“Dan-Dan harus bersahabat dengan lawan politik”


Paket Drs. Daniel Adoe-Drs. Daniel Hurek alias Dan-Dan yang sebelumnya terseok-seok menjejaki litani pilkada Kota Kupang, akhirnya terpilih menjadi Walikota dan Wakil Walikota Kupang. Deretan harapan pun mulai digantungkan ke pundak paket blasteran Rote-Flores ini. Namun yang paling utama Dan-Dan diminta harus bisa berlaku sebagai seorang negarawan. Paling tidak bisa bersahabat dengan lawan politiknya. Haruskah? Berikut komentar Pengamat Politik dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Drs. Yusuf Kuahaty, M.Si saat Ditemui Edy Diaz belum lama ini di Kupang.
APA komentar Anda terhadap proses Pilkada Kota Kupang?
Proses Pilkada di Kota Kupang secara umum telah berjalan secara demokratis. Indikatornya antara lain, pertama para calon yang diusung masing-masing partai politik kelihatannya sudah merupakan hasil dari proses organisasi, kecuali beberapa partai politik yang mengusung calonnya itu kelihatannya diwarnai ‘pergulatan’, tapi toh hasilnya bisa diterima juga, dan tanpa disangka paket itu justru yang akhirnya berhasil.
Kedua, rakyat Kota Kupang telah menggunakan haknya untuk menentukan siapa pemimpin terbaik, dan kita tidak mendengar adanya intervensi atau tekanan-tekanan dari pihak lain terhadap pemilih dalam memberikan hak suaranya.
Ketiga, KPUD, Panwas maupun masyarakat kelihatannya sudah melaksanakan fungsinya dengan baik sehingga dapat kita katakan Pilkada di Kota Kupang telah berhasil. Dan lebih dari itu, Pilkada yang sudah dimenangkan Dandan itu pada akhirnya semua unsur berkecenderungan menerimanya dengan baik, sehingga kita lihat sebetulnya ada satu nilai lebih dari masyarakat bahwa mulai muncul kesadaran berdemokrasi, terutama pada kalangan elite yang tidak mau mempolitisasi pilkada menjadi lebih ruwet.
Menurut Anda dimana letak keunggulan Dandan?
Keunggulan Dandan ini tidak lepas dari budaya demokrasi yang sekarang sedang bertumbuh di kalangan masyarakat Indonesia umumnya dan sampai masyarakat Kota Kupang. Budaya yang tumbuh itu adalah demokrasi yang solider dengan orang yang katakanlah memperoleh perlakukan, penekanan yang kurang baik—tentu didalam perjalanan karier politik dan tugas-tugasnya. Saya kira selama ini hampir sebagian besar masyarakat Kota Kupang mendapat suguhan berita-berita dari media masa tentang bagaimana seorang yang namanya Pa Dan itu mendapat perlakukan-perlakuan yang kurang pantas begitu. Tentu dengan tugas-tugas seperti itu masyarakat paling cepat jatuh hati, ibah dan empati. Itu yang meningkatkan popularitas Pa Dan.
Selain itu,  saya lihat dinamika Pa Dan sendiri sebagai seorang figur cukup keras dalam memperjuangkan diri dan pasangannya. Maksudnya, sekalipun masyarakat itu memberikan rasa ibah pada paket ini, tapi kalau paket ini sendiri tidak menunjukkan kemauan atau konsistensi sikap yang sungguh-sungguh didalam program-program maupun didalam upaya lebih mensosialisasikan dirinya, maka keraguan orang terhadap figur itu tetap saja ada. Pa Dan dengan paketnya itu terus bangun kepercayaan masyarakat pada dirinya secara terstruktur, sistematis secara baik. Saya lihat dukungan terhadap dia di situ, semakin hari semakin tinggi melebihi paket-paket lainnya. Jadi, kemenangan Dandan itu lebih pada itu, mereka berdua mampu membangun dirinya sesuai apa yang diharapan masyarakat. Jadi, saya kira walaupun masyarakat ibah tapi kalau kita sendiri tidak membangun diri, kepercayaan orang terhadap kita kecil. Saya kira sama dengan apa yang terjadi pada SBY. Keutungan Pa Dan ada pada kemampuannya membangun komunikasi yang sangat bagus dengan masyarakat. Saya kira keunggulannya disitu, bukan pada kelebihan materi. Dan hal lain yang saya lihat, dia mampu membaca psikologi masyarakat. Itu hebatnya Pa Dan sehingga setiap pernyataan-pernyataannya yang dia kemukaan langsung mengena hati masyarakat.
Berarti faktor figuritas lebih kuat dari pengaruh partai sebesar apapun seperti Golkar dan PDIP yang menjagokan Jonas Salean dan Djidon de Haan?
Sangat-sangat betul. Faktor figuritas itu sangat penting. Itu yang selalu saya bilang faktor kualitas figur; kemampuan manajerial, kemampuan intelektual, kemampuan konseptual. Itu harus betul-betul nampak di sini, dan ini ditunjukkan oleh paket Dandan. Dan lebih dari itu dia punya keunggulan membaca psikologi dan merebut hati masyarakat. Dia tidak andalkan uang dan segala macam, tapi dia mencoba mencuri hati masyarakat. Kita bisa lihat kelebihan pada Pa Dan, dia memang politisi yang punya jam terbang panjang dan saya kira itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang punya kualitas, tanpa itu tidak bisa. Pa Dan punya kualitas dan didukung pengalaman politik yang panjang yang membuat dua selalu memposisikan diri sebagai orang yang lemah, orang yang teraniaya/tersiksa. Itu yang langsung kena hati masyarakat, apalagi masyarakat kita masyarakat religius yang selalu jatuh hati pada orang-orang yang teraniaya.
Apa sebenarnya yang menjadi harapan masyarakat untuk Dandan setelah dilantik nanti?
Pertama, Dandan harus tunjukkan sikap kenegarawan sebagai seorang pemimpin. Sikap ini sangat diperlukan untuk bisa menetralisasi luka-luka yang timbul selama Pilkada. Sebab bagaimanapun juga paku yang sudah tertanam kalau dicabut pasti ada bekasnya. Karena itu ditutntut jiwa kenegarawan yang tinggi dari Pa Dan untuk segera melakukan (semacam rujukan). Mungkin saja selaku manusia pasti paku yang ditanam kemudian dicabut ada bekasnya, tapi sebagai seorang negarawan pasti dia akan berusaha sedapat mungkin untuk tidak terlalu memperlihatkan sikap-sikap bersahabat dengan lawan-lawan politiknya, karena bagaimanapun juga ketika dia sudah jadi pemimpin, dia toh akan membutuhkan dukungan/bantuan/kerjasama dengan semua pihak, termasuk lawan politik.
Dua, seperti yang sudah dikemukakan selama kampanye, barangkali itu juga menjadi sesuatu yang melandasi dia menjalankan kepemimpinannya ke depan. Sikap konsistensi dengan apa yang dia kemukakan saat kampanye mestinya harus sungguh-sungguh diperbaiki selama memimpin.
Tiga, diharapkan dia mempercepat perbaikan, perubahan, peningkatan tentang pembangunan di Kota Kupang, apa itu yang berkaitan dengan yang mendasar, air, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Keempat, membangun konsep pemahaman atau kemitraan dengan legislatif. Itu harus terus dijaga karena tanpa legislatif, Pa Dan juga akan alami kesulitan dalam kepemimpinan. (*)

Otda Harus Diterjemahkan Sebagai Semangat Pengabdian


Terkadang masyarakat salah mempresepsikan arti Otonomi Daerah (Otda) yang sesungguhnya. Padahal semangat kedaerahan dalam era Otda sekarang ini harusnya diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam rangka membangun daerah. Berikut komentar Kepala Biro (Karo) Bina Mitra Polda NTT, Komisaris Besar (Kombes) Polisi, Alfons Loemau, M.Si. M.Bus saat ditemui wartawan Sergap NTT, Ruddy Tokan di ruang kerjanya pada Kamis, 5 Juli 2007 lalu.
Sebagai putra daerah, tugas polisi seperti apa yang akan anda terapkan di NTT 
Kalau saya menggunakan kata putra daerah itu kadang-kadang menyesatkan. Karena dulu ada istilah polisi the local boy to the local Job. Kalau kita sudah berpikir sebagai bangsa Indonesia, mengabdi dimana pun nilainya harus sama. Sebagai putra bangsa kita harus berbuat yang terbaik dalam pengabdian kita. Boleh-boleh saja membangun semangat seperti itu, tetapi dalam pengabdian kita harus memperlakukan semua sama. Sehingga jangan muncul rasa kecemburuan karena semangat kesukuannya tinggi, semangat agamanya fundamental. Ini konyol. Bangsa ini telah melahirkan sejarah tentang keberagaman. Kalau saya di Jakarta, ya saya layani orang Jakarta, masa saya layani orang Timor. Kan tidak begitu jadinya. Semangat kedaerahan dalam era otonomi daerah harus diterjemahkan sebagai semangat pengabdian dalam membangun daerah. Dimanapun kamu berada harus membangun daerah itu, dengan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jadi semangat putra daerah itu harus ditunjukan dalam prestasi sehingga orang lihat. Disini kan beragam-ragam. Ada Kefa, Soe, Flores, Sabu dan lain sebagainya. Sebenarnya budaya beragam, tetapi ada nilai-nilai universal yang mereka sama-sama akui.
Lalu?
Paradigmanya harus dirubah. Mari kita jadikan Polisi sebagai alat penegak hukum semata dan dari pengusa menjadi pelayan. Kalau polisi dari terendah sampai tertinggi sudah memahami siapa dirinya, baru lebih gampang untuk atur masyarakat. Disini pemimpinnya saja tidak mengerti soal tugas pelayanan, apalagi stafnya. Sehingga masyarakat bilang, polisi jangan menuntut terlalu banyak dari masyarakat sepanjang belum memahami makna dari pelayan tersebut.
Sebagai orang NTT, anda tentu sangat tahu betul bagaimana membina orang NTT. Pendapat anda? 
Sebagai orang NTT saya tetap memahami budaya NTT dan sebagai akademisi, saya sudah belajar banyak soal antropologi budaya NTT. Jika anda baca riwayat saya mungkin anda bisa bilang pengetahuan anda terhadap NTT lebih kurang dari saya. Pertanyaan ini banyak kali orang omong, tetapi dasar bertanya pun tak ada ukuran. Contoh, kalau anda bilang saya tidak menguasai ini NTT, kamu mau tanya saya apa tentang NTT. Jumlah penduduk NTT lebih banyak perempuan di banding laki-laki, 50-an persen. Yang terdidik cuma empat sampai delapan persen yang S1 keatas. Selain SMA,  ke bawah, 48 persennya tidak berijasah. Kemudian tingkat kemiskinan. Pendapatan asli dan Product Regional Domestic Bruto NTT masuk dalam kategori 4 termiskin dari daerah-daerah miskin. Yang lebih spesifik, orang Sumba itu seperti apa, orang Ende seperti apa.
Apakah itu berarti pola pikir masyarakat harus dirubah? 
Bukan masyarakat punya pola pikir yang dirubah. Tapi, polisi punya pola pikir yang harus dirubah. Karena sebenarnya polisi sebagai pelindung dan pengayom, aparat penegak hukum, alat kamtibmas, dia harus memahami karakteristik budaya dan nilai-nilai yang tertanam di masyarakat. Karena prinsip penegakan hukum pada dasarnya menegakan nilai-nilai norma yang tumbuh di masyarakat, polisinya yang harus menyesuaikan nilai-nilai apa yang ada dimasyarakat. Bukan masyarakatnya yang merubah. Kalau memang biasanya yang seperti yang dikatakan Kapolda beberapa kebiasaan buruk seperti minum-mimuman keras, itu bukan budaya. Itu hanya segelintir orang yang memang dia punya kegiatan produktif yang bisa dibina dan diarahkan oleh polisi dalam kaitan dengan tugas Bina Mitra.  Dia bisa stop minum atau bisa diterangkan apa manfaat dia minum, bahayanya apa, nah ini kan tugas polisi. Mengkomunikasikan berbagai masalah itu kepada masyarakat dan menawarkan solusi yang positip. Dan itu akan menjadi tugas saya sekaligus membina kwalitas pemikiran orang NTT. Jadi bukan masyarakat yang harus berubah, tetapi polisi yang harus berubah. Dari mental penguasa ke mental pelayan. Pertanyaannya, apakah polisi yang berkerja di NTT menyadari dirinya adalah pelayan atau tidak? Tanya teman-teman seumuranmu yang polisi. Tanya kenapa mau jadi polisi. Meraka akan jawab, sonde karena beta mau melayani masyarakat atau karena beta terpanggil untuk mau melayani masyarakat, atau karena paling enak jadi polisi karena berkuasa, pegang pistol, bisa tangkap orang, coba tanya mereka? Kasihan masyarakat kita. Mereka kurang paham dengan hukum sehingga sering minum mabuk, dan lain sebagainya. Sebagai polisi saya harus bisa melayani mereka seperti ini. Adakah orang di NTT yang jadi Polisi berpikir ke arah itu. Nah, inilah cikal bakal polisi yang tidak berpikir seperti itu. Padahal doktirn dan pandangan hidup polisi adalah melindungi dan mengayomi. Coba tanya anak muda yang mau jadi bintara polisi atau akpol dan Sarjana polisi, adakah terbersit dikepalanya karena dia ingin melayani dan mengayomi, makanya dia mau menjadi polisi? Ataukah dia tidak ada kerja, hanya karena koneksi dan relasi sehingga dia jadi polisi, supaya ada kuasa? Kan begitu. Kalau itu merupakan kondisi aktual dalam masyarakat, dalam bahasa komputernya input, proses dan output. Inputnya begitu-begitu saja, prosesnya juga tidak karuan, outputnya jangan tanya? Apakah dia mau mengabdi dan mengayom? Banyak orang omong masyarakat harus begini, begitu dan lain sebagainya, tetapi pertanyaannya apakah polisi setia menampung keluhan masyarakat, atau yang paling gampang saja, gampang tidak masyarakat yang lihat orang mabuk-mabuk lalu mau lapor kemana? Mari kita tanya, kita mau pi lapor dimana bu? Mau masuk kantor polisi saja kaya kerajaan Majapahit. Jadi bangunan ini, tampilan ini menunjukan siapa dia sebenarnya. Apa begitu?
Menurut anda bagaimana caranya agar pilisi bisa lebih dekat dengan masyarakat?
Makanya saya bilang kalau mau dekat dengan masyarakat, buka pagar loe, buka seragam loe, bersosialisasi dengan masyarakat seperti masyarakat punya kehidupan. Jadi pertanyaan ini bukan kita merubah masyarakat, tetapi anda sebagai pelayan masyarakat datang menyesuaikan diri dengan masyarakat. Kalau saya punya pandangan begitu tentang bina mitra dan polisi kedepan.
Anda kan pernah belajar ke Jepang dan Amerika, bagaimana kerja polisi disana?
Saya waktu ikut pendidikan di Jepang dan Amerika, sebenarnya apa yang kerjakan oleh polisi Jepang dan polisi Amerika dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, tidak beda-beda jauh dengan polisi kita. Persoalannya, manusia sebagai pelakunya juga tidak ingin. Coba lihat polisi disini, pernakah dia jalan ke sebuah kampung dengan tidak pakai pakaian dinas dan tegur sapa dengan para orang tua di kampung-kampung? Dia berpikir, jika ada perlu, baru dia datang. Tetapi kalau masyarakat ada perlu, ada tidak yang polisi urus secara baik. Itu kenyataan yang harus kita rubah, dengan perubahan cara pandang dan berperilaku. (#)

Mereka Yang Mendaftarkan Diri


sergapntt.com [ATAMBUA] — Kepala Sekolah SMA Kristen Atambua, Abraham Dakamuly, SM. pertengahan tahun 2007 lalu berhasil mengirimkan sebanyak 106 anak ke Jakarta dengan tujuan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, ada kabar menyebutkan sejumlah anak tersebut diterlantarkan disana. “Jadi kalau ada yang ditelantarkan, bagi saya ……Tuhan saja yang tahu,” kata Abraham Dakamuly, saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya.
Bagaimana sampai anda mengumpulkan 106 anak untuk dikirim ke Jakarta?
Begini, disekolah kita banyak Universitas yang datang mensosialisasikan program mereka untuk anak-anak lulusan di SMA Kristen, kemarin kita punya lulusan cukup besar 423 yang lulus oleh karena itu mereka datang mensosialisasikan program mereka termasuk Universitas SETIA (Sekolah Tinggi Theologia) Jakarta. Awalnya dia mengirimkan brosur kepada sekolah-sekolah termasuk sekolah kami. Dan karena itu dari brosur yang anak-anak terima kemudian anak-anak menyampaikan pada teman-teman yang lain juga, lalu mereka berminat pada sekolah tersebut. Jadi mereka yang mendaftarkan diri waktu itu sampai 200 anak-anak yang ingin ikut kuliah di Universitas SETIA Jakarta. Sebab dari brosur itu yang ditawarkan oleh SETIA Jakarta adalah Pendidikan Guru SMP (PGSMP) pada jurusan FKIP untuk bidang studi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Ekonomi Akuntansi, kemudian untuk PMP ditambah lagi dengan IPS dan IPA. Karena tawaran program itu sehingga anak-anak kita berminat untuk kuliah disana. Minat anak-anak kita itu dapat dilihat dari jumlah saat pendaftaran yang mencapai 200 lebih anak calon mahasiswa SETIA. Dan karena jumlahnya besar saya minta untuk mereka Universitas SETIA Jakarta datang untuk memberikan sosialisasi tentang kondisi Universitas itu disekolah kita, sosialisasinya bukan hanya satu kali tapi dua kali sosialisasi dan yang terakhir selama dua hari langsung dengan orang tua calon mahasiswa.
Bisa diceritakan bagaimana sampai anda berkenalan dengan lembaga pendidikan di Jakarta itu ?
Oh ….Iya. Rektornya sudah pernah datang disekolah ini (SMA Kristen) dua tahun lalu. Mereka mensosialisasikan hal yang sama, tapi ketika itu Program PGTK dan PGSD pada waktu yang sama, kita di Atambua juga ada PGSD sehingga tidak ada simpatisan kita yang berminat untuk kuliah ke sana. Sementara untuk tahun ini Universitas SETIA Jakarta datang mensosialisasikan PGSMP karena program itu sehingga anak-anak kita begitu banyak yang membaca itu dan berminat ingin kuliah kesana. Karena sebelumnya mereka merasa bahwa kalau kuliah ke Jakarta itu susah, biayanya mahal, tempat penginapanna bagaimana kemudian dengan makannya tentu sangat mahal. Sedangkan tawaran Universitas SETIA Jakarta dalam brosur dan sosialisasi itu biaya pendidikannya murah ditambah penginapannya mereka siap dan makan juga mereka siap……begitu.
Sehingga anak-anak kita begitu banyak yang berminat. Jadi sebenarnya kami hanya sebatas mempersiapkan sarana untuk setiap universitas yang mau mensosialisasikan program pendidikannya bagi anak-anak kita. Saya kira ini sama dengan sekolah-sekolah lain yang juga memberi tempat untuk setiap lembaga pendidikan memberikan sosialisasi, mungkin tidak hanya SMA Kristen saja. Karena kalau anak-anak kita tertarik dengan program  yang ditawarkan dari Universitras mana saja, mereka mungkin ada kemudahan dan mereka berhasil itu kan untuk keinginan diri mereka itu yang merupakan tujuan kita bersama. Karena anak-anak bukan tidak saja hanya berkualitas tapi diharapkan harus memiliki keinginan untuk mempersiapkan generasi ke depan yang memiliki kemampuan untuk menguasai IPTEK.
Apa saja komitmen diantara anda dan lembaga pendidikan itu sehingga anda dapat mengirim 106 anak ke Jakarta ?
Saya pikir ….. bukan kami berani mengirim. Jadi sebenarnya juga kami bukan punya komitmen untuk mengirim mereka. Ini kan sebenarnya dari pihak mereka (SETIA Jakarta) yang datang mensosialisasikan program ini yang kemudian diminati oleh anak-anak ini. Makanya mereka ikut dengan maksud mau kesana (Jakarta) itu begitu. Dan saya sendiri juga pergi tapi bukan antar mereka. Saya antar anak saya karena dia juga ikut makanya saya ikut untuk mau lihat langsung disana, betulkah seperti apa yang mereka sosialisasikan disini atau tidak. Sehingga anak saya bisa ikut studi disana bisa nyaman dan aman. Jadi setelah mereka sosialisasikan mengenai Kampus SETIA Jakarta, saya punya anak bilang bapak mesti ikut, jadi saya pergi bukan karena mengirim tapi karena anak saya juga pergi…..iya saya pasti ikut dong.
Mengapa anak-anak itu terlantar?
Pak, saya pikir itu….. mungkin yang bisa memberikan penjelasan pihak Universitas SETIA Jakarta dan penjelasan dari Universitas itu sudah dimuat di surat kabar bahwa sebenarnya tidak ada nak-anak diterlantarkan, yang ada itu mungkin anak-anak menterlantarkan diri. Maksudnya kalau dia paksa untuk keluar dari kampus SETIA Jakarta memang bukan tanggung jawab Universitas SETIA Jakarta lagi, jadi kalau bilang Universitas SETIA Jakarta terlantarkan anak-anak itu tidak ada dan itu kewenangan dari mereka untuk memberikan klarifikasi seperti apa yang sudah dimuat dikoran itu kan begitu …….. Kalau saya, saya beberapa hari ada disana dan bilang anak-anak itu diterlantarkan itu sama sekali tidak, malahan saya juga dialog langsung dengan rektornya sebelum saya pulang ke Atambua. Maksudnya mau tahu kepastian tentang pendidikan disana. Jadi kalau ada yang diterlantarkan itu bagi saya, iya…… Tuhan saja yang tahu.
Sebab beberapa hari ada disana menurut pengamatan saya, mereka sangat tidak mungkin untuk mentelantarkan. Ya …. saya tidak bisa berkomentar karena pengamatan saya ketika ada disana tidak seperti itu bahwa mereka janji punya tempat penginapan ya….mereka punya tempat penginapan bagus. Artinya asrama itu ada 5 unit rumah yang berlantai 3 dan 4 lantai semuanya dilengkapi dengan tempat tidur, begitu. Jadi 5 asrama itu tiga untuk putra dan dua untuk putri. Sehingga kalau bilang untuk ditelantarkan tidak mungkin. Jadi sebenarnya tidak perlu saya mengomentari itu toh. Kemudian sampai dengan yang terakhir saya mau pulang, saya masih tawarkan pada mereka kira-kira dari seluruh yang disosialisasikan kalo masih ada yang merasa tidak bisa, ya…. pulang dengan saya sehingga memang hari itu ada 42 anak yang minta pulang dengan saya. Dan 42 anak itu seluruh pengeluaran uang masing-masing mereka dikembalikan yakni uang kapal 495.000, biaya pendaftaran 200.000 untuk masuk Universitas Setia Jakarta, Biaya Ongkos bus Atambua Kupang 40.000, Uang Jaket Almamater dengan pakaian satu pasang 400.000 itu semua dikembalikan.
Sehingga kami pulang bisa menggunakan pesawat. Dari 42 orang yang membuat pernyataan pengunduran diri itu ada orang tua yang datang menawarkan kalo izinkan mereka yang sudah datang di Jakarta bisa diberi kesempatan untuk tetap tinggal di Jakarta. Sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikan di sekolah yang lain. Sehingga kesepakatan juga kami langsung buat dengan anak-anak yang mau melanjutkan kuliah disana bersama para orang tua dari Ikatan Keluarga Belu (IKB) yang ada di Jakarta (nama ketuanya saya lupa) bahwa mereka bertanggungjawab terhadap anak-anak yang mereka jemput di SETIA Jakarta. Sehingga saat itu saya hanya pulang dengan 9 orang anak karena ada permintaan beberapa orang tua dan wali yang disana.
Apa yang anda lakukan ketika mengetahui anak-anak itu ditelantarkan?
Ya…. jadi saya langsung bicarakan dengan pihak SETIA Jakarta bahwa saya dengar anak-anak ditelantarkan tetapi jawaban dari sana bahwa selama berada di Kampus SETIA tidak ada yang ditelantarkan seperti yang mereka sudah memberi klarifikasi berita yang ada di koran itu, dan saya sendiri juga ada disini sehingga saya tidak tahu secara pasti dan saya juga dipanggil Pak Wakil Bupati Belu. Alasan kenapa sampai tidak melaporkan pada pemerintah, akhirnya saya menyampaikan bahwa hal itu tidak bermaksud mengirim, tapi semua mereka menyatakan pilihan untuk kuliah ke Jakarta. Jadi saya berpikir semua orang kan boleh memilih untuk kuliah dimana saja kan tidak melapor ke pemerintah. Jadi pikiran kita begitu saja. Mungkin karena ini soal sehingga harus dilaporkan ke pemerintah, saya tidak tahu. Tapi itu sepengetahuan saya mereka yang mau studi dimana saja kan umumnya tidak melaporkan pada pemerintah. Jadi saat saya di Pak Wakil Bupati saya menyampaikan juga bahwa disini saya hanya memfasilitasi sehingga Pak Wakil bilang memang maksud itu baik tetapi bahwa itu pertimbangan kemanusiaan saya diminta untuk membantu sedikit dana untuk mereka bisa pulang.
Jadi, saya sudah kirim dana pada orang yang urus mereka disana Ikatan Keluarga Belu (IKB). Dana yang saya kirim itupun hanya karena pertimbangan kemanusiaan saja. Informasi yang saya peroleh dari Pak Wakil Bupati bahwa 10 orang yang belum pulang sehingga saya kirim 5 juta. Ada bukti pengiriman lengkap.
Betulkah anak-anak itu kabarnya dibujuk untuk pindah agama?
Jadi begini, pendidikan ini kan semua orang boleh masuk, dari Katolik, Protestan dan Islam juga masuk. Bahwa selama dia mengikuti pendidikan dia ikut pelajaran agama Protestan betul, tapi setelah dia tamat yang Katolik tetap Katolik dan yang Islam tetap Islam. Jadi isu seperti itu suatu hal yang luar biasa, oleh karena itu saya pikir juga SETIA Jakarta sudah lupa diri sebenarnya. Kalau mungkin Pak Bupati, Pak Wakil dan Dewan bisa melihat langsung kondisi yang dialami oleh anak-anak di SETIA Jakarta. Karena kalau macam begini susah untuk mengomentari, sebab saya bisa menyatakan bahwa tidak ada disana tapi kenyataannya lain lagi. Tapi saya yakin karena Rektor SETIA Jakarta saat itu saya menyatakan bahwa saya bawa ini ada anak-anak Katolik, dia bilang oh… tidak apa-apa, disini ini dia hanya belajar sebagai guru dan dia pulang. Dan kalau dia buat pernyataan untuk pindah misalnya masuk Protestan tetap kita tolak. Kita punya tujuan bukan itu. Tidak benar kalau kabar seperti itu, tapi sebaiknya lihat langsung. Pak Rektor juga meyakinkan saya begitu karena saya bawa anak-anak yang kurang mampu dan saya tanya langsung pada anak-anak apakah yang mereka sosialisasikan itu sesuai atau tidak ternyata sesuai dengan yang mereka sosialisasikan itu, ada penginapan, kemudian mereka diberikan kemudahan soal biaya. Malahan SETIA Jakarta mempunyai prinsip bahwa tidak akan mengeluarkan mahasiswa dari SETIA Jakarta hanya karena dia tidak bayar uang sekolah. (by. rudy tokan) 

Selingkuh Itu Zinah !


sergapntt.com [KUPANG] – TERUNGKAPNYA sejumlah kasus selingkuh yang dilakoni beberapa pejabat birokrat dan politik di provinsi Nusa Tenggara Timur ternyata menyulut rasa prihatin Ustad Ramli Deni. Menurut tokoh Islam yang satu ini, selingkuh atau perbuatan zinah adalah prilaku yang tak patut diteladani. Sebab zinah adalah dosa menurut semua ajaran agama. Berikut komentar Ustad Ramli Deni saat diwawancara di Kupang pada Sabtu, 5 Mei 2007 lalu.

Bagaimana tanggapan anda terhadap sejumlah kasus selingkuh yang melibatkan pejabat birokrat maupun politik?
Yah, sebagai pejabat atau publik figur sebenarnya harus tahu bahwa ketika dia menjadi orang penting dalam kehidupan bermasyarakat, maka semua mata akan tertuju padanya. Sebab dalam keseharian, pejabat juga merupakan panutan hidup rakyat kecil. Kalau perbuatannya keluar dari rel kehidupan normal, itu sama dengan mematikan langkah hidup moral bangsa ini. Selingkuh biasanya terjadi pada suami istri  yang tidak puas akan urusan lahir bathin antara suami dan istri. Tapi sesungguhnya orang yang melihat keburukan, dosanya sama dengan orang yang memberi contoh buruk itu. Alah berfirman, “Kullil muminina ya wudhu min absorihi wayaa tadhu furru zahum.” atau perintahkan kepada orang mukmin hendaklah memelihara padangan mereka. Maksudnya jangan melihat hal-hal yang bisa menjerumuskan kita kepada perbuatan-pebuatan maksiat, terutama zinah. Wa yaa farru fujju zahum, aurat jangan disalurkan pada yang bukan tempatnya. Artinya yang belum sah nikah tidak dibenarkan bersibadan. “Jalika  askalahum “ itu lebih mulia. Khusus buat kaum wanita “ Wakulil muminti yaadugna min absohirinna” sama dengan katakan kepada pepempuan-perempuan mukmin untuk menjaga pandangan mereka, “Wayaa tahna furru jahunna” adalah juga memelihara aurat mereka. Selingkuh menurut syariat Islam haram Hukumnya. Itu dikategorikan Zinah. Zinah tidak hanya terjadi pada laki-laki atau perempuan yang belum menikah. Kenyataannya banyak juga dilakukan pasangan resmi yang kurang puas terhadap apa yang dimiliki. Zinah hukumnya haram. Zinah termasuk hukum zinah yang haram hukumnya. Itu artinya jelas. Walla Taqrabul zinah. Janganlah engkau dekati zinah. Sebab dekat itu menjurus kepada perbuatan bersibadan. Jadi zinah itu dalam pandangan islam tidak hanya bersibadan, tapi mulai dari awal-awal untuk sampai mengarah pada terjadinya perbuatan bersibadan. Katakanlah melihat dengan sorotan mata yang penuh dengan gairah, itu juga sudah termasuk zinah. Zinah mata biasanya mengantar hingga terjadi perbuatan bersibadan. Ada hadist Nabi yang mengatakan bahwa kalau engkau melihat sesuatu yang haram, pandangan pertama itu tidak mengapa, tetapi jika selanjutnya pandangan penuh gairah, penuh nafsu, itu sudah adalah zinah.
 Lalu bagimana dengan poligami?
Poligami itu memang diajarkan dalam Islam, sebagaimana ayat Allah yang menjelaskan bahwa wa tabbaa toballakum minan nisa binasna wa sallasa wa rabbaa, jadi itu dasar hukum Islam boleh berpoligami. Tapi tentu dengan pertimbangan harus adil dalam memberi nafkah lahir dan bathin . Itu prinsip dasar utama berpoligami. Kalau merasa tidak adil atau tidak mampu melaksanakan syarat itu, maka tidak dibenarkan untuk melakukan poligami. Jadi, poligami itu boleh jika kita dapat menerapkan keadilan di atara istri-istri yang dipoligami.
Anda punya kiat menghindari zinah?
Yang paling pertama harus datang dari dalam rumah sendiri, yakni dari istri atau suami dalam memberikan nafkah lahir maupun bathin. Katakalah kita ambil patokan istri. Jika suami mencari nafkah, sesungguhnya si istri yang harus sebisa mungkin memberikan ketenangan, kedamaian dan kepuasan bagi suami ketika dia pulang ke rumah.  Toh kalau si istri juga bekerja, maka dia harus ingat bahwa kewajiban sebagai istri bisa menciptakan kenyamanan, ketenangan didalam rumah, terutama terhadap suami. Sehingga suami itu bisa betah dirumah. Dia tidak tergiur dengan yang ada diluar rumah. Si istri juga harus pandai mengurus diri agar tetap menarik bagi suami. Tapi kalau suami dasarnya “nakal”, itu lain lagi ceritanya. Kalau si istri tidak mampu memberikan ketenangan, kepuasan, kemudian tidak tahu urus diri, ya… inikan repot. Menjadi wanita karir itu boleh, tapi tetap harus menempatkan diri sebagai ibu yang memberikan pelayanan kepada suami dan anak-anak sesuai dengan kewajiban-kewajiban yang diatur dalam agama. Hak istri adalah mendapatkan nafkah lahir dan bathin seutuhnya dari suami.
Lalu?

Sesungguhnya zinah itu haram hukumnya. Apalagi itu dilakukan publik figur. Sebab apa yang dilakukannya jelas dilihat orang lain, yang baik akan ditiru, yang buruk pun bisa mungkin ditiru orang awam yang tidak paham apa itu zinah. Oleh karena itu dosa publik figur lebih besar ketimbang yang lainnya. Ada ayat yang menyatakan bahwa orang melakukan suatu dosa lantaran kebodohannya dosanya lebih ringan ketimbang yang tahu bahwa perbuatan itu adalah dosa. Mungkin pejabat yang doyan selingkuh itu tidak punya rasa malu. Ya…mungkin karena dia berprinsip banyak orang yang melakukan zinah, sehingga beban dosa dipikul semua orang. Tapi harus diingat bahwa kita tidak hidup untuk selamanya dan akan mati pada saatnya. Kapan lagi mau minta ampun kepada Tuhan kalau kita sudah tua umurnya. Ingat bahwa jika seorang sudah terjerumur  ke dalam dosa, maka ia susah untuk keluar. Jadi, jangan coba-coba masuk kedalam perbuatan atau prilaku yang haram dimata Tuhan. (by. rusdy maga)

Golkar Gelisah


sergapntt.com [KUPANG] – Golkar tak merasa telat melaunching paket kandidat gubernur dan wakil gubernur. Pasalnya, para kandidat sudah menebar pesona sejak Rapimdasus Detosoko tahun 2006 silam. “Perasaan gelisah memang ada. Tapi, kita harap awal Maret 2008 ini Golkar sudah punya paket kandidat gubernur dan wakil gubernur,” tutur Ketua Pemenangan Pemilu DPD I Partai Golkar NTT, Drs. Alex Ena,M.Si, kepada Frans Diaz dan Egi Jawa dari Tabloid Vista di kediamannya, belakang perumahan RSS Liliba, pekan silam. Berikut petikannya:
Apa saja isi kesepakatan Detusoko dan Juklak 5?
Pada Rapat Pimpinan Daerah Khusus/Rapimdasus yang diselenggarakan di Detusoko itu atas rekomendasi Rapat Kerja Daerah Bidang Pemenangan Pemilu. Ada beberapa pertimbangan yang menjadi dasar untuk kita melakukan Rapimdasus. Rapat Kerja Daerah Bidang Pemenangan Pemilu memberikan rekomendasi kepada DPD I Golkar NTT. Pertimbangan pertama, NTT adalah daerah kepulauan yang memiliki topografi sangat luas yang harus dijangkau dengan membutuhkan waktu dan tenaga. Karena itu kita membutuhkan waktu yang cukup untuk sosialisasi calon Gubernur NTT. Sedangkan menurut amanat Juklak 5, sebelum perubahan Rapimnas 2 bahwa pilkada dilaksanakan H-6 bulan. H-6 bulan itu berarti kita proses penetapannya H-2 atau H-3 bulan baru kita tetapkan calon gubernur. Untuk itu, Partai Golkar NTT harus mengambil langkah agar para bakal calon bisa mensosialisasikan diri kepada masyarakat. Berdasarkan rekomendasi itu, rapat Pimpinan Harian DPD I Golkar NTT menugaskan kepada Korbid Pemenangan Pemilu untuk mempersiapakan suatu forum yang disebut Rapimdasus untuk melakukan penjaringan bakal calon dan bakal calon yang ditetapkan di forum itu dapat mensosialisasikan diri di tingkatan struktur partai Golkar juga masyarakat umum sebagai calon gubernur NTT. Dengan demikian, Rapimdasus Golkar NTT itu merupakan kebijakan DPD I diluar Juklak 05 DPP Partai Golkar. Dalam Rapimdasus yang kita selenggarakan di Detusoko Ende itu, menjaring figur-figur bakal calon akhirnya ditetapkan 5 yang memenuhi syarat dari kurang lebih bakal calon yang muncul. Lima nama itu, Pa Medah, Pa Viktor, Pa Mell Adoe, Pa Yoseph Naesoi dan Anton Bagul Dagur. Di dalam keputusan Rapimdasus Ende kelima bakal calon itu diberikan kesempatan untuk melakukan sosialisasi diri sebagai bakal calon gubernur sampai kepada jadwal pilkada sesuai dengan Juklak 05. Jadi, mereka bebas mensosialisasi diri sampai memasukki gerbang atau pintu Juklak 05. Dalam keputusan itu, bakal  calon juga diminta untuk tidak boleh melakukan black compaign terhadap sesama calon. Mereka dengan bebas melalui struktur partai maupun melalui masyarakat atau tim sukses melakukan sosialisasi diri dengan cara-cara yang etis, santun sampai masuk ruang Juklak 05, yaitu survey. Sampai pada survey Juklak 05, bakal calon kita tidak 5 lagi, karena menurut amanat Juklak 05: siapa saja yang disebut oleh masyarakat sebagai bakal calon, kita menjaring semua untuk disurvey, dan itu terbukti kita mengusulkan lebih dari 10 nama disurvey termasuk 5 nama tadi itu.
Bagaimana mekanisme penetapan calon Golkar setelah survey LSI?
Juklak 05 diawali dengan pembentukan tim pilkada, dilanjutkan dengan penjaringan bakal calon. Setelah penjaringan bakal calon, tim pilkada rapat pleno dan penetapkan bakal calon untuk diusul kepada DPP untuk selanjutnya DPP memberikan kepada tim survey dari LSI atau dari mana begitu untuk disurvey. Setelah disurvey, menurut Juklak 05, untuk pemilihan kepala daerah provinsi, survey dilakukan 2 kali. Setelah kali survey DPP akan merekomendasikan 3 nama untuk diproses lebih lanjut. Jadi, dari belasan nama yang kita kirim, DPP hanya merekomendasikan 3 nama. Tiga nama itu akan dikirim ke tim pengarah pilkada provinsi untuk dilakukan proses pendaftaran administrasi sesuai persyaratan di Juklak. Semua dokumen administrasi itu kemudian dikirim ke DPP. DPP akan melakukan verifikasi, apakah ketiga bakal calon itu memenuhi syarat administrasi baik umum maupun khusus atau tidak. Setelah itu DPP menetapkan. Kalau 3 nama itu memenuhi syarat administrasi, maka 3 nama itu dikembalikan untuk kita lakukan konvensi atau dikenal Rapimdasus untuk menetapkan 3 menjadi 1 calon definitif. Dalam mekanisme Rapimdasus itu, kita menggunakan sistem voting blok, dimana DPP mempunyai hak 40% suara, DPD I 30% suara, DPD II 20% suara dan Ormas/Orsap 10% suara. Soal apakah kita menggunakan sistem voting blok atau tidak, itu sangat tergantung pada hasil survey. Dan itu datanya akan dikomunikasikan secara politik untuk mengambil langkah-langkah demi menjaga keutuhan, kesatuan di dalam Partai Golkar.
Apa sesungguhnya konsep voting block itu?
Itu konsep yang menggunakan prosentasi. Dalam aturan Golkar, konsep voting block sudah diatur, dimana masing-masing tingkatan prosentasinya berbeda. Kalau tingkat DPP prosentasinya 40 persen. DPD I 30 persen, DPD II 20 % dan Ormas/Orsap 10 persen. Jadi dalam kaitannya dengan penentuan calon Gubernur dari Golkar nanti, biasanya DPP dan DPD I itu punya pilihan yang sama. Masing-masing struktur itu diwakili oleh satu orang untuk memberikan suara. Walaupun hanya satu orang, nilai prosentase berbeda seperti yang saya sebutkan tadi. Satu orang ini akan memberikan suara berdasarkan keputusan yang telah disepakati. Misalnya kalau saya yang ditunjuk memberikan suara dari DPD I, maka suara yang sama bawa itu berdasarkan kesepakatan DPD I, begitu pun dengan yang lainnya.
Mengapa DPP memiliki suara terbesar? 
Ini karena memang kita berharap bahwa DPP obyektif dalam menentukan siapa yang pantas menjadi calon gubernur dari Golkar.
Sejauh ini apa saja yang sudah dilakukan Golkar dalam rangka suksesi gubernur NTT?
Pasca Rapimdasus Ende, dari kelima bakal calon itu, saya sebagai Ketua Tim Pengarah mengamati bahwa yang paling gencar melakukan sosialisasi ada  3 calon, Pa Medah, Pa Viktor dan Pa Mell. Saya pantau bahwa sosialisasi mereka cukup sampai ke tingkat-tingkat basis masyarakat. Sehingga dari segi kesiapan, walaupun sampai saat ini kita belum punya calon definitif, tapi dari segi kesiapan, kita sudah siap. Karena ketiga calon ini begitu gencar, tinggal saja menunggu siapa yang muncul. Salah satu keputusan dari Rapimdasus Ende adalah dari 5 bakal calon yang tidak keluar dari Partai Golkar tidak boleh mencalonkan diri atau dicalonkan dari partai lain. Jadi, DPD I sekarang hanya menunggu rekomendasi tiga nama bakal calon dari DPP, karena ini bagian dari tahapan. Setelah itu baru kita melakukan proses selanjutnya. Kita standby, kita sudah siapkan seluruh dokumen. Begitu rekomendasi turun, hanya jangka waktu paling lambat 1 minggu kita sudah bisa tetapkan calon definitif. Tapi sampai sekarang 3 nama itu kita belum tahu. Pilkada Gubernur itu kewenangan DPP, menurut Juklak 05.
Siapa saja yang kini disiapkan Golkar ke suksesi gubernur?
Yang pasti tidak keluar dari 5 nama yang ditetapkan di Rapimdasus Ende itu. Dan kelima nama itu bersama yang lainnya disurvey itu. Survey tahap pertama sudah selesai, tapi sampai sekarang kita belum tahu hasilnya, walaupun ada isu berkembang, tapi secara resmi  kita belum tahu. Sementara sekarang ini masih survey tahap kedua.
Menurut anda, siapa yang punya kans terkuat menjadi kandidat gubernur dari kubu Golkar: Medah, Viktor atau Mell Adoe?
Saya pikir, ketiga nama itu punya kans yang sama. Pa Medah punya kekuatan basis, Pa Viktor punya basis, Pa Mell juga punya basis. Saya pikir ketiga tokoh ini punya kapasitas, kapabilitas yang hampir sama. Jadi bagi kami sebagai tim pengarah pilkada, dari ketiga tokoh ini siapa pun yang nanti lolos dalam Rapimdasus, kita siap bertarung dengan partai lain.
Bagaimana mekanisme pencalonan dan penetapan kandidat wakil gubernur dari Golkar?
Setelah Rapimdasus menetapkan calon gubernur definitif, kita memberikan kesempatan kepada calon definitif mengajukan sekurang-kurangnya 3 nama dan sebanyak-banyaknya 5 nama calon wakil gubernur kepada DPD I, Tim Pengarah Pilkada. Kita kemudian melanjutkan ke DPP. Setelah DPP memberikan rekomendasi, kita dalam rapat pengurus harian di tingkat DPD I akan putuskan siapa wakil dari calon tetap.
Apa pandangan Golkar tentang personalitas: Ibarahim Medah, Viktor Laiskodat dan Mell Adoe?
Itu pertanyaan yang bagi saya sulit untuk mengukur pribadi orang. Tetapi bagi saya, ketiga-tiga ini bagus karena Pa Medah: bupati 10 tahun atau 2 periode, Ketua DPD I Golkar NTT. Pa Viktor: Ketua Penasehat dan juga anggota DPR RI. Pa Mell Adoe: Ketua DPRD NTT, mantan Ketua Fraksi Golkar, mantan Ketua OKK di DPD I, sekarang Ketua Kosgoro. Jadi, ketiga orang ini kader-kader yang baik.
Apa dampak dari hasil survey LSI bagi kandidat Golkar dalam suksesi gubernur? Bukankah survey pertama diungguli Frans Lebu Raya?
Ya, saya juga baca di koran bahwa hasilnya seperti itu. Tapi saya pikir tidak pengaruh apa-apa bagi Golkar kalau ada seperti itu. Tapi saya tidak yakin itu, yang saya yakin kader kita pasti menang. Kalau kita lihat di koran tentang hasil itu, kan kader Golkar ada beberapa orang. Kalau misalnya kader partai lain unggul, perlu diingat bahwa kader Golkar bukan satu saja di situ. Katakanlah di situ ada Pa Mell, Pa Viktor, Pa Medah, ketika salah satunya maju, maka kekuatan suara kedua calon yang lain itu akan lari ke satu calon Golkar itu. Mungkin tidak 100% tentunya, tetapi tiga kekuatan ini menjadi satu, kecuali ketiganya maju.
Hasil survey I memperlihatkan Frans Lebu Raya unggul. Ini namanya Golkar yang mandi keringat, PDIP yang panen. Apa analisis anda atas hasil survey tersebut?
Saya kira tidaklah demikian. Yang pasti saya sendiri belum tahu hasil survey itu sehingga bagaimana mungkin saya bisa menganalisisnya.
Salah satu tujuan survey ini adalah untuk kita bisa mengetahui peta politik masing-masing kekuatan.
Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan Golkar dalam suksesi gubernur?
Kelemahan dulu ya. Kelemahan pertama, terlalu banyak kader Golkar yang bertarung. Jujur saja, selain 3 orang: Pa Medah, Pa Viktor, Pa Mell Adoe, tetapi ada kader Golkar yang sudah dilamar partai lain. Contoh Pa Gaspar Ehok. Itu kader tulen Golkar. Pa Esthon Foenay, beliau itu calon gubernur dari Golkar kemarin. Ini kelemahan Golkar karena kadernya terlalu banyak, yang pintar-pintar, yang jago-jago semua sudah diambil partai lain. Ini karena syarat di Golkar yang maju hanya 1 orang calon gubernur dan 1 calon wakil gubernur. Kelemahan lainnya, sekarang bukan partai tapi figur, sehingga orang sudah melihat kalau ada figur kader Golkar tapi ada di partai mana begitu, mereka melihat itu lebih bagus dari yng kita usung, pasti mereka bisa ke sana. Itu kelemahan kita yang bisa menyebabkan basis-basis Golkar bisa terpecah. Tetapi kekuatan kita itu, bagaimana pun kita tidak akan terpecah-belah. Kita akan komit terhadap keputusan yang sudah dibuat bersama, baik di tingkat DPP, DPD I, DPD II sampai ke desa/kelurahan. Apalagi pada Rapimdasus Ende yang lalu sudah ada kesepakatan bahwa empat calon yang tidak terpilih wajib mendukung calon yang terpilih. Ini sanksinya berat sekali bagi yang tidak melaksanakannya, yakni diberhentikan dari partai. Selain itu, kekuatan Golkar juga pada figur yang akan kita tetapkan nanti dengan mengacu pada berbagai pertimbangan yang memungkinkan figur terbaik tersebut layak memimpin NTT ke depan.
Apa yang Golkar lakukan untuk menghindari friksi, intrik dan perpecahan interen ?
Betul sekali. Sebagai Ketua Tim Pengarah, saya sangat mengharapkan supaya sampai pada proses penetapan itu betul-betul obyektif tanpa rekayasa. Setidaknya survey yang dilakukan itu tidak ada unsur rekayasanya. Tapi saya yakin hasil survey ini baik-baik saja. Kita mengharapkan tidak mengulangi di Kota Kupang dulu, karena itu sangat mengecewakan dan memalukan. Sampai saat ini saya tetap yakin bahwa Golkar baik di tingkat DPP, DPD I, DPD II dan sampai desa/kelurahan, tetap bersatu dan bertekad memenangkan suksesi gubernur. Sebagai Ketua Tim Pengarah, saya selalu berusaha agar para kandidat tidak saling menjatuhkan. Mereka harus tetap kompak dan komit.
Paket kandidat gubernur dan wakil gubernur mana yang menjadi pesaing terberat Golkar dalam suksesi gubernur?
Saya kira semua kandidat mempunyai kekuatan yang sama, jadi tidak ada pesaing terberat untuk Golkar. Semua calon mempunyai kekuatan basis. Tapi tentang ini saya juga belum bisa memprediksikannya karena sampai saat ini belum ada calon definitif dari teman-teman partai yang lain, kecuali Pa Frans Lebu Raya yang berpasangan dengan Pa Esthon Foenay dari PDIP. Pa Gaspar meski sudah dilunching tapi pada partai pendukungnya kabarnya masih bermasalah. Begitu pun dengan Pa Beny Harman dan lain-lain. Tapi yang pasti semuanya punya kans yang sama. Kita lihat saja nanti.
Apa dampak politik dari telatnya Golkar melaunching paket kandidat gubernur dan wakil gubernur?
Bagi Golkar tidak ada istilah telat, karena untuk hal sosialisasi itu sudah dilakukan oleh para kandidat sejak keputusan Rapimdasus di Detusoko tahun 6 lalu. Jadi, tidak ada istilah telat. Tapi kalau soal perasaan gelisah memang ada, karena sampai sekarang Golkar belum menetapkan paketnya sementara paket lain sudah kibarkan bendera dan terus bekerja. Apalagi jadwal pilkada sudah dimulai sejak 5 Februari lalu. Kita berharap pada minggu-minggu awal Maret ini kita sudah menetapkan paket Golkar.
Kabarnya kubu DPP Golkar pecah antara mendukung Ibrahim Medah dan Viktor Laiskodat. Betulkah?
Oh tidak benar itu. Itu mungkin isu saja. Dalam suasana politik begini kan wajar-wajar saja isu seperti itu. Sejauh yang saya tahu, sampai saat ini Golkar tetap utuh, baik di pusat, daerah sampai ke desa/kelurahan. Saya berharap teman-teman, khususnya di daerah-daerah tidak terpancing dengan isu yang hendak memecah-belah Golkar seperti itu.
Bisa digambarkan bagaimana soliditas  para calon dari Golkar sekarang?
Ah…, ya namanya politik jadi kita tidak bisa bilang bahwa semua calon kita ini bermesrah-mesrah. Tapi namanya politik ini kan bisa saling menjual popularitas, menjual potensi diri, tetapi juga bisa sebaliknya. Tapi pengamatan kita sementara ini, untuk 5 calon kita itu masih wajar-wajar dalam proses sosialisasi diri sesuai amanat Juklak, amanat Rapimdasus di Detusoko, Ende. Nah, kita berharap bahwa 5 calon itu sesuai dengan mekanisme kita bahwa siapapun yang maju atau siapapun yang lolos dalam proses ini, 4 calon yang lain harus mendukung. Itu target kita. Tentu tugas kami, baik Tim Pengarah Pilkada maupun sebagai DPD, kami berharap tetap solid, walaupun sekarang kita berbeda, tentu banyak pengurus bisa ada di mana-mana, misalnya ada di bakal calon ini, bakal calon itu, saya kira ini wajar-wajar saja. Tetapi sebagai Ketua Tim Pengarah, saya tegaskan bahwa ketika partai menetapkan siapa yang jadi calon dari Golkar, maka seluruh kekuatan harus menjadi satu untuk memenangkan Pilkada.
Diam-diam beredar kabar bahwa Viktor Laiskodat mantan narapidana coba dihadang untuk maju bertarung dalam suksesi gubernur. Apa pandangan Golkar tentang tudingan ini?
Saya kira tidak benar kabar itu. Yang pasti itu urusan DPP, karena pilkada kepala daerah ini wewenangnya pusat. Minta maaf saya tidak bisa memberikan komentar tentang itu. (by. rudy tokan)