Sail Komodo, Ajang Promosi Parawisata NTT


TIMORense – NTT sebagai salah satu propinsi kepulauan yang kaya akan keragaman budaya dan keindahan panorama alamnya yang mempesona terus berusaha meningkatkan pengembangan dan promosi daerah pariwisatanya. Salah satu upaya pemerintah NTT untuk mendongkrak  pariwisata NTT yaitu dengan mencanangkan pagelaran Sail komodo 2013 yang akan dilangsungkan di Labuan Bajo Manggarai Barat, Tahun 2013 mendatang. Untuk menyongsong event ini, berbagai persiapan telah dilakukan sejak tahun 2012 ini.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Propinsi NTT,  Abraham Klakik yang ditemui di ruang kerjanya bersama kepala seksi Promosi, Drs. Bonaventura Rumat, (Kamis,18/01/2012), Sail komodo yang dicanangkan melalui Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra) ini sedang menunggu keputusan Presiden.  Menurut Abraham, Sail komodo 2013 ini berkiblat dari event-event yang sudah dilaksanakan sebelumnya, seperti salah satu sail Indonesia yaitu Sail Morotae di Maluku Utara 2011 kemarin.
Pada saat itu sail NTT menjadi titik sasaran dimana dari 109 buah kapal layar dari Australia, 98 diantaranya singgah di Kupang. Mereka singgah karena tertarik dengan panorama alam NTT dan banyaknya obyek wisata di NTT. Berangkat dari pengalaman-pengalaman event terdahulu, untuk sail komodo 2013 ini Pemerintah NTT beserta instansi terkait telah melakukan berbagai persiapan.
Untuk Sail Komodo 2013 nanti, jalurnya akan terbagi dua yaitu jalur utara dan selatan. Jalur utara akan melewati rute Kupang-Tanjung Bastian-Wini-Alor-Lembata-Larantuka-Maumere-Ende-Labuan Bajo. Sedangkan jalur selatan akan melewati rute Kupang-Rote-Sabu-Waingapu-Sumba Tengah-Sumba Barat Daya-Labuan Bajo. Semuanya nanti akan Finish di Labuan bajo, dan di setiap pelabuhan peserta sail akan berhenti selama kurang lebih 4 hari sampai seminggu.
Abraham mejelaskan, sponsor utama dari even ini adalah Yayasan Cinta Bahari Jakarta. Tetapi sebagai tuan rumah yang baik NTT tetap berupaya untuk memberikan yang terbaik dengan melakukan berbagai pembenahan, baik itu pembenahan infrastruktur maupun sarana dan prasarana di tempat yang akan dilangsungkan event tersebut. Selain itu NTT sebagai tuan rumah juga akan mempersiapkan berbagai kegiatan seperti atraksi kebudayaan, pembenahan kampung-kampung adat dan mengadakan festifal budaya sedaratan flores yang akan dilaksanakan di Ende tahun 2012 ini. Kepanitiaan untuk sail komodo juga sudah terbentuk, tambah Abraham.
Berdasarkan keputusan Gubernur NTT Nomor 208/Kep/HK/2011 tentang panitia persiapan sail komodo 2013 dengan Sekda Provinsi NTT sebagai ketua panitia, Kepala Biro Ekonomi Setda Provinsi NTT selaku sekretaris dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT sendiri sebagai ketua bidang promosi. Abraham juga menjelaskan, sampai sejauh ini promosi-promosi juga telah dilakukan baik itu melalui media cetak maupun elektronik untuk mengenalkan sail internasional ini kepada masyarakat dunia.
Ketika ditanya tentang rencana pengembangan daerah wisata di NTT, Abraham menjelaskan, kalau sampai dengan tahun 2012 ini perkembangan pariwisata NTT mengalami peningkatan. Dari data kunjungan wisatawan ke NTT selama tahun 2010 sebanyak 148.673 jiwa mengalami peningkatan di tahun 2011 yaitu menjadi 412.072 jiwa. Jika dibandingkan dengan provinsi tetangga kita NTB yang secara geografis lebih dekat dengan Bali sebagai kiblat pariwisata Indonesia dan mereka telah memiliki bandara bertaraf internasisonal, kita hanya berbeda sekitar 50 persen dalam hal kunjungan wisatawan dengan NTB. Dan kepala Dinas Pariwisata Propinsi NTT optimis, jumlah tersebut akan meningkat di tahun 2012 sesuai dengan visit flobamora yang dicanangkan oleh Gubernur NTT untuk menghadirkan satu juta wisatawan ke NTT. Ditambahkan juga oleh Kepala seksi Promosi, Drs. Bonaventura Rumat bahwa target di tahun 2013 diharapkan uang yang beredar di NTT sebanyak 7,5 Triliun dengan melakukan upaya antara lain merencanakan event komodo sail, pembenahan infrastruktur darat, laut dan udara, negosiasi dengan Malaysia Airlines dan Singapura Airlines untuk penambahan operator penerbangan, peningkatan frekuensi promosi, mengadakan pameran-pameran, event-event budaya dan tentunya peningkatan kualitas sumber daya manusia di NTT.
By. Merlyn Kurniawatie

Ajarkan Anak Minta Maaf


TIMORense – Pada dasarnya meminta maaf merupakan nilai dasar yang harus dimiliki setiap manusia. Di mana kita sebagai manusia seringkali berbuat salah, sehingga kata maaflah yang hendaknya diucapkan jika kita melakukan kesalahan terhadap orang lain. Tentu saja dibarengi dengan perilaku untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Namun,sering kali kata itu sulit terucap walaupun kita tahu kita berbuat salah.
Mengajarkan untuk meminta maaf sebenarnya bisa dilakukan dari anak masih bayi, yaitu dengan memberi contoh pada anak bagaimana berperilaku meminta maaf. Anak mudah sekali meniru apa yang telah dilihatnya. Jika menginginkan anak bisa meminta maaf, maka orang tua harus bisa meminta maaf. Anak bisa melihat dan mencontoh bahwa jika orang tua berbuat salah maka akan meminta maaf dan saling memaafkan.
Demikian sari pendapat ibu-ibu rumah tangga yang ditemui TIMORense di kediamannya masing-masing. Ibu Mercy di Bakunase satu mengemukakan, orang tua juga bisa mengajarkan dengan cara meminta anak meminta maaf ketika ia berbuat salah. Hal ini bisa dilakukan ketika anak sudah mulai bisaberbicara atau sudah mulai masuk ke dalam lingkungan sosial. “Meminta maaf ini sangat penting artinya bagi orang tua maka ketika anak berbuat salah jangan sekali-kali memaksa anak untuk meminta maaf,” ungkap ibu dua orang anak ini seraya menambahkan hal ini bukan membuat anak bersedia meminta maaf tetapi malahan membuat anak menjadi takut.
Dalam perspektif yang nyaris sama, Ibu Bella di Kelurahan Oesapa Barat menjelaskan, bila anak selalu disalahkan, anak bisa menjadi rendah diri, takut disalahkan, merasa diri dicap nakal, dan semakin terbentuk sifat nakalnya. “Untuk anak usia 2-3 tahun anak masih memiliki ego yang sangat tinggi dan belum bisa melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Karena itu orang tua perlu bersabar dalam mengajarkam anaknya untuk meminta maaf,” tips Ibu ibu satu orang anak ini dan menambahkan ada juga cara lain yang ampuh dalam mengajarkan anak untuk meminta maaf maupun mengajarkan nilai kebaikan yang lain, yaitu dengan dongeng atau sandiwara boneka. Dari cerita-cerita yang dilahirkan anak akan lebih mudah menangkap nilai moral yang ada dalam cerita tersebut.
Ibu Fitri di Kelurahan Airmata mengemukakan, bila anak sudah mulai memasuki usia sekolah secara perlahan-lahan ia mulai belajar melihat dari perspektif orang lain. Yang perlu orang tua sadari adalah tidak menghakimi anak di depan banyak orang atau teman-temannya, karena akan membuat anak menjadi rendah diri. Ajak anak untuk brbicara berdua dan jelaskan mengenai kesalahannya. “Berikan anak dorongan positif untuk meminta maaf. Mengajarkan anak untuk meminta maaf juga bukanlah hanya sekedar perintah, tetapi orang tua juga harus bisa menjelaskan kepada anak kenapa ia harus meminta maaf,” ungkap bunda dua orang putri seraya menambahkan orang tua juga bisa membuat suatu stimulas jika anak masih merasa takut untuk meminta maaf. Pada saat stimulus ini, ajarkan anak bagaimana cara bicaranya kemudian ajak anak menemui orang yang ingin dimintai maaf, kalau anak merasa takut maka temani dia ketika meminta maaf.
Dengan demikian, orang tua juga perlu untuk menekankan pada anak bahwa perkataan maaf bukan hanya sekedar dimulut saja, melainkan juga harus ada aksi yang menyatakan bahwa ia menyesal, ada konsekwensi yang harus diambil jika ia membuat kesalahan. Sehingga dengan meminta maaf seorang anak tidak hanya mengerti bagaimana bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya tetapi juga mampu menempatkan diri pada posisi orang lain. Marilah ajarkan anak saling memaafkan. Sehingga generasi kita tumbuh dalam damai dan sejahtera. Semoga.
By. Wesly Jacob

Pilkada Ajang Bisnis Partai


Prof. Dr. Felysianus Sanga, M.Pd 
TIMORense – Partai politik memiliki salah satu fungsi mempersiapkan kader-kader partai untuk menjadi pemimpin politik. Fakta berbicara, fungsi partai politik dalam aspek ini mandul. Parpol tidak bedanya dengan institusi bisnis yang selalu mencari untung ketika ada hajatan politik. Berikut wawancara wartawan TIMORense, Wesly Jacob (TR) dengan salah seorang pakar dari Undana Prof. Dr. Felysianus Sanga, M.Pd (FS).
TIMORense (TR) : Menurut pengamatan anda seperti apa proses pemilu kada di Kota Kupang ini?
Felysianus Sanga (FS) : Sebenarnya jika dilihat secara global, pemilukada di Kota Kupang  masih menjadi ajang bisnis bagi partai-partai politik. Partai- partai politik hanya menanti calon atau kandidat yang mendekati mereka untuk mendaftar sebagai calon walikota. Kepada para calon yang mendaftar ini partai politik menetapkan sejumlah standar atau target. Ini terjadi karena pengkaderan dalam tubuh partai politik sendiri tidak berjalan sebagaimana mestinya. Artinya, tak ada proses pengkaderan dalam tubuh partai-partai politik yang ada.
(TR) : Jadi menurut anda seharusnya bagaimana?
(FS) : Partai-partai politik harusnya memiliki kelompok basis binaan. Jangan hanya muncul atau  kelihatan pada saat ada momen politik seperti pemilu legislatif, pemilu presiden atau pemilukada saja. Yang terjadi selama ini kan, partai politik hanya nampak saat ada moment-moment seperti itu, setelah selesai mereka seperti hilang ditelan bumi.
(TR) : Mengapa bisa terjadi ?
(FS) : Itu terjadi karena partai-partai politik yang ada ini motivasinya hanya mencari kekuasaan saja. Coba anda perhatikan ada berapa banyak partai politik yang ada ini, baik yang punya kursi dan tak punya kursi di DPR maupun DPRD yang benar-benar membawa aspirasi rakyat. Karena motivasi yang salah itulah, akhirnya eksistensi partai politik hanya terjadi dan terlihat oleh masyarakat saat ada moment politik seperti pemilu ini.
(TR) : Apa makna pemilukada di Kota Kupang ini menurut anda?
(FS) : Pemilukada ini harusnya menjadi moment untuk mencari pemimpin bukan penguasa. Karena itu, untuk mencari pemimpin, harus dilaksanakan secara baik, terencana dan terukur melalui partai politik. Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan pemimpin yang baik, kalau partai-partai politik sendiri tidak melakukan proses pengkaderan, hanya asal rektrut orang  dari  mana-mana, tanpa memperhatikan kredibilitas dan kapasistas orang tersebut. Dan sialnya lagi, partai-partai politik tak pernah melakukan pendidikan politik kepada konstituennya. Sehingga yang terjadi adalah system pemilukada yang dirancang sebaik apapun tak akan bisa menghasilkan pemimpin yang baik, karena kita mengalami kekurangan kader yang punya kapasitas dan kredibilitas yang baik.
(TR) : Pemimpin yang terjaring dalam proses pemilukada ini menurut anda harusnya seperti apa?
(FS) : Bagi saya, pemimpin itu harus memiliki 2 hal pokok,  yang pertama leadership dan yang kedua adalah managerial. Kedua hal  itu, menjadi tugas Partai-partai politik untuk membentuk kader-kader agar bisa menjadi pemimpin yang memiliki karakter leadership  dan berkemampuan manejerial yang baik. Namun karena banyak partai politik tak menjalankan proses pengkaderan dengan baik dan terencana akibatnya adalah ketika seorang  calon menduduki kursi “leader” ternyata dia bukan seorang manajer yang baik. Bahkan yang sering terjadi adalah pemilukada hanya menghasilkan penguasa, bukan pemimpin.
(TR) : Artinya?
(FS) : Artinya, kita harus jujur bahwa partai-partai politik saat ini sudah gagal dalam melakukan pengkaderan. Coba anda perhatikan, dari sejumlah nama bakal calon yang muncul dan diusung oleh partai politik untuk bertarung di pemilukada kota Kupang ini, apakah semuanya murni karena proses pengkaderan dari partai politik tersebut? Kebanyakan yang ada ini adalah figur yang besar sendiri di luar lalu karena ketiadaan “pintu” masuk untuk menjadi pemimpin, maka figur tersebut harus mendekati partai politik agar diusung sebagai calon walikota. Maka disinilah partai-partai politik mulai memainkan peran sebagai “makelar” jabatan politik. Kondidi seperti ini  dapat dikatakan bahwa  partai politik dan DPRD “menggadai” hak rakyat kepada para calon atau kandidat. Akhirnya yang terjadi adalah, hanya mereka yang berduit saja yang bisa menjadi calon atau diusung sebagai calon walikota oleh partai politik.
(TR) : Pemimpin yang ideal itu seperti apa menurut anda?
(FS) : Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, seorang pejabat publik harus memiliki karakter leadership dan berkemampuan manajerial. Karena itu, menurut saya pemimpin itu ialah  seorang arsitek, yakni arsitek  pembangunan atau perubahan terencana. Ia harus sudah memiliki  desain yang jelas dan matang  serta mampu melaksanakannya secara disiplin. Bukan berjanji  sekedar menggantungkan harapan maya  pada berbagai persimpangan jalan kota.  
(TR) : Jika melihat fenomena banyaknya figur bakal calon yang ada ini, menurut anda apakah ini bisa dikatakan bahwa proses demokrasi di Kota Kupang ini sedang tumbuh?
(FS) : Saya kira semua orang berhak untuk dicalonkan dan mencalonkan diri sebagai calon walikota. Namun berdasarkan fenomena  yang  nampak, dapat dikatakan bahwa  partai politik masih gagal menyiapkan  kader partai  yang layak diusung ke atas pentas politik. Sesunguhnya masyarakat menanti  partai politik menawarkan kader yang dibanggakan partai dan diterima masyarakat  sebagai calon elit yang diharapkan masa depan. 
(TR) : Bagaimana dengan kecenderungan pemilih di Kota Kupang?
(FS) : Saya kira kalau ditanya kepada rakyat atau anggota pemilih, pasti semua menginginkan pemilukada ini bisa menghasilkan pemimpin yang bisa membawa masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun, perlu disadari juga bahwa karena pendidikan politik tak dilakukan oleh partai-partai politik kepada konstituennya, maka masyarakat pemilih ini tidak akan memakai kriteria-kriteria dalam memberi dukungan suara. Jika tidak manjadi golput maka mereka hanya mendukung dengan alasan-alasan simpati murahan, seperti kedekatan kekeluargaan, suku, agama, dan sebagainya.
(TR) : Menurut anda apa sesungguhnya persoalan di Kota Kupang yang mesti diselesaikan ke depannya?
(FS) : Persoalan yang paling mendasar adalah Kota Kupang ini sangat majemuk masyarakatnya, terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama. Karena itu, pemimpin ke depan harus mempunyai visi yang tajam dengan misi yang  sistematis dan saksama  sehingga mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan masyarakat yang majemuk ini melalui program-program yang strategis. (*)

Pragmatis Atau Rasional?


Mendengar kata PEMILU (Pemilihan Umum), mungkin yang terfikir di benak kita adalah terciptanya pertarungan atau persaingan antar elit Politik dalam pencapaian kekuasaan. Persaingan dalam menarik simpati serta suara terbanyak dari Rakyat (selaku pemilih) merupakan suatu jalan untuk memenangkan pertarungan tersebut. Sehingga Rakyat dalam hal ini merupakan pemegang kunci atau tokoh utama yang diperebutkan hak suaranya.
Segala cara dilakukan oleh para calon untuk merebut hati Rakyat, perang program kerja dan Janji-janji politik merupakan salah satu caranya. Namun itu semua sudah terdengar tidak menarik lagi di telinga para rakyat. Mereka merasa bahwa program serta janji tersebut hanyalah harapan palsu atau omong kosong semata.
Pandangan tersebut merupakan sebuah refleksi dari kekecewaan yang sekian lama telah mereka alami. Mereka menggunakan tolak ukur pada PEMILU-PEMILU yang sebelumnya pernah mereka jalani, yang dimana selalu tidak pernah membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Bagaimana program-program serta janji-janji yang disuarakan dengan lantang oleh para colan saat berkampanye dengan begitu menjanjikan, namun setelah terpilih, sekali lagi tetap tidak ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari mereka, yang dulunya miskin masih tetap menjadi rakyat miskin, yang dulunya pengangguran masih tetap tidak dapat pekerjaan, yang dulunya tidak sekolah masih tetap tidak bersekolah, dll.
Melihat kondisi yang demikian, berimplikasi terhadap pemikiran masyarakat dalam menentukan pilihan dalam PEMILU. Bagaimana masyarakat tidak lagi berfikir secara rasional tetapi lebih berfikir secara pragmatis, yang mana mereka menentukan pilihan tidak lagi berdasarkan kompetensi, program, visi-misi, serta aspek historis dari seorang calon. Tetapi lebih berdasarkan atas apa yang telah diberikan seorang calon kepadanya. Artinya mereka mengharapkan sesuatu yang berwujud nyata, bukan hanya sekedar janji-janji palsu semata.
Pergeseran pemikiran tersebut secara tidak langsung telah menumbuh suburkan praktek-praktek negatif dalam proses PEMILU. “Sogokan berkedok amal/bantuan” dan “Serangan Fajar” merupakan suatu hal berwujud nyata, yang paling ditunggu-tunggu oleh para rakyat selain pentas-pentas hiburan saat proses pemilihan akan berlangsung. Kondisi yang demikian merupakan gambaran dari sikap pragmatis serta sikap apatis masyarakat yang ditunjukan kepada para calon pemimpin tersebut.
Berkembangnya sikap pragmatis dan apatis dalam diri masyarakat juga telah merubah cara pandang serta pola pikir masyarakat dalam menentukan suaranya. Yang dimana membuat masyarakat cenderung berfikir secara sempit. Mereka tidak berfikir akan dampak serta akibat yang akan terjadi apabila mereka salah dalam memilih calon Pemimpin. Artinya kesalahan memilih sekali saja dapat berdampak selama 5 tahun ke depan dalam dinamika kehidupannya, yang lebih ekstrim lagi dampak kesalahan tersebut juga akan dirasakan oleh Anak cucu mereka.
Suatu pengambilan keputusan yang tidak pro rakyat ataupun proses pengambilan kebijakan yang tidak menyentuh dalam sendi-sendi kehidupan masyrakat merupakan dampak yang akan timbul akibat kesalahan dalam memilih sosok seorang calon tersebut. Dengan demikian yang terjadi bukan akan memperbaiki kehidupan mereka, tetapi malahan akan memperburuk kehidupan dari masyarakat itu sendiri.
Sehingga dengan adanya keadaan tersebut membuat masyarakat menjadi terjerembak dalam Lingkaran Setan PEMILU. Bagaimana sikap pragmatis dan apatis dari masyarakat yang muncul sebagai bentuk kekecewaan akan hasil yang selama ini mereka rasakan yang tak pernah merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik, disisi lain apabila mereka berfikir secara pragmatis dan apatis dalam melakukan pilihan akan berdampak lebih buruk lagi dalam kehidupannya. Sehingga dengan demikian membuat masyarakat menjadi serba salah dalam menentukan pilihannya.
Melihat dinamika yang muncul dalam masyarakat tersebut, menimbulkan suatu kekhawatiran serta rasa takut tersendiri dalam masyarakat. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut, masyarakat dituntut untuk lebih berfikir kritis, untuk bagaimana melihat aspek akuntabilitas, kompetensi, program, serta aspek historis perjalanan seorang calon dalam menetukan pilihan. Selain itu juga diperlukan kepercayaan terhadap seorang calon, bahwa ia mampu untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk kedepannya.
Dengan terpenuhinya semua itu, impian untuk mendapatkan seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat, mengerti akan kebutuhan rakyat, serta pemimpin yang dapat merubah kehidupan rakyat menjadi lebih baik, akan menjadi suatu kenyataan. Semoga anda tidak salah dalam memberikan suara untuk PEMILU.
By. Ambolas

Cinta Kandas Karena Agama


sergapntt.com, KUPANG – Berbekal ijazah SMA, dan restu dari kedua orangtuanya saat itu, Lusy (26), memberanikan diri melanjutkan studinya di Pulau Dewata, Bali. Seiring berjalannya waktu, ia mulai menjalani perkuliahan, mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru. Semuanya berjalan dengan baik, bahkan ia berhasil memperoleh prestasi dan nilai yang baik di semester awal.
Dalam pergaulan, ia mengaku tak mengalami kendala yang begitu berarti, namun sebagai gadis muda dan normal, tak dipungkirinya ada beberapa teman lelakinya yang mencoba mendekatinya untuk menjalin hubungan sebagai kekasih, tapi selalu ia tolak, dengan alasan ingin lebih fokus pada studinya. Ternyata, saat memasuki semester keempat, bertemulah ia dengan laki-laki yang bisa membuat hatinya bergetar, sebut saja Rynal.
Singkat kata, akhirnya ia dan Rynal pun menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih. Hubungan ini, menurutnya berjalan dengan indah dan sangat menyenangkan, namun hubungan yang terjalin hampir tiga tahun ini terhambat oleh perbedaan keyakinan kami. Lusy mengisahkan, akhirnya lewat sms dari Nokia 3315 bututnya, terpaksa harus mengatakan atau lebih tepatnya memberitahukan tanpa bersuara kepada Rynal, “Bahwa ada seseorang khusus diciptakan untukmu. Kita akan menemukan teman sejati kita, tapi untuk mencintai dan bersamanya adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya. Bang maaf kita bubaran saja. Kita tak mungkin mewujudkan apa-apa, lebih baik begini saja”
Begitulah kira-kira bunyi sms yang  Lusy kirimkan pada Rynal, lelaki yang 15 menit sebelumnya masih dipanggil “sayang, aku memikirkanmu…”
Tak lewat semenit hand phone kembali mengeluarkan suara kodok pertanda ada sms baru. “kok jd tiba2 gni sih???” ini balasan yang kudapat. Ia mengaku, dengan sisa kekuatan logika yang masih berdiri sempoyongan, coba membalasnya : “Maaf bang sebenarnya mikirnya udah dari kemaren cuma baru bisa ngomong saat ini. Sekali lagi maaf ya, gak bisa ngomong langsung ke abang.” Dan begitulah kontak terakhirnya dan Bang Rynal. Tak ada balasan lagi darinya. Lusy pun cukup tahu diri untuk menjaga pikiran positif atas tindakan negatif yang sudah ia lancarkan. Secara etika, harusnya bukan begini cara yang baik.
“Aku dan Bang Rynal sadar sekali atas resiko hubungan yang kami jalin. Tak bertujuan, hanya ingin menikmati atas dasar suka sama suka pada awalnya. Ada kebahagiaan yang merayapi kami. Sesuatu yang fresh yang sudah lama tidak aku kecap. Sebelum kehadirannya sempat berfikir bahwa hatiku sudah mati. Tapi dia beda. Dia adalah nuansa sayang yang benar menyentuh perasaanku. Ah indah sekali saat kami bersama. Bawel vs Ndut, begitulah panggilan kami berdua”, ujarnya sambil tersenyum kecut.
Lusy dan Rynal, usia mereka terpaut 9 tahun berbeda, ditambah dengan perbedaan budaya dan keyakinan yang tentunya semakin sulit menyatukan mereka. Meski begitu, mereka tetap saling mendukung dalam aktivitas baik kerja maupun religi.
Menurut Lusy, tak penting memikirkan perbedaan itu asalkan tetap satu hati dan saling mensupport maka kami akan terus bahagia. Tapi di titik tertentu ia terpaksa harus menepis anggapan itu. Usia yang semakin bertambah otomatis mengarahkannya pada pilihan dan keputusan. “Ya.. kami tak bisa mewujudkan apa-apa dari jalinan ini jadi sebaiknya kuakhiri saja”, tutur Lusy.
Saat mengalami masa kegalauan itu, seorang temannya pernah berkata padanya, “…Lus…ada paradigma berpikir yang sedikit keliru tentang perbedaan. Sering kita mengatasnamakan agama dan lainnya sebagai hambatan. Bukan itu poinnya, Dari awal kau menjalani hubungan itu bukan tidak tahu kalau kalian memang berbeda. Dan akhirnya kalian tetap membukukannya. Setelah itu baru muncul uneg-uneg seperti ini. Saat kita bicara perbedaan dan hubungan asmara, mari bicara dari perspektif yang terbuka.”
“Katakanlah aku naïf, pesimis bahkan pecundang. Jangan pula tanyakan perasaanku saat sekarang. Tipis sekali aku memandang iklas dan terpaksa. Saat ini logikaku yang diunggulkan, walau tak sanggup menutupi perihnya rasa ini tapi aku bisa apa. Menyesal tidak kupedulikan lagi. Asalkan jangan lebih sakit nanti, karena belum tentu aku kuat” tutur Lusy mengakhiri kisahnya.
By. Wesly Jacob