Cassano Jalani Operasi Jantung


sergapntt.com – AC Milan akhirnya mengumumkan kondisi sesungguhnya Antonio Cassano yang sedang dirawat di rumah sakit. Konon striker tersebut menderita gangguan pada otaknya harus absen untuk beberapa bulan ke depan.
Cassano didiagnosa menderita ‘Ischemic Cerebral Damage’, sebuah trauma otak yang disebabkan adanya lubang di antara atrium jantung.

“Antonio Cassano telah menderita kerusakan otak iskemik,” bunyi pernyataan Milan. “Pemain tersebut akan menjalani operasi dalam beberapa hari ke depan dan kemungkinan akan absen selama beberapa bulan.”

“Tes instrumental dan neuroradiological selama hampir 72 jam telah mengidentifikasi adanya gangguan di area otaknya yang mengakibatkan penurunan pada sistem neurologicalnya. Hal itu disebabkan dengan ditemukannya sebuah lubang pada jantungnya.”

Belum dipastikan berapa lama striker berusia 29 tahun ini harus absen dari lapangan, sebab masih harus menunggu hasil operasi nanti. Namun menurut pernyataan tersebut, Rossoneri tidak akan diperkuat striker yang hak kepemilikannya masih dimiliki Real Madrid itu dalam waktu beberapa bulan.

“Proses pemulihan agar ia bisa bermain kembali akan ditentukan setelah operasi, akan tetapi kemungkinan membutuhkan waktu beberapa bulan ke depan.”

“Milan mengucapkan banyak terima kasih kepada fasilitas dari Poliklinik Milan atas apa yang telah mereka lakukan dengan profesionalisme dan kecepatan penanganan yang tinggi,” tutup pernyataan tersebut.       (by. foti/mxm)

Guru Simpan Video Mesum Muridnya


sergapntt.com – Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung merazia telepon genggam milik guru dan pelajar di Sekolah Menengah Pertama (SMPN) 1 Negeri Karangrejo. Mereka diketahui menyimpan video mesum yang dilakukan dua pelajar sekolah tersebut. 
Pemeriksaan dan perampasan telepon genggam ini dilakukan Dinas Pendidikan Tulungagung menyusul beredarnya sebuah video porno di sekolah itu sejak dua pekan terakhir. Video berdurasi dua menit 31 detik ini berisi adegan mesum dua pelajar SMPN 1 Karangrejo yang dilakukan di lingkungan sekolah. “Ini sudah keterlaluan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung Bambang Setyo Sukardjono, Selasa, 1 November 2011.

Menurut Bambang, video tersebut dibuat dan disebarkan oleh FR dan EL, siswa kelas dua SMPN 1 Karangrejo yang merekam perbuatan asusilanya menggunakan kamera ponsel. Dalam rekaman tersebut terlihat FR memegang dan menggerayangi organ intim bagian atas EL yang masih mengenakan seragam Pramuka. Ironisnya perbuatan itu dilakukan di tempat terbuka di dalam areal sekolah.

Kehebohan terjadi ketika video itu dengan cepat beredar di kalangan pelajar. Bahkan dalam razia yang dilakukan Dinas Pendidikan setempat, sejumlah guru juga diketahui menyimpan video itu dalam telepon genggam mereka. “Saya perintahkan video itu dihapus dari ponsel murid dan guru,” kata Bambang geram.

Saat ini Dinas Pendidikan dan Dewan Guru tengah melakukan penyelidikan kasus tersebut. Kedua murid nakal yang menjadi pelaku video porno juga telah dimintai keterangan bersama orang tua mereka. Bambang berjanji tidak akan mengeluarkan mereka dari sekolah karena masih bisa dilakukan pembinaan internal. Dia juga berharap kasus itu bisa diselesaikan secara internal tanpa melibatkan kepolisian.

Sementara itu Kepala Sekolah SMPN 1 Karangrejo Suyatno mengakui jika kedua pelaku dalam video porno itu adalah siswanya. Senada dengan Bambang Sukardjono, dia menyatakan masih sanggup melakukan pembinaan pelaku dan tidak mengeluarkannya. Apalagi peristiwa itu juga tidak sampai meresahkan orang tua murid lainnya. “Kalau dikeluarkan akan membuat mereka semakin terjerumus,” katanya.

by. HARI TRI WASONO/Tempo

Mengenang 5 Jurnalis Yang Tewas Di Timor Leste


sergapntt.com [DILI] – Dunia berduka saat mendengar kabar kematian 5 jurnalis yang bekerja untuk sebuah channel TV Australia. Mereka tewas di Balibo, Timor Timor (Timor Leste sekarang) pada tahun 1975 yang dikenal dengan Balibo Five. Sebelumnya, kasus ini dianggap telah selesai, baik oleh Indonesia maupun Australia. Pada November 2007, deputi koroner New South Wales, Dorelle Pinch menyerahkan temuannya dalam kasus kematian Peters (salah satu jurnalis yang tewas) ke kejaksaan agung, yang lalu menyerahkan kasus Balibo Five tersebut ke AFP. Kelima jurnalis asing tersebut adalah Greg Shackleton, Brian Peters, Malcolm Rennie, Gary Cunningham, dan Tony Steward.
***
Balibo Five adalah sejarah mengenai terbunuhnya 5 jurnalis asing, 2 WN Inggris, 2 WN Australia dan 1 WN Selandia Baru, di Balibo – Timor Timur pada tahun 1975. Timor Leste bergabung dengan Indonesia setelah diinvasi Indonesia pada 7 Desember 1975, dengan alasan adanya permintaan dari empat partai yakni UDT, APODETI, KOTA, dan Trabalhista. Permintaan tersebut tertuang pada Deklarasi Balibo pada 30 November 1975. Deklarasi Malibo sendiri merupakan hasil kerja tim operasi intelijen bernama Operasi Komodo, dibawah pimpinan Letnan Jend. Ali Moertopo.
Deklarasi Malibo dibuat dua hari seteleh FRETILIN (Front Revolusioner Kemerdekaan Timor Lorosae) memproklamasikan kemerdekaan dan berdirinya Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) pada 28 Nopember 1975. Proklamasi yang dibuat secara terpaksa itu berawal dari terjadinya Flower Revolution atau Revolusi Bunga di Portugal, yakni kudeta militer terhadap rezim fasis Salazar-Caetano yang telah berkuasa lebih dari 50 tahun. Pemerintahan yang baru melakukan demokratisasi di Portugal dan dekonolisasi (memerdekakan daerah koloni) bagi tanah jajahannya. Menanggapi kebijakan pemerintahan baru tersebut, di Timor Leste berdiri beberapa partai seperti UDT, FRETILIN dan APODETI. Partai UTD menginginkan otonomi di bawah pemerintahan Portugal, FRETILIN menginginkan berdirinya negara tersendiri/merdeka, sementara APODETI menginginkan integrasi dengan Indonesia.
Tetapi pada Februari 1975, partai UDT berubah sikap menjadi mendukung kemerdekaan dan berkoalisi dengan partai FRETILIN, sementara Indonesia pun menjalankan operasi intelijen mendukung APODETI. Namun ternyata kekuatan APODETI sangat kecil, dalam pemilihan umum tingkat daerah, FRETILIN memperoleh 55% suara dan UDT 35% suara. Karena minimnya kekuatan tersebut, Operasi Komodo berubah strategi yakni melakukan pendekatan dengan UDT. Pada bulan Juni, Jend. Ali Moertopo mengundang pimpinan UDT ke Jakarta, memberitahu bahwa Timor Lorosae atau Timor Timur tidak akan merdeka selama ada FRETILIN. FRETILIN dianggap komunis dan Indonesia tidak akan mentolerir keberadaan komunis. Sejak itu, UDT keluar dari koalisi dengan FRETILIN dan bergerak lebih jauh yakni mau mengenyahkan FRETILIN. Pada 11 Agustus, UDT dengan dukungan Kom. Pol. Timor Lorosae, Let. Kol. Maggiolo Gouveia melakukan gerakan revolusioner anti komunis dan menangkapi para pemimpin FRETILIN. Karena militer Portugal tidak boleh mencampuri urusan politik partai, Gubernur Portugis pun meminta pengarahan dari pemerintah pusat Lisbon, namun respon yang diterima agak lambat. Lebih dari itu, utusan pemerintah pusat Lisbon juga tidak bisa mencapai Timor Lorosae karena dihambat pihak berwenang Indonesia di Bali.
FRETILIN yang mendapat serangan dari UDT berusaha melawan, mereka pun berhasil meyakinkan orang-orang di Timor Lorosae yang menjadi anggota tentara Portugis bahwa UDT harus dilawan. Besarnya dukungan yang mereka peroleh, pada tanggal 30 FRETILIN berhasil menguasai keadaan seluruh Timor Lorosae, UDT pun melarikan diri memasuki perbatasan Indonesia.
Gubernur Lemos yang melarikan diri ke pulau Ata`ro di lepas pantai Dili pada saat perang saudara, diminta FRETILIN untuk kembali dan melanjutkan dekonolisasi yang terputus. Tapi gubernur tidak juga datang. Dengan demikian, FRETILIN menjalankan pemerintahan termasuk menjalankan perekonomian & berbagai macam program kesejahteraan lainnya. Sementara itu mulai bulan September, pasukan RPKAD dipimpin oleh Kol. Dading Kalbuadi melakukan penyusupan di perbatasan.
Pada bulan Oktober, mereka melakukan penyerangan terhadap kota perbatasan Batugade dan Balibo. Pada saat penyerangan ini-lah tewas lima jurnalis asing dari Australia, Inggris dan Selandia Baru. Karena Portugis tidak juga datang dan Indonesia masuk menyerang, FRETILIN mengumumkan kemerdekaan dan dengan demikian akan ada pemerintahan di Timor Lorosae. Kalau tidak ada pemerintahan, Indonesia akan mudah masuk karena Timor Lorosae adalah “wilayah tak bertuan”.
***
Meninggalnya jurnalis Australia, memicu berbagai pihak dari negara tersebut untuk mengusut tuntas penyebab kematian warga negaranya. Menurut pemerintah Indonesia, kelima jurnalis asing tersebut tewas karena terjebak di medan peperangan. Namun pengadilan koroner di negara bagian Australia, New South Wales, mengatakan kelima jurnalis tersebut dibunuh oleh tentara Indonesia. Adapun dalil pembunuhan tersebut agar mereka tidak menyiarkan secara detail invasi Indonesia atas Timor Timur, yang merupakan daerah kekuasaan Portugis.
Sejumlah mantan petinggi TNI diduga terlibat, termasuk Yunus Yosfiah, anggota Komisi Keuangan dan Anggaran Dewan dari Fraksi PPP. Nama-nama lain yang disebut adalah Benny Moerdani, Dading Kalbuadi, dan Cristoforus da Silva. Benny dan Dading telah meninggal dunia. Sementara menurut Juru bicara Deplu Teuku Faizasyah, dengan memasukkan nama-nama sejumlah jenderal, Indonesia mempertanyakan sikap Australia yang menunjukan penghakiman atas Indonesia.
Seiring dengan masih meruaknya isu Balibo Five di Australia, seorang sutradara asal negara tersebut, Rob Connoly membuat film terkait Balibo Five. Film ini dikisahkan berdasarkan kacamata koresponden perang Roger East dan Jose Ramos Horta muda. Ramos Horta sendiri saat ini menjadi presiden Timor Leste. Berikut saya kutip pernyataan dari website resmi film tersebut:
In October 1975, the Indonesian military was conducting a terror and destabilisation campaign in the border regions of East Timor. Its aim was to generate atrocities that could be falsely attributed to pro-independence East Timorese forces. It would then be able to invade under the pretext of “restoring order”. Five journalists employed by Australian TV stations went to East Timor to cover the conflict. If the journalists had obtained film footage of the military campaign and conveyed it to the outside world, the Indonesian military’s cover story would have been blown. The five were killed within days of arriving at the border town of Balibo. A sixth journalist, Roger East, was killed a few weeks later in front of more than 100 witnesses. He was not the last foreign journalist to be killed by Indonesian troops. That position is occupied by Sander Thoenes, who was killed on 21st September 1999. And Indonesian journalist Agus Muliawan was murdered by Indonesian forces four days later.
In 2007, a coronial inquest established that the five journalists – Brian Peters, Malcolm Rennie, Greg Shackleton, Gary Cunningham and Tony Stewart – clearly identified themselves as Australians and as journalists. They were unarmed and dressed in civilian clothes. They had their hands raised in the universally recognised gesture of surrender. They were killed deliberately on orders that emanated from the highest levels. Their corpses were dressed in uniforms, guns placed beside them, and photographs taken in an attempt to portray them as legitimate targets.
I was Consulting Historian for the Balibo film. I was fortunate to work with film director Robert Connolly, who was committed to historical accuracy. This website provides some factual commentary for those who have seen the film and want to know more about the issues. It draws on the important work of East Timor’s Commission for Reception, Truth and Reconciliation. The Commission, known by its Portuguese initials C.A.V.R. (A Comissao de Acolhimento, Verdade e Reconciliaçao) was established as an independent statutory authority in July 2001 by the UN Transitional Authority in East Timor. It was mandated to inquire into human rights abuses committed by all sides between April 1974 and October 1999. Its official report, Chega! (Portuguese for ‘enough’), was written by national and international staff working under the direction and supervision of the CAVR’s seven East Timorese commissioners.
To Indonesian and East Timorese readers: we have some important things in common: a desire for a peaceful life, decent healthcare for all, a good education, a clean environment, meaningful relationships and a viable future for our children. I hope this website contributes to a better relationship among our three countries by allowing the truth to be known and justice to prevail.
Dengan rilisnya film Balibo Five, pihak terkait berencana untuk juga memutar film Balibo Five di Indonesia. Namun rencana tersebut terhambat dengan adanya larangan dari Lembaga Sensor Film (LSF) di Indonesia. Sejauh ini, pihak LSF sendiri belum memberi keterangan resmi terkait larangan pemutaran film tersebut. Namun seperti yang banyak beredar di berbagai pemberitaan media, film tersebut dapat menyinggung kedaulatan negara, atau mengganggu hubungan diplomatik Indonesia-Australia. (by. joao pinto)

Ayo Terus Dukung Komodo


sergapntt.com – Keikutsertaan Komodo dalam ajang New7Wonders of Nature  memancing Kontroversi. Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo melansir bahwa New7Wonders adalah yayasan abal-abal. Sebab alamat yayasan itu tidak jelas. Kabar ini tentu saja menghentakan publik Indonesia. Tapi tidak berarti semangat untuk mendukung Komodo menjadi berkurang. Setidaknya menurut Emmy Hafild, Ketua Tim Pendukung Pemenangan Komodo (P2K). Berikut petikan wawancaranya:
Duta besar dan Kementerian Pariwisata mengatakan New7Wonders abal-abal, pendapat Anda?

Ayo terus dukung Komodo. Hm,,,, Saya tidak punya kompetesi untuk menjawab pernyataan mereka itu. Tapi mengapa kami percaya pada yayasan New7wonders itu karena kami melihat profil mereka. Melihat karya mereka. Pada 2000-2007 mereka juga berhasil menggelar kompetisi tujuh keajaiban dunia. Hasilnya luar biasa. Itu menunjukkan track record mereka.

Soal alamat yang menumpang museum dan tidak ada kegiatan di sana?

Itu museum milik yang punya kok, Bernard Weber. New7Wonders itu punya banyak pegawai dan menyebar di sejumlah negara. Mereka ada di London, Zurich, dan Kanada. Weber itu punya dual citizenship, Kanada dan Swiss. Ini adalah organisasi modern, tak punya overhead cost, operasi mereka lewat dunia cyber. Kami kalau kirim email pasti dijawab. Karyawan mereka tidak berkumpul jadi satu tapi selalu travelling ke 28 negara.

Masih menurut Pak Dubes, orang Swiss tak ada yang kenal New7Wonders. Tanggapan Anda?

Dia tanya ke mana ya?  Swiss itu memang tidak perlu New7Wonders untuk mempromosikan pariwisatanya. Puluhan juta yang datang tiap tahun ke sana. Meski Swiss punya finalis, tidak banyak warga di sana yang ikut memilih.

Dan untuk diketahui, yang bersemangat dalam ajang New7Wonders adalah negara-negara yang memerlukan turis untuk memajukan bisnis parawisata mereka seperti Korea Selatan, Filipina, dan Vietnam. Bahkan di Israel ada 1.000 orang telanjang untuk kampanye memenangkan Laut Mati. Yang ribut-ribut ya di Indonesia ini.

Soal tuduhan New7Wonders yang profit oriented?

Dia organisasi independen. Semua biaya untuk pengeluaran ditanggung sendiri. Kalau nggak jual lisensi, dari mana dia dapat uang? Dia punya hak paten, investasi risiko, harus biayai ke sana ke mari. Tapi hal seperti ini memang begitu cara kerjanya. Hal yang biasa saja.

Ambil contoh Indonesian Idol, kan bayar lisensi. SMS-nya juga premium, tapi tak ada yang mempermasalahkan tuh.

Ada tuduhan, kampanye Komodo ‘menjual’ nasionalisme, benarkah demikian?

Itu sederhana saja alasannya. Waktu ada wakil kita di ajang internasional,  kita pasti mendukung. Agnes Monica misalnya, kita kan mendukung dia. Kemudian kita semua memenangkan rendang dalam polling makanan terenak di dunia versi CNN. Memangnya salah memenangkan sesuatu di tingkat dunia? Kita ini adalah bangsa yang rindu kemenangan.

Pada tahun 2007 lalu, Borobudur kalah dalam ajang New7Wonders, kita ribut-ribut. Sekarang Komodo sedang berjuang dan ada harapan menang, diributin lagi. Rakyat Indonesia ini luar biasa rindu kemenangan.

Pemerintah berdalih, kampanye Komodo tak perlu New7Wonders. Bahkan Dubes Swiss siap mempromosikan Komodo ke Eropa.

Sekarang yang datang ke Komodo cuma 100 orang per hari. Butuh kampanye yang besar. Kampanye melalui dubes, pemerintah kan pakai dana APBN. Itu jelas pajak rakyat lho. Mereka tidak pernah tanya kepada rakyat soal penggunaan uang itu. Silakan saja pemerintah kampanye, tapi jangan larang inisiatif masyarakat. Kalau mau pakai APBN, untuk biayai birokrat jalan-jalan kampanye Komodo, silakan. Tetapi sekali lagi, jangan larang masyarakat.

Komodo sudah punya dua pengakuan dari UNESCO. Itu yang jadi alasan pemerintah, kita tak butuh New7Wonders. Tanggapan Anda?

Komodo mendapat pengakuan UNESCO pada 1986, tapi meningkatnya promosi kedatangan Komodo baru dua tahun terakhir. Memangnya saat berstatus world heritage, banyak yang ke sana? Tidak, sebab UNESCO tidak berbuat banyak. Hanya beri sertifikat, lalu selesai.

Ada pengaruh kontroversi ini ke penggalangan dukungan Komodo yang tinggal 10 hari lagi?

Tidak ada pengaruhnya. Tidak turun juga suaranya. Kasihan saja pihak New7Wonders dihakimi di Indonesia. Pesan saya ke masyarakat Indonesia, terus dukung Komodo. Hasilnya juga untuk kita kok. Untuk kesejahteraan rakyat NTT dan perbaikan konservasi Komodo.

Menang atau kalah soal lain. Tapi lihat apa yang terjadi setelah kampanye ini, masyarakat menjadi sadar Indonesia memiliki kekayaan alam, Pulau Komodo. Menjadi cinta negeri sendiri. Anak-anak mengenal bahkan mengkampanyekan Komodo. Apa itu salah?
Toh, hanya dua orang dari pemerintah yang mengeluarkan statemen seperti itu. Yang lain, bahkan presiden mendukung memilih Komodo. Pesan saya pada Dubes Swiss, daripada mengurus soal Komodo, urus saja diplomasi di Swiss — bagaimana mengembalikan uang koruptor yang dibawa kabur ke sana. (by. cis/VIVAnews)

JK Ajak Rakyat Indonesia Tetap Dukung Komodo


sergapntt.com [JAKARTA] – Duta Komodo Jusuf Kalla meminta berbagai pihak agar tak perlu membesar-besarkan masalah kantor Yayasan New7wonders di Swiss yang tidak jelas seperti yang disebutkan Dubes RI di Swiss, Djoko Susilo.
Di era digital seperti sekarang ini, kata Jusuf Kalla (JK), sangat memungkinkan bagi semua orang mengetahui profil lembaga atau yayasan lewat internet. “Swiss itu kan tidak seperti di kampung bahwa kalau cari alamat harus ke RT/RW. Sekarang sudah era digital. Kita cukup buka website, kan sudah jelas. Masalah kantor tidak perlu lagi dibesar-besarkan. Hanya kita di Indonesia yang masih suka sama kantor besar,” ungkap JK dalam sebuah wawancara di Astra Toyota, Rabu (2/11/2011).
Ia menjelaskan, New7wonders adalah sebuah yayasan/lembaga yang mengurus masalah dunia sehingga sangat memungkinkan bagi aktivis atau pengurus yayasan tersebut akan selalu keliling dunia. “Maka bicara soal kantor itu tidak teramat penting, dan kantor pun tak harus dilihat dari besarnya,” ungkap JK.
Ketua Palang Merah Indonesia ini menyatakan, sekarang ini dunia sudah berubah, dunia sudah di era serba digital. “Sementara itu, Pak Dubes itu mengecek kantor New7wonders seperti cari RT/RW. Dia kan tidak pernah telepon, SMS, e-mail, dan faks untuk ajak ketemu. Nah kalau itu dilakukan, pasti akan bisa, jadi bukan seperti mencari alamat di RT/RW,” ungkapnya.
Saat ditanya bagaimana ia melihat keabsahan lembaga New7wonders sebagai pelaksana tujuh keajaiban dunia, JK mengungkapkan bahwa ajang tersebut sudah berlangsung untuk kali kedua. Sebelumnya diadakan juga 7 Keajaiban Dunia Baru Buatan Manusia, dan saat itu ada 100 juta orang yang terlibat.
Disampaikan, pada saat pengumuman 7 Keajaiban Dunia Baru Buatan Manusia itu, mata dunia tertuju pada gelaran itu. Jumlah wisatawan dari semua negara yang masuk 7 Keajaiban Dunia Baru Buatan Manusia meningkat 3-4 kali lipat.
Sebelum ditunjuk sebagai Duta Komodo, JK mengaku sudah mengecek keabsahan Yayasan New7wonders di internet. JK melihat beberapa berita di internet tentang bagaimana keterlibatan presiden negara yang menjadi finalis 7Wonders Nature ini mengampanyekan negaranya. “Mulai dari Aquino, Obama, dan beberapa lagi. Hanya kita saja yang beberapa pejabatnya justru menantang itu. Sebenarnya mereka hanya enggak minat aja. Sirik aja tuh dia,” katanya.
“Sekali lagi dunia ini sudah era digital, jadi jangan dubes itu bilang bahwa sudah tanya di sekitar situ (Swiss) tidak ada orang yang tahu (New7wonders) itu, itu kan gaya cari alamat di RT/RW. Buka dongwebsite-nya,” pinta JK, sinis.
Terkait soal dukungan ke Pulau Komodo, JK mengaku bahwa jumlahnya sudah sangat banyak, sudah jutaan yang kirim SMS setiap hari. Ketika disinggung bahwa memberi dukungan lewat SMS itu adalah sarana komersialisasi, JK pun membantah. Ia membeberkan bahwa sebenarnya ada dua cara memberi dukungan, yakni klik lewat internet dan kirim SMS.
Namun jangan lupa, lanjut JK, bahwa sebelum dipilih lewat voting, peserta sebelumnya diseleksi dulu oleh tim ahli, mulai dari 400 peserta turun menjadi 77 peserta, kemudian turun menjadi 28 peserta, pada saat 28 peserta inilah masyarakat diminta berpartisipasi untuk memilih yang paling ajaib di antara yang terajaib. “Yang mengetuai tim seleksi itu bekas Direktur UNESCO, Profesor Mayer. Tahun 2007 kan juga begitu sewaktu memilih 7wonder man made,” pungkas JK.
Karena itu JK meminta rakyat Indonesia tetap dukung Komodo via SMS atau internet.
Kontroversi keikutsertaan Komodo dalam ajang New7Wonders of Nature  kian memanas. Selasa, 1 November 2011,  Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss Djoko Susilo melansir bahwa penyelenggara New7Wonder itu adalah yayasan abal-abal. Abal-abal karena alamat yayasan itu tidak jelas. Djoko Susilo mengaku sudah menerjunkan tim guna menelusuri yayasan itu di Swis. Kantor yayasan yang luas dipublikasikan ke mana-mana itu ternyata cuma sebuah museum. Nama museum itu Heidi Weber. Sama sekali tidak terlihat adanya kesibukan hajatan internasional di kantor itu. 
Kabar itu tentu saja menghentak publik Indonesia, yang belakangan ini begitu bersemangat mendukung Komodo. Tapi itu tidak berarti semangat orang di sini mendukung hewan langka itu surut berkurang. Setidaknya itu menurut Emmy Hafild, Ketua Tim Pendukung Pemenangan Komodo (P2K). (by. kps/cs)