Ngapain Saya reaksi ?


sergapntt.com [KUPANG] – Kajati NTT, Oparis Siahaan, SH, nampak kaget ketika ditanya reaksinya atas surat GMNI Cabang Kupang yang meminta Jaksa Agung mencopotnya dari kursi Kejati NTT. ”Dari mana kau tahu. Mana bukti mereka kirim surat. Mana buktinya. Jangan karena ada berita di koran lalu dibahas,” paparnya menjawab Egi Jawa dan Rudy Tokan di lantai I Gedung Kejati NTT, pekan silam. Berikut nukilannya:
Pekan silam, GMNI menyurati jaksa Agung untuk mencopot anda. Apa reaksi anda?
(kali ini Kajati agak kaget setelah mendengar pertanyaan itu. Tatapannya agak beda saat wawancara soal masalah Sarkes). Dari mana kau tahu. Mana bukti mereka kirim surat. Mana buktinya. Jangan karena ada berita di koran lalu dibahas. Itu bukan pengamat. Pengamat itu mengamati yang ada bukti.
Jadi apa reaksi anda?
Saya nggak perlu reaksi. Ngapain saya reaksi. Saya anggap tidak punya data, untuk apa saya rekasi.
Apakah surat itu tak ada tembusanya ke anda?
Ndak ada itu. Cuman mereka hanya mengatakan sikapnya begitu. Jadi saya tak perlu reaksi. Karena menurut saya sikap mereka itu tak punya rasa. Makanya saya bilang jangan terpengaruh dengan berita lalu kita amati. Masalah yang mereka angkat itu kan masalah yang tidak pernah ditangani Kejati NTT. Jadi kami juga bingung ko tiba-tiba GMNI demo ke kita. Itu salah alamat dong. Kita kan tidak tangani masalah yang mereka demo itu.
Menurut anda, apakah Jaksa Agung bisa mencopot seorang Kajati hanya bermodalkan laoran dari publik?
Nda bisa. Jangankan itu, kita hari-hari dipantau ko dari Jakarta. Hari ini bagaimana Jakarta, bagaimana Kupang, bagaimana daerah lain. Tiap hari selalu dipantai. Apalagi ada laporan bulanan. Jadi tidak mungkin dong. Jangan dikira sudah bersurat begitu, lalu langsung didengar oleh Jaksa Agung. Kita kan selalu dipantau setiap hari.
Sudah berapa lama anda anda memegang job Kajati?
Kenapa, sudah nggak suka lagi ya. Ha..ha.. (sambil tertawa lepas). Baru di NTT saya menjabat Kajati, tepatnya sejak Mei 2006 saya disini.
GMNI menilai anda kurang serius tangani kasus korupsi di NTT. Betulkah?
Ya,… tapi yang jelas mereka tidak melihat angka. Jadi hanya mengatakan katanya orang-katanya orang. Itu bukan pengamat. Jadi harus mengamati sesuatu dengan data dan fakta. Serta juga mengungkapkan data dan fakta. Begitu. Jangan katanya si A misalnya, kamu buat begini, terus katanya di B kamu buat begini. Ngga bisa dong. Faktanya kayak apa baru omong, Jadi kalau tak ada data dan fakta ngga bisa dong omong.
Kasus korupsi apa yang paling berkesan di hati anda?
Kasus korupsi? Aduh…sudah ngggak ingat, udah lama itu. Kalau korupsi ini kan sudah sejak jaman dahulu kala saya tangani kasus korupsi. Saya lupa-lah.
Kalau di NTT sendiri kasus korupsi apa yang paling berkesan?
Ndak ada kalau saya kasus korupsi itu sama saja kesannya. Yang kesan dalam arti khusus ndak ada itu. Cuman cepatnya tidaknya itu tergantung dapat tidaknya memperoleh alat bukti. Jangan kalian lupa yang kita hadapi itu adalah pejabat pemerintah. Orang-orang pintar. Mencari satu lembar kertas saja penyidik setengah mati. Kalau dirobek atau dibuang, mau cari kemana. Makanya tidak segampang perkiraan orang menangani kasus korupsi. Kalau ada alat bukti itu gampang. Tapi sulitnya memperoleh alat bukti, kalau kita hadapi itu orang pintar.
Apakah anda sering diintervensi jika menangani kasus korupsi yang menangani politisi?
Kita dilarang untuk itu. Kita boleh kita campur-baurkan politik dengan hukum. Mau jadi apa orang itu, itu urusan politiklah. Kita tidak ada urusan. Kalau ada intervensi jelas kita tolak. Kita selalu berdiri pada aturan hukum.
Apa kesan anda terhadap masyarakat NTT?
Kesannya, masyarakat NTT cukup kritis dan dinamis. Itu bagusnya, sehingga selama saya bertugas di NTT tak ada satu kasus yang sampai pada tindakan hirarkis.
Publik NTT bertanya-tanya sejumlah kasus korupsi heboh seperti Sarkes  prosesnya terseok-seok. Analisis anda?
Terseok-seoknya itu karena penyidik sulit memperoleh alat bukti yang saya jelaskan tadi itu. Ndak ada dipengaruhi masalah politik misalnya atau masalah lainnya. Itu saja kendalanya. Aparatur hukum tidak pernah bernuansa ke politis dan lain sebagainya.
Hasil Penelitian UGM, kasus korupsi yang berlepotan dengan masalah politik di Indonesia, sulit diselesaikan oleh aparat hukum. Komentar anda?

Ya.. tanya saja penelitinya dong, kenapa dia ambil kesimpulan begitu. (by. rudy tokan)

dr. Niken, Keluarga Nomor Satu


SEDERHANA, ramah, dan rapi nampak akrab menghiasi tutur kata dr. Yovita Anike Mitak, M.PH. Di ruang tamu berwarna coklat putih, wanita berparas ayu yang kini menjabat sebagai Direktur RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang itu terlihat anggun dibalut stelan rok blus bercorak daerah. Begitulah kesan pertama saat Sergap NTT menemui ibu tiga anak yang akrab disapa dr. Niken itu di kediamannya di kompleks RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang pada Kamis, (14 Juni 2007) sore.
Fasenya selalu  segar dihiasi senyum. Sorot mata yang teduh menggambarkan kedamaian. Tak banyak basa-basi dalam obrolan. Semua dimulai dengan cerita yang pasti. “Saya pulang kerja rata-rata di atas jam 3.30 Wita. Maklum, mengurus rumah sakit ini ibarat mengurus rumah tangga yang besar,” ujar dr. Niken, penuh senyum.
Toh begitu, anak pertama dari empat bersaudara buah perkawinan (ayahanda) Anton Mitak dan (ibunda) Elisabeth Mitak itu tak pernah patah semangat. Semuanya dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Baginya, kepercayaan adalah amanah dan tugas adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Walaupun harus banyak menghabiskan waktu di rumah untuk urusan-urusan kantor.
“Yang lebih sering di rumah itu, menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor yang belum terselesaikan di kantor. Biasanya, waktu di kantor itu habis untuk terima tamu, ya..terima wartawan, terima karyawana rumah sakit, rapat koordinasi tingkat internal maupun eksternal. Sehingga tugas-tugas kantor ada yang tak terselesaikan, dan terpaksa harus saya selesaikan di rumah,” paparnya.
Sebelum menjabat sebagai Direktur RSU Prof. W.Z Yohanes Kupang, ibunda Antonio Edwin Porsiana (Klas I, SMAK St. Yosef Malang), Maria Diandra Porsiana (Klas III, SMPK St. Theresia Kupang) dan Diony Porsiana (Kelas I, SMPK St. Theresia Kupang) itu sempat ditugaskan sebagai dokter inpres di Kabupaten TTS.
“Dulu saya sekolah SD di SD Putri, (sekarang Don Bosko) Kupang. SMP di  St. Theresia Kupang. SMA di SMA Khatolik Malang. Kuliah di Fakultas Kedokteran Brawijawa Malang. Begitu selesai kuliah Tahun 1989, saya ditugaskan sebagai Dokter Inpres di Kabupaten TTS. Beberapa bulan orientasi di Rumah Sakit TTS, saya lalu ditempatkan di Puskesmas Polen. Dari Polen saya pindah ke Batakte (1991-1993), Bakunase (1993-1997) dan tahun 1997 saya ditarik ke Kanwil Kesehatan NTT dan ditempatkan sebagai Kepala Seksi Upaya Kesehatan Dasar,” ucapnya.
Perjalanan karir mantan dokter pribadi Gubernur NTT, Piet A. Tallo, SH selama satu periode itu berjalan bak air mengalir. Tak ada rintangan yang berarti. Kepercayaan memangku jabatan seirama dengan prestasi kerja yang ia persembahkan untuk nusa dan bangsa. Ujungnya, Tahun 2001, istri Albert Porsiana itu dipercaya menjadi Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Penyuluh Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan NTT. Pada saat yang bersamaan ia diberi kesempatan untuk mengambil gelar master di Kuala Lumpur Malaysia.
“Pulang dari sana, saya kembali menjadi Kasubdin Pengembangan Tenaga Kesehatan Dinas Kesehatan NTT hingga tahun 2006. Tanggal 4 Maret 2006, saya dilantik menjadi Direktur RSUD W.Z Yohanes Kupang. Sedangkan serah terima jabatan (dari dr. Hen Mooy) tanggal16 Maret 2006,” kisahnya.
Jika pekerjaan kantor telah selesai, wanita kelahiran Bandung 15 Februari 1964 itu mengaku, banyak menghabiskan waktu di rumah dengan berolah raga, les piano atau berbelanja. Baginya, olah raga sangat penting untuk menjaga keseimbangan. Selain bisa menghilangkan stres, olah raga juga bisa membuat fisik menjadi bugar.  Sebab, kata dr. Niken, pekerjaan yang banyak menggunakan otak (berpikir), bisa membuat seseorang cepat lelah, ketimbang pekerjaan dengan menggunakan fisik. Oleh karena itu, olah raga, makan teratur, banyak istirahat dan tidak terlalu stres harus terus dilakukan agar bisa menjaga stamina tetap bugar.
“Sejak sekolah saya paling suka basket dan bola volly. Tapi sekarang udah nggak sempat lagi. Paling saya ikut aerobic di Heny Salon. Tapi sekarang udah jarang. Ya…tau sendirikan. Tapi, olah raga itu penting loh. Itu untuk menjaga keseimbangan,” tegasnya.
Selain olah raga, les piano, dan berbelanja, dr. Niken ternyata gemar membuat kue demi kesenangan anak-anak dan suami. “Tapi terus terang loh, saya nggak bisa masak. Justru suami saya yang pandai memasak. Sering sih diprotes anak-anak, papa saja yang masak, jangan mama, nggak enak rasanya. Yang saya bisa, paling buat kue, itu pun diajarkan oleh mertua. Tapi, yang penting bagi saya adalah kebahagiaan anak-anak dan suami. Prinsipnya keluarga itu nomor satu, walupun aktivitas hidup lainnya juga penting,” timpalnya.  
Soal makanan favorit, ibu yang satu ini hanya punya satu, yakni daging. “Kalau belum makan daging, rasanya saya belum makan. Saya paling suka steak”, tandasnya.  (by. cis)

Tradisi ‘Sunat Lalu Kawini Perempuan’ Di Timor Barat


Sifon adalah sebuah tradisi lelaki di daerah Timor Barat terutama TTS,  TTU, dan Belu — suatu tradisi atau mi­tos agar lelaki menjadi perkasa dengan meninggalkan luka bagi perempuan. Luka betulan, termasuk penyakit menular seksual. Di sungai sebuah ritual Sifon dimulai, di Nusa Tenggara Timur. Sifon adalah hu­bung­an badan paska sunat pada laki-laki.
Sunatnya, tak banyak berbeda dengan su­nat di daerah lain, hanya saja biasanya dilakukan secara tradisional di kampung-kampung. Tujuannya juga baik untuk kebersihan dan kesehatan kaum laki-laki. Segalanya menjadi berbeda dan men­ce­ngangkan, setelah sunat berlangsung.
Kepala BKKBN NTT Soter Parera: (Laki-laki yang sudah punya anak, dua tiga ora­ng, itu supaya kelaki-lakiannya makin ini, maka harus disifon, disunatin. Tapi tidak di­berikan semacam betadin dan obat anti in­feksi, itu malah dengan sifon itu seolah-olah kekuatannya, jadi hebat. Tapi bisa terjadi dia infeksi penyakit kelamin, tapi dari segi potensinya tambah hebat). Itulah sifon. Entah bagimana asal-usulnya, sifon menjadi bagian penting dari sunat. Bagi laki-laki yang melakukan sunat secara tradisional, bila sifon tak dilakukan dipercaya akan men­datangkan bala alias hal-hal yang buruk.
Suster Sisilia dari Forum peduli perem­puan di kabupaten belu: (Sial itu yang ada dalam dirinya, kalau itu belum dibuang, is­tri­nya sendiri yang kena. Termasuk peleceh­an baik itu kepada istrinya maupun pada pe­rempuan yang dijadikan sifon, dan pe­rem­puan harus dijadikan seperti itu baik un­tuk menyembuhkan sekaligus membuang panas).
Jadilah perempuan sebagai tempat membuang sial laki-laki yang disunat. Sifon masih banyak dijumpai, terutama pada suku Atoni Meto, Amarasi dan Malaka Pulau Ti­mor. Bila sang pemuda tidak melakukan hubungan seks paska sunat atau sifon, mereka takut akan menjadi impoten. Peneliti dari Unversitas Nusa Cendana Kupang, Pri­mus Lake mengatakan Sifon masih banyak dijumpai. Di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan di Timor Tengah Utara (TTU) terdapat di seluruh kecamatan, dan di kabupaten Belu ada di 10 kecematan dari 17 kecamatan yang ada. Primus menyusuri desa-desa tempat para laki-laki banyak melakukan sifon selama lebih dari 5 tahun. Tradisi itu dimulai dengan pen­dinginan dan pengakuan dosa atau naketi di sungai yang mengalir. Pasien berendam dalam air di pagi hari.
Primus Lake: (Orang sunat itu kan dua tiga orang, satu kelompok kecil jarang orang sendiri, sendiri. Nah alasannya kedua dia akan memikul bawa, dosa-dosa. Nanti tukang sunat akan menanyakan, Selama ini sebelum anda sampai penyunatan ini, sudah pernah berhubungan seks dengan berapa perempuan, dan itu harus jujur, kalau tipu itu akan ada tanda. Kalau dengan tiga pe­rempuan akan ambil tiga kerikil kecil, atau biji jagung boleh).
Pelaku sifon harus menyiapkan ayam dan pernak-pernik untuk prosesi sunat yang akan dipimpin dukun sunat atau ahelet. Kira-kira dibutuhkan Rp 25 ribu hingga Rp 150 ribu rupiah. Ahelet kadang pilih-pilih calon pasiennya, jika dalam pengakuan dosa di sungai pasien belum pernah melakukan hubungan seks, dukun sunat menolaknya. Semakin banyak pengalaman seksnya, semakin bagus menurut si dukun sunat.
Sunat kemudian dilakukan dengan meng­gunakan bilah bambu, pisau atau diikat de­ngan tali-tali tertentu. Jika sudah selesai, pa­sien kembali dibawa ke sungai untuk proses penyembuhan. Diperlukan waktu sekitar 1 minggu sampai 10 hari untuk mengeringkan luka sehabis disunat. Nah ketika masih terluka itulah, ritual sifon dilakukan. Menurut Tokoh masyarakat timor Tengah selatan TTS Federick Fobia Sifon dipercaya sebagai cara menyembuhkan luka.
Selanjutnya si pasien tidak boleh lagi berhubungan seks dengan perempuan yang dijadikan obyeks sifon seumur hi­dupnya. Berdasarkan kepercayaan Atoni Meto, perempuan itu sudah menerima panas dari si pasien. Panas dalam konsep ini berarti penyakit kelamin. Jika si pria nekad dan berhubungan seks lagi dengan perempuan yang sama, maka penyakitnya akan kembali padanya. Perempuan yang kena sifon juga diyakini kulitnya bersisik dan berbau. Itulah sebabnya mengapa sifon tidak boleh dilakukan dengan istri sendiri. Juga, tidak akan ada lelaki yang mau memperistri pe­rempuan yang menjadi obyek sifon.
Primus Lake: (Yang penting adalah perempuan akan mengalami penderitaan, penyakit, apakah itu penyakit kelamin, atau penyakit yang menurut mereka matanya kuning, kulitnya kuning kemungkinan besar hepatitis. Makanya kalau orang tahu, wanita melayani laki-laki untuk sifon, maka orang kampung tidak mau kawin dengan pe­rempuan itu, karena dia tahu panas laki-laki di buang kesitu).
Pada saat Sifon berlangsung penyakit menular seksual berpotensi menyebar.
Primus Lake: (Kalau anda pergi ke TTS tidak semua, tapi ada beberapa desa tertentu, yang mengatakan bahwa salah tujuan sifon itu memecahkan kaulili, nama lain dari sifon tape kaulili artinya memecahkan akulili. Anda bisa bayangkan kalau bengka isinya apa, pasti darah dan nanah).
Sifon juga dipercaya membuat laki-laki awet muda. Hubungan seks pakca sunat ada yang berhenti pada taraf sifon, tapi ada pula melanjutkannya hingga tiga tahap.
Primus Lake: (Hubungan yang kedua namanya macem-macem, bisa sebau atau menaikan badan untuk memulihkan kebugaran tubuh, Itu dengan perempuan lain lagi? Dengan perempuan lain lagi. Ada yang waekane, ada yang disebut sebagai haukena, tujuan untuk membersihkan selaput kasar. Pada hubungan yang ketiga biasanya sudah sembuh, haeiki atau TTS menyebut tak nino artinya membuat mengkilat, membuat mulus kembali). Setelah tahap ini, akan dilakukan pen­dingin­an, baru kemudian boleh berhu­bungan lagi dengan istrinya. Tak jarang sang istri tahu bahkan memberi izin bagi suaminya melakukan ritual itu. Menurut para istri, jika ritual itu tidak dilakukan, istri akan mendapat bala.
Menurut Primus Lake, jika seorang pemuda atoni meto tidak melakukan ritual itu maka akan dikucilkan, disindir-sindir dalam upacara adat.
Primus Lake: (Misalnya mereka membuat pantun, menyanyikan pantun, biasanya menyakitkan sindiran-sindiran itu. Atau biasanya ada prilaku simbolik tertentu. Mi­salnya orang datang, tahu kalau laki-laki belum sunat di suruh duduk di atas kulit kambing. Kenapa kulit kambing, laki-laki yang belum sunat baunya mirip kambing yang belum di kebiri. Kalau di belu bagian selata di masyarakat Malaka, da satu kam­pung dekat koba lima dekat perbatasan Timor Timur, kalau laki-laki belum sunat tidak akan dizinkan ikut membunuh hewan untuk pesta).
Sifon sering dilakukan pada masa panen. Karena itu para orang tua kerap mewanti-wanti anak perempuannya agar berhati-hati dan tidak menjadi korban sifon. Tetapi menurut ketua BKKBN Soter Parera yang kerap menjadi korban sifon adalah pe­rem­puan yang sudah punya pengalaman seks, terkadang istri orang.
Soter Parera: (Tetapi kebiasaan mereka dia tidak boleh menggauli istrinya tetapi un­tuk mengobati lukanya, dia harus ber­hu­bungan dengan wanita yang sudah punya anak, wanita atau janda). Ahelet atau dukun sunat juga bisa me­nye­diakan perempuan bagi pasien sifon. Ter­­kadang satu perempuan untuk tiga pa­sien sekaligus. Terkadang, supaya hu­bungan seks itu lancar, perempuan korban sifon lebih dahulu dicoba pembantu sang dukun. Kini banyak juga proses sifon di­lakukan di tempat prostitusi. Menurut penelit Primus, se­kalipun di kalangan pekerja seks komersial, hanya sedikit saja perempuan yang mau menjadi obyek sifon. Mereka juga takut terkena bala, tetapi mereka sering ditipu.
Yosef: (Tergantung keinginan kamu, mau dibesarkan atau mau dipanjangkan atau maulebih kuat, pokoknya banyak lah yang ditawarkan, kita kan malu ke dokter, katanya sunat kampung lebih bagus, setelah disunat habis secara kampung, waktu proses me­ngeringnya yang masih ada lukanya sedikit itu harus tidur dengan perempuan, Kalau engga? Kalau engga yang kita ingini besar kencang panjang ngga jadi).
Pemuda bernama Yosef ini tinggal di Ku­pang, bukan tinggal di kampung. Me­nurut dia, sampai saat ini sifon masih banyak bahkan meluas ke kota kupang, terutama kupang barat. Ada lagi pengakuan Rodi, ia seorang pegawai negeri. Katanya waktu ia melakukan sifon beberapa waktu lalu, banyak sekali yang berminat. Rodi: (Diperpanjang, dan terbukti. Waktu pertama kita dari daerahnya ada sekitar 9 orang, pokoknya kelakar. Semua kelakar abis, maklum laki dengan laki. Sampai di sana ketemu lagi orang tua ada beberapa, antri).
Menurut peneliti dari Universitas Nusa Cendana Primus Lake, banyak pejabat tinggi di kalangan pemerintahan dan kalangan intelektual melakukan hal yang sama. Dukun sunat merasa bangga bila pasiennya adalah pejabat, maka tak heran bila nama-nama besar itu dipamerkan kepada Primus yang telah meneliti adat ini lebih dari 5 tahun.
Primus Lake: (Sudah menjabat tapi masih melakukan sunat dengan sifon. Ada yang sunat di dokter tapi melakukan sifon, sunatnya di dokter. Saya menemukan ada petugas kesehatan yang disunat oleh temannya, temannya juga petugas kese­hatan, juga melakukan sifon. Anda bisa bayangkan, kekuatan mitos ini luar biasa).
Tetapi jangan coba tanyakan ini kepada para pejabatnya. Juga tentang apa upa­yanya mengurangi tradisi sifon ini. Ja­wabanya bakal kompak, itu masa lalu. Jikalau ada di kampung-kampung satu atau dua kasus saja. Ketua BKKBN kabupaten Timor Tengah Selatan, Federick Ndolu, dari daerah yang dikenal masih melakukan tradisi ini mengatakan tradisi sudah hilang sejak 10 tahun yang lalu.
Federick Ndolu: (Benar itu kental sekali, tetapi beberapa tahun terakhir bupati turun ke desa bawa itu adat, itu adat turun me­nurun mulai diminta supaya dikurangi kalau bisa di hapus. Jadi bupati sekarang saja, 3 bupati yang lalu. Sepuluh tahun lalu, sudah minta kalau bisa dihapuslah, ndak boleh ada lagi. Kondisi riil masih ada sediki-sedikit).
Gereja katolik dan BKKBN menjadi lembaga yang paling strategis untuk menekan praktik sifon. Namun, Romo maxi Unbria dari gereja katolik keuskupan Ku­pang menegaskan tradisi ini melanggar norma agam diyakini tinggal kenangan.
Romo Maxi Unbria: (Kalau saya melihat sebenarnya praktik itu secara diam-diam tersembunyi ada. Tapi saya melihat sifon itu bisa terjadi karena ada kompromi antara mereka yang melakukan sunat dan mereka yang siap. Saya melihat ini, ini suatu budaya dulu, tapi perlahan mulai berkurang karena gereja dan pemerintah memperkenalkan cara hidup yang benar).
Kenyataan berbicara lain. Perbincangan dari mulut ke mulut, di tempat para laki-laki bisa nongkrong malah memperluas tradisi sifon. Kini Sifon bukan saja akrab di suku atoni meto atau suku dawan di TTS maupun TTU atau orang malaka di Belu Selatan. Tengoklah pengakuan Yohanes pemuda dari Flores Timur.
Yohanes: (Bahwa buang sial itu, pertama yang kedua biar perkasa. Setelah itu dilakukan apa memang seperti kondisinya” Hehehehee berat sekali pertanyaanya. Saya tertarik karena punya banyak teman, karena informasi dari teman-teman. Waktu saya masih kuliah, Teman-teman aku banyak dari TTS, informasinya berkembang, aku nangkap, aku tertarik. Merasa menyesal? Tidak ada perasaan itu yang muncul). Menurut Primus Lake, jika seorang pemuda atoni meto tidak melakukan ritual itu maka akan dikucilkan, disindir-sindir dalam upacara adat.
Primus Lake: (Misalnya mereka membuat pantun, menyanyikan pantun, biasanya menyakitkan sindiran-sindiran itu. Atau biasanya ada prilaku simbolik tertentu. Mi­sal­nya orang datang, tahu kalau laki-laki be­lum sunat di suruh duduk di atas kulit kam­bing. Kenapa kulit kambing, laki-laki yang belum sunat baunya mirip kambing yang belum di kebiri. Kalau di belu bagian selata di masyarakat Malaka, da satu kam­pung de­kat koba lima dekat perbatasan Timor Timur, kalau laki-laki belum sunat tidak akan di­izin­kan ikut membunuh hewan untuk pesta).
Apa mau dikata, menurut pegawai kantor pemberdayaan perempuan, TTS Yohanes Kleing adat memang melegalkan prilaku ini. Yohanes Kleing: (Ini soal tokoh adat tokoh masyarakt tidak berurusan itu, mereka melihat ini gejala sosial di masayarakat Tokoh adat tidak terketuk untuk mengurangi hal itu ? saya ingin bilang ini gejal sosial, pola pikir mendapat legitimasi dari tokoh adat, tidak secara formal tapi semacam itu terpola dalam pikiran tokoh adat. Tidak ada sikap menentang sifon).
Dari sisi peempuan yang menjadi obyek, sifon jelas menempatkan perempuan sebagai tempat pembuangan bala. Sialnya perempuan yang menjadi obyek sifon ditipu kerap ditipu. Yohanes Kleing: (Bukan santetlah, tapi semacam diperdaya perempuan, terkadang perempuan tidak tahu juga saat melakukan itu, itu kesempatan laki-laki untuk melakukan sifon,Hah semacam hipnotis begitu. Ada yang dibayar ada yang tidak dibayar. Keba­nyakan perempuan tidak tahu saat itu ia se­dang melayani laki-laki yang melakukan sifon).
Di kawasan prostitusi sekalipun praktik ini sesungguhnya di hindari oleh para pekerja seks. Perempuan mana yang ingin dijadikan tempat pembuangan kotoran dan kesialan ? banyak pekerja seks komesial baru menyadari mereka menjadi obyek sifon ketika laki-laki pelaku tak mau menjawab sapaan atau pertanyaanya sewaktu dan seusai hubungan berlangsung. Itu salah satu syarat sifon. Makanya PSK pun akan malu dan takut mengakui ia telah melayani laki-laki sifon.
Bukan hanya secara mental dan fisik perempuan menjadi korban dari prilaku sifon. Suster sisilia dari Forum peduli perempuan di belu mengungkapkan banyak perempuan mengadu ke lembaganya. Sebagian juga di­ru­gikan secara ekonomi dan memecah belah hubungan dengan tetangga maupun keluarga
Suster Sisilia: (Mereka datang biasanya mengadu, bahwa suaminya berbuat begini, setelah itu bikin rusak orang punya anak ini. Sekarang saya harus bayar ganti rugi, kalau anak dibikin rusak dia harus ganti rugi bayar 5 juta, itu termasuk ringan sebenarnya. Tapi buat orang miskin itu berat sekali, karena beri makan anak tidak bisa, sekolah kan anak, kelas enam harus berhenti, tapi dia bisa beli itu).
Sebagai rangkaian dari sunat tradisional Atoni Meto sudah begitu mengakar pada masyarakatnya. Karenanya tak perlu berdebat apakah adat masih ada atau tidak, tapi segera beranjak memberi advokasi. Kenyatannya Primus masih harus menyusuri desa-desa untuk berkampanye tentang tidak perlunya sifon dilakukan. Bukan tanpa hasil, bersama para dokter primus sedikit demi sedikit bisa mendidik para dukun sunat.
Di kalangan masyarakat kampung di TTS dan TTU Primus juga mencatat sekitar 400 pemuda yang melakukan sunat sehat tanpa sifon. Termasuk memperkenalkan sunat pada masa kanak-kanak seperti yang biasa dilakukan kalangan muslim. Ia datang ke perkampungan dengan mitos baru, tanpa sifon laki-laki tak akan impoten.
Primus Lake: (Itu yang paling sulit tidak melakukan hubungan seks setelah sunat. Setelah lima tahun kemudian baru sebagian warga, bersedia menjalani sunat secara sehat, Setelah lima tahun. Jadi itu 33 desa, baru 407 orang, 41 persennya anak dibawah 17 tahun. Itu sesuatu yang baru untuk orang atoni, karena orang atoni tidak mengenal tradisi sunat anak).
Alasannya bila sunat dilakukan waktu masih belia, akan membuat laki-laki impoten dan berbadan kuntet alias kecil. Primus pun menyadari mitos tentang keperkasaan hanya lewat sifon sulit sekali hilang. Jadi menurutnya, tak perlu menyudutkan mereka yang lekat dengan tradisi ini. Tudingan bersalah atau pendosa, tak mempan menyadarkan sebagian laki-laki suku atoni meto, dawan atau malaka untuk meninggalkan sifon. Tetapi mereka bisa didekati menciptakan mitos lain, tanpa caci maki.
Lelaki memang pusing alang kepalang bila mengetahui telah kehilangan fungsi ereksinya. Kekuatiran yang turut membikin jamuran tempat praktik dan pengobatan dengan janji mengembalikan “kemampuan” atau bahkan “lebih greng”. Sifon itu cuma satu fenomena, meski dibilang terlalu kapiran. (Oleh: ARIN SWANDARI/Redaktur Newsroom dan Radio 68H Jakarta)

2 Hari 2 Malam Di Jakarta, Aku Disetubuh Secara Paksa Sebanyak Tiga Kali!


sergapntt.com – MALANG benar nasib Omega Dayang Sari alias Mega. Wahasiswi salah satu universitas terkemuka di kota Kupang  ini mengaku pernah diperkosa oleh Wakil Bupati Kabupaten Rote Ndao, Bernad E. Pelle, S.Ip sebanyak tiga kali hingga vaginanya mengalami pendarahan. Ulah bejat sang Wakil Bupati itu terjadi di Hotel Kaisar Jakarta, Hotel Kristal Kupang dan Hotel Flobamora II Kupang. Benarkah? Berikut penuturan Mega; 
Maret 2006 aku resmi menjadi anggota DPD Partai Demokrat NTT dan ditempatkan pada Biro Pem­berdayaan Perempuan Partai Demokrat NTT. Tak lama berselang aku dimutasi sebagai staf sekretariat bersama seorang temanku bernama Merry Jagi. Aku diberi upah kerja sebesar Rp. 500 ribu per bulan. Setiap hari aku bekerja dari pukul 09.00 hingga 17.00 wita. Namun tidak jarang pula aku pulang malam hari karena harus mengikuti rapat-rapat yang digelar oleh partai. Jujur, aku baru mengenal Ketua Partai Demokrat NTT yakni pak Bernard Pelle ketika aku bertugas sebagai staf di sekretariat.  Awalnya keseharian kami tidak ada yang khusus. Hubungan kami tidak lebih dari hubungan antara atasan dan bawahan. Baru pada bulan Mei 2006, prilaku aneh pak Bernard mulai mengganggu fokus kerjaku sebagai staf. Itu bermula ketika Partai Demokrat melakukan Musyawarah Cabang (Muscab) selama tiga hari di Kabupaten Belu. Waktu itu dia dan semuanya staf sekertariat ikut serta dalam kegiatan Muscab, hanya aku yang tinggal karena aku masih disibukan dengan ujian smester. koran Timor Express (Timex) memberitakan bahwa kegiatan partai lima tahunan itu diwarnai permainan uang. Sebagai staf yang baik aku melaporkan pemberitaan koran itu kepada pak Bernard melalui SMS (short message service). Ujungnya, sekembali dari Belu, pak Bernard memintaku via te­lepon untuk segera membawa koran Timor Express ke rumah­nya. Aku tak keberatan. Dengan meng­gunakan ojek, sekitar pukul 10.00 wita aku ti­ba di ru­mah­nya. Anehnya ketika sampai dan dipersilahkan duduk disalah satu kursi di ruang ta­­mu­­­nya, pak Bernard justru dengan cekatan menutup pintu dan gorden jendela rumahnya.   A­ku tak tahu maksudnya apa. Belakangan aku ditanya,”Kau datang tadi, apa ada yang lihat?”. La­lu aku polos menjawab, “Iya pak, ada yang lihat”. Mendengar itu, beberapa saat kemudian dia kem­bali membukakan pintu dan gorden jendela rumahnya. Toh begitu, selama berada di rumahnya, pak Bernard sempat memegang pipiku dan memujiku bahwa aku cantik sekali. Jujur saat itu perasaanku tak menentu. Bangga bercampur ta­kut menjadi satu. Aku bangga karena aku dipuji. Namun aku takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi padaku. Karena itulah tak beberapa saat kemudian aku pamit pulang. Saat hendak pulang aku masih ditawari untuk diantar oleh pak Bernard. Tapi aku tolak. Aku pulang jalan kaki. Beberapa hari kemudian kami bersua kembali di sekretariat partai di jalan Eltari Kupang. Kali ini aku diminta untuk ke ruang kerjanya. Awalnya aku tak mau. Tapi karena takut dipecat lantaran dianggap tidak loyal, akhirnya aku turuti juga. Tapi lagi-lagi aku digoda. Aku dibilang cantik lah, dibilang manis lah dan lain sebagainya.  Pada hari berikutnaya, yakni pada 3 Juni 2006, pak Bernard kembali menelponku. Saat itu aku sedang berada di kampus. Dia memintaku untuk segera datang ke Restauran Teluk Kupang karena ada sesuatu yang penting menyangkut klarifikasi pemberitaan Timor Express. Aku disuruh membawa serta sejumlah uang. Disana aku temui pak Bernard sedang berbincang dengan dua orang wartawan Timor Express. Setelah itu aku dan pak Bernard kembali ke sekretariat partai. Disana aku dipanggil ke dalam ruang kerjanya. Didahului dengan basa-basi, tiba-tiba pak Bernard mengutarakan cintanya kepadaku. Katanya dia jatuh cinta padaku. Mendengar itu aku hanya diam saja. Mungkin karena aku diam itulah pak Bernard seketika bangun dari duduknya dan langsung memeluk serta menciumku. Tentu aku tak terima diperlakukan seperti itu. Dadaku benar-benar terbakar karena amarah. Tapi aku tak mampu ungkapkan kemarahanku. Aku hanya bisa berusaha menghindar dengan cara keluar dari ruangan. Dalam hati aku tak ingin lagi bertemu dengan pak Bernard, tapi di sisi lain aku masih ingin bekerja di sekretariat Partai Demokrat NTT. Selepas itu, pada 10 Juni 2006 aku diajak pak Bernard ke Kabupaten Ngada untuk memantau kegiatan Muscab Partai Demokrat Kabupaten Ngada. Selama di Ngada aku tidur sekamar bersama temanku Ance. Waktu itu kami nginap di Hotel Roda Bintang di Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada. Disana aku nyaris diperkosa. Aku dicium, dipeluk, bahkan pakaianku dipreteli secara paksa hingga nyaris telanjang. Dia juga sempat menutup wajahku dengan bantal agar aku tak berteriak minta tolong. Tapi usahanya itu tak berhasil. Sekuat tenaga aku berusaha meronta. Hasilnya kehormatanku berhasil aku pertahankan. Pada 29 Juli 2006, lagi-lagi aku diajak ke Jakarta menggunakan penerbangan Sriwijaya Air. Di Jakarta pak Bernard merayuku. Dia berjanji jika aku meladeni napsu seksnya, maka dia akan menikahiku. Bahkan dia rela  pindah agama jika aku berkenan menerimanya sebagai suami. Aku terjebak. Aku tiba-tiba terpengaruh dengan rayuan gombalnya. Toh begitu dalam hati aku belum mau melakukan hubungan seks. Tapi dasar sudah kebelet, selama dua hari dua malam di Hotel Kaisar Jakarta aku disetubuhi secara paksa sebanyak tiga kali. Akibatnya aku mengalami pendarahan, mungkin karena selaput keperawananku robek. 
Dari Jakarta aku pulang sendiri dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Sedangkan pak Bernard via Surabaya baru ke Kupang. Setibanya di Kupang, pak Bernard meneleponku bahwa istrinya sudah tahu tentang apa yang terjadi di Jakarta. Sontak saja aku ketakutan. Untuk menenangkan diri, aku berangkat ke Surabaya. Tapi karena diminta dan dirayu oleh pak Bernard, maka pada 5 Agustus 2006 aku kembali ke Kupang. Aku tiba di Kupang sekitar jam 13.00 wita. Dari bandara aku langsung ke sekretariat. Tak lama berselang aku di sekretariat, tiba-tiba aku didatangi oleh istrinya pak Bernard. Aku dimarahi habis-habisan. Takut jika terjadi sesuatu aku langsung hubungi pak Bernard via hand phone. Aku bilang ke pak Bernard bahwa istrinya sedang berada di sekretariat dan sedang ngamuk tak karuan. Entah darimana datangnya tiba-tiba pak Bernard sampai juga ke sekretariat. Serta merta dia membentak dan menampar istrinya. Aku panik. Sementara perasaan takut terus mengnatuiku. Aku bisa agak lega ketika istri pak Bernard datang meminta maaf kepadaku. Mungkin disuruh oleh pak Bernard. Tidak lama kemudian kemudian istrinya berlalu pergi pulang ke rumahnya. Begitu istrinya pulang, pak Bernard membujukku agar aku jangan terpengaruh dengan kedatangan dan kemarahan istrinya. Waktu itu pak Bernard bilang begini, “Lu jangan percaya dia, beta pung rumah tangga sudah hancur lama. Dia sendiri ada selingkuh dengan sesama anggota DPRD”.  Aku sih percaya-percaya saja. Tapi rasa takut terus menghantuiku. Oleh karena itu pada malam harinya aku berusaha menghubungi pak Bernard sekedar membagi kepanikan dan ketakutanku. Sayang saat dihubungi pak Bernard mematikan HP-nya.
Keesokan harinya pagi-pagi buta aku diminta oleh istrinya pak Bernard untuk datang ke rumahnya yang terletak di jalan Air Lobang II, Kelurahan Sikumana, Kota Kupang. Kata istrinya dia ingin masalah cinta antara saya dan pak Bernard diselesaikan secara baik-baik. Aku setuju. Singkat cerita dengan meng­guna­kan ojek aku sampai juga di rumahnya. Saat itu istri pak Bernard meminta aku untuk tidak lagi mendekati suaminya. Tapi pak Bernard justru balik menuding istrinya berselingkuh. Sempat terjadi pertengkaran antara pak Bernard dan istrinya. Aku jadi tak enak. Karena kasihan terhadap istrinya, aku bilang ke pak Bernard bahwa biar aku yang mengalah saja. Walaupun sebetulnya aku sudah hancur. Tapi pak Bernard tak mau. Pak Bernard tetap pada pendiriannya ingin menikahiku. Bahkan saat itu juga dia berjanji akan menikahiku di tahun 2008 ketika masa jabatan sebagai Wakil Bupati Kabupaten Rote Ndao berakhir dan setelah dia menceraikan istrinya. Dia memintaku untuk bersabar hingga saatnya tiba. Untuk itu pak Bernad meminta aku untuk berpura-pura mengalah di depan istrinya. Konsekuensi dari berpura-pura itu kami membuat pernyataan bahwa aku bersedia menjauhi pak Bernard. Karena pernyataan itu istrinya sempat berterima kasih kepadaku. Setelah itu aku diantar pulang oleh adiknya pak Bernard Pelle bernama Edwin Pelle.
Antara bulan Agustus hingga Desember, pak Bernard kembali mengajakku untuk melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Karena percaya akan janji-janjinya aku pun nurut saja. Seingatku kami pernah berhubungan seks di Hotel Kristal dan di Hotel Flobamora II. Ironisnya, belakangan ini pak Beranard mulai menjauh, bahkan mengingkari semua janji-janjinya. Oleh karena itu aku akhirnya jadi nekad lapor polisi. Kini aku sudah bulat tekad bahwa masalahku dan pak Bernard harus diselesaikan secara hukum. Aku minta keperawananku harus segera direhabilitasi oleh pak Bernard di rumah sakit Raden Saleh Jakarta. Selanjutnya dia juga harus menjamin biaya hidupku sebesar Rp. 5 juta per bulan selama aku belum menikah. (Diceritakan oleh Mega kepada Koordinator PIAR NTT, Ir. Sarah Leri Mboeik yang disarikan oleh Chris Parera)

Terumbu Karang di Teluk Maumere Rusak Parah


sergapntt.com – Sekitar 75 persen terumbu karang di Teluk Maumere, Kabupaten Sikka mengalami kerusakan akibat cara penangkapan ikan yang dilakukan nelayan menggunakan bom dan racun-racun lainya.
“Berdasarkan hasil penelitian pada 97 titik di perairan Teluk Maumere dan sekitarnya, sebagian besar terumbu karang yang ada mengalami kerusakan atau mati. Yang baik atau masih hidup berkisar 25 persen,” kata Direktur Yayasan Mitra Bahari, Piter Embu Gusi, di Maumere, Kamis pekan lalu
Dia menjelaskan, data tersebut disampaikan berdasarkan hasil penelitian Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap), sebuah program bantuan asing yang memfokuskan perhatian pada bidang pengelolaan terumbu karang.
Akibat dari terumbu karang yang sudah rusak itu, katanya, jumlah ikan yang hidup di laut berkurang, penghasilan nelayan menurun dan sumber nutrisi untuk manusia pun ikut berkurang.
Selain itu, lanjut Gusi, terumbu karang yang merupakan salah satu dari ekosistem yang ada di laut, juga memiliki fungsi yang sama seperti ekosistem lainya yakni padang lamun dan hutan ikut hancur.
“Apabila dikaitkan dengan konteks bencana, ketiga ekosistem ini dapat berfungsi untuk memperlambat laju gelombang tsunami. Dan kalau salah satunya rusak, akan menggangu yang lain karena ketiga merupakan satu sistem,” ujarnya.
Dia menambahkan, hutan bakau selain menahan laju gelombang tsunami, juga penahan abrasi dan sebagai filter saat terjadi sendimentasi (pengendapan) banjir dari gunung. Banjir yang membawa lumpur dan tidak tersaring akan merusak dan mematikan terumbu karang dan padang lamun.
Menurut Gusi, terumbu karang di Teluk Maumere memiliki keindahan dan aneka warna sehingga dijadikan sebagai salah satu taman laut di Indonesia. Namun banyak di antaranya rusak karena kegiatan pengemboman ikan dan gempa bumi yang terjadi pada 1992.
Dengan adanya kegiatan konservasi laut yang dilakukan melalui program Coremap, lanjut dia, pemulihan terhadap kondisi terumbu karang dan ekosistem lainnya di Teluk Maumere, bisa teratasi dari waktu ke waktu.
“Dampak jangka pendek yang sudah tampak adalah perubahan perilaku. Masyarakat pesisir sudah mulai disadarkan dan meninggal cara penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” ungkap Gusi.
Dia berharap program untuk kegiatan pemberdayaan bagi masyarakat pesisir terus ditingkatkan mengingat untuk mengubah kebiasan yang sudah dilakukan turun temurun seperti penangkapan ikan dengan cara bom, tidak bisa dilakukan secara sporadis. (by. on)