Dana Angsuran PLTS, Endap Di DKP Rote Ndao


sergapntt.com [Ba’a] – PROGRAM Bantuan Hibah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) melalui Direktoral Jenderal (Dirjen) Pesisir dan Pulau-pulau Kecil kepada masyarakat Landu, Desa Oebou, Kecamatan Rote Barat Daya dan Ndao Nuse, Kecamatan Rote Barat, ternyata biayanya harus diangsur kembali terhitung tahun 2004 sampai 2006 setelah ada kebijakan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Rote Ndao. Namun hingga kini, dana angsuran tersebut belum juga disetor ke DKP dan masih mengendap di DKP Rote Ndao. Kondisi ini tercium baunya oleh masyarakat pengguna PLTS sehingga berdampak macetnya angsuran pada tahun 2007 ini.
Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rote Ndao, Jacob Doek, S.Pi menjelaskan, bantuan PLTS tersebut bukan diberikan cuma-cuma, tetapi harus diangsur kembali biayanya sebagaimana sosialisasi yang disampaikan petugas dari Dirjen Pesisir dan Pulau-pulau Departemen Kelautan dan Perikanan, dengan tujuan untuk dilakukan pengadaan PLTS baru bagi masyarakat yang belum menikmati bantuan tersebut. Sebab sampai tahun 2007 baru 280 unit PLTS bantuan DKP yang sudah dinikmati masyarakat, yaitu 60 unit di Landu tahun 2004, 71 unit di Nuse (60 unit tahun 2005, 11 unit tahun 2006) dan 147 unit di Ndao tahun 2006. Sementara 2 unit lainnya dialihkan peruntukannya, yaitu 1 unit digunakan di Tambak Ikan Keoen dan 1 unit lagi dipakai KM. Sangguana milik DKP Ronda.
Sedangkan menyangkut angsuran, dikembalikan secara bertahap dan meningkat selama 5 tahun, dimana untuk tahun pertama dan kedua pengguna menyetor angsuran Rp. 20 ribu perbulan dan tahun ketiga Rp. 24 ribu per bulan. Tahun keempat Rp. 26 ribu dan tahun kelima Rp. 28 ribu, sehingga setiap pengguna PLTS mesti menyicil uang Rp. 1, 440 juta per unit. Angsuran tersebut dikelola DKP Rote Ndao.
“Cicilan ditangani oleh dinas mulai tahun 2004, 2005 dan 2006, tapi belum disetor ke pusat. Masih disimpan di bank menggunakan rekening tersendiri. Sedangkan untuk tahun 2007 belum ada angsuran,” jelas Doek.
Ditanya kenapa dana tersebut disimpan dan tidak dipakai untuk pengadaan PLTS baru, Doek mengaku, belum terlalu tahu tentang PLTS. Toh begitu, dia berjanji akan melakukan koordinasi guna penyelesain masalah PLTS.
Kepala Desa Oebou, Hanokh Naramesah, yang dikonfirmasi, Kamis (31/5) mengatakan, berdasarkan sosialisasi awal yang disampaikan Petugas dari Dirjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, bantuan PLTS tersebut harusnya diberikan kepada masyarakat secara cuma-Cuma. Karena itu dana hibah. Masyarakat seharusnya hanya diminta membayar iuran Rp. 1.000 per bulan sebagai biaya pemeliharaan perangkat yang ditangani Kelompok Pengelola yang dibentuk masyarakat sendiri. Tapi, belakangan datang petugas dari DKP Rote Ndao bahwa PLTS harus dibayar, dan uang mukanya sebesar Rp. 50.000 per unit dan angsuran bulanan sebesar Rp. 20 ribu. Itu untuk tahun pertama. Sedangkan tahun kelima diharuskan membayar cicilan Rp. 28 ribu per bulan. 
“Awalnya masyarakat sudah cicil tapi kemudian macet karena tahu bahwa bantuan itu merupakan hibah. Sehingg dinas sudah dua kali memberi peringatan dan mengancam akan mencabut PLTS yang ada, tetapi masyarakat tetap saja tidak bayar cicilan sampai sekarang,” timpalnya.
Hal yang sama juga dipersoalkan oleh masyarakat Ndao dan Nuse. Warga di dua wilayah itu enggan menyetor angsuran ketika mendengar bahwa bantuan PLTS merupakan proyek hibah bagi masyarakat.
“Apalagi masyarakat juga tahu bahwa DKP Rote Ndao belum setor angsuran masyarakat itu ke pemerintah pusat. Karena itu, DKP Rote Ndao dianggap telah kong kali kong dengan masyarakat,” kata sumber terpercaya yang meminta namanya tidak dikorankan. (by. usu)

Otda Harus Diterjemahkan Sebagai Semangat Pengabdian


Terkadang masyarakat salah mempresepsikan arti Otonomi Daerah (Otda) yang sesungguhnya. Padahal semangat kedaerahan dalam era Otda sekarang ini harusnya diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam rangka membangun daerah. Berikut komentar Kepala Biro (Karo) Bina Mitra Polda NTT, Komisaris Besar (Kombes) Polisi, Alfons Loemau, M.Si. M.Bus saat ditemui wartawan Sergap NTT, Ruddy Tokan di ruang kerjanya pada Kamis, 5 Juli 2007 lalu.
Sebagai putra daerah, tugas polisi seperti apa yang akan anda terapkan di NTT 
Kalau saya menggunakan kata putra daerah itu kadang-kadang menyesatkan. Karena dulu ada istilah polisi the local boy to the local Job. Kalau kita sudah berpikir sebagai bangsa Indonesia, mengabdi dimana pun nilainya harus sama. Sebagai putra bangsa kita harus berbuat yang terbaik dalam pengabdian kita. Boleh-boleh saja membangun semangat seperti itu, tetapi dalam pengabdian kita harus memperlakukan semua sama. Sehingga jangan muncul rasa kecemburuan karena semangat kesukuannya tinggi, semangat agamanya fundamental. Ini konyol. Bangsa ini telah melahirkan sejarah tentang keberagaman. Kalau saya di Jakarta, ya saya layani orang Jakarta, masa saya layani orang Timor. Kan tidak begitu jadinya. Semangat kedaerahan dalam era otonomi daerah harus diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam membangun daerah. Dimanapun kamu berada harus membangun daerah itu, dengan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jadi semangat putra daerah itu harus ditunjukan dalam prestasi sehingga orang lihat. Disini kan beragam-ragam. Ada Kefa, Soe, Flores, Sabu dan lain sebagainya. Sebenarnya budaya beragam, tetapi ada nilai-nilai universal yang mereka sama-sama akui.
Lalu?
Paradigmanya harus dirubah. Mari kita jadikan Polisi sebagai alat penegak hukum semata dan dari pengusa menjadi pelayan. Kalau polisi dari terendah sampai tertinggi sudah memahami siapa dirinya, baru lebih gampang untuk atur masyarakat. Disini pemimpinnya saja tidak mengerti soal tugas pelayanan, apalagi stafnya. Sehingga masyarakat bilang, polisi jangan menuntut terlalu banyak dari masyarakat sepanjang belum memahami makna dari pelayan tersebut.
Sebagai orang NTT, anda tentu sangat tahu betul bagaimana membina orang NTT. Pendapat anda? 
Sebagai orang NTT saya tetap memahami budaya NTT dan sebagai akademisi, saya sudah belajar banyak soal antropologi budaya NTT. Jika anda baca riwayat saya mungkin anda bisa bilang pengetahuan anda terhadap NTT lebih kurang dari saya. Pertanyaan ini banyak kali orang omong, tetapi dasar bertanya pun tak ada ukuran. Contoh, kalau anda bilang saya tidak menguasai ini NTT, kamu mau tanya saya apa tentang NTT. Jumlah penduduk NTT lebih banyak perempuan di banding laki-laki, 50-an persen. Yang terdidik cuma empat sampai delapan persen yang S1 keatas. Selain SMA,  ke bawah, 48 persennya tidak berijasah. Kemudian tingkat kemiskinan. Pendapatan asli dan Product Regional Domestic Bruto NTT masuk dalam kategori 4 termiskin dari daerah-daerah miskin. Yang lebih spesifik, orang Sumba itu seperti apa, orang Ende seperti apa.
Apakah itu berarti pola pikir masyarakat harus dirubah? 
Bukan masyarakat punya pola pikir yang dirubah. Tapi, polisi punya pola pikir yang harus dirubah. Karena sebenarnya polisi sebagai pelindung dan pengayom, aparat penegak hukum, alat kamtibmas, dia harus memahami karakteristik budaya dan nilai-nilai yang tertanam di masyarakat. Karena prinsip penegakan hukum pada dasarnya menegakan nilai-nilai norma yang tumbuh di masyarakat, polisinya yang harus menyesuaikan nilai-nilai apa yang ada dimasyarakat. Bukan masyarakatnya yang merubah. Kalau memang biasanya yang seperti yang dikatakan Kapolda beberapa kebiasaan buruk seperti minum-mimuman keras, itu bukan budaya. Itu hanya segelintir orang yang memang dia punya kegiatan produktif yang bisa dibina dan diarahkan oleh polisi dalam kaitan dengan tugas Bina Mitra.  Dia bisa stop minum atau bisa diterangkan apa manfaat dia minum, bahayanya apa, nah ini kan tugas polisi. Mengkomunikasikan berbagai masalah itu kepada masyarakat dan menawarkan solusi yang positip. Dan itu akan menjadi tugas saya sekaligus membina kwalitas pemikiran orang NTT. Jadi bukan masyarakat yang harus berubah, tetapi polisi yang harus berubah. Dari mental penguasa ke mental pelayan. Pertanyaannya, apakah polisi yang berkerja di NTT menyadari dirinya adalah pelayan atau tidak? Tanya teman-teman seumuranmu yang polisi. Tanya kenapa mau jadi polisi. Meraka akan jawab, sonde karena beta mau melayani masyarakat atau karena beta terpanggil untuk mau melayani masyarakat, atau karena paling enak jadi polisi karena berkuasa, pegang pistol, bisa tangkap orang, coba tanya mereka? Kasihan masyarakat kita. Mereka kurang paham dengan hukum sehingga sering minum mabuk, dan lain sebagainya. Sebagai polisi saya harus bisa melayani mereka seperti ini. Adakah orang di NTT yang jadi Polisi berpikir ke arah itu. Nah, inilah cikal bakal polisi yang tidak berpikir seperti itu. Padahal doktirn dan pandangan hidup polisi adalah melindungi dan mengayomi. Coba tanya anak muda yang mau jadi bintara polisi atau akpol dan Sarjana polisi, adakah terbersit dikepalanya karena dia ingin melayani dan mengayomi, makanya dia mau menjadi polisi? Ataukah dia tidak ada kerja, hanya karena koneksi dan relasi sehingga dia jadi polisi, supaya ada kuasa? Kan begitu. Kalau itu merupakan kondisi aktual dalam masyarakat, dalam bahasa komputernya input, proses dan output. Inputnya begitu-begitu saja, prosesnya juga tidak karuan, outputnya jangan tanya? Apakah dia mau mengabdi dan mengayom? Banyak orang omong masyarakat harus begini, begitu dan lain sebagainya, tetapi pertanyaannya apakah polisi setia menampung keluhan masyarakat, atau yang paling gampang saja, gampang tidak masyarakat yang lihat orang mabuk-mabuk lalu mau lapor kemana? Mari kita tanya, kita mau pi lapor dimana bu? Mau masuk kantor polisi saja kaya kerajaan Majapahit. Jadi bangunan ini, tampilan ini menunjukan siapa dia sebenarnya. Apa begitu?
Menurut anda bagaimana caranya agar pilisi bisa lebih dekat dengan masyarakat?
Makanya saya bilang kalau mau dekat dengan masyarakat, buka pagar loe, buka seragam loe, bersosialisasi dengan masyarakat seperti masyarakat punya kehidupan. Jadi pertanyaan ini bukan kita merubah masyarakat, tetapi anda sebagai pelayan masyarakat datang menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kalau saya punya pandangan begitu tentang bina mitra dan polisi kedepan.
Anda kan pernah belajar ke Jepang dan Amerika, bagaimana kerja polisi disana?
Saya waktu ikut pendidikan di Jepang dan Amerika, sebenarnya apa yang kerjakan oleh polisi Jepang dan polisi Amerika dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, tidak beda-beda jauh dengan polisi kita. Persoalannya, manusia sebagai pelakunya juga tidak ingin. Coba lihat polisi disini, pernakah dia jalan ke sebuah kampung dengan tidak pakai pakaian dinas dan tegur sapa dengan para orang tua di kampung-kampung? Dia berpikir, jika ada perlu, baru dia datang. Tetapi kalau masyarakat ada perlu, ada tidak yang polisi urus secara baik. Itu kenyataan yang harus kita rubah, dengan perubahan cara pandang dan berperilaku. (#)

Dra. Sisilia Sona: Perempuan Adalah Aset!


sergapntt.com [KUPANG] – Kaum perempuan diminta untuk selalu aktif berpartisipasi dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk keterlibatan dalam dunia politik. Berikut komentar Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan NTT, Dra. Sisilia Sona.
Harus diakui bahwa, jika bandingkan perempuan jaman dahulu dengan sekarang ini, perbedaannya sangat jauh, dimana sekarang kita lihat dari berbagai aspek kehidupan, perempuan sudah jauh lebih baik, walaupun dalam banyak hal masih terdapat banyak ketertinggalan. Ketertingalan perempuan itu dapat kita lihat, pertama: dari aspek pendidikan, kalau dilihat laki-laki dan perempuan yang buta huruf  ternyata perempuan jauh lebih banyak, mengapa? itu dikarenakan sistem budaya patriarki kitalah yang menjadi salah satu penyebab. Dan, ketika orang tua mengalami kendala ekonomi yang diperhadapkan dengan pilihan antara menyekolahkan anak laki-laki dan anak perempuan, pilihan itu jatuh pada anak laki-laki, dan perempuan harus menjadi korban. Ini adalah satu pemahaman yang salah, sebenarnya, perempuan dan laki-laki merupakan investasi yang dibutuhkan bangsa ini. Itu yang harus dikedepankan pandangan dari orang tua.
Kedua: aspek kesehatan, disana masih ada angka kematian Ibu dan angka kematian bayi yang jumlahnya masih sangat tinggi. Ini karena pemahaman perempuan tentang pentingnya kesehatan masih terbatas, dan ketika sesuatau itu berurusan dengan pengambilan keputusan karena perempuan itu harus di akses ke rumah sakit, atau kemana-mana menyangkut   kehidupan dan kesehatan perempuan itu sendiri, yang ambil keputusan itu bukan perempuan, tetapi suami dan keluarga, ini lagi-lagi membuat perempuan rentan terhadap berbagai persoalan.
Ketiga: aspek ekonomi kita tahu bahwa usaha kecil mikro, kita mengakui bahwa sebenarnya sebagian besar pelaku itu adalah perempuan. Tetapi perempuan masih terbatas ketika mengakses ke perbankan. Mereka belum mempunyai fasilitas yang memungkinkan untuk melakukan pinjaman di perbankan. Bahkan kepercayaan pihak perbankan terhadap usaha mikro ini masih belum kuat. Ini yang perlu kita dorong.
Keempat: aspek politik. Undang-undang sudah mewajibkan tiga puluh persen (30%) perempuan harus terwakili di lembaga-lembaga legislatif, tetapi sampai sekarang hanya sebelas persen (11%), inilah yang terus kita dorong, agar suatu waktu yang tidak terlalu lama, mungkin 2009 dan seterusnya sesuai dengan target-target yang ditetapkan.     
Ada beberapa cara yang selama ini kami lakukan untuk pemberdayaan perempuan,  yang pertama, itu kami lakukan advokasi kepada para pengambil kebijakan dalam hal ini para pemimpin-pemimpin daerah, seperti Gubernur, Bupati, Walikota. Kalau pada tataran sebagai pengambil keputusan itu paham bahwa perempuan itu adalah investasi, bahwa perempuan itu adalah aset, maka secara struktural ke bawah akan berubah ke arah yang lebih baik. Itu yang kita harapkan dari pengambil kebijakan. Yang kedua, di legislatif, kita harapkan agar mereka dapat mendukung setiap kegiatan yang ingin memajukan perempuan. Karena kita selain sosialisasi, advokasi ada juga pelatihan, pendampingan. Dan, yang paling penting sekarang ini adalah bagaimana merubah pola pikir orang yang selalu berpikir bahwa perempuan itu mahkluk yang lemeh, perempuan dinomor duakan, perempuan itu tidak bisa buat apa-apa.
Tindakan kekerasan terhadap perempuan itu ada dua kemungkinan, setelah ada undang –undang tindak kekerasan, penghapusan terhadap tindak kekerasan Nomor : 23 Tahun 2004, kekerasan itu sepertinya meningkat. Timbul pertanyaan, apakah ini karena masayarakat mulai sadar atau karena masayrakat tidak tahu?  Kami menyimpulkan setelah beberapa kali kami melakukan kajian, ternyata perempuan yang selalu dipukul, mendapat tindak kekerasan, dulu dia pasrah saja, dia terima saja, tetapi sekarang dia sudah berani melaporkan kepada piha-pihak yang berwajib. Jadi kekerasan itu tidak perlu terjadi kalau komitmen membanggun keluarga dipahani secara baik oleh laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang berkuasa, jika tanpa perempuan, dia juga tampak tak berdaya. Kemitraan antara laki-laki dan perempuan yang lebih baik, kedepan perlu dibangun. Kita harapkan bagi orang yang melakukan tindak kekerasan, dia akan berhadapan dengan hukum yang telah diterapkan.

Yang membuat perempuan kita belum beranjak juga dari ketertinggalan lebih disebabkan oleh kurangnya kepercayaan diri. Kedepan, perempuan yang memiliki kopentensi saja yang dapat bersaing dengan laki-laki, dan jika kita tidak mempersiapkan diri dengan baik, ya…, laki-laki akan tetap selalu menjadi dominan. (by. sell)

Linda Litualy: Perempuan Jangan Takut Berpolitik!


sergapntt.com [KUPANG] – MINGGU pagi yang cerah. Di sebuah dusun terpencil di pedalaman Kupang Timur, sesosok perempuan bersahaja terlihat berbaur akrab dengan sekumpulan warga.
Cantik, menarik, dan keibuan. Itulah kesan pertama yang diperoleh ketika bertatap dengannya. Cerdas dan pandai adalah kesan berikutnya yang didapat ketika berdiskusi dengannya tentang berbagai hal menyangkut kepentingan masyarakat.
Dia memang bukan perempuan biasa tapi seorang aktifis partai poltik yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pengurus Partai Golkar Kecamata Kupang Timur.
Namanya, Rosalinda Litualy Haninuna, SE. Linda, demikian biasanya dia disapa memulai karir politiknya di partai berlambang beringin ini sejak tahun 1992 sebagai anggota sekaligus sebagai Sekretaris Golkar Kecamatan Kupang Timur. Perjalanan karir politiknya boleh dibilang berjalan mulus karena sejak tahun 2005, ia dipercayakan menjabat sebagai Ketua Pengurus Partai Golkar Kecamatan Kupang Timur sampai saat ini.
Menjadi pelayan bagi masyarakat adalah impian hidupnya di dunia politik karena berangkat dari keprihatinannya terhadap penderitaan masyarakat yang selama ini menurutnya masih terbelenggu dengan kemiskinan dan keterbelakangan terutama masyarakat di Kecamatan Kupang Timur Kabupaten Kupang. 
Linda memang ingin menggerakan hati para kaum hawa di daerahnya untuk jangan takut dan enggan untuk berpolitik. Karena menurut jebolan Fakultas  Ekonomi Universitas Muhamadyah Kupang tahun 2002 ini, berpolitik adalah sebuah aktifitas yang sangat besar manfaatnya untuk menambah pengetahuan dan lebih dari itu untuk mau berbuat yang lebih banyak demi kepentingan rakyat. 
Dukungan penuh dari suami tercinta Ruddy Litualy adalah modal yang paling berharga baginya untuk meniti karir sebagai politisi perempuan. Disamping sebagai istri dari suami tercinta Ruddy Litualy dan anak semata wayangnya Ongki Litualy, dalam kesehariannya  Linda juga menjabat sebagai Wakil Ketua PKK Kecamatan Kupang Timur.
Selain itu sebagai Sekretaris LSM Timor Mandiri yang bergerak di bidang sosial. Linda  juga sebagai Direktris CV. Sinar Surya yang bergerak di bidang kontraktor sejak tahun 1998 sampai dengan saat ini.
Dengan berbagai aktifitas dan kesibukannya di berbagai lembaga itu, wanita bersahaja ini selalu menomorsatukan keluarga diatas segala kegiatan lainnya. Ia mengakui bahwa dirinya pada pemilihan umum legislatif tahun 2004 yang lalu pernah menjadi calon legislatif dari Partai Golkar dengan nomor urut 4 daerah pemilihan Kabupaten Kupang I. Namun sayang, walaupun mengantongi suara terbanyak dari calon-calon lainnya namun karena undang-undang pemilu yang harus diterapkan saat itu maka dirinya ikhlas untuk melimpahkan suaranya ke calon lainnya.
Seperti apakah harapannya kedepan, Linda mengatakan akan menjadi anggota DPRD Kabupaten Kupang untuk mewakili masyarakat di daerahnya terlebih kaum perempuan yang selama ini terbelenggu dengan keterbelakangan. Dan lebih dari itu ia ingin berbuat yang lebih banyak untuk rakyat dan akan menjadi pelayan bagi masyarakat.
Sebuah impian yang tulus dan mulia  yang lahir dari seorang perempuan yang berpikir cerdas ini, perlu diteladani oleh orang lain terutama kaum perempuan yang terkadang disisihkan oleh kecongkakan dan keegoan kaum lelaki. (by. ama)

Ny. Wilhelmina Tabais – Kefan: Saya Siap Pimpin Kabupaten Kupang!


sergapntt.com [KUPANG] – Sosok keibuan dan cermin kesederhanaan melekat erat pada Ny. Wilhelmina Tabais–Kefan. Dan, keinginan hatinya untuk berjuang menjadikan perempuan, kaumnya, tidak selalu dijadikan nomor dua di masyarakat apalagi di dunianya saat ini, dunia politik, boleh diacungi jempol. Tengoklah keberanian perempuan ini yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kupang dan juga Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Kupang.
“Sebagai kader partai, secara pribadi saya siap untuk maju sebagai calon bupati Kupang periode 2008 – 2013 dari Partai Golkar pasca kepemimpinan I.A. Medah,” ujar Ny. Wilhelmina Tabais – Kefan ketika ditemui Sergap NTT di kediamannya, Minggu (1/7/2007) lalu.
Secara tegas Ny Wilhelmina mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu bakal Calon Bupati dari Partai Golkar yang direkomendasikan oleh forum Rapat Pimpinan Daerah Khusus (Rapimdasus) Partai Golkar Kabupaten Kupang yang digelar pada 26 Juni yang lalu.
Secara kasat mata, lanjutnya, Rapimdasus yang digelar itu adalah bukti dukungan dari masyarakat yang disalurkan melalui Pengurus Partai Golkar di masing-masing kecamatan. Ia bahkan mengantongi suara terbanyak, menyisihkan sejumlah tokoh lainnya seperti Aleks Humau, SH, Drs. Korinus Masneno, Drs. Ovy Wilahuki, Esthon Foenay, dan Drs. Ruben Funay       .
“Karena itu agar aspirasi yang dibawa dari masyarakat yang tertuang dalam Rapimdasus bisa ditindaklanjuti di seluruh pelosok Kabupaten Kupang. Jadi apa yang telah dihasilkan dari forum Rapimdasus yang merupakan aspirasi dari masyarakat itu betul-betul ditindaklanjuti,” ujar Ny Wilhelmina.
Menurutnya, lima nama kandidat yang direkomendasikan oleh forum Rapimdasus beberapa waktu yang lalu memiliki peluang yang sama untuk keluar sebagai calon Bupati Kupang dari Partai Golkar. Karena baginya, siapapun yang akan keluar sebagai calon adalah kehendak Tuhan sehingga ia menegaskan agar bagi para kandidat janganlah merasa arogan.
“Saya juga siap menerima semua konsekwensi yang akan terjadi,” katanya sembari menghimbau lima bakal calon yang ditetapkan itu  agar dalam melakukan sosialisasi harus sesuai dengan aturan partai yang berlaku. Karena baginya, siapapun dari kelima bakal calon ini pasti memiliki kekurangan dan kelebihan dan kesemuanya itu harus diakui.
Ny Wilhelmina Tabais – Kefan juga mengingatkan agar jangan hanya karena persaingan dalam berpolitik lalu mengahancurkan hubungan persaudaraan yang selama ini dibangun dikalangan kandidat. Ia memandang para kandidat-kandidat lain sebagai kawan yang harus dirangkul dan dihargai. 
Ketika ditanya sebagai seorang pejabat publik yang kehidupannya selalu diwarnai dengan isue KKN, istri dari Timotius Tabais mengungkapkan punya resep tersendiri.
“Adalah pola hidup sederhana merupakan resep yang paling mujarab untuk terhindar dari KKN. Karena dengan menerapkan pola kesederhanaan dalam setiap derap langkah kehidupan maka pikiran untuk memiliki segala sesuatu yang berlebihan tidak akan terlintas dalam benak. Ketika ada keinginan untuk memiliki sesuatu yang berlebihan maka kita akan terjerumus dalam lingkaran KKN yang pada akhirnya akan merusak karir. Dan lebih dari itu akan menyengsarakan rakyat yang merupakan pemegang kedaulatan tertinggi di Republik ini,” ujar Ny Wilhelmina.
Tentang kesetaraan gender dalam kehidupan berpolitik, sosok keibuan yang  selalu sederhana dalam penampilan ini berpendapat bahwa kaum perempuan adalah figur yang dapat mengguncang dunia.
Ia menyontohkan bahwa hadirnya Sang Penebus Dosa, Yesus Kristus di dunia ini, lahir dari rahim seorang Bunda Maria. Dan juga warta kebangkitan Yesus Kristus dari maut pertama kali dikumandangkan oleh Maria Magdalena yang adalah sosok seorang perempuan desa yang lugu dan sederhana.
“Saya meyakini sungguh bahwa dari keluguan dan kelemahan serta kepolosan kaum perempuan,  Allah selalu memanfaatkan itu untuk mengguncang dunia.”
Terinspirasi dari peristiwa–peristiwa mulia itu maka seorang Wilhelmina Tabais – Kefan merasa yakin dan percaya untuk bangkit dan berjuang bersama rakyat Kabupaten Kupang untuk merubah kehidupan yang lebih sejahtera bagi warga di kabupaten yang kini dipimpin I.A.Medah ini. Ia juga menghimbau kepada seluruh perempuan yang ada di Kabupaten Kupang untuk bangkit dan berjuang serta memulai untuk berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kehidupan banyak orang.
Ny. Wilhelmina Tabais – Kefan yang kesehariannya selalu diwarnai dengan berbagai aktifitas dan kegiatan-kegiatan yang tentunya menyita waktu yang tidak sedikit, ia selalu meluangkan waktunya untuk kembali ke kodratnya sebagai perempuan dan sekaligus sebagai ibu dari Ferdy Tabais, Oki Supryani Tabais, dan Delci Indah Tabais.
Baginya, keluarga adalah segala-galanya. Ia pun mengakui bahwa suami dan anak-anaknya merupakan motivator yang sangat berarti dalam meniti karirnya sebagai politisi. Bahkan anak-anaknya sering menjadi teman curhatnya. Selamat berjuang, bu! (by. ama)