Kenapa Pol PP Mesti “SANGAR”


sergapntt.com, KUPANG – Polisi Pamong Praja (Pol PP) kini identik dengan kekerasan. Lihat saja di Jakarta. Pol PP seola pasukan anti huru hara. Gebrak sana-gebrak sini. Padahal yang digusur adalah kaum kecil yang menggunakan fasilitas publik agar bisa membiayai hidup.kasihan kan! Nah karena itulah Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya meminta Pol PP di NTT btidak berlaku sangar kayak Pol PP di Jakarta.
Lebu Raya meminta Pol PP di NTT harus bisa memberikan kesan yang baik ke publik dengan tampil simpati, tetap tegas dan disiplin diri.
“Bekerjalah dengan baik dan jaga kedisiplinan di unit kerja, serta tegakkan Peraturan Daerah (Perda) serta keputusan-keputusan gubernur dengan sebaik-baiknya,” pintab Lebu Raya, saat membacakan sambutan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI, Gamawan Fauzi pada acara Hari Ulang Tahun (HUT) Satuan Polisi Pamong Praja ke-62, di alun-alun kantor gubernur, Senin (5/3).
Kata Lebu Raya, Mendagri menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya serta ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas dedikasi dan loyalitas yang telah ditunjukkan Polisi Pamong Praja selama ini sebagai garda terdepan dalam penegakan Perda serta penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat. Mendagri meminta kepada Satuan Polisi Pamong Praja untuk terus meningkatkan pelaksanaan tugas kedinasan sebagai abdi negara, abdi masyarakat dan abdi pemerintah yang lebih profesional, kompeten dan berintegritas tinggi.
Menurut Mendagri, Kementerian Dalam Negeri untuk tahun 2012 ini telah mengalokasikan anggaran bagi kegiatan penguatan peran gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat di daerah yang diperuntukan bagi 33 provinsi melalui dana dekonsentrasi yang dibagi menjadi beberapa bidang, untuk pemerintahan umum meliputi antara lain bidang wilayah perbatasan, bidang penanggulangan bencana, bidang kawasan dan pertanahan, bidang pelayanan publik, bidang kerjasama daerah yang semuanya memerlukan dukungan terselenggaranya ketertiban umum yang kondusif sehingga pada gilirannya tercapai ketentraman masyarakat.
Harapan Gamawan Fauzi kepada para Gubernur, khususnya untuk bidang ketertiban umum dan ketentraman masyarakat hendaknya kegiatan penguatan peran Gubernur ini dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan citra dan kewibawaan Sat Pol PP di mata masyarakat sehingga dapat dijadikan acuan untuk pembinaan teknis operasional anggota Sat Pol PP yang meliputi pembinaan kemampuan Pol PP melalui pembinaan etika profesi, pengembangan pengetahuan dan pengalaman di bidang Pamong Praja.
by. verry guru/saul kapitan

Pesan Paskah dari Paus Benediktus XVI


“Dan  marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik“ (Ibr 10:24).
Saudara dan saudari yang terkasih,
Masa Prapaskah sekali lagi memberikan kepada kita sebuah kesempatan untuk merenungkan inti terdalam dari kehidupan seorang Kristen, yaitu: perbuatan amal kasih. Ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaharui perjalanan iman kita, baik sebagai seorang individu maupun sebagai bagian dari komunitas, dengan bimbingan Sabda Tuhan dan sakramen-sakramen Gereja. Perjalanan ini adalah perjalanan yang ditandai dengan doa dan berbagi, hening dan berpuasa, sebagai antisipasi menyambut sukacita Paskah.
Tahun ini saya ingin mengajukan beberapa pemikiran dalam terang ayat-ayat Kitab Suci yang diambil dari Surat kepada umat Ibrani: “Dan marilah kita kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”. Kata-kata ini adalah bagian dari perikop di mana sang penulis surat yang kudus menghimbau kita untuk menaruh kepercayaan di dalam Yesus Kristus sebagai Imam Agung yang telah memenangkan pengampunan Allah bagi kita dan membuka jalan kepada Tuhan. Mengimani Kristus membuat kita mampu menghasilkan buah di dalam hidup yang ditopang oleh tiga kebaijkan teologis: hal itu berarti menghampiri Tuhan “dengan hati tulus dan penuh iman (ay.22), tetap “teguh dalam harapan yang kita nyatakan” (ay.23) dan senantiasa berusaha untuk menjalani hidup yang dibangun di atas “cinta kasih dan pekerjaan-pekerjaan baik” (ay.24), bersama dengan saudara dan saudari kita. Sang penulis surat tersebut menyatakan bahwa untuk mempertahankan hidup yang dibentuk oleh Injil, adalah penting untuk berpartisipasi secara aktif dalam liturgi dan doa bersama komunitas, dengan mengingat akan tujuan eskatologis untuk bersatu secara penuh dengan Tuhan (ay.25). Di sini saya ingin membuat refleksi atas ayat 24, yang memberikan pengajaran yang ringkas, bernilai, dan tepat di segala zaman, atas tiga aspek hidup Kristiani, yaitu: kepedulian kepada sesama, kasih timbal balik, dan kekudusan pribadi.
1. “Dan  marilah kita saling memperhatikan..” : tanggung jawab terhadap para saudara dan saudari kita.
Aspek pertama adalah sebuah undangan untuk “peduli” : kata kerja bahasa Yunani yang dipakai di sini adalah katanoein, yang artinya adalah untuk memeriksa (menyelidiki), untuk menaruh perhatian, untuk mengamati dengan seksama dan percaya akan sesuatu. Kita menjumpai kata ini di dalam Injil ketika Yesus mengundang para murid untuk “memperhatikan” burung-burung gagak, yang tanpa bekerja keras, berada di tengah perhatian dan pemeliharaan Penyelenggaraan Ilahi (bdk. Luk 12:24) dan untuk “memeriksa” balok di dalam mata kita sendiri sebelum mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita (bdk. Luk 6:41). Di dalam ayat yang lain dari Surat kepada orang-orang Ibrani, kita menemukan ajakan untuk “mengarahkan pikiranmu kepada Yesus” (3:1), Rasul dan Imam Besar dari iman kita. Maka kata kerja yang mengantar pengajaran kita mengatakan kepada kita untuk memperhatikan sesama, pertama-tama kepada Yesus, untuk saling memperhatikan satu sama lain, dan tidak tinggal dalam keterasingan serta sikap acuh tak acuh kepada keadaan sesama kita. Namun demikian, terlalu sering sikap yang kita tunjukkan justru sebaliknya: yaitu pengabaian dan keacuhan yang lahir dari keegoisan yang disamarkan sebagai tindakan menghargai “privasi”. Saat ini pun, suara Tuhan meminta kita semua untuk saling memperhatikan satu sama lain. Bahkan hari ini, Tuhan meminta kita untuk menjadi “penjaga” saudara dan saudari kita (Kej 4:9), untuk membangun suatu relasi yang didasarkan atas kepedulian satu sama lain dan perhatian kepada kesejahteraan integral jasmani dan rohani dari sesama kita. Perintah yang utama untuk mengasihi satu sama lain menuntut kita untuk mengenali tanggung jawab kita kepada sesama yang, sebagaimana halnya kita sendiri, adalah ciptaan dan anak-anak Tuhan sendiri. Menjadi saudara dan saudari dalam kemanusiaan dan, dalam banyak hal,  juga dalam iman, selayaknya menolong kita untuk mengenali di dalam diri sesama kita, sebuah kebalikan dari diri kita (alter ego), yang dicintai tanpa batas oleh Tuhan. Jika kita menanamkan pada diri kita cara ini yang memandang sesama sebagai saudara dan saudari kita, maka solidaritas, keadilan, belas kasihan dan bela rasa akan secara alamiah berkembang di dalam hati kita. Sang Pelayan Tuhan Paus Paulus VI pernah menyatakan bahwa dunia saat ini menderita terutama karena kurangnya persaudaraan: “Kebudayaan umat manusia sedang sangat sakit. Penyebabnya bukanlah karena berkurangnya sumber-sumber daya alam, dan bukan juga karena kontrol monopoli dari segelintir orang: melainkan lebih karena melemahnya ikatan persaudaraan di antara pribadi-pribadi dan di antara bangsa-bangsa (Populorum Progressio, 66).
Kepedulian kepada sesama berkaitan juga dengan menginginkan segala yang baik untuk mereka dari setiap sudut pandang: baik fisik, moral, maupun spiritual. Budaya kontemporer nampaknya telah kehilangan naluri untuk membedakan yang baik dari yang jahat, namun disadari tetap ada suatu kebutuhan yang nyata untuk menyatakan kembali bahwa kebaikan itu ada dan akan mengatasi [yang jahat], karena Allah “baik dan berbuat baik” (Mzm 119:68). Kebaikan adalah segala sesuatu yang bersifat memberi, melindungi, dan menjunjung tinggi kehidupan, persaudaraan, dan persekututuan. Maka tanggung jawab kepada sesama berarti menginginkan dan mengusahakan kebaikan sesama, dalam harapan bahwa mereka pun menjadi mudah menerima kebaikan dan tuntutan- tuntutannya. Peduli kepada sesama berarti menjadi peka akan kebutuhan-kebutuhan mereka. Injil Suci memperingatkan kita akan bahaya bahwa hati kita dapat menjadi keras karena “ketidaksadaran spiritual”, yang membuat kita tidak peka dan mati rasa terhadap penderitaan sesama. Penulis Injil Lukas mengaitkan dua perumpaan Yesus dengan membuat contoh. Di dalam perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati, sang imam dan sang orang Lewi lewat begitu saja,  tidak peduli akan keberadaan seseorang yang dirampok dan dipukuli oleh para perampok (bdk. Luk 10:30-32). Dalam kisah perumpamaan Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin, si orang kaya tidak peduli pada kemiskinan Lazarus, yang sedang kelaparan hingga sekarat di depan pintu rumahnya yang ada di depan matanya (bdk. Luk 16:19). Kedua perumpamaan tersebut menunjukkan contoh-contoh kebalikan dari  “menjadi peduli”, yaitu sikap menaruh perhatian kepada sesama dengan penuh cinta dan belas kasihan. Apa yang menghalangi pandangan kemanusiaan dan penuh cinta kepada saudara dan saudari kita ini? Seringkali, penyebabnya adalah kepemilikan kekayaan materi dan perasaan berkecukupan akan segala sesuatu, namun bisa juga penyebabnya adalah kecenderungan untuk meletakkan segala kepentingan/ keinginan, dan masalah kita sendiri di atas semua yang lain. Kita tak pernah boleh gagal untuk “menunjukkan belas kasihan” kepada mereka yang menderita. Hati kita tak pernah boleh terlalu terbungkus rapat oleh urusan-urusan dan masalah-masalah kita sehingga hati kita tak mampu mendengar jeritan kaum miskin. Kerendahan hati dan pengalaman pribadi akan penderitaan dapat membangkitkan dalam diri kita, suatu naluri belas kasihan dan empati. “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak memahaminya” (Ams 29:7). Kita kemudian dapat memahami sikap dari “mereka yang meratap” (Mat 5:5), mereka yang mampu melihat melampaui diri sendiri dan merasakan belas kasihan terhadap penderitaan orang lain. Menjangkau orang lain dan membuka hati kita kepada kebutuhan-kebutuhan mereka dapat menjadi sebuah kesempatan bagi  keselamatan dan keadaan terberkati.
“Menjadi peduli satu sama lain” juga mengikutsertakan sikap menaruh perhatian pada kesejahteraan jasmani dan rohani satu sama lain. Di sini saya ingin menyebutkan sebuah aspek hidup Kristiani, yang saya percaya telah cukup terlupakan selama ini: koreksi persaudaraan dalam pandangan keselamatan abadi. Dewasa ini, secara umum, kita menjadi sangat peka kepada gagasan perbuatan amal kasih dan kepedulian kepada kesejahteraan fisik dan materi dari sesama, namun hampir sepenuhnya diam mengenai tanggung jawab spiritual kita kepada saudara dan saudari kita. Hal ini tidak menjadi persoalan di dalam jemaat Gereja perdana atau di dalam komunitas yang telah sangat dewasa dalam iman, [yaitu] mereka yang peduli tidak hanya terhadap kesehatan fisik sesama mereka, tetapi juga terhadap kesehatan spiritual dan kehidupan kekal mereka. Kitab Suci berkata kepada kita: “Janganlah mengecam seorang pencemooh, supaya engkau jangan dibencinya, kecamlah orang bijak, maka engkau akan dikasihinya” (Ams 9:8). Kristus sendiri memerintahkan kita untuk menasehati saudara kita yang berbuat dosa (bdk. Mat 18:15). Kata yang dipergunakan untuk mengekpresikan koreksi persaudaraan – elenchein – adalah sama seperti yang biasa digunakan untuk menunjukkan misi kenabian dari orang-orang Kristen untuk menentang generasi yang mengikuti kejahatan (bdk. Ef 5:11). Tradisi Gereja juga memasukkan “memberi nasehat kepada para pendosa” di antara karya-karya karitatif rohani (belas kasihan secara rohani). Adalah penting untuk mengembalikan dimensi ini dari perbuatan amal kasih Kristiani. Kita tidak boleh tinggal diam dalam menghadapi kejahatan. Saya berpikir tentang semua umat Kristen itu yang,  karena pertimbangan manusiawi atau semata-mata karena pertimbangan kenyamanan pribadi, memilih berkompromi dengan mentalitas yang umum, daripada mengingatkan saudara dan saudarinya terhadap cara berpikir dan bertindak yang bertentangan dengan kebenaran dan yang tidak mengikuti jalan kebaikan. Menasehati secara Kristiani, tidak pernah dimotivasi oleh semangat menuduh atau menuntut balas, melainkan selalu digerakkan oleh cinta dan belas kasihan, dan tumbuh dari kepedulian yang tulus, demi kebaikan orang lain. Sebagaimana Rasul Paulus mengatakan:”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” (Gal 6:1). Di dalam dunia yang diliputi oleh semangat individualisme, adalah esensial untuk menemukan kembali pentingnya koreksi persaudaraan, sehingga bersama-sama kita dapat berjalan menuju kekudusan. Kitab Suci mengatakan pada kita bahwa  bahkan “tujuh kali orang benar jatuh” (Ams 24:16); semua dari kita adalah lemah dan tak sempurna (bdk. 1 Yoh 1:8). Maka, adalah suatu bentuk pelayanan yang amat berarti, untuk membantu sesama kita, dan mengizinkan mereka membantu kita, sehingga kita dapat terbuka terhadap seluruh kebenaran mengenai diri kita, memperbaiki diri kita dan berjalan dengan lebih setia di jalan Tuhan. Selalu akan ada kebutuhan terhadap sebuah pandangan yang penuh kasih dan mengingatkan, yang mengetahui dan memahami, yang membedakan secara bijak dan mengampuni (bdk. Luk 22:61), sebagaimana yang Tuhan telah kerjakan dan masih akan terus mengerjakannya di dalam diri kita masing- masing.
2. “Saling memperhatikan satu sama lain”: sebuah karunia kasih timbal balik”
Panggilan untuk “menjaga” sesama kita adalah berkebalikan dengan mentalitas yang, dengan mengurangi nilai hidup hanya kepada dimensi duniawinya saja, gagal untuk melihatnya dalam perspektif eskatologis dan menerima sembarang pilihan moral apapun atas nama kebebasan pribadi. Masyarakat seperti masyarakat kita dapat menjadi buta terhadap penderitaan fisik dan tuntutan spiritual dan moral kehidupan. Hal ini tak boleh terjadi dalam komunitas Kristiani! Rasul Paulus mendorong kita untuk mengejar “apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Rom 14:19) demi kebaikan sesama, “untuk mendukung satu sama lain” (Rom 15:2), mencari bukan keuntungan pribadi melainkan lebih kepada “kebaikan setiap orang yang lain, sehingga mereka dapat diselamatkan” (1Kor 10:33). Koreksi yang saling membangun, dukungan dalam semangat kerendahan hati, dan perbuatan amal kasih harus menjadi bagian dari kehidupan komunitas Kristiani.
Murid-murid Tuhan, dipersatukan dengan Dia melalui Ekaristi, hidup dalam persaudaraan yang menyatukan mereka satu dengan yang lain sebagai anggota-anggota dari satu tubuh. Hal ini berarti bahwa sesama adalah bagian dari diriku, dan bahwa hidupnya, keselamatannya, berkaitan dengan hidup dan keselamatanku sendiri. Di sini kita menyentuh aspek yang mendasar dari persekutuan: keberadaan kita berkaitan erat dengan keberadaan orang lain, baik dalam suka maupun duka. Baik dosa-dosa kita maupun perbuatan-perbuatan kasih kita, sama-sama mempunyai dimensi sosial. Hubungan kasih timbal balik ini nampak di dalam Gereja, tubuh mistik Kristus: komunitas tersebut senantiasa melakukan pertobatan, dan memohon pengampunan atas dosa-dosa anggotanya, namun juga tak pernah gagal untuk bersukacita dalam teladan-teladan kebajikan dan perbuatan amal kasih yang hadir di tengah-tengahnya. Sebagaimana St. Paulus berkata: “supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (1 Kor 12:25), sebab kita semua adalah anggota dari satu tubuh. Perbuatan amal kasih kepada saudara dan saudari kita – sebagaimana dinyatakan dalam pemberian derma, sebuah perbuatan yang diiringi dengan doa dan puasa, adalah perbuatan yang menjadi ciri khas masa Prapaskah – berakar dari kepemilikan bersama. Umat Kristiani juga dapat menyatakan keanggotaannya di dalam satu tubuh yang adalah Gereja melalui kepedulian yang konkrit bagi mereka yang paling miskin dari yang miskin. Kepedulian kepada satu sama lain juga berarti mengakui kebaikan yang sedang dikerjakan Tuhan dalam diri sesama dan menaikkan ucapan syukur atas keajaiban rahmat di mana Allah Yang Maha Besar di dalam segala kebaikan-Nya terus menerus menggenapinya di dalam diri anak-anak-Nya. Ketika umat Kristen memandang bahwa Roh Kudus sedang terus bekerja di dalam diri sesama, mereka tidak dapat berbuat yang lain selain bersukacita dan memuliakan Allah Bapa di surga (bdk. Mat 5:16).
3. “Supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik”: berjalan bersama dalam kekudusan.
Kata-kata dari Surat kepada orang Ibrani ini (10:24) mendorong kita untuk merefleksikan panggilan universal kepada kekudusan, sebuah perjalanan yang terus menerus dari kehidupan spiritual sebagaimana kita mengusahakan untuk memperoleh karunia-karunia spiritual yang lebih utama dan kepada perbuatan amal kasih yang lebih bermakna dan berhasil guna (bdk. 1 Kor 12:31-13:13). Menjadi peduli satu sama lain selayaknya menggerakkan kita kepada kasih yang bertambah dan lebih efektif di mana, “seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari” (Ams 4:18), membuat kita hidup setiap hari sebagai antisipasi akan datangnya hidup kekal yang menantikan kita di dalam Tuhan. Waktu yang dikaruniakan kepada kita dalam hidup ini adalah berharga untuk menilai secara bijaksana dan menampilkan perbuatan-perbuatan yang baik dalam cinta kasih kepada Tuhan. Dengan cara ini, Gereja sendiri senantiasa tumbuh kepada kedewasaan penuh di dalam Kristus (bdk. Ef 4:13). Ajakan kita untuk mendorong satu sama lain untuk meraih kepenuhan cinta dan perbuatan baik berada di dalam prospek pertumbuhan yang dinamis ini.
Sayangnya, senantiasa ada godaan untuk menjadi suam-suam kuku, untuk memadamkan Roh, untuk menolak menanamkan berbagai talenta yang telah kita terima, demi kebaikan kita sendiri dan kebaikan sesama kita (lih. Mat 25:25–). Semua dari kita telah menerima kekayaan spiritual atau material yang dimaksudkan untuk digunakan bagi kepenuhan rencana Allah, demi kebaikan Gereja dan demi keselamatan kita sendiri (bdk. Luk 12:21b; 1 Tim 6:18). Pakar-pakar rohani mengingatkan kita, bahwa dalam kehidupan beriman, mereka yang tidak bertumbuh akan dengan sendirinya mengalami kemunduran. Saudara dan saudari yang terkasih, marilah kita menerima undangan ini, hari ini, seperti tak ada waktu lain yang lebih baik, untuk menuju ke “standar yang tinggi dari kehidupan Kristiani” (Novo Millennio Ineunte, 31). Kebijaksanaan Gereja dalam mengenali dan memproklamasikan orang-orang Kristen tertentu yang luar biasa sebagai Yang Terberkati dan para Santo/a juga dimaksudkan untuk menginspirasi sesama agar mencontoh kebajikan mereka. Santo Paulus menghimbau kita untuk “saling mendahului dalam memberi hormat” (Rom 12:10).
Dalam dunia yang menuntut dari umat Kristen sebuah kesaksian yang diperbaharui akan cinta dan kesetiaan kepada Tuhan, kiranya kita semua merasakan kebutuhan yang mendesak untuk saling mendahului dalam berbuat amal kasih, pelayanan dan pekerjaan-pekerjaan baik (bdk. Ibr 6:10). Permohonan ini terutama ditekankan dalam bulan yang suci ini sebagai persiapan Paskah. Sebagaimana saya menaikkan harapan-harapan yang baik dalam doa-doa saya demi masa Prapaskah yang penuh berkat dan menghasilkan banyak buah, saya mempercayakan Anda semua dalam perantaraan doa Bunda Maria Tetap Perawan dan dengan penuh kehangatan saya memberikan Berkat Apostolik saya.
Dari Vatikan, Paus Benediktus XVI

Dua Polisi Lalu Lintas Dibakar Warga


sergapntt.com, KASONGAN – Ketenangan warga Desa Hampalit Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan Provinsi Kalteng, Minggu (4/3) sekitar pukul 07.30 terusik. Seorang warga yang diketahui bernama Muhammad Nur alias Marno (35) nekad membakar dua polisi lalu lintas (Polantas) di Pos Polantas Jalan Tjilik Riwut km 15 dari arah Kasongan. Akibatnya, dua polisi itu mengalami luka bakar di bagian wajah mencapai 10 – 15 persen.

Kini keduanya masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Palangka Raya setelah dirujuk dari RSUD Kasongan. Sementara Marno sudah berhasil diamankan petugas. Warga Kereng Pangi (sebutan lain Desa Hampalit, Red) itu juga berhasil diselamatkan penduduk dan petugas dari aksi percobaan bakar diri.

Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan menyebutkan, aksi nekad Marno diawali dari kejadian malam sebelumnya, Sabtu (3/3) lalu. Malam itu, petugas yang melakukan razia untuk meminimalisir tindak pencurian kendaraan bermotor (curanmor) mendapati Marno mengendarai sepeda motor tanpa dilengkapi SIM dan STNK. Praktis sepeda motor Marno ditilang. Malam itu Marno tidak menandatangani surat tilang.

Keesokan harinya, Minggu (4/3) sekitar pukul 07.30, Marno mendatangi Pos Polantas yang berada di muara jalan masuk ke Mapolres Katingan itu. Marno bermaksud mengambil sepeda motor yang ditilang malam sebelumnya. Dua petugas yang berjaga saat itu, Brigpol Wahyu Nurwidiantoro (31) dan Briptu Martua Kasih Sianipar (24) tidak mengabulkan keinginan Marno. Dua petugas itu juga menjelaskan prosedur pengambilan sepeda motor yang ditilang, diantaranya harus melalui proses persidangan di Pengadilan Negeri Kasongan.

Penjelasan dua polisi itu tidak memuaskan Marno. Akibatnya Marno kalap dan nekad menyiramkan bensin dalam botol bekas minuman isotonik warna biru yang dibawanya. Semburan bensin ini tepat mengenai wajah dua Polantas yang berjaga. Setelah itu, Marno menyalakan korek api dan menyulutkan ke arah Wahyu dan Sianipar. Melihat kobaran api membakar kedua petugas, Marno lari meninggalkan Pos Polantas ke arah Pasar Hampalit.

Marno berlari sambil membawa dua jeriken berisi masing-masing dua liter bensin. Petugas dan warga yang melakukan pengejaran berhasil mendesak Marno masuk Masjid Al-Muhajirin, sekitar 200 meter dari Pos Polantas. Karena merasa terkepung, Marno menyiramkan bensin ke seluruh tubuhnya. Beruntung petugas dan warga berhasil menggagalkan upaya bakar diri Marno. Warga menyiramkan air ke tubuh Marno yang sudah berlumur bensin. Saat itu juga Marno langsung ditangkap petugas dan warga.

Sampai kemarin, pemicu aksi nekad Marno belum jelas. Bahkan sepeda motor warga desa setempat itu juga belum diketahui identitasnya. Kabar dari mulut ke mulut yang didapat di lapangan menyebut, bahwa Marno adalah seorang pelangsir BBM. Marno nekad melakukan aksinya karena kecewa dengan petugas, entah yang menilangnya malam itu atau kecewa terhadap dua petugas di Pos Polantas. Marno makin kecewa dan marah lantaran pagi itu, saat mau mengambil sepeda motor sempat dimintai sejumlah uang. Tapi jumlah yang diminta tidak seperti yang Marno siapkan. Sehingga Marno gagal membawa pulang kendaraannya.

Terkait kabar pemicu aksi nekad Marno ini belum ada penjelasan resmi dari kepolisian. Jajaran Polres Katingan sepertinya menutup rapat kejadian itu.
Sementara pada saat yang hampir bersamaan, puluhan aparat memadati RSUD Kasongan. Mereka mendatangi dua rekannya yang menjalani perawatan akibat luka bakar. Masyarakat juga tak mau ketinggalan. Mereka juga memadati depan ruang UGD karena penasaran.

Kapolda Kalteng Brigjen (Pol) Bachtiar Hasanudin Tambunan juga tampak hadir di rumah sakit itu. Kapolda Kalteng yang baru dilantik Kapolri Henderal Timur Pradopo di Jakarta bersama tujuh Kapolda lainnya itu baru akan menjalani seremoni serah terima jabatan, Senin (5/3) ini.

Tak lama berselang, Wahyu dan Sianipar dirujuk ke Palangka Raya. Dua polisi itu mengalami luka bakar di wajah, leher dan tangan.

Kabid Humas Polda Kalteng AKBP H Pambudi Rahayu membenarkan kejadian itu. Kabid Humas juga mengaku sudah menerima laporannya. Kabid Humas juga menjelaskan kronologi kejadian itu. Menurut Kabid Humas, pihaknya juga tengah memeriksa Marno, termasuk kondisi kejiwaannya.

“Untuk mengetahui keadaan psikologisnya harus melalui pemeriksaan ahli. Namun saat diinterogasi, dia dalam keadaan sadar dan saat ditanya bisa menjawab,” tukas Kabid Humas.

Atas perbuatannya, lanjut Kabid Humas, Marno akan dibidik dengan pasal 351 ayat (2) KUHPidana. “Dengan ancaman pidana maksimal 8 tahun pidana penjara,” katanya.

Jika Marno juga terbukti berencana membakar Pol Poantas, lanjut Kabid Humas, maka akan dikenakan pasal 710 KUHPidana, dengan hukuman paling lama lima tahun.

Di RS Bhayangkara Jalan A Yani Palangka Raya, dua korban luka bakar langsung mendapat perawatan intensif. Beberapa perawat menjelaskan bahwa Wahyu mengalami luka bakar sekitar 5 persen pada bagian wajah. Sedangkan Sianipar lebih parah, antara 10 – 15 persen mengalami luka bakar di bagian wajah, leher,  tangan kiri dan kanan. Sesekali terdengar erangan kesakitan dari ruang perawatan Sianipar. “Iya mas, kami sedang melakukan perawatan intensif. Maaf yaa,” ujar seorang perawat.

by. MOR/JPNN

Dua Pasang Calon Bidan Digebuk Massa


sergapntt.com, MEULABOH – Niat empat muda-mudi yang hendak bermesraan di kamar kost gagal total. Pasalnya, puluhan warga di Lorong Kelinci, Gang Sempit Desa Ujung Kalak datang menyerbu. Selanjutnya, masyarakat yang berada dalam wilayah Kecamatan Johan Pahlawan Aceh Barat tersebut menggebuk pasangan mesum itu hingga babak- belur.

Amuk massa ini terjadi Sabtu (3/3) menjelang tengah malam. Dari TKP diamankan Khairuman, M Nasir, Dewi dan Suriani. Sebelumnya sejak sore, beberapa penduduk sudah mengintai kedatangan dua pemuda mengapeli pacar masing-masing. 

Khairuman dan M Nasir masuk ke dalam rumah, serta sepeda motor turut diparkirkan ke ruang tamu. Namun tunggu punya tunggu, ternyata mereka tak pulang-pulang meski hari sudah jauh malam. Warga lalu berkumpul dan merencanakan untuk menggerebek lokasi tempat tinggal, yang dijadikan areal kos-kosan tersebut.

Pintu lantas digedor, namun keempat muda-mudi asal Kabupaten Nagara Raya itu tak mau membuka. Bahkan sempat memadamkan lampu untuk mengecoh keberadaan mereka. Tak ingin kehilangan target beberapa pemuda desa segera mendobrak dan melakukan penggeledahan.

Dari dua kamar di rumah tersebut, Dewi dan Suriani ditemukan secara terpisah. Sementara pasangan prianya M Nasir bersama Khairuman sudah ketakutan, sembunyi di ruang belakang. Tak bisa lagi meloloskan diri, selanjutnya warga menarik paksa keempat pelaku dan mengimbal pasangan pria hingga babak-belur.

Kepada Metro Aceh (Grup JPNN), Minggu (4/3) siang, aksi main hakim sendiri kemarin dibenarkan Patani, selaku Geuchik Desa Ujung Kalak. “Pasangan prianya dihajar warga, sementara yang wanita ditarik keluar untuk diamankan. Selanjutnya mereka diserahkan kepada polisi,” tegas Patani.

Menurut Geuchik, kedatangan kedua pria tersebut cukup sering namun bertamu hingga larut malam.  “Sebenarnya sudah sering diperingatkan agar tak bertamu sampai jauh malam. Tapi larangan itu tak diindahkan, sampai kejadian ini menimpa keempat pelaku. Dewi dan Suriani diketahui sebagai mahasiswi salah satu Akedemi Kebidanan (akbid),” paparnya.

Sampai akhirnya, empat muda-mudi ini diserahkan ke pada pihak Polsek Kecamatan Johan Pahlawan.  “Saya tidak berani ambil resiko, makanya mereka diserahkan kepada Polisi saja, dari nanti dipukul warga yang emosi dengan tingkah mereka itu,” ujar Patani. 

by. MOR/JPNN

Anggota DPRD TTS Kepergok Selingkuh Dengan Polisi


sergapntt.com, SoE – Tak pernah puas dengan apa yang sudah ada. Itulah tipikal manusia kebanyakan. Termasuk, Yuliana Makandolu, Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Kendati telah memiliki suami dan anak yang sudah besar-besar, politisi asal Partai Geridra tersebut masih kesengsem sama pria lain. Pria  yang digaet adalah Briptu. Gede Ardiyasa (25), Anggota Samapta Polres TTS.
Kata warga TTS, hubungan selingkuh Yuliana dan Gede telah berlangsung lama. Ujungnya, Sabtu (3/3) sekitar pukul 10:30 Wita, pasangan yang lagi mabuk asmara ini dipergoki oleh anak kandung Yuliana sedang berduaan di dalam rumah kontrakan milik Gede Ardiyasa di Oefau, tepatnya di RT 02/RW 01 desa Oinlasi Kecamatan Mollo Selatan, TTS.
Tangkap basah ini berawal ketika anak kandung Yuliana mendengar gosip miring tetang perilaku ibunya. Untuk membuktikan apakah ibunya benar-benar tengah menjalin kasih dengan pria lain atau tidak, ia pun mulai melakukan pengintaian. Benar saja, Sabtu itu ia mengikuti ibunya hingga ke kontrakan Gede.
Disana, ia mendapati ibunya tengah berduaan dengan Gede. Sontak saja ia naik pitam. Ia sempat baku bukul dengan polisi yang menjadi selingkuhan ibunya itu. Akibatnya  Gede harus dilarikan ke Ruma Sakit Umum Daerah (RSUD) SoE.

Ironisnya, saat bersamaan, DPRD TTS sedang melaksanakan rapat paripurna dengan agenda penutupan rapat paripurna dalam rangka pembahasan RAPBD tahun 2012.
Sebelum menemui Gede, Yuliana sempat mendatangi gedung DPRD. Namun beberapa saat kemudian, anggota DPRD Komisi C itu meninggalkan Gedung DPRD. Hal ini dibuktikan dengan adanya centangan pada kolom absen atau daftar hadir forum paripurna.

Usai kejadian, Gede terlihat dirawat di salah satu ruang UGD RSUD SoE dengan kawalan ketat anggota intel Polres TTS. Sementara Yuliana Makandolu menjalani pemeriksaan dari sore hingga malam di Unit PPA Mapolres TTS. Polisi pun telah mengambil keterangan dari anak kandung Yuliana Makandolu.

Kapolres TTS, AKBP Agus Hermawan yang ditemui wartawan membenarkan kasus yang melibatkan anak buahnya itu. Menurut Agus, kasus tersebut sedang diproses di Unit Reskrim polres TTS. Kedua okmun tersebut, kata Agus, dikenakan pasal 284 KUHP tentang perzinahan dengan ancaman hukuman maksimal sembilan bulan penjara.

“Benar, dan kasusnya sementara kita proses di Reskrim. Keduanya dijerat pasal perzinahan,” jelas mantan Kabid Propam Polda NTT itu.

Sementara Semmy Nggebu, suami Yuliana  mengaku tidak terima dengan tindak tanduk istrinya dan polisi itu.  Ia bersikukuh akan memproses kasus ini hingga tuntas.

“Saya dan keluarga sudah sepakat untuk diproses hukum. Dan kita sudah serahkan kepada polisi agar diproses secara hukum,” ujar Semy dengan nada kesal. 

by. MOR/JPNN