Oknum Anggota Badit Intelkam Polda NTT Hamili Nona Makasar, Tapi Menikah Dengan Gadis Asal Jawa


sergapntt.com [KUPANG] – TEGA benar Bripda Sukatmo, oknum Anggota Badit Intelkam Polda NTT. Awalnya merajut kasih bersama nona Makasar, sebut saja Novi hingga berbuah janin, tapi belakangan justru menikah dengan gadis lain asal pulau Jawa, sebut saja Nurhayati. Karena kesal, Novi akhirnya mengadukan perbuatan Sukatmo ke Provost Polda NTT.

Awal Februari 2006, secara tak sengaja Novi bertemu dengan Sukatmo di Bar Flamboyan, International Hotel Sasando Kupang. Pertemuan di tempat kerja Novi itu ternyata berlanjut di hari-hari berikutnya. Setiap ada kesempatan Sukatmo pasti menemui Novi. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta pun mulai tumbuh. Merasa cocok, Sukatmo pun nekad melamar Novi.
 “Karena dia terlihat baik, saya terima lamarannya. Setelah pacaran agak lama kami mulai melakukan hubungan layaknya suami istri hingga saya hamil. Sekarang usia kandungan saya sudah berumur tujuh bulan,” ujar Novi saat ditemui Mingguan Berita RAKYAT di kediamannya di bilangan Kota Baru, Kota Kupang belum lama ini.   
Ironisnya, kehamilan Novi ternyata tidak diinginkan Sukatmo. Ujungnya, Sukatmo memaksa Novi untuk segera menggugurkan kandungan.
“Dia desak saya berulang-ulang kali untuk gugurkan kandungan. Tapi saya tidak mau. Waktu itu saya bilang ke dia bahwa anak yang ada di dalam kandungan ini tidak salah, kenapa harus digugurkan,” tandasnya.
Ketegaran Novi ternyata berbuntut panjang. Hampir setiap hari Novi mengaku ia sering diancam oleh Sukatmo, baik secara langsung maupun via SMS.
“Dia ancam saya agar jangan sekali-sekali melaporkan masalah ini ke atasannya di Polda NTT. Katanya kalau saya lapor, dia akan lebih nekat  lagi. Dia teror saya hampir tiap hari,” papar Novi.
Kata Novi, karena tak kuat menerima teror setiap hari, ia akhirnya memilih mudik ke Makassar.  Namun karena terus dihantui rasa bersalah kepada orang tuanya lantaran hamil di luar nikah,  beberapa bulan kemudian Novi balik lagi ke Kupang dengan maksud meminta pertanggungjawaban Sukatmo. Sayangnya saat sedang berada di Makasar, diam-diam Sukatmo telah melangsungkan akad nikah dengan gadis lain yang belakangan diketahui berasal dari Jawa.
“Begitu saya sampai di Kupang, kata teman-teman dia sudah menikah dengan perempuan Jawa itu. Saya benar-benar sok. Dua hari kemudian saya langsung lapor dia ke Provost Polda NTT. Menurut informasi yang saya dapat, katanya dia bersama istri barunya itu kini sedang berbulan madu di Jawa. Saya tidak takut lagi sekarang, saya sudah terlanjur basah, jadi ya…, basah sekalian aja. Saya juga telah menyerahkan beberapa barang bukti seperti foto dan pakaian milik Sukatmo ke provos,” ujarnya.
Kabid Propam Polda NTT, AKBP F. Oetanu ketika ditemui belum lama ini mengaku, pihaknya telah menerima pengaduan Novi.
”Walaupun si pelaku telah menikah dengan orang lain, kasus ini akan tetap kita proses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku di kepolisian,” tegasnya.
Sementara itu Kabid Humas Polda NTT, Kompol Marthen Radja mengatakan, polisi punya kode etik profesi.  Jika kode etik ini dilanggar, maka yang melanggar akan diproses sesuai aturan yang berlaku.  Proses pembuktian itu akan diawali dengan sidang disiplin atau sidang kode etik profesi. Dan, jika dalam persidangan yang bersangkutan terbukti bersalah, maka kepetusannya bisa  berupa sangsi administrasi atau keputusan yang merekomendasikan agar kasus ini diproses secara pidana.  
“Tapi, jika korban yang dihamili tidak merasa puas, dia bisa langsung pidanakan pelakunya,” ujarnya.
Kata Marthen Radja, proses perkawinan anggota Polri telah diatur dalam Keputusan Kapolri Nomor 172 Tahun 1988. Artinya, sebelum menikah, anggota Polri wajib mengajukan permohonan kepada pimpinan atau atasanya untuk mendapat ijin menikah.

“Perbuatan menghamili anak orang di luar nikah itu adalah perbuatan yang melanggar kode etik profesi yang bernuansa pidana. Ini bukan kasus yang pertama. Sebelumnya pada tahun 2006 lalu Polda NTT telah memecat enam anggota polisi yang terbukti menghamili anak gadis orang lalu tidak bertanggungjawab. Artinya yang bersangkutan bisa dipecat jika terbukti bersalah,” tohoknya.  (by. rud)

Gadis SMU “Dilahap” Ayah Kandung Hingga Hamil


sergapntt.com [KUPANG] – Bejad dan biadap, mungkin kata yang cocok dialamatkan kepada Timotius Sufmela (56), Warga Rt01/Rw13, Desa Batakte, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Pasalnya, pria uzur yang sehari-hari berprofesi sebagai petani itu tega memperkosa anak kandungnya hingga hamil, sebut saja Sonya (17). Tak puas menggauli Sonya hingga berbuah janin, Timotius pun kembali berusaha melahap anaknya yang ke-2, sebut saja Bety (16). Untung saja niat bejad Timotius kali ini dapat digagalkan para tetangga.  Astaga!

SONYA dan Bety tidak pernah menyangka jika suatu ketika figur ayah yang mereka banggakan nekad berbuat nista. Apalagi perbuatan itu dilakukan kepada anak kandung sendiri. Karena sejak kecil, siswi kelas III dan II SMU 01 Kupang Barat itu mengenal sosok Timotius sebagai ayah dan figur kepala rumah tangga yang penyayang dan penuh tanggung jawab. Tidak ada yang aneh dari prilaku hidup Timotius. Semuanya berjalan normal, termasuk ketika ibu kandung mereka yakni Ny. Dorkas (47) memutuskan berangkat ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) pada pertengahan tahun 2005.
Semenjak keberangkatan Ny. Dorkas ke Malaysia, praktis di rumah berlantai semen berukuran 9×7 itu hanya dihuni oleh Timotius, Sonya dan Bety. Hari-hari mereka lalui dengan rutinitas pekerjaan pokok. Timotius sebagai petani, sedangkan Sonya dan Bety sebagai pelajar. Jika ada waktu luang sepulang sekolah, tanpa diperintah Sonya dan Bety langsung ke ladang membantu ayah mereka.       
Namun loyalitas anak terhadap orang tua itu ternyata tidak berharga dimata Timotius. Parahnya lagi, Timotius justru tergiur akan kecantikan dan kemolekan tubuh yang dimiliki Sonya. Tak ada yang tahu pasti kapan pikiran ingin menggauli Sonya mulai terbesit dipikiran Timotius. Namun yang pasti pada tengah malam di awal Februari 2006, petaka benar-benar menimpa Sonya. Sonya yang kala itu terlelap tidur setelah seharian membantu ayahnya di ladang, tiba-tiba didekap dan ditindih oleh ayahnya.
“Waktu kejadian awal itu saya tidak tahu, karena saya dan kakak, tidur di kamar berlainan. Tapi pengakuan kakak kepada saya seperti itu,” ujar Bety, adik Sonya.
Sadar ada yang tidak beres dengan ayahnya, Sonya pun meronta seraya memohon agar ayahnya sadar bahwa wanita yang sedang ia tindih adalah dara dagingnya sendiri. Sayangnya upaya Sonya tersebut sia-sia. Timotius justru tambah menggila. Dibawah ancaman, Sonya akhirnya pasrah. Kegadisannya direnggut oleh ayahnya sendiri. Malam itu Sonya diperkosa sebanyak tiga kali. Usai melampiaskan napsu bejatnya Timotius pun berlalu pergi. Tak ada rasa bersalah terpancar dari wajah Timotius. Yang nampak hanyalah bayangan haus seks. Tak terbayangkan bagaimana perasaan Sonya saat itu. Hanya ia yang tahu kepedihan dan kepiluan yang dirasakan. Keesokan harinya ketika bangun pagi Timotius bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal di dada Sonya bergumul duka dan emosi. Ingin rasanya Sonya melabrak ayahnya. Namun Sonya mengurungkan niatnya. Karena Soanya tak ingin perbuatan yang dilakukan ayahnya semalam  diketahui para tetangga. Sonya akhirnya memutuskan mengubur aib itu dalam hati. Sonya bertekad biar hanya dia saja yang tahu dan merasakan derita ini seraya terus berdoa agar ayahnya sadar bahwa apa yang telah dilakukannya itu adalah dosa dan tidak terulang lagi.    
Hari berganti hari dan minggu berganti minggu, Sonya berusaha melupakan semua yang telah terjadi. Namun di akhir Februari 2006, kejadian serupa terulang lagi. Kali ini Sonya bahkan digilir sampai pagi. Sejak saat itu, setiap ada kesempatan Timotius selalu saja memaksa Sonya untuk melayani napsu bejadnya. Buntutnya, tiga bulan kemudian Sonya diketahui positif hamil. Kehamilan Sonya makin nampak jelas tatkala perutnya terus membesar. Tentu kondisi perut Sonya ini membuat keluarga dan tetangga bertanya-tanya, siapa gerangan yang menanam benih dirahimnya? Sayangnya, setiap kali pertanyaan itu diajukan, Sonya selalu bungkam. Bahkan ketika keluarga setengah memaksa agar ia memberitahukan siapa ayah calon bayi dikandungannya, ia tetap tak bergeming.
Karena tak kuasa menahan cibiran tetangga dan omelan keluarga, Sonya akhirnya minggat dari rumah. Tak ada yang tahu kemana Sonya pergi. Sebagian warga Desa Batakte justru menduga Sonya telah dibunuh oleh ayahnya. Bisa benar, bisa tidak. Yang pasti sebagai ayah, Timotius tidak pernah berusaha untuk mencari dimana Sonya berada. Timotius terkesan masa bodoh. Hanya Bety saja yang terlihat mondar-mandir mencari kakaknya.
“Sebelum pergi kakak sudah beritahu saya siapa yang menghamilinya. Tapi saya takut untuk beritahu kepada keluarga. Saya takut bapak. Bapak saya itu kan orangnya temperamen,” papar Bety.  
Setelah Sonya minggat, di rumah hanya tinggal Bety dan ayahnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Timotius. Dengan berbagai tipu muslihat ia mulai memperdayai Bety. Yah…dengan satu tujuan, yakni ingin merengguh keperawanan Bety. Hari yang ditunggu-tunggu benar-benar tiba. Tepatnya pada sore hari, tanggal 20 Juli 2006, entah dari mana datangnya, tiba-tiba Timotius nongol dengan membawa dua ekor ikan tongol. Timotius pun meminta Bety menggoreng dan memasak (kuah asam) ikan tersebut untuk dijadikan hidangan makan malam. Singkat cerita, mereka pun makan bersama. Namun tidak disadari Bety bahwa itu adalah awal petaka yang bakal menimpanya. Benar saja, tak beberapa lama kemudian Bety merasa mual, pusing dan ngantuk. Rupanya, sebelum makan, Timotius telah mencampuri makanan dengan “obat kampung”.  Karena tak kuasa menahan mual, pusing dan kantuk, Bety akhirnya pamit untuk tidur. Kurang lebih 10 menit kemudian Bety pun tertidur pulas.
“Karena pusing, waktu saya tidur, saya lupa kunci kamar,” ucap Bety.
Merasa yakin target telah tertidur tak sadarkan diri, dengan berjingkrak-jingkrak Timotius mulai mendekati kamar Bety. Sejurus kemudian Timotius merangkak naik ke tempat tidur Bety. Dasar sudah kebelet, dalam waktu singkat Timotius sudah dalam keadaan telanjang dan siaga satu siap menyerang. Perlahan-lahan Timotius mulai melucuti satu persatu rok dan blus yang dikenakan Bety hingga Bety benar-benar telanjang bulat.  Beruntung ketika “serangan rudal” baru akan dilakukan, tiba-tiba Bety terbangun dari tidurnya. Tentu saja Bety kaget. Serta merta Bety berteriak minta tolong sekuat tenaga sembari meronta dan mendorong ayahnya turun dari tempat tidur. Mendengar teriakan Bety yang berulang-ulang, dalam sekejab warga tetangga mulai berdatangan. Entah  siapa yang memerintah, tiba-tiba pintu rumah Timotius didobrak warga. Warga yang belum tahu apa sesungguhnya yang terjadi di dalam langsung beramai-ramai mendatangi sumber suara. Bukan main terkejutnya mereka ketika mendapati Timotius dan Bety dalam keadaan tidak berbusana. Apalagi ketika mendengar pengakuan Bety bahwa dirinya nyaris diperkosa oleh ayahnya. Sontak saja warga menjadi marah. Ujungnya Timotius dikeroyok hingga babak belur. Beruntung polisi yang kebetulan lewat di depan rumah Timotius datang melerai dan mengamankan Timotius.  
“Untung ada polisi, kalau tidak mungkin dia sudah mati,” tegas, Kanisius Tapatab (35), warga Batakte yang mengaku turut mengeroyok Timotius saat kejadian. 
Tak mau tangkapannya kabur, dua anggota polisi langsung menggiring Timotius ke Polsek Kupang Barat.
“Semua ulah Timotius itu baru kita ketahui dari mulut anaknya (Bety-red). Selain berusaha memperkosa Bety, Timotius juga telah berulang kali memperkosa Sonya hingga berbuah janin. Sedangkan mengenai keberadaan Sonya hingga kini masih dalam penyelidikan”, papar salah satu Anggota Polsek Kupang Barat sembari mewanti-wanti agar namanya tidak ditulis.
Menurutnya, Timotius resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polsek Kupang Barat sejak Kamis, 20 Juli 2006. Kini tersangka dan Berita Acara Pemeriksaan (BAP)-nya telah dikirim ke Polres Kupang untuk diproses lebih lanjut.
Sedangkan mengenai raibnya Sonya, Anggota Polisi Pamong Praja (Pol PP)  Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kupang, Christofel Taek punya informasi sendiri.
Pria berkumis yang juga tetangga Timotius itu menduga Sonya telah dibunuh oleh ayahnya.
“Setahu saya, ketika Sonya kabur dari rumah, bersamaan dengan itu Timotius  juga menghilang selama dua hari. Jadi, kecurigaan bahwa dia telah membunuh anaknya itu bisa benar. Hanya ini mesti dicek lagi,” ucapnya.
Kepada polisi, Timotius membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya. (by. chris parera)

Selingkuh Itu Zinah !


sergapntt.com [KUPANG] – TERUNGKAPNYA sejumlah kasus selingkuh yang dilakoni beberapa pejabat birokrat dan politik di provinsi Nusa Tenggara Timur ternyata menyulut rasa prihatin Ustad Ramli Deni. Menurut tokoh Islam yang satu ini, selingkuh atau perbuatan zinah adalah prilaku yang tak patut diteladani. Sebab zinah adalah dosa menurut semua ajaran agama. Berikut komentar Ustad Ramli Deni saat diwawancara di Kupang pada Sabtu, 5 Mei 2007 lalu.

Bagaimana tanggapan anda terhadap sejumlah kasus selingkuh yang melibatkan pejabat birokrat maupun politik?
Yah, sebagai pejabat atau publik figur sebenarnya harus tahu bahwa ketika dia menjadi orang penting dalam kehidupan bermasyarakat, maka semua mata akan tertuju padanya. Sebab dalam keseharian, pejabat juga merupakan panutan hidup rakyat kecil. Kalau perbuatannya keluar dari rel kehidupan normal, itu sama dengan mematikan langkah hidup moral bangsa ini. Selingkuh biasanya terjadi pada suami istri  yang tidak puas akan urusan lahir bathin antara suami dan istri. Tapi sesungguhnya orang yang melihat keburukan, dosanya sama dengan orang yang memberi contoh buruk itu. Alah berfirman, “Kullil muminina ya wudhu min absorihi wayaa tadhu furru zahum.” atau perintahkan kepada orang mukmin hendaklah memelihara padangan mereka. Maksudnya jangan melihat hal-hal yang bisa menjerumuskan kita kepada perbuatan-pebuatan maksiat, terutama zinah. Wa yaa farru fujju zahum, aurat jangan disalurkan pada yang bukan tempatnya. Artinya yang belum sah nikah tidak dibenarkan bersibadan. “Jalika  askalahum “ itu lebih mulia. Khusus buat kaum wanita “ Wakulil muminti yaadugna min absohirinna” sama dengan katakan kepada pepempuan-perempuan mukmin untuk menjaga pandangan mereka, “Wayaa tahna furru jahunna” adalah juga memelihara aurat mereka. Selingkuh menurut syariat Islam haram Hukumnya. Itu dikategorikan Zinah. Zinah tidak hanya terjadi pada laki-laki atau perempuan yang belum menikah. Kenyataannya banyak juga dilakukan pasangan resmi yang kurang puas terhadap apa yang dimiliki. Zinah hukumnya haram. Zinah termasuk hukum zinah yang haram hukumnya. Itu artinya jelas. Walla Taqrabul zinah. Janganlah engkau dekati zinah. Sebab dekat itu menjurus kepada perbuatan bersibadan. Jadi zinah itu dalam pandangan islam tidak hanya bersibadan, tapi mulai dari awal-awal untuk sampai mengarah pada terjadinya perbuatan bersibadan. Katakanlah melihat dengan sorotan mata yang penuh dengan gairah, itu juga sudah termasuk zinah. Zinah mata biasanya mengantar hingga terjadi perbuatan bersibadan. Ada hadist Nabi yang mengatakan bahwa kalau engkau melihat sesuatu yang haram, pandangan pertama itu tidak mengapa, tetapi jika selanjutnya pandangan penuh gairah, penuh nafsu, itu sudah adalah zinah.
 Lalu bagimana dengan poligami?
Poligami itu memang diajarkan dalam Islam, sebagaimana ayat Allah yang menjelaskan bahwa wa tabbaa toballakum minan nisa binasna wa sallasa wa rabbaa, jadi itu dasar hukum Islam boleh berpoligami. Tapi tentu dengan pertimbangan harus adil dalam memberi nafkah lahir dan bathin . Itu prinsip dasar utama berpoligami. Kalau merasa tidak adil atau tidak mampu melaksanakan syarat itu, maka tidak dibenarkan untuk melakukan poligami. Jadi, poligami itu boleh jika kita dapat menerapkan keadilan di atara istri-istri yang dipoligami.
Anda punya kiat menghindari zinah?
Yang paling pertama harus datang dari dalam rumah sendiri, yakni dari istri atau suami dalam memberikan nafkah lahir maupun bathin. Katakalah kita ambil patokan istri. Jika suami mencari nafkah, sesungguhnya si istri yang harus sebisa mungkin memberikan ketenangan, kedamaian dan kepuasan bagi suami ketika dia pulang ke rumah.  Toh kalau si istri juga bekerja, maka dia harus ingat bahwa kewajiban sebagai istri bisa menciptakan kenyamanan, ketenangan didalam rumah, terutama terhadap suami. Sehingga suami itu bisa betah dirumah. Dia tidak tergiur dengan yang ada diluar rumah. Si istri juga harus pandai mengurus diri agar tetap menarik bagi suami. Tapi kalau suami dasarnya “nakal”, itu lain lagi ceritanya. Kalau si istri tidak mampu memberikan ketenangan, kepuasan, kemudian tidak tahu urus diri, ya… inikan repot. Menjadi wanita karir itu boleh, tapi tetap harus menempatkan diri sebagai ibu yang memberikan pelayanan kepada suami dan anak-anak sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang diatur dalam agama. Hak istri adalah mendapatkan nafkah lahir dan bathin seutuhnya dari suami.
Lalu?

Sesungguhnya zinah itu haram hukumnya. Apalagi itu dilakukan publik figur. Sebab apa yang dilakukannya jelas dilihat orang lain, yang baik akan ditiru, yang buruk pun bisa mungkin ditiru orang awam yang tidak paham apa itu zinah. Oleh karena itu dosa publik figur lebih besar ketimbang yang lainnya. Ada ayat yang menyatakan bahwa orang melakukan suatu dosa lantaran kebodohannya dosanya lebih ringan ketimbang yang tahu bahwa perbuatan itu adalah dosa. Mungkin pejabat yang doyan selingkuh itu tidak punya rasa malu. Ya…mungkin karena dia berprinsip banyak orang yang melakukan zinah, sehingga beban dosa dipikul semua orang. Tapi harus diingat bahwa kita tidak hidup untuk selamanya dan akan mati pada saatnya. Kapan lagi mau minta ampun kepada Tuhan kalau kita sudah tua umurnya. Ingat bahwa jika seorang sudah terjerumur  ke dalam dosa, maka ia susah untuk keluar. Jadi, jangan coba-coba masuk kedalam perbuatan atau prilaku yang haram dimata Tuhan. (by. rusdy maga)

Golkar Gelisah


sergapntt.com [KUPANG] – Golkar tak merasa telat melaunching paket kandidat gubernur dan wakil gubernur. Pasalnya, para kandidat sudah menebar pesona sejak Rapimdasus Detosoko tahun 2006 silam. “Perasaan gelisah memang ada. Tapi, kita harap awal Maret 2008 ini Golkar sudah punya paket kandidat gubernur dan wakil gubernur,” tutur Ketua Pemenangan Pemilu DPD I Partai Golkar NTT, Drs. Alex Ena,M.Si, kepada Frans Diaz dan Egi Jawa dari Tabloid Vista di kediamannya, belakang perumahan RSS Liliba, pekan silam. Berikut petikannya:
Apa saja isi kesepakatan Detusoko dan Juklak 5?
Pada Rapat Pimpinan Daerah Khusus/Rapimdasus yang diselenggarakan di Detusoko itu atas rekomendasi Rapat Kerja Daerah Bidang Pemenangan Pemilu. Ada beberapa pertimbangan yang menjadi dasar untuk kita melakukan Rapimdasus. Rapat Kerja Daerah Bidang Pemenangan Pemilu memberikan rekomendasi kepada DPD I Golkar NTT. Pertimbangan pertama, NTT adalah daerah kepulauan yang memiliki topografi sangat luas yang harus dijangkau dengan membutuhkan waktu dan tenaga. Karena itu kita membutuhkan waktu yang cukup untuk sosialisasi calon Gubernur NTT. Sedangkan menurut amanat Juklak 5, sebelum perubahan Rapimnas 2 bahwa pilkada dilaksanakan H-6 bulan. H-6 bulan itu berarti kita proses penetapannya H-2 atau H-3 bulan baru kita tetapkan calon gubernur. Untuk itu, Partai Golkar NTT harus mengambil langkah agar para bakal calon bisa mensosialisasikan diri kepada masyarakat. Berdasarkan rekomendasi itu, rapat Pimpinan Harian DPD I Golkar NTT menugaskan kepada Korbid Pemenangan Pemilu untuk mempersiapakan suatu forum yang disebut Rapimdasus untuk melakukan penjaringan bakal calon dan bakal calon yang ditetapkan di forum itu dapat mensosialisasikan diri di tingkatan struktur partai Golkar juga masyarakat umum sebagai calon gubernur NTT. Dengan demikian, Rapimdasus Golkar NTT itu merupakan kebijakan DPD I diluar Juklak 05 DPP Partai Golkar. Dalam Rapimdasus yang kita selenggarakan di Detusoko Ende itu, menjaring figur-figur bakal calon akhirnya ditetapkan 5 yang memenuhi syarat dari kurang lebih bakal calon yang muncul. Lima nama itu, Pa Medah, Pa Viktor, Pa Mell Adoe, Pa Yoseph Naesoi dan Anton Bagul Dagur. Di dalam keputusan Rapimdasus Ende kelima bakal calon itu diberikan kesempatan untuk melakukan sosialisasi diri sebagai bakal calon gubernur sampai kepada jadwal pilkada sesuai dengan Juklak 05. Jadi, mereka bebas mensosialisasi diri sampai memasukki gerbang atau pintu Juklak 05. Dalam keputusan itu, bakal  calon juga diminta untuk tidak boleh melakukan black compaign terhadap sesama calon. Mereka dengan bebas melalui struktur partai maupun melalui masyarakat atau tim sukses melakukan sosialisasi diri dengan cara-cara yang etis, santun sampai masuk ruang Juklak 05, yaitu survey. Sampai pada survey Juklak 05, bakal calon kita tidak 5 lagi, karena menurut amanat Juklak 05: siapa saja yang disebut oleh masyarakat sebagai bakal calon, kita menjaring semua untuk disurvey, dan itu terbukti kita mengusulkan lebih dari 10 nama disurvey termasuk 5 nama tadi itu.
Bagaimana mekanisme penetapan calon Golkar setelah survey LSI?
Juklak 05 diawali dengan pembentukan tim pilkada, dilanjutkan dengan penjaringan bakal calon. Setelah penjaringan bakal calon, tim pilkada rapat pleno dan penetapkan bakal calon untuk diusul kepada DPP untuk selanjutnya DPP memberikan kepada tim survey dari LSI atau dari mana begitu untuk disurvey. Setelah disurvey, menurut Juklak 05, untuk pemilihan kepala daerah provinsi, survey dilakukan 2 kali. Setelah kali survey DPP akan merekomendasikan 3 nama untuk diproses lebih lanjut. Jadi, dari belasan nama yang kita kirim, DPP hanya merekomendasikan 3 nama. Tiga nama itu akan dikirim ke tim pengarah pilkada provinsi untuk dilakukan proses pendaftaran administrasi sesuai persyaratan di Juklak. Semua dokumen administrasi itu kemudian dikirim ke DPP. DPP akan melakukan verifikasi, apakah ketiga bakal calon itu memenuhi syarat administrasi baik umum maupun khusus atau tidak. Setelah itu DPP menetapkan. Kalau 3 nama itu memenuhi syarat administrasi, maka 3 nama itu dikembalikan untuk kita lakukan konvensi atau dikenal Rapimdasus untuk menetapkan 3 menjadi 1 calon definitif. Dalam mekanisme Rapimdasus itu, kita menggunakan sistem voting blok, dimana DPP mempunyai hak 40% suara, DPD I 30% suara, DPD II 20% suara dan Ormas/Orsap 10% suara. Soal apakah kita menggunakan sistem voting blok atau tidak, itu sangat tergantung pada hasil survey. Dan itu datanya akan dikomunikasikan secara politik untuk mengambil langkah-langkah demi menjaga keutuhan, kesatuan di dalam Partai Golkar.
Apa sesungguhnya konsep voting block itu?
Itu konsep yang menggunakan prosentasi. Dalam aturan Golkar, konsep voting block sudah diatur, dimana masing-masing tingkatan prosentasinya berbeda. Kalau tingkat DPP prosentasinya 40 persen. DPD I 30 persen, DPD II 20 % dan Ormas/Orsap 10 persen. Jadi dalam kaitannya dengan penentuan calon Gubernur dari Golkar nanti, biasanya DPP dan DPD I itu punya pilihan yang sama. Masing-masing struktur itu diwakili oleh satu orang untuk memberikan suara. Walaupun hanya satu orang, nilai prosentase berbeda seperti yang saya sebutkan tadi. Satu orang ini akan memberikan suara berdasarkan keputusan yang telah disepakati. Misalnya kalau saya yang ditunjuk memberikan suara dari DPD I, maka suara yang sama bawa itu berdasarkan kesepakatan DPD I, begitu pun dengan yang lainnya.
Mengapa DPP memiliki suara terbesar? 
Ini karena memang kita berharap bahwa DPP obyektif dalam menentukan siapa yang pantas menjadi calon gubernur dari Golkar.
Sejauh ini apa saja yang sudah dilakukan Golkar dalam rangka suksesi gubernur NTT?
Pasca Rapimdasus Ende, dari kelima bakal calon itu, saya sebagai Ketua Tim Pengarah mengamati bahwa yang paling gencar melakukan sosialisasi ada  3 calon, Pa Medah, Pa Viktor dan Pa Mell. Saya pantau bahwa sosialisasi mereka cukup sampai ke tingkat-tingkat basis masyarakat. Sehingga dari segi kesiapan, walaupun sampai saat ini kita belum punya calon definitif, tapi dari segi kesiapan, kita sudah siap. Karena ketiga calon ini begitu gencar, tinggal saja menunggu siapa yang muncul. Salah satu keputusan dari Rapimdasus Ende adalah dari 5 bakal calon yang tidak keluar dari Partai Golkar tidak boleh mencalonkan diri atau dicalonkan dari partai lain. Jadi, DPD I sekarang hanya menunggu rekomendasi tiga nama bakal calon dari DPP, karena ini bagian dari tahapan. Setelah itu baru kita melakukan proses selanjutnya. Kita standby, kita sudah siapkan seluruh dokumen. Begitu rekomendasi turun, hanya jangka waktu paling lambat 1 minggu kita sudah bisa tetapkan calon definitif. Tapi sampai sekarang 3 nama itu kita belum tahu. Pilkada Gubernur itu kewenangan DPP, menurut Juklak 05.
Siapa saja yang kini disiapkan Golkar ke suksesi gubernur?
Yang pasti tidak keluar dari 5 nama yang ditetapkan di Rapimdasus Ende itu. Dan kelima nama itu bersama yang lainnya disurvey itu. Survey tahap pertama sudah selesai, tapi sampai sekarang kita belum tahu hasilnya, walaupun ada isu berkembang, tapi secara resmi  kita belum tahu. Sementara sekarang ini masih survey tahap kedua.
Menurut anda, siapa yang punya kans terkuat menjadi kandidat gubernur dari kubu Golkar: Medah, Viktor atau Mell Adoe?
Saya pikir, ketiga nama itu punya kans yang sama. Pa Medah punya kekuatan basis, Pa Viktor punya basis, Pa Mell juga punya basis. Saya pikir ketiga tokoh ini punya kapasitas, kapabilitas yang hampir sama. Jadi bagi kami sebagai tim pengarah pilkada, dari ketiga tokoh ini siapa pun yang nanti lolos dalam Rapimdasus, kita siap bertarung dengan partai lain.
Bagaimana mekanisme pencalonan dan penetapan kandidat wakil gubernur dari Golkar?
Setelah Rapimdasus menetapkan calon gubernur definitif, kita memberikan kesempatan kepada calon definitif mengajukan sekurang-kurangnya 3 nama dan sebanyak-banyaknya 5 nama calon wakil gubernur kepada DPD I, Tim Pengarah Pilkada. Kita kemudian melanjutkan ke DPP. Setelah DPP memberikan rekomendasi, kita dalam rapat pengurus harian di tingkat DPD I akan putuskan siapa wakil dari calon tetap.
Apa pandangan Golkar tentang personalitas: Ibarahim Medah, Viktor Laiskodat dan Mell Adoe?
Itu pertanyaan yang bagi saya sulit untuk mengukur pribadi orang. Tetapi bagi saya, ketiga-tiga ini bagus karena Pa Medah: bupati 10 tahun atau 2 periode, Ketua DPD I Golkar NTT. Pa Viktor: Ketua Penasehat dan juga anggota DPR RI. Pa Mell Adoe: Ketua DPRD NTT, mantan Ketua Fraksi Golkar, mantan Ketua OKK di DPD I, sekarang Ketua Kosgoro. Jadi, ketiga orang ini kader-kader yang baik.
Apa dampak dari hasil survey LSI bagi kandidat Golkar dalam suksesi gubernur? Bukankah survey pertama diungguli Frans Lebu Raya?
Ya, saya juga baca di koran bahwa hasilnya seperti itu. Tapi saya pikir tidak pengaruh apa-apa bagi Golkar kalau ada seperti itu. Tapi saya tidak yakin itu, yang saya yakin kader kita pasti menang. Kalau kita lihat di koran tentang hasil itu, kan kader Golkar ada beberapa orang. Kalau misalnya kader partai lain unggul, perlu diingat bahwa kader Golkar bukan satu saja di situ. Katakanlah di situ ada Pa Mell, Pa Viktor, Pa Medah, ketika salah satunya maju, maka kekuatan suara kedua calon yang lain itu akan lari ke satu calon Golkar itu. Mungkin tidak 100% tentunya, tetapi tiga kekuatan ini menjadi satu, kecuali ketiganya maju.
Hasil survey I memperlihatkan Frans Lebu Raya unggul. Ini namanya Golkar yang mandi keringat, PDIP yang panen. Apa analisis anda atas hasil survey tersebut?
Saya kira tidaklah demikian. Yang pasti saya sendiri belum tahu hasil survey itu sehingga bagaimana mungkin saya bisa menganalisisnya.
Salah satu tujuan survey ini adalah untuk kita bisa mengetahui peta politik masing-masing kekuatan.
Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan Golkar dalam suksesi gubernur?
Kelemahan dulu ya. Kelemahan pertama, terlalu banyak kader Golkar yang bertarung. Jujur saja, selain 3 orang: Pa Medah, Pa Viktor, Pa Mell Adoe, tetapi ada kader Golkar yang sudah dilamar partai lain. Contoh Pa Gaspar Ehok. Itu kader tulen Golkar. Pa Esthon Foenay, beliau itu calon gubernur dari Golkar kemarin. Ini kelemahan Golkar karena kadernya terlalu banyak, yang pintar-pintar, yang jago-jago semua sudah diambil partai lain. Ini karena syarat di Golkar yang maju hanya 1 orang calon gubernur dan 1 calon wakil gubernur. Kelemahan lainnya, sekarang bukan partai tapi figur, sehingga orang sudah melihat kalau ada figur kader Golkar tapi ada di partai mana begitu, mereka melihat itu lebih bagus dari yng kita usung, pasti mereka bisa ke sana. Itu kelemahan kita yang bisa menyebabkan basis-basis Golkar bisa terpecah. Tetapi kekuatan kita itu, bagaimana pun kita tidak akan terpecah-belah. Kita akan komit terhadap keputusan yang sudah dibuat bersama, baik di tingkat DPP, DPD I, DPD II sampai ke desa/kelurahan. Apalagi pada Rapimdasus Ende yang lalu sudah ada kesepakatan bahwa empat calon yang tidak terpilih wajib mendukung calon yang terpilih. Ini sanksinya berat sekali bagi yang tidak melaksanakannya, yakni diberhentikan dari partai. Selain itu, kekuatan Golkar juga pada figur yang akan kita tetapkan nanti dengan mengacu pada berbagai pertimbangan yang memungkinkan figur terbaik tersebut layak memimpin NTT ke depan.
Apa yang Golkar lakukan untuk menghindari friksi, intrik dan perpecahan interen ?
Betul sekali. Sebagai Ketua Tim Pengarah, saya sangat mengharapkan supaya sampai pada proses penetapan itu betul-betul obyektif tanpa rekayasa. Setidaknya survey yang dilakukan itu tidak ada unsur rekayasanya. Tapi saya yakin hasil survey ini baik-baik saja. Kita mengharapkan tidak mengulangi di Kota Kupang dulu, karena itu sangat mengecewakan dan memalukan. Sampai saat ini saya tetap yakin bahwa Golkar baik di tingkat DPP, DPD I, DPD II dan sampai desa/kelurahan, tetap bersatu dan bertekad memenangkan suksesi gubernur. Sebagai Ketua Tim Pengarah, saya selalu berusaha agar para kandidat tidak saling menjatuhkan. Mereka harus tetap kompak dan komit.
Paket kandidat gubernur dan wakil gubernur mana yang menjadi pesaing terberat Golkar dalam suksesi gubernur?
Saya kira semua kandidat mempunyai kekuatan yang sama, jadi tidak ada pesaing terberat untuk Golkar. Semua calon mempunyai kekuatan basis. Tapi tentang ini saya juga belum bisa memprediksikannya karena sampai saat ini belum ada calon definitif dari teman-teman partai yang lain, kecuali Pa Frans Lebu Raya yang berpasangan dengan Pa Esthon Foenay dari PDIP. Pa Gaspar meski sudah dilunching tapi pada partai pendukungnya kabarnya masih bermasalah. Begitu pun dengan Pa Beny Harman dan lain-lain. Tapi yang pasti semuanya punya kans yang sama. Kita lihat saja nanti.
Apa dampak politik dari telatnya Golkar melaunching paket kandidat gubernur dan wakil gubernur?
Bagi Golkar tidak ada istilah telat, karena untuk hal sosialisasi itu sudah dilakukan oleh para kandidat sejak keputusan Rapimdasus di Detusoko tahun 6 lalu. Jadi, tidak ada istilah telat. Tapi kalau soal perasaan gelisah memang ada, karena sampai sekarang Golkar belum menetapkan paketnya sementara paket lain sudah kibarkan bendera dan terus bekerja. Apalagi jadwal pilkada sudah dimulai sejak 5 Februari lalu. Kita berharap pada minggu-minggu awal Maret ini kita sudah menetapkan paket Golkar.
Kabarnya kubu DPP Golkar pecah antara mendukung Ibrahim Medah dan Viktor Laiskodat. Betulkah?
Oh tidak benar itu. Itu mungkin isu saja. Dalam suasana politik begini kan wajar-wajar saja isu seperti itu. Sejauh yang saya tahu, sampai saat ini Golkar tetap utuh, baik di pusat, daerah sampai ke desa/kelurahan. Saya berharap teman-teman, khususnya di daerah-daerah tidak terpancing dengan isu yang hendak memecah-belah Golkar seperti itu.
Bisa digambarkan bagaimana soliditas  para calon dari Golkar sekarang?
Ah…, ya namanya politik jadi kita tidak bisa bilang bahwa semua calon kita ini bermesrah-mesrah. Tapi namanya politik ini kan bisa saling menjual popularitas, menjual potensi diri, tetapi juga bisa sebaliknya. Tapi pengamatan kita sementara ini, untuk 5 calon kita itu masih wajar-wajar dalam proses sosialisasi diri sesuai amanat Juklak, amanat Rapimdasus di Detusoko, Ende. Nah, kita berharap bahwa 5 calon itu sesuai dengan mekanisme kita bahwa siapapun yang maju atau siapapun yang lolos dalam proses ini, 4 calon yang lain harus mendukung. Itu target kita. Tentu tugas kami, baik Tim Pengarah Pilkada maupun sebagai DPD, kami berharap tetap solid, walaupun sekarang kita berbeda, tentu banyak pengurus bisa ada di mana-mana, misalnya ada di bakal calon ini, bakal calon itu, saya kira ini wajar-wajar saja. Tetapi sebagai Ketua Tim Pengarah, saya tegaskan bahwa ketika partai menetapkan siapa yang jadi calon dari Golkar, maka seluruh kekuatan harus menjadi satu untuk memenangkan Pilkada.
Diam-diam beredar kabar bahwa Viktor Laiskodat mantan narapidana coba dihadang untuk maju bertarung dalam suksesi gubernur. Apa pandangan Golkar tentang tudingan ini?
Saya kira tidak benar kabar itu. Yang pasti itu urusan DPP, karena pilkada kepala daerah ini wewenangnya pusat. Minta maaf saya tidak bisa memberikan komentar tentang itu. (by. rudy tokan)

Pengakuan Miris Mantan Honorer Setda NTT, “Tubuhku Boleh Digilir, Asal Aku Dibayar”


sergapntt.com [KUPANG] – KEGETIRAN hidup menjanda benar-benar dirasakan dara manis asal pulau Sumba, sebut saja Sonya. Tak tahan hidup menderita lantaran ekonomi keluarga terus melorot dari tahun ke tahun, usai lulus SMA  Sonya memutuskan merantau ke kota Kupang. Mulai dari berdagang hingga bekerja di perusahaan swasta ia pernah geluti. Namun semua pekerjaan itu tak membuatnya betah. Tak lama berselang ia pun menjadi pegawai honorer di lingkup Sekertariat Daerah (Setda) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tempat inilah ia akhirnya terjebak dalam dunia perselingkuhan. Belakangan lelaki yang dipilih hanyalah para pejabat berkantong tebal. Maklum, Sonya berprinsip; ada uang abang disayang, tak ada uang abang sebaiknya jauh-jauh. Benarkah? Berikut kisahnya:
Orang-orang menyebutku wanita belia dengan bau harum semerbak. Aku tak tahu kenapa orang-orang menjuluki aku seperti itu. Aku hanya bisa menerka, mungkin karena aku ini tergolong wanita cantik, mulus dan seksi yang selalu pakai parfum pilihan. Entah benar atau tidak, teman-temanku mengaku kalau raut wajah dan postur tubuhku mirip artis cantik Sofia Lajuba. Setiap orang yang berpapasan denganku selalu tercengang akan kecantikanku. Apalagi laki-laki hidung belang. Mustahil jika mereka tak menggoda. Tapi tidak jarang pula aku mendengar julukan itu hanyalah sindiran belaka. Apalagi setelah aku diketahui sebagai Wanita Idaman Lain (WIL) alias wanita simpanan sejumlah oknum pejabat. Sebab bau harum yang sesungguhnya hanya keluar dari tubuhku bila aku sedang digilir di atas ranjang. Aku lupa, kapan dan siapa yang pertama kali mengatakan seperti itu. Yang pasti, aku agak kesal dengan ledekan tersebut.
Ah…aku mulai saja catatan hidupku dari awal. Aku adalah wanita lulusan SMA yang dilahirkan di sebuah kampung kecil di Kabupaten Sumba Barat, NTT. Aku berdarah blasteran Sumba-Manado. Lulus SMA aku merantau ke Kupang untuk mencoba mengadu nasib. Aku pernah bekerja membantu tante berdagang di pasar Inpres Naikoten I Kupang. Aku tak betah. Dalam hati aku bertanya-tanya, kenapa jauh-jauh aku datang ke Kupang hanya untuk jadi pedagang. Dari situ aku kemudian melamar kerja ke sebuah perusahaan jasa konstruksi. Aku lalu ditempatkan di bagian administrasi. Pekerjaanku hanya mencatat surat masuk dan surat keluar. Kadang membantu sebagai resipsionis atau penerima telepon. Tapi lagi-lagi aku tak betah. Karena orang yang aku temui setiap hari kurang membangkitkan semangat kerjaku. Sudah begitu, gajiku kecil pula. Maklum, selera dan kebutuhanku cukup tinggi. Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti. Selepas itu aku menganggur hampir setahun lebih.
Baru di pertengahan Agustus 2002, aku berkenalan dengan seorang teman pria yang telah lama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kantor Gubernur NTT. Saat itu kata dia, dikantornya sedang membutuhkan seorang tenaga honorer yang mampu mengoperasikan komputer. Kebetulan aku bisa. Tak menunggu lama aku lantas melamar ke sana. Tanpa mengalami kesulitan yang berarti, aku akhirnya diterima. Setahun lebih tugasku hanya melakukan pekerjaan administrasi yang berhubungan dengan komputer.
Suatu ketika aku dimutasikan ke salah satu bagian menjadi sekertaris salah satu pimpinan di Kantor Gubernur NTT. Aku sangat senang kerja disitu. Soalnya sering menemukan hal-hal baru. Apalagi pekerjaan yang aku lakukan tidak monoton. Malah aku kadang mendapat hiburan tersendiri ketika melayani tamu-tamu yang hendak bertemu bosku. Maklum, tamu bosku kebanyakan berasal dari kalangan pejabat dan pengusaha sukses.
Suatu kali bosku didatangi wanita paruh baya yang masih kelihatan montok dan cantik. Tanpa menghiraukan aku yang duduk persis disamping pintu masuk ruang kerja pimpinan, dia langsung menerobos masuk menemui bosku. Merasa heran dengan kedatangan tante bos genit itu, aku pun pasang telinga. Dari hasil nguping baru ketahuan kalau ibu itu ternyata “piaraan” bosku. Dalam pembicaraan itu, si ibu mengaku hendak ke Jakarta untuk suatu urusan bisnis. Bosku diminta ikut. Namun sebelum itu bosku diminta mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Katanya, untuk keperluan di Jakarta nanti. Selanjutnya, bosku tidak masuk kantor selama satu minggu. Istrinya menelpon ke kantor, sewot dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara aku yang menerima telepoh hanya bisa tertawa geli dalam hati.
Tiga bulan menjadi sekertaris, aku berkenalan dengan seorang pejabat esalon IV, berparas lumayan ganteng plus berkantong tebal. Ia termasuk kategori “orang kecil” yang bekerja di “tempat basah”. Tak heran bila ia banyak duit. 0rang-orang se kantor memanggilnya dengan sebutan om Gaul. Maklum, dalam kesehariannya dia agak parlente. Ia memang tidak mudah lagi. Walaupun begitu, ia masih punya pesona tersendiri. Masih romantis, gitu loh!.
Sebulan setelah perkenalan, lewat telepon om Gaul berhasil memikat aku dengan rayuan manisnya. Ia mengajakku jalan-jalan. Aku dibawa ke restoran yang paling mahal di Kota Kupang. Dia juga mengajak aku membeli pakaian, peralatan kosmetik dan berbagai kebutuhan lain, termasuk sebuah hand phone bermerk. Otomatis hatiku senang.
Tepat di bulan Desember 2004, lagi-lagi om Gaul mengajak aku makan dan berbelanja. Kali ini aku benar-benar dibuat happy abis. Apa yang aku mau pasti diluluskan. Mulai dari baju, sandal, hingga aksesoris kamar tidur, semuanya dibelikan. Aku benar-benar puas. Aku merasa seperti hidup di surga.
Habis berbelanja, jelang malam tiba kami sepakat untuk pulang. Dalam perjalanan, om Gaul dengan penuh semangat bercerita kepadaku mengenai keadaan dan kondisi rumah tangganya. Bahkan kata dia, hampir empat tahun terakhir hidupnya seakan mati. Ia kadang kesepian jika malam tiba. Bahkan pada saat hasrat lobidonya datang, istrinya bagaikan bongkahan es batu tak bergairah. “Maklum beta pung istri itu sudah monopause. Beta pung hati bisa mengerti itu, tapi beta pung hasrat kan tidak begitu ha…..ha….ha…,” ucap om Gaul sambil tertawa ngakak. Aku ikutan tertawa. Sementara mobil yang dikemudikan om Gaul terus melaju kencang. Mamasuki jalan Timor Raya, tiba-tiba dengan tangkas om Gaul membelokkan arah mobilnya menuju Hotel Biogenvile yang terletak di seputaran Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Aku sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan om Gaul nanti setelah tiba di motel itu. Aku bagaikan umpan lezat yang siap diterkam singa lapar. Aku ingin menjerit, namun jujur aku tak kuat. Hatiku terlanjur terpikat oleh rayuan dan kantong tebalnya. Betul kata perasaanku, di motel itu aku benar-benar “diseruduk” habis-habisan. Pertahananku jebol diterjang rudal. Sakit sekali rasanya. Maklum baru pertama. Tapi belakangan aku menikmatinya juga. Peristiwa itu takkan hilang dari ingatanku. Karena dalam sejarah hidupku, ini kali pertama aku ditiduri pria.
Sejak itu, om Gaul seperti kecanduan. Aku lantas dijadikan istri simpanannya. Konsekwensinya, selain dia, tak boleh ada laki-laki lain yang boleh meniduriku. Aku lalu disuruh berhenti bekerja sebagai honorer ditempatku bekerja. Aku setuju. Sejak itu semua kebutuhan hidupku dipenuhi oleh om Gaul.
Tapi usia tua menjadi penghalang. Setelah begitu bergairah, empat bulan kemudian “lambaian” dan “jab-jab” om Gaul mulai kendur. Serangan cintanya tak sedasyat yang dulu. Kadang saat mengajakku tidur, om Gaul hanya mampu mengelus-ngelus tubuhku. Aku sih mengikuti iramanya saja. Namun dari hubungan tersebut, aku dapat ilham bahwa aku ingin menikah dengan laki-laki berumur. Sebab kemungkinan punya anak sangat kecil, tetapi cepat memperoleh uang sangat besar kemungkinannya. Contohnya kalau suami mati mendadak karena serangan jantung, warisannya pasti jatuh ketanganku. Dengan begitu aku tak usah repot-repot kerja. Aku tinggal menikmatinya saja. Tapi aku kecewa berat, saat aku tantang menikah, om Gaul menolak dengan halus. Dengan berbagai cara ia mulai menghindar. Karena kesal aku lalu mengancam, kalau tak mau menikahiku, aku akan buka perselingkuhan ini ke wartawan, biar semua orang tahu. Mendengar itu, om Gaul seperti cacing kepanasan. Takutnya bukan kepalang. Katanya, karirnya bisa hancur, istrinya bisa ngamuk dan ia bisa diusir dari rumah. Sebab kata dia, istrinya sangat galak. Apalagi diketahui istrinya berasal dari keluarga mapan dan terhormat di jagat NTT. Saya akhirnya terpaksa mengerti keadaan. Lalu om Gaul berjanji memberikanku uang puluhan juta rupiah, asal aku diam dan terus merahasiakan perselingkuhan kami. Om Gaul ternyata benar-benar menepati janjinya. Dua hari kemudian dia datang kepadaku dengan membawa sejumlah uang kurang lebih Rp. 70 juta-an. Setelah menyerahkan uang itu, dia langsung pergi meninggalkanku dan tak mau lagi berhubungan denganku. Walaupun hanya sekedar lewat telepon untuk melepas rindu. Toh begitu, dalam hati, aku merasa aku telah menang. Dari situ terinspirasi , bila wanita sadar akan kekuatannya, ia bisa memperdaya lawannya. Jangankan pejabat esalon IV, III dan II, kepala daerah sekalipun akan bertekuk lutut jika wanita pandai memanfaatkan kemolekan tubuh dan kesempatan.
Lepas dari om Gaul, aku menjalin hubungan asmara dengan –sebut saja – om Sadam. Ia pejabat tinggi beresalon II. Namanya sangat ditakuti para birokrat NTT. Ia dikenal tegas dalam mengambil keputusan. Om Sadam mulai punya gelagat tertarik padaku saat secara tidak sengaja kami bertemu dalam suatu acara pernikahan sahabatku yang juga ternyata keponakannya. Matanya selalu genit memandangiku. Sorot matanya memancarkan kebinalan. Sadar akan itu, aku mulai pasang perangkap. Kali ini aku pun berhasil. Tak lama berselang, om sadam mengajakku makan di restoran. Aku menurut saja. Dan sudah lebih dari empat kali, ia mengajakku kencan. Bak gayung bersambut, akupun menurutinya. Hanya saja kali ini aku diajak ke Denpasar-Bali. Berdalih melakukan perjalanan dinas, om Sadam terbang melalui bandara El-Tari Kupang menuju bandara Ngura Rai Denpasar. Sedangkan aku telah lebih dahulu dan menunggu di salah satu hotel yang telah diboking om Sadam di seputaran Nusa Dua-Bali. Aku dan om Sadam benar-benar menikmati pertemuan itu. Hubungan kami pun berlanjut dari tahun ke tahun. Tempat kencan pun terus berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain. Tergantung tujuan perjalanan dinasnya.Tak heran bila kota-kota penting di daratan Jawa-Bali sudah aku singgahi, diantaranya Sanur, Kuta, Surabaya, Malang, Semarang, Yogyakarta, Solo, Bogor, Jakarta, dan Bandung. Tentu hasil dari hubungan haram itu aku bergelimpangan uang, termasuk memiliki sebuah rumah dan mobil.
Kadang aku bosan juga melayani birahi pria ‘ompong’ seperti Om Gaul dan Om Sadam. Benakku sering berkeinginan untuk menjalin kasih dengan pria yang sebaya denganku. Namun karena kemiskinan yang pernah aku rasakan bersama keluargaku, perasaan itu aku pupuskan. Dalam sanubariku seakan tertanam tekad bahwa badanku boleh digilir, asal aku dibayar mahal. Lebih bagusnya menjadi wanita simpanan atau gundik pejabat dari pada melacur di jalanan. Dengan begitu, martabatku sebagai wanita jalang bisa sedikit terangkat.
Risih memang ketika aku menjalani kehidupan hari-hariku. Apa lagi orang selalu bertanya-tanya dari mana semua kekayaan yang aku dapatkan. Maklum, masyarakat sekitar tempat tinggalku tak tahu dari mana sumber uang yang aku ‘sedot’. Bahkan, orangtuaku kaget minta ampun begitu tahu aku telah memiliki rumah dan mobil. Namun aku selalu berhasil memberi alasan dengan dalih bahwa semua kekayaan yang aku miliki ini, aku peroleh dari hasil kerjaku, termasuk menjadi karyawan sebuah LSM milik orang Jerman yang ada di Kota Kupang. Aku memang berdosa. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku tak sudi menjadi orang miskin.
Kini hubunganku dengan Om Sadam sudah berakhir. Entah karena bosan atau apa, beberapa bulan lalu Om Sadam meminta persetujuanku untuk mengakhiri hubungan kami. Aku setuju. Tapi, seperti biasa, aku harus mendapat ganti rugi. Setidak-tidaknya untuk biaya kesendirianku. Tuntutanku itu mendapat kata sepakat. Om Sadam memberikanku uang kurang lebih Rp 100 juta. Dengan uang itu aku kemudian membuka usaha dagang kecil-kecilan. Aku juga tak ingin lagi menjalani perselingkuhan. Aku capek. Aku ingin menikah. Namun semua itu tergantung jodoh yang akan diberikan oleh Sang Khalik. Memang kadang aku malu terhadap diriku sendiri. Tapi mau dibilang apalagi kalau ‘nasi sudah menjadi bubur’. Aku pasrah pada keadaan. Semoga aku diampuni Tuhan. (Diceritakan Sonya saat ditemui Chris Parera di kediamannya di bilangan Kota Baru, Kota Kupang pada 16 April 2007).