Berkumpul dan Berkreasi di Mafera


TIMORense – Mahasiswa sebagai kalangan berpendidikan, selain dituntut memiliki moral dan prestasi yang baik. Diharapakan punya kreatifitas dan ikut memberikan sumbangsih dalam bidang pendidikan itu sendiri maupun bidang lainnya dalam segi kehidupan masyarakat.
MAFERA (Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unwira), merupakan sebuah komunitas mahasiswa yang hadir dan diharapakan bisa menjawab tuntutan tersebut. Dimulai sejak Fakultas Ekonomi Unwira dibuka tahun 1989. Beranggotakan seluruh mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Katholik Widya Mandira Kupang, komunitas ini sempat vakum  beberapa tahun karena beberapa kendala.
Tahun 2006 lalu, karena desakan dari pihak universitas dan fakultas bahwa mahasiswa harus ikut berperan aktif dalam meningkatkan akredetasi kampus, komunitas ini kembali diaktifkan. Awal berdirinya kembali, komunitas ini menunjukan aksinya, dengan melakukan gebrakan kegiatan awal yaitu KKBM (Kegiatan Kemah Belajar Mahasiswa) di Larantuka.
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih dua minggu tersebut berisi kegiatan Seminar dan sosialisasi Koperasi oleh mahasiswa fakultas ekonomi. Kegiatan kerja bhakti bersama masyarakat dan pertandingan persahabatan bola kaki dengan pemuda setempat.
Menurut ketua Mafera, yang juga merupakan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas Ekonomi Unwira, Junixon Pratama Kolloh, setiap periode program kerja atau kegiatan yang dilakukan MAFERA selalu berbeda-beda.
Tetapi ada salah satu program atau kegiatan yang selalu rutin dilakukan MAFERA yaitu MAFERA CUP, turnament futsal antar SMA/Universitas sekota Kupang yang diselenggarakan setiap tahun, untuk memperebutkan piala bergilir dan piala tetap.  Selain turnament futsal, ada satu kegiatan sosial yang sering diadakan MAFERA yaitu melakukan kunjungan ke panti asuhan setiap menjelang perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Natal, Idul Fitri, Nyepi, Paskah, Idul Adha,dll.
Kegiatan sosial lainnya yang pernah dilakukan MAFERA yaitu, Bulan Desember lalu, mengadakan pengembangbiakan atau budidaya ikan lele di Desa Baumata dengan memberikan bantuan kepada masyarakat berupa bibit ikan lele. Selain berkreatifitas di bidang pendidikan dan sosial kemasyarakatan, MAFERA Juga sering mengadakan event di bidang entertain seperti mengadakan perlombaan Dance dan Band.
Sejak aktif kembalinya pada tahun 2006 sampai dengan saat ini MAFERA telah mengadakan dua kali lomba dance dan Band yang disponsori juga oleh Telkomsel dan DJarum. Kepanitiaan dalam lomba ini biasanya juga digabung dari pihak luar khususnya desain panggung. Kemudian selebihnya ditangani MAFERA. Mengenai dana-dana dari setiap kegiatan mereka, Nick, deikian sapaan karibnya, menjelaskan kalau 30 persen dana merupakan bantuan dari kampus, tetapi selebihnya diperoleh dengan usaha-usaha seperti pengajuan proposal ke instansi-instansi pemerintahan dan melakukan kerja sama dengan sponsor.
Ketua Mafera, berharap MAFERA bisa menjadi pembaharuan bagi komunitas-komunitas lainnya di Kota Kupang, yang bisa memberikan sisi positif bagi masyarakat dan ingin menunjukan kepada masyarakat bahwa mahasiswa juga mampu berkreatifitas di berbagai bidang.
Dan sejauh ini , Nick mengungkapkan kegiatan MAFERA sama sekali tidak mengganggu aktifitas perkuliahan mereka karena setiap kegiatan telah di atur sesuai schedule dan selalu dikonsultasikan dengan pihak kampus. Saat ini Mafera sedang mempersiapkan dua kegitan yang akan dilaksanakn dalam waktu dekat yaitu KKBM di Lelogama dan MAFERA Cup IV. Sukses Untuk MAFERA.
By. Merlyn Kurniawatie

Les Tambahan, Solusi atau Masalah?


TIMORense – Apakah anak perlu les tamabahan? Mendengar pertanyaan tersebut, tentunya di kepala kita muncul segudang komentar yang ingin kita ungkapkan. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana pendidikan di rasa semakin menyulitkan. Les tambahan menjadi salah satu jalan bagi siswa. Les tambahan yang di maksud di sini adalah kegiatan pembelajaran di luar sekolah. Seperti yang kita lihat, banyak sekali tempat les yang ada, baik itu berbentuk Lembaga pendidikan atau privat.
Mengapa harus ada les tambahan? Apakah tidak cukup pelajaran yang didapat di sekolah, sehingga banyak anak mengikuti les tambahan di luar? Berbagai alasan dilontarkan oleh beberapa siswa yang sempat dihimpun TIMORense, mengapa mereka harus mengikuti les tambahan antara lain. Menurut mereka, les tambahan karena takut tidak lulus, disuruh orang tua, dan bahkan ada juga yang hanya ikut teman.
Alasan takut tidak lulus yang disampaikan para siswa ini memang sangat masuk akal. Apalagi dengan adanya peraturan pemerintah yang dirasa semakin menyulitkan siswa seperti pergantian kurikulum dan Standard Kompetensi Kelulusan yang naik setiap tahunnya. Tentu kita masih ingat sudah berapa kali kurikulum pendidikan berganti, dari tahun 2005 s/d 2008 saja sudah tiga kali ganti kurikulum dan Standard Kompetensi yang juga dinaikkan. Pada periode tahun 2005/2006 Standard Kompetensi Kelulusan 4,26 di mana masih memakai kurikulum 1994. Periode 2006/2007 SKL menjadi 5,25 dan memakai kurikulum berbeda yaitu KBK(Kurikulum Berbasis Kompetensi) dan yang terakhir di tahun 2007/2008 dengan kurikulum yang berbeda lagi yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
Lalu bagaimana dengan tahun ini? Max Halundaka, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang, mengakui hal ini dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di negara kita yang kini sudah jauh tertinggal. Apakah peraturan seperti ini tidak memberatkan siswa? Menurut Halundaka, sebetulnya tidak, dengan adanya peraturan seperti ini diharapkan anak akan lebih meningkatkan kegiatan belajarnya dan lebih serius bersekolah.
Tetapi yang terjadi malah kebalikannya, Siswa merasa khawatir akan nasib mereka. Sudah tidak menjadi pemandangan baru lagi ketika pengumuman kelulusan banyak siswa pingsan karena tidak lulus. Kata “TIDAK LULUS” merupakan “kiamat” bagi siswa karena waktu, tenaga, dan biaya yang mereka habiskan selama katakanlah 3 tahun hancur dengan kata tidak lulus. Bukan itu saja, pastinya seorang anak akan selalu dihantui rasa penyesalan dan kekecewaan kepada diri sendiri dan orang lain. Dan imbasnya orang tua juga akan merasa malu. Maka untuk mengantisipasi hal tersebut, banyak siswa mengikuti les tambahan di luar sekolah.
Apakah Les Tambahan menjamin kelulusan? Menurut Abraham Tande (48), warga Kelurahan Oepura, memang banyak anggapan bahwa dengan mengikuti les tambahan kelulusan akan mudah di dapat. Saat ditanya mengapa ia menyuruh anaknya mengikuti les tambahan, Tande mengungkapkan, les tambahan tidak hanya memberikan materi pelajaran saja, tetapi juga latihan soal agar siswa lebih siap ketika menghadapi tes atau ujian.
Jadi menurut pria yang sehari-harinya bekerja sebagai pegawai di Undana ini, tidaklah salah anggapan tersebut, walaupun sebenarnya lulus atau tidaknya seorang anak adalah sebuah takdir yang telah ditentukan. tapi takdir juga bisa di ubah selama ada kemampuan dan usaha yang keras?
Tande menjelaskan, alasan mengikuti les tambahan adalah disuruh orang tua. Bukanlah menjadi hal yang aneh jika orang tua menginginkan anaknya berhasil. Jadi apapun akan orang tua lakukan demi anaknya. Orang tua pasti juga khawatir melihat standard kelulusan yang tinggi. Mereka harus rela mengeluarkan banyak biaya untuk anak. Kita tahu bahwa biaya les tambahan lebih besar dibanding dengan biaya sekolah.
Mengapa hal itu sampai dilakukan? Apakah semata-mata demi anak mereka atau hanya sekedar gengsi saja? Kita tidak bisa langsung memberikan komentar, lihat dulu alasan orang tua memasukkan anaknya untuk mengikuti les.Terkadang ada juga orang tua yang memaksakan anak mengikuti les tambahan karena tetangga atau anak temannya melakukan hal yang sama. Inilah alasan yang di sebut karena gengsi. Apalagi dirasa orang tua tersebut mampu mengikutkan anaknya di lembaga pendidikan.
Karena itu menurut Tande, memang benar les tambahan sangatlah penting bagi seorang anak karena ikut les membantu anak menambah ilmu selain di sekolah. Mungkin anak akan lebih nyaman belajar di situasi yang santai daripada di sekolah. Tergantung diri kita sendiri yang menilai apakah Les tambahan itu sangat penting?
By. Wesly Jacob

Sail Komodo, Ajang Promosi Parawisata NTT


TIMORense – NTT sebagai salah satu propinsi kepulauan yang kaya akan keragaman budaya dan keindahan panorama alamnya yang mempesona terus berusaha meningkatkan pengembangan dan promosi daerah pariwisatanya. Salah satu upaya pemerintah NTT untuk mendongkrak  pariwisata NTT yaitu dengan mencanangkan pagelaran Sail komodo 2013 yang akan dilangsungkan di Labuan Bajo Manggarai Barat, Tahun 2013 mendatang. Untuk menyongsong event ini, berbagai persiapan telah dilakukan sejak tahun 2012 ini.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Propinsi NTT,  Abraham Klakik yang ditemui di ruang kerjanya bersama kepala seksi Promosi, Drs. Bonaventura Rumat, (Kamis,18/01/2012), Sail komodo yang dicanangkan melalui Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) ini sedang menunggu keputusan Presiden.  Menurut Abraham, Sail komodo 2013 ini berkiblat dari event-event yang sudah dilaksanakan sebelumnya, seperti salah satu sail Indonesia yaitu Sail Morotae di Maluku Utara 2011 kemarin.
Pada saat itu sail NTT menjadi titik sasaran dimana dari 109 buah kapal layar dari Australia, 98 diantaranya singgah di Kupang. Mereka singgah karena tertarik dengan panorama alam NTT dan banyaknya obyek wisata di NTT. Berangkat dari pengalaman-pengalaman event terdahulu, untuk sail komodo 2013 ini Pemerintah NTT beserta instansi terkait telah melakukan berbagai persiapan.
Untuk Sail Komodo 2013 nanti, jalurnya akan terbagi dua yaitu jalur utara dan selatan. Jalur utara akan melewati rute Kupang-Tanjung Bastian-Wini-Alor-Lembata-Larantuka-Maumere-Ende-Labuan Bajo. Sedangkan jalur selatan akan melewati rute Kupang-Rote-Sabu-Waingapu-Sumba Tengah-Sumba Barat Daya-Labuan Bajo. Semuanya nanti akan Finish di Labuan bajo, dan di setiap pelabuhan peserta sail akan berhenti selama kurang lebih 4 hari sampai seminggu.
Abraham mejelaskan, sponsor utama dari even ini adalah Yayasan Cinta Bahari Jakarta. Tetapi sebagai tuan rumah yang baik NTT tetap berupaya untuk memberikan yang terbaik dengan melakukan berbagai pembenahan, baik itu pembenahan infrastruktur maupun sarana dan prasarana di tempat yang akan dilangsungkan event tersebut. Selain itu NTT sebagai tuan rumah juga akan mempersiapkan berbagai kegiatan seperti atraksi kebudayaan, pembenahan kampung-kampung adat dan mengadakan festifal budaya sedaratan flores yang akan dilaksanakan di Ende tahun 2012 ini. Kepanitiaan untuk sail komodo juga sudah terbentuk, tambah Abraham.
Berdasarkan keputusan Gubernur NTT Nomor 208/Kep/HK/2011 tentang panitia persiapan sail komodo 2013 dengan Sekda Provinsi NTT sebagai ketua panitia, Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi NTT selaku sekretaris dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT sendiri sebagai ketua bidang promosi. Abraham juga menjelaskan, sampai sejauh ini promosi-promosi juga telah dilakukan baik itu melalui media cetak maupun elektronik untuk mengenalkan sail internasional ini kepada masyarakat dunia.
Ketika ditanya tentang rencana pengembangan daerah wisata di NTT, Abraham menjelaskan, kalau sampai dengan tahun 2012 ini perkembangan pariwisata NTT mengalami peningkatan. Dari data kunjungan wisatawan ke NTT selama tahun 2010 sebanyak 148.673 jiwa mengalami peningkatan di tahun 2011 yaitu menjadi 412.072 jiwa. Jika dibandingkan dengan provinsi tetangga kita NTB yang secara geografis lebih dekat dengan Bali sebagai kiblat pariwisata Indonesia dan mereka telah memiliki bandara bertaraf internasisonal, kita hanya berbeda sekitar 50 persen dalam hal kunjungan wisatawan dengan NTB. Dan kepala Dinas Pariwisata Propinsi NTT optimis, jumlah tersebut akan meningkat di tahun 2012 sesuai dengan visit flobamora yang dicanangkan oleh Gubernur NTT untuk menghadirkan satu juta wisatawan ke NTT. Ditambahkan juga oleh Kepala seksi Promosi, Drs. Bonaventura Rumat bahwa target di tahun 2013 diharapkan uang yang beredar di NTT sebanyak 7,5 Triliun dengan melakukan upaya antara lain merencanakan event komodo sail, pembenahan infrastruktur darat, laut dan udara, negosiasi dengan Malaysia Airlines dan Singapura Airlines untuk penambahan operator penerbangan, peningkatan frekuensi promosi, mengadakan pameran-pameran, event-event budaya dan tentunya peningkatan kualitas sumber daya manusia di NTT.
By. Merlyn Kurniawatie

Ajarkan Anak Minta Maaf


TIMORense – Pada dasarnya meminta maaf merupakan nilai dasar yang harus dimiliki setiap manusia. Di mana kita sebagai manusia seringkali berbuat salah, sehingga kata maaflah yang hendaknya diucapkan jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain. Tentu saja dibarengi dengan perilaku untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Namun,sering kali kata itu sulit terucap walaupun kita tahu kita berbuat salah.
Mengajarkan untuk meminta maaf sebenarnya bisa dilakukan dari anak masih bayi, yaitu dengan memberi contoh pada anak bagaimana berperilaku meminta maaf. Anak mudah sekali meniru apa yang telah dilihatnya. Jika menginginkan anak bisa meminta maaf, maka orang tua harus bisa meminta maaf. Anak bisa melihat dan mencontoh bahwa jika orang tua berbuat salah maka akan meminta maaf dan saling memaafkan.
Demikian sari pendapat ibu-ibu rumah tangga yang ditemui TIMORense di kediamannya masing-masing. Ibu Mercy di Bakunase satu mengemukakan, orang tua juga bisa mengajarkan dengan cara meminta anak meminta maaf ketika ia berbuat salah. Hal ini bisa dilakukan ketika anak sudah mulai bisaberbicara atau sudah mulai masuk ke dalam lingkungan sosial. “Meminta maaf ini sangat penting artinya bagi orang tua maka ketika anak berbuat salah jangan sekali-kali memaksa anak untuk meminta maaf,” ungkap ibu dua orang anak ini seraya menambahkan hal ini bukan membuat anak bersedia meminta maaf tetapi malahan membuat anak menjadi takut.
Dalam perspektif yang nyaris sama, Ibu Bella di Kelurahan Oesapa Barat menjelaskan, bila anak selalu disalahkan, anak bisa menjadi rendah diri, takut disalahkan, merasa diri dicap nakal, dan semakin terbentuk sifat nakalnya. “Untuk anak usia 2-3 tahun anak masih memiliki ego yang sangat tinggi dan belum bisa melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Karena itu orang tua perlu bersabar dalam mengajarkam anaknya untuk meminta maaf,” tips Ibu ibu satu orang anak ini dan menambahkan ada juga cara lain yang ampuh dalam mengajarkan anak untuk meminta maaf maupun mengajarkan nilai kebaikan yang lain, yaitu dengan dongeng atau sandiwara boneka. Dari cerita-cerita yang dilahirkan anak akan lebih mudah menangkap nilai moral yang ada dalam cerita tersebut.
Ibu Fitri di Kelurahan Airmata mengemukakan, bila anak sudah mulai memasuki usia sekolah secara perlahan-lahan ia mulai belajar melihat dari perspektif orang lain. Yang perlu orang tua sadari adalah tidak menghakimi anak di depan banyak orang atau teman-temannya, karena akan membuat anak menjadi rendah diri. Ajak anak untuk brbicara berdua dan jelaskan mengenai kesalahannya. “Berikan anak dorongan positif untuk meminta maaf. Mengajarkan anak untuk meminta maaf juga bukanlah hanya sekedar perintah, tetapi orang tua juga harus bisa menjelaskan kepada anak kenapa ia harus meminta maaf,” ungkap bunda dua orang putri seraya menambahkan orang tua juga bisa membuat suatu stimulas jika anak masih merasa takut untuk meminta maaf. Pada saat stimulus ini, ajarkan anak bagaimana cara bicaranya kemudian ajak anak menemui orang yang ingin dimintai maaf, kalau anak merasa takut maka temani dia ketika meminta maaf.
Dengan demikian, orang tua juga perlu untuk menekankan pada anak bahwa perkataan maaf bukan hanya sekedar dimulut saja, melainkan juga harus ada aksi yang menyatakan bahwa ia menyesal, ada konsekwensi yang harus diambil jika ia membuat kesalahan. Sehingga dengan meminta maaf seorang anak tidak hanya mengerti bagaimana bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya tetapi juga mampu menempatkan diri pada posisi orang lain. Marilah ajarkan anak saling memaafkan. Sehingga generasi kita tumbuh dalam damai dan sejahtera. Semoga.
By. Wesly Jacob

Pilkada Ajang Bisnis Partai


Prof. Dr. Felysianus Sanga, M.Pd 
TIMORense – Partai politik memiliki salah satu fungsi mempersiapkan kader-kader partai untuk menjadi pemimpin politik. Fakta berbicara, fungsi partai politik dalam aspek ini mandul. Parpol tidak bedanya dengan institusi bisnis yang selalu mencari untung ketika ada hajatan politik. Berikut wawancara wartawan TIMORense, Wesly Jacob (TR) dengan salah seorang pakar dari Undana Prof. Dr. Felysianus Sanga, M.Pd (FS).
TIMORense (TR) : Menurut pengamatan anda seperti apa proses pemilu kada di Kota Kupang ini?
Felysianus Sanga (FS) : Sebenarnya jika dilihat secara global, pemilukada di Kota Kupang  masih menjadi ajang bisnis bagi partai-partai politik. Partai- partai politik hanya menanti calon atau kandidat yang mendekati mereka untuk mendaftar sebagai calon walikota. Kepada para calon yang mendaftar ini partai politik menetapkan sejumlah standar atau target. Ini terjadi karena pengkaderan dalam tubuh partai politik sendiri tidak berjalan sebagaimana mestinya. Artinya, tak ada proses pengkaderan dalam tubuh partai-partai politik yang ada.
(TR) : Jadi menurut anda seharusnya bagaimana?
(FS) : Partai-partai politik harusnya memiliki kelompok basis binaan. Jangan hanya muncul atau  kelihatan pada saat ada momen politik seperti pemilu legislatif, pemilu presiden atau pemilukada saja. Yang terjadi selama ini kan, partai politik hanya nampak saat ada moment-moment seperti itu, setelah selesai mereka seperti hilang ditelan bumi.
(TR) : Mengapa bisa terjadi ?
(FS) : Itu terjadi karena partai-partai politik yang ada ini motivasinya hanya mencari kekuasaan saja. Coba anda perhatikan ada berapa banyak partai politik yang ada ini, baik yang punya kursi dan tak punya kursi di DPR maupun DPRD yang benar-benar membawa aspirasi rakyat. Karena motivasi yang salah itulah, akhirnya eksistensi partai politik hanya terjadi dan terlihat oleh masyarakat saat ada moment politik seperti pemilu ini.
(TR) : Apa makna pemilukada di Kota Kupang ini menurut anda?
(FS) : Pemilukada ini harusnya menjadi moment untuk mencari pemimpin bukan penguasa. Karena itu, untuk mencari pemimpin, harus dilaksanakan secara baik, terencana dan terukur melalui partai politik. Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik, kalau partai-partai politik sendiri tidak melakukan proses pengkaderan, hanya asal rektrut orang  dari  mana-mana, tanpa memperhatikan kredibilitas dan kapasistas orang tersebut. Dan sialnya lagi, partai-partai politik tak pernah melakukan pendidikan politik kepada konstituennya. Sehingga yang terjadi adalah system pemilukada yang dirancang sebaik apapun tak akan bisa menghasilkan pemimpin yang baik, karena kita mengalami kekurangan kader yang punya kapasitas dan kredibilitas yang baik.
(TR) : Pemimpin yang terjaring dalam proses pemilukada ini menurut anda harusnya seperti apa?
(FS) : Bagi saya, pemimpin itu harus memiliki 2 hal pokok,  yang pertama leadership dan yang kedua adalah managerial. Kedua hal  itu, menjadi tugas Partai-partai politik untuk membentuk kader-kader agar bisa menjadi pemimpin yang memiliki karakter leadership  dan berkemampuan manejerial yang baik. Namun karena banyak partai politik tak menjalankan proses pengkaderan dengan baik dan terencana akibatnya adalah ketika seorang  calon menduduki kursi “leader” ternyata dia bukan seorang manajer yang baik. Bahkan yang sering terjadi adalah pemilukada hanya menghasilkan penguasa, bukan pemimpin.
(TR) : Artinya?
(FS) : Artinya, kita harus jujur bahwa partai-partai politik saat ini sudah gagal dalam melakukan pengkaderan. Coba anda perhatikan, dari sejumlah nama bakal calon yang muncul dan diusung oleh partai politik untuk bertarung di pemilukada kota Kupang ini, apakah semuanya murni karena proses pengkaderan dari partai politik tersebut? Kebanyakan yang ada ini adalah figur yang besar sendiri di luar lalu karena ketiadaan “pintu” masuk untuk menjadi pemimpin, maka figur tersebut harus mendekati partai politik agar diusung sebagai calon walikota. Maka disinilah partai-partai politik mulai memainkan peran sebagai “makelar” jabatan politik. Kondidi seperti ini  dapat dikatakan bahwa  partai politik dan DPRD “menggadai” hak rakyat kepada para calon atau kandidat. Akhirnya yang terjadi adalah, hanya mereka yang berduit saja yang bisa menjadi calon atau diusung sebagai calon walikota oleh partai politik.
(TR) : Pemimpin yang ideal itu seperti apa menurut anda?
(FS) : Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, seorang pejabat publik harus memiliki karakter leadership dan berkemampuan manajerial. Karena itu, menurut saya pemimpin itu ialah  seorang arsitek, yakni arsitek  pembangunan atau perubahan terencana. Ia harus sudah memiliki  desain yang jelas dan matang  serta mampu melaksanakannya secara disiplin. Bukan berjanji  sekedar menggantungkan harapan maya  pada berbagai persimpangan jalan kota.  
(TR) : Jika melihat fenomena banyaknya figur bakal calon yang ada ini, menurut anda apakah ini bisa dikatakan bahwa proses demokrasi di Kota Kupang ini sedang tumbuh?
(FS) : Saya kira semua orang berhak untuk dicalonkan dan mencalonkan diri sebagai calon walikota. Namun berdasarkan fenomena  yang  nampak, dapat dikatakan bahwa  partai politik masih gagal menyiapkan  kader partai  yang layak diusung ke atas pentas politik. Sesunguhnya masyarakat menanti  partai politik menawarkan kader yang dibanggakan partai dan diterima masyarakat  sebagai calon elit yang diharapkan masa depan. 
(TR) : Bagaimana dengan kecenderungan pemilih di Kota Kupang?
(FS) : Saya kira kalau ditanya kepada rakyat atau anggota pemilih, pasti semua menginginkan pemilukada ini bisa menghasilkan pemimpin yang bisa membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun, perlu disadari juga bahwa karena pendidikan politik tak dilakukan oleh partai-partai politik kepada konstituennya, maka masyarakat pemilih ini tidak akan memakai kriteria-kriteria dalam memberi dukungan suara. Jika tidak manjadi golput maka mereka hanya mendukung dengan alasan-alasan simpati murahan, seperti kedekatan kekeluargaan, suku, agama, dan sebagainya.
(TR) : Menurut anda apa sesungguhnya persoalan di Kota Kupang yang mesti diselesaikan ke depannya?
(FS) : Persoalan yang paling mendasar adalah Kota Kupang ini sangat majemuk masyarakatnya, terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Karena itu, pemimpin ke depan harus mempunyai visi yang tajam dengan misi yang  sistematis dan saksama  sehingga mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang majemuk ini melalui program-program yang strategis. (*)