Perjuangan Hidup Seorang penderita HIV


sergapntt.com, TIMORense – Bermula dari cita-citanya ingin menjadi seorang pelayan jemaat gereja,  membuat Tia-sebut saja begitu, setelah lulus dari SMA, ingin melanjutkan studinya pada Perguruan Tinggi yaitu di Fakultas  Theologi. Tepatnya pada 12 tahun silam, bermodalkan informasi yang diperoleh dari teman dan atas restu kedua orang tua maka Tia beranikan diri merantau untuk mengejar impian sebagai seorang pendeta disalah satu Universitas di Bandung-Jawa barat. Semua yang dijalani Tia semasa kuliah penuh dengan optimis dan tanpa hambatan. Malah, berharap setelah selesai pendidikan, keinginan utamanya kembali mengabdikan diri pada daerah asalnya Soe-TTS.
Tia yang dikenal gampang bergaul dengan siapa saja, membuat dirinya banyak teman. Sehingga suatu ketika dirinya berkenalan dengan Heru dan mereka berpacaran. Hubungan asmara tersebut bertahan hingga Tia dan Heru menyelesaikan pendidikan dan diwisuda. Ternyata selesai menjalani pendidikan, Tia tidak langsung pulang kampung halamannya karena lebih memilih hidup bersama sang kekasih, terbukti dirinya menerima pinangan Heru untuk dinikahi.
Setelah menikah, Heru membawa Tia tinggal bersama orang tuanya yang berdomisili di Jakarta. Heru yang diketahui merupakan anak tunggal, dengan kehidupan orang tuanya yang berada dan mapan secara materi, tentu sanggup memenuhi segala kebutuhan dari keluarga baru yang dibangun anaknya. Maklum, keduanya belum bekerja karena baru selesaikan studi.
Perjalanan biduk rumah tangga Tia bersama Heru berjalan wajar dan terasa indah karena Tia bukan saja mendapat kasih sayang dari sang suami namun dirinya juga mendapat perhatian dari kedua mertua serta keluarga besar Heru. Kebahagiaan mereka semakin bertambah setelah diketahui Tia mengandung anak pertama, sekaligus adalah cucu pertama bagi mertuanya.
Tapi kebahagiaan itu sirna, saat Tia melahirkan bayi perempuan hanya berselang dua hari dirawat di Rumah Sakit, bayi tersebut sakit dan meninggal tanpa ada penjelasan secara medis kepada Tia, sehingga  Kejadian tersebut dianggapnya sebagai suatu takdir. Tapi keinginan Tia sangat besar untuk kembali menghadirkan seorang anak dalam rumah tangganya bersama Heru. Akhirnya doa Tia terkabul, setelah diketahui dirinya mengandung anak kedua. Kabar tersebut sontak membuat perhatian mertua semakin berlipat ganda, bak seperti putri raja yang selalu dipantau gerak-geriknya selama 24 jam untuk mencegah terjadi hal serupa pada kelahira anaknya yang pertama.
Saat hamil tujuh bulan, Tia mendapat kesempatan berkunjung menemui orang tuanya yang berada di Soe-TTS, maklum saja sejak menikah bersama Heru, belum sekalipun dirinya mengunjungi keluarga besarnya. Tanpa disangka saat liburan bersama orang tua itulah, Tia melahirkan secara normal anak keduanya. Namun bayi yang baru dilahirkan langsung mendapat perawatan intensif selama hampir sebulan karena kondisinya memprihatinkan, tapi kondisinya semakin memburuk. Sehingga Tia memutuskan untuk rujuk perawatan anaknya dilakukan ke Jakarta. Setelah beberapa hari disalah satu Rumah Sakit di Jakarta, bayi laki-laki yang baru berumur satu bulan tersebut harus merenggang nyawa karena menderita penyakit yang sama seperti anak pertamanya yang juga telah meninggal dunia.
Setelah enam bulan kematian anak keduanya, Kondisi kesehatan Tia pun ikut menurun drastis, dan sering sakit-sakitan, karena pikiran akan kedua anaknya yang harus meninggal dengan penyakit yang sama… ditambah perlakuan sang suami yang tidak lagi memberi perhatian, juga hal sama tunjukan mertunya, dimana Tia seperti diasingkan dalam keluarga besar mertua. Ditahun 2007 Karena tidak tahan akan situasi seperti itu, maka Tia memilih pulang NTT bersama orang tuanya di Soe. Namun penyakit yang diderita bukannya membaik malah bertambah parah, semakin hari berat badannya menurun sehingga nampak hanya kulit membungkus tulang. Tak hanya itu, Tia juga mulai mendapat gunjingan dari para tetangganya yang mengatakan dirinya terjangkit penyakit aneh.
Sesungguhnya secara medis Tia belum mengetahui penyakit yang diderita. Karena selama pengobatan di Jakarta, baik dari hasil pemeriksaan dan biaya pengobatan seluruhnya ditangani sang mertua dan suami sehingga dirinya tidak tahu-menahu sebenarnya penyakit apa yang dideritanya. Belum genap enam bulan dirinya berada di Kota Soe, Tia mendengar kabar sang suami terjaring operasi kepolisian karena terbukti menggunakan narkoba. Sehingga Tia memutuskan kembali ke rumah mertuanya di Jakarta, sebagai bentuk kewajiban istri mengurus suami dalam suka maupun duka, selain itu juga, keputusan kembali juga hanya untuk menjaga nama baik keluarga besarnya di Soe yang mulai membicarakan kondisinya.
Perbuatannya Heru harus dibayarnya dengan mendekam dibalik jeruji besi, dan Tia selalu menemaninya dengan sering berkunjung ke Lembaga Permasyarakatan (LP) tempat Heru di Bui. Ternyata perhatian dari sang istri tidak membuat Heru bahagia. Malah dirinya mengancam Tia akan dibunuh setelah dirinya keluar penjara, dan mendapati istrinya masih berada dirumah orang tuanya. “Saya selalu menemuinya dipenjara membawakan makanan, tapi dia (Heru,red) terus meminta saya segera pulang Kupang saja, kalau tidak dituruti maka dia mau bunuh saya, tanpa ada alasan yang jelas”, cerita Tia saat itu.
Dengan tekanan hidup yang semakin berat karena penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh, ditambah perlakukan suami dan keluarganya yang tidak memberikan perhatian lagi. Membawa Tia untuk berani memeriksakan kondisinya di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Saat itu juga, sontak membuat Tia seperti disambar petir disiang bolong setelah membaca hasil pemeriksaan laboratorium, yang selama ini dikuatirkan dan menjadi gunjingan tetangganya dikampung ternyata semuanya itu betul adanya karena dirinya terbukti positif tertular HIV.
Dalam perjalanan pulang dari Rumah Sakit dengan hasil laboratorium yang masih digenggamannya, tersirat keinginan untuk mengakhiri hidup dengan menabrakkan tubuhnya pada kereta api yang sedang melaju kencang. Tapi ternyata pada saat itu juga dirinya langsung disadarkan Tuhan untuk menghargai hidupnya. “Saya tidak percaya apa yang baru saja saya alami saat itu, sebab saya hanya berhubungan dengan suami, kok jadinya begini. Apa salah saya?”, ungkap Tia yang belum bisa menerima kenyataan.
Ternyata setelah ditelusuri, Heru lebih dulu positif HIV karena keseringan menggunakan narkoba. Dan yang lebih menyakitkan Tia lagi, kondisi Heru yang tertular HIV karena narkoba sudah diketahui orang tuanya jauh sebelum dirinya menjadi istri Heru. Setelah semuanya dibeberkan pada mertuanya, mereka (orang tua Heru,red) hanya pasrah dan memohon maaf, dengan alasan menutupi semua keadaan Heru hanya untuk kebahagiaan anak semata wayangnya.
Akhirnya dari informasi tempat Tia diperiksa, bahwa penyakitnya tidak dapat disembuhkan tapi bisa dicegah penyebarannya karena baru tertular HIV. Maka Tia selalu konsisten melakukan pemeriksaan dan mengkonsumsi obata secara teratur. Selain itu, Tia juga selalu aktif bergabung dengan komunitas pencegahan dan penanggulangan HIV/Aids sebagai upaya mendapat bimbingan konseling serta berbagi pengalaman sesama terinfeksi dalam mencegah penyebaran virus tersebut. Keputusan Tia kembali Kupang ternyata tepat, dengan dukungan dari kakak perempuannya, dan juga Yayasan Tampa batas (YTB) Kupang serta Komisi Peduli Aids (KPA) Kota Kupang, setia memberikan bantuan obat serta bimbingan konseling. Kondisi Tia yang mulai berangsur pulih karena mengkonsumsi obat serta berjalani pemeriksaan secara teratur. Dan dengan titel sarjana theologi yang diperoleh membawa Tia menjadi seorang Pendeta dan saat ini telah mengabdikan diri didaerah TTS.
Ternyata keberanian Tia bangkit dari keterpurukan… telah memotivasi dirinya untuk tetap hidup. Terbukti terpaan hidup yang berat, penderitaan dan kesengsaraan harus dijalani seorang diri,  akhirnya penderitaan bisa diatasi dengan penuh kesabaran dan ketabahan, serta tidak lupa selalu memohon pertolongan Tuhan Maha Pencipta. (*)

Sayang Anak, Berikan ASI Eksklusif


sergapntt.com, TIMORense – Apa manfaat Air Susu Ibu (ASI)  ekslusif ? lalu berapa lama rutin diberikan kepada anak? Ternyata masih banyak ibu-ibu yang belum mengetahuinya. Loh kog?
Menurut dr. Samy Nalley, ASI eksklusif harus diberikan kepada bayi selama enam (6) bulan tanpa makanan atau minuman tambahan.
“Masih banyak ibu-ibu yang enggan memberikan ASI ekslusif selama 6 bulan, apalagi ibu-ibu yang aktif bekerja. Semua orang tua yang memiliki bayi pasti mengharapkan sang buah hati selalu dalam keadaan sehat sehingga bisa tumbuh secara normal dan sehat. Untuk itu bayi memerlukan Asi dari ibunya, selain baik untuk kesehatan si bayi juga sangat baik untuk pertumbuhan si buah hati,” paparnya.
Nalley menjelaskan, pada tahun 2001, WHO telah menetapkan bahwa ASI eksklusif yang diberikan untuk sang buah hati selama enam bulan pertama, hidup bayi merupakan yang terbaik. Sebab, di dalam ASI terdapat banyak zat yang sangat spesifik dan berkualitas yang dipersiapkan oleh Ibu untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan serta perkembangan untuk kecerdasan sang bayi.
Sementara itu, Kristin Nayoan, dosen FKM Undana saat ditemui TIMORense dikediamannya, menganjurkan, jika setelah 6 bulan si ibu masih memproduksi ASI sebaiknya tetap diberikan, namun sudah bisa secara bertahap ditambahkan dengan makanan lain untuk membantu pertumbuhan bayi.
“Begitulah himbauan dari dunia kesehatan saat ini. Ada banyak manfaat pemberian ASI secara eksklusif, baik bagi bayi maupun bagi si ibu. Bahkan pemberian ASI eksklusif ini dapat mengurangi gangguan perkembangan dan tingkah laku pada anak,” ujarnya.
Kata Nayoan, manfaat dari pemberian ASI ini dapat mengurangi resiko bayi terkena diare dan muntah, mengurangi terkena infeksi pada dada dan telinga, mengurangi resiko penyakit kulit, mengurangi kemungkinan terkena sembelit, sehingga berkurang juga kemungkinan bayi dirawat di rumah sakit.
Selain itu, pemberian ASI dapat pula mengurangi kemungkinan bayi mengalami masalah kegemukan di saat dewasanya sehingga juga mencegah penyakit diabetes dan penyakit yang terkait kegemukan. Kemudian juga ada indikasi hubungan kecerdasan anak dengan pemberian ASI.
Apabila bayi mendapatkan asupan ASI secara eksklusif maka si bayi mendapat perlindungan dan keuntungan yang berlipat. Susu formula tidak bisa menggantikan peran ASI dalam hal-hal yang disebutkan di atas.
“Menyusui anak juga memberi dampak yang baik bagi sang ibu, antara lain dapat mengurangi resiko ibu terkena penyakit jantung, mengurangi resiko terkena kanker rahim dan payudara, membakar kalori pada tubuh ibu, menghemat pengeluaran, dan juga menumbuhkan ikatan yang kuat antara ibu dan anak. Menyusui juga dapat menunda kembalinya siklus menstruasi pada ibu yang baru melahirkan,” tegasnya.
Manfaat dan Keuntungan ASI Eksklusif untuk Bayi
1. Pemberian ASI eksklusif pada bayi dapat meningkatkan perlindungan terhadap banyak penyakit seperti misalnya radang otak serta penyakit diabetes.
2. ASI eksklusif juga bisa membantu melindungi bayi dari penyakit-penyakit biasa seperti misalnya infeksi telinga, penyakit diare demam tapi juga dapat melindungi bayi dari Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau kematian mendadak pada bayi.
3. Pada waktu bayi yang sedang menyusui dalam kondisi sakit, bayi perlu perawatan rumah sakit jauh lebih kecil dibanding bayi yang minum susu botol.
4. Air susu ibu dapat memberikan zat nutrisi yang paling baik serta juga paling lengkap untuk pertumbuhan bayi.
5. Air susu ibu dapat melindungi bayi yang di akibatkan oleh alergi makanan, misalnya jika makanan yang dikonsumsi oleh ibunya hanya mengandung sedikit makanan yang menyebabkan alergi.
By. Wesly Jakob/Puskesmas Sikumana

Gubernur Jadikan PNS Sebagai Tim Sukses?


sergapntt.com, TIMORense – Pemilukada tak bedanya dengan dunia perjudian. Hasil akhir selalu untung atau buntung. Semua cara dipakai agar bisa menang. Tak peduli ilegal atau legal. Yang penting bisa menguasai laga dan menuai hasil maksimal. Itu sebabnya pertarungan sering tidak sportif. Termasuk dalam pertarungan politik lima tahunan di Kota Kupang yang akan final pada 1 Mei 2012.
Yang menarik dan kerap menjadi sorotan adalah keterlibatan para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam Pemilukada Kota Kupang, terutama mereka yang kini bekerja dilingkup Pemprov NTT. Ada dualisme sikap yang membuat mereka selalu dihantui dilema, yakni tetap menjaga netralistas sebagai abdi negara atau memanfaatkan pemilukada sebagai ajang memetik jabatan. Sikap dualisme ini disebabkan suburnya praktik-praktik nepotisme di lingkungan Pemprov NTT.  Contoh: pengisian jabatan, khususnya eselon II, III dan IV. Disini kemampuan bukan syarat utama, yang digunakan adalah unsur kedekatan, suka tidak suka dan kepentingan politik. Kondisi ini diperparah oleh kurang tegasnya pemberian sanksi terhadap PNS yang terlibat politik praktis. Itu sebabnya kebanyakan PNS lebih memilih terlibat dengan menjadi tim sukses, ketimbang bersikap netral tapi jabatan tak pernah diberi walaupun pangkat dan golongan serta kemampuan telah memenuhi syarat. Toh nantinya hanya tim sukses saja yang lebih dipercayakan mengisi jabatan eselon II, III atau IV.
Menghadapi Pemilukada Kota Kupang, santer terdengar Gubernur NTT, Frans Lebu Raya mengerahkan hampir seluruh PNS yang bekerja dilingkup Pemprov NTT, terutama para pejabat eselon IV, III dan II sebagai tim sukses pasangan calon walikota dan wakil walikota Kupang 2012-2017, yakni Jefri Riwu Kore dan Kristo Blasin (Jeriko). Padahal sesuai amanat UU 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 tahun 2010 tentang disiplin PNS jelas-jelas melarang PNS terlibat atau dilibatkan dalam kegiatan politik praktis.
Sejak Jeriko ditetapkan oleh PDIP dan GERINDRA sebagai calon walikota dan wakil walikota, secara diam-diam gubernur memerintahkan semua pimpinan SKPD dan PNS untuk mendukung Jeriko. Targetnya adalah menang pemilukada Kota Kupang!
Buktinya? Hampir semua pejabat eselon IV, III dan III di lingkup Pemprov NTT setiap hari terlihat aktif melakukan upaya-upaya memenangkan Jeriko. Mereka tak lagi fokus kerja sebagai pelayan masyarakat. Yang dibicarakan dan dilakukan hanya bagaimana memenangkan Jeriko. Mereka juga tak tanggung-tanggung mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk mendukung pergerakan tim sukses Jeriko yang lain.
“Ketika pak gubernur mendukung Jeriko, maka kami otomatis mengikutinya. Tanpa disuruh pun pasti kami ikut keputusan politiknya,” ujar salah seorang pejabat eselon II saat bincang-bincang dengan TIMORense, belum lama ini.
Hufffffff! Ironis sekali! Hebatnya lagi, sebagian pejabat eselon II bahkan nekad mendanai pembuatan 100 posko pemenangan Jeriko yang tersebar hampir disemua pelosok Kota Kupang. Satu posko dihargai Rp3 juta. Itu artinya Rp300 juta telah digelontorkan hanya untuk membuat posko. Lalu uangnya diambil darimana? Owww,,, itu tak mungkin mereka beberkan! Kecuali dipaksa pak Jaksa. Itu barangkali! Hahahayyyy,,! Andaikan saja Rp300 juta itu diberikan kepada fakir miskin, mungkin lebih bermanfaat. Iya ka tidak!
Pengorbanan para pejabat bukan tanpa maksud. Keinginan dan ambisi mereka hanya satu, yakni diperhatikan gubernur usai perhelatan Pemilukada. Jika hari ini hanya menduduki jabatan eselon IV atau III, maka usai gawe lima tahun sekali ini, mereka berharap gubernur dapat memberi sekaligus meningkatan jabatan mereka dari eselon IV ke III, dan III ke II. Sementara para pejabat eselon II tetap berharap agar mereka tidak dibangku cadangkan sebagai staf ahli gubernur.
Lalu masyarakat? Setelah pemilukada, urus diri sendiri-sendiri. Bahkan jika suatu saat nanti ingin bertemu walikota dan wakil walikota yang dipilih, maka harus dipahami tak semudah lagi ketika yang terpilih masih menjadi calon. Rakyat harus mengikuti aturan birokrasi yang syarat dengan ini itu.
Yang enak justru tim sukses yang nota bene PNS. Dengan gampangnya mereka menerima jabatan. Dengan mudahnya mereka menggunakan uang negara, misalnya dana perjalanan dinas yang akrab ditelinga masyarakat dengan singkatan SPPD. Belum lagi dana-dana yang bisa dimanfaatkan seenak perut. Tak heran perilaku mereka pasca pemilukada langsung berubah. Dari yang biasa-biasa menjadi ekslusif.
Sebagai pemimpin, gubernur mestinya memberi sinyal bahwa pada hakekatnya kekuasaan adalah amanah rakyat. Dalam masyarakat madani kekuasaan bukanlah tujuan, tetapi hanyalah alat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dalam kemakmuran, dan makmur yang berkeadilan.
Itulah sebabnya PNS harus diarahkan untuk bersikap netral dalam Pemilukada. Karena PNS merupakan unsur penting dan sangat berpengaruh dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, sebagai upaya mewujudkan pemerintah yang baik (good government) dan pemerintahan yang bersih (clean government).
Nah,,, dalam mewujudkan dua hal tersebut tentu membutuhkan sikap profesional dari seluruh stakeholder. Diharapkan PNS juga tidak menggunakan momentum Pemilukada sebagai batu loncatan dalam karir di birokrasi. Bila ingin mendapatkan jabatan, berkerjalah secara profesional. Karena jabatan di birokrasi merupakan jabatan karir, bukan jabatan politik. Soal sikap pemimpin yang kiblatnya ke politik, itu urusan dia. Tapi sebagai abdi negara, PNS mesti konsisten pada tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya.
sebab, PNS merupakan abdi negara yang memiliki tiga peran, yakni sebagai alat/aparatur negara, sebagai pelayan publik dan sebagai alat pemerintah. Untuk menyadarkan diri akan fungsi dan peran PNS sebaiknya seorang PNS memahami betul aturan-aturan tentang PNS dan pemilukada.
Beberapa ketentuan yang terkait dengan eksistensi PNS dalam pilkada diantaranya : (1) Pasal 3 UU Nomor 43 tahun 1999 tentang Parubahan atas Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentang pokok-pokok kepagawaian, dan (2) Pasal 66 PP 6/2005 dengan jelas pasangan calon termasuk gubernur dilarang melibatkan PNS.
Dengan demikian, setiap PNS perlu mempertimbangkan secara cermat sebelum menjadi tim sukses, mengingat resiko yang ditimbulkan adalah sangat berat yaitu diberhentikan sebagai PNS sesuai dengan surat penegasan Kepala BKN Nomor F.III.26-17/V.151-2/42 tanggal 15 Desember 2003.
Betul bahwa PNS  memiliki hak politik untuk memilih. Namun pemaknaan larangan berpolitik harus disadap secara baik dan benar. Sehingga penfasiran akan larangan berpolitik itu tidak membuat PNS menjadi korban aturan.
Ada beberapa sumber yang menyatakan hal-hal berkaitan dengan Politik PNS, antara lain (1) Peraturan Pemerintah No 37 Tahun 2004 tentang Larangan Pegawai Negeri Sipil menjadi Anggota Partai Politik, disini jelas bahwa PNS dilarang menjadi anggota Partai Politik, apalagi menjadi pengurus partai politik.
(2) ayat 1 Pasal 3 UU Nomor 43 tahun 1999 tentang Parubahan atas Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentang pokok-pokok kepagawaian, dan ayat 3 Pasal 66 PP Nomor 6 Tahun 2005 dengan jelas menyatakan pasangan calon dilarang melibatkan PNS.
(3) Surat penegasan Kepala BKN Nomor F.III.26-17/V.151-2/42 tanggal 15 Desember 2003. (4) Surat Edaran Menpan No: SE/08.A/M.PAN/5/2005 tentang netralitas Pegawai Negeri Sipil butir 1: Bagi PNS yang menjadi calon Kepala atau Wakil Kepala Daerah, maka (a) wajib membuat surat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan negeri pada jabatan struktural atau fungsional yang disampaikan kepada atasan langsung untuk dapat diproses seusai dengan peraturan perundang-undangan. (b) Dilarang menggunakan anggaran Pemerintah dan / atau Pemerintah Daerah. (c) Dilarang menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya. (d) Dilarang melibatkan PNS lainnya untuk memberi dukungan dalam kampanye.
Dan butir 2: Bagi PNS yang bukan calon Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah (a) Dilarang Terlibat dalam kegiatan kampanye untuk mendukung calon Kepala atau Wakil Kepala Daerah.(b) Dilarang menggunakan fasilitas yang terkait dengan jabatannya dalam kegiatan kampanye. (c) Dilarang membuat keputusan dan atau tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu pasangan calon selama masa kampanye.
Singkatnya, sesuai amanat UU 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan PP 53 tahun 2010 tentang disiplin PNS, maka PNS dituntut untuk bekerja sesuai tupoksi masing-masing dalam rangka melayani masyarakat. Sebab, menurut aturan, PNS memang tidak ada hak ikut berpolitik.
By. Chris Parera

Kisah Pilu Pencuri Yang Diperkosa Polisi


KEFAMENANU — NM alias YM (16), menceritakan kronologis dirinya diperkosa oknum anggota polisi jaga di Polres TTU bernama Dodi. NM yang ditemui saat jeda pemeriksaan di Mapolres TTU, Rabu siang, menuturkan, pada Jumat (16/3/2012) malam, ketika dirinya sedang tertidur pulas tiba-tiba Dodi masuk ke ruang tahanannya dan membangunkan dirinya.

“Saat itu saya sedang tidur. Tiba-tiba dia datang kasi bangun saya. Lalu dia bilang kamu mau keluar dari sini? Saya bilang,  tidak bisa karena saya sudah di dalam. Tapi dia bilang, kalau kamu tidak keluar dari sini kamu akan dipenjara seumur hidup. Lalu saya bilang, saya mau keluar dari sini. Dia suruh saya panjat tembok dan buka plafon. Pas saya buka plafon ada terali besi. Saya beritahu dia, kalau saya tidak bisa keluar lewat plafon karena ada terali besi. Dia suruh saya turun kembali. Kemudian dia buka pintu dan suruh  saya keluar,” kata NM.

NM mengungkapkan, setelah berhasil keluar dari ruang tahanan,  Dodi  menyuruh dirinya menunggu di samping kamar mandi. Sementara  Dodi mengunci kembali pintu ruang tahanan. Saat itu, kata NM, tepat pukul 12.00 Wita. Setelah mengunci pintu tahanan, Dodi keluar menemui dirinya di samping kamar mandi.  “Dia naik ke tembok dan merusak plafon di luar. Di bilang, kalau suatu saat saya ditangkap dan ditanya keluar lewat mana, saya jawab saja keluar lewat plafon yang rusak itu,” ungkap YM.

Setelah merusak plafon, NM mengaku, dirinya dan Dodi  keluar dari Polres TTU melalui pintu belakang  menyusuri halaman belakang rumah jabatan Kapolores TTU. Sampai di halaman belakang asrama anggota Polres TTU,  Dodi mengajaknya  berhubungan sex. “Di belakang asrama anggota  kami sempat `main’.  Saya terpaksa  mau `main’ karena dia yang suruh.  Habis `main’ kami keluar ke jalan dan dia antar saya sampai depan Hotel Frawijaya. Di situ dia bilang, kau jalan sudah. Dapat oto (angkot.) dimana naik sudah. Saya jalan terus sampai depan PDAM. Karena masih gelap, saya istirahat sebentar. Setelah agak terang saya naik ojek ke KM 7 Jurusan Atambua,”  beber NM. NM mengaku saat `bermain,’  Dodi tidak menggunakan pengaman.

Kapolres TTU melalui Kasat Reskrim, Iptu Wiwin J Supariadi membenarkan informasi tersebut.

Dodi telah diperiksa provost. Sementara NM untuk sementara dititipkan di rumah tahanan Lapas Kelas II Kefamenanu. NM sempat ditahan di ruang tahanan Mapolres TTU, Selasa malam. Namun pada Rabu siang NM keberatan dimasukkan kembali dalam ruang tahanan di Mapolres TTU dengan alasan trauma. NM mengaku pada Selasa malam, ada anggota yang sempat masuk ke ruang tahanannya dan memukulnya. 
Mulanya NM dilaporkan melarikan diri dari tahanan Mapolres, namun dilepas oleh petugas jaga bernama Dodi. 
By. Che/Pos Kupang

Si “Api” Yang Tak Kunjung Padam


sergapntt.com – Tahun berjalan, mode berganti, post-modernisme menggantikan modernisme, kepemimpinan demokratis menggantikan kediktatoran, dan tembok berlin jatuh ke bawah tembok kapital. Tapi sampai hari ini,  pesan Che Guevara tetap menjadi suluh bagi mereka yang percaya bahwa dunia yang lebih baik itu mungkin.

Ada sesuatu dalam hidup dari peninggalan dokter Argentina, gerilyawan, revolusioner Cuba yang masih di bicarakan oleh generasi penerus hingga kini. Siapa yang dapat menjelaskan menggunungnya jumlah artikel, buku, film, debat tentang che ? Peringatan 30 tahun kematiannya dilakukan dengan berbagai macam acara, Siapa yang tertarik pada 30 tahun kematian Joseph Stalin ?
Seperti Jose Marti, Emiliano Zapata, Augusto Sandino, Farabundo Marti, Camilo Tores, Che adalah salah satu pejuang yang tewas disaat pertempuran, saat senjata masih dalam genggaman, dan seorang yang menjadi, selamanya, benih yang di taburkan di tanah Amerika Latin, menjadi malaikat dalam surga harapan dan keinginan, menjadi bara yang menyala dibawah abu ketidakpuasan dan keresahan.
Di dalam setiap kebangkitan gerakan revolusioner di Amerika Latin selama 30 tahun ini, mulai dari Argentina sampai Chili, dari Nicaragua sampai El Savador, dari Guatemala sampai Mexico dan Chiapas, selalu ada jejak dari “Guevarismo”, kadang jelas, kadang tidak. Tidak hanya dalam pandangan kolektif mereka yang berjuang saja, tapi juga dalam perdebatan mereka tentang metode, strategi, dan di setiap bibit-bibit perlawanan.
Bibit-bibit Guevarismo telah di semaikan selama 30 tahun terakhir, di tanah yang dipupuk oleh budaya politik kaum kiri Amerika Latin. Sekarang bibit itu telah menjadi ranting, daun-daun, dan buah. Jejak-jejak Che adalah satu benang merah dari mereka yang ada di Pantagonia sampai Rio Grand, yang menenun mimpi-mimpinya.
Apakah ide-ide Che ketinggalan jaman ? Apakah mungkin mentransformasikan atau merubah  Amerika Latin tanpa Revolusi ? Ini adalah teori dari beberapa teoritikus kiri Amerika Latin ( yang menyebut dirinya ”realis”) berdasarkan pengalaman selama beberapa tahun terakhir, yang dimulai oleh jurnalis dan penulis berbakat, Jorge Castaneda dalam bukunya yang terkenal yang berjudul Melucuti Utopia (1993)
Hanya beberapa bulan setelah peluncuran bukunya, negeri Castaneda, Mexico, terlihat uprising yang spektakular yang terjadi pada penduduk asli, Chiapas, di bawah sebuah kepemimpinan sebuah organisasi utopis bersenjata, EZLN, yang prinsip-prinsip pengorganisirannya berasal dari tradisi Guevarist. Benar, sangat kontras dengan grup gerilyawan tradisional, Zapatista atau EZLN, mengatakan bahwa kebutuhan obyektif mereka bukan mengambil alih kekuasaan, tapi menyediakan inspirasi dan support untuk suatu organisasi dari Mexican civil society, dengan tujuan utama perubahan besar dalam sistem politik dan sosial negeri.
Namun, tanpa  uprising di Januari 1994, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN)-masih bersenjata dalam empat tahun kemudian-tidak akan menjadi poin referensi dari neo-liberalisme, tidak hanya di Meksiko tapi juga di Amerika Latin dan seluruh penjuru dunia. Zapatismo adalah campuran dari beberapa tradisi subversif, tapi guevarismo adalah bumbu kunci di rebusan  masakan dalam  kebudayaan revolusioner yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam sebuah artikel di Newsweek, Castaneda mulai bertanya apakah benar-benar mungkin untuk menggunakan metode non-revolusioner untuk merebut kekuasaan dan kemakmuran dari tangan elit politik yang berkuasa dan orang-orang kaya, dan merubah sturktur sosial yang sudah mengakar di Amerika Latin. Jika bukti ini sangat susah untuk di temukan di akhir abad ke-21 ini, dia berkata nantinya dunia akan menyadari bahwa, “ Bagaimanpun, Che Guevara memiliki sebuah poin”
Politisi adalah Personal
Che bukan hanya seorang pejuang yang heroik, tapi juga seorang pemikir revolusioner, dengan sebuah proyek politis dan moral dan  sebuah sistem dan nilai yang kerena itu dia perjuangkan dan dia berikan hidupnya. Filosofi yang memberi dia pilihan ideologi dan politik yang koheren, berwarna, bercita rasa, adalah sebuah humanisme revolusioner yang sangat dalam. Untuk Che, Komunis sejati, revolusioner sejati adalah seseorang yang merasa bahwa problem terbesar umat manusia adalah problem dia juga, seseorang yang mampu merasakan kesedihan ketika ada orang lain yang terbunuh, nggak peduli dia berada di belahan dunia yang mana, dan merasakan kegembiraan ketika bendera kebebasan berkibar di manapun.
Internasionalisme-nya Che-sebuah jalan hidup, sebuah kepercayaan sekuler, sebuah kategori imperatif, dan sebuah semangat nasionalitas-adalah sesuatu ekspresi yang hidup dan nyata  dari humanisme marxis revolusioner ini.
Che selalu mengutip perkataan Jose Marti bahwa “setiap manusia seharusnya merasakan sakit diwajahnya ketika ada orang lain yang mukanya di tampar”. Perjuangan untuk martabat ini adalah salah satu prinsip etis yang menimbulkan inspirasi untuk semua tindakannya, mulai dari pertempuran Santa Clara sampai perlawanan terakhir di pegunungan Bolivia. Apa yang disebut Che, “bendera dari martabat manusia” masih menjadi term yang penting dalam kebudayaan Amerika Latin. Itu semua pertamakali berasal bersumber dari Don Quixote, sebuah karya yang dibaca Che di Sierra Maestra, yang di gumanakan sebagai “literatur kelas” yang memberi dia rekruitmen gerilyawan petani, dan sebuah kepahlawanan yang dengan itu dia identifikasikan melalui sebuah surat kepada orang tuanya.
Nilai ini tidak asing bagi marxisme. Marx sendiri menulis bahwa “proleteriat membutuhkan martabat sebagaimana kebutuhannya atas roti”. (“Communism and the Rhine Observer” – September 1847).
Pertimbangan pemikiran strategis-nya sering terbatasi dengan ide gerilya foco(memperluas nucleus). Tapi ide-ide dia dalam revolusi di Amerika Latin sangat mendalam. Di tahun 1967 dia mengatakan bahwa “Tidak ada perubahan yang bisa di buat : baik itu revolusi soaial maupun revolusi yang bersifat karikatif”. Akibatnya, Che membantu seluruh generasi revolusioner untuk membebaskan dirinya dari penjara “Stagisme” yang berasal dari dogmanya Stalinis. (Pesan untuk Konferensi Tricontinental, 1967).
Tentu, kia dapat menemukan dalam tulisannya-apakah dalam pengalaman di Kuba atau di Amerika Latin-dan terlebih dalam episode tragis di Bolivia, sebuah tendensi unutk meredusi revolusi ke perjuangan bersentaja, perjuangan bersenjata ke perjuangan gerilya di pedesaan, perjuangan gerilya itu sendiri yang dibentuk dalam Foco. Tendensi inilah yang mendominasi secara subasequen tradisi guevarist di Amerika Latin.
Tapi kamu juga bisa menemukan bagian-bagian dalam karyanya yang memberikan nuansa pada konsepsi gerilya-sebagai contoh dalam bagaimana pentingnya kerja politik massa, atau dalam kekurangan dari perjuangan bersenjata di negara yang ber-rezim demokratik.Tidak berarti penolakannya terhadap pembunuhan atau terorisme buta.
Peninggalan guevarist, yang ada dalam strategi grup revolusioner Amerika Latin di 60-an sampai 80-an., masih bersama kita, sebagai sebuah perasaan revolusioner dan perlawanan yang membaja dalam rangka unutk mencapai bagian yang penting dari ideology kiri, dari gerakan sosialis seperti Gerakan Buruh Tani di Brazil, unutk menyebut dirinya sendiri sebagai sosialis.
Sosialisme di Ameriak, tulis Jose Carlos Mariategui di 1929, bukannlah sebuah jiplakan, tapi sebuh kreasi yang heroik. Inilah yang dilakukan oleh Che Guevara, yang menolak menjiplak model-model yang “sudah ada” dan mencari jalan baru unutk sosialisme, secara lebih radikal, lebih egaliter, lebih bersifat persaudaraan, lebih humanis yang cocok dengan etika komunis sejati.
Salam Persaudaraan untuk umat manusia
Ide Che tentang sosialisme dan demokrasi masih berkembang sampai akhir hidupnya, tapi dalam pidatonya dan tulisannya, tiap orang bisa melihat dengan jelas ketika ia mengkritisi para pengikut Stalinis. Dalam pidatonya yang terkenal “pidato Algeria” di bulan Februari 1965 ia mengajak negara-negara yang mengaku dirinya sosialis untuk ”menarik diri dalam keterlibatannya dengan negara-negara barat yang eksploitatif”. Ia menambahkan “Sosialisme takkan dapat terwujud jika tak ada tranformasi kesadaran kita yang membimbing pada persaudaraan sesama umat manusia”.
Dalam essay bualan Maret 1965, “Sosialisme dan penduduk Kuba”, Che menganalisa model-model pembangunan struktur sosialisme di Eropa Timur. Dengan persepsi humanis revolusionernya, ia menolak konsepsi yang mengklaim “untuk menaklukan kapitalisme dengan jimat-jimatnya dalam mencapai ilusi pembangunan sosialisme lewat senjata warisan kapitalisme (komoditi-komoditi ekonomi, keuntungan, tingkat peningkatan yang signifikan dan sebagainya), kita akan menemui jalan buntu.
Menurut Che, salah satu bahaya utama dari model yang diimport dari Uni Soviet adalah ketidaksamaan pertumbuhan sosial dan bentuk-bentuk hak istimewa dari para teknokrat dan birokrat, dalam sistem redistribusi ini,”managerlah yang untung, kamu hanya butuh melihat proyek terakhir dari Republik Demokratik Jerman, hal yang penting adalah, manajemen sang direktur, atau penghargaan yang diterimanya dalam mengurus manajemen”.
Pemikiran ekonomi Che, terutama dalam hal transisi sosialisme, sangat menarik dan problematik. Menarik karena sifat egalitarian dan anti-birokrasinya, dan dalam kritiknya tentang pemujaan komoditi-atau pasar-,termasuk pemujaan yang dilakukan negara-negara yang mengaku “sosialis”.
Seorang marxis Belgia dan pemimpin Internasional IV, Ernest Mandel sependapat dengan Che dalam melawan pandangan para pengikut pemikiran ekonomi Stalin (spt Charles Bettelheim) dan orang-orang Kuba yang meniru model ekonomi Soviet tahun 1963-64.
Tapi pemikiran-pemikiran Che juga sangat problematis dalam beberapa hal. Tidak seperti yang mereka katakan maupun sebaliknya. Khususnya diamnya Che tentang  sosial demokrasi. Argumentasi Che tentang perencanaan ekonomi dan penolakan pasar tidaklah salah: sebaliknya akan muncul kekuatan baru untuk melawan neo-liberalisme yang sekarang mendominasi. Tapi pemikirannya tak meninggalkan jawaban terhadap pertanyaan inti yaitu: Siapa yang merencanakan? Siapa yang mengambil keputusan penting dalam semua perencanaan ekonomi? Siapa yang menentukan prioritas dalam produksi dan konsumsi?
Perencanaan, yang dalam hal ini tak terhindarkan, menjadi suatu bentuk otoritarian dan sistem birokrasi yang tak efisien dari sebuah kediktatoran, kecuali disertai dengan plurallisme politik, diskusi terbuka dan kebebasan untuk memilih kebijakan ekonomi mana yang akan dipakai.                                   
Sejarah Uni Soviet membuktikan, dengan kata lain, problem-problem ekonomi pada masa transisi menuju sosialisme tak dapat dipisahkan dan sangat bergantung pada sistem politik
Pengalaman Kuba 20 tahun lalu juga memperlihatkan pada kita tentang konsekwensi negatif kurangnya lembaga-lembaga yang demokratis dan sosialis. Walaupun Kuba juga dapat menghindari totalitarianisme dan perubahan bentuk-bentuk birokrasi seperti yang ada di negara-negara yang mengaku sosialis sejati.
Polemik Che terhadap pemujaan pasar memang benar, tapi argumen-argumennya akan lebih meyakinkan jika dihadapkan pada konteks demokrasi oleh para pekerja dalam hal mekanisme perencanaan. Seperti yang Ernest Mandel tekankan, ada jalan tengah antara kebuntuan pasar di satu sisi dan perencanaan birokrasi ekonomi di sisi lain: manajemen oleh pekerja sendiri, secara sentralis dan demokratis, dan perencanan manajemen oleh himpunan para produsen.
Walaupun Ia tak percaya dengan model dari Soviet dan komitmennya yang anti birokrasi, dalam hal ini, ide-ide Che masih jauh dari kejelasan.
Che mati pada tanggal 8 Oktober 1967: hari yang akan selalu diingat pada milenium tentang penindasan terhadap kemanusiaan. Peluru-peluru membunuh lagi seorang pejuang kemerdekaan, tapi takkan bisa membunuh semangat, harapan dan impiannya. Mereka yang membunuh Che Guevara, Rosa Luxemburg, Emiliano Zapata, dan Leon Trotsky sangat marah dan kecewa setelah melihat bahwa semangat juang para pahlawan itu masih hidup dari generasi ke generasi yang memperjuangkan kemerdekaan.           
Setelah runtuhnya tembok Berlin, dan berakhirnya rejim otoriter di Eropa Timur, kemenangan ekspansi para kapitalis global, dan hegemoni dari ideologi neo-liberalis,   dunia sekarang terlihat sangat jauh dari kehidupan dan perjuangan Che. Tapi bagi mereka yang tak percaya pada teori Hegel “akhir sebuah zaman”, atau keabadian ekonomi liberal/kapitalis dan bagi mereka yang selalu melawan ketidakadilan sosial dalam suatu sistem, pesan-pesan dan semangat humanis revolusioner Che masih bisa dijadikan jalan menuju masa depan yang lebih baik.                                                                                             
By. Michael Löwy