
sergapntt.com [JAKARTA] – Rumah tangga penyanyi Theresia Ebenna Ezeria Pardede atau yang akrab disapa Tere diterpa isu tak sedap. Kabarnya, Tere telah mendaftarkan gugatan cerai terhadap sang suami, Eka Nugraha.
“Sidang perdananya nanti tanggal 30 Januari (2012),” ujar Juru Bicara Pengadilan Agama (PA) Jakarta Selatan, Tamah.
Penyanyi kelahiran Jakarta, 1 September 1979 itu menikah dengan Eka Nugraha pada 6 Desember 2000. Eka adalah pria berdarah Sunda yang juga pencipta lagu ‘Awal Yang Indah’ yang dinyanyikan Tere.
Belum diketahui alasan Tere menggugat cerai sang suami. Saat ini Tere lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai anggota DPR-RI dari Partai Demokrat.
Menurut rekan Tere, Ruhut Sitompul, perceraian yang diajukan Tere sebagai bukti bahwa seorang suami belum bisa menerima istrinya sibuk berpolitik.
Ruhut menilai, seorang politisi memang mempunyai jadwal yang sangat padat. Bahkan, tak jarang mereka pulang ke rumah hingga larut malam.
“Justru para suami ini yang nggak siap punya istri politisi. Kami selalu pulang malam, bukannya nggak bisa membagi waktu,” ungkapnya saat ditemui di Grand Opening T2 Hairdress by Talents Johny Mallato di Gunawarman, Jakarta Selatan.
Ruhut memang cukup dekat dengan Tere. Bahkan ia tahu sebelum memutuskan untuk bercerai, Tere sering kedapatan menangis.
“Sebelum berpisah, suaminya telepon terus. Kadang-kadang dia menangis. Suaminya saja yang nggak siap,” tuturnya.
Meski susah membagi waktu antara dunia politik dengan keluarga, Ruhut menilai politisi yang berangkat dari kalangan artis prestasinya sungguh membanggakan.
“Aku bangga, wanita artis yang jadi politisi. Dan sekarang mereka berani tampil, seperti ‘Oneng’, Rachel, Inggrid Kansil. Mereka aktif sekali,” pujinya.
by. SANTI/MAX
Namun ia lebih memilih langkah awal yang semestinya dilakukan Pemprop NTT adalah mengundang wartawan luar negeri untuk meliput pariwisata komodo.
Untuk menarik perhatian para wisatawan, kata JK, tujuan wisata harus dirangkai tujuan pariwisata lain seperti Danau Tiga Warna Kelimut di Ende, surga bawah laut di 17 pulau Riung, wisata rohani di Kota Larantuka, Kabupaten Flotim, wisata perburan ikan paus di Lembata. Sehingga daerah tujuan itu merupakan alur tujuan para wisatawan.
“Jadi, bukan hanya komodo saja. Paling lama wisatawan berada di Komodo selama dua hingga tiga jam,” ujarnya.
Jusuf Kalla mendapatkan hikmah dari masuknya komodo sebagai tujuh keajaiban baru di dunia.
Ia menceritakan, sebelum menjadi duta komodo, perolehan suara vote Komodo melalui SMS sekitar 6.000 suara. Namun setelah 25 hari berjuang, vote Komodo mencapai 300 juta suara.
Dikatakannya, masuknya komodo dalam New7 Wonders
Sejatinya bukan untuk kepentingan komodo. Tetapi peristiwa itu akan memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat NTT. “Bali maju karena pariwisata. Setiap tahun sekitar dua juta wisatawan mengunjungi Bali. NTT kaya dengan matahari tetapi juga kaya savana. Dan, wisata bisa menjadi pendapatan warga,” tandas JK.
Putra Sulawesi ini meminta perubahan pola hidup dan sikap. Salah satunya kebiasaan masyarakat untuk selalu tersenyum kepada orang lain serta kebiasaan hidup bersih dan teratur.
Soal investasi, JK mengatakan harus ada perbaikan infrastruktur berupa bandara, pelabuhan, dermaga hingga bandara. Pasalnya kehadiran wisatawan ke komodo untuk melihat sesuatu yang lain. “Bagaimana kita ajak mereka dan para wisatawan terkesima melihat komodo,” kata JK.
![]() |
| Anggota Komisi A DPRD NTT sedang berada di ruang lobi DPRD Bali |
sergapntt.com [DENPASAR] – Maksudnya ingin menuai hasil yang aduhai, eh,,, justru kesialan yang didapat. Begitulah yang dirasakan 10 Anggota Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat berkunjung ke Denpasar, Bali, Senin (30/1/12) lalu.
Dalam jumpa pers itu, Gabriel Beri Bina berdalih, kedatangan mereka ke Bali untuk bertemu dengan Camat Denpasar Selatan terkait pengelolaan e-KTP. “Kami ingin belajar tentang e KTP. Kenapa itu penting karena Bali merupakan propinsi pertama yang menginisiasi e-KTP di Kabupaten Jembrana yang kemudian di respon oleh pemerintah pusat. Karena Bali yang paling dekat dengan NTT maka kami belajar disini,” ujar Beri Bina.
Rombongan anggota legislatif dari NTT ini, lanjut Beri Bina, merujuk ke Kecamatan Denpasar Selatan (Densel) dan bertemu langsung dengan Camat Kecamatan Densel untuk studi banding tentang persiapan infrasturktur dan pendataan.