Minyak dan Gas di NTT Mulai Dieksplorasi


sergapntt.com, KUPANG – BP Migas Jawa Timur, Papua dan Maluku mulai melirik kandungan minyak dan gas (migas) yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk itu, dalam waktu dekat  BP Migas akan mulai melakukan pencarian atau eksplorasi keberadaan migas di sejumlah wilayah di NTT.
Demikian dikatakan Kepala Perwakilan BP MIGAS Jawa Timur, Papua dan Maluku, Hadi Prasetyo saat bertemu Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya di ruang kerja Gubernur NTT, Senin (12/3/12).
Prasetyo mengatakan, jika ditemukan kandungan migas di NTT, maka pihaknya mengembangkan lalu dikembalikan kepada pemerintah untuk menilai dan bersikap.
Dalam melakukan pencarian, kata Hadi Prasetyo, BP MIGAS akan memberdayakan Perguruan Tinggi (PT) yang ada di NTT.
“Kami akan berupaya bagaimana memberdayakan dan merangkul kandungan lokal, baik dari sisi SDM maupun teknologi,” ujar Hadi Prasetyo sembari mengharapkan dukungan, bantuan serta kerjasama yang baik dari pemerintah daerah agar perkerjaan ini bisa berjalan dengan mulus.
Sementara itu Frans Lebu Raya mengaku Pemerintah Provinsi NTT akan memberikan dukungan kepada BP MIGAS.
“Kami pasti beri dukungan yang maksimal pada BP MIGAS mulai dari eksplorasi sampai eksploitasi,” imbuhnya.
Lebu Raya berharap, apapun hasil yang didapatkan nanti kiranya dapat bermanfaat bagi masyarakat NTT dalam memajukan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita musti pikirkan bagaimana meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan sumber daya alam yang ada,” tandasnya.
Menurut Lebu Raya, kalau eksplorasi ini benar-benar menemukan kandungan ekonomis yang bisa dieksploitasi maka pemerintah akan menyiapkan diri.
“Dari sisi perusahaan kami bisa ikut terlibat didalamnya karena pemerintah punya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),” paparnya.
by. meggy utoyo/verry guru

Ratusan Hektar Sawah Terendam Banjir


sergapntt.com, MBAY – Selasa, 6 Maret 2012, banjir tiba-tiba menghantam Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo, tepatnya di Desa Aeramo dan Kelurahan Mbay II,  Kecamatan Aesesa. Akibatnya, ratusan hektar sawah di kawasan ‘Surabaya II’ itu terendam banjir. Hampir pasti tahun ini para petani mengalami gagal panen. Terjadinya banjir akibat hujan lebat dengan intensitas tinggi yang melanda hampir seluruh wilayah Mbay.  Kondisi terparah dialami  warga Aeramo dan Mbay II.
Kepala Desa Aeramo, Mena Seravinus, S.Ip mengaku, akibat banjir tersebut, para petani di desanya mengalami kerugian hingga milyaran rupiah. Sebab, sekitar 120 hektar sawah terendam banjir dan dipastikan mengalami gagal  panen.
Menurut Seravinus, banjir yang merendam sawah disebabkan oleh pecahnya Boks Air di KM satu enam kiri. Akibatnya, luapan air menjadi tidak terkendali. Tak pelak  air pun menyapu dan merendam sawah.
“Dari sekian ratus hektar sawah yang terendam banjir, ada beberapa yang sudah siap untuk dipanen. Sedangkan yang lainya, baru ditanam. Para petani di desa saya hanya bisa pasrah menghadapi ini semua. Belum lagi luapan banjir dari kali Wakasa di Aeramo ini juga berakibat fatal untuk lahan seluas 70 Ha yang terletak di KM satu enam kanan. Para petani ini juga mengalami hal yang sama seperti di KM satu enam kiri,” papar Seravinus saat ditemui SERGAP NTT, Jumat (6/3/12) lalu.
Untuk itu, Seravinus meminta, jebolnya Boks Air dan masalah luapan sungai Waikasa mesti segera diatasi. Jika tidak, maka akan berakibat fatal bagi kehidupan masyarakat di desanya.
Untuk kali Wakasa sebaiknya segera di normalisasi. Bila tidak, maka setiap tahunnya akan menjadi bencana wajib bagi desa kami. Sedangkan untuk Boks Air harus sesegera mungkin di perbaiki agar penyuplaian air ke lahan sawah milik warga bisa dikendalikan debit airnya,” ujarnya, berharap.
Beberapa petani asal Aeramo mengaku, kini merekia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena itu mereka sangat berharap pemerintah segera turun tangan.
Pa, kami sudah tidak bisa buat apa-apa lagi. Harapan kami satu-satunya adalah sawah. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,serta biaya anak sekolah semua kami peroleh dari hasil padi. Memang ini  bencana, tetapi kami juga punya harapan kepada pihak Pemda Nagekeo untuk membantu meringankan beban hidup kami. Kami mau minta kemana lagi kalau bukan kepada pemerintah, karena kami juga butuh makan dan minum. Mau marah salah, mau diam tambah parah. Tetapi kami yakin bahwa Pemda Nagekeo  tidak mungkin tutup mata dengan rakyatnya yang lagi menderita,” ucap mereka.
Masalah banjir juga dihadapi warga Mbay II. Di wilayah ini, banjir merupakan langanan wajib setiap musim penghujan. Sebut saja kampung Nilla.  Setiap tahun tidak pernah absen dari banjir. Bukan hanya lahan sawah, tetapi pemukiman warga juga terendam banjir. Lebih parah lagi terjadi di dusun Mbaling, Nila. Setiap tahun, daerah ini tidak pernah luput dari genangan air hujan dan air sawah yang meluap hingga musim panas tiba.
Salah satu warga Mbaling, Dur Jogo kepada SERGAP NTT mengatakan, persoalan banjir di daerahnya merupakan masalah klasik. Dari tahun ke tahun selalu mengahadapi masalah yang sama. Berbagai protes dan usulan telah disampaikan kepada pemerintah, namun hingga hari ini protes dan usulan itu belum juga ditangapi.
“Bagaimana air tidak tergenang,,, kalau saluran pembuangannya hanya sebesar telapak tangan. Supaya masalah ini selesai, maka segera buat saluran pembuangan yang lebih besar dan  permanen menuju kali Aesesa,” sergahnya.
Permintaan yang sama juga datang dari salah seorang warga Enek, Osias Siga Mea. Os berkisah, pada tahun 2011 lalu, pernah terjadi banjir akibat luapan air dari kali Aesesa. Kejadiannya pada tengah malam saat sebagian besar warga sudah tidur. Banjir yang datang tiba-tiba itu membuat warga panik. Sebagian warga, ada yang mengungsi dan sebagian lainnya memilih untuk tetap bertahan. Ternak milik warga banyak yang hanyut terbawa  arus banjir, ratusan hektar sawah terendam air. Tanaman padi yang sudah siap panen banyak yang terlindas banjir. Untuk menyelamatkan hasil panen, warga terpaksa harus mengeluarkan biaya ekstra.
Kalau tidak seperti itu, kita mau makan apa. Bila kita memperhitungkan biaya pengolahan sampai panen, maka hasil yang di dapat adalah minus. Karena biaya pengolahan lebih besar daripada hasil panenan yang akan kita jual. Ibarat pepatah lebih besar pasak daripada tiang. Untuk tahun 2012 kejadian ini terulang lagi, hanya tidak setragis tahun lalu, tetapi yang namanya bencana tetap saja kami yang menjadi korban,” tandasnya.
Kata Os, dari dulu di Nilla tidak pernah ada perubahan pembangunan. Dari tahun ke tahun tidak pernah ada aktivitas proyek atau semacamnya. Jalan-jalan sudah pada rusak. Saluran pun tak pernah dirawat. Entah apa penyebabnya hingga Nilla dianaktirikan seperti ini.
Toh begitu, pasca banjir, Wakil Bupati Nagekeo, Drs. Paulus Kadju pada Kamis (9/3/12) lalu terlihat mendatangi lokasi banjir. Ia didampingi Marselinus Lowa (petugas Dinas PU), Ardus Mola (Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah), dan Muhayan Amir,S.Ip (Camat Aesesa).
Saat berada di lokasi banjir, Paulus Kaju mengatakan dirinya sangat prihatin dengan kondisi yang dialami korban banjir.
“Ini merupakan kejadian luar biasa dan harus segera diatasi. Bila ini tidak segera diatasi, maka akan membawa dampak yang buruk bagi kehidupan masyarakat di daerah ini. Kalau air tergenang terus begini, maka akan menjadi sarang nyamuk. Kami akan segera mengambil langkah kongkrit untuk mengatasi hal ini,” tegasnya.
by. wiliam djo

Suka Duka Koran Suara Timor Timur


sergapntt.com –  Satu-satunya koran yang masih beroperasi di Timor Leste sejak Indonesia masih menduduki Timor Leste adalah Suara Timor Timur (STT). Namun media yang dikenal kritis itu sempat mati “dibunuh” para milisi bersenjata bentukan TNI. Perangkat komputer, mesin faksimili, pesawat telepon dan peralatan kerja redaksi lainnya diluluh-lantakkan. Berikut kisah singkatnya:  
        Harian Umum STT terbit pertama kali 1 Pebruari 1993, bertepatan dengan pengadilan terhadap Xanana Gusmao.  Ketika itu manajemen STT diambil alih oleh Kelompok  Kompas Gramedia (KKG) melalui Persda.  Tiras STT ketika itu adalah 10
ribu, namun sebagian besar dibagi secara gratis kepada masyarakat di kota Dili,
sebagai nomor perkenalan.
        Setelah nomor perkenalan beredar, berbagai sambutan yang intinya
adalah mendukung kehadiran STT di Timtim mulai mengalir. Uskup Belo menyam-
paikan pesannya bahwa kehadiran STT sangat dibutuhkan untuk menyuarakan
kepentingan kalangan masyarakat bawah. Selain itu kehadiran STT juga
memberikan informasi, dan ikut mengawasi serta menjadi kontrol sosial yang
baik. Selain Uskup Belo,  Komandan Korem 164/WD, waktu itu, Kolonel Johny
Lumintang, Gubernur Abilio dan Kapolda Timtim Kolonel Nugroho Djajoesman saat itu juga memberikan sambutan yang positif terhadap kehadiran STT.
        Namun sambutan positif itu hanya sesaat, karena seiring dengan perjalanan zaman, kehadiran STT mulai tidak mendapat tempat di hati pemerintah daerah serta aparat keamanan. Buntutnya adalah adanya pembatalan langganan STT oleh Pemda setempat serta dipanggilnya beberapa wartawan STT ke Korem, salah satunya adalah Irawan Saptono. Puncak dari kemarahan aparat pemerintah saat itu adalah pembakaran mobil STT serta pengrusakan kantor STT yang dilakukan oleh Pemuda Pancasila pada tahun 1995. Namun kerusakannya tidak separah seperti sekarang. Dalam pengrusakan kantor STT, anggota Pemuda Pancasila juga menganiaya seorang wartawan STT yang juga koresponden The
Jakarta Post (Yakob Herin), sehingga mengakibatkan yang bersangkutan harus mengungsi ke luar dari Timtim karena terus diburu oleh aparat keamanan di Dili. Sementara pihak pemerintah dan aparat keamanan tidak menerima kehadiran STT, sebaliknya Gereja  Timtim melalui Uskup Belo menyambut baik pemberitaan-pemberitaan yang menurutnya ikut menyuarakan kepentingan masyarakat miskin.
        Selain itu, ada beberapa perubahan mencolok dalam tubuh STT, yaitu hengkangnya beberapa wartawan senior membuat harian itu mulai lemah dalam pemberitaan serta penyajian berita. Berbarengan dengan perubahan itu, kritik masyarakat pun mulai terasa, sehingga manajemen perusahaan mulai mengubah pola pemberitaannya yang selama 3 tahun pertama lebih banyak menyuarakan kepentingan kalangan atas, diubah menjadi koran investigasi. Perubahaan pola itu semakin menciptakan permusuhan antara pemerintah/pihak keamanan dengan wartawan STT.
Teror dan intimidasi sepertinya menjadi sarapan sehari-hari bagi wartawan STT, baik ketika meliput di lapangan maupun sesudah di kantor.  Teror dan intimidasi itu kemudian terbukti ketika seorang wartawan STT yang juga koresponden Majalah Tiras, Gaudensius Mau dianiaya oleh sekelompok orang yang tak dikenal. Akibat penganiayaan itu Gandensius Mau menderita gegar otak dan harus dirawat secara tradisional.
        Pada 1997, tiras STT yang tadinya 3800 harus dikurangi menjadi 1.800 karena menurunnya minat baca masyarakat terhadap koran tersebut. Dengan besarnya
biaya produksi dan STT sendiri tidak sanggup membayar gaji karyawan yang
berjumlah 50 orang, manajemen STT mengambil keputusan meerampingkan
karyawannya. Beberapa karyawan yang dianggap tidak produktif di PHK
sehingga total karyawan antara lain, redaksi 23 orang, iklan 5 orang, keuangan 4 orang, bagian umum 3 orang, setting dan lay out yang dulunya 3 orang dikurangi menjadi 2 orang,
percetakan 5 orang dan sirkulasi 2 orang. Jumlah total karyawan STT saat ini adalah 44 orang, tidak termasuk Pemimpin Umum/Pemimpin Pedaksi dam pimpinan perusahaan. Sedangkan karyawan yang di PHK adalah 6 orang.
        Dalam 1997/1998 beberapa telepon yang yang nadanya teror terhadap STT, sering terjadi. Bahkan menurut pemimpin perusahaan, Domingos Saldanha, dirinya pernah dipanggil oleh Gubernur Abilio dan memperingatkan dia bahwa secepatnya STT memecat dua wartawan STT masing-masing Aderito Hugo da Costa dan Metha Guterres, dengan alasan bahwa kedua wartawan itu tidak bisa diajak bekerja sama dengan pemerintah. Selain itu kedua wartawan itu, kata Abilio, sering memuat berita-berita yang dikutip oleh kantor-kantor berita asing tentang kelaparan, penganiayaan terhadap masyarakat serta kasus-kasus kolusi Abilio dengan keluarga Cendana.
        “Kalau ingin Pemda berlangganan STT dan kita mau damai, STT harus pecat dua wartawan itu. Mereka berdua ingin menjadi wartawan idealis, susahlah kalau di Timtim,” kata Domingos mengutip pernyataan Abilio ketika itu. Namun dihadapan Abilio, Domingos menolak untuk memecat kedua wartawan tersebut dengan alasan bahwa STT masih membutuhkan kedua wartawan itu.
        Karena merasa STT sudah tidak diajak berkompromi dengan Pemda, Abilio dengan dukungan Pangab Wiranto menerbitkan harian baru yaitu Novas. Penerbitan harian itu target utamanya adalah untuk mematikan STT. Tapi usaha untuk mematikan STT hanya sia-sia, karena semakin hari STT mulai mendapat tempat di kalangan masyarakat termasuk Falintil.
        Ketika Indonesia dilanda krisis moneter, yang mengakibatkan beberapa koran-koran besar melakukan penghematan serta pengurangan halaman dan penurunan tiras, justru sebaliknya STT dari oplah 1.800 mulai menanjak menjadi 3.800. Pada bulan Nopember-Desember 1998, tiras sudah berada pada level 4.800. Awal Januari 1999, tiras STT naik lagi menjadi 5000.  Dan bulan Pebruari-Maret oplahnya naik menjadi 6 ribu. Ketika terjadi pengrusakan kantor, oplah  STT sudah mencapai 8 ribu.       
        Pada 17 Agusrus 1998, STT merasa perlu mengoreksi diri dan mengubah citra dirinya yang oleh sebagaian masyarakat dikenal “dekat” dengan birokrasi menjadi lebih dekat pada rakyat. Motto yang tadinya “Suara Persatuan dan Pembangunan” diubah menjadi “Menyuarakan Keadilan dan Kebenaran”. Motto ini barangkali sejalan dengan keinginan Uskup Belo yang disampaikan dalam buku peringatan ulang tahun pertama STT.          
Berikut Kronologi pengrusakan kantor STT:
Tanggal 6 April 1999 Terjadi penyerangan milisi Besi Merah Putih (BMP) terhadap kelompok pro kemerdekaan serta warga masyarakat di Liquisa. Dua wartawan STT dikirim untuk meliput masing-masing Joao Barreto dan Lourenco Martins.
Tanggal 7 April STT tampil dengan Headline: Liquisa rusuh, 2 tewas dan 8 rumah dibakar oleh BMP. Selain itu STT juga memberitakan bahwa selain menyerang kelompok pro kemerdekaan BMP juga melakukan penjarahaan terhadap warga di Liquisa.
Tanggal 8 April STT memberitakan bahwa terjadi aksi penyerangan kelompok Besi Merah Putih di rumah Pastor Paroki  Liquisa yang mengakibatkan 25 orang meninggal dunia. Sedangkan Danrem Timtim membantah bahwa telah terjadi aksi pembantaian, dan yang benar adalah 5 orang yang tewas.  
Tanggal 9 April Uskup bersama Danrem, Kapolda bersama Kontras dan Komisi Justice e Paz Diosis Dili mengunjungi rumah Pastor Paroki Liquisa. Dalam kunjungan itu 2 orang wartawan STT juga ditugaskan untuk meliput peninjauan itu.
Tanggal  10 April STT menurunkan testimoni dari Pastor  Rafael yang mengatakan bahwa telah terjadi pembantaian dirumah Pastor yakni 25 tewas, serta uang 8 juta milik pastoran telah dijarah oleh kelompok BMP. Pastor Rafael juga mengatakan bahwa dalam penyerangan di kediaman pastor, kelompok BMP bekerja sama dengan aparat keamanan seperti Brimob, polisi dan tentara.
Selain testimoni dari Pastor, STT juga mewawancari seorang saksi mata yang namanya dirahasiakan. Dalam kesaksiannya dia mengatakan bahwa selain membunuh orang-orang yang diduga membantu gerakan pro kemerdekaan, kelompok BMP juga memperkosa beberapa perempuan di Liquisa.  Berkaitan dengan pemberitaan STT, kelompok BMP mulai
melakukan teror terhadap wartawan STT. Dan ketika dua orang fotografer dari Kantor Berita Reuters mengunjungi Liquisa, kelompok BMP menyanyakan apakah ada wartawan STT ikut atau tidak. “Mereka mengatakan kalau ada wartawan STT mereka akan membunuhnya,” kata wartawan Reuters itu mengutip ancaman kelompok BMP.
Tanggal 11 April: Ketika Uskup Belo kembali mengunjungi Liquisa untuk memimpin misa bagi arwah orang-orang yang dibunuh oleh kelompok BMP itu. STT juga mesertakan tiga wartawannnya yaitu Metha Guterres, Lourenco Martins dan Suzana Cardoso.  Selain ketiga wartawan STT  itu, bersamaan dengan Uskup Belo, juga ada beberapa wartawan asing sekitar 20 orang dengan menumpang 10 mobil carteran. Ketika Uskup belo berkhotbah, kelompok BMP itu mulai meneror wartawan yang dengan mengatakan: “Wartawan STT hati-hati, kalau kami dapat kami akan membunuhnya. Kehadiran wartawan STT itu yang selalu menganggu
masyarakat, dan harus kami singkirkan.”
Ketika selesai misa rombongan Uskup bersama dengan wartawan dikawal oleh sebuah
patroli polisi untuk kembali ke Dili. Namun dengan pertimbangan keselamatan wartawan, akhirnya diputuskan bahwa wartawan jangan menumpang mobil-mobil carteran, tapi sebaiknya menumpang mobil–mobil pastor, dan mobil komisi keadilan. Akhirnya wartawan naik mobil rombongan Uskup Belo, sedangkan mobil carteran ditumpangi sebagian wartawan. Ketika rombongan Uskup Belo hendak melewati Kota Liquisa, kelompok BMP itu mencegat mobil-mobil yang dicurigai membawa wartawan, dan buntutnya adalah pelemparan yang mengakibatkan 3 mobil carteran rusak, dan seorang sopir taxi harus dilarikan ke rumah sakit karena kepalanya bocor dan mendapat 7 jahitan di kepalanya.
Tanggal 12 April: BMP Mulai memasuki Kota Dili, khususnya Dili Barat Desa Comoro. Dua orang loper STT yang berjualan di Terminal Tasi Tolu, dirampas korannya lalu dibakar. Bersamaan dengan perampasan koran STT, kelompok BMP juga menitipkan pesan kepada kedua loper untuk disampaikan kepada wartawan STT bahwa mereka harus hati-hati dan tunggu saatnya penyerangan terhadap kantor STT.
Tanggal 13 April sekitar 8 orang yang tak dikenal mendatangi Redaksi STT untuk mencari wartawan Metha Guterres. Namun petugas bagian piket menjawab bahwa Metha tidak berada di tempat.
Tanggal 14 April: Ke-8 orang kembali mendatangi redaksi dengan maksud dan tujuan yang sama yaitu tetap ingin bertemu dengan wartawan Metha Guterres, sedangkan wartawan lain mereka tolak dengan alasan yang tidak jelas.
Sedangkan pada malam harinya sekitar pukul 24.00 WITA, redaksi STT menerima telepon gelap. Si penelpon gelap itu menyanyakan apakah masih ada wartawan STT atau tidak. Namun petugas STT menjawab bahwa wartawan STT sudah pulang semuanya. Mendengar jawaban itu si penelepon lalu mengatakan bahwa dirinya bersama rekan-rekan akan
mendatangi redaksi STT.
Tanggal 15 April: Melihat kondisi dan keselamatan wartawan STT semakin tidak terjamin, Pimpinan Perusahaan berinisiatif mempertemukan wartawan STT dengan Wakil Panglima Perang Pro-otonomi yang juga Komandan Aitarak, Eurico Guterres. Dalam pertemuan itu Eurico mengatakan bahwa dirinya bersama kelompok milisi pro- otonomi yang lain akan tetap menjamin keselamatan wartawan STT. Bahkan Eurico dengan keyakinannya mengatakan bahwa STT tidak akan diapa-apakan.
Tanggal 16 April kembali ke-8 orang yang tak dikenal itu mendatangi redaksi STT dengan mncari wartawan yang sama.
Tanggal 17 April: Diadakan pengukuhan milisi Aitarak di depan kantor Gubernur. Hadir dalam pengukuhan itu antara lain Gubernur Timtim, Danrem, Kapolda dan semua pejabat baik sipil maupun militer. Sekitar pukul 09.00 WITA 8 orang asing mendatangi redaksi STT dengan menyanyakan keberadaan wartawan STT Metha Guterres. Pukul 11.00 Wita, beredar kabar bahwa STT akan diserang oleh kelompok BMP sehingga 2 wartawan STT setelah bersepakat dengan rekan-rekan wartawan lain memutuskan untuk meninggalkan Timtim dengan menumpangi Merpati tujuan Denpasar.
Namun pada pukul 12.00 sebelum Merparti take off terdengar kabar bahwa kantor STT sudah diobrak-abrik oleh kelompok BMP dengan dipimpin Joao Tavares. Selain kantor STT, target para milisi adalah kantor CNRT, Kediaman Manuel Carrascalao dan kantor Yayasan HAK. Pada malam harinya terjadi bentrokan antara milisi pro-otonomi dengan kelompok pro-kemerdekaan yang menewaskan beberapa orang.
Bahkan penyerangan hingga pengrusakan kantor STT merupakan bagian dari skenario aparat keamanan. Saat terjadi perusakan kantor STT, aparat kepolisian memberi respon sekadarnya saja. Aparat bergerak mendatangi TKP saat kantor STT telah hancur.
by. el che/redaksi stt/usaid

CNRT vs FRETILIN, Siapa Menang?


sergapntt.com, DILI – Tinggal beberapa hari lagi Pemilu Presiden RDTL akan digelar. Banyak spekulasi mengarah pada pertarungan dua kandidat yang didukung oleh CNRT dan FRETILIN, yakni mantan Panglima F-FDTL, Taur Matan Ruak dan dedengkot FRETILIN, Fransico Guterres Lu Olo.
Dunia internasional menilai besar kemungkinan Taur Matan Ruak akan terpilih menjadi presiden RDTL untuk periode 5 tahun mendatang. Itu karena sang Jenderal mendapat dukungan dari Xanana Gusmao. Ini merujuk pada hasil pemilihan tahun 2007, dimana Ramos Horta berhasil mengalahkan kandidat-kandidat lain karena mendapat dukungan Xanana Gusmao.
Eitsssss, sabar dulu! Di pemilu lalu memang benar Xanana Gusmao memberikan dukungannya kepada Ramos Horta, termasuk partainya CNRT. Tapi, walaupun sudah mendapat dukungan penuh dari Xanana Gusmao, hasil pemilihan presiden putaran pertama mengecewakan, Ramos Horta kalah dengan Lu Olo, yakni Ramos Horta hanya mendapat 22.5% sementara Lu Olo 28.79% suara.
Ini jelas-jelas menunjukkan bahwa kandidat yang didukung oleh Xanana Gusmão tak selalu unggul dalam pentas politik. Yang menentukan kemenangan Ramos Horta pada pemilihan presiden putaran kedua bukan Xanana, tetapi La Sama dan PDnya serta Xavier do Amaral dengan ASDTnya.
La Sama dan Xavier do Amaral yang mengarahkan para pendukungnya untuk memilih Ramos Horta pada pemilihan presiden putaran kedua setelah mereka tidak berhasil lolos ke putaran kedua.
Andaikata pada saat itu La Sama dan Xavier do Amaral memberikan dukungannya kepada Lu Olo sudah otomatis Ramos Horta tidak jadi presiden RDTL, sebab suara yang diraih oleh Lu Olo pada pemilihan putaran kedua (31%) di tambah dengan suara La Sama (18.52%) dan suara Xavier do Amaral (12.82%) dari hasil pemilihan presiden putaran pertama sudah melampawi 60% suara.
Begitupun dalam pemilihan legislatif, Xanana yang begitu yakin mendirikan CNRT untuk mengalahkan FRETILIN justru kalah dari FRETILIN yang pada saat itu sedang terpuruk karena masalah internal partainya dan krisis 2006.
Xanana berhasil menjadi Perdana Menteri, sekali lagi, karena didukung oleh La Sama dan PDnya, dan partai-partai kecil lainnya yang tergabung dalam Aliansi Maioritas Parlamen (AMP). Andaikata PDnya La Sama dan ASDTnya Xavier do Amaral menolak membentuk pemerintahan koaliasi bersama CNRT dan memilih berkoalisi dengan FRETILIN maka Xanana pun tidak jadi Perdana Menteri. Jadi Xanana sendiri pun kesulitan untuk mencapai apa yang beliau inginkan, mau tidak mau beliau harus mencari dukungan dari partai lain untuk menjadi Perdana Menteri. Tidak sulit bagi Xanana untuk mendapkan dukungan dari partai lain, karena FRETILIN pada saat itu tidak mempunyai hubungan baik dengan partai-partai lain di Timor-Leste. Sekarang situasinya sudah berubah, hubungan FRETILIN dengan partai-partai lain sudah mulai mencair walaupun masih ada yang tidak setuju dengan kepemimpinan Alkatiri yang sangat otoriter.
Persoalan lain yang tidak menguntungkan Taur Matan Ruak adalah krisis politik dan militer tahun 2006. Tanpa menuduhnya sebagai pelaku utama krisis 2006, tetapi sebagai Panglima F-FDTL saat itu, secara langsung atau tidak langsung dia turut bertanggungjawab.
Lebih aneh lagi, pada saat itu, Xanana Gusmao sebagai Panglima Tertinggi F-FDTL, menyuruh kolonel Pedro Klamar Fuik untuk menemui Taur Matan Ruak di Aeroport Nicolau Lobato, mimintanya untuk membatalkan kunjungannya keluar negeri guna menyelesaikan masalah petisioner. Tetapi Matan Ruak menolak dan secara emosional menjawab: “Se mak hakarak funu ita funu”. Pernyataan ini dikutip oleh Xanana Gusmao dan diberitakan secara luas di berbagai media nasional dan internasional.
Seorang calon presiden tidak pantas mengeluarkan pernyataan seperti itu, apalagi mau berperang melawan rakyat dan saudara-saudaranya sendiri dari sektor barat. Seharusnya dia mengendalikan diri dan mengontrol emosinya. Seorang negarawan adalah seorang yang mampu merangkul rakyatnya, bukan mengancam dengan perang.
Sebagai reaksi atas persoalan rejionalisme yang ditiupkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, beberapa pemuda yang menamakan diri intelektual dari sektor barat pun ikut terpengaruh, secara langsung atau tidak langsung ikut memanasi api rejionalisme karena tersingung atas pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa saudara-saudara kita dari sektor barat tidak mempunyai banyak peranan dalam perjuangan pembebasan Timor-Leste dari pendudukan militer Indonesia.
Apakah para mantan anggota F-FDTL yang dipecat (memang pantas untuk di pecat karena tidak mengindahkan aturan dan disiplin militer) dan keluarganya serta intelektual-intelektual dari sektor barat dapat menerima Taur sebagai presiden RDTL? Hanya merekalah yang tahu, terima atau tidak diterimanya tergantung pada suara yang akan mereka berikan pada 17 Maret 2012.
Kita tidak meragukan kemampuan Taur Matan Ruak sebagai mantan komandan gerilya dan veteran perang. Kita menghormatinya sebagai seorang pejuang tulen dan dedikasinya sangat tinggi dalam perjuangan pembebasan Timor-Leste dari pendudukan Indonesia. Untuk menjadi presiden ini yang dipertanyakan, mampu atau tidak. Seorang presiden adalah seorang yang emosinya harus stabil dan tidak mudah mendeklarasikan perang, apalagi perang melawan rakyat dan saudara-saudaranya sendiri.
Mampu tidaknya seseorang, penilaiannya bukan datang dari diri sendiri, tetapi dari orang lain, sebab kebanyakan orang merasa diri mampu dan bisa, tetapi diragukan oleh orang lain. Kadang-kadang orang yang tidak ahli dalam penilaian, karena kurangnya pengetahuan, bisa saja menilai orang A atau B itu bisa atau mampu, tetapi setelah diberi kepercayaan ternyata orang itu tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Jawaban atas mampu atau tidaknya Taur ada dikantong para pemilih melalui suara emas mereka.
Betul bahwa Matan Ruak mempunyai kemampuan untuk menjadi presiden, sama seperti para kandidat yang lain, tetapi krisis 2006 sepertinya tidak begitu menguntungkannya. Inilah tantangan besar bagi Matan Ruak. Dan pernyataanya yang mengatakan “se mak hakarak funu ita funu” telah membuat banyak orang ragu antara memilih dan tidak memilihnya, sebab rakyat Timor-Leste yang sudah berabad-abad menderita dan hidup dalam perpecahan akibat perang tidak mau menderita lagi sehingga mereka akan menolak pemimpin yang tidak berjuang untuk persatuan dan perdamaian bagi Timor-Leste.
Kalau memilih di antara kedua kandidat tersebut, berdasarkan pengalaman, karena pernah menempati posisi-posisi tinggi dalam negara dan pemerintahan, maka pilihan dari kebanyakan orang mungkin tidak akan jatuh ke Matan Ruak, walaupun dia didukung oleh para veteran perang. Toh belum tentu semua veteran mendukungnya. Sebab, banyak veteran juga mencalonkan diri jadi presiden dan mendapat dukungan pula dari para veteran.
Bisa dikatakan, Lu Olo pun adalah veteran karena kontribusi mereka dalam perjuangan pembebasan Timor-Leste tidak kalah dengan kontribusinya Taur. Apalagi Lu Olo pernah menjadi Presiden Parlamen
Lu Olo dan Taur Matan Ruak pernah sama-sama berjuang di front bersenjata untuk mempertahankan api perjuangan di dalam negeri kala menghadapi pendudukan Indonesia, dan lebih-lebih memberikan semangat kepada front klandestin dan diplomatik untuk terus berjuang.
Di mata rakyat Timor-Leste, kedua kandidat itu sudah tidak asing lagi, karena mereka sama-sama berjuang disamping rakyat selama masa pendudukan Indonesia. Mereka sama-sama dekat dengan rakyat, mereka hidup berbaur dengan rakyat dan mengenal kebutuhan, keterbatasan dan kesulitan-kesulitan rakyat. Tapi, harus mengakui bahwa setelah Timor-Leste lepas dari Indonesia, bisa dikatakan Lu Olo yang lebih dekat dengan rakyat karena mereka bukan saja sebagai politikus tetapi posisi-posisi penting yang mereka tempati menuntut mereka untuk selalu berkomunikasi dengan rakyat.
Sementara Taur Matan Ruak sebagai Panglima F-FDTL tidak begitu dekat dengan rakyat karena tidak ada programa F-FDTL untuk berkomunikasi secara rutin dengan masyarakat seperti zaman Indonezia melalui program ABRI Masuk Desanya dan lain-lain.
Namun politik is politik. Semua kemungkinan bisa saja terjadi. Kita tunggu saja hasil pemilu 17 Maret 2012. CNRT atau FRETILIN yang menang!
by. el che/Joanico Morreira

CNRT Dukung Mantan Panglima Angkatan Bersenjata Timor Leste


sergapntt.com, DILI – Partai Congresu Nacional de Reconstrusaun Timorense (CNRT), akhirnya resmi mengumumkan dukungannya kepada mantan Panglima Angkatan Bersenjata Timor Leste, Jenderal Taur Matan Ruak sebagai calon presiden (Capres) pada Pemilu yang bakal digelar pada 17 April 2012 mendatang.   
Dukungan ini disampaikan Ketua Umum CNRT, Kay Rala Xanana Gusmao melalui Sekjen CNRT, Dionisio Babo dan Ketua Komisi Politik Nasional CNRT, Francisco Kalbuady dalam jumpa pers di di markas besar CNRT yang terletak di kawasan Bairo Dos Grilos, Dili.
Babo menjelaskan, ada sembilan alasan mengapa CNRT mendukung Taur Matan Ruak. Dua diantaranya adalah Taur Matan Ruak merupakan kandidat independen, dan Taur Matan Ruak telah lebih dari 24 tahun bersama rakyat Timor-Leste menjaga stabilitas keamanan.  
“Keputusan ini merupakan keputusan partai yang telah diambil dalam sebuah konferensi besar CNRT yang telah dilaksanakan tanggal 11-12 Januari di Dili,” kata Babo. 
Keputusan CNRT itu juga diambil setelah menimbangkan keputusan Pengadilan Banding Timor-Leste yang telah mengumumkan secara resmi 13 Capres TL periode 2012-2017. “Karena itu, CNRT mengambil keputusan untuk mendukung pencalonan Taur Matan Ruak sebagai Presiden TL, periode 2012-2017,” kata Babo lagi. 
Menurutnya, keputusan ini merupakan keputusan resmi partai CNRT yang telah disahkan Ketua Umum CNRT, Kay Rala Xanana Gusmao.
Menjawab pertanyaan soal perubahan dukungan sejumlah pengurus dan simpatisan CNRT ke capres yang lain, Francisco Kalbuady mengatakan, hal itu merupakan keputusan bersifat pribadi. “Itu bukan atas nama partai. Dan, CNRT tidak akan mengambil langkah tegas terhadap pendukungnya. Itu merupakan bagian dari demokrasi,” jelas Kalbuady.
Selain Taur Matan Ruak, 12 kandidat capres lainnya yakni Ramos Horta (saat ini masih menjabat sebagai Presiden Timor Leste), Manuel Tilman (diusung Partai KOTA), Fransiko Guterres (Fretilin), Rogerio Tiago de Fatima Lobato (independen), Maria do Ceu da Silva Lopes (independen), Angelita Maria Fransisca Pires (independen), Fransisco Gomes (independen), Jose Luis Guterres (Partai Frenti-Mundaca yang kini menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Timor Leste), Abilio da Conceicao Abrantes de Araujo (Partai Partido Nacional Timorense), Lucas da Costa (indepeden), dan Mario Fernando de Araujo Lasama (Partai Demokrat).
Saat ini tahapan pemilu presiden di Timor Leste sudah memasuki masa kampanye yang digelar sejak 29 Februari sampai 14 Maret 2012. Pelaksanaan pemilu presiden putaran pertama akan dilakukan pada 17 Maret 2012. Putaran kedua digelar 3 April 2012. Sedangkan pemilu parlamen memilih 65 kursi di parlamen nasional pada Juni 2012 mendatang.
by. armindo