Terumbu Karang di Teluk Maumere Rusak Parah


sergapntt.com – Sekitar 75 persen terumbu karang di Teluk Maumere, Kabupaten Sikka mengalami kerusakan akibat cara penangkapan ikan yang dilakukan nelayan menggunakan bom dan racun-racun lainya.
“Berdasarkan hasil penelitian pada 97 titik di perairan Teluk Maumere dan sekitarnya, sebagian besar terumbu karang yang ada mengalami kerusakan atau mati. Yang baik atau masih hidup berkisar 25 persen,” kata Direktur Yayasan Mitra Bahari, Piter Embu Gusi, di Maumere, Kamis pekan lalu
Dia menjelaskan, data tersebut disampaikan berdasarkan hasil penelitian Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap), sebuah program bantuan asing yang memfokuskan perhatian pada bidang pengelolaan terumbu karang.
Akibat dari terumbu karang yang sudah rusak itu, katanya, jumlah ikan yang hidup di laut berkurang, penghasilan nelayan menurun dan sumber nutrisi untuk manusia pun ikut berkurang.
Selain itu, lanjut Gusi, terumbu karang yang merupakan salah satu dari ekosistem yang ada di laut, juga memiliki fungsi yang sama seperti ekosistem lainya yakni padang lamun dan hutan ikut hancur.
“Apabila dikaitkan dengan konteks bencana, ketiga ekosistem ini dapat berfungsi untuk memperlambat laju gelombang tsunami. Dan kalau salah satunya rusak, akan menggangu yang lain karena ketiga merupakan satu sistem,” ujarnya.
Dia menambahkan, hutan bakau selain menahan laju gelombang tsunami, juga penahan abrasi dan sebagai filter saat terjadi sendimentasi (pengendapan) banjir dari gunung. Banjir yang membawa lumpur dan tidak tersaring akan merusak dan mematikan terumbu karang dan padang lamun.
Menurut Gusi, terumbu karang di Teluk Maumere memiliki keindahan dan aneka warna sehingga dijadikan sebagai salah satu taman laut di Indonesia. Namun banyak di antaranya rusak karena kegiatan pengemboman ikan dan gempa bumi yang terjadi pada 1992.
Dengan adanya kegiatan konservasi laut yang dilakukan melalui program Coremap, lanjut dia, pemulihan terhadap kondisi terumbu karang dan ekosistem lainnya di Teluk Maumere, bisa teratasi dari waktu ke waktu.
“Dampak jangka pendek yang sudah tampak adalah perubahan perilaku. Masyarakat pesisir sudah mulai disadarkan dan meninggal cara penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” ungkap Gusi.
Dia berharap program untuk kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat pesisir terus ditingkatkan mengingat untuk mengubah kebiasan yang sudah dilakukan turun temurun seperti penangkapan ikan dengan cara bom, tidak bisa dilakukan secara sporadis. (by. on)

Jujurlah Pada Sejarah


sergapntt.com [Adonara] – Perang tanding yang terus berkecamuk saban tahun antara Tobi dan Lewokeda, telah mendapat kesejukan melalui ritus perdamaian, 29 Desember 2007 lalu. Perdamaian itu ditandai dengan ritual adat ”Toba Eken, Bito Wato, Tudek Lia”. Bupati Flores Timur, Drs Simon Hayon, berharap agar Tobi dan Lewokeda jujur pada sejaran sehingga konflik berdarah itu tidak akan terulang lagi.
Bertempat di kampung adat Tobi – Lewokeda, ritual adat itu dilakukan. Hadir pada saat itu semua komponen masyarakat dari kedua kampung yang bertikai selama kurang lebih tujuh tahun tersebut. Ritual adat itu menandakan bahwa perang tanding antara kedua kampung bertetangga yang mempersengketakan lahan pertanian itu, telah berakhir. Yang ada, hanya harapan dan kejujuran bersama terhadap sejarah konflik tersebut, sehingga tidak lagi terjadi pada masa-masa mendatang.
Dari Kiwang Ona, kontributor Sergap NTT melaporkan, proses perdamaian tersebut didesain dalam sebuah sekenario besar bahwa yang ingin dicapai dari ritual adat tersebut adalah perdamaian secara menyeluruh sesuai adat kebiasaan, melalui tahapan Toba Eken, Bito Wato dan Tudek Lia. Ini adalah tahapan kritis dimana perdamaian itu bisa tercapai atau malah gagal. Namun, dengan telah dilakukannya ritus adat itu, berarti tahapan kritis telah dilalui dengan baik. Dan, secara adat kebiasaan pun, perang telah dinyatakan selesai, yang ditandai dengan dilucutinya kekuatan magis dari perangkat utama perang. ”Eken dicabut atau direbahkan, batu dibongkar dan halia dicampakan. Karena itu, semua tata cara dan proses ritus-ritus adat untuk melakukan perang kembali, tidak lagi diperbolehkan ada. Semua sudah menjadi terlarang dengan adanya ritus adat tersebut,” kata seorang tokoh adat di wilayah itu kepada Vista.
Ia menjelaskan, dengan tahapan ini dapat dikatakan bahwa proses perang menemukan antiklimaksnya, sehingga terbentang luas jedah kemanusiaan; untuk berpikir kembali soal kejujuran tuturan sejarah kepemilikan tanah. Juga, jedah untuk berpikir kembali soal untung rugi perang. Jedah untuk berpikir kembali soal berunding dan jalan-jalan damai. Jedah untuk berpikir kembali soal berbagi hidup. Jedah untuk berpikir kembali soal hubungan kekerabatan: opu pai, kaka ari, bine ana, nayu baya. Jedah untuk berpikir kembali soal tanah untuk perdamaian. Jedah untuk berpikir kembali soal yang pro hidup.
Yang menarik, ketika sedang berlangsung ritual adat untuk perdamiaan tersebut, alam pun menunjukkan simpatinya. Hujan pun mengguyur, seakan mendinginkan panas yang menyengat bumi. Orang-orang kampung pun berkeyakinan, bahwa yang panas-panas telah didinginkan oleh air dari surga. Dan, semuanya menjadi sempurna jika diikuti dengan tindakan nyata manusia di bumi untuk menjadikan perdamaian itu terwujud.
Lurah Lawatwelu, H. Ola Padak dan Pemuka adat Tobi, Bapak Gewayo, mengharapkan kepada semua pihak, termasuk pemerintah kabupaten Flotim, agar mereka tidak ditinggalkan, tapi terus dibantu, didampingi, dimediasi agar mereka menjadi damai kembali seperti sedia kala.
”Ritual adat untuk perdamaian itu juga dihadiri oleh orang dari LP2A Jakarta, yang disebut-sebut menjadi otak penyelesaian konflik tersebut. Pada upacara ini, hadir pula orang dari LP2A Jakarta, yang menjadi otak penyelesaian konflik tersebut,” katanya.
Bupati Flores Timur, Drs Simon Hayon, dalam arahannya mengatakan, konflik antara Tobi dengan Lewokeleng adalah soal kejujuran. ”Kejujuran untuk menceriterakan sejarah secara jujur, yang mestinya dimulai dari pihak Lewokeda sebagai pokok pangkal cerita. Saya harapkan pada akhirnya dari tiga klik keluarga Lewokeda muncul cuma satu cerita, bukan tiga cerita,” kata Hayon, seraya mengingatkan agar dalam penanganan konflik kejujuranlah yang diperbanyak, bukan aparat keamanan.+++ daniel ama nuen

Guru Agama Yang Sadis


sergapntt.com (Wetabula) – Andreas alias Adi, menjadi korban sia-sia dari ulah kakaknya, Dominggus (29). Domi yang adalah Guru Agama ini tega menebas adiknya hingga tewas setelah sempat dirawat di rumah sakit Karitas Wetebula, Sumba Barat.
Dini hari pada tanggal 15 Januari 2008, sekitar pukul 01.00 Wita, Kampung Kelembu Podu, Kecamatan Tanah Righu, Lokoy, geger oleh pembunuhan yang tergolong sadis. Andreas alias Adi, tewas dibunuh kakak kandungnya, Dominikus. Istri korban (Adi), Lidia kepada Sergap NTT, pekan lalu, membeberkan peristiwa naas yang menimpa suaminya tersebut.
Ia mengatakan, motif pembunuhan suaminya tidak jelas. Ia bercerita, pada malam naas itu, suasana sekitar kampung sepih, semua penghuni kampung sudah tidur lelap. Tak ada yang tahu kalau di salah satu sudut kampung itu terjadi pembunuhan terhadap Adi, oleh saudara kandungnya.
Yang tahu, cuma istri korban, Lidia, yang malam itu menyaksikan kekejaman saudara kandung dari suaminya, yang dikenal masyarakat sebagai guru agama itu, membunuh suaminya.
Menurut Lidia, sebelum kejadian sadis itu, korban, pelaku dan Yakub (seorang rekan mereka) berboncengan dengan sepeda motor berbelanja di kiosnya Ama Tuti alias Tinus. Mereka membeli minuman keras dan langsung minum di kiosnya ama Tinus hingga larut malam. Karena sudah larut malam, korban dan saudara kandungnya dan seorang rekan mereka, pamit dari kiosnya ama Tinus ke Kelembu Podu. Tiba di Kelembu Podu pukul 01.00 Wita. Korban, Adi, langsung masuk kamar dan tidur.
Tidak lama berselang, istri korban tersadar dari tidurnya dan mendengar suara korban yang adalah suaminya, mengatakan, sumpah…….sumpah….., tanpa tahu apa sesungguhnya yang terjadi dengan suaminya. Saat itu, suara Domi, pelaku pembunuhan yang adalah kakak korban, terdengar semakin keras dan sangat kasar terhadap korban.
Lidia menduga, Domi (pelaku) dan rekannya Yakub, sudah merencanakan pembunuhan tersebut. Indikasinya, kata Lidia, mereka berusaha menjebak korban dan memang korban terperangkap jebakan mereka dengan bersama-sama menenggak minuman keras sebelum peristiwa naas itu terjadi. Akibatnya, nyawa Adi menjadi korban kekejaman kakak kandung sendiri. ”Malam itu, memang Domi tidak bisa kendalikan emosinya. Apalagi dia dalam keadaan mabuk sambil berteriak dengan suara kasar terhadap si korban. Keluar……..kau!,” kata Lidia, mengutip teriakan Domi, pelaku pembunuhan tersebut.
Karena korban tak juga keluar dari kamar tidurnya, pelaku (Domi) dengan paksa membuka pintu dan sambil membawa parang dan mengejar korban. Korban juga bangun dan sambil berteriak minta parang kepada istrinya. Namun, sang istri tidak memberi parang, malah menyembunyikan parang tersebut.  Akibatnya, pelaku semakin garang dan dengan mudah melumpuhkan korban dengan beberapa kali tebasan parang. Meski sempat dihadang  oleh Yakub dengan menangkap dan menahan Domi, namun saking emosinya, Domi langsung menebas korban dan mengenai tangan kiri korban. Korban bersimbah darah. ”Saat itu saya sempat berteriak-teriak melarang Domi untuk tidak membunuh Adi. Tapi, Domi sudah kalap dan tidak bisa dibendung,” tutur Lidia sembari mengurai air mata.
”Saya berulang kali teriak minta tolong tapi tidak ada yang dengar. Suami saya tidak bisa berdaya, akhirnya suami saya mati dibunuh oleh kakak kandung sendiri,” ujarnya. Dia mengaku menyaksikan suaminya tergeletak tak berdaya di emperan rumah bersimbah dara.
Menurutnya, setelah Domi menebas Adi, suaminya, pelaku masih sempat mendekati korban dengan lampu pelita sembari mengejek, ”E…. lu belum mati juga?
Malam itu juga, korban langsung dilarikan ke rumah sakit Malata. Sayangnya, tim medis yang menangani korban mengaku tidak bisa menyelamatkan nyawa korban.
Kakak korban lainnya, Yosafat, memutuskan untuk menghubungi mobil ambulans untuk membawa korban ke Rumah Sakit Karitas Wetebula. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, korban masih sempat mengatakan kepada Yosafat, kakaknya, agar ”Jangan pernah meninggalkan dirinya sampai di mana pun berobat. ”Bila saya tidak bisa diobati, saya harus pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Lidia mengutip kata-kata suaminya.  
Sesudah tiba di rumah sakit, korban minta air teh. Korban sempat ditangani secara medis, namun keadaanya bertambah parah. Dan, ketika kakaknya, Yosafat, kembali ke rumah untuk mengambil makanan (bubur), korban menghembuskan nafas terakhir. Korban meninggal dunia.
Pada malam naas itu juga, Domi dan rekannya, Yakub, langsung diamankan di Kapolsek Malata untuk dimintai  keterangan. Keesokan harinya, tanggal 16 Januari 2008, sekitar pukul 18.00 Wita, pelaku dipindahkan ke Polres Wetebula untuk menjalani proses hukum. +++ martinus pandang

Rekor Amoral Seorang Polisi


sergapntt.com – Bripda Yulius Lakusa dari Polres Kupang mencatat rekor amoral yang memantik amarah. Yakni, menghamili dua wanita sekaligus. Yang satu, mahasiswi jurusan Kimia sebuah universitas di Kupang. Korban lainnya, mantan karyawati Flobamor Mall.
Betulkah polisi itu “pengayom” masyarakat? Bisa iya. Tapi, dalam praktek polisi sering tak hanya “mengayomi” tapi juga menghamili. Tengoklah rekor buruk Yulius Lakusa, anggota polisi dari Polres Kupang. Anggota polisi berpangkat Bripda ini mencatat rekor amoral dengan menghamili dua wanita sekaligus. Yang satu, mahasiswa jurusan Kimia, salah satu universitas di Kota Kupang. Korban lainnya, mantan karyawati Flobamor Mall.
Bagaimana kisahnya sampai anggota polisi ini mampu mengibuli dua gadis sekaligus?
Mahasiswi jurusan Kimia, salah satu korban “keganasan seks” polisi amoral itu berkisah, ia berkenalan  tahun 2004 di depan gereja Getsemani, Bau-Bau, Kupang, ketika Yulius masih magang di Polsek Bau-Bau. Kabarnya, ketika beradu pandang pertama kedua insan itu langsung lengket kayak perangko. Sebagaimana pakem asmara, awal percintaan selalu diwarnai romantisme. Yulius selalu telaten antar-jemput mahasiswi itu dari rumah ke kampus dan sebaliknya. Kisah cinta ini sempat diwarnai error dua kali. Tapi, Nopember 2006, keduanya tancap cinta kembali.
Setahun kemudian, Yulius dipindahkan dari Polsek Bau-Bau ke Polsek Camplong. Dalam perjalanan cinta selanjutnya, pada Pebruari 2007, Yulius melancarkan rayuan maut, yakni minta BBM alias Bobo Bobo Mesra untuk hubungan intim dan berjanji untuk bertanggungjawab, jika mahasiswi itu hamil. Janji gombal itu dipercaya begitu saja oleh mahasiswi itu, sehingga pada akhirnya Maret 2007, mahasiswi itu hamil. Bersamaan itu, Yulius dipindahkan ke Polres Kupang dan minta curi dua pekan untuk mudik ke pulau Kisar. “Sebelum dia pergi, beta minta dia memeriksakan kandunganku. Tapi, dia bilang nanti setelah pulang dari Kisar baru diurus,” kenang mahasiswi itu dengan nada memelas.
Dalam suasana tak menentu, orang tua mahasiswi itu mulai curiga melihat kondisi anaknya. ”Tapi, beta jujur mengatakan kepada bapa dan mama bahwa beta terlambat haid satu bulan. Bapa dan mama tidak marah, karena mereka tahu Yulius sering ke rumah dan hubungan kami sudah begitu dekat,” papar mahasiswi itu menjawab pers di ruangan Humas Pemerintah Kabupaten Kupang.
Seterusnya ketika Yulius mudik dari Kisar, ia berjanji akan memeriksakan kandungan mahasiswi itu ke dokter. Akhirnya April 2007 melalui tes di Klinik Betlehem, Oesapa, diketahui mahasiswi itu hamil dua bulan. “Beta tanya pendapatnya bagaimana. Yulius jawab bahwa dia bertanggungjawab dan akan menginformasikan hal ini kepada orang tuaku,”  kisah mahasiswi itu. Yulius, akhirnya ke rumah orang tua mahasiswi itu dan menyatakan bahwa ia bertanggungjawab. Bahkan, ia mengumbar janji untuk secepatnya menginfo keluarganya agar kisah cinta itu secepatnya diproses secara adat.
Namun, apa yang terjadi? Suatu ketika selepas kuliah, mahasiswi malang itu mampir ke kos Yulius. Dari luar ia mendengar suara Yulius tergelak manja diselingi erangan hebat bersama seorang wanita. Betapa kagetnya mahasiswi yang sudah hamil dua bulan itu. Ia mendapatkan Yulius sedang bugil dan asyik main ranjang dengan Monika Pandie, wanita asal Oesapa. “Beta tidak ada reaksi apa-apa. Beta duduk di luar kos,” tutur wanita malang ini. Seusai main ranjang, Yulius keluar menemui mahasiswi malang itu. “Beta tanya Yulius, apa mau urus saya atau wanita itu. Tapi, dia jawab, lu tenang saja. Kita urus bae-bae,” kenang  mahasiswi tersebut atas adegan yang paling menyakitkan dalam hidupnya itu. Mahasiswi itu sempat mudik ke rumah dan menginfo orang tuanya tentang tabiat Yulius yang kedapatan sedang “main perempuan”. Tapi, orang tua menyarankannya untuk mudik ke kos Yulius. Di situ, ia duduk menunggu kayak satpam selama satu hari sejak pagi sampai malam. Karena kepayahan, mahasiswi itu tertidur di kost temannya di samping kamar Yulius. Ketika itu Yulius sempat memberi anggur dan memaksa mahasiswi itu minum untuk menggugurkan kandungannya. “Kamu yang baru dua bulan saja, mengapa tidak bisa minum,” kata Yulius setengah memaksa pada mahasiswi itu. Tapi, mahasiswi itu menolak dan ditempeleng Yulius. Bahkan Yulius main ancam. Dia mengatakan tak takut jika kasusnya itu dilapor ke Kapolres dan Kapolda. Tapi, keesokan harinya ketika amarahnya padam,Yulius mampir ke rumah mahasiswi itu untuk meminta maaf atas tindakannya.
Sejenak Yulius memperlihatkan itikadnya untuk menikah. Bahkan, dia mengajak mahasiswi itu untuk berdua membeli cincin nikah. Tapi, mahasiswi itu menolak karena belum menginfo orang tuanya. Sikap mahasiswi ini membuat Yulius marah besar dan menamparnya. Ia juga menelpon Monika Pandie dan berdua melancong entah ke mana, meninggalkan mahasiswi itu. Akhirnya mahasiswi itu bersama ibunya mengecek ke Kabag Min Polres Kupang. “Kami tanya mengapa sampai sekarang belum bisa nikah dengan Yulius. Kabag Min jawab, Yulius sudah punya isteri. Jadi, kalau mau nikah lagi harus ada surat persetujuan isteri pertama,” kenang mahasiswi itu dengan wajah memelas. Sejak itu, mahasiswi itu baru sadar jika Yulius sudah menikahi Mateldha Pello, asal Camplong.
Singkat cerita Yulius dikenal sebagai polisi yang punya akal licik. ”Di sana dia hamili orang, di sini juga hamili orang,” tutur Vita, mahasiswi yang dihamilinya itu. Kini, Vita berusaha tegar untuk hidup menanggung derita.
MP, mantan karyawati Flobamor Mall juga punya nasib serupa, yakni dihamili dan ditinggalkan Yulius. Wanita itu berkenalan dengan Yulius Nopember 2002, antara lain di Flobamor Mall dan di depan asmara Brimob, Kupang. Tatapan perdana itu membuat keduanya pacaran sampai hubungan intim. Apalagi, Yulius berjanji bakal menikahi MP. Sampai akhirnya menjelang 2003, MP hamil. Saat itu Yulius sedang tes masuk polisi. Itu pasalnya, MP menutup rapat-rapat kisah cintanya bersama Yulius sampai akhirnya ia hamil. Akhirnya, MP dipinang Yulius 12 Desember 2003. Setelah melahirkan, hubungan keduanya dijaga kerahasiaannya karena Yulius sedang dalam ikatan dinas kepolisian. Dalam status ikatan dinas seorang polisi dilarang menikah. “Anak saya dan Yulius bernama Yuvita Andini Sartini,” kisah MP. Seterusnya, Yulius tinggal di kos karena masih dalam status ikatan dinas, sedangkan MP membawa anaknya tinggal di Camplong bersama orang tuanya.
Namun, dalam perjalanan, Yulius menghamili YT (23). Anak hasil hubungan Yulius bersama YT dinamai Joe (0,2) tahun. Anehnya, ketika MP dan YT melaporkan masalah amoral ini ke Kapolres Kupang, ternyata dicuekin. Bisa begitu ya, Kapolres? Bahkan, MP mengaku sudah ratusan kali menghadap Kapolres Kupang. Tetapi, Kapolres mengatakan “Saya ini gila na, ke laut na dan macam-macam,” papar MP. +++ marthen, rudy

P2DTK Masuk Wewiku


sergapntt.com [WEOE] – Masyarakat di wilayah kecamatan Weweiku, Kabupaten Belu, boleh berbangga. Sebab, wilayah itu mulai kebagian program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Kasus (P2DTK). Program itu diberikan melalui bantuan dana Bank Dunia sebesar Rp300 juta untuk tahap pertama.
Menurut Fasilitator Kecamatan Wewiku, Anderias Seran dan Ibu Ani dalam acara tatap dengan para kader P2DTK Sekecamatan Wewiku, di di Kantor Desa Weoe, pekan lalu, dana tahap pertama ini akan digulirkan untuk beberapa desa. Sedangkan bantuan tahap berikutnya akan bergulir untuk desa-desa lainnya. Kegiatan yang dihadiri 24 peserta dari tiap-tiap desa itu berlangsung dari tanggal  11-15 Desember 2007.
Anderias dan Ibu Ani mengatakan, fasilitator kecamatan harus berkoordinasi dengan fasilitator desa dan harus transparan guna memberantas hal-hal yang menghambat jalannya roda pemerintahan, baik tingkat kabupaten, kecamatan maupun desa. 
“Semua Fasilitator membutuhkan kerjasama dengan lembaga-lembaga pemerintahan Desa, BPD, tokoh masyarakat, tokoh agama, rokoh adat  dan masyarakat,” katanya.
Salah seorang peserta pelatihan kader P2DTK, Egidius Bria, mengatakan,  dalam menangani masalah-masalah dalam masyarakat diharapkan kerjasama yang baik sehingga program P2DTK berjalan sebagaimana yang diharapkan. “Dana P2DTK diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Wewiku, Emanuel Nahak,S.Sos yang mewakili Camat Wewiku, Phelipus Nahak, BA mengatakan, pemanfaatan dana P2DTK benar-benar menyentuh kepentingan pembangunan dan dapat dinikmati oleh masyarakat.
Namun informasi yang dihimpun Sergap NTT dari kalangan masyarakat menyatakan kekecewaan terhadap pengguliran dana P2DTK oleh Bank Dunia karena dana bantuan itu baru direalisasikan akhir tahun 2007. “Mengapa bukan diawal tahun anggaran 2007, ada apa?” gerutu seorang warga +++ eduardus klau