu saja. Mungkin karena ini soal sehingga harus dilaporkan ke pemerintah, saya tidak tahu. Tapi itu sepengetahuan saya mereka yang mau studi dimana saja kan umumnya tidak melaporkan pada pemerintah. Jadi saat saya di Pak Wakil Bupati saya menyampaikan juga bahwa disini saya hanya memfasilitasi sehingga Pak Wakil bilang memang maksud itu baik tetapi bahwa itu pertimbangan kemanusiaan saya diminta untuk membantu sedikit dana untuk mereka bisa pulang.
Jadi, saya sudah kirim dana pada orang yang urus mereka disana Ikatan Keluarga Belu (IKB). Dana yang saya kirim itupun hanya karena pertimbangan kemanusiaan saja. Informasi yang saya peroleh dari Pak Wakil Bupati bahwa 10 orang yang belum pulang sehingga saya kirim 5 juta. Ada bukti pengiriman lengkap.
Betulkah anak-anak itu kabarnya dibujuk untuk pindah agama?
Jadi begini, pendidikan ini kan semua orang boleh masuk, dari Katolik, Protestan dan Islam juga masuk. Bahwa selama dia mengikuti pendidikan dia ikut pelajaran agama Protestan betul, tapi setelah dia tamat yang Katolik tetap Katolik dan yang Islam tetap Islam. Jadi isu seperti itu suatu hal yang luar biasa, oleh karena itu saya pikir juga SETIA Jakarta sudah lupa diri sebenarnya. Kalau mungkin Pak Bupati, Pak Wakil dan Dewan bisa melihat langsung kondisi yang dialami oleh anak-anak di SETIA Jakarta. Karena kalau macam begini susah untuk mengomentari, sebab saya bisa menyatakan bahwa tidak ada disana tapi kenyataannya lain lagi. Tapi saya yakin karena Rektor SETIA Jakarta saat itu saya menyatakan bahwa saya bawa ini ada anak-anak Katolik, dia bilang oh… tidak apa-apa, disini ini dia hanya belajar sebagai guru dan dia pulang. Dan kalau dia buat pernyataan untuk pindah misalnya masuk Protestan tetap kita tolak. Kita punya tujuan bukan itu. Tidak benar kalau kabar seperti itu, tapi sebaiknya lihat langsung. Pak Rektor juga meyakinkan saya begitu karena saya bawa anak-anak yang kurang mampu dan saya tanya langsung pada anak-anak apakah yang mereka sosialisasikan itu sesuai atau tidak ternyata sesuai dengan yang mereka sosialisasikan itu, ada penginapan, kemudian mereka diberikan kemudahan soal biaya. Malahan SETIA Jakarta mempunyai prinsip bahwa tidak akan mengeluarkan mahasiswa dari SETIA Jakarta hanya karena dia tidak bayar uang sekolah. (by. rudy tokan) 

Selingkuh Itu Zinah !


sergapntt.com [KUPANG] – TERUNGKAPNYA sejumlah kasus selingkuh yang dilakoni beberapa pejabat birokrat dan politik di provinsi Nusa Tenggara Timur ternyata menyulut rasa prihatin Ustad Ramli Deni. Menurut tokoh Islam yang satu ini, selingkuh atau perbuatan zinah adalah prilaku yang tak patut diteladani. Sebab zinah adalah dosa menurut semua ajaran agama. Berikut komentar Ustad Ramli Deni saat diwawancara di Kupang pada Sabtu, 5 Mei 2007 lalu.

Bagaimana tanggapan anda terhadap sejumlah kasus selingkuh yang melibatkan pejabat birokrat maupun politik?
Yah, sebagai pejabat atau publik figur sebenarnya harus tahu bahwa ketika dia menjadi orang penting dalam kehidupan bermasyarakat, maka semua mata akan tertuju padanya. Sebab dalam keseharian, pejabat juga merupakan panutan hidup rakyat kecil. Kalau perbuatannya keluar dari rel kehidupan normal, itu sama dengan mematikan langkah hidup moral bangsa ini. Selingkuh biasanya terjadi pada suami istri  yang tidak puas akan urusan lahir bathin antara suami dan istri. Tapi sesungguhnya orang yang melihat keburukan, dosanya sama dengan orang yang memberi contoh buruk itu. Alah berfirman, “Kullil muminina ya wudhu min absorihi wayaa tadhu furru zahum.” atau perintahkan kepada orang mukmin hendaklah memelihara padangan mereka. Maksudnya jangan melihat hal-hal yang bisa menjerumuskan kita kepada perbuatan-pebuatan maksiat, terutama zinah. Wa yaa farru fujju zahum, aurat jangan disalurkan pada yang bukan tempatnya. Artinya yang belum sah nikah tidak dibenarkan bersibadan. “Jalika  askalahum “ itu lebih mulia. Khusus buat kaum wanita “ Wakulil muminti yaadugna min absohirinna” sama dengan katakan kepada pepempuan-perempuan mukmin untuk menjaga pandangan mereka, “Wayaa tahna furru jahunna” adalah juga memelihara aurat mereka. Selingkuh menurut syariat Islam haram Hukumnya. Itu dikategorikan Zinah. Zinah tidak hanya terjadi pada laki-laki atau perempuan yang belum menikah. Kenyataannya banyak juga dilakukan pasangan resmi yang kurang puas terhadap apa yang dimiliki. Zinah hukumnya haram. Zinah termasuk hukum zinah yang haram hukumnya. Itu artinya jelas. Walla Taqrabul zinah. Janganlah engkau dekati zinah. Sebab dekat itu menjurus kepada perbuatan bersibadan. Jadi zinah itu dalam pandangan islam tidak hanya bersibadan, tapi mulai dari awal-awal untuk sampai mengarah pada terjadinya perbuatan bersibadan. Katakanlah melihat dengan sorotan mata yang penuh dengan gairah, itu juga sudah termasuk zinah. Zinah mata biasanya mengantar hingga terjadi perbuatan bersibadan. Ada hadist Nabi yang mengatakan bahwa kalau engkau melihat sesuatu yang haram, pandangan pertama itu tidak mengapa, tetapi jika selanjutnya pandangan penuh gairah, penuh nafsu, itu sudah adalah zinah.
 Lalu bagimana dengan poligami?
Poligami itu memang diajarkan dalam Islam, sebagaimana ayat Allah yang menjelaskan bahwa wa tabbaa toballakum minan nisa binasna wa sallasa wa rabbaa, jadi itu dasar hukum Islam boleh berpoligami. Tapi tentu dengan pertimbangan harus adil dalam memberi nafkah lahir dan bathin . Itu prinsip dasar utama berpoligami. Kalau merasa tidak adil atau tidak mampu melaksanakan syarat itu, maka tidak dibenarkan untuk melakukan poligami. Jadi, poligami itu boleh jika kita dapat menerapkan keadilan di atara istri-istri yang dipoligami.
Anda punya kiat menghindari zinah?
Yang paling pertama harus datang dari dalam rumah sendiri, yakni dari istri atau suami dalam memberikan nafkah lahir maupun bathin. Katakalah kita ambil patokan istri. Jika suami mencari nafkah, sesungguhnya si istri yang harus sebisa mungkin memberikan ketenangan, kedamaian dan kepuasan bagi suami ketika dia pulang ke rumah.  Toh kalau si istri juga bekerja, maka dia harus ingat bahwa kewajiban sebagai istri bisa menciptakan kenyamanan, ketenangan didalam rumah, terutama terhadap suami. Sehingga suami itu bisa betah dirumah. Dia tidak tergiur dengan yang ada diluar rumah. Si istri juga harus pandai mengurus diri agar tetap menarik bagi suami. Tapi kalau suami dasarnya “nakal”, itu lain lagi ceritanya. Kalau si istri tidak mampu memberikan ketenangan, kepuasan, kemudian tidak tahu urus diri, ya… inikan repot. Menjadi wanita karir itu boleh, tapi tetap harus menempatkan diri sebagai ibu yang memberikan pelayanan kepada suami dan anak-anak sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang diatur dalam agama. Hak istri adalah mendapatkan nafkah lahir dan bathin seutuhnya dari suami.
Lalu?

Sesungguhnya zinah itu haram hukumnya. Apalagi itu dilakukan publik figur. Sebab apa yang dilakukannya jelas dilihat orang lain, yang baik akan ditiru, yang buruk pun bisa mungkin ditiru orang awam yang tidak paham apa itu zinah. Oleh karena itu dosa publik figur lebih besar ketimbang yang lainnya. Ada ayat yang menyatakan bahwa orang melakukan suatu dosa lantaran kebodohannya dosanya lebih ringan ketimbang yang tahu bahwa perbuatan itu adalah dosa. Mungkin pejabat yang doyan selingkuh itu tidak punya rasa malu. Ya…mungkin karena dia berprinsip banyak orang yang melakukan zinah, sehingga beban dosa dipikul semua orang. Tapi harus diingat bahwa kita tidak hidup untuk selamanya dan akan mati pada saatnya. Kapan lagi mau minta ampun kepada Tuhan kalau kita sudah tua umurnya. Ingat bahwa jika seorang sudah terjerumur  ke dalam dosa, maka ia susah untuk keluar. Jadi, jangan coba-coba masuk kedalam perbuatan atau prilaku yang haram dimata Tuhan. (by. rusdy maga)