Pilot project Program Saka Sakti


sergapntt.com – Luasnya wilayah maritim Kabupaten Sumba Timur ternyata memiliki potensi laut yang sangat menjanjikan. Namun, hingga kini pemanfaatannya belumlah optimal. Padahal, jika potensi ini dimanfaatkan secara maksimal, peningkatan taraf hidup rakyat bukanlah sebatas impian atau harus menunggu 1000 tahun lagi.
Kabupaten Sumba Timur merupakan satu  dari lima kabupaten di NKRI yang diberi kepercayaan menjadi ‘Pilot project’  program Saka Sakti (Satu Kabupaten, Satu Komoditi Inti) yang ditetapkan Departemen Perindustrian RI. Komoditi yang menjadi unggulan program Saka Sakti ini adalah Rumput Laut. Selain Sumba Timur, kepercayaan Pemerintah Pusat itu juga diberikan kepada Kabupaten Palu (Provinsi Sulawesi Tengah), Konawe (Sulawesi Tenggara), Lampung Barat dan Katingan (Kalimantan Selatan) dengan produk unggulan yang berbeda.
Demikian dikatakan Kepala Dinas (Kadis) Perindustrian dan Perdagangan ( Disperindag) Kabupaten Sumba Timur, Ir. Sili Wolu, M.Si saat ditemui Mingguan Berita Rakyat di ruang kerjanya, pekan lalu.
Sili Wolu menjelaskan, pemilihan rumput laut sebagai produk unggulan Sumba Timur didahului dengan penelitian potensi yang dilakukan peneliti Universitas Indonesia. Awalnya, ada dua potensi yang ditawarkan untuk dikembangkan. Namun setelah diteliti lebih jauh, akhirnya ditetapkan rumput laut menjadi komoditi unggulan.
Guna mengsukseskan program ini, Departemen Perindustrian telah mengalokasikan dana  sebesar Rp.1,3 miliar. Dana ini, akan dipakai untuk pengadaan mesin dan peralatan pengolahan rumput laut sebesar Rp 470 juta, laboratorium plus peralatannya Rp 360 juta serta kelengkapan penunjang lainnya.
“Pemerintah Sumba Timur juga telah mengalokasikan dana pendampingan dan pembangunan gedung dari APBD Tahun 2007 senilai Rp 360 juta. Dan, dengan ditetapkan Sumba Timur sebagai daerah pilot project program Saka Sakti, maka diharapkan diwaktu mendatang Sumba Timur tidak lagi mengekport rumput laut dalam bentuk setengah jadi. Harus diolah dulu dan kemudian nantinya dikirim  dalam bentuk tepung dengan harga jual yang lebih tinggi dan memiliki daya saing, agar bisa bersaing dipasar global,” imbuhnya.
Sili Wolu menambahkan, untuk mendukung kelangsungan produksi pabrik, bahan baku tidak hanya didapat dari Pulau Sumba, tetapi juga  bisa didatangkan dari Pulau Sabu, Flores dan daerah lain di NTT. Lokasi pabrik direncanakan akan ditempatkan di Kawasan Industri Kuta, bersebelahan dengan Pabrik Pakan Ternak dan Pabrik Jarak.
Tenun Ikat Sumba Masuk Muri
Tenun ikat Sumba Timur ternyata mampu memikat siapa saja yang melihatnya. wisatawan nusantara, para wisatawan mancanegara pun tak kuasa ingin memiliki ketika berhadapan dengan kain tenun khas Sumba Timur. Sayangnya, tak jarang keunikan tersebut dieksploitasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi.
Mengatasi ulah tak bertanggung jawab itu, Pemkab Sumba Timur melalui Disperindag telah menjalin kerja sama dengan Dewan Kesenian Nasional dan Daerah (Dekranasda) guna membidik Museum Rekor Indonesia (Muri) milik Jaya Suprana.
“Pemkab Sumba Timur akan membuat kain tenun dengan Motif ‘Pahikung’ sepanjang 25 meter dan Kain tenun ‘Hinggi’ sepanjang 50 meter. Nantinya dalam kain tenun ini termuat seluruh motif khas daerah Sumba Timur yang rencananya nanti akan dibuat hak ciptanya. Sementara baru Pahikung yang hak patennya sudah dibuat. Rencananya dalam tahun ini 10 motif khas Sumtim akan dibuat hak ciptanya,” tegas Sili Wolu seraya menambahkan, proses pengerjaan kain tenun tersebut nantinya akan memakai desainer dan tenaga tenun lokal dengan tetap memakai alat tenun tradisonal yang dimodifikasi ukurannya. (by. stw)

Christine Moron, Pelajar Yang Dianugerahi Suara Merdu


SELAMA ini banyak yang tak kenal dengan Christine Oki Moron. Maklum pemilik suara merdu mirip Nikita ini tak ingin tenar seperti artis-artis kebanyakan. Ia lebih suka tak dikenal tapi bakat dan karyanya bisa dinikmati dan bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Kepedulian terhadap kehidupan orang lain bukan hanya omong kosong belaka. Ini benar-benar dibuktikan Christine via album perdananya yang berisikan lagu-lagu rohani agama kristen.   
Selain sibuk berkonsentrasi pada pelajaran di sekolahnya, gadis manis yang selalu tampil trendy ini ternyata kini sedang sibuk mengsukseskan albumnya.  Bagi Christine, melakukan sesuatu dan mengorbankan waktu untuk membantu dan membahagiakan orang tua dan orang banyak adalah baik.
Sonde rugi koq buat senang orang tua”, katanya.
Menjadi penyanyi bukan harus melupakan kodrat. Jabatan atau profesi yang dijalani pasti ada batasnya. Oleh karena itu wanita kelahiran Kupang 5 Januari 1990 ini merasa tak harus berubah walaupun ia telah menyandang predikat sebagai penyanyi.
“Tetap menjadi diri sendiri itu lebih baik daripada meniru gaya hidup orang lain,” tegasnya.   
Lahir di Kupang 5 Januari 1990, Christine yang akrab dipanggil Oki menghabiskan masa kecilnya di  Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Karena besar di kampung, ia merasakan betul bagaimana nikmatnya hidup bebas dari polusi udara dan kebisingan kota.
Christine mulai jatuh cinta dengan dunia musik tepatnya ketika ia masih duduk di kelas 4 SDK Sint Arnoldus Penfui Kupang. Berbekal alat musik seadanya, sejak kecil Christine sudah mulai belajar olah vokal di rumah. Perlahan tapi pasti, kemampuan vokal yang ia miliki mulai nampak. Atas saran orang tua, Christine pun akhirnya memberanikan diri mengikuti lomba nyanyi, baik yang diselenggarakan oleh sekolah, gereja maupun pemerintah. Hasilnya, anak kedua dari pasangan Petrus P. Moron dan Ny. Yuliana M. Katnesi ini pernah menjadi juara I lomba Karoke tingkat SD se Kabupaten Kupang. Selain  menjuarai lomba karoke, tahun 2002 Christine pernah pula menjadi atlet bulu tangkis mewakili Kota Kupang pada Pekan Olah Raga Usia Dini (Pordini) se NTT yang digelar di Kota Kupang. Setamat dari SDK Sint Arnoldus Penfui Kupang, Christine memilih melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Hati Tersuci Maria (HTM) Halilulik, Kabupaten Belu. Di sana Christine kembali menunjukan kebolehannya dengan menjadi juara I lomba nyanyi pada Hari Ulang Tahun (HUT) SMP HTM Halilulik dan juara II lomba nyanyi antar kecamatan se Kabupaten Belu.
Kendati sukses menggarap album, siswi kelas II IPA SMA Geovani ini tak mau berbangga hati. Hidup sederhana dan menghargai orang tua merupakan prinsip hidupnya. Sedangkan hal terpenting dalam hidupnya adalah pendidikan. Baginya, dalam menjalani profesi, bakat harus didukung dengan akal yang sehat.
“Percuma kalau hebat nyanyi tapi otak kosong,” tandasnya.
Pelantun lagu Bersama Yesus, Aku Percaya, Damai, Hukum ke Empat, Sempurna Kasih-Nya, Renungkanlah, Disaat Badai dan Nama-Mu Yesus yang juga bercita-cita menjadi apoteker ini merupakan siswi SMA Geovani pertama yang berhasil membuat album musik. Tak heran bila kini ia menjadi idola dan kebanggaan siswa-siwi dan guru-guru SMA Geovani. 
“Pasti bangga dong dipuji teman-teman dan guru-guru,” celetuknya.
Toh begitu Christine mengaku sempat patah semangat saat sedang dalam proses menyelesaikan album. Kala itu karena ada kesalahan teknis saat rekaman, sang ayah meminta ia untuk berhenti menyanyi ada kesalahan teknis saat rekaman, sang ayah meminta untuk tidak lagi melanjutkan pembuatan album. .
“Dulu beta sempat stres ketika bapak minta beta untuk sonde usah menyanyi lay. Itu gara-gara terjadi kesalahan teknis saat rekaman,” paparnya.
Hanya saja larangan itu tak bertahan lama. Dua hari kemudian sang ayah kembali meminta Christine untuk melanjutkan proses pembuatan album hingga tuntas. Kini albumnya Christine tinggal menunggu cover (dos kaset) yang masih dipesan dari Surabaya. Diperkirakan awal Juni 2007 mendatang album perdana tersebut sudah beredar di pasaran.
Daftar Riwayat Hidup
Nama               : Christine Oki Moron
Sapaan             : Oki/Christine/Itin
TTL                 : Kupang, 5 Januari 1990
Bintang             : Capricorn
Agama             : Kristen Katholik
Tinggi Badan    : 152 cm
Berat Badan     : 43 kg
SD                   : SDK Sint Arnoldus Penfui – Kupang
SLTP               : SMP Hati Tersuci Maria Halilulik di Kabupaten Belu
SLTA               : SMA Geovani Kupang (Kini duduk di kelas II IPA)
Alamat             : RVM Ladyes Dormytori Kupang
Nama Ayah      : Petrus P. Moron
Nama Ibu         : Ny. Yuliana M. Katnesi
Nama Adik      : Geovani Moron   (by.cis)

Jujurlah Pada Sejarah


sergapntt.com [Adonara] – Perang tanding yang terus berkecamuk saban tahun antara Tobi dan Lewokeda, telah mendapat kesejukan melalui ritus perdamaian, 29 Desember 2007 lalu. Perdamaian itu ditandai dengan ritual adat ”Toba Eken, Bito Wato, Tudek Lia”. Bupati Flores Timur, Drs Simon Hayon, berharap agar Tobi dan Lewokeda jujur pada sejaran sehingga konflik berdarah itu tidak akan terulang lagi.
Bertempat di kampung adat Tobi – Lewokeda, ritual adat itu dilakukan. Hadir pada saat itu semua komponen masyarakat dari kedua kampung yang bertikai selama kurang lebih tujuh tahun tersebut. Ritual adat itu menandakan bahwa perang tanding antara kedua kampung bertetangga yang mempersengketakan lahan pertanian itu, telah berakhir. Yang ada, hanya harapan dan kejujuran bersama terhadap sejarah konflik tersebut, sehingga tidak lagi terjadi pada masa-masa mendatang.
Dari Kiwang Ona, kontributor Sergap NTT melaporkan, proses perdamaian tersebut didesain dalam sebuah sekenario besar bahwa yang ingin dicapai dari ritual adat tersebut adalah perdamaian secara menyeluruh sesuai adat kebiasaan, melalui tahapan Toba Eken, Bito Wato dan Tudek Lia. Ini adalah tahapan kritis dimana perdamaian itu bisa tercapai atau malah gagal. Namun, dengan telah dilakukannya ritus adat itu, berarti tahapan kritis telah dilalui dengan baik. Dan, secara adat kebiasaan pun, perang telah dinyatakan selesai, yang ditandai dengan dilucutinya kekuatan magis dari perangkat utama perang. ”Eken dicabut atau direbahkan, batu dibongkar dan halia dicampakan. Karena itu, semua tata cara dan proses ritus-ritus adat untuk melakukan perang kembali, tidak lagi diperbolehkan ada. Semua sudah menjadi terlarang dengan adanya ritus adat tersebut,” kata seorang tokoh adat di wilayah itu kepada Vista.
Ia menjelaskan, dengan tahapan ini dapat dikatakan bahwa proses perang menemukan antiklimaksnya, sehingga terbentang luas jedah kemanusiaan; untuk berpikir kembali soal kejujuran tuturan sejarah kepemilikan tanah. Juga, jedah untuk berpikir kembali soal untung rugi perang. Jedah untuk berpikir kembali soal berunding dan jalan-jalan damai. Jedah untuk berpikir kembali soal berbagi hidup. Jedah untuk berpikir kembali soal hubungan kekerabatan: opu pai, kaka ari, bine ana, nayu baya. Jedah untuk berpikir kembali soal tanah untuk perdamaian. Jedah untuk berpikir kembali soal yang pro hidup.
Yang menarik, ketika sedang berlangsung ritual adat untuk perdamiaan tersebut, alam pun menunjukkan simpatinya. Hujan pun mengguyur, seakan mendinginkan panas yang menyengat bumi. Orang-orang kampung pun berkeyakinan, bahwa yang panas-panas telah didinginkan oleh air dari surga. Dan, semuanya menjadi sempurna jika diikuti dengan tindakan nyata manusia di bumi untuk menjadikan perdamaian itu terwujud.
Lurah Lawatwelu, H. Ola Padak dan Pemuka adat Tobi, Bapak Gewayo, mengharapkan kepada semua pihak, termasuk pemerintah kabupaten Flotim, agar mereka tidak ditinggalkan, tapi terus dibantu, didampingi, dimediasi agar mereka menjadi damai kembali seperti sedia kala.
”Ritual adat untuk perdamaian itu juga dihadiri oleh orang dari LP2A Jakarta, yang disebut-sebut menjadi otak penyelesaian konflik tersebut. Pada upacara ini, hadir pula orang dari LP2A Jakarta, yang menjadi otak penyelesaian konflik tersebut,” katanya.
Bupati Flores Timur, Drs Simon Hayon, dalam arahannya mengatakan, konflik antara Tobi dengan Lewokeleng adalah soal kejujuran. ”Kejujuran untuk menceriterakan sejarah secara jujur, yang mestinya dimulai dari pihak Lewokeda sebagai pokok pangkal cerita. Saya harapkan pada akhirnya dari tiga klik keluarga Lewokeda muncul cuma satu cerita, bukan tiga cerita,” kata Hayon, seraya mengingatkan agar dalam penanganan konflik kejujuranlah yang diperbanyak, bukan aparat keamanan.+++ daniel ama nuen

Guru Agama Yang Sadis


sergapntt.com (Wetabula) – Andreas alias Adi, menjadi korban sia-sia dari ulah kakaknya, Dominggus (29). Domi yang adalah Guru Agama ini tega menebas adiknya hingga tewas setelah sempat dirawat di rumah sakit Karitas Wetebula, Sumba Barat.
Dini hari pada tanggal 15 Januari 2008, sekitar pukul 01.00 Wita, Kampung Kelembu Podu, Kecamatan Tanah Righu, Lokoy, geger oleh pembunuhan yang tergolong sadis. Andreas alias Adi, tewas dibunuh kakak kandungnya, Dominikus. Istri korban (Adi), Lidia kepada Sergap NTT, pekan lalu, membeberkan peristiwa naas yang menimpa suaminya tersebut.
Ia mengatakan, motif pembunuhan suaminya tidak jelas. Ia bercerita, pada malam naas itu, suasana sekitar kampung sepih, semua penghuni kampung sudah tidur lelap. Tak ada yang tahu kalau di salah satu sudut kampung itu terjadi pembunuhan terhadap Adi, oleh saudara kandungnya.
Yang tahu, cuma istri korban, Lidia, yang malam itu menyaksikan kekejaman saudara kandung dari suaminya, yang dikenal masyarakat sebagai guru agama itu, membunuh suaminya.
Menurut Lidia, sebelum kejadian sadis itu, korban, pelaku dan Yakub (seorang rekan mereka) berboncengan dengan sepeda motor berbelanja di kiosnya Ama Tuti alias Tinus. Mereka membeli minuman keras dan langsung minum di kiosnya ama Tinus hingga larut malam. Karena sudah larut malam, korban dan saudara kandungnya dan seorang rekan mereka, pamit dari kiosnya ama Tinus ke Kelembu Podu. Tiba di Kelembu Podu pukul 01.00 Wita. Korban, Adi, langsung masuk kamar dan tidur.
Tidak lama berselang, istri korban tersadar dari tidurnya dan mendengar suara korban yang adalah suaminya, mengatakan, sumpah…….sumpah….., tanpa tahu apa sesungguhnya yang terjadi dengan suaminya. Saat itu, suara Domi, pelaku pembunuhan yang adalah kakak korban, terdengar semakin keras dan sangat kasar terhadap korban.
Lidia menduga, Domi (pelaku) dan rekannya Yakub, sudah merencanakan pembunuhan tersebut. Indikasinya, kata Lidia, mereka berusaha menjebak korban dan memang korban terperangkap jebakan mereka dengan bersama-sama menenggak minuman keras sebelum peristiwa naas itu terjadi. Akibatnya, nyawa Adi menjadi korban kekejaman kakak kandung sendiri. ”Malam itu, memang Domi tidak bisa kendalikan emosinya. Apalagi dia dalam keadaan mabuk sambil berteriak dengan suara kasar terhadap si korban. Keluar……..kau!,” kata Lidia, mengutip teriakan Domi, pelaku pembunuhan tersebut.
Karena korban tak juga keluar dari kamar tidurnya, pelaku (Domi) dengan paksa membuka pintu dan sambil membawa parang dan mengejar korban. Korban juga bangun dan sambil berteriak minta parang kepada istrinya. Namun, sang istri tidak memberi parang, malah menyembunyikan parang tersebut.  Akibatnya, pelaku semakin garang dan dengan mudah melumpuhkan korban dengan beberapa kali tebasan parang. Meski sempat dihadang  oleh Yakub dengan menangkap dan menahan Domi, namun saking emosinya, Domi langsung menebas korban dan mengenai tangan kiri korban. Korban bersimbah darah. ”Saat itu saya sempat berteriak-teriak melarang Domi untuk tidak membunuh Adi. Tapi, Domi sudah kalap dan tidak bisa dibendung,” tutur Lidia sembari mengurai air mata.
”Saya berulang kali teriak minta tolong tapi tidak ada yang dengar. Suami saya tidak bisa berdaya, akhirnya suami saya mati dibunuh oleh kakak kandung sendiri,” ujarnya. Dia mengaku menyaksikan suaminya tergeletak tak berdaya di emperan rumah bersimbah dara.
Menurutnya, setelah Domi menebas Adi, suaminya, pelaku masih sempat mendekati korban dengan lampu pelita sembari mengejek, ”E…. lu belum mati juga?
Malam itu juga, korban langsung dilarikan ke rumah sakit Malata. Sayangnya, tim medis yang menangani korban mengaku tidak bisa menyelamatkan nyawa korban.
Kakak korban lainnya, Yosafat, memutuskan untuk menghubungi mobil ambulans untuk membawa korban ke Rumah Sakit Karitas Wetebula. Selama dalam perjalanan ke rumah sakit, korban masih sempat mengatakan kepada Yosafat, kakaknya, agar ”Jangan pernah meninggalkan dirinya sampai di mana pun berobat. ”Bila saya tidak bisa diobati, saya harus pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Lidia mengutip kata-kata suaminya.  
Sesudah tiba di rumah sakit, korban minta air teh. Korban sempat ditangani secara medis, namun keadaanya bertambah parah. Dan, ketika kakaknya, Yosafat, kembali ke rumah untuk mengambil makanan (bubur), korban menghembuskan nafas terakhir. Korban meninggal dunia.
Pada malam naas itu juga, Domi dan rekannya, Yakub, langsung diamankan di Kapolsek Malata untuk dimintai  keterangan. Keesokan harinya, tanggal 16 Januari 2008, sekitar pukul 18.00 Wita, pelaku dipindahkan ke Polres Wetebula untuk menjalani proses hukum. +++ martinus pandang

Rekor Amoral Seorang Polisi


sergapntt.com – Bripda Yulius Lakusa dari Polres Kupang mencatat rekor amoral yang memantik amarah. Yakni, menghamili dua wanita sekaligus. Yang satu, mahasiswi jurusan Kimia sebuah universitas di Kupang. Korban lainnya, mantan karyawati Flobamor Mall.
Betulkah polisi itu “pengayom” masyarakat? Bisa iya. Tapi, dalam praktek polisi sering tak hanya “mengayomi” tapi juga menghamili. Tengoklah rekor buruk Yulius Lakusa, anggota polisi dari Polres Kupang. Anggota polisi berpangkat Bripda ini mencatat rekor amoral dengan menghamili dua wanita sekaligus. Yang satu, mahasiswa jurusan Kimia, salah satu universitas di Kota Kupang. Korban lainnya, mantan karyawati Flobamor Mall.
Bagaimana kisahnya sampai anggota polisi ini mampu mengibuli dua gadis sekaligus?
Mahasiswi jurusan Kimia, salah satu korban “keganasan seks” polisi amoral itu berkisah, ia berkenalan  tahun 2004 di depan gereja Getsemani, Bau-Bau, Kupang, ketika Yulius masih magang di Polsek Bau-Bau. Kabarnya, ketika beradu pandang pertama kedua insan itu langsung lengket kayak perangko. Sebagaimana pakem asmara, awal percintaan selalu diwarnai romantisme. Yulius selalu telaten antar-jemput mahasiswi itu dari rumah ke kampus dan sebaliknya. Kisah cinta ini sempat diwarnai error dua kali. Tapi, Nopember 2006, keduanya tancap cinta kembali.
Setahun kemudian, Yulius dipindahkan dari Polsek Bau-Bau ke Polsek Camplong. Dalam perjalanan cinta selanjutnya, pada Pebruari 2007, Yulius melancarkan rayuan maut, yakni minta BBM alias Bobo Bobo Mesra untuk hubungan intim dan berjanji untuk bertanggungjawab, jika mahasiswi itu hamil. Janji gombal itu dipercaya begitu saja oleh mahasiswi itu, sehingga pada akhirnya Maret 2007, mahasiswi itu hamil. Bersamaan itu, Yulius dipindahkan ke Polres Kupang dan minta curi dua pekan untuk mudik ke pulau Kisar. “Sebelum dia pergi, beta minta dia memeriksakan kandunganku. Tapi, dia bilang nanti setelah pulang dari Kisar baru diurus,” kenang mahasiswi itu dengan nada memelas.
Dalam suasana tak menentu, orang tua mahasiswi itu mulai curiga melihat kondisi anaknya. ”Tapi, beta jujur mengatakan kepada bapa dan mama bahwa beta terlambat haid satu bulan. Bapa dan mama tidak marah, karena mereka tahu Yulius sering ke rumah dan hubungan kami sudah begitu dekat,” papar mahasiswi itu menjawab pers di ruangan Humas Pemerintah Kabupaten Kupang.
Seterusnya ketika Yulius mudik dari Kisar, ia berjanji akan memeriksakan kandungan mahasiswi itu ke dokter. Akhirnya April 2007 melalui tes di Klinik Betlehem, Oesapa, diketahui mahasiswi itu hamil dua bulan. “Beta tanya pendapatnya bagaimana. Yulius jawab bahwa dia bertanggungjawab dan akan menginformasikan hal ini kepada orang tuaku,”  kisah mahasiswi itu. Yulius, akhirnya ke rumah orang tua mahasiswi itu dan menyatakan bahwa ia bertanggungjawab. Bahkan, ia mengumbar janji untuk secepatnya menginfo keluarganya agar kisah cinta itu secepatnya diproses secara adat.
Namun, apa yang terjadi? Suatu ketika selepas kuliah, mahasiswi malang itu mampir ke kos Yulius. Dari luar ia mendengar suara Yulius tergelak manja diselingi erangan hebat bersama seorang wanita. Betapa kagetnya mahasiswi yang sudah hamil dua bulan itu. Ia mendapatkan Yulius sedang bugil dan asyik main ranjang dengan Monika Pandie, wanita asal Oesapa. “Beta tidak ada reaksi apa-apa. Beta duduk di luar kos,” tutur wanita malang ini. Seusai main ranjang, Yulius keluar menemui mahasiswi malang itu. “Beta tanya Yulius, apa mau urus saya atau wanita itu. Tapi, dia jawab, lu tenang saja. Kita urus bae-bae,” kenang  mahasiswi tersebut atas adegan yang paling menyakitkan dalam hidupnya itu. Mahasiswi itu sempat mudik ke rumah dan menginfo orang tuanya tentang tabiat Yulius yang kedapatan sedang “main perempuan”. Tapi, orang tua menyarankannya untuk mudik ke kos Yulius. Di situ, ia duduk menunggu kayak satpam selama satu hari sejak pagi sampai malam. Karena kepayahan, mahasiswi itu tertidur di kost temannya di samping kamar Yulius. Ketika itu Yulius sempat memberi anggur dan memaksa mahasiswi itu minum untuk menggugurkan kandungannya. “Kamu yang baru dua bulan saja, mengapa tidak bisa minum,” kata Yulius setengah memaksa pada mahasiswi itu. Tapi, mahasiswi itu menolak dan ditempeleng Yulius. Bahkan Yulius main ancam. Dia mengatakan tak takut jika kasusnya itu dilapor ke Kapolres dan Kapolda. Tapi, keesokan harinya ketika amarahnya padam,Yulius mampir ke rumah mahasiswi itu untuk meminta maaf atas tindakannya.
Sejenak Yulius memperlihatkan itikadnya untuk menikah. Bahkan, dia mengajak mahasiswi itu untuk berdua membeli cincin nikah. Tapi, mahasiswi itu menolak karena belum menginfo orang tuanya. Sikap mahasiswi ini membuat Yulius marah besar dan menamparnya. Ia juga menelpon Monika Pandie dan berdua melancong entah ke mana, meninggalkan mahasiswi itu. Akhirnya mahasiswi itu bersama ibunya mengecek ke Kabag Min Polres Kupang. “Kami tanya mengapa sampai sekarang belum bisa nikah dengan Yulius. Kabag Min jawab, Yulius sudah punya isteri. Jadi, kalau mau nikah lagi harus ada surat persetujuan isteri pertama,” kenang mahasiswi itu dengan wajah memelas. Sejak itu, mahasiswi itu baru sadar jika Yulius sudah menikahi Mateldha Pello, asal Camplong.
Singkat cerita Yulius dikenal sebagai polisi yang punya akal licik. ”Di sana dia hamili orang, di sini juga hamili orang,” tutur Vita, mahasiswi yang dihamilinya itu. Kini, Vita berusaha tegar untuk hidup menanggung derita.
MP, mantan karyawati Flobamor Mall juga punya nasib serupa, yakni dihamili dan ditinggalkan Yulius. Wanita itu berkenalan dengan Yulius Nopember 2002, antara lain di Flobamor Mall dan di depan asmara Brimob, Kupang. Tatapan perdana itu membuat keduanya pacaran sampai hubungan intim. Apalagi, Yulius berjanji bakal menikahi MP. Sampai akhirnya menjelang 2003, MP hamil. Saat itu Yulius sedang tes masuk polisi. Itu pasalnya, MP menutup rapat-rapat kisah cintanya bersama Yulius sampai akhirnya ia hamil. Akhirnya, MP dipinang Yulius 12 Desember 2003. Setelah melahirkan, hubungan keduanya dijaga kerahasiaannya karena Yulius sedang dalam ikatan dinas kepolisian. Dalam status ikatan dinas seorang polisi dilarang menikah. “Anak saya dan Yulius bernama Yuvita Andini Sartini,” kisah MP. Seterusnya, Yulius tinggal di kos karena masih dalam status ikatan dinas, sedangkan MP membawa anaknya tinggal di Camplong bersama orang tuanya.
Namun, dalam perjalanan, Yulius menghamili YT (23). Anak hasil hubungan Yulius bersama YT dinamai Joe (0,2) tahun. Anehnya, ketika MP dan YT melaporkan masalah amoral ini ke Kapolres Kupang, ternyata dicuekin. Bisa begitu ya, Kapolres? Bahkan, MP mengaku sudah ratusan kali menghadap Kapolres Kupang. Tetapi, Kapolres mengatakan “Saya ini gila na, ke laut na dan macam-macam,” papar MP. +++ marthen, rudy