Si “Api” Yang Tak Kunjung Padam


sergapntt.com – Tahun berjalan, mode berganti, post-modernisme menggantikan modernisme, kepemimpinan demokratis menggantikan kediktatoran, dan tembok berlin jatuh ke bawah tembok kapital. Tapi sampai hari ini,  pesan Che Guevara tetap menjadi suluh bagi mereka yang percaya bahwa dunia yang lebih baik itu mungkin.

Ada sesuatu dalam hidup dari peninggalan dokter Argentina, gerilyawan, revolusioner Cuba yang masih di bicarakan oleh generasi penerus hingga kini. Siapa yang dapat menjelaskan menggunungnya jumlah artikel, buku, film, debat tentang che ? Peringatan 30 tahun kematiannya dilakukan dengan berbagai macam acara, Siapa yang tertarik pada 30 tahun kematian Joseph Stalin ?
Seperti Jose Marti, Emiliano Zapata, Augusto Sandino, Farabundo Marti, Camilo Tores, Che adalah salah satu pejuang yang tewas disaat pertempuran, saat senjata masih dalam genggaman, dan seorang yang menjadi, selamanya, benih yang di taburkan di tanah Amerika Latin, menjadi malaikat dalam surga harapan dan keinginan, menjadi bara yang menyala dibawah abu ketidakpuasan dan keresahan.
Di dalam setiap kebangkitan gerakan revolusioner di Amerika Latin selama 30 tahun ini, mulai dari Argentina sampai Chili, dari Nicaragua sampai El Savador, dari Guatemala sampai Mexico dan Chiapas, selalu ada jejak dari “Guevarismo”, kadang jelas, kadang tidak. Tidak hanya dalam pandangan kolektif mereka yang berjuang saja, tapi juga dalam perdebatan mereka tentang metode, strategi, dan di setiap bibit-bibit perlawanan.
Bibit-bibit Guevarismo telah di semaikan selama 30 tahun terakhir, di tanah yang dipupuk oleh budaya politik kaum kiri Amerika Latin. Sekarang bibit itu telah menjadi ranting, daun-daun, dan buah. Jejak-jejak Che adalah satu benang merah dari mereka yang ada di Pantagonia sampai Rio Grand, yang menenun mimpi-mimpinya.
Apakah ide-ide Che ketinggalan jaman ? Apakah mungkin mentransformasikan atau merubah  Amerika Latin tanpa Revolusi ? Ini adalah teori dari beberapa teoritikus kiri Amerika Latin ( yang menyebut dirinya ”realis”) berdasarkan pengalaman selama beberapa tahun terakhir, yang dimulai oleh jurnalis dan penulis berbakat, Jorge Castaneda dalam bukunya yang terkenal yang berjudul Melucuti Utopia (1993)
Hanya beberapa bulan setelah peluncuran bukunya, negeri Castaneda, Mexico, terlihat uprising yang spektakular yang terjadi pada penduduk asli, Chiapas, di bawah sebuah kepemimpinan sebuah organisasi utopis bersenjata, EZLN, yang prinsip-prinsip pengorganisirannya berasal dari tradisi Guevarist. Benar, sangat kontras dengan grup gerilyawan tradisional, Zapatista atau EZLN, mengatakan bahwa kebutuhan obyektif mereka bukan mengambil alih kekuasaan, tapi menyediakan inspirasi dan support untuk suatu organisasi dari Mexican civil society, dengan tujuan utama perubahan besar dalam sistem politik dan sosial negeri.
Namun, tanpa  uprising di Januari 1994, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN)-masih bersenjata dalam empat tahun kemudian-tidak akan menjadi poin referensi dari neo-liberalisme, tidak hanya di Meksiko tapi juga di Amerika Latin dan seluruh penjuru dunia. Zapatismo adalah campuran dari beberapa tradisi subversif, tapi guevarismo adalah bumbu kunci di rebusan  masakan dalam  kebudayaan revolusioner yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam sebuah artikel di Newsweek, Castaneda mulai bertanya apakah benar-benar mungkin untuk menggunakan metode non-revolusioner untuk merebut kekuasaan dan kemakmuran dari tangan elit politik yang berkuasa dan orang-orang kaya, dan merubah sturktur sosial yang sudah mengakar di Amerika Latin. Jika bukti ini sangat susah untuk di temukan di akhir abad ke-21 ini, dia berkata nantinya dunia akan menyadari bahwa, “ Bagaimanpun, Che Guevara memiliki sebuah poin”
Politisi adalah Personal
Che bukan hanya seorang pejuang yang heroik, tapi juga seorang pemikir revolusioner, dengan sebuah proyek politis dan moral dan  sebuah sistem dan nilai yang kerena itu dia perjuangkan dan dia berikan hidupnya. Filosofi yang memberi dia pilihan ideologi dan politik yang koheren, berwarna, bercita rasa, adalah sebuah humanisme revolusioner yang sangat dalam. Untuk Che, Komunis sejati, revolusioner sejati adalah seseorang yang merasa bahwa problem terbesar umat manusia adalah problem dia juga, seseorang yang mampu merasakan kesedihan ketika ada orang lain yang terbunuh, nggak peduli dia berada di belahan dunia yang mana, dan merasakan kegembiraan ketika bendera kebebasan berkibar di manapun.
Internasionalisme-nya Che-sebuah jalan hidup, sebuah kepercayaan sekuler, sebuah kategori imperatif, dan sebuah semangat nasionalitas-adalah sesuatu ekspresi yang hidup dan nyata  dari humanisme marxis revolusioner ini.
Che selalu mengutip perkataan Jose Marti bahwa “setiap manusia seharusnya merasakan sakit diwajahnya ketika ada orang lain yang mukanya di tampar”. Perjuangan untuk martabat ini adalah salah satu prinsip etis yang menimbulkan inspirasi untuk semua tindakannya, mulai dari pertempuran Santa Clara sampai perlawanan terakhir di pegunungan Bolivia. Apa yang disebut Che, “bendera dari martabat manusia” masih menjadi term yang penting dalam kebudayaan Amerika Latin. Itu semua pertamakali berasal bersumber dari Don Quixote, sebuah karya yang dibaca Che di Sierra Maestra, yang di gumanakan sebagai “literatur kelas” yang memberi dia rekruitmen gerilyawan petani, dan sebuah kepahlawanan yang dengan itu dia identifikasikan melalui sebuah surat kepada orang tuanya.
Nilai ini tidak asing bagi marxisme. Marx sendiri menulis bahwa “proleteriat membutuhkan martabat sebagaimana kebutuhannya atas roti”. (“Communism and the Rhine Observer” – September 1847).
Pertimbangan pemikiran strategis-nya sering terbatasi dengan ide gerilya foco(memperluas nucleus). Tapi ide-ide dia dalam revolusi di Amerika Latin sangat mendalam. Di tahun 1967 dia mengatakan bahwa “Tidak ada perubahan yang bisa di buat : baik itu revolusi soaial maupun revolusi yang bersifat karikatif”. Akibatnya, Che membantu seluruh generasi revolusioner untuk membebaskan dirinya dari penjara “Stagisme” yang berasal dari dogmanya Stalinis. (Pesan untuk Konferensi Tricontinental, 1967).
Tentu, kia dapat menemukan dalam tulisannya-apakah dalam pengalaman di Kuba atau di Amerika Latin-dan terlebih dalam episode tragis di Bolivia, sebuah tendensi unutk meredusi revolusi ke perjuangan bersentaja, perjuangan bersenjata ke perjuangan gerilya di pedesaan, perjuangan gerilya itu sendiri yang dibentuk dalam Foco. Tendensi inilah yang mendominasi secara subasequen tradisi guevarist di Amerika Latin.
Tapi kamu juga bisa menemukan bagian-bagian dalam karyanya yang memberikan nuansa pada konsepsi gerilya-sebagai contoh dalam bagaimana pentingnya kerja politik massa, atau dalam kekurangan dari perjuangan bersenjata di negara yang ber-rezim demokratik.Tidak berarti penolakannya terhadap pembunuhan atau terorisme buta.
Peninggalan guevarist, yang ada dalam strategi grup revolusioner Amerika Latin di 60-an sampai 80-an., masih bersama kita, sebagai sebuah perasaan revolusioner dan perlawanan yang membaja dalam rangka unutk mencapai bagian yang penting dari ideology kiri, dari gerakan sosialis seperti Gerakan Buruh Tani di Brazil, unutk menyebut dirinya sendiri sebagai sosialis.
Sosialisme di Ameriak, tulis Jose Carlos Mariategui di 1929, bukannlah sebuah jiplakan, tapi sebuh kreasi yang heroik. Inilah yang dilakukan oleh Che Guevara, yang menolak menjiplak model-model yang “sudah ada” dan mencari jalan baru unutk sosialisme, secara lebih radikal, lebih egaliter, lebih bersifat persaudaraan, lebih humanis yang cocok dengan etika komunis sejati.
Salam Persaudaraan untuk umat manusia
Ide Che tentang sosialisme dan demokrasi masih berkembang sampai akhir hidupnya, tapi dalam pidatonya dan tulisannya, tiap orang bisa melihat dengan jelas ketika ia mengkritisi para pengikut Stalinis. Dalam pidatonya yang terkenal “pidato Algeria” di bulan Februari 1965 ia mengajak negara-negara yang mengaku dirinya sosialis untuk ”menarik diri dalam keterlibatannya dengan negara-negara barat yang eksploitatif”. Ia menambahkan “Sosialisme takkan dapat terwujud jika tak ada tranformasi kesadaran kita yang membimbing pada persaudaraan sesama umat manusia”.
Dalam essay bualan Maret 1965, “Sosialisme dan penduduk Kuba”, Che menganalisa model-model pembangunan struktur sosialisme di Eropa Timur. Dengan persepsi humanis revolusionernya, ia menolak konsepsi yang mengklaim “untuk menaklukan kapitalisme dengan jimat-jimatnya dalam mencapai ilusi pembangunan sosialisme lewat senjata warisan kapitalisme (komoditi-komoditi ekonomi, keuntungan, tingkat peningkatan yang signifikan dan sebagainya), kita akan menemui jalan buntu.
Menurut Che, salah satu bahaya utama dari model yang diimport dari Uni Soviet adalah ketidaksamaan pertumbuhan sosial dan bentuk-bentuk hak istimewa dari para teknokrat dan birokrat, dalam sistem redistribusi ini,”managerlah yang untung, kamu hanya butuh melihat proyek terakhir dari Republik Demokratik Jerman, hal yang penting adalah, manajemen sang direktur, atau penghargaan yang diterimanya dalam mengurus manajemen”.
Pemikiran ekonomi Che, terutama dalam hal transisi sosialisme, sangat menarik dan problematik. Menarik karena sifat egalitarian dan anti-birokrasinya, dan dalam kritiknya tentang pemujaan komoditi-atau pasar-,termasuk pemujaan yang dilakukan negara-negara yang mengaku “sosialis”.
Seorang marxis Belgia dan pemimpin Internasional IV, Ernest Mandel sependapat dengan Che dalam melawan pandangan para pengikut pemikiran ekonomi Stalin (spt Charles Bettelheim) dan orang-orang Kuba yang meniru model ekonomi Soviet tahun 1963-64.
Tapi pemikiran-pemikiran Che juga sangat problematis dalam beberapa hal. Tidak seperti yang mereka katakan maupun sebaliknya. Khususnya diamnya Che tentang  sosial demokrasi. Argumentasi Che tentang perencanaan ekonomi dan penolakan pasar tidaklah salah: sebaliknya akan muncul kekuatan baru untuk melawan neo-liberalisme yang sekarang mendominasi. Tapi pemikirannya tak meninggalkan jawaban terhadap pertanyaan inti yaitu: Siapa yang merencanakan? Siapa yang mengambil keputusan penting dalam semua perencanaan ekonomi? Siapa yang menentukan prioritas dalam produksi dan konsumsi?
Perencanaan, yang dalam hal ini tak terhindarkan, menjadi suatu bentuk otoritarian dan sistem birokrasi yang tak efisien dari sebuah kediktatoran, kecuali disertai dengan plurallisme politik, diskusi terbuka dan kebebasan untuk memilih kebijakan ekonomi mana yang akan dipakai.                                   
Sejarah Uni Soviet membuktikan, dengan kata lain, problem-problem ekonomi pada masa transisi menuju sosialisme tak dapat dipisahkan dan sangat bergantung pada sistem politik
Pengalaman Kuba 20 tahun lalu juga memperlihatkan pada kita tentang konsekwensi negatif kurangnya lembaga-lembaga yang demokratis dan sosialis. Walaupun Kuba juga dapat menghindari totalitarianisme dan perubahan bentuk-bentuk birokrasi seperti yang ada di negara-negara yang mengaku sosialis sejati.
Polemik Che terhadap pemujaan pasar memang benar, tapi argumen-argumennya akan lebih meyakinkan jika dihadapkan pada konteks demokrasi oleh para pekerja dalam hal mekanisme perencanaan. Seperti yang Ernest Mandel tekankan, ada jalan tengah antara kebuntuan pasar di satu sisi dan perencanaan birokrasi ekonomi di sisi lain: manajemen oleh pekerja sendiri, secara sentralis dan demokratis, dan perencanan manajemen oleh himpunan para produsen.
Walaupun Ia tak percaya dengan model dari Soviet dan komitmennya yang anti birokrasi, dalam hal ini, ide-ide Che masih jauh dari kejelasan.
Che mati pada tanggal 8 Oktober 1967: hari yang akan selalu diingat pada milenium tentang penindasan terhadap kemanusiaan. Peluru-peluru membunuh lagi seorang pejuang kemerdekaan, tapi takkan bisa membunuh semangat, harapan dan impiannya. Mereka yang membunuh Che Guevara, Rosa Luxemburg, Emiliano Zapata, dan Leon Trotsky sangat marah dan kecewa setelah melihat bahwa semangat juang para pahlawan itu masih hidup dari generasi ke generasi yang memperjuangkan kemerdekaan.           
Setelah runtuhnya tembok Berlin, dan berakhirnya rejim otoriter di Eropa Timur, kemenangan ekspansi para kapitalis global, dan hegemoni dari ideologi neo-liberalis,   dunia sekarang terlihat sangat jauh dari kehidupan dan perjuangan Che. Tapi bagi mereka yang tak percaya pada teori Hegel “akhir sebuah zaman”, atau keabadian ekonomi liberal/kapitalis dan bagi mereka yang selalu melawan ketidakadilan sosial dalam suatu sistem, pesan-pesan dan semangat humanis revolusioner Che masih bisa dijadikan jalan menuju masa depan yang lebih baik.                                                                                             
By. Michael Löwy

Transmigrasi Atasi Kemiskinan Di NTT


sergapntt.com, KUPANG – Transmigrasi telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya mengatasi masalah kemiskinan dan pengangguran melalui pemberian bantuan rumah tinggal yang layak dan penciptaan kesempatan kerja serta berusaha baik bagi warga transmigrasi yang tinggal di sejumlah Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) baik yang tersebar di kabupaten dalam wilayah NTT maupun yang dikirim ke berbagai daerah penerima antara lain Kalimantan, Papua, Sulawesi, Sumatera dan Maluku.
Hal tersebut diungkapkan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Administrasi Umum Sekda NTT, Ir. Eddy Ismail, MM saat membuka Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Pembinaan Pembangunan Kawasan Transmigrasi  (P2KTRANS) lingkup Provinsi NTT tahun 2012 Hotel Royal Jalan Timor Raya Kupang, Senin (19/3/12).
Menurut Gubernur, data menunjukan bahwa Kepala Keluarga (KK) yang telah mendapat program pemberdayaan dan menempati lokasi transmigrasi sampai dengan tahun 2011 adalah sebanyak 25.513 KK masing-masing 11.982 KK merupakan Transmigrasi Penduduk Setempat (TPS) tersebar pada sejumlah permukiman transmigrasi di wilayah NTT dan 13.531 KK menempati lokasi UPT di daerah penerimana sebagaimana telah disampaikan terdahulu.
“Kita berharap agar dengan kerja keras dan upaya terus-menerus dari berbagai sektor, jumlah KK miskin di NTT dari waktu ke waktu mengalami penurunan secara signifikan termasuk melalui pembangunan Permukinan Transmigrasi Baru (PTB) di 6 lokasi UPT tahun 2012 dengan daya tampung 660 KK yang terdiri dari 416 KK bersumber dari Dana Tugas Pembantuan dan 50 KK dari APBD Provinsi NTT,” jelas Gubernur.
Pada bagian lain, Gubernur Lebu Raya mengakui, penyelenggaraan pembangunan transmigrasi dengan paradigma baru berbasis kawasan yang sudah hampir 5 tahun diwacana belum bisa berjalan optimal hampir di sebagian besar kabupaten. “Beberapa tahun terakhir jumlah kabupaten di NTT yang belum mendapat alokasi dana tugas pembantuan untuk program pembangunan permukiman masih sangat terbatas termasuk tahun 2012 yakni hanya 5 Satker masing-masing provinsi dan 4 kabupaten dengan total dana Rp 33.643.870.000,-,” ungkap Gubernur.
By. Verry Guru

Pertumbuhan Ekonomi NTT 2011 Dekati 6 %


sergapntt.com, KUPANG – Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya mengaku pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT tahun 2011 mendekati 6 persen.
Demikian dikatakan Lebu Raya pada acara Rapat Koordinasi (Rakor) dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Belu di aula Rumah Jabatan Bupati Belu, Sabtu (17/3/12).
Lebu Raya menjelaskan, pelaksanaan pembangunan tahun 2011 telah dilalui dengan hasil cukup berprestasi yang didasarkan atas berbagai capaian seperti APBN dan APBD Provinsi terealisir di atas rata-rata nasional yaitu mencapai 90% atau meningkat dibandingkan tahun 2010, pertumbuhan ekonomi tahun 2011 mendekati 6 %, angka kemiskinan menurun dari 21,23 % pada Maret 2011 menjadi 20,48 % September 2011 atau menurun 0,75 % dan pertumbuhan simpanan bank meningkat rata-rata 15 % per tahun.
Pelaksanaan empat tekad pembangunan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat juga berkembang dengan baik dengan capaian seperti areal tanam jagung makin meningkat karena ada dukungan traktor besar dan perbaikan distribusi benih, hasil sensus ternak tahun 2011 mencatat peningkatan populasi sapi mencapai 778.633 ekor atau naik sekitar 30 % lebih dan populasi cendana terus meningkat karena didukung master plan yang telah disepakati Pemerintah Daerah dengan Kementerian Kehutanan RI serta NTT telah menjadi Provinsi Koperasi dengan perkembangan koperasi yang pesat dimana saat ini berjumlah 2.291 buah dengan anggota 521.516 orang dan aset mencapai Rp. 1, 515 triliun lebih.
Pelaksanaan pembangunan, program dan kegiatan yang memiliki daya ungkit besar bagi pembangunan Kabupaten Belu tahun 2012 harus dapat terlaksana dengan baik. Sehubungan dengan itu kata Gubernur, perlu komitmen dan rasa memiliki yang tinggi terhadap setiap hasil pembangunan yang telah dicapai.
“Untuk itu selaku Pemerintah Pusat di daerah, saya akan terus mendorong adanya transparansi dan akuntabilitas setiap pembangunan yang dilaksanakan dari seluruh sumber dana yang ada,” ucapnya.
Menurut Lebu Raya, pertemuan ini sangat strategis dalam menggalang kebersamaan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan pembangunan  tahun 2012 sehingga memperbesar peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Saya juga berharap adanya kebersamaan yang terus-menerus kita galang untuk mencegah adanya kesenjangan informasi antar elemen pembangunan dan pada akhirnya akan memotivasi kita semua,” ujarnya.
Pada kesempatan itu juga Gubernur NTT melakukan penyerahan paket pembangunan tahun 2012 kepada Bupati Belu, Drs. Joachim Lopez berupa bantuan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) juga penyerahan secara simbolis Program Desa / Kelurahan Mandiri Anggur Merah tahun 2012, biaya operasional kecamatan program desa/kelurahan mandiri Anggur Merah untuk 24 kecamatan, biaya operasional desa/kelurahan program desa mandiri Anggur Merah untuk 24 desa/kelurahan, bantuan pemugaran perumahan lingkungan desa/kelurahan dan bantuan untuk Kapela Halibot dan Naekasa Kecamatan kobalima serta alokasi PNPM Mandiri Pedesaan.
By. Verry Guru

Gubernur Minta Perawat Kerja Lebih Profesional !


sergapntt.com, KUPANG – Perawat harus kerja lebih profesional. Untuk itu, maka kompetensi perawat mesti terus-menerus ditingkatkan dari waktu ke waktu, antara lain melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan. Ini demi menunjang dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Permintaan tersebut diungkapkan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Sekda Provinsi NTT, Frans Salem, SH, M.Si pada acara peringatan HUT Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ke 38 tingkat Provinsi NTT di Aula El Tari Kupang, Senin (19/3/12).
Menurut Gubernur, organisasi profesi PPNI juga mesti terus melakukan pembenahan dan penguatan secara kelembagaan, terus bersinergi dan membangun kerja sama kemitraan dengan semua elemen masyarakat di daerah ini, termasuk dengan Pemerintah Daerah dan organisasi profesi lainnya, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan lain sebagainya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan tepat sasaran kepada masyarakat.
“Saya berharap data base seluruh perawat di daerah ini musti terdata dan teregistrasi secara baik,” pinta Gubernur.
Momentum peringatan HUT PPNI sebut Gubernur, harus dimaknai dengan sungguh-sungguh selain sebagai moment refleksi dan evaluasi, moment persatuan, persaudaraan dan kebersamaan; tetapi juga sebagai moment peneguhan komitmen dan menggairahkan kembali semangat kerja dan pelayanan, khususnya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di daerah ini.
“Moment HUT PPNI ke 38 ini juga harus dijadikan momentum untuk memperkenalkan profesi keperawatan ini kepada masyarakat agar semakin dicintai dan dihargai,” tegas Gubernur seraya menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama dan kerja keras para perawat dalam melayani masyarakat yang ada di daerah ini.
By. Verry Guru

Presiden Tidak Tega Naikan Harga BBM


sergapntt.com, KUPANG – Wakil Gubernur NTT, Esthon Foenay mengaku sebenarnya Presiden RI, Susilo Bambang Yudoyono tidak tega menaikan harga BBM. Namun kebijakan tersebut harus diambil untuk menyelamatkan bangsa dari keterpurukan ekonomi.
“Sebenarnya Bapak Presiden tidak tega untuk menaikkan harga BBM,” ucap Esthon Foenay saat bersama Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menggelar Rapat Fasilitasi Koordinasi Pimpinan Daerah dalam Mewujudkan Ketenteraman dan Ketertiban Masyarakat di Provinsi NTT yang dihadiri Bupati/Wakil Bupati, Kajari, Kapolres dan Dandim se NTT di Hotel Sylvia Kupang, Senin (19/3/12).
Pernyataan Esthon dan rapat di Sylvia itu terkait rencana Pemerintah Pusat menaikkan harga BBM terhitung Minggu 1 April 2012 mendatang.
Menurut Esthon, saat dirinya mengikuti rapat bersama Presiden dan Wapres di Jakarta, pada Kamis (15/3), Presiden mengatakan kenaikan harga BBM sesungguhnya bukanlah sebuah kebijakan yang populer.
“Karena bakal menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Karena itu, perlu koordinasi secara vertikal dan horisontal seluruh stakeholder yang ada di masyarakat. Apalagi rencana pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebagai dampak dari kenaikan harga BBM. Hindari barisan sakit hati dalam masyarakat,” pinta Esthon.
Mekanisme pemberian BLSM, jelas Esthon, akan disalurkan melalui Kantor Pos dan diberikan selama 9 bulan ke depan, tetapi proses pencairannya dibayarkan per tiga bulan.
“Saya berharap agar ada data yang akurat dan jelas berkaitan dengan kelompok sasaran yang akan menerima program BLSM,” ucapnya.
Kata Esthon, hasil deteksi Menko Polhukam RI, ada tiga (3) kelompok yang ada dalam masyarakat yang berkaitan dengan pro dan kontra rencana kenaikan harga BBM.
“Pertama, ada kelompok yang paham dan mengerti terhadap rencana pemerintah menaikan harga BBM. Kedua, ada kelompok yang mengerti tapi tidak mau bekerja. Dan ketiga, ada kelompok yang sangat mengerti tapi tidak mau mengerti dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Kelompok-kelompok ini juga harus bisa terdeteksi di daerah ini. Tetapi arahan Bapak Presiden aksi-aksi demonstrasi yang anarkhis segera ditindak tegas,” papar Esthon mengutip pesan Presiden.
Sedangkan Gubernur Lebu Raya menuturkan, kalau ada program BLSM sebagai akibat dari dampak kenaikan harga BBM maka apa yang harus disiapkan oleh pemerintah.
“Apa yang musti dilakukan manakala ada penolakan-penolakan dengan cara unjuk rasa. Ini yang harus dibicarakan dan prinsipnya kita tetap jaga keamanan dan ketenteraman dalam masyarakat,” tegas Gubernur dan meminta kepada para Bupati/Walikota untuk memantau harga-harga di pasar yang mulai merangkak naik.
By. Verry Guru