Potret Buruk Kinerja Disnakertrans dan Kontraktor


sergapntt.com [Papu’u] – Bangunan proyek di lokasi Tranmigrasi Lokal (translok) Papu’u, Kabupaten Sumba Timur dalam kondisi memprihatinkan. Kinerja Dinas Tenaga Kerja Dan Transmigrasi (Disnakertras) pimpinan Yohanes Ola Samon, SH bersama rekanan kontraktor perlaksananya dipertanyakan.
Sejumlah penghuni translok Pupuu di Kelurahan Watumbaka, Kabupaten Sumba Timur disinyalir sudah meninggalkan lokasi translok. Pasalnya, mereka tidak puas dengan kondisi bangunan yang sudah mulai rusak.
Pantauan Mingguan beritas Rakyat di lokasi translok, bangunan yang dikerjakan sebanyak 75 unit rumah tinggal. Sebagian besar bangunan rumah dalam kondisi yang memiriskan hati. Betapa tidak? Ada rumah yang sejumlah tiang utamanya sudah dimakan rayap, sengnya bocor, lantainya pecah-pecah, bahkan ada yang temboknya bisa menjadi arena ‘ciluuk-baa’ karena jebol.
Sejumlah penghuni yang berhasil ditemui di tempat itu, mensinyalir jenis kayu yang dipakai sangat tidak layak. Ada yang menduga kontraktor menggunakan kayu mangga dan kapok hutan.
Sejumlah bangunan MCK tidak bisa dipakai lagi. Selain atapnya bocor, juga ditemui sejumlah WC yang dindingnya jebol. Tidak heran jika kondisi ini melahirkan sinisme bernada ironis dari sejumlah rekan kuli disket. “WC ini adalah WC jengkys, bebas hambatan muka belakang. Beratapkan langit dan berdindingkan angin sepoi-sepoi,” tukas seorang rekan wartawan mengomentari kondisi salah satu WC yang tidak lagi beratap.
Bernadus (30), warga RT 12/RW 24 yang ditemui di lokasi translok mengaku rumahnya sudah tidak layak lagi ditempati setelah seminggu dihuni. “Ketika masuk dulu, kami sudah disibukkan dengan membersihkan debu bubuk kayu yang dimakan rayap. Selain itu jika hujan turun air masuk kedalam rumah. Dinding  juga basah kena rembesan air, ” keluhnya, didampingi isteri dan anaknya yang masih balita.
“Kalau hujan kasihan kami, apalagi anak saya. Juga di WC, lubang closetnya tersumbat, ” imbuh isteri Bernardus.
Yacobus Djami dan  Benyamin Maramba Awang pun senada. Ketua RT 12/24, Mutu Pabundung pun mengamini keluhan warga. “Benar itu semua. Ketika kami baru tempati rumah, lantai rumah sudah pecah-pecah. Hal yang sama juga terjadi pada kayu bangunan. Intinya, rumah di translok itu belum ditempati saja sudah hancur. Saya lihat, ini akibat dari pemborong yang tidak teliti dan bekerja kurang tanggungjawab. Petugas Nakertrans juga sudah turun lokasi, namun setelah itu tidak ada langkah lanjutannya,” tukas Mutu.
Yacobus mengeluhkan tidak respeknya Disnakertrans terhadap berbagai keluhan warga. “Kami sudah sampaikan keluhan ini dalam Musrenbangdes namun hingga kini tidak ada tanggapan berarti dari dinas,” timpalnya dengan bahasa Indonesia dicampur bahasa daerah Sabu.
Kadis Nakertrans Sumtim, Yohanes Ola Samon, SH dalam bebebrapa kali kesempatan ditemui nampak mengeluarkan statemen yang berubah-ubah. Terkesan, Ola Samon menutupi-nutupi kondisi riil dengan mencari berbagi argumen pembenaran. Wartawan juga dipersulit untuk mendapatkan data berupa Skep dan RAB terkait pembangunan Translok  yang didanai dari DAU 2006 senilai dari Rp 1,3 miliar itu. Sebelumnya, ia menyanggupi untuk menunjukan data/dokumen proyek kepada wartawan. Namun, setelah realita translok Papuu diungkapkan Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus  Adoe ketika memberikan sambutan dalam Raker Adkasi akhir Mei lalu, Ola Samon justru menolak menunjukkan data/dokumen ketika diminta wartawan. “Sebenarnya apalagi yang mau dilihat. Semuanya sudah dikerjakan sebagaimana mestinya. Lagipula, kerusakan yang ditemui sudah dan akan diperbaiki oleh kontraktor. Juga, setelah saya konsultasikan dengan kawan-kawan, disepakati tidak boleh kami tunjukkan, karena itu adalah dokumen negara, ” tandasnya berkelit dengan nada tinggi.  
Di tempat terpisah, Kabag Pembangunan Setda Sumtim, Gerald Haling Palakehelu, SH, MSi menjelaskan bahwa pihaknya akan segera menyikapi  persoalan translok ini dengan menurunkan tim ke lokasi. Ya, “Kami akan turun cek lokasi. Jika memang bermasalah maka sudah barang tentu menjadi tanggungjawab kontraktor dan dinas terkait,” tukas Gerald.
Hal serupa ditegaskan Asisten Ekonomi dan Pembangunan, Ir. Yuspan Pasande, MSi ketika ditemui di ruang kerjanya pekan lalu. Dia berjanji akan melihat langsung lokasi tersebut dan sesegera mungkin berkoordinasi dengan Nakertrans sebagai pengguna anggaran. “Kami akan tinjau lapangan dan mencek apakah rumah disana dikerjakan sesuai bestek atau tidak. Namun, terima kasih, ini info bagus untuk kami. Keluhan warga memang harus segera disikapi dengan turun langsung ke lapangan. Tentunya, kondisi di lapangan nantinya bisa menjadi catatan tersendiri bagi kami untuk lebih jeli melakukan pengawasan dan bila perlu dalam menentukan kontraktor harus lebih berhati-hati. Kontraktor juga harus bertanggungjawab jika memang keluhan warga itu realistis,” jelasnya.
Siap Perbaiki
Sementara itu, Direktur PT Tunas Berdikari, Ridwan Oentono yang menjadi kontraktor pelaksana pembangunan Translok Papu’u berjanji akan segera memperbaiki berbagai kerusakan yang dikeluhkan warga. “Kami akan perbaiki kerusakan yang ada. Kami tinggal menunggu koordinasi dengan Disnakertrans,” ujarnya, kepada Mingguan Berita Rakyat.
Dia menampik sinyalemen yang menyebutkan bahwa pihaknya bekerja tidak sesuai bestek. “Kami rasa telah bekerja sesuai bestek, sebelumnya kami kerjakan ada pengawas dan konsultan. Kenapa baru sekarang dipersoalkan? Memang kami akui, dari ribuan batang kayu yang digunakan untuk pembangunan rumah di lokasi tersebut, bisa saja tersisip kayu basah. Tapi terus terang kami tidak sengaja melakukannya,” tandas Ridwan yang juga Ketua DPC Partai Demokrat Sumtim ini.
Tidak hanya itu, Ridwan juga berkelit, dengan menyatakan kerusakan yang terjadi bukan karena dikerjakan tidak sesuai bestek namun karena lamanya tenggat waktu rumah ditempati warga. Juga, karena ulah ternak yang dilepas berkeliaran. “Setelah selesai dibangun, tidak langsung ditempati warga. Ada tenggat waktu cukup lama. Saya juga curiga ada yang sengaja bikin rusak dan bisa juga karena diterjang ternak yang dilepas berkeliaran,” kilahnya.
Ridwan malah mensinyalir adanya permainan sejumlah oknum pengusaha lainnya untuk menjegalnya terkait pelaksanaan tender proyek translok di Yubu Wai. “Jujur, saya curiga  keadaan ini justru dimainkan oleh oknum-oknum lain yang ingin jegal saya. Apalagi dalam waktu dekat akan ada tender proyek Translok Yubuwai. BPK dan Banwas dalam laporan pemeriksaan sebelum proyek itu diserahterimakan tidak menemukan kesalahan dalam pelaksanaan proyek ini. Tapi tetap akan kami perbaiki, jika memang ada kerusakan. Jangankan dalam masa pemeliharaan, lewat masa pemeliharaan pun akan tetap kami perbaiki. Ini untungnya, jika proyek dikerjakan kontraktor lokal. Kami tidak bisa lari kemana-mana,” ungkap dia.
Rupanya Ridwan tak sekedar membual. Pantauan Mingguan Berita Rakyat di lokasi translok, nampak sejumlah rumah dan ragam kerusakannnya sudah diperbaiki. Namun demikian, masih ada warga yang merasa diperlakukan sebagai ‘anak tiri’, dikarenakan rumah mereka belum juga terjamah perbaikan.
Meski sempat nampak ragu dan takut untuk memberi keterangan, namun mereka akhirnya mau bercerita. Diduga mereka tak mau memberi penjelasan kepada pers karena telah diintimidasi oknum-oknum tertentu. Warga mengaku salut dengan kontraktor pelaksana yang mau memperbaiki kerusakan bangunan. “Tanggungjawab itu diwujudkan sejak dari awal mengerjakan pekerjaan proyek, bukan hanya setelah muncul masalah baru katakan bersedia bertanggungjawab,” tandas senada sejumlah pihak. (by. saw)

Suami Istri Yang Dipaksa Bercerai


sergapntt.com [KUPANG] – BAK hidup di jaman Siti Nurbaya. Sungguh dramatis kisah cinta Muktar Male dan Sumiyati Binti Burhan. Kendati telah menikah dan disahkan oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, namun ternyata akad nikah mereka itu tidak diakui oleh orang tua Sumiyati dan Pengadilan Tinggi (PT) Agama Kupang. Astaga!
Ruang sidang Pengadilan Tinggi Agama Kupang yang terletak di bilangan Kota Baru, Kota Kupang, pada Kamis (31/5) lalu tampak ramai dikerubuti warga yang ingin menyaksikan jalannya persidangan cerai antara Muktar dan Sumiyati. Namun persidangan yang dipimpin Drs. Khamidmudin, MH, Dra. Wija Astuti dan Drs. Syamsul Hadi itu terkesan aneh dan dipertanyakan Muktar dan Sumiyati. Sebab Muktar dan Sumiyati mengaku mereka tidak pernah berniat atau ingin bercerai. Apalagi sampai gugat menggugat di pengadilan.
“Saya dan Sumiyati sudah menikah. Kami bahagia dengan pernikahan kami ini. Kami sudah tinggal serumah. Tapi yang ribut justru bapaknya Sumiyati. Beliaulah yang gugat kami agar kami cerai. Alasannya hanya karena dia ingin Sumiyati jadi PNS dulu baru boleh menikah,” papar Muktar.
Ironisnya, Majelis Hakim justru meluluskan permintaan Burhan Harun, ayah kandung Sumiyati. Palu hakim memutuskan, pernikahan Muktar dan Sumiati yang telah disahkan KUA Amanuban Selatan tanggal 13 Maret 2007 lalu dibatalkan demi hukum. Toh begitu, Majelis Hakim memberi waktu 14 hari agar Burhan menimbang ulang gugatan yang ia ajukan. Majelis Hakim berharap Burhan mau berubah dan bersedia menjadi Wali Nasab (orang tua wali nikah), sekalian merelakan Muktar dan  Sumiyati menikah ulang. Sayang, permintaan Majelis Hakim ini tidak digubris oleh Burhan. Burhan tetap pada pendiriannya bahwa Muktar dan Sumiyati harus dipisahkan. 
Putusan Majelis Hakim tentu saja membuat Muktar radang. Sebab menurut dia, dalam ajaran Islam ada Hadits Nabi yang menyebutkan tiga perkara yang tidak bisa ditunda, yakni pertama; orang yang meninggal harus segera dikubur, kedua; orang yang punya utang harus segera dibayar, dan ketiga; orang yang sudah punya kemauan nikah segera dinikahkan.
 “Itu artinya, secara Syariah Islam sudah sah, hanya secara hukum negara saja yang dibatalkan. Syariah Islam itu kan kata Tuhan, apa kita manusia bisa melebihi Tuhan. Mestinya, selain keputusan pembatalan nikah, harus ada item putusan lain yakni segera menunjuk KUA Kecamatan untuk ulang menikahkan kami. Tidak perlu tunggu Wali Adhol,” tandasnya.  
Menurut Muktar, sebelum menikah ia dan Sumiyati sempat berpacaran selama enam tahun. Itu dimulai sekitar awal tahun 2001.
“Selama pacaran saya biasa keluar masuk di rumah orang tua istri saya. Bahkan waktu saya sampaikan niat saya dan Sumiyati untuk menikah, orang tua Sumiyati tidak keberatan. Hanya waktu itu mereka minta agar saya bersabar hingga Sumiyati selesai kuliah. Ya…saya setuju. Anehnya setelah Sumiyati selesai kuliah dan saya menyampaikan lagi niat untuk menikahi Sumiyati, orang tuanya mulai onar. Alasan mereka bahwa Sumiyati baru selesai kuliahlah, belum punya pekerjaanlah, belum punya SK CPNS-lah. Sangat tidak realistis. Kenapa? Lain halnya kalau Sumiyati sudah pernah ikut test CPNS dan dinyatakan lulus tinggal tunggu SK, itu berangkali saya bisa terima, tapi ini kan test saja belum. Sementara saya dan Sumiyati sudah sepakat untuk segera menikah. Tapi, walaupun begitu waktu itu saya dan Sumiyati tetap berusaha sabar. Apalagi waktu itu saya juga belum punya pekerjaan tetap,” tandasnya.
Ditengah kepanikan dan keinginan untuk naik pelamin pernikahan, Muktar dan Sumiyati mulai berusaha kesana kemari untuk mendapat pekerjaan. Muktar berpikir, mungkin dengan cara ini orang tua Sumiyati mau menerimanya sebagai menantu. Hasilnya, Muktar diterima sebagai guru honorer di SMA Muhamadyah Kupang. 
“Setelah dapat kerja, saya pendekatan lagi. Dengan begini barangkali bapanya Sumiyati bisa berubah pikiran dan mau menikahkan kami. Ternyata apa yang saya perkirakan itu benar. Saya diterima. Bahkan lamaran keluarga saya diterima secara adat oleh pak Hasan Kikong mewakili keluarga Sumiyati pada tanggal 27 Mei 2006. Tapi karena terjadi salah paham soal jumlah orang saat omong adat, urusan selanjutnya jadi berantakan. Waktu itu bapaknya Sumiyati minta utusan keluarga saya untuk bicarakan adat cukup tiga orang. Tapi yang datang waktu itu delapan orang. Itu yang membuat bapaknya Sumiyati tersinggung. Ketersinggungan itu juga yang dibawa terus oleh Bapaknya Sumiyati hingga sekarang,” paparnya.
****
SIKAP besar kepala yang ditunjukan Burhan Rahman ternyata membuat Sumiyati kecewa berat. Srikandi jebolan FAPERTA Undana Kupang itu mengaku tak tahu motivasi apa hingga orang tuanya terus berusaha menghalang-halangi niat dan tekadnya untuk sehidup semati dengan Muktar Male, pria idamannya. Berikut penuturan Sumiyati;
Bapak masih berprasangka bahwa semua yang terjadi ini adalah rekayasa bapak pung kakak, Hasan Kikong. Padahal ini terjadi murni karena kita tidak mau terjatuh dalam lembah yang seperti bapak bilang zinah di pengadilan itu.
Terus terang saya sangat kecewa dengan Bapak.  Karena sikap bapak itu, saya sempat lari ke Larantuka dan tinggal di rumah teman. Beberapa hari disana, lewat HP (hand phone), saya disuruh pulang, katanya mereka mau urus saya nikah. Tapi ternyata tidak juga.Saya benar-benar kecewa. Karena itulah makanya pada hari Sabtu, 24 Februari 2007, saya memutuskan minggat dan pergi ke rumah keluarganya kak Muktar.
Sudah berulang kali saya dan kak Muktar melakukan pendekatan dengan orang tua saya, tapi selalu tidak berhasil. Ya…karena bapak saya tetap pada pendiriannya. Saya capek. Oleh karena itu saya dan kak Muktar akhirnya nekad ambil jalan pintas mendaftar diri dan nikah di KUA Amanuban Selatan.
Ketika bapak tahu bahwa saya dan kak Muktar sudah menikah, bukannya senang, malah bapak lapor polisi untuk tangkap kami. Waktu itu kami hampir diciduk polisi. Syukurnya kami bawa bukti buku nikah, sehingga polisi tidak jadi tangkap kami. Tapi waktu itu saya dan kak Muktar sempat tidur di sel polisi. Waktu itu juga bapak dan mama rayu saya untuk pulang rumah, tetapi saya tetap tidak mau. Saya bilang ke mereka, saya mau pulang asalkan pulang sama-sama dengan kak Muktar.
Kepada Majelis Hakim yang menyidangkan perkara kami ini saya perlu nyatakan sikap, pertama;saya tidak bisa menghadiri persidangan karena akan mengalami beban psikologi yang cukup berat bila Majelis Hakim memutuskan membatalkan pernikahan kami. Toh demikian, saya tetap menghormati dan menaati keputusan tersebut. Kedua; bila pernikahannya dibatalkan karena kelemahan prosedur hukum, maka demi hukum pula saya memohon Majelis Hakim agar pernikahannya diperbaharui berdasarkan aturan yang berlaku. Ketiga; memohon kepada ayah saya selaku Wali Nasab yang sah untuk menikahkan saya kembali dengan suami saya di hadapan Majelis Hakim setelah persidangan.  Keempat; apabila ayah kandung saya menolak, maka saya mengajukan permohonan Wali Hakim kepada Pengadilan Agama Kupang selama rentang waktu empat belas hari (berlakunya keputusan berkekuatan hukum tetap) untuk menikahkan kembali saya dengan suami saya berdasarkan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Kelima; selama saya mengajukan permohonan Wali Hakim untuk menikah, saya mohon ayah dan siapapun yang pernah mengganggu saya, untuk tidak lagi menghalangi saya menuju nikah pembaharuan, karena sesuai aturan perempuan dewasa (21 tahun) mempunyai hak asasi untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk menikah. Usia saya saat ini sudah 25 tahun. Keenam; selama menunggu proses persidangan penetapan Wali Hakim untuk pernikahan, saya memohon perlindungan pada Polresta Kupang dari segala gangguan yang dapat membatalkan pernikahan saya dengan kak Muktar.
Saya dan kak Muktar pada prinsipnya mau berdamai dengan orang tua, tapi orang tua saya yang tidak mau. Yah mau bilang apa lagi. (by. rdy)

Ketua Asrama Putri SMPK Oelolok Dianiaya Preman Kampung


sergapntt.com [Kefa] – Malang benar nasib Ketua Asrama Putri Sekolah Menengah Pertama Katholik (SMPK) Oelolok, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, Ny. Theresia Funan (30). Gara-gara melarang anak asuhnya agar jangan dulu berpacaran lantaran belum cukup umur, ia justru dianiaya hingga babak belur oleh preman kampung yang ingin menjalin kasih dengan siswi penghuni asrama yang ia pimpin.  
Ny. Theresia benar-benar tak menyangka jika larangannya itu telah membuat Iman Tusi (20 tahun) dan Donatus Djuki (27 tahun) tersinggung. Ia baru sadar ketika Senin, 29 Januari 2007 lalu, secara membabi buta kedua pemuda yang dikenal sebagai geng kampung Oelolok itu menyerang dan menganiaya dirinya hingga babak belur dan nyaris ditelanjangi. Bukan itu saja, Tusi dan Djuki juga membakar sejumlah pakaian milik beberapa siswi SMPK Oelolok yang tinggal di asrama itu.
Beruntung warga sekitar sigap dan berhasil mengehentikan kebringasan Tusi dan Djuki. Keduanya langsung digiring ke Polsek Insana. Hanya saja yang ditahan hanyalah Djuki. Sebab Djuki dianggap sebagai pelaku utama. Dan, demi peyelidikan lebih lanjut, Djuki pun dikirim dan di tahan di sel Polres TTU. Ironisnya, baru beberapa hari di tahan dan dibawah penjagaan aparat Polres TTU, Djuki justru berhasil kabur alias melarikan diri dari tahanan.
“Katanya dia kabur sejak tanggal 5 Pebruari 2007. Saya juga tahu kaburnya anak saya itu dari polisi,” papar ayah kandung Djuki, Benyamin Yosef di kediamannya, Jumat 1 Juni 2007.
Benyamin mengisahkan, anaknya resmi ditahan sejak 1 Pebruari 2007, namun empat hari kemudian pihak Polres TTU mengaku kalau anaknya telah kabur dari tahanan. Tentu saja perasaan Benyamin menjadi gundah.
“Syukur kalau anaknya benar melarikan diri, tapi bagaimana jika anak saya ternyata mati dibunuh? Sebab sampai sekarang saya belum bertemu bahkan mendengar kabar dimana keberadaan anak saya. Saya hanya sempat bertemu anak saya, ketika dia masih ditahan di di Polsek Insana. Tapi tanggal 2 Pebruari 2007 ketika saya kembali menjenguk anak saya, tiba-tiba polisi beritahu anak bahwa anak saya telah dipindahkan ke tahanan Polres TTU. Saya sempat bertanya kepada polisi itu, kenapa anak saya dipindahkan? Apakah ada surat pemberitahuan kepada keluarga tentang pemindahan itu? Tapi kata polisi itu bahwa tidak ada surat pemberitahuan ataupun surat penahanan. Sejak itulah saya tidak pernah bertemu lagi dengan anak saya. Selang satu minggu kemudian ada kabar dari Polsek Insana bahwa anak saya sudah kabur dari tahanan Polres TTU,” papar Benyamin.
Ia meminta Polres TTU harus bertanggung jawab soal hilangnya Djuki. “Anak saya itu kabur dari tahanan atau sudah mati dibunuh? Kalau betul dia kabur, polisi harus tangkap dia kembali, bukan dibiarkan begitu saja. Entah mau selesaikan secara damai atau proses hukum itu urusan nanti. Yang penting sekarang tunjukan dulu wujud anak saya. Kami sekeluarga terima apapun bentuk sangsi hukum yang diberikan kepada anak saya, baik denda adat maupun hukuman penjara. Tapi yang buat saya bingung itu, kerja polisi itu apa saja sehingga tahanan koq bisa kabur dengan leluasa,” tohoknya.
Kaburnya Donatus Djuki dibenarkan juga oleh Kapolres TTU, AKBP. Ricy S. Paays dan Wakapolres TTU Kompol. Agus Wibowo. Kedua pejabat polisi di TTU itu mengaku hingga sekarang Djuki belum tertangkap. “Kami sudah masukkan Donatus Djuki sebagai DPO-nya (Daftar Pencarian Orang) Polres TTU. Kita sudah sebarkan nama dan fotonya ke seluruh Polres dan Polsek-Polsek sedaratan Timor,” tegas Kapolres.
Sementara Wakapolres Agus Wibowo menjelaskan, kaburnya Donatus Djuki akibat kelalaian anggota Polres TTU dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai polisi. “Kita sudah berikan sangsi kepada anggota yang terbukti lalai melaksanakan tugas. Segaja atau tidak segaja dalam menjalankan tugas, tetap kita hukum,” ucapnya.
Menurut Wibowo, Donatus Djuki adalah tahanan titipan dari Polsek Insana. Sebab, berkas penyidikan dan pemeriksaan tersangka Djuki masih ditangani Polsek Insana. Sayangnya, Kapolsek Insana, Iptu. Herman Lona yang hendak ditemui Mingguan Berita Rakyat tidak berada ditempat. (by. aplasi)       

Ny. Deby Bire Doko (26), Dipukul Sang Pacar Karena Menolak Gugurkan Kandungan


sergapntt.com [KUPANG] – MALANG benar nasib Ny. Deby Bire Doko. Guru honor pada SDN Oerantium Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang itu berulang kali menerima pukulan dari sang pacar lantaran menolak menggugurkan kandungan. Sang kekasih yang ringan tangan itu adalah Vincent Kofalamau, Anggota Polsek Oebobo, Polresta Kupang. benarkah? Berikut kisah Ny. Deby ketika meminta perlindungan ke PIAR NTT pada 19 Oktober 2006 lalu.
  
Lebam disekitar wajah Ny. Deby memang sudah pulih. Namun sakit hatinya melebihi luka memar yang pernah ia rasakan. Tindak kekerasan yang dialaminya, membuat Deby trauma dengan kehidupan berkeluarga. Kekerasan fisik itu sudah terjadi. Kini Deby hanya bisa meratapi derita yang pernah ia alami.
Pengalaman menyakitkan itu bermula ketika September 2003, saat masih kuliah di UKAW (Universitas Kristen Artha Wacana) Kupang, Deby berkenalan dan resmi berpacaran dengan Vincent. Usai menamatkan kuliah, pada tahun 2004 Deby pulang ke kampung halamannya di Niukbaun dan menjadi guru honor pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) Oerantium. Toh begitu, hubungan cinta Deby dan Vincent tetap berjalan sebagaimana biasanya. Pertemuan sekedar melepas kangen sering dilakukan berdua di Kupang.
Setahun pacaran, Vincent lalu berinisiatif ingin menemui orang tua Deby guna menyampaikan niatnya mengawini Deby. Tanpa kesulitan berarti, niat Vincent diterima baik oleh orang tua Deby. Sebagai laki-laki Vincent tentu tak mau menyia-nyiakan “angin segar” yang diberikan orang tua Deby. Setiap minggu Vincent mulai aktif mengunjungi Deby. Tepat di bulan Oktober 2005, atas dasar suka-sama suka, Vincent dan Deby mulai melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Hubungan badan tersebut terus dilakukan hingga April 2006.
“Akhir April 2006 saya terlambat haid dan mulai muntah-muntah. Waktu itu saya menginformasikan ke Vincent. Tapi Vincent pikir saya terkena penyakit maag. Lalu pada Mei 2006, untuk kedua kalinya, saya tidak mendapat haid juga. Hal ini saya sampaikan lagi ke Vincent, tapi seperti semula, Vincent tetap menganggap saya terkena penyakit maag. Karena tidak puas, pertengahan Juni 2006, saya ke Kupang bertemu Vincent. Untuk mengetes apakah saya hamil atau maag, saya minta Vincent beli alat tes kehamilan. Setelah dites ternyata saya positif hamil 3 bulan,” papar Deby.
Sayangnya, setelah mengetahui Deby hamil, Vincent jurstu marah-marah dan memaksa Deby untuk menggugurkan kandungan. Tentu saja paksaan Vincent itu membuat Deby kaget dan tak habis pikir. Koq tega-teganya Vincent berniat membunuh janin yang adalah darah dagingnya sendiri.
“Karena tak mau, saya akhirnya ditampar. Bahkan rambut saya dijambak. Saya benar-benar dipaksa untuk gugurkan kandungan,” ujarnya.
Karena terus dipaksa dan diancam, Deby akhirnya menuruti juga kemauan Vincent. Deby dibawa ke rumah Daniel Demong, spesialis dukun kampung yang tinggal di seputaran Kelurahan Liliba, Kota Kupang. Disana Deby dipaksa meminum ramuan berwarna seperti teh sebanyak lima gelas. Setelah itu Deby diberi lagi ramuan yang sama sebanyak dua botol aqua untuk dibawa pulang. Sang dukun dan Vincent meminta Deby untuk terus meminum sesampai di rumah.
“Terus saya diantar pulang oleh Vincent ke Niukbaun. Malam itu dia tidur di rumah saya dan baru pulang pada pagi harinya. Saat dia pulang, saya langsung buang dua botol air yang dukun berikan itu,” tandasnya.
Untuk mengetahui hasil usahanya, seminggu kemudian Vincent kembali menemui Deby di Niukbaun. Tentu saja Vincent kecewa berat begitu mengetahui ramuan yang diberikan oleh Daniel Demong ternyata tidak manjur. Yang terjadi justru kondisi perut Deby terus membesar. Toh begitu, Vincent belum mau menyerah. Dengan berbagai dalih, Vincent kembali mengajak Deby ke Kupang. Sesampai di Kupang Deby diajak ke rumah Ny. Dortia Kiuk di seputaran Kecamatan Oebobo, Kota Kupang. Kepada dukun yang satu ini Vincent meminta agar kandungan Deby digugurkan.
“Di dukun ini, perut saya dipegang-pegang. Tapi karena merasa janin yang ada diperut saya terus bergerak, dukun itu akhirnya tidak berani menggugurkan kandungan saya. Setelah itu saya langsung diantar pulang ke Niukbaun,” ucapnya..
Pada 7 juli 2006, kata Deby, Vincent pernah datang ke Niukbaun dan sempat bermalam. Saat itu orang tuanya sempat berniat menanyakan tangungjawab Vincent. Tapi niat itu tak terlaksana lantaran kedua orang tuanya tengah sibuk menghadiri sebuah pesta yang digelar salah seorang tetangga.
“Itu terakhir kali saya bertemu dia. Karena sejak saat itu dia tidak pernah muncul lagi. Orang tua saya berusaha mencari dia ke kostnya dan ke tempat kerjanya. Tapi mereka tidak pernah bertemu dengan dia. Agustus 2006, keluarga saya  kembali melakukan pendekatan melalui polisi yang juga orang Alor di Polresta Kupang. Tujuan  kami waktu itu untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik. Tapi ketika dipanggil dan dimintai pertanggungjawabannya, Vincent tidak mau bertanggung jawab. Oleh karena itu, maka tanggal 28 Agustus 2006 saya dan keluarga akhirnya melaporkan hal ini ke Provost Polresta Kupang. Tanggal 4 September 2006 saya dipanggil dan dimintai keterangan tambahan. Saat itu oleh Kanit P3D, saya disuruh untuk bersabar menunggu proses persidangan. Selain menghamili saya, dia juga menggelapkan HP (hand phone) milik saya. Tanggal 17 Oktober 2006 lalu saya dan keluarga sudah melaporkan usaha menggugurkan kandungan ini ke RPK Polda NTT,” jelasnya. (by. cis)

Mereka Yang Mendaftarkan Diri


sergapntt.com [ATAMBUA] — Kepala Sekolah SMA Kristen Atambua, Abraham Dakamuly, SM. pertengahan tahun 2007 lalu berhasil mengirimkan sebanyak 106 anak ke Jakarta dengan tujuan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, ada kabar menyebutkan sejumlah anak tersebut diterlantarkan disana. “Jadi kalau ada yang ditelantarkan, bagi saya ……Tuhan saja yang tahu,” kata Abraham Dakamuly, saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.
Bagaimana sampai anda mengumpulkan 106 anak untuk dikirim ke Jakarta?
Begini, disekolah kita banyak Universitas yang datang mensosialisasikan program mereka untuk anak-anak lulusan di SMA Kristen, kemarin kita punya lulusan cukup besar 423 yang lulus oleh karena itu mereka datang mensosialisasikan program mereka termasuk Universitas SETIA (Sekolah Tinggi Theologia) Jakarta. Awalnya dia mengirimkan brosur kepada sekolah-sekolah termasuk sekolah kami. Dan karena itu dari brosur yang anak-anak terima kemudian anak-anak menyampaikan pada teman-teman yang lain juga, lalu mereka berminat pada sekolah tersebut. Jadi mereka yang mendaftarkan diri waktu itu sampai 200 anak-anak yang ingin ikut kuliah di Universitas SETIA Jakarta. Sebab dari brosur itu yang ditawarkan oleh SETIA Jakarta adalah Pendidikan Guru SMP (PGSMP) pada jurusan FKIP untuk bidang studi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi Akuntansi, kemudian untuk PMP ditambah lagi dengan IPS dan IPA. Karena tawaran program itu sehingga anak-anak kita berminat untuk kuliah disana. Minat anak-anak kita itu dapat dilihat dari jumlah saat pendaftaran yang mencapai 200 lebih anak calon mahasiswa SETIA. Dan karena jumlahnya besar saya minta untuk mereka Universitas SETIA Jakarta datang untuk memberikan sosialisasi tentang kondisi Universitas itu disekolah kita, sosialisasinya bukan hanya satu kali tapi dua kali sosialisasi dan yang terakhir selama dua hari langsung dengan orang tua calon mahasiswa.
Bisa diceritakan bagaimana sampai anda berkenalan dengan lembaga pendidikan di Jakarta itu ?
Oh ….Iya. Rektornya sudah pernah datang disekolah ini (SMA Kristen) dua tahun lalu. Mereka mensosialisasikan hal yang sama, tapi ketika itu Program PGTK dan PGSD pada waktu yang sama, kita di Atambua juga ada PGSD sehingga tidak ada simpatisan kita yang berminat untuk kuliah ke sana. Sementara untuk tahun ini Universitas SETIA Jakarta datang mensosialisasikan PGSMP karena program itu sehingga anak-anak kita begitu banyak yang membaca itu dan berminat ingin kuliah kesana. Karena sebelumnya mereka merasa bahwa kalau kuliah ke Jakarta itu susah, biayanya mahal, tempat penginapanna bagaimana kemudian dengan makannya tentu sangat mahal. Sedangkan tawaran Universitas SETIA Jakarta dalam brosur dan sosialisasi itu biaya pendidikannya murah ditambah penginapannya mereka siap dan makan juga mereka siap……begitu.
Sehingga anak-anak kita begitu banyak yang berminat. Jadi sebenarnya kami hanya sebatas mempersiapkan sarana untuk setiap universitas yang mau mensosialisasikan program pendidikannya bagi anak-anak kita. Saya kira ini sama dengan sekolah-sekolah lain yang juga memberi tempat untuk setiap lembaga pendidikan memberikan sosialisasi, mungkin tidak hanya SMA Kristen saja. Karena kalau anak-anak kita tertarik dengan program  yang ditawarkan dari Universitras mana saja, mereka mungkin ada kemudahan dan mereka berhasil itu kan untuk keinginan diri mereka itu yang merupakan tujuan kita bersama. Karena anak-anak bukan tidak saja hanya berkualitas tapi diharapkan harus memiliki keinginan untuk mempersiapkan generasi ke depan yang memiliki kemampuan untuk menguasai IPTEK.
Apa saja komitmen diantara anda dan lembaga pendidikan itu sehingga anda dapat mengirim 106 anak ke Jakarta ?
Saya pikir ….. bukan kami berani mengirim. Jadi sebenarnya juga kami bukan punya komitmen untuk mengirim mereka. Ini kan sebenarnya dari pihak mereka (SETIA Jakarta) yang datang mensosialisasikan program ini yang kemudian diminati oleh anak-anak ini. Makanya mereka ikut dengan maksud mau kesana (Jakarta) itu begitu. Dan saya sendiri juga pergi tapi bukan antar mereka. Saya antar anak saya karena dia juga ikut makanya saya ikut untuk mau lihat langsung disana, betulkah seperti apa yang mereka sosialisasikan disini atau tidak. Sehingga anak saya bisa ikut studi disana bisa nyaman dan aman. Jadi setelah mereka sosialisasikan mengenai Kampus SETIA Jakarta, saya punya anak bilang bapak mesti ikut, jadi saya pergi bukan karena mengirim tapi karena anak saya juga pergi…..iya saya pasti ikut dong.
Mengapa anak-anak itu terlantar?
Pak, saya pikir itu….. mungkin yang bisa memberikan penjelasan pihak Universitas SETIA Jakarta dan penjelasan dari Universitas itu sudah dimuat di surat kabar bahwa sebenarnya tidak ada nak-anak diterlantarkan, yang ada itu mungkin anak-anak menterlantarkan diri. Maksudnya kalau dia paksa untuk keluar dari kampus SETIA Jakarta memang bukan tanggung jawab Universitas SETIA Jakarta lagi, jadi kalau bilang Universitas SETIA Jakarta terlantarkan anak-anak itu tidak ada dan itu kewenangan dari mereka untuk memberikan klarifikasi seperti apa yang sudah dimuat dikoran itu kan begitu …….. Kalau saya, saya beberapa hari ada disana dan bilang anak-anak itu diterlantarkan itu sama sekali tidak, malahan saya juga dialog langsung dengan rektornya sebelum saya pulang ke Atambua. Maksudnya mau tahu kepastian tentang pendidikan disana. Jadi kalau ada yang diterlantarkan itu bagi saya, iya…… Tuhan saja yang tahu.
Sebab beberapa hari ada disana menurut pengamatan saya, mereka sangat tidak mungkin untuk mentelantarkan. Ya …. saya tidak bisa berkomentar karena pengamatan saya ketika ada disana tidak seperti itu bahwa mereka janji punya tempat penginapan ya….mereka punya tempat penginapan bagus. Artinya asrama itu ada 5 unit rumah yang berlantai 3 dan 4 lantai semuanya dilengkapi dengan tempat tidur, begitu. Jadi 5 asrama itu tiga untuk putra dan dua untuk putri. Sehingga kalau bilang untuk ditelantarkan tidak mungkin. Jadi sebenarnya tidak perlu saya mengomentari itu toh. Kemudian sampai dengan yang terakhir saya mau pulang, saya masih tawarkan pada mereka kira-kira dari seluruh yang disosialisasikan kalo masih ada yang merasa tidak bisa, ya…. pulang dengan saya sehingga memang hari itu ada 42 anak yang minta pulang dengan saya. Dan 42 anak itu seluruh pengeluaran uang masing-masing mereka dikembalikan yakni uang kapal 495.000, biaya pendaftaran 200.000 untuk masuk Universitas Setia Jakarta, Biaya Ongkos bus Atambua Kupang 40.000, Uang Jaket Almamater dengan pakaian satu pasang 400.000 itu semua dikembalikan.
Sehingga kami pulang bisa menggunakan pesawat. Dari 42 orang yang membuat pernyataan pengunduran diri itu ada orang tua yang datang menawarkan kalo izinkan mereka yang sudah datang di Jakarta bisa diberi kesempatan untuk tetap tinggal di Jakarta. Sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikan di sekolah yang lain. Sehingga kesepakatan juga kami langsung buat dengan anak-anak yang mau melanjutkan kuliah disana bersama para orang tua dari Ikatan Keluarga Belu (IKB) yang ada di Jakarta (nama ketuanya saya lupa) bahwa mereka bertanggungjawab terhadap anak-anak yang mereka jemput di SETIA Jakarta. Sehingga saat itu saya hanya pulang dengan 9 orang anak karena ada permintaan beberapa orang tua dan wali yang disana.
Apa yang anda lakukan ketika mengetahui anak-anak itu ditelantarkan?
Ya…. jadi saya langsung bicarakan dengan pihak SETIA Jakarta bahwa saya dengar anak-anak ditelantarkan tetapi jawaban dari sana bahwa selama berada di Kampus SETIA tidak ada yang ditelantarkan seperti yang mereka sudah memberi klarifikasi berita yang ada di koran itu, dan saya sendiri juga ada disini sehingga saya tidak tahu secara pasti dan saya juga dipanggil Pak Wakil Bupati Belu. Alasan kenapa sampai tidak melaporkan pada pemerintah, akhirnya saya menyampaikan bahwa hal itu tidak bermaksud mengirim, tapi semua mereka menyatakan pilihan untuk kuliah ke Jakarta. Jadi saya berpikir semua orang kan boleh memilih untuk kuliah dimana saja kan tidak melapor ke pemerintah. Jadi pikiran kita begitu saja. Mungkin karena ini soal sehingga harus dilaporkan ke pemerintah, saya tidak tahu. Tapi itu sepengetahuan saya mereka yang mau studi dimana saja kan umumnya tidak melaporkan pada pemerintah. Jadi saat saya di Pak Wakil Bupati saya menyampaikan juga bahwa disini saya hanya memfasilitasi sehingga Pak Wakil bilang memang maksud itu baik tetapi bahwa itu pertimbangan kemanusiaan saya diminta untuk membantu sedikit dana untuk mereka bisa pulang.
Jadi, saya sudah kirim dana pada orang yang urus mereka disana Ikatan Keluarga Belu (IKB). Dana yang saya kirim itupun hanya karena pertimbangan kemanusiaan saja. Informasi yang saya peroleh dari Pak Wakil Bupati bahwa 10 orang yang belum pulang sehingga saya kirim 5 juta. Ada bukti pengiriman lengkap.
Betulkah anak-anak itu kabarnya dibujuk untuk pindah agama?
Jadi begini, pendidikan ini kan semua orang boleh masuk, dari Katolik, Protestan dan Islam juga masuk. Bahwa selama dia mengikuti pendidikan dia ikut pelajaran agama Protestan betul, tapi setelah dia tamat yang Katolik tetap Katolik dan yang Islam tetap Islam. Jadi isu seperti itu suatu hal yang luar biasa, oleh karena itu saya pikir juga SETIA Jakarta sudah lupa diri sebenarnya. Kalau mungkin Pak Bupati, Pak Wakil dan Dewan bisa melihat langsung kondisi yang dialami oleh anak-anak di SETIA Jakarta. Karena kalau macam begini susah untuk mengomentari, sebab saya bisa menyatakan bahwa tidak ada disana tapi kenyataannya lain lagi. Tapi saya yakin karena Rektor SETIA Jakarta saat itu saya menyatakan bahwa saya bawa ini ada anak-anak Katolik, dia bilang oh… tidak apa-apa, disini ini dia hanya belajar sebagai guru dan dia pulang. Dan kalau dia buat pernyataan untuk pindah misalnya masuk Protestan tetap kita tolak. Kita punya tujuan bukan itu. Tidak benar kalau kabar seperti itu, tapi sebaiknya lihat langsung. Pak Rektor juga meyakinkan saya begitu karena saya bawa anak-anak yang kurang mampu dan saya tanya langsung pada anak-anak apakah yang mereka sosialisasikan itu sesuai atau tidak ternyata sesuai dengan yang mereka sosialisasikan itu, ada penginapan, kemudian mereka diberikan kemudahan soal biaya. Malahan SETIA Jakarta mempunyai prinsip bahwa tidak akan mengeluarkan mahasiswa dari SETIA Jakarta hanya karena dia tidak bayar uang sekolah. (by. rudy tokan)